Selamat Malam Semuanya, Icchy kembali hadir!

Maaf yah, baru nambah dikit, Icchy sebenarnya sedang berada dalam situasi UTS *digebuk =))

Anyway, masih blum semped bales review dari kalian semua, chapter depan baru Icchy bales2. Gomennasai...

Anyway, Bleach punya Kubo Tite, bukan Searaki Icchy.

Ichigo dan Rukia mulai ketemu disini, tapi masih bersambung *wakwakawkawk

Enjoy my story jgn lupa review...Doumo ~ :D


Chapter 11 = The Reunion

~ When The Sun & The Moon Meet Again ~

Kediaman Kuchiki… Sore hari…

Tidak ada kejadian khusus yang dialami oleh sang pemimpin muda dari klan Kuchiki, Kuchiki Byakuya. Rambut hitam yang sengaja dia panjangkan, membuatnya terlihat semakin tampan. Mata abu-abu yang memandang kertas-kertas dokumen yang tersusun rapi diatas mejanya terlihat begitu datar, sudah terbiasa dengan sarapan setiap harinya. Setiap harinya dia selalu di sibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang merepotkan. Walau pun Byakuya mengerjakannya dengan setengah hati, tapi dia selalu menyelesaikannya tepat waktu. Ajaran dan prinsip dari generasi Kuchiki terdahulu selalu dipegang teguh olehnya. Suara ketukan pintu kerjanya sedikit menyadarkan Byakuya dari keseriusannya.

"Masuk." Satu kata singkat cukup untuk menyuruh sang pengetuk pintu masuk.

"Permisi." Sang kepala pelayan Kurotsuchi Mayuri, datang member tahukan sebuah berita, "Byakuya-sama, baru saja ada kabar dari Ginrei-sama, anda di minta untuk datang ke perusahaan."

Byakuya masih sibuk dengan pekerjaannya. "Baiklah, aku akan kesana." Mesti dalam hatinya dia sangat malas datang, tapi mau tidak mau dia harus mengikuti perintah. Perintah sang Kakek sangatlah mutlak, dan tidak boleh ada yang melanggarkan, bahkan sang Ketua Kuchiki seperti Byakuya ini.

xXxXx

Rukia terlihat tiba di depan pintu masuk rumah Kuchiki. Ini adalah hari kedua sejak kepulangannya dari Amerika. Nemu membungkuk hormat ketika melihat Rukia berjalan menyusuri tangga untuk menuju kamarnya.

"Okaerinasai, Rukia-sama." Sambut Nemu.

"Ya, Nemu." Rukia hanya tersenyum singkat.

"Rukia-sama, baru saja ada perintah dari Byakuya-sama. Anda di minta untuk menemui calon tunangan anda sekarang." Jelas Nemu.

Rukia langsung mengerutkan keningnya, "Sekarang?"

"Ya."

"Aduhhh, kenapa Nii-sama selalu saja memberikan perintah di saat aku tidak ingin, sih?" Keluh Rukia malas. Langkah yang tadinya lurus sekarang terlihat begitu gontai. Berarti niatnya untuk beristirahat gagal total karena perintah ini. Langkahnya pun tak terasa tiba di depan pintu kamarnya, dengan malas Rukia memutar kenop pintu tersebut. Dan, di dalam kamarnya ternyata ada seseorang tidak terduga.

"Yo! Hisashiburi janee ka, Rukia." Seorang pemuda dengan rambut berwarna merah yang menyala terkuncir dengan rapi. Tato yang menurut Rukia aneh yang sengaja dia buat di atas dahi menyentuh alis mata dan juga di sekujur tubuhnya. Cowok yang merupakan salah satu dari sahabat masa kecil Rukia, satu-satunya yang mengerti Rukia.

"Renji! Jangan tidak sopan masuk ke kamarku!" Teriak Rukia geram. Cowok yang di panggil Renji ini memang selalu saja datang dan pergi seenaknya.

"Bukannya dari dulu aku selalu menunggumu di kamar, yah? Tidak usah teriak begitu." Ucap Renji santai.

"Dulu dan sekarang berbeda, tahu! Sekarang keluar dari kamarku!"

"Sejak pulang dari Amerika sifatmu dingin sekali, Rukia." Renji mengerutkan keningnya. Dan itu membuat Rukia tidak berkomentar, akhirnya hanya melangkah menghampiri arah kamar mandi di dalam kamarnya. Berusaha membersihkan kotoran yang menempel di wajahnya, tidak peduli dengan Renji yang masih seenak jidatnya berguling-guling ria di kasurnya.

"Rukia, siapa saja calon-calon tunanganmu itu? Aku dengar ada 5." Renji kembali membuka pembicaraan yang seharusnya tidak ingin Rukia dengar. Mata violetnya kembali menatap Renji dengan geram.

"Kau ini benar-benar muncul di saat yang tidak tepat, Renji." Gerutu Rukia.

"Jawab saja." Renji tidak peduli dengan tatapan sinis Rukia.

Rukia menghela nafas sejenak, "Hitsugaya Toushirou, Aizen Sousuke, Hisagi Shuuhei, Shiba Kaien, Ichimaru Gin." Nada suara Rukia terdengar begitu malas.

"Ichimaru? Si rubah sialan itu?" Renji semakin mengerutkan keningnya.

"Yap! Si rambut silver dengan topeng senyuman andalannya."

"Dia jadi calonmu, bagaimana dengan Rangiku?"

"Aku juga tidak tahu. Bukannya memang si Gin itu tidak bisa di tebak, yah?" Rukia menggelengkan kepalanya. Ichimaru Gin yang merupakan teman masa kecil mereka, dari dulu sampai sekarang tidak pernah bisa ditebak. Apa yang dia inginkan tidak pernah diketahui oleh semuanya. Bahkan oleh Rangiku sekalipun, yang merupakan orang paling terdekat Gin.

"Dasar rubah gila…" Renji hanya bisa bergumam. Otaknya sudah menyerah jika disuruh mengira-ngira yang ada di pikiran Gin. Rukia hanya merapikan rambut panjangnya, dia mulai bersiap-siap untuk menemui semua calon tunangannya sekali lagi. 5 tahun sejak pertemuan terakhir mereka, Rukia tidak pernah bertemu kembali. Dan sekarang mendapat perintah yang tidak mengenakkan dari Byakuya, Rukia pun bertemu kembali dengan mereka semua.

"Renji, bukannya kau ini sedang sibuk mengurusi perusahaanmu sendiri, yah? Kenapa sekarang malah tanya soal calon tunanganku? Jangan-jangan kau mencari alasan supaya bisa kabur dari kerjaanmu sendiri, yah!" Tebakan Rukia tepat mengenai sasaran. Renji pura-pura tidak mendengar kata-kata Rukia. Dan Rukia yang memang sudah hafal dengan sifat Renji hanya bisa mendengus pelan, "Kau ini tidak berubah. Dasar Babon…"

"Jangan panggil aku Babon!" Seru Renji tidak terima.

"Sudah yah, Renji. Aku harus pergi." Rukia terlihat begitu rapi dengan gaun formalnya.

"Mau kemana kau?"

"Bertemu dengan calon tunanganku."

"Aku ikut." Tiba-tiba saja Renji serius dan langsung bangkit dari kegiatan guling-gulingnya.

"Ha?" Rukia menatap Renji heran, "Untuk apa?"

"Aku ingin ikut saja." Jawaban yang sanggup membuat Rukia berpikir sejenak, tapi akhirnya dia mengangguk setuju dan mereka pun menghilang dari balik pintu

xXxXx

Pada saat yang sama, Ichigo…

Sebuah cafe yang kemarin baru saja di datangi oleh Rukia dan Rangiku. Ichigo hanya diam sambil memandang ke arah luar jendela. Tempat yang dia duduki kebetulan adalah tempat yang kemarin di duduki oleh Rukia dan Rangiku, namun dia hanya tidak menyadarinya.

"Silakan, 1 Hot Coffe." Ucap sang pelayan, Hinamori Momo, sambil memberikan 1 cangkir kopi panas di meja Ichigo.

Ichigo tidak menggubrisnya, matanya masih menatap kosong mobil-mobil dan orang-orang yang berlalu lalang di samping jendela. Alasan dia berada disana adalah karena desakan paksa dari Senna untuk menunggunya di Cafe.

"Ichi, pokoknya kau harus menungguku sampai aku selesai!"

Dan itulah akhir dari pembicaraan terakhir mereka di Kampus. Dengan berat hati Ichigo menuruti keinginan Senna, karena dia tidak ingin nantinya akan mendapat banyak sms yang isinya tentang keluhan Senna. Matanya yang masih tersirat kekosongan menatap pemandangan membosankan tiba-tiba kembali hidup. Ichigo melihat sosok gadis yang menyerupai Rukia! Ya, sosok Rukia bersama dengan Renji yang sedang melintasinya. Namun Ichigo tidak mau salah orang. Rukia dan Renji memasuki cafe yang sama dengannya. Dan duduk 4 bangku dari bangku Ichigo duduk. Ichigo memperhatikan gadis berambut panjang tersebut dengan rambut panjangnya. Sosok Rukia terhalangi oleh punggung bidang Renji. Ichigo masih senantiasa mencuri pandang ke arah mereka.

Tanpa disadari oleh Rukia dan Renji, terjadi sedikit adu mulut dari mereka berdua.

"Kenapa kita malah kesini sih, Rukia?" Renji bingung. Rukia hanya melihat-lihat menu untuk memesan makanan. Itu malah semakin membuat Renji bingung. Bukannya tadi Rukia bilang dia mau bertemu dengan para tunangannya, yah? Kenapa malah berhenti di cafe yang dia tidak tahu ini?

"Oi, Midget! Jawab pertanyaanku!" Teriak Renji tidak senang Rukia cuekin.

"Berisik, Babon! Lihat sendiri pakai matamu!" Seru Rukia jutek.

"Memangnya kau mau bertemu tunanganmu disini apa? Tidak mungkin, kan?"

"Tentu saja tidak. Kita sedang menunggu Rangiku, gara-gara kau, tahu!" Ujar Rukia sewot. Dengan terpaksa dia menunggu Rangiku, karena Rangiku juga ingin ikut gara-gara mendengar Renji juga ikut bersama Rukia.

"Jangan salahkah aku, dong!" Renji tidak terima disalahkan.

"Makanya harusnya kau belajar untuk mengunci mulutmu yang ember itu, Babon." Rukia memberikan deathglare andalannya, sanggup membuat Renji menciut, "Warii…"

10 menit tidak cukup untuk menunggu perdebatan yang terjadi di antara Rukia dan Renji, namun cukup untuk membuat Rangiku muncul menghampiri meja mereka berdua.

"Yo~" Sapa ala Rangiku untuk mereka. Tidak lupa dengan senyuman maut andalannya.

"Singkirkan dadamu yang besar itu di kepalaku, Rangiku~!" Dengan muka memerah Renji menyuruh Rangiku untuk menyingkirkan dadanya yang tersender rapi di belakang kepala Renji. Rukia hanya terkikik geli melihat reaksi Renji.

"Heeee~ Kau ini dingin sekali, yah, Renji~ Kurang makan pisang, yah?" Cibir Rangiku malah semakin menempelkan dadanya.

"Aaaaa! CEPAT SINGKIRKAN DADAMU!" Renji mulai gusar. Amukannya itu justru malah membuat Rukia dan juga Rangiku tertawa.

"Duduklah, Rangiku-san. Kau tidak mungkin berdiri terus menerus, kan?" Ucap Rukia menggeret bangku disebelahnya untuk di duduki oleh Rangiku.

"Oh iya, Ariga-" Ucapan Rangiku terhenti, arah matanya tiba-tiba berpaling ke arah seseorang yang memang sedaritadi terus mengamati mereka semua. Dilihatnya sesosok cowok dengan rambut orange yang menjadi ciri khasnya. Rambutnya orangenya yang sekarang sudah mulai panjang, dan juga wajah yang berbeda dengan dulu. 5 tahun sanggup membuat seorang Kurosaki Ichigo menjadi seseorang yang digemari di Kampusnya.

Rangiku mengenali sosok Ichigo, lalu melambaikan tangannya dengan senyuman, "Are? Ichigo janai? Hisashiburi!" Seru Rangiku. Tanpa menyadari Rukia menatapnya dengan pandangan heran. Ichigo? Telinganya tidak salah dengar kan? Baru saja dia mendengar Rangiku menyebutkan nama Ichigo. Sontak tubuhnya refleks berdiri mengikuti pandangan mata Rangiku. Dan Rukia melihatnya… Sosok Ichigo yang menatap dirinya, Ichigo yang dulu pernah dia sakiti.

"Ichigo…" Gumam Rukia. Sorot matanya yang kaget, mata violetnya membulat dengan sempurna. Dan itu justru membuat Ichigo yakin bahwa yang sedang dia lihat adalah diri Rukia yang asli.

"Rukia..." Satu suara dari Ichigo sanggup membuat Rukia meninggalkan jejak di antara mereka semua. Rukia tidak sadar langsung berlari keluar cafe, berusaha tidak dikejar dengan Ichigo. Berusaha untuk kabur dari semua pertanyaan yang mungkin akan Ichigo tanyakan untuknya. Hatinya masih belum siap untuk bertemu dengan Ichigo. Ini terlalu mendadak! Padahal baru 2 hari yang lalu dia pulang dari Amerika, dan sekarang sudah harus bertemu dengan Ichigo kembali? Rukia masih belum siap! Saat dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Ichigo, dia sudah bertekad untuk memusnahkan semua harapannya tentang Ichigo. Memusnahkan semua harapan tentang keberadaannya bagi Ichigo, perasaan Ichigo, dan cinta baru yang mungkin akan di rasakan oleh sang Orange Sun-nya…

xXxXx

Rukia – P.O.V –

Ada apa dengan diriku? Kenapa bisa ada Ichigo di cafe itu? Aku sedang tidak mau bertemu dengannya? Tidak! Tidak mau! Ku percepat lariku semakin menjauh dari tempat itu. Tapi ku akui Ichigo yang sekarang terlihat semakin tampan. Ah, justru itulah yang membuatku kabur darinya. Aku tidak berani menatapnya. Ada apa dengan diriku ini hey, Kuchiki Rukia!

Rukia – P.O.V – End

xXxXx

Ichigo – P.O.V –

Apa-apaan itu tadi? Rukia menghindariku? Kenapa malah dia yang menghindariku? Seharusnya aku yang menghindar darinya! Tapi, mana mungkin itu kulakukan. Aku hanya takjub melihat dirinya, sekarang Rukia terlihat semakin cantik dengan rambut panjangnya, sangat cocok dengan mata violetnya itu. Sial! Kenapa dia kabur dariku? Apa karena takut denganku?

"Kau tidak mengejarnya, Ichigo?" Tanya Rangiku yang melihat mukaku terpana menatap kepergian Rukia. Aku hanya bisa menggaruk rambut orangeku pelan.

"Benarkah dia Rukia?" Aku mencoba meyakinkan diri sendiri dengan bertanya kepada Rangiku. Baik Rangiku dan cowok yang dipanggil Renji ini menatapku dengan tatapan kaget.

"Tentu saja dia adalah Rukia! Apa matamu perlu kacamata, Ichigo?" Rangiku tertawa. Sosok Renji masih tidak berkomentar apa-apa, sepertinya bingung dengan kejadian tiba-tiba ini.

"So, kau tidak mengejarnya?" Rangiku kembali bertanya, "Rukia sudah kembali, jangan sampai lepas lagi, Ichigo." Tatapan Rangiku menyiratkan makna berarti untukku. Aku tahu apa maksudnya, entah mengapa membuatku membalas senyuman lalu kakiku mulai berlari mengikuti arah Rukia pergi.

"Arigatou, Rangiku-san~" Ku lambaikan tanganku. Aku harus berterima kasih kepadanya, Rangikulah yang entah kenapa selalu menyemangatiku untuk bisa bertemu dengan Rukia. Seperti saat itu, 5 tahun lalu, dimana Rukia memutuskan hubungannya denganku. Hujan yang selalu menemani diriku di saat hatiku sedang kacau. Rangiku hanya memberikan 1 saran yang masih kuingat sampai sekarang.

"Saat dia kembali, kejarlah dia. Kau yang harus mengejarnya, Ichigo. Jika tidak begitu, maka selamanya Rukia tidak akan pernah tahu tentang perasaanmu."

Entah itu suatu harapan atau apa. Selama 5 tahun ini, aku hanya memikirkan diriku sendiri, mungkin Rukia dulu juga seperti itu. Aku memang tidak pernah mengenal Rukia lebih dekat. Tapi, hanya 1 yang tidak akan pernah berubah dari dalam diriku, aku mencintainya! Aku mencintai gadis bernama Kuchiki Rukia, dia yang selalu bisa mengganggu pikiranku. Dan tadi, dia sedang berdiri di hadapanku, menatapku, terkejut melihatku, dan lari menjauhiku. Tentu saja aku akan mengejarnya! Bahkan ke ujung dunia sekali pun!

Ichigo – P.O.V –

xXxXx

Rukia sudah tidak sanggup berlari, langkah kakinya terhenti di Kampus Karakura. Nafasnya yang tersengal-sengal mengharuskan dirinya untuk beristirahat di sebuah air mancur yang terletak di depan gerbang masuk Universitas Karakura yang merupakan Kampus tempat dia belajar sekarang. Sepertinya usaha untuk kabur dari Ichigo lumayan berhasil, dia tidak melihat sosok Ichigo mengejarnya, tapi satu hal yang tidak diketahui oleh Rukia, dia berada di Kampus yang sama dengan Ichigo. Itu sama saja dengan bertemu dengan Ichigo. Walau mereka berbeda jurusan pun, mudah baginya untuk bertemu dengna Ichigo.

"Hosh… Hosh… Kenapa aku malah bertemu dengannya…" Ucapan Rukia terbata-bata sibuk mencari oksigen di sekitarnya. Keringat yang mengucur deras dari dahinya mulai dia bersihkan dengan tangannya. Efek bertemu dengan Ichigo sama saja dengan lari marathon 100 kilometer full.

Tanpa Rukia sadari, Ichigo merupakan pelari handal yang sanggup mengejarnya. Bukan mustahil Ichigo tidak berhasil menemukan Rukia, sosok Rukia begitu kecil, sanggup ditangkap oleh mata hazelnya. Mata dengan penuh kerinduan menatap sang gadis mungilnya.

"Bodoh, sebegitu tidak ingin bertemukah denganku?" Suara Ichigo sanggup membuat jantung Rukia berhenti. Ah, dia sudah tidak sanggup berlari lagi. Tapi matanya tidak mau lepas menatap Ichigo. Seakan mendapat mantra untuk terus menatap Ichigo lekat. Sosok Ichigo yang perlahan semakin terlihat jelas dan semakin mendekatinya. Rukia tidak bisa berkata-kata. Biasanya dia akan mengeluarkan jurus kata-kata sinisnya kepada Ichigo, tapi sekarang untuk memikirkannya saja tidak sanggup.

TBC ~