VAPPY VALENTINE's DAY ALL~! Icchy hadir ~ =))
Ga banya cincong... CERITA INI FINAL!
Ya sudah lah, spesial thanks : Untuk semua yg membaca dan mereview cerita ini dari awal sampai akhir...
berkat review dri kalian Icchy semangat bikin cerita ini sampai akhirnya tamat! *Nari2 bahagia...
Eh iya kalau ending aneh mohon dimaafkan yah...
ternyata Icchy sadar akan satu hal : Icchy bingung mau bikin endingnya kyk gimana... wakwkakawkwa
Oh iya, ending sedikit berbeda dengan yg ada di Present For You... kalau ada yg baca ^^a
Tapi ya gitu deh... Icchy sengaja publish bertepatan dengan Valentine's day... Ahay
Udah ah, Enjoy My last story n jgn lupa review setelah itu~ :D
Review dong ~ Kan udah Final neh...
Reviewnya kesan setelah membaca seluruh cerita ini yah minna ~ Doumo ~ :D
Bleach = Kubo Tite
Cerita ini = Searaki Icchy La La La
WARNING! Kyknya Ichigo rada OOC... *EMANGG OEE! PLAK! =))
Final Chapter = Orange Sun & Chappy White
There's no way I will let you go…
Seorang pria tengah berlari kencang sambil membawa seorang wanita ditangan kanannya. Pria berambut jingga yang bersinar diterpa cahaya matahari tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya heran. Wanita dengan sinar violet muda yang berada dalam dekapannya hanya bisa mendesah pelan, meminta dirinya di lepaskan.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, TAWAKE!" Rukia mulai meronta. Dia benar-benar tidak tahan dengan tindakan Ichigo yang selalu saja seenaknya sendiri. Sedangkan Ichigo tidak peduli dengan permintaan Rukia. Langkahnya masih setia berlari, menelusuri setiap jalan tanpa tujuan yang pasti.
"Lepaskan aku, Baka! Kau mau membawaku kemana, hah?" Rukia masih bersikeras minta dilepaskan. Tapi Ichigo semakin tidak menggubrisnya. Akhirnya karena kesal dicuekin, Rukia memilih untuk diam. Apalagi Ichigo benar-benar diam seribu bahasa. Hanya terus berlari, dan berlari, semakin menjauh dari kediaman Kuchiki. Meninggalkan semua orang yang masih mematung disana.
Sementara itu, Grimmjow…
"Sepertinya semua berjalan seperti keinginanmu yah, Grimmjow." Ucap Rangiku ketika melihat Grimmjow hanya tenang-tenang tanpa peduli dengan gadis yang seharusnya bersanding dengannya hari ini. Grimmjow hanya tersenyum tipis ke arah Rangiku.
"Bukannya kau berharap seperti ini juga, Rangiku?" Tanya Grimmjow.
Rangiku tersenyum sesaat, "Yah… tapi sepertinya masih ada satu orang yang belum terima." Ucapnya sambil melirik seseorang. Seorang gadis dengan mini dress berwarna coklat muda dipadu dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai dengan indah. Gadis itu, Senna.
"Aku tahu kau sedang membicarakan aku, Rangiku-san?" Senna mendengus kesal.
"Mukamu memang selalu lucu, Senna-chan~" Goda Rangiku begitu nakal. Senna hanya bisa mengembungkan kedua pipinya kesal. Bisa-bisanya dia ikut rencana yang dibuat oleh Grimmjow.
"Yah… setidaknya si kedua pasangan bodoh itu bisa bersama lagi." Rangiku menatap ke arah gerbang besar yang baru saja diterobos paksa oleh Ichigo.
"Rencana siapa dulu dong~ Grimmjow-sama~" Ucap Grimmjow bangga.
"Nah sekarang permasalahannya…" Rangiku mengamati keadaan sekitar, semua orang yang diundang kini sudah pulang secara mengenaskan. Banyak yang bingung, dan bahkan ada yang protes karena acaranya jadi batal. Tapi itu semua tidak dipedulikan oleh Grimmjow, bahkan meskipun karena kejadian ini namanya jadi tercemar.
"Tenang saja, Rangiku. Aku sudah ada calon baru pengganti Rukia, kok." Jawab Grimmjow enteng. Dan benar saja, dia langung menarik tangan seseorang yang sedari tadi cemberut.
"Dia sudah siap menikah denganku~" Gadis yang ditarik Grimmjow, Senna, hanya bisa merona merah tidak percaya.
"Jangan bercanda kau, Brengsek!" Karena salah tingkah Senna langsung menampar pipi Grimmjow dan berlalu dari situ. Tentu saja Grimmjow hanya tertawa dengan reaksi Senna.
"Sifatmu sama saja dengan Ichigo, Grimmjow." Tukas Rangiku, "Kalau seperti itu terus Senna benar-benar semakin membencimu." Lanjutnya.
Sebenarnya ada hubungan apa Grimmjow dengan Senna? Kenapa Rangiku berkata seperti itu. Dan kenapa Grimmjow hanya menyeringai mendengar kata-kata Rangiku. Semuanya benar-benar hal yang tidak di mengerti. Walaupun hari itu senja mulai melintas pelan, menggantikan sang matahari untuk tertidur.
xXxXx
Langkah kaki Ichigo terhenti di sebuah rumah sekaligus klinik dengan nama 'Kurosaki's Clinic'. Tidak terasa langkahnya membawa Ichigo dan juga Rukia kembali kerumahnya. Rumah yang dulu mempunyai kamar yang pernah ditempati oleh Rukia.
"Oi, Ichigo. Untuk apa kita kerumahmu?" Rukia merasa heran dengan sikap Ichigo hari ini. Dan Ichigo masih tidak berkata apa-apa. Kakinya langsung maju memasuki rumah tersebut. Dan benar saja, Yuzu, Karin beserta Ayahnya sedang menyantap makan malam saat itu.
"Ah, Ichi-nii. Okaerinasai~"Sambut Yuzu seperti biasa. Karin cuek.
"MY SON~! Siapa bidadari yang kau bawa itu?" Seru Isshin mulai mendramatisir dan menyadari bahwa Rukia masih memakai gaun pengantin.
"Calon menantumu."
"APA!" Semua yang mendengar jawaban Ichigo tentu saja kaget, apalagi Rukia.
"MASAKI~ KITA AKAN SEGERA DAPAT CUCU~!" Isshin sudah berteriak kegirangan di depan poster mendiang istrinya.
"Jangan berlebihan, Ayah." Ichigo mengacak rambutnya, "Aku kenalkan padamu, Kuchiki Rukia." Dan Ichigo langsung melepaskan Rukia yang masih bengong.
"Yoroshiku nee, Rukia-chan." Sapa Yuzu lembut. Karin hanya tersenyum ke arah Rukia.
"Senang bertemu denganmu, Rukia-chan~ Ternyata memang kau manis sekali~" Seru Isshin tidak henti-hentinya memuja Rukia. Ichigo menatap Isshin dengan heran, apa maksudnya dengan ternyata?
"Ichigo, ternyata dia yah gadis yang tinggal di lemarimu." Ucap Isshin akhirnya. Dan tentu saja Ichigo dan Rukia kembali menatap Isshin heran.
"Ayah? Bagaimana bisa…?"
"Tentu saja aku tahu, kau pikir bisa mengelabui ayahmu ini hah, Baka Musuko yo~!" Dan Ichigo menerima 'Tendangan Cinta' dari Isshin.
"Brengsek! Tidak perlu menendangku segala, kan?" Rumah Kurosaki pun kembali menjadi riuh. Tanpa peduli dengan Rukia yang masih terpana. Kepalanya sudah tidak sanggup untuk berpikir, yang terjadi biarlah terjadi. Rukia sudah pasrah dengan semuanya.
xXxXx
"Jadi bisa kau jelaskan padaku sekarang kenapa kau melakukan semua ini, Ichigo?" Akhirnya Rukia bisa buka suara setelah mereka berdua berada di dalam kamar Ichigo. Di lantai satu Isshin sudah menggelar 'pesta' dadakan karena berita dari Ichigo. Sedangkan Yuzu dan Karin hanya bisa melihat tingkah Ayah mereka.
Ichigo tidak menjawab pertanyaan Rukia. Sang hazel sibuk menatap lekat violet yang membulat begitu indah. Suasana kamar yang gelap memantulkan sinar bulan yang menyusup dibalik tirai gorden jendela Ichigo.
"Tidak ada jawaban darimu, Jeruk? Kalau begitu aku pulang!" Rukia bersiap melangkah keluar kamar. Namun langkahnya terhenti oleh sebuah pelukan dari Ichigo. Ichigo memeluknya! Kali ini begitu erat, entah apa maksudnya. Ichigo semakin mempererat pelukan ketika Rukia mencoba melepaskannya.
"Kau menyakitiku, Ichigo."
"Maafkan aku, Rukia." Akhirnya Ichigo mulai membuka mulutnya, "Maafkan aku. Bukan maksudku untuk menyakitimu seperti ini. Aku memang bodoh karena sudah menyuruhmu menikah dengan Grimmjow. Maafkan aku…" Suara Ichigo terdengar begitu menyesal. Ya, Ichigo menyesali sikapnya yang pengecut. Seharusnya dia tidak perlu minder hanya karena perbedaan diantara mereka sampai tidak memikirkan perasaan Rukia sendiri.
Ichigo tahu betul seberapa besar harga diri Rukia. Ego si mungil lebih besar darinya, tapi Rukia tidak peduli dengan semua itu. Setelah dia menyadari bahwa dia tidak bisa melupakan Ichigo, dia lebih memilih membuang semuanya hanya untuk bersama dengan Ichigo. Dan sang Jeruk pun tahu, betapa terlukanya Rukia mendengar kata-kata Ichigo tempo hari. Andai saja waktu bisa diputar, Ichigo ingin sekali menghapus hari itu.
Dan Rukia? meskipun hatinya senang dengan semua penyesalan Ichigo. Dia tidak mau memaafkan Jeruk semudah itu. Harus ada pengorbanan yang harus Ichigo lakukan kepadanya. Seperti yang dia lakukan untuk Ichigo.
"Lepaskan aku, Ichigo…" Kini suara Rukia terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Ichigo menuruti permintaan Rukia. Kristal violet yang memancar terang menatap dirinya kembali hening. Langkahnya kaki mulai melangkah maju meninggalkan Ichigo. Tapi sebelum itu, Rukia mengeluarkan suara dan berkata,
"Setelah melukaiku sekarang kau baru menyesal? Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu, Ichigo?" Ucap Rukia dingin.
Ichigo menundukkan wajahnya, dia tahu Rukia tidak akan memaafkannya dengan mudah. Ichigo hanya bisa pasrah sampai menunggu jawaban dari Rukia.
Rukia menghela nafasnya begitu berat, dipalingkan kembali mukanya menatap sang Jeruk yang terlihat depresi itu, "Kau harus bertanggung jawab untuk semua kejadian hari ini, Jeruk." Rukia pun menghilang dari balik pintu. Meninggalkan Ichigo yang masih mematung menatap bayangan Rukia yang semakin lama semakin menghilang.
xXxXx
Words don't come easily like, 'Forgive me…'
Seminggu berlalu sejak insiden 'penculikan' yang di lakukan Ichigo. Seluruh penjuru kampus pun gempar dan membicarakan kasus tersebut. Tentu saja hal ini jadi hot news paling laris di kampus saat ini. Sudah kesekian kalinya Rukia menghela nafas saat dirinya tengah berjalan menyusuri lorong kampus. Semua mata yang melintas disana memandang ke arahnya. Bagaimana Rukia tidak risih karena dirinya menjadi bahan pembicaraan di kampusnya.
Kita tidak akan menyorot Rukia kali ini, tapi seseorang dengan rambut nyentriknya tengah termenung duduk di taman belakang kampus. Ichigo tengah menunggu Senna yang tiba-tiba meminta untuk menemui dirinya. Entah apa yang akan Senna katakan, Ichigo sudah siap dengan semuanya. Lagipula, dia harus menjelaskan semuanya kepada Senna. Kalau tidak semuanya tidak akan pernah selesai. Senna terlihat sedang berjalan menghampiri tempatnya.
"Yo." Sapa Senna singkat. Dia jadi lebih pendiam.
"Senna, aku…" Senna langsung memotong pembicaraan Ichigo, "Sudahlah tidak usah dibahas masalah yang kemarin, Ichigo."
"Justru aku ingin menjelaskan yang sebenarnya kepadamu."
Ichigo mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Senna. Senna pun akhirnya mulai bercerita tentang semuanya, termasuk rencana Grimmjow.
"Sebenarnya Grimmjow-lah yang menyuruhku mendekatimu. Karena ingin memastikan apakah kau sudah melupakan Rukia apa belum." Apa? Ichigo tidak merespon, ingin tahu kelanjutan cerita Senna selanjutnya, "Akhirnya aku mendekatimu dan menyatakan cinta kepadamu. Ternyata reaksimu malah sama seperti perkiraan Grimmjow. Dasar Ichigo bodoh~"
"Tunggu dulu, Senna! Jadi intinya kau menyatakan suka padaku semua karena Grimmjow?" Akhirnya Ichigo hanya bisa berkesimpulan seperti itu. Berarti selama ini?
"Ya. Dan ternyata Grimmjow benar, kau ini membosankan~" Keluh Senna, "Kalau tahu begini seharusnya aku tidak menyatakan cinta padamu, Ichigo." Senna pun mulai berbalik membelakangi Ichigo. Dilangkahkan kakinya menjauh dari tempat Ichigo, meninggalkan Ichigo yang terpana menatapnya, sadar bahwa selama ini dia masuk dalam permainan yang Grimmjow buat.
Sebenarnya bukan itu maksud Senna. Dia terpaksa berbohong untuk kata-katanya yang terakhir, karena sejujurnya Senna sudah tertarik dengan Ichigo setelah mengenal pria itu lebih dalam. Ichigo yang ketus, yang selalu mempunyai kerutan permanen di dahinya, yang selalu bicara seperlunya saja. Mana mungkin dia tidak tertarik dengan Ichigo. Senna berpikir, mungkin Rukia berpikiran sama sepertinya, alasan kenapa dia tidak bisa melupakan Ichigo. Ah, Senna berusaha untuk kuat, merelakan seseorang yang dicintai emang sulit namun sekali lagi Senna sudah merelakannya.
Air mata yang sedaritadi di pendam kini memaksa untuk keluar. Senna akhirnya tidak kuat untuk menahan semuanya, lebih baik dia mengeluarkan semua kesedihannya. Tanpa menyadari Grimmjow menghampirinya, menatap lembut gadis yang sedang menangis di depannya.
"Bolehkah aku menjadi pengganti Ichigo dihatimu, Senna?"
"Aku tidak akan tergoda dengan rayuan gombalmu itu, Grimmjow!" Senna merona merah dan langsung berlari meninggalkan Grimmjow yang hanya tertawa melihat tingkahnya.
Pandangannya kembali menatap Ichigo yg masih berada di bangku taman belakang. Sepertinya kini giliran dirinya untuk menjelaskan semuanya.
xXxXx
"Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, Ichigo?" Tanya Grimmjow ketika melihat tatapan Ichigo yang begitu lekat menatap dirinya. Pandangan hazel brown Ichigo benar-benar menunjukkan bahwa dirinya butuh penjelasan.
"Semuanya." Satu jawaban singkat Ichigo memulai penjelasan Grimmjow.
"Aku malas kalau disuruh cerita dari awal lagi." Ucap Grimmjow, "Intinya aku hanya menjalankan perintah dari Byakuya-san saja."
"Dari Kuchiki Byakuya?" Ichigo semakin bingung lantaran nama Byakuya jadi terbawa dalam pembicaraan. Berarti semua yang terjadi ada hubungannya dengan Kuchiki Byakuya?
"Kau tidak percaya?"
"Otakku terlalu pusing untuk menerima semua kenyataan itu." Jawab Ichigo akhirnya. Perlahan hembusan angin pun bergerak menggoyangkan rambut orangenya dan milik Grimmjow.
"Aku memang memiliki janji dengan Rukia…" Baju putih Grimmjow terbang tertiup angin. Punggungnya terlihat begitu kokoh membelakangi Ichigo, "Tapi aku tidak tertarik dengan janji masa lalu. Sekarang semuanya terserah padamu, Ichigo. Take it or Leave it." Grimmjow pun kembali melangkah meninggalkan Ichigo yang tengah berpikir.
Kata-kata Grimmjow benar adanya. Ichigo harus memilih. Kini tidak ada lagi halangan yang mengganggu jalannya. Yang dia lakukan sekarang adalah bertemu dengan ketua penerus Kuchiki, Kuchiki Byakuya, dan merupakan satu-satunya jalan untuk merestui hubungannya dengan Rukia.
xXxXx
Kuchiki Byakuya tengah sibuk mengerjakan semua dokumen-dokumen penting di atas mejanya. Dia tidak peduli dengan keadaan seseorang yang tengah bingung menatapnya di bangku tamu ruang kerjanya. Ya, Ichigo memutuskan untuk menemui Byakuya. Dengan resiko penolakan terhadap sang ketua muda tersebut. Tapi anehnya, Byakuya mempersilakannya masuk.
Hening menyelimuti ruangan itu, suara detik jarum jam mengalun pelan mengisi kekosongan diantara mereka. Ichigo semakin bosan disuruh menunggu, akhirnya dia memutuskan untuk memulai pembicaraan,
"Aku…"
"Kau mencintai Rukia?" Byakuya langsung memotong kata-kata Ichigo. Sebuah pertanyaan yang sama ditujukan hanya untuknya. Pertanyaan Byakuya tidak lepas dari itu, saat dia bertemu dengan Byakuya di cafe dekat kampusnya.
Waktu itu Ichigo tidak bisa menjawabnya karena dirinya merasa tidak pantas bersanding dengan Rukia. Tapi kali ini Ichigo tidak akan ragu-ragu mengatakannya,
"Ya! Aku mencintainya."
"Apa kau yakin bisa membahagiakannya dengan keadaanmu yang sekarang?"
"Ya!"
"Kau bisa memberikan apa untuk membahagiakan Rukia?" Ichigo terdiam dengan semua kata-kata Byakuya yang menyudutkannya. Kali ini Ichigo tidak akan kalah,
"Mungkin kedengarannya klase. Tapi aku akan memberikan semua hidupku untuknya." Ucap Ichigo begitu tegas. Pancaran hazel yang menatap mata abu-abu Byakuya begitu tajam.
Byakuya berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ichigo. Dia menaruh sebuah surat beramplop putih polos di depan meja Ichigo.
Ichigo mengambil dan membuka surat tersebut. Mata hazelnya kembali membulat sempurna. Surat itu ternyata sebuah beasiswa dari Oxford University.
"Apa ini?" Tanya Ichigo bingung.
"Kau tidak bisa mengerti tulisan di dalam surat itu, Kurosaki Ichigo?" Ucap Byakuya dingin.
"Aku tahu ini beasiswa! Maksudku untuk apa kau memberikan aku ini?" Jelas Ichigo.
"Aku pernah bilang kalau kau yang sekarang tidak mungkin bisa membahagiakan Rukia, kan?" Jelas Byakuya. Ichigo mengangkat setengah alisnya, "Pergilah kau kesana. Jadilah seseorang yang pantas untuk menantu Kuchiki."
Ichigo lumayan kaget mendengar penjelasan Byakuya. Jadi secara tidak langsung, Byakuya merestuinya dengan Rukia?
"Aku tidak bisa meninggalkan kampus begitu saja…"
"Aku sudah mengurus semua tentang kepindahanmu. Tentang keluargamu juga tidak perlu di khawatirkan. Sepertinya ayahmu setuju-setuju saja." Jelas Byakuya kalem.
APA? Dahi Ichigo semakin mengeriyit menatap Byakuya. Ternyata petinggi Kuchiki ini mengatur semuanya dengan seenaknya. Meskipun kesal, Byakuya ternyata memang saudara Rukia. Sifat mereka yang ini sangat mirip. Tidak bisa berkomentar, Ichigo mendengus pelan.
"Kalau memang benar katamu, akan kulakukan." Ujar Ichigo. Kakinya mulai melangkah menghampiri pintu keluar dan menghilang di balik pintu.
xXxXx
Now I will say, 'I Love You…'
Ichigo – P.O.V –
Kutelusuri kodidor rumah Kuchiki. Baru kusadari rumah ini ternyata begitu luas. Aneh juga dengan kata-kata Byakuya, kenapa aku lupa bertanya kepadanya, yah? Apa karena auranyakah?
Masa bodoh lah! Yang penting masalah sekarang aku harus meyakinkan Rukia. Sudah seminggu lebih aku tidak melihat sosoknya dimanapun. Dasar Midget, dia memang pandai menyembunyikan keberadaannya. Tapi kini, sosoknya kembali tertangkap mataku. Jendela kodidor yang memperlihatkan hamparan taman bunga di belakang kediaman Kuchiki. Seorang gadis memakai gaun putih kesukaannya. Violet yang terpancar mempercantik rambut hitamnya yang dikunci tinggi dengan pita yang sama dengan warna bajunya. Gadis itu… Rukia…
Ah… Rukia memang cantik. Tidak heran ayah memanggilnya dengan sebutan 'bidadari'. Pesona yang terpancar tidak diragukan lagi, sanggup membuat jantungku berdetak begitu kencang.
Tubuhku seakan membeku, terpaku pada satu titik yaitu menatap Rukia. Sampai tidak menyadari bahwa Rukia menatap ke arahku.
"Sampai kapan kau mau menatapku terus, Ichigo?" Teriak Rukia dari arah bawah. Seketika itu pula membuyarkan lamunanku. Entah sihir apa yang di pakai Rukia. Tapi rasanya, aku semakin tidak ingin melepaskan pandanganku. Aku ingin terus menatap paras yang menggoda itu. Dia hanya milikku, aku tidak akan mengulang kesalahan bodohku untuk yang kedua kalinya! Tidak mungkin aku membiarkan Rukia pergi dari sisiku!
"RUKIA~!" Tidak peduli dengan situasi dan kondisi di sekitar, aku berteriak, "AKU MENCINTAIMU! MENIKAHLAH DENGANKU!"
Kulihat wajah Rukia merona merah, kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"TAWAKE! LIHAT KEADAAN SEKITARMU, BAKA!" Rukia salah tingkah.
Aku tidak peduli dengan semua orang yang berada disana. Semuanya menatap kearahku dan Rukia. Ya, entah apa yang merasuki otakku. Aku bahkan tidak peduli dengan semua petinggi-petinggi Kuchiki yang menatap tajam ke arahku.
"IKUTLAH KE LONDON BERSAMAKU, RUKIA~!"
Rukia langsung berlari menuju tempatku. Dengan panik dia mengitari tangga dan kodidor dan langsung menuju tempatku. Dengan nafas tersengal-sengal, dia berusaha menyadarkanku.
"Otakmu sudah pindah ke dengkul yah, Baka!" Seru Rukia mengomel, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Ikutlah ke London bersamaku, Rukia." Kukatakan sekali lagi dengan nada yang lebih pelan.
"Hah? Kenapa tiba-tiba…?"
"Aku akan ikuti saran dari Byakuya untuk menjadi pria yang pantas untukmu."
"Lalu, kau pikir dengan sikap sok coolmu itu aku akan bilang setuju?" Ucap Rukia jutek. Hahaha, aku tahu dia salah tingkah, tapi berusaha menyembunyikan wajahnya itu.
Aku malas kalau harus berbasa-basi. Mengungkapkan cinta dengan kata-kata memang bukan keahlianku. Kuraih tangan kanannya, kusisipkan sebuah permata yang mengikat diriku dengan dirinya. Sebuah cincin perak putih polos melingkar sempurna di jari manis kanannya. Ah, ternyata aku tidak salah. Ukurannya sangat pas di jari Rukia.
Rukia kembali menatapku heran, violetnya membulat sempurna. Begitu cantik…
"Aku janji, aku akan menjadi pria yang pantas untukmu." Itulah janji yang kuucapkan hanya untuk Rukia. Kutunjukkan pasangan cincin yang melingkar di jari manis tangan kananku kepadanya.
Rukia tidak bisa berkata-kata. Matanya terlihat berkaca-kaca, mungkin terharu dengan kata-kataku ataukah? Ya sudahlah, aku langsung memeluk tubuhnya. Kali ini dia tidak melawan, bahkan membalas pelukanku. Ya, sekarang aku bisa tenang. Aku sudah memberikan 'tanda' untuk Rukia. Dia ikut atau tidak bersamaku, yang penting aku sudah memberikan semua cintaku padanya.
"Ichigo, kapan kau akan berangkat ke London?" Tanya Rukia.
"Besok."
"Hah? Besok?"
Sebenarnya aku juga kaget dengan keberangkatan yang serba mendadak ini. Tapi Byakuya ternyata sudah mempersiapkan semuanya untukku. Tidak, lebih tepatnya demi Rukia. Aku tahu Byakuya sangat menyayangi Rukia, itu terlihat dari semua pertanyaannya kepadaku.
"Ikutlah denganku, Rukia."
"Aku harus bilang ke Byakuya-niisama dulu."
"Kalau gitu, menyusul saja, yah." Ucapku sambil memeluknya manja. Entah apa yang terjadi padaku. Inikah rasanya kebahagian yang timbul setelah penantian selama 5 tahun? Sepertinya iya…
Ichigo – P.O.V – End
xXxXx
Narita Airport…
Rangiku, Grimmjow, dan Senna tengah mengantar kepergian seseorang. Ya, Ichigo hari ini akan berangkat ke London sesuai rencana kemarin. Pesawat yang mengantarnya akan take off jam 10 pagi. Ada yang janggal, Rukia tidak hadir mengantarkan kepergiannya. Ichigo mengamati suasana sekitar yang ramai akan orang-orang yang berlalu-lalang di bandara.
"Rangiku-san, kenapa Rukia tidak datang?" Bisik Senna kepada Rangiku yang berada di sebelahnya.
"Nanti dia juga muncul. Tenang saja, Senna-chan~" Jawab Rangiku sama sekali tidak cemas.
"Hey, Ichigo. Jangan sampai nyasar disana, oke?" Ucap Grimmjow.
"Aku tidak sebodoh itu." Ujar Ichigo.
"Kenapa keluargamu tidak mengantarmu?" Tanya Rangiku.
"Aku yang menyuruh mereka. Lagipula kemarin aku sudah berpamitan dengan mereka." Jawab Ichigo. Ya, ini bukanlah hal yang penting. Yang penting dia sudah bilang kepada Ayah dan kedua saudaranya. Selama mereka mengijinkan, bagi Ichigo tidak masalah mereka tidak mengantar.
Panggilan penumpang menuju London pun terdengar, Ichigo tengah bersiap menggeret koper besarnya untuk cek in. Sebelum itu, dia berpamitan dengan semua teman-teman yang mengantar kepergiannya.
"Sudah yah. Aku duluan."
"Tidak mau menunggu Rukia dulu?" Tanya Rangiku yang mulai cemas karena Rukia tidak kunjung muncul.
"Tidak usah. Lagipula aku yakin dia pasti menungguku." Jawab Ichigo yakin. Meskipun dia sedikit kecewa karena Rukia tidak mengantar kepergiannya.
"Sudah yah." Ichigo melambaikan tangan sebelum akhirnya dia melangkah maju. Semua yang mengantarkan kepergiannya membalas lambaian itu.
"Tapi tetap saja, kemana si Rukia? Kenapa dia tidak mengantar Ichigo?" Tanya Senna masih penasaran dengan tindakan Rukia.
"Pasti dia sudah mempunyai rencana." Tebak Rangiku sambil manggut-manggut.
"Pastinya. Tidak mungkin Rukia diam menunggu saja, kan?" Grimmjow setuju dengan Rangiku. Mereka pun akhirnya berlalu dari situ. Menemani kepergian Ichigo yang sudah memasuki bandara.
xXxXx
Ichigo terdiam duduk diam di tempat para penumpang menunggu pesawatnya tiba. Dilihatnya kearah luar jendela, terhampar pemandangan pesawat-pesawat besar yang berbaris dengan begitu rapi. Hazelnya menerawang jauh. Mungkinkah Rukia akan menyusulnya? Apa yang sedang gadis itu pikirkan?
"Midget…" Ichigo bergumam. Entah kenapa dia ingin bertemu Rukia sekarang.
"Ada apa memanggilku, Jeruk?"
Ichigo langsung mendongak mencari sumber suara yang sangat di kenalnya. Suara yang baru saja dia pikirkan. Sebuah suara yang selalu mencerahkan hari-harinya. Terlihat Rukia sambil membawa koper yang sama dengan Ichigo. Tentu saja sang jeruk menatapnya heran.
"Rukia? Kenapa kau bisa ada disini?"
"Kenapa? Aku akan pergi ke London." Jawab Rukia seadanya.
"Hah?" Ichigo bengong, "Bukannya waktu itu kau tidak mau ikut?" Tanyanya lagi.
"Memangnya kalau aku bilang tidak setuju itu berarti aku tidak pergi? Dasar Jeruk B-O-D-O-H~!"
Ichigo tersenyum mendengar kata-kata Rukia. Ternyata memang sang bulan membutuhkan matahari yang selalu melindungi sinarnya. Tanpa basa-basi Ichigo meraih tubuh Rukia dan memeluknya, tanpa peduli dengan semua orang disana.
"Hey penggemar Chappy, mau jadi pacarku?" Bisik Ichigo lembut.
"Jujur saja aku lebih suka hubungan kita seperti ini, Jeruk."
"Kalau begitu, 'mau jadi istriku', Rukia?" Ichigo mengganti pertanyaannya. Dikecupnya mesra bibir mungil yang selalu bertengger manis diwajah Rukia.
Rukia membalas lumatan lidah Ichigo. Menciumnya dengan penuh cinta, kali ini dirinya tidak akan segan-segan berkata, "Tentu saja, Jeruk~"
Hari itu, Rukia memutuskan untuk ikut dengan Ichigo untuk tinggal di London. Ichigo menggenggam erat tangan Rukia dan menuntunnya menuju pesawat tujuan mereka. Dan dalam hitungan menit pun pesawat siap landas. Mereka pun meninggalkan kota Karakura untuk sementara.
Tidak terasa waktu pun berputar semakin cepat. Rasanya semuanya seperti sebuah dongeng. Dan tentu saja satu cerita yang sanggup memberikan mimpi untuk siapa pun yang mendengarnya. Roda kehidupan pun berputar seperti bumi yang tidak pernah lepas dari aktivitasnya. Manusia yang lahir setiap tahunnya. Dan juga cinta yang tumbuh di antara mereka.
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun tengah berlari menyusuri taman bermain di kota Karakura. Senja yang mengalunkan hembusan angin sepoi terasa begitu sejuk. Sinar redup yang disuguhkan terlihat begitu menentramkan jiwa. Seorang gadis tengah menikmati moment itu sambil duduk mengawasi sang buah hatinya yang tengah bermain dengan seseorang yang mirip dengannya. Ah, itulah sunset baginya. Dua buah matahari yang kini selalu menyinari hari-harinya. Kebahagian yang selalu dia nantikan selama ini kini telah digenggamnya.
Gadis itu menghirup udara begitu kuat, seakan tidak ada lagi udara yang akan dihirupnya. 7 tahun sudah berlalu sejak dirinya memutuskan untuk memberikan dirinya kepada seseorang yang dicintainya. 7 tahun pulalah hadir sang buah hati dari bukti cinta mereka berdua.
Pertemuan singkat secara tidak sengaja memang kadang selalu menimbulkan keajaiban. Pertemuan singkat di malam itu memulai awal dari segalanya. Tanpa disadari oleh mereka…
Sang gadis kembali terbuai dalam masa lalunya, mengingat kejadian-kejadian yang dia sendiri tidak pernah menyangkanya. Seulas senyum muncul dari kedua pipi mungilnya. Dirinya bergumam…
"Bertemu denganmu adalah awal dari segalanya…"
"Orange Sun & Chappy White"
~ F I N ~
~ Icchy's Corner ~
HUAAAAAAAAAAAAAA! AKHIRNYA INI CERITA TAMAT JUGA! DAN FIC PERTAMA ICCHY YG TAMAT! *nangis bahagia...
I LOVE HAPPY ENDING! *Ga ada yg tanya
I REALLY LOVE HAPPY ENDING! *Dibilangin ga ada yg tanya Plak!
Icchy ucapkan TERIMA KASIH BANYAK buat semua reader yg bersedia membaca cerita Gaje ini... ^^a
This is My Present For You In Valentine's day ~
Aizawa Ayumu Oz Vessalius
choco purple
greengroophy
So-chand cii Mio imutZ
yuuna hihara
Ichi Nightray
Yoshizo Kurochi
Ruki Yagami 'Upain Jeruk
aya-na rifa'i
Min-chan Cassiopeia
Wi3nter
2Phoenix7
Aika Ray Kuroba
Meyrin Mikazuki
ojou-chan
Sader VectizenIchi
Arlheaa
MeoNg
EJEY series
TravellingWilbury Lumeca
Raraa Ruuki-Chan Kuchiki
mamoru okta-chan lemonberry
Jee-eugene
Rio-Lucario
erikyonkichi
Merai Alixya Kudo
Kyucchi
Nana Kurosaki
Chappy Ruru
Kurosaki Miyuki
Ai 'Akira' Shirayuki
Aoi Mizuuhara
umi aoi
aka yamada
Lily Hikari-chan
SatsukiSodeNoMugetsu5
Yanz Namiyukimi-chan
Sayuukyo Akira Recievold
curio cherry
De Alice Kurosaki
Mikan kuchiki
Kianhe Tsuji
Ruki Poisonberry
Kurosaki Kuchiki
mieya chappyberry
Reina Rukii
n KAMU yg sudah membaca cerita ini :D
HONTOU NI ARIGATOU GOZAIMASHITA! *Bungkuk bareng IchiRuki
Dengan ini Orange Sun & Chappy White
T A M A T
*huhuhuu T_T
JANGAN LUPA REVIEW YAH ~
REVIEW DONG ~
KAN UDAH TERAKHIR
DOUMO ~ :D
SEKALI LAGI REVIEW ONEGAISHIMASU~! :D
