Akhirnya Ranz kembali dengan fic ini =="
Maaf ya kalau cerita yang kemarin itu sama sekali ga kena ke inti…
Maklum lah Ranz kan masih pemula =="
Btw, thx buat yang udah ngereview fics ini XD
Makasih atas masukkannya senpai-senpai sekalian *nunduk*
Ranz akan berusaha memperbaiki typo typo yang berserakan di fanfic ini XD
Tapi karena Ranz hanya manusia biasa, bila masih ada typos… maaf =="
Oke lah… kita mulai aja cerita gajenya
~checkidot~
Aku mencintainya…
Entah sejak kapan perasaan ini memenuhi jantungku…
Terus mengalir di nadiku..
Namanya terus terpikir di otakku…
Tuhan… biarkan aku mencintainya…
Biarkan aku mencintai dirinya…
Kurosaki Ichigo…
DISCLAIMER
BLEACH
By
Tite Kubo
This Fan fiction is mine :D
~chapter 2~
TENG TENG TENG
"Rukia-chan semangat ya! Kau pasti bisa!", gadis berambut coklat muda terlihat memberi semangat kepada temannya yang memiliki tinggi badan jauh dibawahnya dengan mata violet yang indah.
"ya… terimakasih Orihime…", gadis bermata violet ini membalas dengan senyuman yang indah. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Rukia pun beranjak menuju kelasnya yang ada di sebelah kelas Orihime sambil berusaha mengingat beberapa rumus matematika yang ada di otaknya. Namun tersirat di pikiran gadis ini tentang buku catatan matematikanya yang seingatnya masih dipinjam oleh Orihime. Rukia sebenarnya mau memberitahu Orihime kalau buku catatannya sebenarnya terbawa oleh sahabatnya sendiri tapi ia tak enak kepada Orihime. Sayangnya Rukia benar-benar lupa kalau kemarin sore dia habis melakukan sebuah tindakan antisipasi kepada buku catatannya dan akhirnya membuatnya bertemu dengan Ichigo. Yah~ setidaknya sampai beberapa detik lalu dia lupa…
"astaga! Aku baru ingat aku sudah mengambil buku itu dari laci Orihime!", Rukia berpikir sejenak. "Tapi entah mengapa saat aku mengeluarkan buku tak ada ya catatannya? Hmmm… bagaimana kalau buku ku hilang?"
Rukia melupakan kemungkinan itu dan berjalan menuju kelasnya dengan enteng. Mungkin dia berpikir mungkin saja dia menyelipkannya dalam tas. Tapi yasudahlah, sebentar lagi tes akan dimulai dan Rukia pikir dia sanggup mengerjakannya tanpa harus belajar.
SRAAAAAAK
Rukia membuka pintu kelasnya, tapi sepertinya ada yang aneh dengan pandangan teman-teman sekelasnya. Entah mengapa semua siswi memandang kearahnya, padahal sebelumnya tak ada yang terlalu perduli dengan tingkah laku Rukia. Biasanya teman-temannya hanya memandang ke Rukia kalau gadis ini mendapatkan nilai sempurna saat test, setelah itu yah sama sekali tidak peduli. Inilah salah satu alasan yang membuat Rukia kurang betah di kelasnya.
Rukia berjalan santai ke tempat duduknya dan berusaha tak memperdulikan pandangan teman-teman sekelasnya. Yah~ walau memang risih kalau dilihat seperti ini. Apa lagi kalau kau berpikir kau tidak memiliki salah dengan mereka kan? Dia duduk di kursinya, lalu menyiapkan buku-bukunya di atas meja.
BRAAAKK
Rukia kaget dengan suara itu. Ada sebuah tangan mungil yang mengebrak keras mejanya. Mata violet gadis ini memberanikan diri untuk melihat kearah wajah sang pemilik tangan itu. Dilihatnya sepasang mata ember, rambut coklat yang di-ekor kuda dengan tatapan penuh kebencian terhadapnya.
"A… ano… ada apa ya Fujikawa?"
"Kuchiki, aku tidak tahu ternyata kau yang pendiam ini tidak tahu diri juga ya!", gadis itu berkata dengan nada sinis.
"Tidak tahu diri? A… apa maksudmu? A… apakah aku berbuat salah?"
"Halah! Sudah ketahuan masih saja mengela! Aku punya buktinya!", wanita itu melakukan sedikit penekanan pada kalimatnya kali ini lalu menyerahkan sebuah buku yang sudah dipegangnya dari tadi di tangan kanannya kepada Rukia. "Buku catatan matematika-mu kenapa bisa sama Kurosaki hah? Kau berusaha mendekati dia ya?"
Rukia kaget. Dia baru sadar kalau buku yang ia cari dari tadi itu kemungkinan saja terjatuh dan Kurosaki menemukannya.
"Buku i… itu? Ke… kenapa bisa sama kamu sih?"
"Seharusnya aku yang bertanya! Dasar wanita kutu buku aneh, kau tahu tidak cara-mu mendekati Kurosaki itu memuakkan tau! Pura-pura meminjamkan buku catatan-mu, kau mau jadi wanita sok pintar ya Kuchiki? Kurosaki itu tidak butuh bantuan-mu tau!"
Rukia tak bisa membela diri. Padahal dia ingin sekali bilang kalau dia sendiri tak tahu mengapa buku catatan itu bisa ada pada Kurosaki. Tetapi Pak Urahara, guru matematika mereka sudah keburu datang. Senna pun meninggalkan Rukia dengan tatapan sinis seakan berkata 'lihat saja kau Kuchiki'.
Jam belajar untuk hari ini pun berakhir. Murid-murid SMU Karakura pun sudah berhamburan di luar sekolah. Cuaca hari ini yang sebenarnya cerah berubah menjadi mendung, jadi tidak heran banyak siswa yang ingin segera pulang karena takut kehujanan. Pemandangan berbeda terlihat di kelas 2-3, murid-muridnya masih ada yang sibuk mengerjakan soal ulangan matematika. Seharusnya mereka sudah mengumpulkan kertas ulangan mereka itu 10 menit yang lalu, tetapi entah mengapa guru matematika mereka masih memberikan waktu murid-muridnya berpikir.
"Oke… sudah 10 menit berlalu! Sekarang kumpulkan kertas ulangan kalian!", laki-laki berambut kuning pucat dan poni yang menutupi sebagian wajahnya mulai bertindak. Sementara murid-murid di kelas itu makin panic dan berusaha terus mengerjakan soal itu. Melihat tingkah murid-nya, dia mengeluarkan kipas lipatnya lalu mengibaskannya. "hohoho… memangnya soal itu terlalu sulit bagi kalian ya? Sudah saya kasih waktu tambahan 15 menit lho, kalau ada yang belum mengumpulkan kertasnya Bapak tidak akan menerima hasil ulangan kalian kali ini dan di 3x ujian yang akan datang lho!", dia berkata dengan santai.
Sontak semua murid mengumpulkan kertas ulangan mereka secepatnya. Semua orang tau kalau Urahara-sensei ini guru yang santai tapi tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Jadi kalau dia bilang seperti itu ya wajar semua murid pada ketakutan.
Akhirnya semua murid kelas 2-3 keluar dari kelasnya, hmmm… ralat! Belum semuanya, siswa yang hari ini piket masih harus membersihkan kelasnya *kasian banget ya* tapi untungnya hari ini Rukia tidak piket, jadi dia bisa pulang dengan santai. Tapi… sepertinya hal itu pupus sudah. Gadis bermata violet ini baru beberapa langkah meninggalkan gedung sekolahnya, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Malangnya Rukia, dia tidak membawa payung hari ini jadi dia memutuskan memutar arah ke gedung sekolah lagi.
*Ichigo POV*
Hujan hari ini benar-benar menyebalkan sekali. Kalau saja tadi Pak Ukitake itu ga nyuruh aku beres-beres lab biologi aku kan ga harus terjebak hujan seperti ini. Lagipula apa salahnya sih melepaskan katak penelitian? Lagipula katak itukan ingin hidup juga, kasian sekali kalau harus disimpan di dalam wadah tertutup dan berakhir di meja bedah dokter gadungan? Hmmm… yasudahlah, pasti ada siswa yang senasip denganku, dan ternyata pikiranku tepat! Di depan gedung ada seorang siswi perempuan berambut hitam yang sepertinya sedang menunggu hujan ini reda dan sepertinya aku kenal sosok wanita itu.
"Hoi Kuchiki!", aku memanggilnya dari kejauhan. Tapi entah mengapa sepertinya ia tidak meresponku. Apa dia tidak dengar ya?
"KUCHIKI-SAN!", aku mengeraskan sedikit volume suaraku berharap dia mendengar. Tapi lagi-lagi dia tidak merespon. Ada apa sih dengan gadis ini? Apa dia pura-pura tidak mendengarku? Aku akhirnya memutuskan mendekatinya dan menyentuhnya pundaknya dari belakang.
"KYAAAAAAAAA~~~~~~~~~~", gadis itu teriak aku kaget. Aku tidak menyangka responnya seperti itu. Padahal aku hanya menyentuh bahunya.
"Ku… Kurosaki-kun? Ka… kau mengagetkan…", gadis itu memasang wajah pucat yang memang terlihat lucu sekali. Tapi dari pada dia, sebenarnya aku yang seharusnya kaget. Aku hanya bisa sweatdrop.
"Maaf Kuchiki, tadi aku sudah memanggilmu dari jauh, tapi kamu tidak memberi respon… aku sama sekali tidak ada maksud untuk mengagetkan kamu kok…", aku melihat dia menggunakan headset kurasa itu-lah yang membuatnya tidak mendengar perkataanku. "Hmm… Kau sedang mendengar lagu ya? Pantas kau tidak mendengarku…"
"Ah? Si… siapa yang mendengar lagu?"
"Ya kamu lah, itu pakai headset… masa aku?"
"oh… ini… kata siapa aku lagi mendengar lagu? Memangnya kalau pakai headset harus mendengar lagu?", gadis itu tersenyum padaku. Wajahnya yang sedikit basah terlihat manis saat tersenyum.
"Oh… jadi aku salah ya? Ma… maaf ya…", aku menggaruk leher-ku yang sebenarnya tidak gatal.
Suasana-pun menjadi diam seketika. Aku heran kenapa aku bisa kehabisan kata-kata di depan gadis ini. Aku perhatikan wajah wanita bermata violet itu lekat-lekat. Kulitnya yang putih kontras dengan warna rambut hitamnya. Mata violetnya besar dan kurasa bila aku menatap langsung kemata-nya itu aku bisa merasakan apa yang ia pikirkan. Entah sejak kapan aku menjadi sedikit penasaran dengan gadis ini. Apalagi sepertinya dia sama sekali tidak mempedulikan keberadaanku. Aku penasaran dengan apa yang didengarnya. Aku ingin sekali mengambil paksa sebelah headset nya tetapi entah mengapa aku tidak enak.
BLAAAAAAAAAAAARRR
Suara halilintar itu mengagetkan aku. Tapi ada satu keganjilan yang aku rasakan, seharusnya seorang gadis bila mendengar suara halilintar akan teriak ketakutan. Apalagi gadis seperti Kuchiki ini, tadi saja aku pengang pundaknya dia sudah kaget. Tapi tadi saat aku melihat ke arahnya, dia hanya menutup matanya saat ada kilatan halilintar lalu kembali seperti biasa. Aneh…
"Kuchiki… sebenarnya apa yang kau dengar?", aku bertanya kepadanya tapi gadis itu sama sekali tidak memberi respon. Akhirnya aku memberanikan diriku untuk mengambi paksa sebelah headset nya.
"Ku… Kurosaki?", dia kaget.
"Aku penasaran lagu apa yang membuatmu tak perduli denganku!", aku memasang sebelah headset nya ke telingaku. Hei ternyata benar… ini bukan lagu! Di dalamnya terdapat rekaman suara seseorang yang berisi tentang motivasi. Rekaman itu berulang kali mengatakan 'KAU PASTI BISA! PERCAYALAH! KAU PASTI BISA!'.
"su… sudah ku bilang kan? i… ini bukan la…lagu…", wajah gadis itu memerah lalu mengambil tangannya bermaksud mengambil sebelah headset yang ada di telingaku.
"Tunggu! Aku mau mendengar juga…", aku menahan tangannya. Aku memperhatikan wajahnya yang merah dan memandang dalam ke arah matanya. Sepertinya aku sekarang bisa melihat espresi-nya yang mengatakan 'aku malu, ku mohon jangan dilanjutkan' sungguh gadis yang unik.
"Ku… Kurosaki… a… aku…", dia menarik tangannya yang ada di genggamanku. "a… ano… maaf…"
"Kuchiki… kau lucu ", aku menggodanya.
*end of Ichigo POV*
Hari ini kota Karakura sedikit lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena sekarang sudah memasuki awal Desember. Walau memang masih terhitung musim gugur, tapi udara dingin sudah mulai menusuk kulit. Siapa yang tahan keluar rumah tanpa memakai baju penghangat saat ini.
Sesosok gadis yang mengenakan sweater rajutan bergambar kelinci chappy berjalan santai menyusuri tiap lekukan jalan di kota Karakura. Wajahnya sepertinya sedang senang sekali. Suasana hatinya dapat terlihat jelas dari kedua mata violetnya yang berbinar. Sepertinya gadis ini masih mengingat kata-kata orang yang dia sukai kemarin. 'kau lucu ya Kuchiki', kata-kata itulah yang terus ada di dalam benaknya.
"Rukia-chaaaaaaaaaannnnnnnnn~~~~~~", suara itu mengagetkan Rukia.
"Orihime? Kenapa?"
"Hosh… aku… hosh… menjemputmu ke rumah… hosh… tapi kau tak ada!", gadis bermata coklat yang senada dengan warna rambutnya ini berbicara sambil mencari udara untuk bernafas.
"Aku pikir kau berangkat dengan Ulquiorra, biasanya begitu kan?"
"Hn? Memangnya tidak boleh ya kalau aku berangkat sekolah bersamamu? Aku bosan berangkat bersamanya terus…", wajah gadis ini berubah dari yang awalnya bersemangat menjadi layu.
Mereka berdua menyusuri kota Karakura pagi itu, saat pagi hari kota ini tidak terlalu padat *ralat, kota ini memang tidak padat kapanpun* sampai akhirnya mereka tiba di SMU Karakura. Terlihat suasana sekolah ini sudah mulai ramai dengan murid-murid yang baru datang. Jam pelajaran sebenarnya baru dimulai 15 menit lagi. Kedua gadis ini pun berjalan menuju loker mereka masing. Terlihat wajah salah seorang dari mereka sangat lesu dan tak bersemangat. Sepertinya jarang sekali gadis berambut coklat ini menampakkan wajah sedihnya.
"Orihime… kau lagi ada masalah dengan tuan hantu berjalan itu ya?", Rukia memasang wajah penasarannya. Tapi pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu dijawab, karena Rukia sudah tau jelas apa yang ada di pikiran teman dekatnya ini.
"Gyaaaaaaaaaa… Rukia? Sudah ku bilang jangan panggil Ulquiorra dengan sebutan itu!"
"Habis mau bagaimana lagi? Wajahnya itu kan memang pucat sekali seperti hantu…", Rukia menjawabnya dengan enteng. "Kenapa lagi Orihime? Aku tahu kau ada masalah dengannya…"
"Hn? Mungkin benar Rukia… Aku dan dia sedang ada masalah… hehehe…", gadis itu tersenyum dengan sangat memaksa.
"Ceritakanlah padaku, ku harap aku bisa memberimu sedikit masukan "
"Hmmm… Terima kasih Rukia, tapi sebenarnya ini masalah kecil kok… aku tidak mau…"
"Tenanglah Orihime! Kau sama sekali tidak merepotkanku, justru bila kau murung seperti ini aku merasa tidak enak…", gadis bermata violet ini tersenyum kearah sahabatnya. Senyuman yang keluar dari bibir mungil Rukia-pun berhasil menyihir Orihime untuk 'sedikit' lebih semangat sekarang.
"Baiklah Rukia-chan, aku mau cerita kepadamu… tapi kupikir nanti saja saat istirahat. Sekarang jam pelajaran akan segera di mulai dan aku tidak ingin Rukia-chan telat masuk ke kelas karena aku ^^"
"Oke! Aku akan menunggumu di atap!"
Waktu istirahat di SMU Karakura. Suasana sekolah ini menjadi sedikit ribut dari sebelumnya. Beberapa anak memilih untuk menghabiskan waktunya di halaman sekolah untuk memakan bekalnya atau hanya sekedar jalan-jalan walau udara hari ini memang terbilang dingin. Sebagian murid yang tidak suka udara dingin sibuk berebut makanan di kantin dan yang lainnya hanya ada di sekitar lorong sekolah dan kelas mereka. Ada yang sibuk dengan kegiatan organisasinya, bergosip dengan anak kelas lain atau hanya sekedar menggoda siswa yang tak sengaja berpapasan saat berjalan. Tapi hari itu semua mata siswa SMU Karakura tertuju pada satu hal yang sangat langka ditemui. Seorang idola Ichigo Kurosaki sedang berjalan berdua dengan gadis yang jadi idaman para siswa laki-laki di sekolah, Orihime Inoe.
Sebenarnya wajar saja mereka jalan berdua, mereka kan satu kelas. Lagi pula mereka sama-sama siswa yang popular di sini. Kalau memang mereka jadian siapa yang dapat mengganggu hubungan mereka? Mereka itu terlihat sangat serasi berjalan berdua. Hanya saja ada hal yang mengganjal, semua orang tau kalau Orihime Inoe sedang menjalin hubungan dengan seorang murid SMU terkenal khusus laki-laki, sedangkan Ichigo? Menerut desas desus SMU Karakura, Ichigo masih ada di dalam ikatan mantan pacarnya, Senna Fujikawa. Barang siapa yang mendekati Ichigo akan berurusan dengan Senna dan seluruh anggota Ichigo FC. Hii~ siapa sih yang mau dibenci hampir seluruh siswa di sekolah hanya karena berani mendekati Ichigo? Tapi kalau gadis itu adalah Orihime Inoe lain lagi ceritanya, karena mungkin bila Ichigo FC berani menyerang Orihime maka akan terjadi perang dunia ketiga antara Ichigo FC dan Orihime FC *Author lebay*.
Tapi di sisi lain keramaian di SMU Karakura, ada sesosok gadis mungil yang sedang menunggu sahabatnya di atap. Gadis berambut coklat ini asik membaca novel misteri yang kemarin baru ia pinjam dari perpustakaan SMU Karakura. Terlihat bekalnya masih terbungkus rapi tanda belum di buka. Sepertinya gadis bermata violet ini sengaja menunggu sahabatnya datang untuk memakan bekal bersama.
CKLEEK
"Rukia-chan… maaf menunggu lama!", suara itu mengagetkan Rukia yang sedang asik membaca. Dilihat nya dari balik bukunya, dan ternyata itu benar sahabatnya. Hei! Tapi tunggu, Orihime datang bersama seseorang. Seseorang yang sangat didambakan Rukia hanya saja dia juga enggan untuk menatapnya langsung. Seseorang yang mampu membuat Rukia bertindak bodoh bila ada di dekatnya, Ichigo Kurosaki.
"Konichiwa Kuchiki…", Ichigo tersenyum kepada Rukia. Sungguh membuat Rukia terhanyut di dalam senyumannya.
"Rukia, aku mengajak Kurosaki untuk makan siang bersama ^^, kau tidak keberatan kan?"
"E…eh? Ti… tidak kok, ha… hanya saja O… Orihime bu… bukankah kau…", Rukia benar-benar gugup sekarang.
"Hmmm… iya, aku mau cerita kok! Karena itu aku mengajak Kurosaki untuk ikut bersama ku, sebenarnya di kelas aku lumayan sering cerita juga dengan Kurosaki. Kurosaki ini orangnya asik untuk di ajak curhat, makanya aku ingin bercerita kepada kalian berdua sekaligus…"
*Rukia POV*
Sungguh aku sangat kaget dengan kedatangan Orihime ke sini bersama Kurosaki. Kaget dari segala sisi. Sebenarnya aku sama sekali tidak menyangka kalau Orihime itu dekat dengan Kurosaki. Tapi wajar saja sih, temanku yang satu ini kan memang popular jadi wajar kalau dia dekat dengan Kurosaki yang tidak kalah popolernya. Tapi entah mengapa jauh sekali di dalam lubuk hatiku aku merasa… cemburu?
"Hmmm… kita cerita sambil makan bekal saja yuk^^, kenapa kalian dari tadi hanya diam saja?", Orihime berusaha memecahkan suasana. "Oh iya! Aku lupa, kalian belum saling mengenal ya? Kenapa tidak berkenalan?"
"Sudah kok Inoe, aku sudah beberapa kali bertemu dengan Kuchiki.", Ichigo menjawab simple. Aku tak tau kenapa dengan jantungku. Aku tak tau harus senang atau sedih mendengar kata-katanya itu. Di satu sisi aku senang karena Kurosaki mengingat namaku, tapi di sisi lain aku sedih karena sepertinya dia tidak memberi respon positif atas ajakan Orihime tadi. Tapi… aku ini memangnya siapa sih?
"I… Iya… aku juga sudah tau Kurosaki kok… hehehe", aku tersenyum pahit.
"Eh… Rukia bawa bekal apa? Sepertinya enak! Masak sendiri ya?"
"E… eh… ini hanya ayam yang digoreng dengan tepung sih, ka… kalau Orihime mau mencobanya silahkan saja…"
"Baiklah, dengan senang hati ^^" gadis itu pun mengambil sepotong lauk milik-ku yang kusebutnya 'ayam tepung' tapi penampilannya lebih mirip ayam katsu."Huwaaaa… enak sekali ,! Rukia jago masak ya~~"
"Orihime~ kau terlalu berlebihan^^ hehehe" aku tersenyum dan kurasa aku sedikit merasa tersanjung dengan kata-kata sahabatku itu. Sejenak aku alihkan pandanganku ke Kurosaki, sepertinya laki-laki itu tidak membawa bekal hari ini. Rasanya aku ingin menawarkan sedikit bekal-ku kepadanya karena aku juga tidak merasa lapar, hanya saja aku tidak memiliki keberanian untuk menawarkannya.
"Hn? Kurosaki tidak membawa bekal ya?"
"Ah? I… iya, aku kurang suka membawa bekal kalau ke sekolah sih Inoe. Lagi pula aku kan tinggal sendiri, mana sempat aku menyiapkan bekal, hehehe" Kurosaki tersenyum dan hal itu semakin membuatku merasa terpojok dalam percakapan hari ini. Sepertinya Kurosaki benar-benar dekat dengan Orihime.
"Bagaimana kalau kau makan bekal-ku saja? Aku tidak lapar sih sekarang Kurosaki… anggap saja sebagai tanda terimakasihku karena sudah mau mendengarkan ceritaku saat ini." Orihime tersenyum kepada Kurosaki. Sekarang entah mengapa aku merasa aku sudah jauh di dahului oleh Orihime. Tapi tenang Rukia~ Orihime itu kan sudah punya Ulquiorra Schiffer, putra tunggal pemilik perusahaan Schiffer yang sangat terkenal itu. Kurang apa lagi sih si Ulquiorra itu?
"Hn? Kuchiki, kau juga kenapa tidak memakan bekalmu?" suara itu mengagetkanku. Aku akhirnya tersadar kalau dari tadi aku sama sekali tidak memakan bekalku dan hanya terpaku melihat kearah Orihime dan Kurosaki. Aku pun menyadari kalau Kurosaki memperhatikan aku. Kyaaaaaaa~~~ kumohon jangat lihat kesini Kurosaki!
Aku merasa bingung akan melakukan apa bila dipandangi seperti ini. Aku masih ingat saat kemarin kami menunggu hujan bersama di sekolah. Untung saja sindrom fallinKurosaki tidak kambuh kemarin. Tapi ku harap keberuntunganku kemarin akan terulang lagi hari ini.
*End of Rukia POV*
"Menurut kalian… apa maksudnya bila dia berkata 'entah mengapa aku sudah mulai bosan dengan hubungan ini' kepadaku, apakah dia ingin mengakhiri hubungannya denganku?", Orihime tiba-tiba memecah suasana yang tadi mulai sedikit tegang.
"Eh? Si hantu bilang seperti itu padamu Orihime?", Rukia terbelalak dan menjatuhkan sumpit nya yang tadi ia pegang. Orihime mengangguk kecil meng'iya'kan pertanyaan temannya itu.
"Hm… ku pikir laki-laki seperti dia itu sudah tidak bisa diharapkan lagi Inoe…" Ichigo berbicara blak-blakan. Sepertinya dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Orihime. "Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, toh kalau pun dia memang ingin putus denganmu masih banyak laki-laki yang menanti mu kok, yang mungkin jauh lebih baik dari pada si Schiffer itu."
Laki-laki berambut orange itu menatap Orihime dengan tatapan yakin dengan apa yang ia katakana. Gadis berambut panjang ini entah mengapa menjadi terhipnotis dengan tatapan Ichigo. Dia menjadi lebih semangat dan dapat menerima kenyataan kalau-kalau kekasihnya benar-benar akan meninggalkannya. Mungin diantara mereka bertiga hanya ada satu orang yang benar-benar merasa dipojokkan di saat ini. Ya~ Rukia hanya bisa melihat dan tak dapat berpendapat banyak. Tapi di dalam lubuk hatinya sebenarnya dia memiliki segudang pendapat yang tertahan di lidahnya dan akhirnya ia tak dapat menyatakannya.
"Rukia… menurutmu bagaimana?" Orihime bertanya dengan lembut ke Rukia. Mungkin karena pertanyaan Orihime ini, lidah Rukia yang tadi kekeh tak ingin berkata apa-apa akhirnya melunak.
"Aku pikir, belum tentu si Hantu itu benar-benar ingin putus kepadamu. Mungkin saja dia menginginkan sedikit perubahan dari hubungan kalian. Tapi, bila dia benar-benar ingin putus denganmu memangnya apa hal yang menyebabkan itu? Bila tak ada… aku yakin kata-katanya sama sekali tak menjorok kearah 'putus'…" akhirnya Rukia bisa mengeluarkan argumennya yang memang cukup berbeda jauh dengan argument milik Ichigo tadi. Tapi dua argument itu cukup kuat dan memiliki alasan yang masuk akal, hal tersebut semakin membingungkan Orihime. Wajah positif-nya kini berubah menjadi wajah penuh tanya.
Mengetahui perubahan wajah Orihime, kedua orang sahabatnya ini pun bingung untuk mengambil kesimpulan yang tepat untuk jalan keluar masalah ini. Mereka berdua sama-sama tak ingin pendapatnya disalahkan tetapi mereka juga mengakui kalau pendapat dari pihak lawan itu benar. Yang lebih pentingnya lagi, mereka berdua sama sekali tidak ingin membebani Orihime yang sekarang sedang sedih.
"Yah~ Untuk tau kepastiannya lihat saja nanti apakah dia menjemputmu atau tidak..." kedua orang ini bicara bersamaan.
"FLIP!" gadis berambut hitam dengan mata violet mengeluarkan kata-kata aneh.
"Ah? Apa itu maksudnya flip?" Ichigo memandang aneh kea rah Rukia berusaha ingin tau tentang apa yang Rukia lakukan.
"Ah… bukan apa-apa… hanya kepercayaan saja, katanya kalau kita tidak sengaja berbicara bersamaan dengan seseorang lalu kita berbicara 'flip' segera sebelum lawan bicara kita maka kita akan mendapat keberuntungan."
"Hahahaha… Kuchiki, aku tak tau kau itu percaya dengan mitos." Ichigo menertawai tinbgkah Rukia. Sedangkan Rukia hanya bisa blushing dan tak bisa berkata apa-apa lagi karena diperhatikan oleh Ichigo.
"a… ano…Terimakasih teman-temanku… kuharap saat pulang sekolah nanti aku bisa tau kepastiannya ^^" gadis berambut coklat panjang ini memecahkan suasana dan tersenyum lebar kearah kedua temannya itu.
Secret of my heart, you understand, right?
everyone feels like they want to escape sometimes but if that's all we do, then nothing can begin
I can't say, but surely, absolutely
I'm calling for a chance
Can I tell the truth?
these words I cannot speak hover around my lips
Feel in my Heart, I just can't hide any more than this…
Cause I love you...
Bersambung…
Makasih buat yang udah baca fic Ranz yang gaje dan ribet ini…
Mohon review nya ya ^^
Maaf belum bisa masuk ke inti cerita =="
Masih terlalu ribet awalnya ya?
Hiks… Ranz memang baka dan tak berbakat =.=
*bersiap harakiri*
Tapi walau abal bin gaje… Ranz tetep semangat nulis fic ini :3
Makasih buat Senpai-Senpai yang udah ngasih semangat ke Ranz untuk nulis xD
Sekarang Ranz akan sedikit membahas review dari Senpai yang menyempatkan waktunya untuk mereview cerita gajenya Ranz XD
Searaki Icchy :
Terima kasih atas sambutannya *blushing*
Ok deh, di chapter ini Ranz berusaha buat ngebenahin typos nya ^^ (walau masih tetap banyak typos bersebaran)
Maaf ya Ranz updatenya kurang tepat waktu ==" abis lagi sibuk TO, LUN, ujian praktek de-el-el, maklum Ranz sekarang udah mau UN :3 *ga ada yang nanya Ranz…=="*
Erikyonkichi :
Hohoho… terima kasih atas pujian Senpai *sembah sujud*
Ok, Ranz akan memperbaiki typos yang berserakan itu di chapter ini :3
Thx atas reviewnya Senpai XD
Kianhe Tsuji :
Hoho… terimakasih sambutannya Senpai *blushing lagi*
Panggil aku Ranz aja :3
Iyah, Ranz buat Rukia sedikit OOC disini biar ceritanya jadi lebih berbumbu XD
*plaaaaakk
Reiji Mitsurugi :
Iya, salam kenal juga Senpai :3
Thanks masukannya, Ranz akan berusaha mengurangi typos yang berserakan itu di chapter ini dan lebih teliti sebelum cerita di publish :D
Makasih udah menunggu update-nya, walau memang sedikit lama… maklum lah Ranz lagi sibuk TO, LU… *dibekep Ichigo* mphhh
Yurisha-Shirany Kurosaki :
Iya, salam kenal Senpai :3
Begitulah… Ranz masih baru di dunia fanfic, masih belum tau apa-apa
*Inocent mode : ON*
*ditendang Tatsuki ke Jepang*
Terimakasih banyak atas masukan Senpai… XD akan Ranz usahakan mengurangi typos-nya di chapter ini
Iya nih Ranz udah berusaha buat update kilat, tapi karena Ranz lagi sibuk TO, LU… *dicekik sama Ishida* aghgghhh! *semaput*
Ai 'Akira' Shirayuki :
Iya, ini fic pertama Ranz
Makasih atas pujian Senpai… XD *kepala membesar 2x lipat*
Iyah, Ranz udah berusaha update kilat nih… tapi karena alasan yang Ranz sebutkan di atas jadinya sedikit tertunda *Author kapok disiksa jadi ga bisa jelasin alasan panjang lebar*
De Alice Kurosaki :
Gapapa kok Senpai, Ranz berterima kasih banget karena sudah mereview fanfic yang gaje ini XD *sembah sujud*
Enggak kok, Ichigo ga suka dengan dia sekarang ini XD
Tapi, dulu mungkin pernah…*ditimpukin Ichiruki FC*
Di chapter ini sudah ketahuan sebenarnya Senna itu siapa :3
Murasame Hiru15 :
hohohohoho , thax yaaa senpai~~
iyah ni, aku bikin Rukia sedikit OOC dan malu-malu di depan Ichigo
pengen nampilin sisi imutnya Rukai~
*dibankai Rukia*
MAKASIH UDAH REVIEW FIC GAJE BIN ABAL INI YA SENPAI
RANZ MOHON REVIEWNYA LAGI YAAAAAAAAAAA~~~
*teriak pake toa*
NYAAAAAAAAAA… NYAAAAAAAAAAAAA~~~ *teriak teriak gaje*
ZLEEEEBBB *ditusuk zangetsu karena terlalu ribut*
