Disclaimer: Tachibana Higuchi
Dan dia menengok ke arahku. "Hai, Natsume. Mohon bantuannya, yah, partner. "
Dia langsung bersikap hangat dan akrab padaku. Menyodorkan tangan porselen putihnya, bermaksud untuk berjabat tangan.
Angin baru kehidupan yang mengubah kehidupan kami mulai berhembus, dan debaran baru diantara kami...
Chapter 3: Mikan, with Class and..Natsume
'TEEENG..TEENG..'
Bel sekolah telah berdering dua kali. Narumi-sensei langsung menghentikan aktivitasnya di papan tulis, disusul dengan membereskan buku-bukunya yang bertebaran di meja dan melangkah keluar kelas dengan gaya centilnya.
"Jyaa, minna-san. Jangan lupa PR untuk hari ini, ya. Sore Jyaa, matta ne~"
"Hai, Senseii..."
Gadis itu, Mikan Sakura, sedang membereskan buku-bukunya ketika dua gadis yang nampak kembar menghampirinya. "Mikan-chan.."
Mikan mendongak."Ah, salam kenal. Kalian kembar, ya? Perkenalkan, Mikan Sakura."
Ia membalas sapaan dua anak itu dengan ramah, dilanjutkan (lagi-lagi) dengan senyum khasnya itu.
"Salam kenal juga, Mikan-chan. Hahaha..Lagi-lagi, ya, Nonoko?" gadis berambut pink panjang bergelombang itu terkekeh pelan, sambil memandang seseorang disampingnya yang memang nampak serupa dengannya.
\"Hihihi..benar. Lagi-lagi kami dikira kembar. Mikan-chan, kami bukan kembar kok. Nama keluarga kami pun beda. Tapi karena kami memang mirip dan selalu bersama, jadi banyak orang yang mengira kami kembar deh."
Pemilik rambut pink bergelombang menyodorkan tangannya kepada Mikan. "Kenalkan, aku Anna Umenomiya. Aliceku adalah cooking alice."
"Dan aku," gadis yang satunya, pemilik ramubut biru tua lurus, menunjuk dirinya sendiri sebelum menyodorkan tangannya kepada Mikan, "Nonoko Ogasawara . Alice milikku, chemistry alice."
"Wah, alice kalian unik, ya."
"Hahaha..begitukah? Mikan-chan sendiri, alicenya tipe yang sangat jarang, tuh."
Mendengar itu semua, si Hazel hanya bisa tersenyum kecut.
'Jarang, tapi tidak di keluargaku. Kalau bisa memilih takdir, aku tidak ingin aliceku seperti ini, Nonoko, Anna..'
"Boleh tidak kami panggil Mikan-chan saja?"
"Tentu. Aku senang sekali kalian memanggilku Mikan-chan. Salam kenal, kalian semua. Mohon bantuannya ya, dan semoga kita bisa berteman baik."
"Mikan-chan."
Kali ini seorang pemuda berkacamata menghampirinya. "Perkenalkan, aku Yuu Tobita. Iinchou kelas ini. llusionary alice ."
"Yoroshiku mo, Iinchou."
Di tengah suasana akrab perkenalan Mikan dengan tiga orang itu, seorang gadis berambut hitam sebahu yang dibagian bawahnya curly menghampiri meja Mikan dengan angkuhnya.
"Hei, kau, murid baru."
"Ah, salam ke—"
"Sepertinya murid baru ini tidak tahu ritual kelas ini dalam menerima murid baru, ya."
Gadis itu tersenyum angkuh. Mendongak dengan senyum licik penuh kemenangan.
"Memang ritual apa, Permy?" Anna-chan malah bertanya balik.
"Diam kau! Dan namaku bukan Permy, tapi Sumire Shoda! Ingat itu baik-baik!"
Yuu Tobita, sebagai Iinchou kelas maju dan menengahi perkataan tajam Sumire. "Baik..baik..Sumire. Kenapa ini? Bicara saja dengan baik-baik."
"Sebelumnya aku ingin bertanya dulu ke murid baru yang sok cantik ini..Hmm.." Sumire Shoda menggantungkan perkataannya sambil memilin-milin rambutnya dengan centil, "Apa..level bintangmu dan kelas kemampuan khususmu, heem?"
Permy menatap tajam Mikan. Anna, Nonoko, Iinchou, Ruka, Natsume, dan Hotaru (yang tidak terlibat, tapi mereka mendengar) juga ikut-ikutan menatap Mikan penuh penasaran. Tapi tatapan penasaran yang, tentu saja, tidak seperti tatapan Permy.
"Ahh..itu.. Kata Narumi-sensei itu masih ditentukan kemudian. Mungkin 2-3 hari lagi. Karena tipe Aliceku termasuk tipe yang jarang dan juga masuk dalam perhitungan.."
Sumire Shoda tertawa keras. Suaranya menggema di seluruh penjuru kelas. "Huump..Hahahaha!"
Kedua alis Hotaru bertaut, diiringi dengan mata amethystnya yang juga menatap Sumire Shoda tanpa ekspresi. "Apa yang lucu dari pernyataan itu, Permy? Aku merasa tidak ada yang aneh apalagi lucu dalam pernyataan itu. Apakah syaraf otakmu ada yang tidak beres?"
"Hahahaha! Tidakkah kalian merasa lucu? Apa itu alicenya? Nullification? Sungguh alice yang tidak berguna dan merendahkan pengguna alice, kalian tahu? Aku yakin si Narumi mengatakan hal itu padanya karena tidak ingin membuat anak ini kecewa atas kenyataan sebenarnya! Kukatakan ya, dengan alicemu itu, kamu tidak akan mendapatkan lebih daripada Special Ability Class, tempat berkumpulnya pengguna alice pecundang! Dan soal level bintangmu, aku berani bertaruh kau itu hanya pantas mendapatkan level Single Star, atau bahkan, nothing!"
Mikan menunduk. Ia terdiam. Namun justru Anna, Nonoko, Hotaru, Natsume, Ruka dan Iinchou yang membelanya.
"Permy, kamu kelewatan.."
"Benar. Mikan-chan, Tidak usah dipikirkan, yah. Itu bohong. Kita lihat saja bagaimana nanti keputusan Narumi-sensei dan guru-guru lainnya. Tapi sungguh, alicemu tidak seburuk itu,kok."
Hotaru menghentikan utak-utik pada mesin yang ditangannya sambil menatap kosong kepada Permy,"Hanya orang bodoh yang beranggapan begitu..Ahh, tunggu..Kamu orang bodoh itu ya. Hmm..Tidak heran."
"Huump..entah bagaimana aku setuju denganmu, Imai." senyum licik Natsume mengembang.
"Oh ya?" Hotaru menyahut datar.
Dilanjutkan dengan suara tenang penuh penekanan dari Ruka, "Sumire-san..jaga bicaramu.."
"Aku hanya mengatakan kebenarannya, kok, Ruka-kun. Atau begini saja, Sakura-san..Aku menantangmu untuk menghadapai tantangan kami di hutan sekolah sana, sepulang sekolah ini. Bagaimana?"
"Konyol."tanggap Natsume dan Ruka berbarengan.
Namun entah bagaimana, setelah apa yang dikatakan Permy, si gadis itu, Mikan Sakura, masih dapat tersenyum. "Boleh." sahutnya kalem.
"Jangan anggap remeh, Sakura. Di hutan itu ada banyak bahaya. Dan juga kami akan melakukan suatu hal yang menarik kepadamu."
"Aku tidak akan menganggap remeh, kok. Kalau dengan itu aku bisa diterima lebih baik disini, baiklah, akan kulakukan. "
"Hmm...Menarik..Persiapkan dirimu, Mikan Sakura."
Permy berlalu dengan angkuh, kemudian berjalan keluar kelas. Entah hendak kemana.
"Kau tidak apa-apa, Mikan-chan?" ucap Nonoko, Anna, dan Iinchou sambil menatap Mikan kasihan.
"Euhm. Aku tidak apa-apa kok. Nonoko, Anna, Iinchou. Terima kasih sudah membelaku. Oh ya, Imai, Natsume, dan..uuhm.." pandangan Mikan langsung beralih kepada seorang pemuda blonde yang tepat duduk di sebelah Natsume.
Tak perlu ditanyakan dengan gamblang, pemuda pirang itu langsung mengerti arti tatapan Mikan. "Aku Ruka Nogi. Sahabat Natsume. Animal Pheromone alice. Yoroshiku, Sakura-san."
"Ah, kalau begitu, Ruka-kun. Yoroshiku mo. Terima kasih juga kalian sudah membelaku. "
Natsume membuang muka. "Bukan untukmu, kok."
"Panggil aku Hotaru saja." tanggap Hotaru.
Mikan maklum dengan tanggapan acuh tak acuh Natsume. Dan kembali tersenyum mendengar perkataan Hotaru. "Arigatou, Hotaru-chan."
Gadis itu, Hotaru Imai, kembali bertanya dengan nada datar. "Kau benar tidak apa-apa?"
"Be..Benar, Mikan-chan..Kamu tidak apa-apa? Jangan pikirkan perkataan Permy..ah, Sumire itu tadi. Dia memang seperti itu." kata Iinchou.
"Terimakasih sudah mencemaskanku, minna. Tapi aku sungguh tidak apa-apa. Daripada itu, kita makan bento diluar, yuk?"
Gadis itu kembali tersenyum. Senyum hangat seperti yang biasa ia lakukan dari tadi. Yang lainnya merasa lega, namun tidak dengan Natsume. Seorang Natsume diam-diam memperhatikannya dengan beribu makna yang mendalam. Sepertinya ia tahu 'sesuatu' tentang gadis itu..
Namun..apa?
Apakah itu hanya perasaannya saja?
Ataukah..memang ada arti lain dari senyum itu?
Kenapa senyum manis itu terasa menyesakkan bagi Natsume yang melihatnya?
Kenapa..?
Kenapa..?
Mikan..apa yang kau sembunyikan dari kami..?
-000-
Sementara itu, Ruang Guru Alice Academy:
"Anak itu..." Serina-sensei memperhatikan sesuatu yang terpampang melalui bola kristalnya dengan tatapan ragu, "Narumi-sensei, ii no? Anak itu..dia.."
Serina-sensei menggigit ujung bibirnya sendiri. Tidak jadi melontarkan apa yang ingin dikatakannya. Sedangkan, Narumi-sensei, guru yang dipanggil olehnya itu menoleh kearah Serina-sensei.
"Yah..anak itu, bukan? Mikan Sakura?"
Guru itu mengangguk pelan. Tanpa ekpsresi. "Aku melihat..sesuatu yang.."
"Aku tahu." jawab Narumi pelan. Mendahului menjawab bahkan sebelum pertanyaan itu selesai dilontarkan. "Sungguh berat takdir anak itu. Sebagai klan Sakura..ia.."
"Jangan cuma berkata saja, Narumi..Apa tindakanmu dengan anak itu selanjutnya, heem?" tanya Misaki-sensei.
"Aku..memasangkan Natsume Hyuuga sebagai partnernya. Yah, kuharap itu dapat membantunya meskipun sedikit.."
"Dan..kelas bintang anak itu..? Juga kelas kemampuan khususnya?"
"Untuk kelas bintang, aku hendak menaruhnya di level Special Star, sama seperti Natsume. Soalnya..anak itu, sedikit mirip dengan Natsume. Beban yang ditaruh di pundaknya saat ini, tanggung jawab yang harus dipikulnya..sama, atau mungkin bakal lebih berat dari Natsume. Setidaknya, bagiku..Level yang akan kuberikan sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan takdir beratnya."
"Aku mendukungmu, Narumi. Aku juga setuju pendapat itu..Itu tidak seberapa."
"Kelas kemampuan khususnya?"
"Mempertimbangkan alicenya, aku memilih memasukkan dirinya di Special Ability Class. Tapi mempertimbangkan tanggung jawabnya, dia masuk ke Dangerous Ability Class. Dia akan...mengemban dua kelas sekaligus."
-000-
Sepulang Sekolah, Mikan's POV
Bel baru saja berdentang 3 kali. Tanda pelajaran untuk hari ini berakhir. Aku mengemas buku-buku dan segala peralatan sekolahku ketika Sumire Shoda menghampiriku. "Mikan Sakura, jangan kabur kalau kau mengaku bukan pengecut."
"Aku tidak akan kabur,kok, Sumire. Tenang saja.."
Ya. Aku tidak akan kabur menghadapi hal yang hanya seperti ini. Meskipun aku tidak tahu, apa yang mereka rencanakan kepadaku, tetapi separah-parahnya ujian dari mereka, pastilah, aku yakin bahwa misi yang diberikan keluargaku jauh lebih berat. Jika hal ini saja aku kabur, itu sama saja dengan memalukan nama Klan Sakura.
Aku tidak akan kabur...Aku kuat..Ingatlah, Mikan, Kau membawa nama baik keluargamu di sini. Jangan bertindak pengecut..
Normal POV
Nampak serombongan anak-anak berseragam kemeja dengan bawahan biru kotak-kotak Alice Academy berjalan beriringan menuju ke arah hutan. Formasi depan diisi oleh Sumire cs, belakang diisi oleh Mikan, si gadis yang baru saja pindah, dan di kanan-kirinya ditemani orang-orang yang nampaknya dapat dikatakan sebagai sahabat barunya.
Hotaru,Iinchou, dan kedua makhluk nyaris kembar, Nonoko dan Anna.
Di paling belakangnya lagi, ada Natsume Hyuuga dan Ruka Nogi, dengan Nogi yang masih membawa kelinci di bahunya.
'TEEP'
Langkah Permy terhenti. Tepat di depan sebuah gubuk kayu yang nampaknya cukup terawat. "Nah.."
Rombongan pun berhenti di situ pula, mengikuti Permy.
"Disini, Sumire?" tanya Mikan.
Anna dan Nonoko bergidik hampir bersamaan. "Su..Sumire..Ini kan.."
Sumire tersenyum licik.
"Mi..Mikan-chan..kau harus hati-hati di sini..Di gubuk itu tinggal sebuah boneka beruang. Dia boneka beruang yang hidup atas pengaruh alice Senpai kita, Kaname. Kami menyebutnya di sini Mr. Bear. Meskipun boneka, dia terkenal sangat garang dan jahat. Dia juga kuat. Setiap ada yang mendekati gubuknya..ah..tidak. Pokoknya setiap orang yang memasuki hutan ini kemudian bertemu dengan dia, hampir bisa dipastikan dia akan menatapmu dengan pandangan super dingin dan kamu akan pulang dengan luka-luka hasil tonjokan Bear." terang Iinchou.
"Hmm..Begitu ya..."
"Mikan Sakura, " Sumire Shoda berteriak dengan nada pengumuman, "Ini ujian pertama bagimu untuk bisa diterima di kelas 2B. Akan kita lihat sebagaimana kemampuanmu, Mikan. Ujian pertama! Taklukkan Bear dan ambil keranjang buah di dalam gubuknya!"
"APAAAAAAAAA...?"
Sebagian besar murid berteriak panik. Kaget. Sisanya cuek dan memilih melihat begitu saja. Menjadikan ini semua sebagai tontonan gratis.
Mikan menghela nafas.
"Mikan-chan...hati-hati." bisik Anna. Mikan membalasnya dengan tatapan mata mengerling yag seakan mengisyaratkan kata 'Tenang saja.'
Mikan mulai mendekat. Mr. Bear mulai menatapnya dalam-dalam dengan tatapan liar yang tidak dapat diprediksi.
"Mr. Bear..Selamat siang. Namaku Mikan Sakura. Boleh aku masuk ke dalam gubukmu sebentar dan mengambil keranjang buahnya? Aku janji akan mengembalikannya. Aku hanya butuh meminjamnya."
Hening.
Tidak ada reaksi dari Mr. Bear.
"Hahaha! Bodoh kau, Sakura-san! Mr. Bear yang gahar itu tidak mungkin kemakan rayuanmu begitu sa—Eh?"
Permy hanya dapat bengong dan mengganti perkataannya ketika Mikan dengan mulusnya dapat memasuki gubuk Mr. Bear dan mengambil keranjang buah di dalamnya.
Diangkatnya keranjang buah itu tinggi-tinggi. "Ini, Sumire. "
Sumire kehilangan kata-katanya melihat itu semua. 'Kenapa ujian yang seharusnya paling sulit dan akan menertawakan dirinya sendiri jadi terlihat sebegini mudahnya bagi dia?'
"Mikan-chan hebaaat..." komen Nonoko.
Mikan tersenyum. Berbalik badan, ia melihat lagi ke arah Mr. Bear. Terlihat oleh Hotaru bahwa Mikan sedikit menggumam sesuatu tipis-tipis di dekat Mr. Bear tadi sebelum akhirnya mengembalikan keranjang buah itu.
"Ini, Mr. Bear."
'Apa yang dilakukan anak itu tadi?' batin Hotaru.
"Uukh! Aku akui kamu lumayan juga sampai sini, Sakura. Mari kita lihat kemampuanmu di ujian berikutnya. " tantang Permy balik. Ia melangkah. Tanpa perlu komando pun seluruh anak mengikutinya dengan rasa iseng dan penasaran yang amat sangat.
Sampai di tempat berikutnya, muncul dua Senpai berpakaian kemeja Alice Academy dengan bawahan kotak-kotak coklat telah menunggu mereka. Satu adalah lelaki yang cukup tampan bertopi, pipi sebelah kanannya terdapat gambar bintang biru, entah apa maksudnya. Dan satu lagi gadis cantik berambut kemerahan lurus. Keduanya nampak sangat serasi.
"Ini Tsubasa Andou-senpai dan juga Misaki Harada-senpai. Pemilik Shadow Controlling alice dan doppleganger alice." Sumire memperkenalkan dua orang di hadapan mereka sekarang. " Ujian keduamu, Mikan Sakura. Hadapi mereka ini dengan alicemu dan fisikmu!"
"Hallo.." senpai yang berambut biru itu menyapa Mikan, "Aku Tsubasa. Sebenarnya aku cuma diajak anak itu untuk mengetesmu, sih..tapi boleh juga nih kuajak kenalan. Wajahmu baby face banget, ya? Boleh kupanggil Chibi-san?"
"Tsubasa!"
Senpai cewek berambut kemerahan memukul Tsubasa cukup keras. "Dasar kamu! Kaya' playboy saja!"
"Hahahaha..Tidak apa-apa, kan, Misaki."
Mikan diam saja, Bingung mau membicarakan apa melihat dua senpai yang akan mengujinya justru malah saling asyik bergulat sendiri. Dia baru saja sadar saat duo Tsubasa-Misaki itu menatapnya kompak.
"Mikan..?"
"Chibi-san?"
"Eh..Eh..Iya, senpai. Boleh kok manggil aku Chibi-san. Hahaha."
Misaki menggeleng-gelengkan kepala. "Mikan, seharusnya cowo semacam ini jangan malah ditanggapi."
"Euhhhm..Senpaaaai...?"
Sindiran Permy menyadarkan kedua Senpai yang asyik menggoda juniornya ini kembali ke mode serius. Keduanya tersenyum kompak.
"Baiklah. " Misaki menggulung senyum sebelum memulai alicenya, "Kita mulai, Mikan. Persiapkan dirimu."
Dalam sekejab, Misaki memperbanyak diri dan langsung mengepungi Mikan. "Aku tidak akan segan-segan."
'ZLEEEP!'
Seluruh Misaki-Misaki itu melakukan gerakan tendangan melingkar yang sangat kompak. Mikan dengan gesit langsung melompat. Saat ia akan kembali menjejakkan kakinya di atas tanah, Tsubasa tersenyum. Bayangan Mikan langsung diinjaknya sehingga Mikan yang sudah berada di tanah tidak bisa bergerak.
"Ehhh...?"
"Ini alice-ku, Chibi-san." seringainya.
"Yak. Siap-siap dengan ini, Mikan!"
Misaki bersiap melakukan serangan fisik yang sedikit berbeda dari tadi. Semacam gerakan karate atau sejenisnya yang diperkuat dengan pasukan dirinya."HIIIIAAAAH!"
Di tengah keadaan terjepit itu, Mikan tiba-tiba menyeringai. Bersamaan dengan seringainya, pasukan Misaki yang mengepungnya tadi hilang dan kontrol bayangan yang diinjak Tsubasa lepas.
"Apa.."
"Senpai," dalam sekejab, Mikan mengunci kedua tangan Misaki yang hampir digunakan dalam serangan barusan."Inilah aliceku."
Tsubasa dan Misaki terkejut. Anak-anak kelas 2B juga lebih terkejut lagi. Alice doppelganger Misaki dan Shadow Controlling Tsubasa itu dengan mudah dipatahkan. Dihilangkan efeknya oleh alice si Murid Baru itu. Mikan Sakura.
"Mikan-chan keren sekali~" gumam Nonoko dengan mata berkilat-kilat penuh kekaguman.
"Bagaimana, Sumire? Apa aku lulus?" tanyanya.
Sumire membeku. Dia diam saja. Tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Alice Mikan sungguh luar biasa!
"..Kurasa kau bisa dikatakan lulus."
"Kalau begitu, Mikan-chan. Kita ulangi sekali lagi penyambutannya, ya." Iinchou menyahut, "Mikan Sakura, kau diterima sepenuhnya di sini. Selamat datang di kelas 2B."
-000-
"Mikan-chan~ Kami mau pulang ke asrama. Kau mau pulang juga tidak?" tawar Nonoko usai acara pengujian Mikan tadi.
"Duluan saja, deh, Nonoko. Aku masih mau melihat-lihat seluruh isi sekolah ini lagi. Ehe.."
"Begitu ya..Ya sudah, aku kembali ke asrama duluan, ya..Dadah, Mikan-chan." pamit Nonoko, kemudian berlalu meninggalkan Mikan.
Sebagian besar murid kelas 2B sudah bubaran dari acara tadi. Hanya tinggal Mikan dan sedikit orang yang masih berada di sana.
Sepasang mata amethyst memperhatikannya secara diam-diam di balik pepohonan. Dia melepas satu alat buatannya yang berwujud seperti lalat. Lalat itu terbang perlahan mendekati Mikan yang berada di sana.
"Imai-san?" tanya pemilik sepasang bola mata blue sapphire mendekat, "Sedang apa?"
Hotaru Imai menoleh sedikit dan melengos, kembali ke sasarannya semula begitu tahu dengan jelas siapa yang menyapanya. "Mematai.." sahutnya pelan.
"Kalau kau sedang luang, temani aku mematai mereka, Nogi." lanjutnya.
"Hmmm.." si pemilik nama Nogi itu berpikir sedikit sampai pada akhirnya ia beringsut mendekat Imai."Oke. "
Sementara itu, bagi Mikan, keheningan yang khusyuk kembali merebak di tempat itu, hingga pemuda bermata crimson itu menyapanya.
"Hei, Sakura-san.."
"Hm?"
"Mau..jalan sebentar?"
-000-
Natsume's POV
Aku takjub melihat dirinya yang tadi. Ternyata ucapannya bukan isapan jempol belaka. Nullification alicenya hebat. Sungguh hebat bahkan. Pengendalian dirinya juga bagus.
Aku melirik dirinya.
Dia akan menjadi partner sekaligus sainganku. Mikan Sakura..
"Natsume?"
Dia melambai-lambaikan telapak tangan kanannya tepat di depan wajahku. Berusaha membangkitkanku dari lamunan tentang dirinya yang sedang menguasaiku barusan. Dan, yah. Usahanya berhasil. Aku terkesiap kaget.
Mikan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kagetku. "Hahahahaha! Seorang Natsume Hyuuga bisa terkejut juga ternyata!"
Aku hanya bisa mendengus. Menertawakan sikapku tadi yang terbawa olehnya. Sampai sisi konyolku terlihat olehnya.
Dasar...Kemana image cool-mu, Natsume Hyuuga?
Aku mengangkat bahuku pelan. Mengisyaratkan 'tidak tahu' sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan sendiri oleh sisi lain hatiku.
"Aku pikir seorang Natsume Hyuuga adalah makhluk yang dingin..yah, meskipun kamu baik sih, dari hari pertama kita bertemu. Tapi sisi cool dari dirimu tetap saja ada. Aku sampai heran. Ini manusia, atau es, sih?" cerocos Mikan sendirian.
Ditemani dengan angin sore yang berdesir diantara rambut crimson ku dan rambut brunette gadis itu, aku bergumam."Ngg..Semuanya memang begitu. Sampai kau datang..."
.
.
Hening...
"A..apa katamu tadi, Natsume?"
Pertanyaan itu terdengar klise, namun penuh nada gemetaran. Aku memperhatikan wajahnya.
Dia..memerah? Atau..tunggu..Itu hanya imajinasiku sajakah?
Hening sekali lagi.
Aku akhirnya menjawabnya dengan sama pelannya.
"Tidak apa-apa.."
Hening lagi. Entah kenapa suasana diantara kami jadi saling hening seperti ini. Jujur, aku tidak suka. Aku ingin ada pembicaraan di antara kami.
"Nee, Natsume?"
"Hng?"
Bagus. Akhirnya dia bicara juga.
"Atap sekolah ini bagus, yah. Tempat kita pertama bertemu..di atap sekolah ini. Aku suka melihat pemandangan dari atas sini. Segalanya..sempurna. Indah."
Senyum mengembang di bibirku. "Aku setuju, Sakura-san."
Aku merenung sejenak. Ia berbicara disaat itu.
"Sudahlah..kau panggil saja namaku. Mikan. Sama seperti yang lainnya memanggilku. Aku toh sudah memanggil namamu saja, Natsume. "
Tunggu. Ada tempat favoritku lagi. Kenapa aku baru ingat sekarang? Ah, sudahlah. Yang jelas, aku ingin memperlihatkan tempat itu kepadanya!
Pikiran itu terlintas dalam benakku. Tanpa lebih berbasa-basi lagi aku menarik tangannya begitu saja. Mungkin agak sedikit kasar.
"Na..Natsume? Ada apa?"
"Ikut aku. Akan kuperlihatkan salah satu tempat favoritku lagi," Natsume menjedanya sesaat sebelum akhirnya bersuara lagi dengan suara pelan. "Mikan."
-000-
Aku sampai didepan pohon besar itu. Pohon favoritku. Kulirik gadis itu.
"Wah...ini hebat sekali, Natsume. Pohon ini..hebat..." serunya.
Dalam kebisuan dan segaris senyum, aku melangkah. Menaiki pohon itu perlahan. Lalu mengulurkan tangan kepada gadis itu. Menawarkan bantuan kepada dirinya.
Mikan Sakura menyambut uluran tanganku. Perlahan, aku membantunya menaiki pohon itu sampai pada spot favoritku.
Kami duduk disana.
"Natsume..disini hebat. Aku suka. Pohon ini, rasanya..euhm..aku tidak tahu apakah yang kugambarkan ini tepat, tapi rasanya..damai? Eh, entahlah, Hehehehe...Dan..terimakasih."
"Hng..."
Aku menanggapinya dengan datar. Tetapi saat itu aku sadar dengan..langkah kaki yang mendekat.
Aku langsung waspada.
Siapa? Ini bukan langkah Ruka..atau..siapapun yang kukenal. Siapa..
"Nona.."
Gadis itu terkesiap. Ia langsung melongokkan kepalanya kebawah, di bawah dahan kokoh yang kami duduki. Aku juga. Kuperhatikan wajahnya sekilas. Mendadak, wajahnya tegang dan takut.
Keempat sosok berjas hitam yang menghampiri kami berujar pelan. "Saatnya telah tiba, Mikan Sakura.."
.
.
.
.
~Chapter 3: Mikan, with Class and..Natsume, Owari~
Keterangan:
*ii no? = bolehkah?
a/n: Fyyuuuuh..akhirnya chapter ini selesai juga..*menghela nafas lega*. Yap, readers. chapter ini lebih panjang daripada sebelumnya.
Disini aku memang berencana untuk menggali lebih dalam interaksi antara Mikan dan kelasnya, juga senpai-senpai dekatnya. Makanya kuketikkan dengan jalan cerita seperti ini. Mikan diuji untuk membuktikan kemampuan dirinya. Dan ternyata memang terbukti.
Tapi aku sendiri merasa aneh di bagian ujiannya Mikan. Abal banget, ya? Aneh? Apakah tantangan dari Permy nya kurang menantang? Terkesan datar engga, sih? #dgaplok readers karena banyak curcol aja#
Maaf sekali adegan pertarungan persahabatan antara Mikan dengan Tsubasa dan Misaki aneh dan singkat banget kaya gitu. Aku ga ada ide sich, bagaimana memunculkan adegan pertarungan antara 3 itu di sini.
Ok, curcol ku sampai di sini saja, deh. Readers, bersediakah mereview fict-ku?
Bagi yang sudah review, review lagi dunk.
Bagi yang silent reader, review please.
