Selamat Sore all ~ Icchy hadir setelah bersemedi dari Lembang...

Sebenarnya udah pulang dari tanggal 2 kemarin sih, cmn Icchy bener2 lagi STUCK untuk merangkai kata2.

Sebenarnya ini cerita mau ceritain pas kejadian malam tahun baru, sumpah telat abis =)) tapi bodo amat dah ~ *Plak!

Cerita Orange Sun & Chappy White itu mau masuk Final, lho~

Kira2 2-3 chapter lagi (mungkin) *Masih mungkin? Plak! Plak!

Maaf yah minna, Icchy belum sempat balas review dari kalian *kluk ~

But I like to give thanks for your review ~ :D

Aizawa Ayumu Oz Vessalius

Meyrin Mikazuki

Ai 'Akira' Shirayuki

Ruki Yagami

Nana Kurosaki

Merai Alixya Kudo

Kyu9

Aoi Mizuuhara

EJEY series

So-chand cii Mio imutZ

umi aoi

Aika Ray Kuroba

aka yamada

Lily Hikari-chan

Makasih atas semua review kalian :D

Tanpa itu semua, Icchy ga akan bikin cerita sampai sepanjang ini... *Nunduk ~

Oh iya, Icchy ambil judul ini dari penuturan Mas Kubo sendiri tentang hubungan Ichigo dan Rukia, Lebih dari teman, Kurang dari pacar.

Sangat cocok untuk menggambarkan hubungan IchiRuki di cerita ini kan? *Plak! =))

Ya sutra, Enjoy my story jgn lupa review setelah itu ~ Doumo ~ :D


Bleach = Kubo Tite

Orange Sun & Chappy White = Searaki Icchy La La La


Chapter 14 = More Than Friend, Less Than Lover

Malam Natal yang melebur dalam hati Ichigo dan Rukia tidak membuat kedua pasangan itu terhanyut dalam keindahannya. Rukia kembali tersadar dari lamunannya. Mereka berdua tengah duduk sambil menghangatkan dirinya masing-masing. Rukia terlihat sedang memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu bidang Ichigo, begitu juga sebaliknya.

"Naa, Ichigo…" Suara Rukia membangunkan Ichigo. Membuatnya harus mengangkat kepalanya untuk menatap si mungil. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Senna dan Kaien-dono, yah?"

"Aku tidak peduli. Aku lebih peduli dengan yang ada disini." Jawab Ichigo santai.

Kening Rukia mulai berkerut, "Oh, jadi kau lebih senang mereka melihat kita dalam keadaan begini?" Tanya Rukia kembali.

"Kenapa? Kau keberatan?" Goda Ichigo.

"Dasar kau ini tidak mengerti perasaan perempuan, yah." Rukia hanya menghela nafas pelan.

"Kau sendiri tidak mengerti perasaanku, Midget." Balas Ichigo. Membuat Rukia sedikit berdecak.

"Sepertinya kau ini sedikit ketularan dariku yah, Jeruk?"

"Aku begini juga karena kau, cebol."

Tanpa membalas kata-kata Ichigo, Rukia langsung menarik kerah baju sang Jeruk dan mengunci bibirnya. Sebuah kecupan mendarat dengan tepat, bersama dengan lumatan-lumatan pelan. Ichigo merespon kecupan itu, dia merasa Rukia telah kembali ke dirinya yang dulu, yang selalu berbuat sesuka hatinya. Yang selalu egois menyuruhnya, yang dia tahu bahwa si mungil begitu menyayanginya sepertinya dirinya.

"Naa, Rukia. Mau jadi pacarku?" Kata-kata Ichigo sanggup membuat Rukia terpana.

"Heee?"

"Mau jadi pacarku?" Ulang Ichigo sekali lagi. "5 tahun sudah aku menunggumu dan aku masih belum mendapat jawaban yang memuaskan darimu." Jelasnya.

"Apa perlu aku jawab?" Rukia tersenyum licik, tidak lupa melipat tangannya di dada.

"Tentu saja!"

"Kalau begitu jawab pertanyaanku dulu." Seru Rukia tidak mau rugi. "Kau pacaran dengan Senna?" Tanyanya.

"Kalau mau di bilang pacaran sih… Lebih tepatnya seperti hubungan yang kita jalin 5 tahun yang lalu."

"Sou ka…?" Rukia hanya mengangguk kecil. Mengerti maksud ucapan Ichigo. Berarti dia dan Senna tidak menjalin hubungan apa-apa. Bisa di bilang ini hanya salah satu pihak yang menjalin hubungan. Berarti hanya Senna yang mengira bahwa mereka sedang berpacaran.

"Nah, sekarang kau jawab pertanyaanku." Ujar Ichigo tidak sabar menunggu jawaban dari Rukia.

"Hmmm…" Rukia mengubah posenya, berpura-pura berpikir sejenak, lalu menatap nakal Ichigo. Tersenyum begitu lembut ke arah sang jeruk kesayangannya, kembali meraih kerah baju Ichigo dan kembali mengajak Ichigo bermain dalam sebuah kecupan.

"Merry Christmas, Mikan…" Bisikan Rukia terdengar begitu mesra. Tidak lupa mengacak rambut orange Ichigo pelan.

Sepertinya Ichigo sudah tidak membutuhkan jawaban dari Rukia. Dengan melihat tindakannya saja, Ichigo sudah mengetahui jawaban Rukia. Di balasnya senyuman Rukia dan membalas mengacak rambut si mungil spesialnya.

"Merry Christmas too, Midget…" Balasnya tidak kalah mesra dari Rukia. Mereka saling berpelukan, kembali saling menghangatkan satu sama lain. Jarum jam pun tidak terasa telah bergeser dan menandakan bahwa hari telah berganti. 25 Desember pun datang menuju bumi, ikut memeriahkan suasana masyarakat yang merayakan Natal di Karakura. Lampu-lampu yang hidup kelap-kelip yang melilit indah di setiap sudut jalanan kota. Dan juga, salju yang ikut mewakili perasaan setiap pasangan.

xXxXx


Ichigo – P.O.V –

25 Desember, tepat pukul jam 12 malam. Malam Natal yang sukses membuat Rukia kembali kepadaku. Ah, hubungan kami memang dari dulu seperti ini. Pentingkah sebuah status jika kami sudah mengetahui perasaan kami masing-masing? Aku rasa status sudah tidak terlalu penting lagi, karena baik Rukia mau pun diriku sendiri sama-sama tidak terlalu peduli tentang hal itu. Yang kukhawatirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku meyakinkan Senna untuk memutuskan hubungan di antara kita.

"Ichi, ayo kita pergi berlibur!" Suara Senna menggema diantara keheningan suasana kelasku. Saat ini aku sedang berkonsentrasi untuk praktek di laboratorium. Jas lab putihku memang terlihat membuat seperti seorang dokter beneran. Aku bingung kenapa anak perempuan disini semuanya memandangiku dengan banyak pandangan berbeda. Apakah baju yang kupakai aneh? Padahal aku hanya memakai baju kaos berwarna hitam dengan celana jins biru gelap yang kupilih secara acak.

"Senna, kau ini suka sekali mengagetkan orang." Kataku pelan. Masih sibuk dengan sebuah penelitian yang ada di depan mata.

"Ayo kita berlibur Ichigo, seluruh anak jurusan seni dan kedokteran semua sudah sepakat untuk pergi berlibur di sebuah villa bersama di malam tahun baru!" Seru Senna bersemangat.

Aku menatapnya heran. Berlibur bersama? Sejak kapan itu semua di putuskan?

"Sudahlah, ikut saja Ichigo! Kita nikmati liburan ini!" Seru seseorang dari belakang. Aku menolehkan pandanganku ke arahnya. Ah, sosok yang tidak asing di mataku. Rambut berwarna biru terang yang selalu mencolok, juga wajahnya yang lumayan. Dan merupakan salah satu teman dekatku di kampus, Grimmjow.

"Jangan-jangan, kau yang merencanakan tentang liburan ini, Grimmjow?" Aku tahu! Ini semua pasti ulah si maniak pesta ini! Apalagi Grimmjow hanya menjawab dengan senyuman mesumnya.

"So? Ikut yah, Ichi?" Pinta Senna, sedikit merengek manja kepadaku. Ah, sepertinya aku harus cepat-cepat mengakhiri sandiwara ini.

"Senna, nanti kau ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Jelasku langsung. Soalnya aku paling malas berbasa-basi seperti ini.

Walau hanya sesaat, aku sedikit raut wajah Senna tidak seperti biasanya.

"Baiklah, Ichi. Kalau begitu, aku tunggu di tempat biasa, yah?" Ucapnya kembali seperti biasa. Lalu berbalik meninggalkanku di kelas.

"Hey, Ichigo."Grimmjow menoleh ke arahku setelah Senna menghilang dari balik pintu, "Sampai kapan kau mau berbohong kepadanya?" Tanyanya sedikit serius. Tentu saja ini membuatku menatapnya heran. Jarang sekali seorang Grimmjow bertanya menyangkut soal serius seperti ini. Karena dia ini bukan tipe orang yang suka ikut campur masalah orang lain.

"Aku juga tidak ingin terus seperti ini. Hari ini aku akan bilang terus terang kepadanya." Jawabanku mungkin terdengar begitu yakin. Namun, aku tidak yakin Senna akan menyetujuinya secepat ini. Sepertinya memang aku harus berbicara sekarang juga, atau tidak semuanya akan terlambat.

xXxXx


Gerbang universitas Karakura, Senna terlihat sudah menunggu di depan air mancur. Ah, ini kan sama dengan tempat pertama kalinya aku bertemu dengan Senna. 2 tahun ternyata berlalu begitu cepat.

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan, Ichi?" Tanya Senna langsung. Sepertinya dia sudah bisa menebak apa yang sedang kubicarakan. Berarti aku tidak perlu berbasa-basi lagi.

"Kita akhiri saja, Senna." Aku menatapnya dalam. Berharap dengan ini saja Senna mau mengerti keadaanku. Aku tidak ingin menyakitinya, namun mau tidak mau aku harus berkata terus terang, atau tidak ini akan semakin menyakitinya.

Kulihat Senna hanya diam, matanya membalas tatapanku tidak kalah dalamnya.

"Bukankah aku sudah mengikuti apa yang kau mau, Ichigo?" Tanyanya, suaranya terdengar sedikit bergetar. Wajahnya begitu geram menatapku, mencoba menahan emosi yang mungkin selama ini di pendamnya.

"Bukan yang kumau, tapi yang kau mau, Senna." Aku harus memberitahukan kenyataan kepadanya. Selama ini memang Senna-lah yang selalu menganggap aku dengannya berpacaran, aku tidak pernah memberinya harapan. Namun, Senna selalu saja beranggapan bahwa segala sesuatu yang kuucapkan adalah suatu peluang untuknya. Aku tahu ini sama saja dengan menyakitinya, tapi kalau tidak begini, aku akan semakin menyakitinya. Ini tidak boleh di biarkan lebih lama lagi, aku harus mengakhiri semuanya!

"Kita akhiri saja, Senna! Aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh dari ini." Ucapku yakin.

"Kenapa? Kau sudah menyakitiku saat malam Natal, kok." Deg! Ucapan Senna membuatku tersentak! Apakah dia melihatku dengan Rukia saat malam Natal itu?

"Ternyata memang Rukia, yah…?" Senna bergumam, "Sudah kuduga, ternyata gadis yang selalu ada dalam pikiranmu, dan kenapa kau tidak pernah melihat gadis lain ternyata adalah karena Rukia." Ah, aku benar-benar terpana dengan kata-kata Senna. Ternyata dia bisa tahu tentang hubunganku dengan Rukia.

"Huh! Kau dan Grimmjow sama saja!" Aku tidak mengerti apa maksud kalimat terakhir yang diucapkan Senna sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku. Aku dan Grimmjow sama saja? Memangnya ada hubungan apa aku dengan Grimmjow? Dan juga, ada hubungan apa antara Senna dan Grimmjow? Akhirnya, karena terlalu keras berpikir, kuputuskan untuk mengikuti jejak Senna meninggalkan tempatku berdiri.

Oh iya, kira-kira Rukia sedang apa, yah? Saat sedang berpikir seperti itu, aku melihat sosok Rukia melintas di luar gerbang kampus dengan seseorang yang tidak begitu asing di mataku. Sosok itu bukan Shiba Kaien, tapi... Grimmjow?

"Sejak kapan Grimmjow kenal dengan Rukia?" Aku mengerutkan keningku. Bergumam seorang diri, padahal aku tahu tidak akan ada yang menjawab pertanyaanku ini. Karena rasa penasaranku lebih besar daripada ketidakpedulianku, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Siapa tahu aku bisa mengetahui hubungan mereka berdua.

Ichigo – P.O.V – End

xXxXx


Kita lupakan sejenak tentang pengintaian Ichigo terhadap Rukia dan Grimmjow. Karena itu semua akan terjawab di malam tahun baru. Akhirnya liburan pun datang, pesta yang sengaja di buat oleh Grimmjow pun di sambut dengan baik oleh seluruh mahasiswa yang lainnya. Semua pun tiba di sebuah villa Grimmjow yang mempunyai pemandangan yang sangat indah. Di belakang villa tersebut terhampar laut biru yang sangat luas dan begitu indah.

Kita tidak akan menceritakan betapa bahagianya pasangan-pasangan yang ikutan berlibur disini. Salah satunya adalah Ichigo dan Rukia, entah kenapa hari-hari mereka tidak akan pernah lepas dari perang adu mulut walau pun sebenarnya bukanlah suatu hal yang harus di ributkan.

"Sudah kubilang kan, Ichigo! Aku tidak pakai bawang!" Seru Rukia mengingatkan.

"Aku kan lupa. Lagian itu bukan hal yang penting, Rukia." Jawab Ichigo santai.

"Dari dulu otakmu tidak pernah berubah, masih saja lemot!"

"Dari dulu mulutmu tidak pernah berubah, masih saja cerewet!"

"Apa katamu, Baka Mikan!"

"Apa,Midget?"

Tanpa peduli dengan semua orang yang berada disana, menatap mereka dengan pandangan begitu terpesona. Mereka terus berdebat sampai akhirnya menyadari kalau mereka kini tengah menjadi artis mendadak. Semua orang disana hanya tersenyum geli, lucu melihat tingkah malu-malu Ichigo dan Rukia. Ya, kecuali satu orang, Senna. Gadis itu hanya menatap mereka dengan sorot mata yang semu, entah apa yang sedang Senna pikirkan. Tidak ada satu perasaan apa pun yang tersirat dari kedua bola matanya, hanya memandang dengan tatapan kosong.

"Gara-gara kebodohanmu kita jadi tontonan gratis begini." Ucap Rukia sedikit salah tingkah. Ichigo hanya tertawa pelan, lalu mengacak sang rambut hitam legam Rukia.

"Kau juga, sih. Selalu saja meributkan hal seperti ini." Ichigo tertawa.

"Baka-mono…"

Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju meja makan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka mengambil makanan. Sebuah keributan kecil hanyalah sebuah hiburan singkat yang di suguhkan oleh mereka berdua. Baik Ichigo mau pun Rukia pun akhirnya memakan makanan pilihan mereka. Sebuah Nabe yang sengaja di masak dalam porsi untuk jumlah seluruh mahasiswa yang ikut berlibur di sana.

"Oh iya, Rukia." Ichigo teringat akan tempo hari. Saat dia menemukan Rukia tengah berjalan berdua dengan Grimmjow. Hari itu, Ichigo memang mengikuti kemana mereka. Namun, pengejarannya terhenti karena dia kehilangan jejak kedua orang yang cepat sekali menghilang itu.

Rukia yang tadinya menunduk karena menikmati santapan makan siangnya itu mendongak ke arah Ichigo, mendengarkan kata-kata Ichigo.

"Kau kenal dengan Grimmjow?" Tanya Ichigo kemudian. Ingin mendengarkan jawaban yang memuaskan rasa penasarannya dari bibir tipis Rukia.

Si mungil terdiam sejenak, "Kau sendiri kenal Grimmjow, Ichigo?" Rukia balas bertanya.

"Kami satu jurusan." Jawab Ichigo singkat. Lalu kembali mengulang pertanyaannya yang tadi, "Jadi, kau kenal dengan Grimmjow?" Sambungnya.

"Perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan milik Kuchiki. Bagaimana bisa aku tidak kenal dengannya." Jelas Rukia panjang lebar. Penjelasannya ini lumayan membuat Ichigo menghela nafas lega. Ah, tapi Ichigo ingin bertanya lebih seperti,

"Waktu itu, kau dan Grimmjow kemana? Waktu itu aku melihat kalian berdua pergi ke suatu tempat." Rukia terdiam sesaat. Wajahnya sesaat terlihat memancarkan kepanikan dan Ichigo menyadari perubahan itu.

"Ah! Ngg… Tidak apa-apa, aku dan Grimmjow hanya pergi ke cafe sebelah kampus." Jawab Rukia lagi. Kali ini suaranya terdengar agak ragu. Ichigo mengerutkan keningnya, sedikit tidak yakin dengan jawaban baru Rukia.

"Kenapa wajahmu seperti itu, Midget?" Tanya Ichigo mulai curiga. "Jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu dariku, yah?"

"Kau ini kenapa sekarang jadi cerewet sekali, Jeruk?" Seru Rukia mulai jutek, bisa-bisanya kali ini dia yang kelabakan dengan pertanyaan Ichigo. Namun memang ada satu hal yang sengaja dia sembunyikan dari Ichigo. Dia tidak ingin Ichigo tahu lebih dari yang Rukia ceritakan kepadanya.

"Aku hanya ingin tahu saja. Lagipula bukannya dengan jawabanmu seperti itu malah memperburuk keadaan, Rukia?" Tukas Ichigo begitu santai. Kali ini ucapannya sanggup membuat Rukia diam seribu bahasa. Dan memutuskan untuk melanjutkan santapan makanannya.

Tanpa di sadari oleh mereka berdua, Senna terus menatap mereka dari kejauhan. Pandangannya kini sudah mulai terlihat garang. Senna membenci hal itu, ini seharusnya tidak ada dalam skenarionya. Seharusnya yang duduk bersama dan mengobrol bersama dengan Ichigo adalah dirinya! Seharusnya Senna-lah yang bahagia bersama dengan Ichigo, bukan Rukia! Kenapa? Senna kembali teringat dengan kata-kata Ichigo tempo hari, dimana akhirnya sang Jeruk mulai mengakhiri hubungan tidak jelas mereka. Senna tidak mau mengakui hal itu, sangat tidak mau mengakuinya. Pikirannya mulai memikirkan hal-hal yang buruk, dan yang di lakukan akhirnya adalah melampiaskan seluruh kebenciannya kepada Rukia. Ya! Senna jadi membenci Rukia, karena Rukia-lah, Ichigo tidak memandang dirinya.

"Lebih baik kau menyerah saja, Senna." Suara Grimmjow mengagetkan Senna yang masih melamunkan khayalannya. Tentu saja, Senna langsung berbalik menatap Grimmjow. Wajahnya kembali menunjukkan rasa kebencian yang lebih untuk sang pria.

"Kenapa menatapku seperti itu?" Grimmjow hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau tidak berhak berkata seperti itu kepadaku, Grimmjow!" Seru Senna.

"Aku katakan sekali lagi, Senna. Lebih baik kau menyerah saja." Jelas Grimmjow mengulang perkataannya. Tentu saja Senna semakin kesal.

"Ichigo jadi berubah sejak gadis dari Kuchiki itu muncul! Kalau saja Rukia tidak ada, Ichigo akan tetap terus bersamaku! Selamanya!"

Grimmjow hanya menatap kasihan Senna. Nafasnya yang berat tentu saja menandakan bahwa Grimmjow sedikit tidak setuju dengan pendapat Senna. Karena dia sendiri jauh lebih mengenal Rukia daripada Senna.

"Kalau kau sebegitu ngototnya, bagaimana jika kita bekerja sama?" Ucap Grimmjow menawarkan. Senna menatapnya heran, berpikir apa yang ada dalam pikiran cowok berambut biru ini.

"Bekerja sama?"

"Malam tahun baru nanti, kita akan lihat apa reaksi Ichigo saat aku bilang bahwa aku adalah calon suami Rukia?" Senna begitu kaget mendengar penuturan Grimmjow.

"Kau? Salah satu tunangan Rukia?" Tanya Senna tidak percaya.

"Ralat, aku adalah calon suami Rukia di masa depan." Ucap Grimmjow. Senyuman sinis khasnya kembali mengambang sempurna di wajahnya.

"Apa maksudmu, Grimmjow? Bukannya Rukia mempunyai 5 calon tunangannya dan Kaien adalah salah satunya!"

"Rukia sudah membatalkan semua pertunangannya, bahkan dengan Kaien sekali pun."

Senna kembali terkejut, "Berarti saat Rukia kencan dengan Kaien waktu itu?"

"Kaien yang mengajak Rukia untuk kencan dengannya. Hanya jalan berdua, tidak ada hubungan khusus. Tentu saja Kaien tahu tentang hubungan Ichigo dengan Rukia."

"Apa? Berarti Kaien juga melihat kejadian di kelas malam itu?"

"Begitu juga dengan kita, Senna." Grimmjow menatap tajam Senna. Sapphire biru yang menatap lekat sang mata gadis berkuncir pita merah itu terlihat serius. "Mereka ditakdirkan untuk bersama. Baik aku mau pun kau tidak berhak untuk mengganggunya."

Senna terdiam sesaat, kata-kata Grimmjow sangat menyakitkan hatinya. Senna masih tidak mau mengakui kenyataan itu, yang dia inginkan adalah sang hazel impiannya memandangnya seperti memandang sang gadis mungil yang selalu mengganggu langkah Senna.

"Aku tidak peduli dengan semua itu! Mereka tidak ada hubungan apa-apa! Dengan itu saja masih ada kesempatan bagiku untuk bisa bersama dengan Ichigo!"

"Kau ini ngotot sekali, Senna." Gumam Grimmjow hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Mereka mempunyai suatu hubungan yang rumit. Mereka bukan teman, bukan juga pacar. Tapi, hubungan aneh itu tidak bisa di masuki oleh orang lain seperti kita." Sambungnya menjelaskan.

"Kau ini calon suaminya Rukia, kan? Kalau memang mau menikah dengan Rukia, kenapa kau tidak merebut Rukia?"

"Tidak segampang itu mendapatkan hati Rukia, bahkan aku sekalipun..."

Pandangan Grimmjow menerawang jauh ke arah langit biru yang masih menurunkan butiran salju yang terjatuh pelan. Senna menatap Grimmjow sesaat lalu kembali menatap ke arah Ichigo dan Rukia yang terlihat mengobrol sesuatu sambil tertawa bahagia. Matanya kembali memancarkan sorot hampa, benarkah tidak ada satu kesempatan untuk memasuki hubungan itu?

~ TO BE CONTINUE ~


Ending chapter yg maksa... awkawkawkawkawkakw *Ketawa nista

Sebenarnya ini masih ada sambungannya, cmn Icchy ga mau membuat yg baca menunggu lama... jadi update segini dlu ^^a

Chapter selanjutnya Icchy mau usahain di update di hari yg sama pas ultah Rukia, 14 Januari... Doakan semoga Icchy ga kena writer's block yah~! *Doa

Jangan lupa review yah ~ Mau review di FFn atau di FB, Icchy terima dengan hati terbuka kok ~ :D

Sekali lagi, REVIEW ONEGAISHIMASUU~! :D