Hallo minna . . . :D
Aku semakin bersemangat melanjutkan fic ini, ternyata responnya bagus. Alhamdulillah . . . sudah chap terakhir . Oh ya, semenjak ada peperangan di pairing Sasusaku, aku juga jadi semakin cinta sama Shikatema. Tapi Sasusaku tetap di hati sih . . . :D Hehe, langsung aja deh, Cinta itu merepotkan! Chap terakhir . . .
1 message received
From: Shikamaru (0856XXXXXXXX)
Aku menunggumu di bukit belakang sekolah, tempat aku biasa bersantai saat istirahat. Ada yang ingin aku bicarakan padamu! Ini penting sekali! Aku tidak akan pulang sampai kau datang, walaupun hujan, petir, badai, topan, aku akan tetap menunggumu sampai kau datang!
Shikamaru
Disclaimer : Naruto always Masashi Kishimoto
Pairing : Shikatema
Rated : T
DON'T LIKE, DON'T READ !
Special request from Klan Nara 'madi'
"Hah? Apa maksudnya ini?" aku terlonjak kaget saat membaca sebuah sms dari . . . . Shikamaru. Menungguku? Malam-malam begini? Tapi tunggu! Kapan dia mengirimkan sms ini padaku?
Perasaanku mulai tidak enak, secepatnya aku langsung melihat rincian sms itu.
Sender : Shikamaru (0856XXXXXXXX)
Received : 12:05 05-09-2010
"A-a-a-a-APA? jam 12:05?" aku makin terlonjak kaget. Ku beranikan diriku melirik jam yang bersandar di dinding.
Jam 19:05
GLEK!
"JAM 19:05?" Kami-sama, berarti Shikamaru telah menungguku selama 7 jam.7 JAM!
Aku makin khawatir ketika ku tahu sedari sore hujan turun dengan derasnya. Ku sibakkan gorden jendelaku, dan ku onggokkan kepala melihat keadaan diluar. Ya ampun, kulihat petir mulai menyambar-nyambar, angin kencang berhembus, aku yakin diluar sangatlah dingin.
"Apa Shikamaru masih menungguku? Bila masih, betapa teganya aku membiarkan dia sendiri di sekolah yang sepi dengan keadaan cuaca seperti ini. Dia bisa sakit, bahkan bisa. . . mati!"
Seluruh tubuhku bergetar hebat.
"Ma-ma-ti? Tidak mungkin! Tidak mungkin!" kugeleng-gelengkan kepalaku. Menghapus pikiran mengerikan yang baru saja melintas di otakku.
Kalau dia masih menungguku, berarti aku jahat sekali ya? Membiarkannya menunggu seperti itu untuk meminta maaf padaku, padahal aku marah karena masalah yang sepele, sepele sekali! Betapa jahatnya aku!
Aku gelisah, aku khawatir. Khawatir bila nanti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan bila itu terjadi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri! Tidak akan pernah!
Kegelisahan ini tak kunjung mereda, bahkan kini aku mondar-mandir tak karuan di kamarku, aku sangat bingung, "tapi . . Heiii! Mungkin saja sms tadi itu hanya iseng atau tipuan, agar aku mau mengasianinya dan memaafkannya. Agar dia terlihat lemah di mataku. Huh! Dia itu kan seorang Nara Shikamaru, mana mungkin mau menunggu selama itu hanya demi hal yang dia anggap merepotkan!" aku mendengus.
Pemikiran itu membuatku lebih tenang, walau kesal. Kini aku telah merebahkan diriku di kasur.
Tik . . tik . . tik . . .tik
Sang waktu terus berputar, jarum jam cepat sekali bergerak.
Jujur! Aku sebenarnya tidak bisa tenang, takut kalau Shikamaru memang masih menungguku dan dia serius.
"Oh ayolah Temari, tenang! Dia tidak mungkin menunggumu!" aku berusaha memejamkan mata, tapi kejolak apa ini? Kejolak yang aneh, yang menyuruhku untuk . . .
. . . .datang!
GLEGAR . . .!
"Oh damn! Shikamaru!" setelah mendengar bunyi gluduk yang mengagetkan itu, aku segera berlari panik menuju jendela untuk melihat keadaan diluar.
Ya ampun! Hujannya semakin deras, petir dan kilat pun makin menyambar-nyambar dengan ganasnya. Suara gluduk pun menggema di seluruh penjuru. Dan angin, angin berhembus sangat kencang. Aku rasa ini badai. Dan Shikamaru? Bila aku tidak datang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya nanti.
"Aku harus pergi!" segera aku mengenakan jaketku dan mengambil payung dengan gelisah. Aku pun segera berlari turun ke lantai bawah rumahku.
-Di bawah-
Kulihat Gaara dan Kankuro sedang menonton tv sambil memakan popcorn. Huh! Mereka ini! Diluar sedang badai, malah bersantai seperti itu! Keterlaluan!
Ugh, ini bukan saatnya untuk memikirkan itu. Aku harus memikirkan bagaimana caranya agar Gaara mengizinkanku keluar di tengah badai seperti ini.
Aku masih berpikir sambil mondar-mandir di sekitar mereka, sampai suatu suara membuyarkan pikiranku.
"Sedang apa kau neechan?" Kankuro yang heran pun bertanya.
Gaara menatapku dengan sorot mata keheranan.
"Ti-ti-dak kok," aku tidak mungkin menjawabnya, Gaara pasti tidak akan mengizinkanku!
"Neechan jujurlah,aku melihat ada kegelisahan dan kekhawatiran di mata neechan," ugh! Gaara memang peramal, dia bisa mengetahui segala yang aku pikirkan.
"Tidak kok! Suer!" aku membentuk tanganku menjadi huruf V.
"Neechan," Gaara terus mendesakku. Oh adikku, tolong jangan tatap aku dengan pandangan seperti itu! "neechan bermaksud keluar di tengah badai seperti ini?" Gaara melihat dengan teliti seluruh pakaianku, jaket, payung, dan didekatku ada sepatu boot.
"Apa? itu benar neechan? Nekat sekali kau!" diam kau Kankuro! Jangan ikut-ikutan! Itu bisa memanasi Gaara.
"Sungguh kok, hehe," aku tersenyum garing. Mereka mulai menonton tv lagi, tapi aku yakin mereka masih belum puas dengan jawabanku, apalagi Gaara!
Aku melanjutkan untuk berpikir lebih keras. Hemm, kalau kabur? Apa berhasil ya? Ku gelengkan kepalaku, tidak mungkin! Gaara pasti mencariku. Dan kalau ketahuan, bisa mati aku! aku terus berpikir sambil menyentak-nyentakan HP ke tanganku. Tanpa sadar, 2 pasang mata itu terus memerhatikanku.
"Kau benar-benar aneh neechan," suara Kankuro mengagetkanku.
"Eh?" aku menoleh padanya.
Gaara semakin menatapku tajam, mencari kebohongan dan kekhawatiran di sorot mataku. Dan aku yakin dia menemukannya!
"Neechan," suara Gaara semakin memberat, menatap tajam, dan mulai berjalan ke arahku.
Aku mulai terpojok, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Neechan, aku mohon jawablah pertanyaanku," Gaara menatapku semakin tajam. "apa neechan berniat keluar di tengah badai seperti ini?"
"Mmmm i-i-tu se-sebe-narnya, i-i-tu, aduuhhh," keringat dingin mengucur di selauruh tubuhku. "sebenarnya, ada seseorang yang menungguku, Gaara! Dia, dia me-menungguku dari tadi siang, a-aku takut te-terjadi apa-apa dengannya Gaara," jelasku dengan suara sedikit tercekat.
Tatapan mata Gaara sedikit meredup.
"Teman?" Gaara memicingkan sebelah matanya.
"Argggghhhh! Baik-baik aku akan berkata jujur padamu Gaara!" aku berteriak frustasi, dipikiranku kini hanya tentang bagaimana keadaan Shikamaru, "jadi, seseorang-seseorang yang berarti untukku, sedang menungguku, dia sudah menungguku sejak tadi siang Gaara, aku mohon izinkan aku keluar Gaara, karena jika tidak, aku tidak tahu bagaimana keadaannya nanti, a-a-aku takut terjadi apa-apa dengannya Gaara. Ka-ka-karena-" Ucapanku terputus karena tangis.
"KARENA AKU MENCINTAINYA, GAARA!" aku mencengkram baju Gaara, aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut terjadi sesuatu dengan Shikamaru.
"Baiklah neechan, AYO!" ujar Gaara sambil memakai jas hujan dan melempar kunci mobil pada Kankuro.
"Eh?" aku terheran-heran dengan tindakan Gaara.
"Cepatlah neechan, kau mau orang yang kau cintai itu mati, hah?" Kankuro berkata sambil berlari keluar menerobos hujan.
Aku tersenyum terharu. Terima kasih adik-adikku . . . .
Cinta itu merepotkan!
Badai yang menghantam Konoha memang sangat dahsyat, hampir seluruh pengguna kendaraan memilih untuk berhenti dan tidak melanjutkan perjalan. Tapi tidak untuk pengendara mobil Merzedes Mclaren SLR berwarna merah gelap itu, mobil itu menerobos jalan yang tengah diguyur hujan. Badai pun tidak dipedulikannya!
Kankuro, berjuang mati-matian untuk tetap berjalan menembus hujan deras. Memfokuskan konsentrasi pada jalanan, berusaha agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Mobil itu melaju perlahan tetapi pasti, hanya dengan satu tujuan, Konoha High School!
Gaara, sang adik terbungsu tidak tinggal diam saat sang kakak tersayangnya, Temari bergidik ngeri dan tubuhnya menggigil, dia merangkul Temari, menenangkan, berusaha membuatnya merasa lebih aman. Entah apa yang ada dipikiran Temari, yang jelas saat ini dia ingin cepat sampai tujuan dan mengutaran seluruh perasaannya sebelum terlambat.
CIITTTT….!
Entah, apakah sekarang Tuhan bersikap adil atau tidak. Sebatang pohon tumbang persis di depan mobil keluarga Sabaku. Menghalangi jalan sehingga mobil ini tidak bisa melaju lagi.
"SIAL!" Kankuro menggerutu sambil membanting setir mobil. Ngerem mendadak saat hujan memang membahayakan, hampir saja mobil ini tergelincir.
Berbeda dengan Kankuro, si bungsu Gaara tetap tenang. Ada 3 hal yang sedang dia pikirkan. Pertama : bagaimana caranya agar cepat menyingkirkan pohon besar yang tumbang itu? Kedua : bagaimana caranya agar Temari tetap tenang? Ketiga : apakah lelaki yang dicintai kakaknya itu akan baik-baik saja?
"Neechan tenanglah dulu. Aku dan Kankuro-nii akan berusaha agar kita bisa meneruskan perjalanan," ujar Gaara.
"Tidak! Aku akan bantu kalian," gusar Temari.
"Sudahlah nee, kau cukup diam dan perhatikan. Serahkan saja semuanya pada kami!" ucap Kankuro mantap.
Kedua kakak-beradik Sabaku ini pun turun dari mobil,menyiapkan tenaga dengan mantap. Berusaha menyingkirkan bongkahan kayu itu. Dan yap! Dengan sekali ancang-ancang, kayu itu pun disingkirkan. Hmmm betapa kuatnya kakak-beradik ini. Percaya atau tidak percaya Temari hanya terpana melihatnya.
"Brukk"
Pintu mobil ditutup. Pertanda kakak-beradik itu telah kembali kedalam mobil.
"Baiklah neechan, kita akan berangkat!"
Cinta itu merepotkan!
Shikamaru POV
Merepotkan! Aku tidak pernah membayangkan ini terjadi, menunggu seorang gadis selama 7 jam membuatku hampir mati kedinginan. Bayangkan saja, ditengah hujan, kilat, bahkan angin kencang, aku malah menunggu di bukit. Bodoh! Entah apa yang membuatku jadi seperti ini, bukankah hujan-hujan begini enaknya tidur? Haahh~ aku sendiri sebenarnya belum mengerti apa itu pengorbanan, tapi apa yang seperti ini dinamakan pengorbanan?
7 jam! Bukan waktu yang singkat! Apa kau berniat tidak datang dan menyiksaku disini, Temari? Tapi, seorang laki-laki harus memegang janjinya. Sesuai janjiku, aku akan menunggumu sampai kau datang! Pasti!
Normal POV
Sekujur tubuh itu gemetar, menanti hadirnya satu sosok yang ia nantikan. Hawa dingin yang menusuk tidak dipedulikannya. Kematian pun siap dihadapinya! Apa kalian tahu untuk apa dia disana? Menghabiskan waktu dengan penantian yang tak menentu, menyiksa dirinya sendiri, hanya untuk sebuah pengorbaan pada gadis yang ia rrr…. Cintai? Entahlah, yang perlu kalian tahu, tubuhnya kini menggigil hebat, seluruh tubuhnya pucat, berani sumpah kalau kalian akan prihatin melihat keadaannya sekarang.
Dia terus menatap gerbang sekolah , menanti dan terus berharap. Dia tarik nafasnya dalam-dalam. . .
"Haaaahhh Te-ma-ri, mungkin kau haahh tak akan datang, dan mungkin aku akan tumbang setelah ini, hmmm pupus sudah harapanku, selamat tinggal te-ma-"
"SHIKAMARUUU!"
Sebuah suara samar-samar terdengar (samar-samar gimana? Kenceng gitu -.-"). Dari kejauhan nampak seorang wanita sedang berlari tergesa-gesa, mencari sosok yang dia anggap paling MENYEBALKAN saat ini.
"Te-ma-ri" dengan keadaan fisik yang sangat memprihatinkan, Shikamaru memanggil lemah wanita itu.
Temari, menangis begitu melihat keadaan lelaki di hadapannya, dengan wajah dan seluruh badan diguyur air hujan, badan gemetar, bibir pucat, rambut berantakan, dan badan yang sudah tidak kuat lagi berpijak (kyaaaa ada gembel! –plaaakkkk- o)
"Bodoh! Kau sungguh-sungguh BODOH!" sambil menangis, Temari menghampiri Shikamaru yang tengah berlutut tidak berdaya itu, dibaringkan tubuh Shikamaru dan kepalanya menyender di atas paha.
"Haha, akhirnya kau datang"
"Hiks! Bodoh! Siapa yang menuruhmu tertawa, hah? Coba lihat keadaanmu, kau hampir mati bodoh! Siapa sih yang menyuruhmu nekat menunggu sampai seperti ini? kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana? Kau pikir kau kuat, menunggu ditengah hujuan seperti ini selama 7 jam, kau pikir aku tidak-"
"Sssstttt!" Shikamaru memotong pembicaraan Temari dengan menaruh telunjuknya di ujung bibir Temari. "Apakah kata 'bodoh' merupakan panggilan sayangmu terhadapku?" goda Shikamaru padanya.
"Huuh! Jangan menggoda dengan kondisi tubuh seperti itu deh!" Temari memukul pelan bahu Shikamaru. "Ummmm jadi, hal penting apa yang mau kau bicarakan padaku, bodoh?" tanyanya. Semburat merah muncul di pipi Temari.
"Haha. Kau penasaran dengan itu?" Shikamaru bertanya sambil tertawa mengejek.
"Ughhh! Aku tidak mungkin capek-capek datang kesini jika aku tidak penasaran , BODOH!" umpat Temari.
Air muka Shikamaru mendadak berubah, wajahnya suram sekali. "Jadi, kau datang kesini hanya karena itu? Apa tidak ada perasaan khawatir dengan keadaanku?" tanyanya.
"Bukan begitu! A-aku, juga-ummmm-sebenarnya-sebenarnya ju-juga mengkhawatirkanmu kok!" ucap Temari sambil menyembunyikan wajah merahnya.
"Haha, mukamu aneh sekali saat ini!" ledek Shikamaru.
" Iiiihhhh ! kau menggodaku ya? Uhh, kalau begitu aku tarik lagi kata-kataku. Aku tidak akan pernah mengkhawatirkanmu, mau sakit, mau pingsan, mau mati, itu terserahmu! Huh!lebih baik sekarang aku pergi saja, tidak ada gunanya juga aku disini. Kau selalu saja-"
"Aku mencintaimu" potong Shikamaru.
Dalam sekejap Temari diam membisu, bahkan tubuhnya tak mau digerakkan. Apa dia tidak salah dengar? Shikamaru baru saja menyatakan cinta?
"Hah?" dengan masih tidak percaya, Temari hanya tercengang.
"Cih! Apa perlu ku ulangi lagi? AKU MENCINTAIMU wanita cerewet!"
"Kau se-se-serius?"
"Tidak! Aku bercanda!" ucap Shikamaru sebal. "Aku serius, cerewet!"
Plakkk
Temari menanpar pipinya sendiri. Tidak percaya akan semua ini, baginya ini seperti mimpi.
"A-aku, a-aku, umm kalau aku tidak mencintaimu bagaimana?" tanyanya pura-pura angkuh.
"Mana mungkin kau tidak mencintaiku, buktinya kau selama ini dingin padaku karena aku pernah bilang kau hanya teman kan? lalu untuk apa kau datang kemari kalau kau tidak mencintaiku? Hah?" cecar Shikamaru.
"Huuh, terserah kau lah," gerutu Temari, "tidak romantis"
"Aku memang tidak romantis, romantis itu merepotkan!" ujar Shikamaru, "aku mohon wanita cerewet, kau jawab pertanyaanku sebelum aku terkapar disini," lanjutnya.
"Pertanyaan apa? bawel!" Temari berlagak marah agar bisa menghilangkan rasa malu dan semburat merah di pipinya.
"Apa kau mau menjadi, aduh apa itu namanya?" Shikamaru hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
"Pa-pa-car bodoh!"
"Iya, kau mau tidak menjadi pacarku?" tanya Shikamaru dengan sisa tenaganya.
"Kau sangat sangat sangat sangat tidak romantis! Masa menembakku seperti salesman yang menawarkan barang sih!" gerutu Temari.
"Aku tidak memintamu untuk menggerutu. Tapi aku memintamu untuk jawab 'mau' atau 'tidak'" ucap Shikamaru.
Temari hanya terdiam sambil mendengus.
"Cepetlah jawab sebelum aku pingsan, wanita cerewet!"
Temari hanya tersenyum, lalu mengangguk lemas.
"Huh syukurlah, aku bisa pingsan dengan tenang kalau seperti ini. tapi, kalau difilm-film itu kan, sehabis menyatakan cinta, laki-lakinya akan dicium kan? aku akan menagihnya nanti!" ucap Shikamaru mengejek Temari.
"UGGHHH! LEBIH BAIK KAU PINGSAN SEKARANG SAJA BAKA SHIKAMARU!"
Owari-The End-Fin
Yahhh aku tau kok, tanpa kalian bilang juga aku tau kalau fic aku ini lebay, shikamarunya OOC sangat, akhirnya gak jelas, gak memuaskan dan gak romantis, aku juga tau kalau alurnya kecepetan, aku juga tau aku gak pantes jadi author, aku tau aku Cuma author abal yang sangat sangat sangat jauh karyanya dari author-author senior T_T tapi aku berharap, aku bisa menghibur kalian dengan segala kekurangan fic ini, dan tetap menjadi author yang MENGHARGAI KARYA ORANG LAIN.
Yosh, fic ini tamat dan sampai jumpa di fic-fic nu-chan lainnya. Masih ada fic Sasusaku nu-chan, ShizuneGenma juga ada, jadi silahkan mapir ke profile saya! XD sekedar pemberitahuan, saya juga akan mencoba membuat fic di fandom bleach, dan saya akan menghadapi UJIAN NASIONAL. Jadi maaf kalau saya akan lama hilang dari peradaban FFN ini. kalau kalian kangen? Search aja Momochibi Nunu atau Nu-Hikari Uchiha FFN di facebook #gamparbolakbalik. dan insya allah, saya akan menerima request atau apapun setelah lulus SMP, nyahahaha oke? Aku hanya minta satu dari kalian, Wish me luck and please review #dikuburidupidup
