Halllowwww...

Hontou ni gomen atas keterlambatan sangadh fict ini..,

Ternyata memang sulit kehidupan SMA kelas 3 ditambah lagi masih adaptasi, sekaligus kehidupan sebagai otaku yang jelas ga bisa kutinggalkan.

Pendek kata aku mengalami trilema: Sekolah with new adaptation, Otaku Life, and Author. Yah, jadinya niat jadi author ketunda-tunda karena hal ini.

Haddduh, kok malah jadi curhat?

Sudahlah, langsung mulai saja fict ini. Yang selalu dan selalu milik Tachibana Higuchi-sensei.

Otanoshii ni kudasai...^0^

Chapter 2 : The Girl On The New Class

Gadis Hazel itu teringat dalam mimpi panjangnya. Kenangan yang selalu diingatnya, dan harus menjadi pegangan hidupnya.

Kenangan di hari itu..

6 tahun yang lalu di kediaman Sakura:

"Mikan..Kau harus ingat hal ini baik-baik seumur hidupmu.."

"Apa, Kakek?"

Dia bertanya dengan tampang polos seorang anak kecil. Tidak mengetahui dan bahkan tidak mengira takdir apa yang akan membawanya, untuk berada di situ. Keluarga Sakura, dan kenyataan yang dipikul oleh ikatan kekuatan Alicenya.

"Dengar, baik-baik, Mikan. Keluarga Klan Sakura telah dikenal secara rahasia oleh Negara dan juga instansi rahasia Alice, sebagai keluarga keturunan yang menghasilkan Nullification Alice. Alice yang sangat berguna untuk perdamaian, dan perlindungan segala pemilik , kau tahu bukan, apa Alicemu, Mikan?" si Kakek renta itu bertanya.

Gadis kecil itu masih bengong dengan tampang terdiam. Sejurus kemudian ia menjawabnya. "Ya. Nullification alice. Alice Penihilan, yang menghilangkan efek dari segala kekuatan alice, kan, kek?"

"Benar. Kekuatan alice sudah ada dari zaman dulu, walau hingga kini keberadaan kekuatan dan pemegang kekuatan ini masih dirahasiakan oleh Negara, tapi pemegang alice ada dengan jumlah yang diluar perkiraan masyarakat kebanyakan. Dan kita, sebagai keturunan klan Sakura,klan keluarga yang secara turun-temurun memiliki kekuatan Nullification Alice.." suara si Kakek terhenti.

Si Gadis kecil menampilkan senyum penasarannya, bertanya dengan polosnya, " Lalu, Kek?"

Kakek tua itu menengok ke arah wajah polos cucu perempuannya ini. Menatap dengan sedikit tidak yakin. Setelah satu-dua detik berpikir keras, si Kakek memutuskan untuk mengatakannya.

"Begini, Mikan.." Si Kakek menghela nafas, sebelum kemudian melanjutkan kalimat yang telah menggantung di bibirnya," Pengguna Alice seperti kita..ada berbagai macam jenis kekuatan Alice, dan mereka tidak semuanya baik. Ada organisasi kuat di luar sana, yang sesama pengguna alice juga. Mereka sering melakukan masalah, bertindak melawan Negara. Tak jarang mereka menghabisi penduduk sipil. Disini, keluarga kita..selama berpuluh-puluh tahun lamanya, dari generasi ke generasi, adalah satu-satunya pemegang Nullification Alice, dan dipercaya serta dilibatkan oleh Negara secara rahasia dalam perjuangan menghadapi kelompok itu. Kita, sebagai Nullification Alice, lebih tepatnya berperan dalam perjuangan untuk menghilangkan efek-efek serangan alice musuh. Ini tugas kebanggaan turun-temurun keluarga kita pada Negara."

"Wah, kita hebat sekali, ya, Kek? Jadi, keluarga kita selalu menggunakan Nullification alice untuk melindungi Negara dari Kelompok Jahat itu?"

Mata Si Gadis berbinar-binar terang dengan polosnya. Tidak mampu menutupi kebanggaan yang meliputi diri.

"Ya, Mikan. " Kakek itu tersenyum pula melihat senyum bangga cucunya, "Yang memiliki Nullification alice hanya keluarga kita. Dengan kata lain, kita membendung, menahan, dan menghilangkan efek-efek alice lawan yang tentunya tidak sedikit ini, dengan jumlah kita yang tentunya sangat sedikit, karena sejauh ini, hanya keturunan langsung keluarga ini saja yang memiliki alice ini. Tapi.."

Wajah si Kakek mengeras. "Tetapi! Akibat kejadian pertarungan dengan kelompok mereka 3 tahun silam, keluarga Sakura kehilangan ayahmu, seorang pengguna Nullification alice handal bahkan di keluarga ini! Saat itu, ayahmu..mengeluarkan terlalu banyak alicenya untuk menyelamatkan semuanya dalam kasus rahasia yang fatal! Dia wafat. Ibumu pun bukan pemilik Nullification. Sejak saat itu, dalam setiap kasus pertempuran alice berikutnya, keluarga ini menggempur kelompok mereka, menekan, dengan mengerahkan kekuatan milik paman,bibi, bahkan aku sendiri, pimpinan keluarga ini. Tapi, sepeninggalan ayahmu, keluarga kita sedikit demi sedikit mengendorkan pertahanannya karena kehilangan penyokong utama. Aku pun, sudah tidak kuat untuk bertempur, melawan mereka dengan tubuh tuaku. Untuk itu, kau, Mikan, mulai saat ini harus berjanji pada Kakek, untuk menjadi pengguna Nullification Alice handal seperti Ayahmu, menggantikan posisinya tak lama lagi sebagai kekuatan terbesar keluarga. Ini takdir besar yang kau bawa beserta alicemu itu, Mikan. "

Mikan, si Gadis Hazel terdiam. Bersuara beberapa saat kemudian. " Aku, Kek? Aku menjadi seperti ayah? Apa aku bisa?"

"Kau bisa, Mikan! Kau adalah keturunan langsung keluarga Sakura, putri dari pemegang Nullification Alice terkuat yang pernah ada! Dan satu lagi, Mikan. Pahami dengan benar resiko yang satu ini. "

"Apa itu, Kek?"

"Jika suatu saat..terjadi sesuatu yang mengharuskan kau untuk melepas, menggunakan seluruh energi alicemu dalam suatu kasus yang serupa dengan ayahmu..Kakek minta dirimu agar mau berkorban. Karena takdir ini tidak dapat dielakkan lagi. Ingat, Mikan. Jika kau tidak siap untuk mati dalam hal ini, maka..akan ada lebih banyak nyawa setelah itu yang akan melayang akibat keraguanmu, hanya untuk mempertahankan kehidupanmu sendiri yang egois. Bagi Kakek..bagi seluruh keluarga Sakura..Memang tidak ada..hal baik besar yang dapat diperoleh tanpa adanya pengorbanan. Sebagai keluarga Sakura, kita harus siap mati kapan saja saat menghadapi situasi itu, demi kedamaian semuanya. Kau paham, Mikan?"

Kakek Mikan menatap lurus kedua bola mata Mikan. Mikan kecil berpikir...dan akhirnya membulatkan keputusan. "Ya, kek. Aku pasti akan...melakukan yang terbaik untuk semuanya..Untuk keluarga ini. Apapun akibatnya."

Janjinya pada hari itu, kembali terngiang hingga saat ini.

Dan sekarang, 6 tahun kemudian..

'KRRRRRRRRIIIIIIIING...!'

Sebuah suara alarm yang mengagetkan terdengar tepat di sebelah tempat tidur si gadis. Si gadis terbangun, membuka matanya perlahan, dan melihat jam.

Matanya kemudian terbelalak melihat angka yang diperlihatkan jam. Dan serta merta langsung melompat dari tempat tidurnya.

"Celaka..! Aku akan telat~! Padahal ini hari pertamaku~!"

Si Gadis bersiap-siap dengan kecepatan super. 15 menit kemudian, ia mematut diri di depan cermin.

"Dengan ini semua beres." sahutnya segala perlengkapan sekolah barunya telah terpakai dengan apik di tubuhnya. Kemudian ia mengatupkan tangan, menutup mata, dan berseru pelan." Aku akan mulai dari sini, demi semuanya, Ayah..Ibu..dan Kakek... Aku akan berusaha melakukan apa pun yang terbaik, bagi kita. "

Usai melakukannya, si gadis tersenyum, dan melangkah keluar kamar. "Ittekimasu.."

-000-

Natsume's POV:

Aku melangkahkan kakiku sangat perlahan menuju kelasku. 2-B bagian SMP. Waktu menunjukkan kurang dari 5 menit lagi agar semua kelas di sekolah ini memulai pelajaran pertama mereka masing-masing. Mayoritas kelas yang kulewati sepanjang perjalanan sudah terisi nampaknya oleh semua murid. Selebihnya, terdapat murid-murid lainnya yang masih sejalur di ruanganku, lorong sekolah, nampak berlarian dengan hebohnya. Masih berusaha untuk dapat memasuki kelasnya tepat waktu.

Beberapa dari mereka mengucapkan kata yang sangat klise dalam situasi seperti ini. "Celaka! Aku telat!", atau "Aaargh..! Aku kesiangan!" sambil terus berlari. Aku mengacuhkan mereka. Terus menuju kelasku.

'SREEEK! '

Kubuka pintu kelasku dengan kasar seperti biasanya. Dan tak ayal, seisi kelas langsung memperhatikanku.

"WOOOOOAAAAH..! Natsume-sama masuk di hari ini!" Sumire Shoda, salah satu penghuni kelas yang sama ini berteriak dengan sangat lebay.

Tak kuhiraukan teriakannya, dan berjalan menuju mejaku.

"Ohayou, Natsume, " sapa Ruka Nogi, sahabatku, yang kebetulan sebangku denganku. "Ada apa, nih? Tumben hari ini kamu masuk kelas. Untung saja Narumi-sensei belum masuk."

"Tidak masalah juga toh, kalau dia sudah datang, Ruka." jawabku, seolah tak peduli.

Pemuda pirang itu tertawa renyah. "Hahaha.. Yah, benar juga, sih."

"Minna-san, Ohayou Gozaimasu~"

Suara yang mendadak muncul itu segera menghamburkan perhatian kelas yang sedang sibuk sendiri. Sontak, para murid menghentikan kegiatannya, dimulai dengan memberikan salam.

" Ohayou Gozaimasu, Narumi-sensei."

Aku menaikkan alisku dengan pandangan malas dan bosan. "Hmmm, guru banci itu datang juga.."

Ruka melirikku sekilas. Dia tertawa maklum seperti biasanya. "Kalau kau tidak mau bertemu Narumi-sensei kenapa kau tidak bolos seperti biasanya, Natsume?"

Kedua mata Crimson-ku menatapnya dengan sejuta arti pandangan. "Kau akan tahu sebentar lagi, Ruka."

"He? Apa maksudmu, Na.."

"Baiklah, Minna-san..tidak perlu berbasa-basi lagi hari ini kita akan kedatangan murid baru."

Tanpa basa-basi yang lebih lanjut, guru banci itu mengatakan hal yang kutunggu. Baguslah. Aku tidak mau lama-lama mendengar celotehannya yang tidak berguna.

Ruka terdiam. Ia melirikku. "Natsume, apakah ini..?"

Aku hanya tersenyum misterius menanggapinya.

"Whoooaaaa...Murid baru, sensei? Apakah dia laki-laki, atau perempuan?"

Suara si Anna-chan—begitulah ingatanku kalau tidak salah mengingat namanya—langsung memancing heboh dari murid sekelas. Si guru banci itu tersenyum puas melihat anak-anak yang nampak antusias dengan datangnya murid baru itu.

"Dia.."

"Anak pindahan itu wanita, namanya Mikan Sakura. Benar, kan, sensei?"

Yep. Kokoroyomi si pemilik alice Mind Reader itu sudah mendahului Narumi-sensei dalam memberikan penjelasan tentang murid baru itu. Setidaknya, bagiku itu akan lebih enak didengar daripada penjelasan langsung dari Narumi.

"Koko,"Narumi menggeleng-gelengkan kepalanya, ke kiri dan ke kanan."Sudah kubilang, kamu jangan sembarangan membaca dan mengatakan isi pikiran orang.."

Si Koko hanya tertawa cekikikan di bangkunya. Tidak peduli dengan teguran itu. Bagaimanapun Mind Reader adalah kemampuan khusus dan juga hobinya. Apa hak si Narumi dalam mengontrol maunya Koko?

"Baiklah, Minna-san..Tidak perlu waktu lama-lama lagi, deh. Silahkan masuk, Sakura-san."

Dan pintu kelaspun kembali terbuka. Kali ini muncul seorang gadis yang kemarin kutemui, telah menggunakan seragam sekolah biru khas Gakuen Alice SMP. Rambut panjang coklatnya yang berkibar indah ke belakang dan tubuhnya yang cukup semampai membuat sekelas berdecak kagum. Mata Hazelnya nampak hangat.

Cantik. Sungguh cantik. Aku mengakuinya langsung.

"Hajimemashite, Minna-san. Watashi wa Mikan Sakura desu. Yoroshiku onegaishimasu."

Dia tersenyum, kemudian sedikit membungkuk sopan kepada kelas.

"WHOOAAAAAAAA...!"

Seisi kelas langsung berdecak ramai. Ternyata benar perkiraanku. Aura hangat dan tenang serta kecantikan dan semangat gadis itu terpancar kepada setiap orang, dan kini membius semua Adam di kelasku,juga memberikan efek sedikit rasa iri dan kagum di semua kaum Hawa.

Narumi-sensei bertepuk tangan kecil. Nampaknya ingin mengingatkan kami untuk segera menghentikan kehebohan.

"Baiklah, Minna-san. Mikan Sakura memiliki Nullification alice. Alice penetral yang menghilangkan efek segala macam alice. Ini merupakan kali pertamanya ia berada di sekolah yang khusus bagi pemilik alice seperti kita ini. Sebelumnya ia hidup di kehidupan biasa, dan karena alicenya membutuhkan pengguna alice lain untuk dapat menggunakannya, maka alicenya tidak diketahui orang lain kecuali keluarganya. Kendati begitu, alicenya sangat hebat. Kuharap kalian bisa berteman baik dengannya. "

Dan ketika sekelas sedang ber-oooooo panjang, Narumi langsung menentukan tempat duduk anak itu.

"Baiklah, Mikan. Kamu duduk di situ, yah. Sebelah gadis itu. Gadis itu namanya Hotaru Imai. Kuharap kau akan segera berteman baik dengannya dan juga kelas ini, "Narumi menunjuk ke arah deretan meja dan kursi di hadapannya, sebelum kembali berkata,"Oh, iya. Aku hampir lupa. Partnermu adalah..hmm..siapa ya..oh, iya. Natsume Hyuuga, hari ini kamu adalah partnernya. Mikan, cowok berambut hitam yang duduk di belakang Imai itu adalah partnermu. Baik-baik padanya, ya. "

Bola mataku membulat mendengar hal itu. Aku partnernya. Hebat. Suatu hal yang jarang aku menyukai keputusan Narumi-sensei.

"Hng. Baik, Sensei."

Gadis itu kembali menunduk pelan hormat kepada guru itu, kemudian menuju bangkunya.

"Hajimemashite, Imai-san. Kuharap kita bisa berteman."

"Ya."

Untuk pertemuan pertama, senyum hangat gadis itu belum berhasil meluluhkan Ice Queen bermata amethyst itu. Tapi kuyakin itu tidak akan lama lagi.

Dan dia menengok ke arahku. "Hai, Natsume. Mohon bantuannya, yah, partner. "

Dia langsung bersikap hangat dan akrab padaku. Menyodorkan tangan porselen putihnya, bermaksud untuk berjabat tangan.

Angin baru kehidupan yang mengubah kehidupan kami mulai berhembus, dan debaran baru diantara kami...

~Chapter 2, : The Girl On The New Class, Owari~

a/n: Yap! Inilah chapter 2 How was it? Makin abal? Makin aneh?

Gomennasai kalau begitu...tapi kuharap enggak. ^^

Hmmm...Tokoh utamanya memang OOC sangadh, ya. Natsume jadi melankolis dalem gitu, tapi luarnya masih sok cool. Hahahahaha..*author ngakak kencang*

Yah, dari awal juga udah kucantumin bakal ada OOC berat pada main characternya, jadi aku tidak menerima Flame soal OOC-nya.

Seperti biasa, silahkan repiunya, ya...