Langsung aja deh… tulisan Icchy ilang gara2 koneksi sialan! Males ngetik lagi… *pundung ~
Gomennasai Icchy ga sempet balas review kalian. Chapter ke depan PASTI Icchy balas. *Nunduk =))
Bleach = Kubo Tite
Wedding Dress = Tae Yang *Thx 4 the lyrics n the song xD
Cerita ini = Searaki Icchy La La La
WARNING! Kyknya banyak typos *Ga dicek lagi soalnya*, Geje, Banyak kalimat ngawur, enjoy aja deh… ^^a
Chapter 16 = Wedding Dress
14 Januari, 09.00 AM…
Kediaman Kuchiki, para pelayan yang bekerja di sana terlihat sibuk merapikan semua peralatan dan mendekorasi rumah megah bergaya modern tersebut. Akan ada sebuah janji suci yang akan disumpahkan oleh kedua pasangan yang akan menikah hari ini, Kuchiki Rukia dengan sang tunangan pilihan semua orang, Grimmjow Jaegerjaquez, satu-satunya ahli waris perusahaan Jaegerjaquez. Seluruh kedua keluarga besar kini tengah berbahagia, kecuali satu orang…
Seorang gadis bernama Kuchiki Rukia, kini tengah menatap tubuhnya di cermin. Kaca besar yang memantulkan seluruh badannya yang terbalut gaun putih polos yang menjuntai indah, Renda panjang yang menutupi rambut hitam panjangnya terlihat begitu serasi menemani gaun tersebut. Dress putihnya seolah-olah bersinar begitu indah masih tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tidak terlihat bahagia. Violet yang memancar terlihat redup, seakan tidak mempunyai tujuan apa pun. Inikah kebahagian untuknya? Hari yang seharusnya dia lewatkan dengan seseorang yang dia inginkan tidak berjalan seperti keinginannya. Itulah Rukia, topeng yang mempercantik dirinya masih belum mampu memperbaiki kerusakan di hati mungilnya. Sebuah hati yang menyimpan satu perasaan yang selalu dia jaga selama 10 tahun, hancur hanya karena sebuah penolakan tidak berarti dari seseorang yang sudah menyakitinya. Pria tersebut bernama, Kurosaki Ichigo…
Inilah Rukia, dalam waktu 2 jam akan menjadi milik seseorang. Dan sekali lagi, ini adalah sebuah sandirawa baginya.
"Kau terlihat cantik sekali, Rukia." Ucap Rangiku sembari merapikan gaun Rukia. Rambut blonde yang biasanya dibiarkan menjuntai bebas sekarang terlihat di sanggul yang membuat Rangiku terlihat semakin dewasa. Senyumannya terlihat lirih melihat tidak ada satu pun ekspresi yang keluar dari wajah Rukia. Merespon kata-kata Rangiku pun tidak.
Rukia hanya diam seribu bahasa, Rangiku tahu bahwa tindakan Rukia hari ini adalah salah satu bentuk luka hatinya.
"Rukia," Sapa Rangiku sekali lagi, "Kau tidak cocok berwajah seperti itu. Semua pasti akan menangis melihat keadaanmu." Sambungnya.
"Justru karena disini hanya ada kau, aku jadi bisa berwajah seperti ini Rangiku-san." Jawab Rukia jujur. Dia menghela nafasnya begitu berat.
"Kau ini, kenapa tiba-tiba bilang mau menikah. Bukankah kemarin kau sudah…?" Kata-kata Rangiku terpotong oleh ucapan Rukia.
"Aku akan mengabulkan permintaan si Jeruk Baka itu."
Rangiku merasa heran, "Hah?"
"Beraninya dia menyuruhku menikah dengan Grimmjow sementara aku sudah merendahkan harga diriku sendiri untuk bersama dengannya." Satu ekspresi mulai terlihat jelas di wajah Rukia. Itu adalah raut kekesalan. Sebuah emosi yang ingin meledak keluar karena kejadian kemarin malam.
Mendengar hal itu tentu saja Rangiku sangat kaget, "Apa? Ichigo yang bilang begitu?" Tanyanya tidak percaya. Namun, rasa penasarannya langsung hilang melihat anggukan pelan dari Rukia.
"Cih! Apa yang sedang dipikirkan si Baka itu!"Rangiku mendengus kesal. Bisa-bisanya Ichigo begitu tega dengan Rukia yang sudah bersusah payah ingin bersamanya. Membuat wanita berdada montok ini tidak bisa hanya berdiam diri saja. Sebuah ide tiba-tiba muncul di dalam otaknya. Seringai licik pun kembali menyinggahi wajahnya. Rangiku pun melangkah keluar ruangan, siulan pelan terlihat mengiringi langkahnya. Dan tentu saja tindakannya itu membuat Rukia menatapnya heran.
"Kenapa kau, Rangiku-san?"
"Mendadak aku ingat aku ada urusan sebentar." Rangiku melambaikan tangannya dan menghilang dari balik pintu. Meninggalkan kerutan di dahi Rukia.
xXxXx
Kediaman Kurosaki, terdengar ketukan pintu dari arah luar rumah. Terlihat Yuzu berjalan membukakan pintu untuk seseorang. Dilihatnya sosok keluh pria dengan baju kaos berwarna biru polos di tutupi dengan jaket hitamnya dan juga celana panjang jins hitam polos. Rambu orangenya memantul sempurna oleh sinar.
"Onii-chan?" Yuzu kaget melihat sosok Ichigo tersenyum ke arahnya, "Tumben sekali."
"Yo." Sapa Ichigo singkat, kaki panjangnya mulai masuk melintasi Yuzu.
Dilihatnya suasana rumahnya. Sama seperti saat dia meninggalkan rumah itu, Karin terlihat duduk di meja makan,menikmati masakan buatan Yuzu. Sedangkan Isshin? Ichigo tidak melihat sosok Isshin saat ini, biasanya dia akan menyambut Ichigo dengan tendangan khasnya.
"Kemana Ayah?" Tanya Ichigo ke Yuzu.
"Katanya ada urusan." Jawab Karin menggantikan Yuzu. Ichigo menghampiri meja makan dan menggeret kursi di depan Karin. Terlihat Karin masih sibuk menyeruput sup misonya. Ichigo hanya tersenyum tipis melihat kedua adik kembarnya. Setelah duduk sebentar, dia kembali membangkitkan tubuhnya menuju kamarnya di lantai 2.
"Ah, Onii-chan tidak ikut makan?" Tanya Yuzu.
"Tidak usah. Ada Sesuatu yang harus diambil." Bayangan Ichigo menghilang mengikuti tubuh aslinya yang sudah berpijak menaiki anak tangga.
Ichigo tiba tepat di pintu kamarnya yang masih terdapat papan kamar no 15 di tengah pintu. Dia kembali teringat akan masa remajanya dulu, saat dia memutuskan untuk menempelkan gantungan tersebut untuk menandakan bahwa ini adalah kamarnya. Dia meraih kenop pintu, memutarnya pelan dan membuka pintu perlahan. Suasana kamar yang tidak terlalu asing dan tidak berubah sejak hari dia tinggalkan dulu. Sprei biru kesayangannya masih bertengger rapi di kasur miliknya. Meja belajar yang bersanding disamping tempat tidur, dan juga kloset tempat menaruh barang-barang miliknya. Masih tetap seperti dulu, bahkan saat kloset itu di tempati oleh Rukia, tidak ada yang berubah.
Ichigo kembali teringat akan Rukia. Ya, Rukia! Satu nama yang sanggup membuat pikirannya kacau. Satu nama yang mampu membuatnya depresi seperti ini. Dan satu nama itulah yang kalau bisa dia tidak ingin lepas.
Mata musim gugur Ichigo menatap lirih pintu kloset yang sama sekali tidak ada point penting untuk terus di lihat. Perlahan tangannya mulai meraih pintu berwarna coklat tua dan menggeretnya pelan. Terpampang dengan jelas tumpukan-tumpukan kasur yang dulu biasa di buat Rukia untuk tidur.
Ah, Ichigo kembali teringat akan pertemuannya dengan Rukia 5 tahun lalu.
"Salam kenal, partner. Mulai hari ini aku akan menghuni di lemarimu."
"Mau jadi pacarku, Ichigo?"
"Aku lebih suka hubungan kita seperti ini."
"Ichigo, ayo kita kencan!"
"Tawake! Lihat dengan siapa kau bicara, BAKA!"
"Aku membenci hujan, Ichigo…"
"My Orange Sun…"
"Kalau memang mencintaiku, lupakanlah aku Ichigo…"
"Aku risih setiap kali melihat kalian!"
"Bawalah aku Ichigo! Kumohon… Bawalah aku…"
"Aku membencimu…"
Ah, dan kembali lagi. Matanya terpancar kesedihan yang mendalam. Ichigo kembali teringat akan Rukia sama dengan kembali menyadari kenyataan bahwa Rukia akan menjadi milik Grimmjow. Dirinya kesal, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah hal itu.
Ichigo mencob menutup kembali pintu kloset yang menyimpan banyak kenangan manisnya, namun langkahnya terhenti karena matanya menangkap sesosok gambar yang merupakan ciri khas Rukia dan merupakan hal yang disukai si mungil tersebut.
Ichigo tidak sadar bahwa Rukia ternyata meninggalkan jejak berupa gambar Chappy di dalam kayu coklat tersebut. Sebuah icon yang selalu dia kagumi yang menurut Ichigo adalah kelinci aneh saja. Tepat di bawah gambar tersenyum terdapat sebuah tanda yang menunjuk kearah bawah. Ichigo mengerutkan keningnya berpikir. Seperti ada sesuatu di tempat yang di tunjuk. Dia melihat secarik kertas tersembunyi di balik kasur-kasur tersebut. Ichigo meraih kertas yang dilipat segi empat itu. Merasa heran, kenapa bisa ada kertas di tempat ini.
Ichigo membuka lipatan kertas, mencoba melihat apa yang di tulis Rukia di kertas putih tersebut. Tapi seketika itu pula, kerutan permanennya terlihat semakin jelas. Sebuah tulisan yang tidak jelas dan merupakan sebuah teka-teki yang entah untuk apa Rukia buat.
Baakaribagakatobauka
Bawakatabashikanobamikakan
Hintnya : Lihat dirimu sendiri.
Ichigo bersweatdrops. Bisa-bisanya Rukia membuat teka-teki aneh seperti ini. Dia kembali membaca hint sekali lagi.
"Lihat dirimu sendiri?" Ichigo mengangkat setengah alisnya. Berpikir, melihat diri sendiri artinya harus melihat diri kita dari cermin. Akhirnya Ichigo menghadapkan tubuhnya di cermin. Lalu petunjuknya dari bercermin? Tiba-tiba dia teringat kata-kata favorite Rukia yang selalu dikumandangkan hanya untuknya.
"BAKA-MONO!"
"Ah! Berarti harus hilangkan kata 'Ba' dan 'Ka'." Ichigo kembali membaca pesan tersebut, kali ini tanpa membaca tulisan ba dan ka.
Arigatou
Watashi no Mikan
Seketika itu juga mata Ichigo membulat sempurna. Betapa menyesalnya dia telah membiarkan Chappy kesayangannya pergi darinya. Secarik kertas yang selalu tersimpan di dalam kloset selama 5 tahun itu menjadi saksi dan bukti betapa begitu berharganya Ichigo di mata Rukia. Ichigo langsung bersiap untuk pergi dari situ, mencoba mencari Rukia. Tapi langkah kakinya kembali berhenti dalam hitungan detik karena teringat akan kata-kata Byakuya waktu itu,
"Kau tidak akan bisa membahagiakan Rukia dengan keadaanmu yang sekarang, Kurosaki Ichigo."
Benar! Ichigo yang sekarang tidak akan bisa membahagiakan Rukia. Kali ini, dia setuju dengan kata-kata Byakuya dan itu lagi-lagi mematahkan semangatnya untuk kembali bersama sinar yang selalu menyinari hari-harinya. Matanya kembali sendu. Tidak ada yang bisa dia perbuat, mungkin sekarang Rukia sudah menjadi istri sah Grimmjow. Mungkin sekarang Rukia bisa melupakannya. Dan mungkin sekarang, Ichigo yang harus bisa merelakan Rukia…
Sebuah getaran terasa di kantong celana Ichigo. Handphone orange flip bergetar menandakan panggilan masuk datang.
"Halo?" Ichigo mengangkat panggil tersebut.
"Kurosaki Ichigo, di mana kau sekarang? Cepat kau datang ke kediaman Kuchiki kalau kau masih mau bersama dengan Rukia!" Sebuah teriakan Rangiku begitu menggelegar di telinga Ichigo.
"Apa maksudmu, Rangiku-san?" Tanya Ichigo tidak mengerti.
"Pokoknya kau cepat kemari! Telat semenit saja, jangan harap kau bisa selamat dariku!" Terdengar bunyi telepon di tutup paksa oleh Rangiku. Ichigo hanya menatap handphonenya heran.
xXxXx
Ichigo – P.O.V –
Aku mengelus telingaku karena suara nyaring Rangiku-san. Kenapa tiba-tiba dia menyuruhku untuk datang ke kediaman Kuchiki. Memangnya apa yang bisa aku perbuat sekarang? Mungkin saja Rukia sudah menikah dengan Grimmjow dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu. Ah, Memang sudah seharusnya seperti ini. Tapi, aku sedikit penasaran dengan kata-kata Rangiku-san. Akhirnya dengan berat kulangkahkan kakiku keluar kamar. Lebih baik aku skip saja sampai akhirnya aku tiba di sebuah rumah megah yang di tempat oleh keluarga besar Kuchiki.
Gerbang kediaman Kuchiki kini terbuka untuk umum. Resepsinya akan di selenggarakan disini, yah? Aku mengamati keadaan di sekelilingku, banyak sekali hiasan bunga lily berwarna putih, kontras dengan gaun putih pengantin. Aku sedikit membayangkan betapa cantiknya sosok Rukia dengan balutan gaun suci itu. Tapi lagi-lagi, hatiku kembali terasa sakit.
"Kau sudah datang, orang bodoh?" Aku melihat Rangiku-san sudah menungguku di depan pintu utama. Wajahnya melihatku dengan geram. Kenapa dia melototiku setajam ini? Aku menghampiri tempatnya dengan ragu. Apa yang sebenarnya mau Rangiku-san katakan kepadaku?
"Ada apa, Rangiku-san?" Tanyaku tidak mau basa-basi.
Tanpa berkata apa-apa, Rangiku-san menampar wajahku. Plak!
"Apa yang…" Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tamparan berikutnya kembali melayang di pipiku yang satu lagi. Plak!
"Kau sudah sadar, orang bodoh?" Tanya Rangiku-san kepadaku. Tentu saja aku menatapnya heran, dia kembali mengulang pertanyaannya. "Kau sudah sadar dengan apa yang kau lakukan?"
Kutundukkan wajahku. Aku benar-benar tidak berani menatap wajah Rangiku-san saat ini.
"Aku membantumu selama ini bukan untuk menyakiti hati Rukia, Ichigo. Kau ini yah kenapa gampang sekali patah semangat hanya karena omongan Grimmjow, sih?" Seru Rangiku-san mulai mengomel dan tidak habis pikir dengan sikapku.
Dan aku hanya bisa kembali menundukkan wajahku, semakin mencoba menyembunyikan wajah suram yang sudah menghancurkan harapan Rukia. Rangiku-san hanya mendengus pelan, lalu menarik tanganku memasuki rumah Kuchiki.
"Ikut aku."
xXxXx
Sebuah kamar yang berada di lantai 2, entah apa maksud Rangiku-san mengajakku kemari. Yang pasti ini luas kamar ini jauh lebih besar dari apartemenku.
"Kamar siapa ini, Rangiku-san?" Tanyaku. Ku teliti lagi ini sepertinya kamar ini di tempati oleh anak perempuan. Setahuku perempuan di keluarga Kuchiki adalah…
"Rukia." Betul kan! Ternyata seperti ini yah kamar Rukia. Pantas saja dia bilang kamarku kecil. Kamarnya saja sudah seluas rumahku. Nuanasa putih terhampar dengan jelas di setiap dinding kamar. Memang benar-benar menunjukkan identitas pemiliknya. Kasur dengan cover bed berwarna sama pun terlihat begitu rapi. Sebuah pintu besar pun ada di sebelah kasur tersebut. Sepertinya bukan pintu keluar, tapi pintu yang menghubungkan ruangan lain.
"Permisi." Terdengar ketukan pintu. Sang pelayan dengan rambut di kepang memasuki kamar Rukia. Setelah membungkuk hormat ke arah kami, dia langsung mengetuk pintu di sebelah kasur tersebut.
"Rukia-sama, sudah waktunya." Ucap sang pelayan tersebut.
Aku tersentak! Apa! Rukia ada di dalam! Mataku membulat sempurna ketika melihat sosok di balik pintu besar yang baru saja terbuka. Kain putih yang membalut tubuh mungil Rukia, renda yang bertengger manis di kepalanya, dan rambut panjangnya yang sengaja tidak di sanggul memperindah dirinya. Sosok Rukia benar-benar terlihat begitu cantik, bagaikan pesona malaikat yang seolah menyihirku untuk tetap terus menatapnya lekat.
Violet milik Rukia bersinar sempurna, dia menatapku, terkejut melihatku. Namun, wajahnya kembali memandangku dingin lalu berjalan begitu saja tanpa sepatah kata satu pun dari bibir mungilnya. Aku memaklumi hal itu, dia tidak mungkin bersikap biasa saja dengan apa yang terjadi kepadanya kemarin. Aku sudah menyakitinya, tidak mungkin Rukia mau memaafkan kesalahanku.
Dari belakangku, Rangiku-san mengamati gerak-gerik kami. Rukia yang dingin, dan aku yang semakin merasa bersalah. Kupejamkan kedua mataku, mencoba meresapi semua hal yang bisa kuambil dari semua kejadian ini.
"Sudahlah, Rangiku-san. Sepertinya memang aku tidak pantas untuk Rukia." Ucapku kemudian. Suaraku terdengar begitu lemah.
"Aku memintamu kesini bukan untuk melihat Rukia." Ucap Rangiku-san kemudian, tentu saja aku kembali menatapnya heran.
"Apa maksudmu?" Rangiku-san memberikan sebuah notebook berwarna hitam.
Aku mengamati notebook tersebut, kulihat halaman belakangnya, sebuah cap chappy tertempel di bawah halaman. Ah, itu saja sudah bisa ditebak, ini pasti milik Rukia.
"Apa ini?" Tanyaku lagi.
"Buka dan lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, B-A-K-A~" Seru Rangiku-san kemudian meninggalkan sendiri di kamar. Pintu yang sengaja dia tutup kasar itu menandakan bahwa aku memang harus melihat isi notebook ini.
Aku kembali di kejutkan dengan semua hal yang tidak diketahui. Inikah curahan hati Rukia?
AITAI! AITAI! AITAI! AITAI! AITAI! AITAI! Tawake…
Satu halaman, dia hanya menulis kata 'Aitai' dengan huruf kapital. Terus sampai akhirnya tulisan itu berhenti di tengah-tengah. Yah, tanggal 14 januari.
Ah, seketika itu juga aku tersadar. Apa yang sudah aku lakukan kepada Rukia? Perlahan api yang sudah redup itu kini kembali membakar hatiku. Ada sebuah perasaan yang mendorongku untuk kembali mendapatkan Rukia. Aku harus menghentikan pernikahan ini! Aku tidak akan melakukan kesalahan kali ini. Dengan cepat aku berlari menuju latar pernikahan yang di lakukan di halaman belakang rumah Kuchiki. Tunggu aku Rukia!
Baby, please don't hold those hands
Coz you should be my lady
Please look at me, I've been waiting all this time…
Ichigo – P.O.V – End
xXxXx
Pesta pun telah di mulai. Semua pengunjung terlihat sudah duduk dengan rapi di tempat masing-masing. Terlihat Grimmjow dengan tuxedo berwarna putih terlihat serasi di tubuh bidangnya berdiri tepat di depan altar tempat mengucapkan janji setia mereka. Dan perlahan pun sayup-sayup terdengar suara violin dan piano yang berdenting menandakan pengantin wanita sudah hadir menghampiri calon suaminya.
Renda putih yang menutupi wajah Rukia berhasil menyembunyikan rasa yang sebenarnya. Senyuman palsu yang sengaja dia pasang di kedua wajahnya ini hanya untuk tidak membuat Kakaknya, Byakuya yang bersanding di sebelahnya mengantarkan langkahnya menuju Grimmjow khawatir.
Grimmjow menggantikan posisi Byakuya menggandeng tangan Rukia. Kini mereka berdua bersanding bersama, dari luar sangat terlihat begitu serasi. Semua menatap mereka dengan berbagai macam tatapan. Sang pendeta pun mulai mengucapkan kata untuk mengikat mereka berdua.
Sang pendeta mulai bertanya kepada Grimmjow apakah dia menerima Rukia sebagai istrinya. Grimmjow menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang, "I do."
Kali ini giliran Rukia. Sang pendeta menanyakan hal yang sama kepada Rukia. Suasana kembali hening. Rukia memejamkan matanya sejenak. Mungkin sudah saatnya dia melupakan Ichigo.
"I d…"
"I DO NOT!" Tiba-tiba suasana kembali menjadi riuh. Dan Rukia merasakan tubuhnya mengambang. Ah tidak, lebih tepatnya seseorang tengah menggendongnya seperti membawa barang. Orang itu mempunyai rambut seterang sinar matahari. Hazel brown yang terpancar kini terlihat begitu bersinar. Dan tentu saja, Rukia dan Grimmjow mengenali sosok tersebut. Tentu saja, dia adalah seseorang yang selalu dipanggil dengan sebutan 'Tawake' oleh Rukia. Tidak lain dan tidak bukan…
"Ichigo?" Rukia menatapnya heran. Kenapa tiba-tiba Ichigo membopong badannya.
"Maaf, Grimmjow. Sepertinya aku tidak bisa melepaskan Rukia." Itulah ucapan terakhir Ichigo sampai akhirnya dia membawa paksa, lebih tepatnya membawa kabur Rukia secara paksa. Dan membiarkan dirinya dilihat oleh puluhan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Termasuk Senna dan juga Rangiku.
"Apa yang kau lakukan, Grimmjow!" Teriak Senna begitu geram.
Grimmjow tidak membalas ucapan Senna. Senyuman tipis tersungging di kedua wajahnya. Mata birunya menatap sosok punggung Ichigo dan Rukia yang semakin lama perlama semakin menghilang. Seluruh pengawal Grimmjow mulai bersiap-siap untuk mengejar Ichigo namun di cegah oleh Grimmjow.
"Biarkan saja mereka…"Cegah Grimmjow.
The wedding dress you once wore…
xXxXx
~ TBC ~
Hahaha... Updatenya sedikit sekali... *ditabokin...
Endingnya kyknya muncul beberapa chapter neh kyknya.. *digorok...
Oh iya, pas ichigo gendong rukia bayangkan yg Ichigo menyelamatkan Rukia dari tiang eksekusi. Itulah cara gendong Ichigo... Icchy cinta banget sama moment itu... Kyaaaaaaaaaaa!
Yah sudah lah, masih blum sempet membalas review kalian... Hontou ni Gomennasai... *Kluk~
Sekali lgi, Icchy tidak akan bosan2nya bilang, REVIEW ONEGAISHIMASU~! :D
