Ok. Chapter 1 akan dimulai di sini.

Sebelum dimulai, Natsu akan bilang terlebih dahulu kalau fict ini rasanya akan sangat pendek per-chapternya.

Dislaclaimer: GA bukan punyaku..! GA selalu miliknya tante babi yang selalu membuat manga dengan cover berwarna Orange! (Ada babi bisa bikin manga?)

Jya, minna-san.

Otanoshii ni kudasai...

Chapter 1: The Introduction with Her

Setelah keheningan beberapa saat di antara kedua insan yang baru saja bertemu di atap gedung sekolah, pemuda itu menyapanya lebih dahulu.

"Yo, Konnichiwa."

Natsume berusaha menyapa gadis itu dengan gayanya yang biasanya. Cool dan terkesan cuek.

Gadis itu masih mematung beberapa saat setelah Natsume menegurnya. Merasa tidak direspon, Natsume berkata sekali lagi.

"Hoi, B-A-K-A..! Aku bicara kepadamu, bodoh..! Hei, Konnichiwa!"

Mendengar ucapan Natsume yang kedua kalinya ini nampaknya sang gadis baru bisa'tersadar' dari alamnya sendiri.

Kemudian gadis itu tersenyum-senyum sedikit. "Maaf.."katanya, sambil menahan senyum. " Aku kira kau hantu. Hantu di siang bolong. Habis, sekarang kan lagi jam masuk di sini, kan? Kau membolos, ya?" tanyanya langsung.

Dan yah. Tebakannya tepat sasaran.

"Yep. Begitulah."

Natsume menjawabnya dengan santai. Toh, buat apa dia menutupinya? Seorang Natsume sering bolos pelajaran, itu bukan hal baru. Lagipula, berkat kepandaian dia yang sudah jelas sangat jenius itu, bahkan dia masih bisa mendapatkan nilai sempurna di ulangannya dengan mudah.

"Konnichiwa juga." sahut gadis itu, sambil menjulurkan tangannya. Hendak berkenalan.

"Kamu siswa sini, ya? Kenalkan, namaku Mikan Sakura. Aku murid baru di kelas 2 bagian SMP."

Natsume meraih tangan Mikan dengan cuek.

"Ok, BAKA. Namaku Natsume Hyuuga dari kelas 2 bagian SMP. Sepertinya kita akan sekelas. Tapi.." Natsume memperhatikan Mikan atas-bawah."Kamu tidak memakai seragam.."

Ekspresi pertama Mikan dengan kalimat perkenalan Natsume adalah satu.

Cemberut.

"Hei, aku tidak bodoh! Berhenti memanggilku baka! Aku tadi hanya bengong dan salah kira, kok! Itu aja!"

Natsume merasa geli dengan ekspresi gadis itu.

' Gadis ini..lucu juga. Dia lain daripada yang lain..', gumamnya dalam hati. Namun yang mengalir dari mulutnya adalah kalimat, yang (lagi-lagi) terkesan sarkastik.

"Yah, terserah lah." sahut Natsume. Ia melirik sekilas dan masih mendapati raut cemberut gadis itu.

"Hei! Sudah kubilang aku buka ba—"

"Ok, ok!" Natsume menyela pernyataan penuh protes dari Mikan." Kalau begitu, Sakura-san."

Gadis itu kembali tersenyum. Manis sekali.

"Yah..aku belum memakai seragam karena hari pertama ku besok, kok. Barusan aku tiba di sekolah ini dan baru saja menaruh barang di kamar asramaku. Tapi melihat pemandangan indah sekarang..aku meninggalkan begitu saja barangku yang masih berantakan untuk ke sini. Sayang dilewatkan." gelaknya.

"Ooh.." Natsume hanya merespon itu.

"Lalu, apa alice-mu, Sakura-san? Tentunya kau tahu kan sekolah ini adalah tempat anak-anak yang memiliki alice. Jangan bilang kalau kau tidak tahu dan kau tidak punya alice jika kau berada di sini." sahut Natsume, yang lagi-lagi, terkesan sarkastik.

Si gadis mengalihkan perhatiannya. Sambil memperhatikan langit luas, ia berkata. "Tentu aku tahu dan punya alice.." katanya, menggantung.

Natsume menunggu apa yang akan gadis itu katakan dengan sedikit tidak sabar.

Kemudian, Mikan kembali menoleh ke wajah Natsume. Berkata dengan wajah serius. "Aliceku..Nullification. Penihilan."

Sang pemuda Hyuuga itu hanya mengangguk-angguk sakadarnya. "Oh.."

Lalu ia melanjutkan. " Milikku, Fire Alice. Alice api yang sangat kuat."

BWOOSH..!

Bersamaan dengan itu, Natsume menunjukkan api yang muncul dari tangannya. Membuktikan kekuatannya sebagai sang pemegang alice api.

"Penihilan yah..Kurasa alice itu..kurang begitu berguna. Haha.."

Natsume kembali berkata di luar kontrolnya. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk melecehkan alice gadis itu. Namun kata itu sudah terlanjur terlepas dari bibirnya. Dan seorang Hyuuga, khususnya Natsume, berprinsip pantang untuk meralat ucapannya, selain sesuatu yang sangat gawat.

Nah, hal ini bagi Natsume bukan termasuk golongan sangat gawat, jadi ia tidak merasa perlu untuk meralatnya.

Mikan memandang jauh ke arah hutan sekolah dengan pandangan sendu. "Kamu salah besar..Justru karena punya alice inilah, aku..tidak bahagia."

Sahutnya pelan, tapi tertutupi oleh suara gemerisik angin. Natsume tidak mendengarnya semua.

"Apa?" ulangnya.

Gadis bermata Hazel itu kembali tersenyum kepadanya. "Tidak. Tidak apa-apa."

Dan bersamaan dengan itu, bel berbunyi 2 kali. Menandakan berakhirnya jam pelajaran.

"Natsume..", tegur Mikan.

"Hm..?"

"Bukankah kau ada pelajaran selanjutnya..?"

-000-

Natsume melangkah menuju kelasnya dengan sangat enggan. Jam pelajaran sekarang adalah jam pelajaran kedua Matematika-nya Jinno Sensei. Sebenarnya ia berniat untuk sekalian saja membolos dari jam pelajaran guru itu.

Tetapi, rasanya tadi dia sedang 'diusir' dengan halus oleh gadis itu. Jadi rasanya, tidak mungkin ia berpura-pura budeg dan tidak mendengar ucapannya, kan? Mau dikemanakan harga diri Natsume Hyuuga kalau dia melakukan itu?

SREEK..!

Pintu kelas dibuka oleh si pemegang Fire Alice itu. Suasana dalam kelas yang semula hening langsung saja menjadi sedikit heboh sambil memperhatikan kedatangan Natsume yang tiba-tiba.

Sedang si pemuda yang menjadi bahan pembicaraan itu dengan cueknya melangkah menuju mejanya, seakan tidak mendengar bisik-bisik yang kentara itu.

Natsume Hyuuga duduk dengan cuek dan tenang ketika Jinno-sensei menegurnya. "Tenang sekali kau memasuki jam pelajaranku dengan seenak sendiri, Hyuuga. Tanpa mengucapkan salam atau apapun." Jinno sensei menatapnya tajam.

"Membolos lagi, ya? Kenapa tidak sekalian saja kau cuti selamanya dari mengikuti pelajaranku, tuan Hyuuga?" lanjutnya.

Natsume mencibir dengan cuek."Aku hanya ingin kembali sekarang saja. Ada masalah dengan itu? Dan yah, usulan Anda boleh juga, sensei. Akan kuterapkan di lain waktu."

Para murid-murid lain yang sekelas dengan Natsume mulai berbisik-bisik khawatir, karena tahu tabiat Jinno-sensei, guru yang mendapat predikat ter-killer se akademi ini. Tak terkecuali pemuda berambut pirang di sebelah Natsume, Ruka Nogi.

"Natsume..Kamu serius?"

Tetapi Jinno-sensei yang terlihatsangat marah, secara ajaib terdiam dan hanya meninggalkan sekali desahan nafas. Kemudian kembali menghadap papan tulis dan menjelaskan pelajarannya. "Baik, anak-anak! Kembali ke pelajaran! Untuk menyelesaikan soal ini, langkah kita adalah.."

Seisi kelas takjub. Biasanya di saat seperti ini, Jinno-sensei akan langsung murka dan memberikan soal yang paling sulit untuk dipecahkan di depan kelas untuk membuat si tersangka malu. Dan masih diberikan lagi, soal-soal hukuman yang sangat susah serta berjumlah tidak masuk akal.

Namun, kenapa sekarang tidak?

Oh, ya, betul. Dan seisi kelas tidak perlu waktu lama untuk memahami alasannya. Karena Natsume terlalu jenius, sehingga hal itu akan percuma saja baginya.

-000-

Natsume's POV:

Pagi hari ini tidak seperti biasanya, aku berminat untuk memasuki kelas. Biasanya, hari Kamis jam pelajaran pertama hampir selalu tidak kuhadiri sebab saat itu adalah jam pelajarannya guru banci yang tidak kusukai. Narumi-sensei. Yang sialnya, merupakan guru wali kelasku.

Tapi hari ini berbeda. Aku berminat menghadiri kelas itu sekarang karena aku tahu apa yang akan datang hari ini.

Yah. Gadis berambut coklat panjang dan bermata Hazel yang entah kenapa sangat kunanti. Masih membekas dalam ingatanku, saat ia berbicara, ""Yah..aku belum memakai seragam karena hari pertama ku besok."

'Besok' jika dikatakan kemarin, berarti hari ini, kan?

Aku tersenyum tipis. "Aku menantikanmu, Mikan"

~Chapter 1, the introduction with her, Owari~

a/ n: Yap. Tidak akan berlama-lama karena Natsu sendiri pun tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi, selain..REVIEW please?