Ichigo : Selamat Siang All! Gw gantiin Icchy hadir disini~! *Sumringah

Rukia : Gila, si Author ngotot banget pengen dipublish pas hari Natal yee.. Katanya biar cocok sama kondisi hari ini -a

Ichigo : Ceritanya jadi kyk ngalor-ngidur begini. Mana si Rukia masih sok2 cuek lagi *phew

Rukia : DIEM LU! Kau sendiri juga pake acara mesra2an sama Senna! *ngamuk

Ichigo : ITU SEMUA KAN GARA2 ELO, MIDGET!

Rukia : AH! ELUNYA AJA GA SETIA SAMA GW!

Icchy : MALAH BERANTEM KALIAN!OE BERHENTI! *Tendang IchiRuki ke sarangnya (?)

Sudahlah, jgn dihiraukan pairing kita yang geje ini... Hahaha Icchy sampe begadang menyelesaikan Fic ini. Tadi sih niatnya Icchy mau ngepublish

Orange Sun & Chappy White dan The Dark Of The Bleeding Moon secara bersamaan, tapi kyknya kekuatan otak tidak sanggup. Jadi Ya sudahlah~

Oh iya, Icchy kyknya seneng banget skip2 waktu yah... wakwakwakawkawk *Cuekz

Cerita ini kyknya sudah sangat melenceng dari rencana awal Icchy lho, semuanya ~ *Ga ada yg tanya

Icchy pengen banget selesain cerita ini, tapi kalo langsung ditamatkan kan, maksa bener yah *Benar!

Oke, ga banyak CINCONG!

Eh, Icchy lupa bilang Icchy ganti nick penname lho ~ *Ga adayg tanya part 2

Kalo mau baca nick Icchy anggap aja lagi bersenandung, Icchy La La La ~ Du Du Du ~ *cuekz part 2

Ya Sudahlah, Icchy update spesial Untuk kalian yg merayakan Natal, Merry Christmas & Happy new year all!

Yg tidak merayakan Natal ttp boleh baca kok ^^a

Jangan lupa review setelah itu ~

Enjoy My Story ~ :D


Bleach = Kubo Tite

Orange Sun & Chappy White = Searaki Icchy ~ Icchy La La La

One Night = The Corrs (makasih atas inspirasinya pada jam 4 pagi) *cium


Chapter 13 = One Night In Christmas Eve

Rukia – P.O.V –

Aku, Renji, dan Rangiku, kami bertiga sampai di sebuah tempat yang telah Byakuya-niisama sebutkan. Aku akan bertemu dengan para tunanganku disini. Kira-kira ada perlu apa yah? Sepertinya ini sebuah pesta yang sengaja di gelar Nii-sama untukku. Kami bertiga memasuki ruangan tersebut. Pesta yang berlangsung begitu mewah. Entah kenapa Nii-sama selalu saja menggelar pesta begitu megah begini, padahal menurutku itu semua tidak terlalu perlu.

"Megah sekali." Gumam Rangiku kagum dengan pemandangan yang ada di depannya.

Sedang Renji, kulihat hanya berkomentar seperti biasa, "Kakakmu ini senang sekali menghamburkan uang yang tidak perlu."

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Lalu langkah kami semua memasuki pesta itu. Dan kulihat para calon tunanganku memang sudah menunggu di sana. Dan saat kami semua memasuki ruangan itu, semua mata tertuju kepadaku. Ah, kulihat Shuuhei tersenyum ke arahku lalu menghampiri kami.

"Hey, Rukia. Okaeri." Sapa Shuuhei seperti biasa. Lalu tersenyum ramah ke arah Renji dan Rangiku. "Yo, Renji, Rangiku-san! Bagaimana kabar kalian?"

"Yo~ Shuuhei. Kau tidak banyak berubah, yah?" Rangiku menepuk pundak Shuuhei pelan.

"Oi, Shuuhei. Bukankah kau ini sudah bertunangan dengan gadis dari China itu?" Tanya Renji bingung. Hm? Shuuhei bertunangan? Wah, aku belum dengar cerita ini.

"Itu sebabnya, Renji." Shuuhei mengerutkan keningnya. "Aku ingin beritahukan hal ini kepada Rukia secepatnya." Sambungnya lugas.

"Aku mendengarkan, Shuuhei." Aku tidak mungkin diam saja. Kutunggu Shuuhei untuk melanjutkan ceritanya. Begitu juga dengan Renji dan Rangiku.

"Maaf, Rukia. Sepertinya aku harus membatalkan pertunanganku denganmu." Jelas Shuuhei dengan wajah tertunduk. Hm? Ini pertama kalinya bagiku melihat wajah Shuuhei seperti orang kebingungan. Sedikit penasaran juga sih, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya.

"Boleh aku tahu alasannya?"

Shuuhei masih tidak menjawab, lalu wajahnya kembali menatapku, "Saat kau berada di Amerika, Rukia, aku bertemu dengan seorang gadis saat sedang ada urusan di Cina. Dia seorang gadis yang manis, dan kami pun mulai menjalin hubungan." Jelas Shuuhei, kata-katanya terdengar sedikit enggan bercerita di telingaku. Namun, tanpa perlu dia melanjutkan kata-katanya, aku sudah bisa menebak apa yang akan selanjutnya dia katakan.

"Oh, jadi begitu ceritanya." Aku mulai mengangguk-angguk sok tahu. Kulihat Shuuhei menatapku heran. Pandangannya seakan bertanya, "Kau tidak marah, Rukia?"

"Wah, Shuuhei! Jadi kapan kalian akan menikah?" Seru Rangiku yang entah kenapa terdengar begitu exited. Renji hanya bengong menatap Rangiku.

"Kalau begitu, untuk apa kau masih berada disini, Shuuhei?" Tanyaku kepadaku, tersenyum sedikit lembut ke arahnya. "Nanti kenalkan aku padanya." Ucapku sedikit menggoda. Shuuhei sedikit salah tingkah, lalu membalas senyumanku, wajahnya seakan mengisyaratkan rasa terima kasih kepadaku. Padahal seharusnya akulah yang berterima kasih kepadanya, akhirnya bebanku lepas sedikit.

xXxXx


Ingin rasanya aku protes ke Nii-sama untuk semua yang terjadi di hari ini. Jika saja, Nii-sama tidak memberikan perintah untuk bertemu dengan para tunanganku, aku tidak akan capek-capek keluar dari kamarku. Dan juga... Aku tidak akan bertemu dengan Ichigo, dengan si Brengsek yang entah kenapa sudah mempunyai gandengan baru. Sialan! Lupakan tentang si Jeruk itu! Hari ini, dengan terpaksa lebih tepatnya, aku menemui semua tunanganku. Opiniku tentang mereka semua…

Pertama, Aizen Sousuke. Dia adalah orang pertama yang kutemui setelah Shuuhei membatalkan pertunangannya denganku. Tipe cowok yang lembut, begitu dewasa, dan mempunyai wibawa yang sangat kuat. Mungkin bisa melebihi kharisma Byakuya-niisama. Begitu juga dengan umurnya, sepertinya Aizen-san ini lebih tua 2 tahun dari Kakakku. Sialan! Mana mungkin aku menikah dengan orang yang terpaut umur begitu jauh denganku!

Kedua, Hitsugaya Toushirou. Benarkah cowok ini seumuran denganku? Kenapa tinggi tubuhnya kurang lebih sama denganku? Benar-benar tidak terlihat seperti orang dewasa. Rambut silver jabriknya memang indah jika dilihat pada malam hari. Apalagi ditambah dengan warna hijau toscanya, namun terkesan dingin. Tipe-tipe cowok cuek, bahkan saat bertemu denganku pun, Hitsugaya terkesan ogah-ogahnya. Tadi tuh sebenarnya aku ingin sekali bertanya, "Kau ini niat tidak sih tunangan denganku?" Tapi, sepertinya, pertanyaan itu akhirnya hanya berupa sebuah pikiran saja.

Ketiga, Shiba Kaien. Pendapatku tentang orang ini apa yah? Rambut jabriknya sedikit persis dengan rambut jabrik Ichigo. Hanya berbeda warna saja. Makanya, saat bertemu dengannya aku sedikit kaget karena mengira Ichigo ganti warna rambut. Ah, bodoh kau Rukia! Apa matamu sudah terkena virus Ichigo sampai salah mengenali orang? Dia ini termasuk orang yang menyenangkan, umurnya hanya beda 2 tahun denganku. Orang yang terkesan urakan, santai, bebas, senang berpetualang. Mungkin aku sedikit tertarik dengannya.

Keempat, Ichimaru Gin, alias Rubah tengik! Entah kenapa aku benci dengannya! Padahal jelas-jelas dia tahu, bahwa aku tidak suka dengannya, dia malah menawarkan diri jadi tunanganku. Dan salah satu alasan kenapa aku semakin membencinya adalah dia selalu saja bisa menebak pikiranku! Dasar orang yang tidak bisa ditebak! Wajahnya sih memang tampan, oke ralat, semua para tunanganku memang tampan, termasuk Gin. Dia ini memang senang memakai topeng senyumannya. Padahal aku mengerti sekali, apa yang muncul di wajahnya belum tentu apa yang dirasakannya. Sialan! Tindakan Gin ini seolah-olah tidak peduli dengan perasaan Rangiku yang mungkin saja sakit hati dengan semua ini. Tapi tidak tahulah! Lihat saja ke depannya nanti.

Rukia – P.O.V – End

xXxXx


Normal – P.O.V –

Waktu pun tidak terasa berjalan begitu cepat, seakan tidak mau menunggu manusia yang masih menikmati indahnya dunia. Musim gugur yang kemudian berganti menjadi musim dingin dengan keindahan salju berlimpah. Hembusan angin yang terasa begitu dingin sanggup menembus sweater berwarna putih milik Rukia. Langkah kakinya terhenti di sebuah pintu gerbang kampusnya. Kira-kira sudah berapa hari berlalu sejak insiden bertemu dengan Ichigo. Begitu menyebalkan, karena semenjak hari itu, Ichigo selalu terlihat bersama dengan Senna, begitu bahagia. Dan itu selalu, di saat Rukia tidak sengaja melihat mereka.

Dan hari ini pun, Rukia kembali melihat sepasang kekasih menyebalkan yang terlihat berjalan di depannya. Tanpa menyadari keberadaan gadis mungil yang entah kenapa merasa terganggu setiap kali melihatnya. Rukia tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang cemburu, karena dia sendiri tidak merasa keberatan Ichigo mau bermesraan dengan gadis siapa pun, pacar yang keberapa pun. Tapi cukup satu hal, jangan lakukan semua itu di depan matanya, apalagi depan mata persis!

Salju yang turun dengan anggun, menyertai semua keindahan dari dalam bentuknya. Membiarkan semua orang merasakan hawa dinginnya, dan juga malam Natal yang sebentar lagi tiba. Semua pasangan di kampus Karakura terlihat begitu menantikan malam tersebut, lebih tepatnya saat Christmast Eve, yaitu malam sebelum Natal. Semua terlihat begitu bahagia, kecuali satu orang…

"Kenapa aku selalu melihat mereka, sih?" Gerutu Rukia saat kembali menenangkan dirinya di dalam sebuah cafe Kampus Karakura, bersama dengan Rangiku yang setia mendengarkan semua keluhan Rukia. Satu sifat yang tidak pernah di keluarkan oleh Rukia. Sifat egois yang dulu sering Ichigo dapatkan. Rukia mengeluarkan semua uneg-unegnya, selalu di saat mereka berdua selesai dari kegiatan kampus mereka. Rangiku hanya menyeruput Capucino langganannya dengan tenang, tidak lupa stand by telinga untuk mendengar semua celotehan Rukia.

"Dan yang paling aku benci adalah, aku tahu Ichigo sengaja melakukan itu. Dan aku tetap saja terpancing! Ahhh! Bodoh kau, Kuchiki Rukia!" Teriak Rukia frustasi. Suasana Natal sama sekali tidak membuat bergairah. Apalagi dengan keadaan dirinya yang sekarang, seperti orang gila yang tidak jelas.

"Bukannya kau sudah merelakan Ichigo dengan gadis bernama Senna itu? Kenapa sekarang malah cemburu dengan mereka?" Tanya Rangiku santai.

Rukia sedikit menatap Rangiku dengan geram, "Aku lebih senang kata 'cemburu' itu di ganti dengan kata 'risih'! Aku merasa risih setiap kali melihat mereka." Ujar Rukia. Masih kesal.

"Bukannya 'cemburu' dan 'risih' itu tidak ada bedanya, yah?" Rangiku tersenyum sumringah ke arah Rukia. Membuat gadis mungil di depannya ini akhirnya hanya menyeruput Lemon Sodanya dengan gusar.

"Aku sedikit menyesal bicara denganmu, Rangiku-san." Rukia kembali menggerutu. Bukan karena Rangiku tidak mendengarkannya. Tapi justru karena kata-kata Rangiku yang memang benar itulah yang membuat Rukia semakin sebal. Dia jadi tidak bisa lari dari perasaannya.

"Sudahlah, Rukia-chan. Kalau memang cemburu, kenapa tidak jujur saja, sih?" Rangiku semakin tersenyum nakal. Rukia semakin mati kutu.

"Aku tidak cemburu!" Tolak Rukia mati-matian.

"Hahaha… We will see that." Rangiku kembali meminum Capucinonya sampai habis. Sedangkan Rukia? Akhirnya dia hanya mengaduk-aduk minumannya pelan, kembali berpikir. Rukia berharap semoga saja perkataan Rangiku tidak benar.

xXxXx


Keesokan harinya, tanggal 24 Desember, biasa di sebut dengan Christmas Eve. Semua para mahasiswa tengah sibuk menyiapkan acara yang bertemakan 'Christmas Eve'. Yang paling bersemangat mengerjakan ini semua tentu saja para pasangan-pasangan yang tengah sibuk merencanakan kegiatan mereka untuk malam nanti, tidak terkecuali Senna. Gadis dengan rambut sebahu itu hanya bersenandung riang sambil membantu menempelkan pita-pita di kelasnya. Rukia yang ternyata mengambil jurusan yang sama dengan Senna hanya memandang gadis itu sesaat. Pikirannya sudah bisa menebak kenapa Senna begitu senang hari ini. Pasti dia dan Ichigo sudah merencanakan untuk pergi di malam Natal. Ah, pikiran Rukia kembali kacau. Akhirnya sebisa mungkin dia tidak mendekat dulu ke arah Senna. Namun, kenyataan memang tidak mau berpihak kepada Rukia, Senna melihat punggung Rukia dan langsung memanggil namanya.

"Rukia-chan!" Sapa Senna tersenyum. Mau tidak mau Rukia harus membalikkan kembali tubuhnya dan kembali menatap orang yang seharusnya tidak dia lihat.

"Hei, Senna." Rukia terpaksa membalas senyuman Senna.

"Rukia-chan, apa rencanamu di malam Natal ini? Apa kau akan pergi dengan Kaein?" Tanya Senna santai. Tangannya masih sibuk menempelkan pita-pita di setiap sudut ruangan.

Rukia pun ikut membantu Senna. Ah, dia jadi teringat dengan ajakan Kaien tempo hari, "Maukah kau kencan denganku saat malam Natal, Rukia?" Saat itu, Rukia masih belum menjawab ajakan Kaien. Tapi itu bukan berarti dia menolaknya, kan?

"Ya. Kaien-dono sudah mengajakku, sih." Akhirnya Rukia menjawab, "Bagaimana acaramu dengan Ichi, eh bukan, Kurosaki-kun?" Tanya Rukia akhirnya lagi. Sedikit kesal dengan mulutnya sendiri kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya.

"Aku sudah mengajak Ichi, sih. Dia masih belum menjawab." Senna terdiam sesaat, "Ah, tapi biarpun dia menolak dia harus pergi denganku! Masa aku melewatkan kesempatan ini!" Sambungnya mantap. Mata berwarna coklat terang itu seakan bersemangat penuh keyakinan.

Rukia hanya bisa menatap lirih pandangan itu. Semoga saja Ichigo setuju dengan ajakan Senna.

xXxXx


Malam pun tiba, Christmas Eve…

Malam yang di nantikan pun tiba! Christmas Eve dengan hamparan sinar cahaya remang-remang yang tersangkut dengan rapi di semua pohon di jalanan Karakura. Begitu juga dengan Universitas Karakura yang kini ramai dengan para mahasiswa yang mengadakan acara yang begitu meriah. Di tengah-tengah lapangan mereka sengaja menyalakan api unggun yang begitu besar seakan sebagai pengganti kehangatan di antara dinginnya salju. Api yang berkibar pelan, seakan menari-nari menemani indahnya sinar rembulan.

Rukia dan Kaien tiba melihat api unggun tersebut. Sweater putih yang di pakai Rukia terlihat mempercantik dirinya di malam hari. Kaien sedikit terpana melihat pesona Rukia. Cowok yang memakai mantel berwarna coklat muda ini hanya diam menatap Rukia, sedikit memerah karena sebuah pesona yang di pancarkan seorang Kuchiki Rukia. Dirinya sedikit tidak menyangka Rukia menerima ajakannya, padahal dia sudah yakin sekali Rukia pasti menolak. Tapi ternyata Rukia menerima ajakannya dengan senang hati.

"Apinya indah sekali yah, Kaien-dono." Ucap Rukia sambil menatap ke arahnya. Tersenyum begitu manis ke arah Kaien.

"Eh, ya! Indah sekali." Kaien sedikit gugup.

Di belakang Rukia dan Kaien ternyata ada seseorang yang daritadi terus menatap sedikit geram ke arah mereka. Sebuah mata hazel yang seakan-akan bertanya siapa cowok yang berada di samping Rukia dan kenapa mereka sepertinya begitu akrab sekali.

"Ichi, kenapa kau?" Tanya Senna yang tidak mengerti pikiran Ichigo.

Tentu saja yang mendengarkan pertanyaan Senna bukan hanya Ichigo saja, tetapi juga Rukia dan Kaien. Rukia langsung mengerutkan keningnya, kenapa dia harus bertemu dengan pasangan ini lagi?

"Senna? Satou Senna?" Kaien begitu terkejut melihat Senna.

"Kaien! Sedang apa kau di sini?" Tanya Senna sama kagetnya, tapi rasa penasarannya itu hilang seketika saat melihat Rukia berdiri disamping Kaien, "Oh iya, kau ini kan tunangannya Rukia-chan."

"Tunangan?" Ichigo mengangkat sebelah alisnya. Dia tahu Rukia mempunyai beberapa calon tunangan, tapi dia tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu tunangannya secepat ini. Mata hazelnya kembali memandang sang violet begitu geram, bahkan semakin geram ketika tahu gadis yang sedang di pandangnya malah membuang muka.

"Ichi, dia ini tunangannya Rukia, lho! Yang waktu itu pernah kami bicarakan, Shiba Kaien." Senna menjelaskan ke Ichigo yang masih menatap Rukia, "Kau ingat?"

"Tentu saja. Mana mungkin aku lupa." Jawaban Ichigo terdengar begitu dingin. Pandangannya kini teralihkan menatap Kaien. Sedikit tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.

"Kurosaki Ichigo."

Kaien membalas uluran tangan Ichigo, "Yoroshiku. Shiba Kaien."

"Oh iya! Bagaimana kalau kita mencoba permainan itu?" Seru Senna memeriahkan suasana. Tangannya menunjuk kea rah suatu permainan yang sengaja di ciptakan khusus untuk pasangan yang ingin memeriahkan malam Natal dengan damai.

"Aku tidak keberatan jika Rukia bilang setuju." Ucap Ichigo mendelik ke arah Rukia. Membuat gadis mungil itu menatapnya geram.

"Bagaimana, Rukia-chan?" Tanya Senna ke Rukia. Itu sama saja artinya dengan tidak bisa menolak. Dengan terpaksa Rukia mengangguk kecil, walau sebenarnya dia sangat tidak ingin.

xXxXx


Akhirnya, Rukia, Ichigo, Kaien, dan Senna. Mereka berempat pun tidak di sebuah tempat lebih tepatnya adalah bangunan kampus yang sengaja di sulap menjadi sebuah ajang permainan RPG. Salah satu panitia yang menjaga pintu depan pun menjelaskan peraturan permainan tersebut.

"Pasangan akan ditukar secara acak lewat undian ini. Silakan kalian semua mengambil nomor undian." Ucap sang panitia.

"Tunggu dulu. Untuk apa sampai menukar pasangan segala?" Rukia merasa keberatan dengan hal itu.

"Kalian harus mencari pasangan kalian di tempat yang sudah kami sediakan."

"Oh, jadi seperti harta karun begitu yah?" Kaien mengangguk mulai mengerti.

"Waw! Sepertinya bakal menarik!" Seru Senna exited.

Ichigo masih diam. Sedangkan Rukia? Dari tadi kerutan di dahinya seakan mengalahkan kerutan permanen Ichigo.

xXxXx


Rukia – P.O.V –

Arrrgghhh! Hari ini aku sial! Kenapa aku mengajak Kaien-dono ke kampus, yah? Ini adalah kedua kalinya aku, Kuchiki Rukia, melakukan kesalahan yang memalukan! Pertama, bertemu dengan Ichigo dan Senna. Kedua, Ichigo bertemu dengan Kaien! Oke, Rukia, seharusnya itu bukanlah suatu hal yang memalukan. Karena yang lebih memalukan adalah… Aku berada di ruangan gelap berdua dengan Ichigo! Ya! Hanya Ichigo. Hanya aku dan Ichigo! Ini mimpi buruk!

Seharusnya yang mengambil undian bukan Kaien, tapi aku! Maka dari itu bisa saja aku bersama dengannya. Dan yang bodohnya adalah kenapa si Jeruk sialan ini malah bilang, "Kenapa kita tidak tukar pasangan saja, Senna dengan Kaien, sedangkan Rukia denganku."

What the hell? Dan kenapa bisa-bisanya Senna mengangguk setuju dan bilang, "Wah, benar juga, yah? Kita seperti mencari pasangan kita masing-masing, Kaien!"

Aku benar-benar mengutuk hari ini. Argghhh! Biarkanlah seorang Kuchiki Rukia frustasi dalam kegelapan malam. Sigh…

Rukia – P.O.V – End

xXxXx


Rukia hanya meringkuk di pojokan bangku ruangan kelas mereka bersama dengan Ichigo. Mata violetnya hanya memandang kosong ke luar jendela yang memperlihatkan keindahan sang api unggun. Ruangan kelas yang sedang mereka tempati adalah sebuah ruangan auditorium, ruangan yang bangkunya dari atas terus sampai ke bawah. Dengan papan tulis yang merupakan projektor yang di pakai untuk menonton suatu bahan perkuliahan. Biasanya di pakai oleh semua jurusan. Dan saat ini Layar putih itu kini tengah memunculkan sebuah bintang-bintang buatan para creator. Ruangan yang di sulap seakan-akan kita berada di dalam indahnya langit malam. Dinding atap ruangan dengan tempelan berbentuk bintang-bintang yang bersinar dalam kegelapan. Seharusnya ini adalah momen yang sangat romantis. Tapi tidak untuk Rukia, menurutnya ini adalah suatu kutukan. Apalagi Ichigo yang berada 5 bangku di bawahnya hanya diam, pandangannya tidak lepas dari sosok Rukia. Membuat Rukia semakin tidak berani memalingkan mukanya.

"Bisakah kau hentikan sikapmu itu, Ichigo? Kau membuatku risih." Jelas Rukia tidak tahan.

"Kenapa? Kalau memang tidak senang, bicara dengan jelas sambil menatapku." Ucap Ichigo santai. Matanya masih menatap sang gadis mungil kesayangannya. Gadis yang terlihat mencoba tegar di hadapannya, gadis yang tidak mengetahui bahwa Ichigo terus menantikannya.

"Bisakah kau berpura-pura tidak mengenalku?" Ucap Rukia kemudian. Dia memberanikan diri untuk menatap Ichigo. Menatap sang matahari yang masih menatapnya dalam.

"Bisakah aku dengar alasannya?"

"A, aku risih setiap kali melihat kau dengan Senna!" Ucapan yang tidak sengaja keluar dari mulut Rukia. Gadis itu tahu, berkata jujur seperti itu adalah kemenangan untuk Ichigo. Apalagi dia hanya melihat Ichigo tersenyum sinis menatapnya.

"Kenapa kau merasa risih, Rukia? Memangnya ada hubungan apa denganmu sampai-sampai kau merasa risih melihat aku dengan Senna?" Rukia terlonjak kaget mendengar penuturan Ichigo. Tentu saja dia tidak berhak untuk mengatur Ichigo mau bersama dengan siapa, terlihat oleh Rukia atau tidak. Itu bukan urusan Rukia. Ah, perlahan ada rasa sakit dari dalam diri Rukia. Ichigo mungkin sudah berubah, ucapan dan juga tindakan Ichigo yang seolah-olah tidak peduli dengan perasaan Rukia kini membuat gadis itu tersadar, Ichigo sudah melupakan dirinya.

"Aku memang tidak berhak untuk berkata seperti ini…" Kata-kata Rukia bergetar. Di tundukkan wajahnya, menatap lantai yang menjadi penopang kakinya berdiri. Tanpa menyadari Ichigo menghampiri tempatnya, mencoba meraih kembali wajah Rukia untuk kembali menatapnya.

"Kalau memang kau cemburu, katakan saja." Bisik Ichigo pelan di telinga Rukia. Hembusan nafasnya saja sanggup membuat Rukia merona.

"Aku tidak cemburu! Berhenti menggodaku, TAWAKE!" Seru Rukia salah tingkah. Mukanya begitu geram menatap Ichigo, bisa-bisanya dia di permainkan oleh seseorang yang jelas-jelas dulu pernah Rukia bully.

Ichigo hanya terkekeh geli, senyuman licik pun mulai muncul dari bibirnya, "Kau bersikap begini semakin memperkuat bahwa kau sedang cemburu Rukia. Sudahlah, akui saja." Sindir Ichigo. Tersenyum puas melihat Rukia tidak bisa membalas kata-katanya.

Wajah Rukia memerah bukan karena malu, tapi karena geram tidak bisa membalas kata-kata Ichigo. Akhirnya Rukia memilih untuk kembali menjauh dari Ichigo. Menjauh dari orang yang berusaha dia lupakan. Namun tubuh Rukia terkunci oleh pelukan Ichigo. Pria itu memeluk sang gadis mungil ini dari belakang, memeluknya dengan rasa penuh kerinduan. Mencoba merasakan wangi khas yang keluar dari tubuh mungil yang selalu dia nantikan selama 5 tahun ini. Berusaha menyelami kembali perasaan Rukia yang dulu.

Rukia terdiam, entah karena sihir apa. Dia juga sebenarnya merindukan Ichigo, bahkan pelukan dari Ichigo saja sanggup membuat dia terlena dalam angan-angannya. Tapi, Rukia kembali teringat akan Senna. Ya! Ichigo sudah menjalin hubungan dengan Senna! Tidak peduli seberapa besar Rukia mencintainya, dia sudah memutuskan untuk merelakan Ichigo.

"Lepaskan aku, Bodoh! Memangnya kau kira aku ini Senna apa?" Ucap Rukia begitu dingin. Lalu melepas paksa pelukan Ichigo. Mata violetnya seakan bersinar, memandang Ichigo begitu dingin. Sedingin hatinya saat ini.

"Hah? Kenapa jadi bawa-bawa nama Senna disini?" Tanya Ichigo bingung.

"Berisik! Seharusnya aku disini bersama dengan Kaien, bukan denganmu, BAKA!" Teriak Rukia semakin gusar. Entah apa maksudnya dia berkata seperti itu. Yang jelas Ichigo tidak senang nama Senna dan Kaien di bawa-bawa saat mereka sedang berdua seperti sekarang ini.

"Jangan membawa nama orang yang sedang tidak ingin kudengar." Seru Ichigo.

"Kenapa? Kau tidak suka aku kencan dengan Kaien-dono?" Ini tidak tahu apakah Rukia mencoba memanas-manasi Ichigo ataukah memang ini adalah balasannya untuk mengalahkan kata-kata Ichigo. Yang pasti Ichigo terlihat terpancing oleh ucapan Rukia. Namun yang terjadi adalah tubuh bidang Ichigo menyudutkan tubuh mungil Rukia ke pojokan. Menghimpit badan Rukia, membuat jarak di antara mereka begitu sangat dekat.

"Hey! Apa yang kau lakukan, Ichigo?" Rukia mencoba mendorong tubuh bidang Ichigo. Tapi usahanya tidak mampu menggeser tubuh besar itu. Segala bentuk perlawanannya seperti sia-sia di lakukannya. Ichigo kembali terkekeh geli melihat usaha Rukia.

"Sedang apa kau, Rukia? Kau sendiri tahu kan tenagaku sebesar apa?" Ucapnya meremehkan usaha Rukia. Tentu saja Rukia tidak terima di remehkan seperti ini.

"Sejak kapan kau belajar jadi orang kurang ajar begini, Jeruk! Cepat lepaskan aku kalau kau tidak mau menyesal seumur hidupmu!"

"Jika aku melepasmu sekarang, maka aku akan menyesal seumur hidupku…" Deg! Kata-kata Ichigo membuat Rukia membatu, seakan beku oleh kata-kata dan tatapan begitu dalam dari Ichigo. Kedua mata mereka kembali bertemu, seakan mencari tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Tangan Ichigo menyentuh bibir tipis milik Rukia, di belainya lembut bibir itu, bibir yang sangat ingin di rasakannya. Tanpa berkata apa-apa, perlahan Ichigo mendekatkan wajahnya ke Rukia, mengunci bibir Rukia dengan bibirnya.

Tentu saja, di perlakukan seperti itu, mata violet Rukia semakin membulat. Ciuman yang sanggup membuatnya membisu ini bahkan tidak bisa di tentang oleh Rukia. Ichigo melumat bibirnya dengan lembut, begitu lembut. Lidah yang mulai bermain di dalam mulut Rukia, mencoba memberitahu Rukia tentang perasaan hatinya. Rukia kembali masuk ke dalam angannya. Hatinya yang beku dalam sekejap langsung mencair oleh ciuman hangat dari Ichigo.

Lumatan-lumatan pelan yang semakin lama semakin memaksa Rukia untuk membuka mulutnya. Rukia tidak menolak, dia pun membalas ciuman Ichigo. Lidahnya mulai membalas permainan yang di berikan. Mencoba merasakan kenikmatan yang sudah lama Rukia inginkan. Tidak, mereka berdua sama-sama menginginkannya! 5 tahun berlalu sanggup mengubah diri mereka. Memang, tidak dapat di pungkiri bahwa semua manusia pasti berubah. Namun tidak untuk perasaan mereka! Ichigo masih menginginkan Rukia, bahkan perasaannya itu semakin lama semakin bertambah besar. Dan Rukia, sekuat apa pun hatinya menepis bayangan Ichigo, itu malah membuat dia sadar bahwa perasaannya begitu dalam untuk Ichigo. Mereka merindukan satu sama lain. Dan itu akan di tumpahkan hari ini, di malam Natal yang syahdu. Di temani oleh sinar rembulan yang memancar redup dan juga salju yang mengambang pelan. Seakan menemani kerinduan mereka berdua.

Ichigo melepaskan ciuman. Entah berapa lama lidah mereka saling bertautan, membuat mereka harus menghirup oksigen karena ciuman tersebut. Rukia yang sepertinya masih belum puas merasakan kenikmatan bibir Ichigo, membuka matanya secara perlahan. Membiarkan matanya menatap sang Jeruk dengan penuh arti. Ah, pertengkaran yang baru saja mereka lakukan seakan tidak pernah terjadi. Dan juga, tentang Senna dan Kaien. Baik Ichigo dan Rukia seakan melupakan keberadaan mereka.

Ichigo masih diam, tangannya mulia meraih memeluk tubuh Rukia. Begitu erat, begitu lembut. Inilah cara Ichigo mengekspresikan rasa sayangnya kepada Rukia. Dia memang bukan tipe cowok yang mudah mengatakan, 'aku mencintaimu.' Kepada orang yang dia sayangi. Namun, segala tindakan yang dia lakukan itu saja cukup mengisyaratkan rasa cinta Ichigo. Rasa cinta yang hanya untuk Rukia.

"Aku membencimu…" Gumam Rukia tanpa sedikit pun meminta untuk di lepaskan dari pelukan. Kata-kata tersebut selalu di ucapkan Rukia berulang-ulang. Dan Ichigo hanya tersenyum pelan sambil menjawab, "Aku tahu…" Begitu terus secara berulang-ulang.

xXxXx


Rukia – P.O.V –

Ah, lagi-lagi aku terhanyut dalam dekapan Ichigo. Sepertinya aku memang tidak bisa melepaskannya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Tapi khusus untuk hari ini, biarkanlah aku melepaskan semua rasa rinduku dalam dekapannya. Dekapan yang membuatku merasa nyaman ini. Ichigo… Ternyata aku bisa kalah darimu, aku yang menginginkanmu begitu kuat. Aku yang tidak ingin melepasmu. Sikapku yang terkesan dingin ini sengaja supaya kau selalu mengejarku. Alasan yang membuatku tidak menerima cintamu 5 tahun yang lalu, mungkin karena aku tidak ingin kehilanganmu! Namun, aku sudah berjanji kepada Byakuya-niisama untuk tetap memilih calon tunanganku. Aku tidak peduli, hatiku sudah menjadi milikmu, walau aku harus menikah dengan orang lain.

Jadi, biarkanlah, khusus untuk hari ini saja. Aku menjadi milikmu seutuhnya. Di malam Natal ini, biarkanlah aku merasakan kehangatan tubuhku, untuk hari ini saja. Biarkan aku melepaskan segala bebanku, memelukmu begitu erat. Khusus untuk hari ini…

Cause I made up my mind

My heart aches with a hunger

And I want that you were mine

No, I cannot deny

So for one night

Is it all right

That I give you…

My Love…

My Heart…

My Body…

My Soul…

Just For One Night…

Rukia – P.O.V – End

xXxXx

~ TO BE CONTINUE ~


~ Icchy's Corner ~

Icchy : Akhirnya chapter 13 update juga! Dengan ini gw bisa tidur dengan tenang... *mulai ngorok

Rukia : Oe, Icchy! Elu bikin cerita ini dimana! *penasaran

Ichigo : Iya, gw juga penasaran, nih. Bisa2nya bikin Rukia jadi jual mahal gitu sama gw. *munyuuu

Icchy : Yg Jelas inspirasi gw sudah mati kalo ngetik di rumah. Kemarin kan jaga resto, jadi ngetiknya di bawah meja kasier. Icchy kan jaga kasier lho...

Rukia : Kasian Author kita satu ini... *Nepuk2 pundak Icchy

Icchy : Heee? Tumben yah Rukia-chan jadi orang baekkk~

Rukia : Ha? Jadi maksud elu gw ini ga baik gitu? *Melotot

Icchy : La la la la ~ *pura2 ga denger

Ichigo : Udah deh Rukia, mendingan kita suruh si Author sadap balas review deh. Daripada dia keburu tidur.

Rukia : Oh bener juga *Ngacungin Shirayuki ke Icchy* Icchy, ayu cepet lu bales tuh Review kalo emang lu masih mau tidur di tempat yg hangat!

Icchy : HIIII! Oke! oke! gw bacain! T_T

Icchy mau ngebalas review dari kalian~! :D


yuuna hihara :

Rukia kepancing juga tuh sama Ichigo... wakawawkkwaawk *plak!

anyway, review lagi yah :D


Ai 'Akira' Shirayuki :

Hehehe... sama2 :D

Foto Rukia yg rambut panjang, aku taruh di PP. Coba aja kmu cek... :D

review lagi yah :D


EJEY series :

Iya , kyknya bakal semakin tambah ruwet. Dan ini malah membuat Authornya puyeng! *INI U SENDIRI YG BKN PLAK! =))

review lagi yah ~ :D


Min-chan Cassiopeia :

maksud Ichigo itu supaya Rukia cemburu... awkawkawkawk *Plak!

Author sendiri jg kgk tau maunya ichigo apaan... *Plak!

Review lagi ya ~ :D


Aizawa Ayumu Oz Vessalius :

WAkwakawkawkawkaw... adegan romance sengaja ga Icchy ceritain. Males ah~ *Plak!

Review lagi yah :D


Merai Alixya Kudo :

Icchy perbanyakan IchiRuki, kok tenang aja ~ :D

Review lagi yah :D


Meyrin Mikazuki :

Jangan, jangan mutilasi Ichigo! T_T

Hahaha, Ichi jg salah ngenalin orang tuh :p

review lagi yah :D


Kyu9 :

Hahaha, sudah di update...

review lagi yah:D