"MAAFKAN KETERLAMBATKAN UPDATE Q INI YA . . . !"

Reader yang baik, semuanya masih mau nunggu fic ini kan? –buaghh- PD banget loe author sinting? T.T Hm, mungkin aku bakal lama update fic ini dan fic-fic q yang lainnya. Aduh,jadi merasa banyak fic, padahal kan Cuma 4, hehehehe ^o^ Aqu gak nyangka banget kalau kelas 9 itu jadwal q padet, baru masuk udah banyak tugas yang menumpuk, belum lagi masalah yang selalu datang bertubi-tubi. Sumpah ! aku gak punya ide selama chap 4 ini, mudah-mudahan ada yang review, berharap ada yang suka, maaf kalau chap ini lebih buruk dari chap sebelum-sebelumnya T_T

"Aku sudah bilang aku tidak apa-apa. Dan soal permintaanku tadi pagi, anggap saja aku tidak pernah memintanya. Jadi sekarang lepaskan aku." jawab Temari yang sepertinya . . marah?

Disclaimer : Naruto always Masashi Kishimoto

Pairing : Shikatema

Rated : T

DON'T LIKE, DON'T READ !

Special request from Klan Nara 'madi'

Shikamaru masih termenung di kamarnya, menatap langit-langit. Dia memang ada di kamar, tapi pikirannya sedang menerawang jauh pada kejadian saat dia di sekolah tadi. Ingatkah kalian? Temari tiba-tiba membatalkan permintaannya dan dia sepertinya ngambek? Kenapa ya? Itulah yang sedang cowok rambut nanas satu ini pikirkan. Sejak istirahat sampai pulang pun Temari tidak berbicara pada Shika, lebih tepatnya mengacuhkan Shika.

"Apa salahku sih? Sampai-sampai dia mengacuhkanku seperti itu?"

"Mungkin kau menjahatinya, sampai hatinya sakit dan mengacuhkanmu?" innernya menyahuti.

"Tidak! Sebelumnya dia biasa saja, kejadian itu terlalu tiba-tiba,"

"Hm, aneh juga ya? Coba kau ingat-ingat lagi, siapa tau ada perbuatanmu yang menyinggung hatinya?"

Shikamaru mengingat seluruh kegiatannya bersama Temari dari pagi sampai insiden ituterjadi, bahkan darim pertama mereka bertemu. "Ada, tapi kejadian saat pertama, saat aku bertabrakan dengannya dan itupun dia sudah memaafkanku,"

"Perkataan?"

"Perkataan? Seingatku aku tidak berkata apa-apa yang bisa menyakitinya. Paling hanya 'wanita cerewet' saja, dia juga memanggilku 'rambut nanas'. Jadi bukan itu kan?"

"Pokoknya dia sampai marah seperti itu pasti karenamu, karena kau orang terdekatnya,"

Orang terdekat? DEG ! "Atau jangan-jangan-" Shikamaru mengingat saat dia bilang Temari hanya temannya, "tapi memang dia hanya temanku, masa karena itu sih? Tidak mungkin !"

"Bodoh! Wanita itu berbeda dengan pria,lebih sensitive. Sudahlah, kau telpon saja dia,"

"Benar juga," Shikamaru lalu bangkit dan menyambar hp yang tergeletak di meja bejajarnya dengan tergesa-gesa, *sejak kapan dia jadi seperti itu sih?* lalu dia mensearch nama 'Temari', seketika dia terkulai lemas "aku tidak punya nomer hpnya,"

"Bodohnya dirimu wahai Nara Shikamaru, tanya saja temannya, lalu minta nomer Temari. gampang kan?"

"Oh iya, mengapa aku sebodoh itu sih?" Shika pun mengirim sms pada Tenten yang notabene teman sebangku Temari.

To : Tenten (0856XXXXXXXX)

Hoi Tenten, kau punya no'nya Temari tidak? Kalau punya aku minta dong !

Shika pun memencet tombol send. Dengan perasaan gelisah dia menunggu balasan dari tenten. Sejurus kemudian hp Shika berdering, pertanda sms masuk. Shika pun dengan cepat menyambar hp dan melihatnya.

From : Tenten (0856XXXXXXXX)

Ada, memang kenapa? Nih, 0856XXXXXXXX. Buat apaan tuh? Mau janjian ya? Cieeee . . . .

"Hah bodoh! Boro-boro janjian, dia kan sedang marah denganku," gerutu Shikamaru sambil mengetik sms balasan.

To : Tenten (0856XXXXXXXX)

Kau ini! Hn, arigatou.

"Sebaiknya aku telepon Temari atau aku sms saja dia? Hmm. . ." Saat Shikamaru sedang menimbang-nimbang, hpnya bordering.

From : Tenten (0856XXXXXXXX)

Yup . . ;D

"Akh tidak penting," Shika menggerutu sambil menimbang-nimbang lagi.

"Telepon saja, kalau di sms kemungkinan dia tidak akan membalas," inner Shika berkata lagi. (Shika hebat ya bisa ngobrol sama inner? Hahahaha)

"Benar juga," dengan tergesa-gesa Shika mencari kontak Temari yang baru dia save. Lalu menekan tombol call. "tuutt . . tuuuttt . . ." dengan sabar Shika menunggu Temari mengangkatnya.

"Hallo," terdengar jawaban dari seberang sana.

"Ha-hallo, kau Temari kan?" jawab Shika yang entah kenapa menjadi gemetar.

"Iya, ini siapa ya?" tanya orang di seberang sana-Temari.

"A-aku, Shi-Shikamaru," jawab Shika terbata-bata.

"Tut . . . tut. . .tut . . ." terdengar suara lain, telepon ditutup. "Akh sial! Dia benar-benar marah padaku," geram Shikamaru sambil membanting hp dan dirinya ke kasur. "tidak kusangka dia marah sampai segitunya padaku, aku harus gimana ya?" Shikamaru melamun lagi.

Kalau dipikir-pikir, dia dan Temari belum kenal lama. Dan dulunya dia tidak memperdulikan Temari, toh hanya Temari? Wanita biasa yang kini mulai hadir mengisi ruang hampa hati Shikamaru. Rrrrr. . . tunggu? Bukannya dia bilang cinta itu merepotkan? Lalu kenapa sekarang dia rela repot-repot uring-uringan kesana-kemari hanya untuk meminta maaf pada Temari? yang dia juga tidak tahu apa kesalahannya. Yang dia tahu hanya meminta maaf dan diotaknya kini dipenuhi Temari.

"Hello Shikamaru, dia itu hanya Temari, kenapa kau sampai repot sendiri sih? Bodoh!" Shikamaru mengumpat pada dirinya sendiri, "tapi aku tidak yakin kalau aku bodoh, memangnya salah aku menyimpan perasaan pada wanita? Aku juga seorang laki-laki bukan? Wajar dong," Shika berbicara pada dirinya sendiri, bukan dengan inner. *Shika hari ini gak waras ya? –kagemane-*

"Jadi sekarang ini aku harus bagaimana? AKHHH! Cinta memang merepotkan!" gerutunya, saking lamanya dia berpikir, tidak terasa dia sudah terlelap.

xxXXxx

"Hoi Shika! Shika bangun! Shikaaaa!" teriak Shima-kakak perempuan Shika yang terlihat agak garang sedang mengguncang-guncang tubuh Shika, niatnya sih membangunkan, tapi kalau dilihat baik-baik, seperti menganiaya. "AKU BILANG BANGUN SHIKA!" teriaknya sekencang-kencangnya di kuping Shika.

Shika pun melonjak kaget dan jatuh gerguling ke dari kasur. "Hah? Apa Temari?" Saking kagetnya, dia tidak sadar memanggil kakanya dengan nama "Temari". Hm, jangan-jangan mikirin Temari sampai ke mimpi tuh.

"Eh? Siapa itu Temari? makanan? Hewan? Mall baru? Hah?" tanya kakaknya yang mulai ngawur sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kakinya menendang-nendang badan Shika.

"Singkirkan kakimu neechan," Shika mulai geram, kakaknya meminta maaf sambil cengar-cengir, seperti tidak ada dosa, "Temari itu cewek," lanjut Shika kecut.

"Hahahahaha, cewek? Gak salah tuh? Kau memimpikan cewek?" tawa Shima makin menjadi-jadi, "kamu sekarang mulai tertarik dengan cewek? Seorang Nara Shikamaru mulai jatuh cinta? Bukannya di kamusmu tidak ada kata cinta? Yang ada cinta itu merepotkan, eh?" Shima meledek Shika.

"Terserah, yang penting sekarang neechan keluar dari kamarku," ujarnya ketus.

"Oke-oke, yang jelas aku sudah membangunkanmu, oh ya, hanya mengingatkan, sekarang sudah jam setengah 7," lalu Shima-nee pun meninggalkan kamar Shika.

"Baru jam setengah 7 aja dibangunin, payah!" Shika membaringkan tubuhnya lagi, "eh? Jam setengah 7? GAWAT!" Shika segera bangkit dari berbaring dan menuju kamar mandi. *sensor*

-Di ruangan bawah-

"Huh, aku bilang juga sudah setengah 7, ngeyel sih!" gerutu Shima.

"Aduh, adikmu itu tadi malam baru tidur jam 3, makanya bangun kesiangan, janganlah kamu marahi dia, kasihan," ujar ibu Shikamaru.

"Iya, gak bisa tidur gara-gara mikirin siapa tuh? Temari? iya!" tambah Shima sambil melahap sarapannya.

"Siapa itu Temari?" tanya ibunya yang heran juga kaget.

"Kata Shika sih, Temari itu cewek," jawab Shima enteng.

"Cewek? Shika mikirin cewek?" ayah Shika pun ikut nimbrung.

"Iya. Orang Shika sendiri yang bilang sama aku," Shima meyakinkan kedua orang tuanya yang tidak percaya itu.

"Akhirnya Shika jatuh cinta juga," ujar kedua orang tuanya.

"Siapa yang jatuh cinta, sih?" tiba-tiba datang Shika dari lantai atas yang sedang tergesa-gesa. (terlambat boo . .) "aku berangkat dulu ya!" lanjutnya dan bergegas pergi ke sekolah.

"St . . stt . . stt . . teman-teman, Shika kenapa sih? Dia aneh deh sekarang," ujar Ino, seketika teman-temannya melirik kea rah Shika.

"Iya yah, dia aneh," ujar Sakura.

"Dia banyak berubah," tambah Tenten

"Biasanya dia tidur, ini malah bengong," ujar Chouji

"Tiap hari mukanya emang kusut, tapi hari ini tambah kusut," celetuk Naruto.

"Itu sih bukan perubahan, payah kau Naruto!" Kiba menjitak Naruto.

"Eh, kita tanya Temari saja, bukannya belakangan ini mereka dekat ya?" saran Sai.

"Ah betul juga! Ayo!" semuanya setuju.

Segerombolan itu pun menghampiri Temari yang sedang sibuk mengerjakan suatu pekerjaan di laptopnya. Merasa ada ada yang datang, dia pun segera menutup laptopnya.

"Ngg . . ada apa ya?" Temari yang risih pun bertanya.

"Kami ingin bertanya soal Shikamaru," jawab salah seorang dari mereka. "belakangan ini Shika aneh, dia-"

"Maaf aku masih ada urusan, permisi," Temari memotong pembicaraan dan langsung pergi meninggalkan segerombolan makhluk yang terpaku.

"-kenapa?"

Shikamaru POV

Apa aku terlihat aneh hari ini? Kenapa semua orang bilang aku ini aneh? Aku punya masalah? Ya! Masalahku dijauhi oleh seorang gadis cerewet yang telah mengganggu hidupku, Sabaku no Temari.

"Shika, kau ini kenapa sih? Hari ini kau aneh sekali," tuh kan, apa aku bilang, Ino dan teman perempuan lainnya kini menghampiriku. Sekedar menanyakan keadaanku, merepotkan sekali bukan?

"Hn?" kunaikan kedua alisku.

"Jangan hanya 'Hn', ayo jawab, kau kenapa Shika?" kini Sakura malah terlihat seperti polisi yang tengah mengintrogasi penjahat. Panjahatnya? Ya aku ini.

"Kau tidak perlu bertingkah seperti polisi seperti itu, mengintogasiku. Memangnya aku terlihat seperti penjahat, hah?" aku malah balik bertanya padanya.

"Sudahlah Shika, kau tidak usah mengalihkan pembicaraan. Ceritakan saja," Tenten mulai memaksaku. Hah, aku ini seperti apa ya? Dikelilingi gadis menakutkan seperti ini. Mendokusei!

"Aku harus cerita apa? aku kan kemarin tidak kemana-mana, dan juga aku tidak tahu berita tentang artis, jadi apa yang harus aku ceritakan pada kalian? Diary? Aku bukan wanita yang repot-repot menulis diary," kening mereka mulai berkerut. Loh? Bukannya wanita memang suka cerita hal-hal seperti itu?

"Ummm, apa kau ada masalah dengan Temari-chan?" DHEG! Pertanyaan Hinata membuatku terpojok.

"…." Aku hanya menggeleng.

"Ayolah Shika, kau tidak usah bohong pada kami, kami ini perempuan, sikap Temari dan kau itu tidak seperti biasanya. Apa terjadi sesuatu?" Sakura memang benar, sikap kami berdua aneh.

"Mana pantas seorang pria bercerita pada seorang wanita?" tiba-tiba Sasuke dan kawan-kawan datang menghampiri. Tidak wanita, tidak pria, semua mengelilingiku, aku berasa seperti anak hilang saja.

"Ya, gengsi dong," Sai menambahkan.

"Sudahlah, kalian para gadis sebaiknya ke kantin saja,ini urusan laki-laki. Bahasa kerennya Man to Man, hehe," si bodoh Naruto berbicara sambil nyengir lebar.

Setelah para gadis pergi, Kiba memulai pembicaraan, "Kau harus gentleman Shika, kalau suka bilang suka," Uhuk! Uhuk! Aku terbatuk-batuk saking kagetnya mendengar perkataan Kiba. Suka? Sok tahu sekali dia, memangnya dia peramal apa?

"Bodoh!" 5 jitakan mendarat di kepala Kiba, "kau ini apa-apaan? Kok to the point gitu sih?" Gubrak! Ternyata memang itu tujuan mereka.

"Su-su-ka? Siapa yang suka dengan dia sih? cih!" umpatku.

"Kau jangan seperti itu. Hukum karma tetap berlaku. Dulu aku juga begitu, tapi nyatanya?" Neji mulai menasehati layaknya seorang ayah.

"Ya, Neji benar. Jujur, kau suka Temari kan?" Chouji memojokanku.

"Iya kan?" Naruto malah mendekatkan mukanya padaku, jijik aku!

"Dengarkan kata hatimu Shika," Sai berkata sambil tersenyum.

"Cepat tangkap, sebelum dia lepas lagi," Perkataan Sasuke simple, tapi artinya sangat dalam.

"Baiklah, baiklah. Aku mengakui, semenjak dia ada disini, entah kenapa aku selalu ingin dia ada di dekatku dan menemaniku. Entah perasaan apa itu, namun aku cukup terganggu dengan adanya perasaan asing itu," aku pun mengucapkannya, lalu menarik nafas panjang, "apa kalian sudah puas?"

"Kau menyukai Temari, Nara Shikamaru," Kiba meyakinkanku.

"Ya, aku menyukai seorang Temari," benteng pertahananku hancur, aku mengakui perasaan itu.

"Harusnya kata-katamu barusan langsung kau utarakan pada Temari, bukan pada kami," ujar Sai.

"ARRGHHHH, aku juga inginnya seperti itu. Tapi bagaimana cara aku mengutarakannya? Dia saja sedang marah padaku," aku sengaja menekankan kata 'marah', agar mereka mengerti keadaanku.

"APA? MARAH?" mereka semua kaget.

"Jadi kalian pikir itu masalahku apa? bodoh!" kesabaranku telah habis untuk menghadapi mereka.

"Jadi, masalahmu itu kau tidak bisa mengungkapkan rasa sukamu karena dia marah, begitu?" Sai ternyata connect duluan.

"….." aku mengangguk pasrah.

"Ohhhhh," mereka semua ber-oh ria.

"Jadi aku harus bagaimana? Aku bingung bodoh!" akhirnya aku memutuskan meminta bantuan mereka.

"Kau meminta bantuan pada kami, Shika?" Kiba dan Naruto menggodaku.

"Iya, cerewet sekali sih!" mereka semua tersenyum jahil.

"Tapi kalau masalah seperti ini aku tidak bisa membantumu nanas, aku tidak pernah mendapat masalah sesulit ini dalam menghadapi cewek, hehe," Naruto menyerah.

"Aku juga nyerah!" Kiba juga.

"Kriuk, kriuk, sama, aku tidak ahli dalam masalah cewek,apa lagi yang serius," Chouji melanjutkan makannya.

Aku mengarahkan pandanganku pada Sai, "kau yakin mau meminta saranku?" dia tersenyum khasnya. Ughh, mencurigakan. "lebih baik kau minta saran pada Neji dan Sasuke saja, mereka bisa mengatasi masalah serius seperti ini," Sai menunjuk ke arah Neji dan Sasuke yang memang wajahnya meyakinkan untuk memberi saran yang serius.

"Kalian bisa?" tanyaku pada meraka berdua. Memang mereka berdua yang paling waras diantara yang lainnya.

Mereka berdua saling pandang, lalu mengangguk. Aku tersenyum.

"Pengorbanan," ujar Neji.

"Hah?" aku tidak mengerti.

"Dalam masalah ini, yang kau butuhkan adalah pengorbanan," Sasuke menambahkan.

"Mengapa aku harus berkorban?" tanyaku lagi.

"Karena biasanya Tenten itu kalau marah karena aku tidak pernah berkorban waktu belajarku untuknya," jawab Neji, wajahnya masih serius.

"Mungkin Temari memang berbeda dengan Sakura, tapi mereka sama-sama wanita kan?" Sasuke memotong pembicaraannya, dia sedang berpikir, "mungkin kau harus melakukan tindakan pengorbanan yang bisa membuat hatinya luluh," Sasuke mencibir "aku juga sebenarnya tidak begitu menegerti, tapi mungkin Sai tahu," Sasuke melirik Sai.

"Eh? Aku?" Sai yang kaget bertanya, namun kemudian dia tersenyum, "misalnya kau harus mengorbankan sesuatu hobby atau kesukaanmu, atau mungkin kebiasaanmu untuknya," lanjut Sai mantap. Semuanya mengangguk tanda setuju.

"Ah aku tahu!" tiba-tiba aku teringat sesuatu. "aku harus pergi, terima kasih atas saran kalian semua!" Lalu aku meloyor pergi tergesa-gesa meninggalkan mereka yang terdiam membisu *halah*.

To : Temari (0857102201XX)

Aku menunggumu di bukit belakang sekolah, tempat aku biasa bersantai saat istirahat. Ada yang ingin aku bicarakan padamu! Ini penting sekali! Aku tidak akan pulang sampai kau datang, walaupun hujan, petir, badai, topan, aku akan tetap menunggumu sampai kau datang!

Shikamaru

Aku memang bukan laki-laki yang romantis, laki-laki yang mengerti perasaan wanita, aku juga bukan tipe laki-laki yang dapat merangkai kata untuk membahagiakan wanita, tapi aku adalah Shikamaru! Lelaki pemalas, yang tidak peka, tidak mengerti perasaan wanita. Akan berkorban untukmu, gadis yang kucintai . . . . . . .

To be continued!

Hohoho, Alhamdulillah . . selesai juga chap 4 ini. Memang benar, semua itu butuh pengorbanan! Hah . . maaf lama update, banyak typo, kepanjangan, gaje, aneh, abal, berantakan, OOC sangat, ancur. Mudah-mudahan kalian suka! Oh ya, chap depan sudah tamat, jadi jangan dilewatkan ya! Dan baca juga fic terbaruku, oneshot, pairingnya Shizune x Genma. Judulnya 'My Answer' . Bolehkah aku minta review untuk fic itu dan fic ini? Makasih . . .

Special thanks untuk :

Kiro yoiD, Iin cka you-nii, Li Qiu Lollipop, Miku nyaan, AyuliaKirei, Faatin-hime, 'Aka' no 'Shika', anwong, Sabaku no Youichi, mey chan, RiriKozuki, Devil's of KunoiChi, Fun-Ny Chan, Saqee-chan, AnnZie-chan Einsteinette, Jeevas Revolution, Vee-Vee Uchiha Hana-chan, Tsukiko Reika, Micon, dan terakhir untuk niichan q yang req fic ini Nara Madi.