3x tulisan Icchy yg diatas keapus, gara2 mouse sialan *menggerutu dalam hati ~_~!
Langsung aja deh...
tadinya Icchy mau update jam 12 tepat, cmn krn ned depan rumah bukanya sampe jam 12 jadinya yah update skrng aja... ^^a
Kemungkinan setelah mengupdate Fic Icchy yang The Dark of The Bleeding Moon itu Icchy akan hiatus karena UAS akan tiba 2 minggu lagi.
Maaf yah all Icchy belum semped bales review dari kalian semua, chapter ke depan Icchy usahakan balas... :D
Akhir kata, Enjoy My Story ~ Jgn lupa review setelah itu ~
Doumo ~ :D
Bleach = Kubo Tite
Orange Sun & Chappy White = Searaki Icchy La La La
Guilty = Blue *thx for the title and lyrics :D
Spesial Thanks~!
J-co = ga tau siapa yang punya =)) *Icchy bikin cerita ini di J-co, awkaka untung kgk diusir
Mbak2 yg kerja di J-co = terima kasih untuk yogurtnya :D Coba dikasih gratis *ngarep! Plak! =))
Icchy mau ngucapin = HAPPY B'DAY RUKIA! *Kecepetan OE!* SEMOGA NANTI PAS MUNCUL, DIRIMU JADIAN DENGAN ICHIGO~ *Ngarep XD~
P.S : Setelah membaca chapter ini, jangan gebukin Icchy karena sudah buat Ichigo jadi (Sensor) yah? *bungkuk ,
Chapter 15 = Guilty
1 Januari, tepat pukul 12 lewat 5 menit, tahun baru telah hadir memeriahkan seluruh umat yang bersorak-sorai menyambut kedatangannya. Ichigo terdiam diberanda lantai 2 villa tempatnya menginap. Dinginnya hawa yang menembus kulitnya tidak mengubris Ichigo yang sedang melamun. Padahal baru 5 hari hubungannya dengan Rukia mulai berjalan membaik, tapi sepertinya memang tidak semulus yang di harapkan untuk mencapai suatu hubungan. 2 jam yang lalu, Grimmjow tiba-tiba saja menghampirinya dan berkata suatu hal yang sangat mengejutkan untuknya.
"Kau ingin tahu hubunganku dengan Rukia, Ichigo? Aku adalah satu-satu calon suami Rukia sekarang. Hanya aku, Grimmjow Jaegerjaquez, yang nantinya akan menikah dengan penerus Kuchiki."
Ichigo hanya bisa mendengus sebal jika mengingat kembali kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh Grimmjow kepadanya. Ichigo mengenal Grimmjow, seseorang yang sangat terkenal di kampus mereka, bersama dengan Ulquiorra, salah satu temannya yang kini telah kuliah di London. Walaupun sering terlihat bersama, Ichigo tidak terlalu tahu dengan teman-teman Grimmjow yang lain. Mereka hanya kenal sebatas di kampus, setelah itu, tidak ada lagi.
Tentu saja Ichigo kaget dengan hubungan Grimmjow dan Rukia. Karena ternyata Grimmjow sudah mengenal Rukia jauh sebelum Ichigo kenal dengan gadis mungil itu. Dan karena kata-kata Grimmjowlah membuat pertengkaran kembali terjadi.
Flashback – Jam 11.50 PM –
"Jadi, sebenarnya apa hubunganmu dengan Grimmjow, Rukia?" Seru Ichigo sedikit kehilangan kesabaran, apalagi saat Grimmjow sudah berkata seperti itu pun Rukia sepertinya masih enggan memberitahukan hal itu kepada Ichigo. Tidak peduli dengan ramainya suara kembang api yang terus meluncur menanti tahun baru. Mereka berdua hanya terdiam di beranda, tanpa ada satu orang pun yang mengganggu mereka.
Rukia menghela nafas sejenak, mau tidak mau sepertinya dia harus menjelaskan semuanya kepada Ichigo. "Seperti yang Grimmjow jelaskan kepadamu, Ichigo. Aku tidak akan membantahnya."
"Aku ingin mendengar penjelasanmu, bukan penjelasan Grimmjow." Ujar Ichigo geram.
"Grimmjow…" Dengan berat hati, akhirnya Rukia mulai bercerita, "Kami kenal saat aku baru saja di angkat menjadi anggota keluarga Kuchiki, Grimmjow adalah orang pertama yang kutemui saat itu."
"Apa maksudnya saat kau bilang diangkat jadi anggota keluarga Kuchiki?" Tanya Ichigo kaget.
Rukia hanya tersenyum lirih menatap Ichigo, "Sebenarnya aku bukanlah anggota resmi keluarga Kuchiki. Byakuya-niisama adalah Kakak tiriku. Ah tidak, lebih tepatnya dia adalah kakak iparku, karena dia adalah suami dari Hisana-neesama, orang yang katanya kakak kandungku." Jelas Rukia begitu lirih. Akhirnya dengan berat hati, Rukia membuka satu rahasia pahit yang di simpannya rapat-rapat. Sebenarnya ini bukan gaya Rukia untuk memberitahukan semua masa lalunya, namun sepertinya secara tidak langsung desakan Ichigo terpaksa membuatnya bercerita tentang keadaan dirinya. Kenapa Rukia sangat patuh terhadap Byakuya, dan kenapa Rukia merasa tidak betah dengan keadaan lingkungan keluarga Kuchiki.
"Aku bertemu dengan Byakuya-niisama saat berumur 12 tahun. Kakak bilang padaku katanya aku ini adalah saudara kandung dari Hisana-neesama yang sudah meninggal, sebenarnya aku tidak mau percaya itu. Apalagi aku dan Kakakku memang sudah terpisah sejak umurku 5 tahun jadi aku tidak begitu mengingat wajahnya. Namun saat Niisama mengajakku ke rumahnya, aku melihat foto Hisana-neesama, begitu mirip denganku." Rukia memejamkan matanya sesaat, mencoba mengingat kembali memori dulu saat pertama kalinya dia bertemu dengan Byakuya, saat Byakuya mengangkat Rukia sebagai bagian dari keluarga Kuchiki.
"Kenyataannya banyak yang menentang Byakuya-niisama untuk mengangkatku jadi Kuchiki, karena aku ini hanyalah anak yatim piatu yang tidak sengaja bertemu dengannya. Tapi, karena keinginan Byakuya-niisama begitu kuat, akhirnya yang menentang pun hanya bisa diam."
"Ah, aku akan langsung cerita di bagian Grimmjow saja." Ucap Rukia kemudian, "Sejak aku diangkat jadi anggota Kuchiki, seluruh teman-temanku mulai menjauh dariku. Mereka takut berhubungan denganku hanya karena aku berbeda. Waktu itulah aku bertemu dengan Grimmjow, kami sekelas waktu SMP. Dia bilang aku tidak cocok berada di lingkungan keluarga kay, bodoh sekali…" Rukia sedikit tersenyum mengingat masa kecilnya dengan Grimmjow. Ichigo masih tidak merespon, hanya diam mendengarkan penjelasan Rukia. Pandangannya mulai menerawang jauh.
"Kau mendengarkanku, Ichigo?" Tanya Rukia membuyarkan lamunan Ichigo.
"Aku masih mendengarkan." Desis Ichigo, "Langsung ke intinya saja, Rukia."
"Intinya, dulu aku pernah berjanji dengan Grimmjow bahwa aku akan menjadi pengantinnya. Dan sekarang dia menagih janji itu padaku." Kalimat terakhir dari Rukia inilah yang ingin Ichigo dengar. Ah, jadi inilah alasan Grimmjow menjadi calon tunangan Rukia.
"Jadi, kau akan menikah dengannya, Rukia?" Ichigo menatap Rukia, senyuman simpul tersungging di antara tatapan lirihnya. Rukia tahu, Ichigo terluka dengan penjelasan Rukia. Namun gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan sang Jeruk di depannya.
"Jika kau tidak mengijinkan aku untuk menikah, aku akan menolak pertunangan ini…"
Ichigo kembali mendesis pelan, "Jadi kau menikah atau tidak itu semua tergantung dari jawabanku? Kau ini egois sekali…" Dipalingkan wajahnya kearah luar, memandangi kemilau sinar kembang api yang semakin lama semakin meriah, dan tahun baru pun datang, terdengar suara gemuruh terompet yang di kumandangkan, suasana meriah pun terlihat begitu bahagia. Namun tidak untuk 2 orang yang sedang dalam kondisi hening disini. Baik Rukia maupun Ichigo mereka kembali terdiam, suasananya kembali menjadi hening. Ichigo membenci dirinya saat sedang berada dalam kondisi ini, kondisi dimana dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Rukia.
"Ichigo, aku…" Kata-kata Rukia terpotong oleh suara Ichigo. "Maaf, bisakah kau tinggalkan aku sendiri?" Suara Ichigo terdengar begitu lirih. Rukia tidak sanggup membalas suara itu, yang dia lakukan hanyalah menuruti keinginan Ichigo.
"Happy new year, Ichigo…" Gumam Rukia sebelum akhirnya dia meninggalkan Ichigo sendiri di beranda luar.
xXxXx
Ichigo – P.O.V –
I Never Want To Play The Games That People Play…
10 Januari…
Sejak malam itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Rukia. Mendengar kabar dari dia pun juga tidak, di kampus pun sosoknya tidak pernah muncul. Dan aku sendiri tidak mencarinya, kuakui aku memang sengaja menghindari Rukia, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Karena saat bertemu pikiranku pasti selalu kacau.
Saat ini, muncul berita menghebohkan, yang bahkan awal dari bagian beritanya sangat tidak ingin ku dengar. Ada 2 berita yang memang sedang hangat di bicarakan oleh seluruh penjuru kampus. Satu, tentang diriku dan Senna. Dan yang kedua, adalah tentang masalah pernikahan Rukia dengan Grimmjow…
"Sialan, kenapa di saat seperti ini…" Aku menggerutu kesal. Bisa-bisanya di saat moodku sedang kacau aku malah mendengar berita itu dari teman satu angkatanku yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
I Never Want To Hear The Things They Gotta Say…
"Sudah dengar belum? Grimmjow-sempai dengan Kuchiki dari jurusan seni katanya akan menikah bulan ini, lho! Mendadak sekali, yah?"
Ugh! Di saat aku ingin lari dari kenyataan itu, mereka malah dengan seenaknya membicarakan hal yang tidak ingin ku dengar!
"Oh iya, katanya ini ada hubungannya dengan putusnya Senna dan Kurosaki." Aku tertegun mendengar sambungan ceritanya. Apa? Kenapa namaku di bawa-bawa?
"Sepertinya Kuchiki-san dan Kurosaki dulu pernah menjalin hubungan. Tapi aku tidak begitu tahu, sih. Aku dengar dari rumor yang beredar saja."
"Yang ku dengar malah gara-gara Kuchiki-sanlah hubungan Senna dan Kurosaki renggang."
"Ternyata sifat asli dari keluarga Kuchiki seperti itu, yah?"
Rasanya ingin sekali aku menghajar mereka semua karena sudah menjelek-jelekkan Rukia. Tidak, aku memang akan menghajar mereka semua!
"Hey kalian! Jangan seenaknya menggossip tentang Rukia! Lagipula Rukia tidak ada hubungannya dengan putusnya Senna dengan Ichigo!" Langkah kakiku terhenti. Ternyata aku kedahuluan oleh salah satu artis gossip tersebut, Grimmjow. Tapi baguslah, dengan munculnya Grimmjow membuat orang-orang yang bergossip pergi, setidaknya mereka tidak akan menjelek-jelekkan Rukia lagi.
"Yo, Ichigo. Sedang apa kau disana?" Sapaan Grimmjow membuatku tersadar bahwa dia sedang berada di depanku. Aku hanya menatapnya, menatap wajahnya yang menyapaku seperti biasa, seakan tidak ada masalah apa pun.
"Kau sendiri sedang apa disana?" Tanyaku dengan malas.
"Aku sedang mengusir orang-orang yang sedang membicarakan kita." Jawab Grimmjow santai.
"Mereka tidak membicarakan tentangku."
"Tapi membicarakan Rukia."
Mataku menangkap sosok sapphire yang melekat sempurna di mata Grimmjow. Pandangannya begitu lurus, begitu percaya diri sekali. Saat ini aku benar-benar sedang malas berhadapan dengannya. Kupalingkan langkah untuk meninggalkan Grimmjow. Tapi sekali lagi, langkahku terhenti oleh suaranya.
"Sampai kapan kau mau lari dari masalah, Ichigo?" Aku tidak senang dibilang begitu olehnya. Aku melarikan diri? Aku tidak merasa seperti itu, tapi kenapa si Brengsek satu ini bilang kalau aku sedang melarikan diri?
"Apa maksudmu, Grimmjow?" Aku kembali memalingkan mukanya kearah Grimmjow. Menatapnya dengan tatapan tidak senang. Baru kali ini aku merasa kesal seperti ini oleh ucapan seseorang.
"Ichigo, kalau sikapmu seperti itu terus, Rukia lama-lama bisa meninggalkanmu."
"Sikapku begini atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu, Grimmjow!" Oke, aku mulai naik darah. Bisa-bisanya Grimmjow menyindirku.
"Tentu saja ada hubungannya, karena aku adalah tunangannya Rukia."
Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak bisa membalas kata-kata Grimmjow yang ini karena semua yang dikatakannya benar apa adanya.
"Kalau sikapmu seperti ini terus, aku akan membuat Rukia berpaling kepadaku, Ichigo. Jangan menyesal nantinya, yah." Ucapan Grimmjow membuatku terdiam. Apalagi dia langsung pergi meninggalkanku. Tubuhku terdiam sejenak, pikiranku mendadak tidak bisa berpikir. Sialan! Kenapa bisa-bisanya aku merasa 'kalah' seperti ini? Aku benci diriku yang seperti ini…
I Found Everything I Need…
I Never Wanted Anymore Than I Can See…
Aku menyandarkan tubuh bidangku ke sembarang tembok belakang kampus. Nafasku terasa berat kuhempaskan. Apa yang sedang kulakukan sekarang ini? Rasanya seperti orang bodoh saja! Aku merenung memikirkan semua kejadian yang terjadi. Apa yang kulakukan 5 tahun belakangan ini. Rukia meninggalkanku, separuh dari tujuan hidupku seakan hilang. Aku mengakuinya, hari-hariku hampa tanpa Rukia. 5 tahun kulalui dengan topeng palsu yang sengaja kuciptakan supaya keluargaku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaanku. Selama itu pula aku bertemu dengan orang-orang baru, aku bertemu dengan Grimmjow dan juga Senna. Senna menyatakan suka kepadaku, secara tidak langsung aku memberikan harapan palsu untuk Senna. Semua teman-teman melihat kami seperti sepasang kekasih. Kupikir aku tidak akan pernah bertemu dengan Rukia lagi sampai akhirnya aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa melupakan Rukia. Kenyataannya? Rukia kembali, berdiri di hadapanku, terkejut melihatku. Suaranya, wajahnya, tidak ada yang berubah dari dalam dirinya. Aku masih menemukan sosok Rukia yang dulu, yang senantiasa membullyku dengan semua ejekannya.
Hatiku kembali menjerit, 'Aku membutuhkan Rukia!' Saat aku memperkenalkan Senna sebagai pacarku kepada Rukia, yang kuinginkan adalah dia cemburu padaku, berkata bahwa dia tidak bisa melupakanku. Ah, ternyata aku masih tidak bisa mengakui bahwa akulah yang menginginkannya. Tapi, aku ingin dia juga menantiku seperti aku menantinya. Bahkan, saat aku mengetahui Rukia mempunyai banyak tunangan, aku tidak mau mempercayainya. Yang aku yakini, Rukia akan kembali kepadaku. Tidak peduli walau harus menunggu lama, aku percaya si mungil akan kembali kepadaku. Tersenyum kepadaku dengan senyuman manisnya.
I Only Want You To Believe…
"Cih!"
Aku mendecak, kesal dengan sikapku ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk tetap membuatnya terus berada di sampingku. Apa yang harus kulakukan, Rukia…? Sebenarnya aku sangat ingin kau berada di sisiku selamanya. Tapi, sepertinya aku tidak bisa membahagiakanmu…
I Wanna Give You All The Things You Never Had…
Ichigo – P.O.V – End
xXxXx
Café Universitas Karakura, 13 Januari – 04.30 AM
Sebuah café tempat biasa Ichigo memesan hot lattenya. Sudah seminggu lebih wajahnya tampak lusuh dan sangat tidak bergairah. Tidak ada yang tahu yang apa yang sedang di pikirkan sang Jeruk. Dan yang pasti, kata-kata terakhir Grimmjow menempel lekat di otaknya.
"Sampai kapan kau mau lari dari masalah, Ichigo?"
Mengingat itu, Ichigo hanya bisa mendengus begitu kesal. Ichigo tidak tahu apa yang harus di lakukan, di satu sisi dia ingin percaya Rukia. Namun, jauh di lubuk hatinya ada satu keyakinan, bahwa dia tidak akan menang dari Grimmjow untuk merebut hati Rukia.
"Kurosaki Ichigo?" Muncul sebuah suara yang tidak di kenali Ichigo. Ah, Ichigo kenal dengan sosok ini. Dia adalah pemilik perusahaan yang sangat maju di Jepang, namanya sangat dikenal bahwa di luar negeri sekali pun. Seorang pengusaha muda yang teguh dan juga mempunyai prinsip tinggi. Dan dia jugalah orang yang sangat Rukia hormati, Kuchiki Byakuya.
"Kuchiki Byakuya?" Tentu saja Ichigo kaget melihat Byakuya yang kini telah duduk di depannya. Mata abu-abunya menatap datar sang hazel yang terpana melihatnya.
"Bagaimana bisa kau kenal denganku?" Tanya Ichigo semakin heran. Rukia tidak mungkin bercerita ke Kakaknya tentang Ichigo. Bagaimana bisa?
"Aku tidak suka basa-basi, Kurosaki Ichigo." Jelas Byakuya langsung to the point, "Aku tahu bahwa Rukia pernah tinggal di kamarmu dan juga bagaimana hubunganmu dengan adikku." Penjelasan Byakuya semakin membuat Ichigo terkejut. Ah, ternyata Byakuya tahu segalanya. Tapi bagaimana caranya?
"Kenapa kau bisa tahu sejelas itu?" Ichigo semakin heran.
"Sepertinya aku sudah bilang bahwa aku tidak suka berbasa-basi, Kurosaki Ichigo." Terdengar sekali nada bicara Byakuya begitu datar, namun sanggup membuat hawa di antara mereka berdua menjadi begitu dingin.
"Kalau begitu, ada perlu apa menemuiku?" Ujar Ichigo tidak mau berbasa-basi juga. Rasa penasaran yang hebat langsung hilang setelah melihat wajah Byakuya. Tentu saja, dia bisa tahu semuanya. Begitu-begitu juga, Byakuya sangat memperhatikan Rukia. Walaupun sang adik tidak terlalu memperhatikan hal itu.
"Kau mencintai Rukia?" Tanya Byakuya langsung.
Ichigo sampai dibuatnya membatu sesaat. Bisa-bisanya dia langsung diberi pertanyaan yang menjurus ke intinya.
"Aku…" Belum sempat Ichigo menyelesaikan kata-katanya, Byakuya sudah memotongnya dengan memberikan sebuah amplop berupa undangan. Ichigo menerima amplop tersebut.
"Rukia akan menikah dengan Grimmjow besok." Ah! Lagi-lagi Ichigo tidak bisa membantah kata-kata Byakuya.
"Kau tidak akan bisa membahagiakan Rukia dengan keadaanmu yang sekarang, Kurosaki Ichigo." Penjelasan terakhir dari Byakuya sanggup membuat keyakinan Ichigo runtuh.
"Ternyata aku memang tidak pantas untuknya, yah…" Gumam Ichigo begitu lirih.
xXxXx
Apartemen Ichigo, 13 Januari – 11.30 PM
Hujan deras yang mengguyur seluruh kota Karakura. Ichigo terlihat mematung menatap rintikan hujan yang membasahi jendela apartemennya. Pandangannya kembali menatap kosong ke luar jendela, hanya terdapat samar-samar sinar lampu dan juga air hujan. Tidak ada yang tahu apa yang sedang si Jeruk pikirkan. Kerutan permanen yang selalu melekat di dahinya kini terlihat lebih jelas, itu saja sudah menandakan Ichigo sedang berpikir sesuatu!
Ting Tong! Bunyi bel apartemen Ichigo mengangetkan si Jeruk yang sedang melamun. Seseorang tiba di depan pintunya. Ichigo menghampiri pintu apartemennya dengan lemas, di putarnya kenop pintu. Nampak seorang gadis mungil dengan dress terusan berwarna putih yang lusuh akan basah. Rambut hitam yang lepek terkena air hujan dan juga sorot violet yang memancarkan sinar redup.
"Rukia?" Sang hazel membulat sempurna. Ichigo begitu kaget melihat Rukia kini tengah berdiri di ambang pintu apartemennya. "Kenapa kau bisa tahu apartemenku?" Tanya Ichigo heran.
"Tidak penting aku tahu darimana alamat apartemenmu…" Ucapan Rukia terhenti, "Bisakah aku masuk?" Sambungnya pelan.
Ichigo mempersilakan Rukia masuk. Petir yang menyambar menandakan bahwa hujan akan berganti menjadi badai, angin yang berhembus sangat kencang membuat kita tahu bahwa hujan tidak akan reda dalam waktu yang singkat.
"Lebih baik kau mandi dulu, kalau tidak kau bisa masuk angin." Ichigo memberikan handuk putih dan juga baju ganti untuk Rukia. Sebuah baju miliknya dan juga celana pendek miliknya. Yang tidak dia sadari adalah ukuran tubuh Rukia dan tubuh Ichigo sangat jauh berbeda.
Rukia menerima pemberian Ichigo tanpa berkata apa-apa. Lalu menuju ke arah kamar mandi yang sudah diberitahu oleh Ichigo.
Saat Rukia tengah membersihkan dirinya. Ichigo sedikit bingung dan heran kenapa Rukia bisa tahu alamat apartemennya. Sedikit canggung juga karena sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu, dan ketika bertemu pun suasananya sangat tidak mendukung.
xXxXx
11.50 PM…
Keheningan kembali menyelimuti antara Rukia dan Ichigo. Suara hujan pun semakin jelas terdengar diantara keheningan ini.
Ichigo sedikit salah tingkah melihat Rukia yang hanya memakai baju miliknya saja tanpa celana yang di berikan. Baju Ichigo memang sanggup menutup seluruh badan Rukia. Namun karena ukurannya yang sangat kebesaran dengan tubuh Rukia sangat memungkinkan mengekspos tubuh Rukia dengan mudah. Walaupun tubuh Rukia tidak bisa dikategorikan tubuh sempurna, tetap saja yang namanya pria normal. Tubuh Rukia termasuk ukuran yang menggairahkan, apalagi kaki putihnya terlihat begitu jelas dan tentu saja terlihat lebih seksi daripada sebelumnya.
Ichigo menepuk-nepuk kepalanya sendiri, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran kotor yang sedaritadi menggerogoti kepalanya.
"Kenapa kau?" Tanya Rukia heran melihat tingkah Ichigo.
"Ah, ti-tidak…" Wajah Ichigo sedikit memerah. Lalu dengan buru-buru dia mencari-cari alasan supaya tingkahnya ini tidak ketahuan oleh Rukia, "Ada perlu apa kau sampai datang malam-malam kesini?" Tanya Ichigo.
Rukia terdiam, padahal baru saja dia lupa akan tujuannya kemari. Namun, dia kembali teringat saat Ichigo tanyakan kedatangannya.
"Aku keluar dari rumah…" Rukia menunduk. Sedikit enggan meneruskan ucapannya.
"Kenapa?" Tanya Ichigo singkat.
"Ada sedikit perbedatan antara aku dengan tetua keluarga Kuchiki. Mereka menentang aku membatalkan pertunanganku dengan Grimmjow." Sambung Rukia lagi.
"Lalu?" Ichigo masih mendengarkan.
"Pernikahanku sudah ditetapkan besok…" Wajah Rukia kembali terlihat begitu sedih. Dia kembali menatap Ichigo, berharap pria yang sedang di depannya ini melakukan sesuatu untuknya. Namun, sang hazel yang di nanti memandangnya dengan tertawa.
"Wah, selamat, Rukia! Besok juga hari ulang tahunmu, kan? Kebetulan sekali! Kalau begitu, selamat atas pernikahanmu dan selamat ulang tahun, Midget!" Seru Ichigo,wajahnya terlihat begitu gembira mewakili kegembiraan Rukia. Gadis mungil itu hanya bisa mengerutkan keningnya, bukan kalimat itu yang ingin Rukia dengar dari Ichigo.
I Never Wanted Just To Be The Other Guy…
"Ichigo, kau serius dengan ucapanmu?" Rukia tahu persis sifat Ichigo. Ichigo akan memakai topeng senyumannya untuk menyembunyikan kesedihannya. Rukia tahu, Ichigo sebenarnya tidak rela melepaskan Rukia. Dia tahu itu!
"Tentu saja, Midget! Kau pasti akan bahagia dengan Grimmjow, aku jamin itu!" Ucap Ichigo terus berbohong. Ichigo memang tersenyum, namun matanya sama sekali tidak mau menatap Rukia, karena gadis itu tahu Ichigo tidak akan sanggup menatap mata violetnya.
I Followed My Heart… Followed The Truth…
Right From The Start It Led Me To You…
"Hentikan sandiwaramu itu, Jeruk! Jangan menyiksaku dengan senyuman palsumu itu!" Teriak Rukia mulai geram dengan tingkah Ichigo. Hal itu membuat Ichigo terdiam, tidak ada lagi senyuman yang sengaja dipasangnya. Wajahnya kembali terdiam, kerutan permanen yang tadi sempat kendur kini mulai terlihat lagi. Tanpa disadari Ichigo, Rukia berlari kearahnya, memeluknya erat, begitu erat.
Please Don't Leave Me This Way…
"Bawalah aku, Ichigo…" Dalam dekapan Ichigo, Rukia mulai bergumam, "Bawalah aku kemana saja. Kumohon…" Pintanya begitu lirih.
Ichigo hanya bisa memejamkan matanya, yang dia lakukan adalah membalas pelukan Rukia.
I Never Want To Live a Lie…
"Aku tidak mau berbohong lagi. Sejak malam natal aku mulai menyadari bahwa aku membutuhkanmu." Ucapan Rukia sanggup membuat Ichigo terhanyut dalam angannya. "Kumohon, bawalah aku, Ichigo…"
"Bagaimana dengan keluarga Kuchiki, Rukia? Bagaimana dengan Kakakmu?" Tanya Ichigo akhirnya. Dia tidak mungkin hanya diam saja sambil mendengarkan pernyataan Rukia.
"Aku tidak peduli dengan keluarga Kuchiki dan Byakuya-niisama pasti akan mengerti keadaanku. Aku peduli dengan keadaan kita sekarang."
Keadaan. Ya! Keadaan. Karena keadaan juga-lah Ichigo tidak bisa menerima pernyataan Rukia sekarang. Kepercayaan dirinya langsung runtuh sejak Byakuya berbicara dengannya.
"Menikahlah dengan Grimmjow, Rukia…" Ucap Ichigo pelan. Suaranya terdengar begitu sedih, "Kau akan bahagia dengan Grimmjow, bukan denganku." Sambungnya.
Tentu saja Rukia kaget mendengar jawaban Ichigo, "Aku akan bahagia jika menikah denganmu, Ichigo!" Jelasnya.
Ichigo melepaskan pelukan Rukia, dibalikkan tubuhnya membelakangi Rukia. Saat ini Ichigo benar-benar telah menutup hatinya.
"Menikahlah dengan Grimmjow, Rukia. Kau akan bahagia dengannya, bukan denganku. Aku tidak pantas bersamamu, itulah yang kusadari." Jelas Ichigo sekali.
Rukia hanya menatap punggung Ichigo, tersirat rasa kecewa dari dalam dirinya, "Kau serius dengan ucapanmu itu, Ichigo?"
Ichigo kembali menoleh, dan hanya tersenyum sedih. Mata hazelnya menatap lekat sang violet, seolah-olah berkata, "Kau pasti bahagia."
Rukia hanya menunduk, rasa kecewa dan rasa sedih sudah melebur menjadi satu. Dia tidak sanggup untuk menyimpannya. Perlahan, butiran air mata terjatuh melewati kedua pipi mungilnya.
"Baiklah, Ichigo. Kalau memang itu yang kau mau, aku akan menikah dengan Grimmjow."
Rukia membalikkan tubuhnya membelakangi Ichigo. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan sang jeruk. Meskipun tadi dia sudah mengorbankan semua harga dirinya untuk bersama dengan Ichigo. Ternyata kali ini Ichigo tidak sehati dengannya, itu yang Rukia sesalkan saat ini.
"Aku akan menikah dengan Grimmjow. Itu kan yang kau mau, Ichigo? Baik, aku akan turuti keinginanmu…" Rukia menatap Ichigo. Tersenyum pahit ke arah matahari pujaannya. Matahari yang sanggup menghancurkan semua harapannya. Sinar yang selalu Rukia nantikan kini tidak lagi bersinar indah. Ichigo hanya menunduk, tidak berani menatap Rukia. Si mungil memejamkan matanya sesaat, sampai akhirnya dia keluar dari apartemen meninggalkan Ichigo sambil bergumam pelan,
"Aku membencimu…"
Blam! Terdengar suara pintu ditutup dengan kasar. Rukia sudah keluar meninggalkan Ichigo dengan 1 baju Ichigo yang masih dia pakai. Rukia sampai tidak peduli dengan keadaannya. Dirinya terlalu sibuk untuk mengurusi hal seperti itu. Sekuat tenaga Rukia berlari melintasi hujan yang turun semakin deras. Tubuhnya kembali basah, namun tetap tidak bisa menghapus luka yang diberikan Ichigo untuknya. Rukia tidak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir, akhirnya sang violet membiarkan dirinya menangis dalam guyuran hujan.
Sedangkan Ichigo? Kita bisa melihat sang jeruk membalas gumaman Rukia.
"Selamat ulang tahun, Rukia…" Wajahnya terpancar kesedihan yang sangat dalam. Ichigo tidak bisa mencegah Rukia untuk pergi. Kini untuk selamanya…
"Aku mencintaimu…" Ichigo kembali menatap luar jendela. Hujan yang menemani dirinya dengan Rukia, dan juga merupakan saksi bisu di hari itu…
If It's Wrong To Tell The Truth, What Am I Supposed To Do?
All I Wanna Do Is Speak My Mind…
If It's Wrong To Do What's Right, I'm Prepared To Testify…
If Loving You With All My Heart's a Crime…
I'm Guilty…
~ TO BE CONTINUE ~
~ Icchy's Corner ~
Icchy : ICHIGO! HOW DARE YOU! *ngamuk
Ichigo : Dih, elu kan yg bikin gw jadi gitu sama Rukia
Rukia : T_T *pundung
Ichigo : ~_~! *bingung
Shirayuki : *Smirk ke Ichigo* Karena udah bikin majikan gw nangis, Sugi no Mai! HAKUREN!
Ichigo : *Pasrah*
Icchy : *bingung* eh, mendingan Icchy balas review aja deh... *ngeri takut kena hakurennya shirayuki*
