Ryoma menoleh ke arah pintu, dan betapa kagetnya ia mendapati seseorang yang sudah sangat ia kenal berada di sini. Jantungnya berdegup kencang, dan tanpa sadar ia menelan dengan susah payah.

Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup.

"Malam, Echizen."

Dan, musim panasnya baru saja akan dimulai.


Summer Breeze

Disclaimer : Prince of Tennis to Takeshi Konomi

Rate : T

Genre : Romance / Drama. Genre bisa berubah seiring jalannya cerita.

Summary :

Ryoma pikir, liburan musim panasnya bisa ia gunakan untuk santai, tidak dikejar ujian sekolah ataupun turnamen tennis. Tapi, kali ini pikirannya salah. Di hari terakhirnya sekolah, ayahnya memberitahukan bahwa ada seseorang yang akan tinggal di rumah mereka selama liburan. Dan, liburan kali ini benar-benar menguras tenaga, hati, dan pikirannya, dengan berbagai fakta yang tiba-tiba muncul –atau sebenarnya sudah ia ketahui, tapi berusaha ia hiraukan?

WARNING! AU, OOC –maybe buat tokoh-tokoh utamanya- dan bakalan ada OC di chapter-chapter mendatang. Boyxboy alias Boy's Love walau di chapter awal-awal baru shounen-ai, Ryoma yang suka duluan tapi terlalu polos untuk menyadari bahwa itu cinta(?), dan bahasa berbelit(?), UPDATE NGARET hehe

This is a Pillar Pair fict!

DON'T LIKE DON'T READ

But yeah,

Enjoy!


Chapter 2 – Fact no. 1: He is coming.

Ryoma menenggelamkan dirinya di dalam bak mandi, rona merah menjalari wajahnya.

Sungguh, ia benar-benar merasa dipermalukan. Karena, di depan sang (mantan) kapten Seigaku, dirinya yang berwajah kucel, kotor, berdebu, belum mandi, dan memakai baju lecek. Benar-benar kesan pertama yang buruk!

Ia menenggelamkan dirinya, mencoba meleraksasikan dirinya di dalam air panas. Tapi, sepertinya hal itu tidak banyak membantu. Walau ia merasa lebih tenang, tapi tetap saja rasa gelisah merambat hatinya.

Akhirnya, setelah melihat waktu dan menyadari ia sudah berendam lebih dari sepuluh menit, ia beranjak dari bak mandi dan melilitkan handuk di tubuhnya, mengeringkan badan. Lalu, diraihnya baju ganti yang sudah ia siapkan –sebuah kaos putih hitam dan celana pendek- lalu memakainya. Dengan handuk masih di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang basah, ia keluar dari kamar mandi, tepat ketika Tezuka keluar dari kamarnya, yang pintunya berhadapan dengan kamar mandi.

"Ibumu berkata makan malam sudah siap." Kata Tezuka datar, seperti biasa.

"Hmm," Ryoma hanya bergumam, menghindari kontak mata dengan Tezuka. Tezuka menyadari hal itu, tapi ia menghiraukannya. Mungkin ada masalah pribadi yang tidak berkaitan dengan dirinya, begitu pikirnya.

Tapi, pikirannya salah. Karena perasaan tidak nyaman Ryoma untuk bertatapan mata dengan Tezuka –bukan dalam artian buruk- dikarenakan oleh Tezuka, berarti memang berkaitan dengan Tezuka.

Mereka beriringan menuruni tangga, dengan Ryoma di depan. Ia merasa tidak nyaman, dan ia berusaha mengabaikannya dengan (pura-pura) sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Untung, Tezuka tidak melihat raut wajah Ryoma.

Dalam diam, akhirnya mereka sampai di ruangan makan, dan sudah menunggu ayah dan ibu Ryoma juga Ryoga, yang kebetulan baru pulang dari Amerika namun hanya untuk dua minggu.

"Ah, hey kak."

"Hey, Ryo."

Kemudian, Ryoma duduk di sebelah kakaknya, lalu Tezuka di salah satu sisi Ryoma. Kemudian, mereka memulai makan malam dengan sunyi.

Selama makan, Ryoma mengenang –alah- kejadian tadi sore sekitar setengah jam yang lalu, saat sang (mantan) kapten berdiri di depan rumahnya…

Flashback

"Malam, Echizen."

Ryoma membeku sesaat. Ia hafal suara ini! Benar saja, ketika ia mendongak, ia mendapatii orang yang ia rindu –yang baru saja ia pikirkan!- berdiri di depan rumahnya. Dengan tas tennis di bahu kanan, tas ransel di punggung, dan koper berukuran dii sebelahnya.

Sesaat ia terpana melihat kaptennya dengan balutan pakaian normal layaknya remaja lainnya, tetapi sesaat kemudian ia menyadari bahwa mereka tidak hanya berdua –ada ayahnya, demi Kami-sama!- lalu akhirnya ia berhasil mengendalikan dirinya, berdehem sambil memalingkah wajahnya –yang ia yakini- sudah memerah sekarang. "Malam, bunchou."

"Ryoma, bantu Tezuka-san membawa kopernya!" akhirnya sang ayah bersuara memecah kesunyian setelah brehasil mengndalikan diri agar tidak tertawa melihat anaknya yang salah tingkah di depan kakak kelasnya.

"Ha?"

"Bantu bawakan barang Tezuka-san ke kamar kosong di sebelah kamarmu," ulang Nanjiro dengan penekanan di setiap kata.

"Ung…"

Akhirnya dengan wajah merengut, Ryoma menerima ransel Tezuka dan memimpin ke kamar yangbaru saja ia bersihkan. Yang masih lengkap dengan peralatan bersih-bersih di dalam kamar. Dengan menahan agar wajahnya tidak memerah –dan mungkin tidak terlalu berhasil, Ryoma menyambar kilat semua sapu, kemoceng, lap dan yang lainnya. Mengeluarkannya dan lalu berdehem sambil membershikan tangannya.

"Eng, anu bunchou, ini kamarnya."

Tezuka, yang sedari tadi seakan memikirkan sesuatu (bocoran dari author: Tezuka memikirkan tingkat Ryoma yang OOC sebenarnya sodara-sodara!) tersadar, lalu membetulkan letak kacamatanya sambil menyeret kopernya masuk. "Thanks, Echizen."

.

.

Sunyi.

Kemudian, Ryoma berdehem, beranjak keluar kamar dan menyambar alat kebersihan yang berada di samping pintu. "Kalau bunchou membutuhkanku, aku ada di kamar sebelah. Tapi, aku mau menaruh ini dulu," ucapnya datar, lalu berlari menuruni tangga menuju dapur. Tidak menyadari sang bunchou yang menatapnya dengan senyum geli.

Lalu, setelah menyambar air dingin untuk minum, Ryoma berjalan kembali ke kamarnya sambil mengomel. Dengan bahasa inggris tentu, takut ia keceplosan mengatakan hal yang macam-macam lalu akhirnnya terdengar oleh sang kapten.

"Damn. Why he's here? Ck, I felt cold," gumamnya, sambil mengacak rambutnya. Lalu ia membuka pintu kamar dan membantingnya cukup keras, sampai mengakibatkan ayahnya yang berada di lantai bawah mendengar dan hampir berseru.

"Ck, I thought this summer I could go back to USA, but when I knew aniki was here, I cancelled the ticket. But now?"

Ryoma membuka jendela kamarnya, lalu tiduran di tempat tidurnya. Merentangkan kedua tangannya, memandang langit-langit, menghela nafas perlahan.

"I wish this summer will be better," gumamnya, memejamkan mata.

Sampai kemudian, ia membuka mata dan memandang jam dinding. Pukul tujuh lewat empat puluh. Kemudian ia menyadari bahwa ia belum mandi sama sekali –niatnya untuk mandi setelah bebersih seperti terhapus dari otaknya begitu mengetahui Tezuka-senpai berada di depan pintu rumahnya. Akhirnya ia terduduk, berdiri dan menyambar handuk yang tergantung di pintu lemarinya, membanting pintu kamar dan melesat menuju kamar mandi.

Dan ia tidak menyadari ada seseorang yang mendengar semua yang ia katakan –walau tidak mengerti keseluruhan artinya- dan saat beberapa umpatan dan bantingan pintu terdengar, ia meriingis tapi kemudian tersenyum geli.

Tanpa ia sadari, dengan adik kelasnya itu, mukanya yang kaku akan lebih berekspresi.

Di dalam kamar mandi, Ryoma berendam menenangkan pikirannya, dan baru beranjak saat ia melirik jam dan sudah pukul delapan kurang lima.

"Dinner must be deserved," gumamnya, lalu beranjak dari bak mandi dan menyambar handuk, mengeringkan tubuhnya, dan berpakaian.

Saat ia mengeringkan kepalanya dan membuka pintu kamar mandi lalu beranjak dari sana, tepat pada saat itu Tezuka membuka pintunya…

End of Flashback

"…kun, Ryo-kun!"

"Ya?" dua kepala terangkat, Ryoma dan Ryoga. Lalu keduanya berpandangan, dan Ryoma berbalik memandang ibunya, cemberut.

"Bu, kan sudah kubilang, kalau ada aniki di rumah jangan panggil aku Ryo-kun! Yang nengok kan jadi dua orang!" protes Ryoma dengan nada sedikit kekanak-kanakan sembari cemberut. Ryoga terkekeh di sebelahnya, sementara Tezuka menahan seringai di sisi yang lain.

Tezuka benar-benar tidak menyangka bahwa anak seperti Ryoma bisa bertingkah seperti ini di rumah.

Kesal karena hanya menjadi bahan tertawaan kakaknya, Ryoma meraih sumpitnya dan menusukkannya ke tangan kanan kakaknya, membuahkan sebuah ringisan dari sang korban dan sebuah jitakan kepada sang pelaku sebagai balasan.

"Aw! Sakit, aniki!"

"Itu salahmu sendiri, baka! Ngapain juga nusuk-nusuk pake sumpit?"

"Ye, salah aniki juga kenapa ketawa!"

"Alasan yang tidak logis!"

"Yang penting alasan!"

"Woo dasar, alibi!"

"Biar!"

"Kalian," Nanjiro meletakan sumpitnya. Akhirnya ia buka suara juga melihat keributan kedua anak itu. Biasanya sih, Ryoga pasti mengalah. Tapi, entah kenapa hari ini remaja tersebut sedang dalam mood menjahili adiknya. "Jangan membuat keributan di sini!"

Ryoma dan Ryoga menghentikan perang mereka, perang yang hampir pecah menjadi perang dunia ke6(?) dan menatap ayah mereka.

"Gomen, yah."

"Kalian itu, ada tamu di rumah malah bertingkah kekanak-kanakan. Gimana sih?"

Ryoma tersentak mendengar pernyataan itu. Benar! Ada Tezuka-senpai di sebelahnya, dan ia bertingkah kekanak-kanakan? (A/N: Lu tuh emang masih kecil, Ryo-kun! Wakakak)

Ryoma menoleh, dan benar. Ia mendapati sang bunchou sedang menahan seringainya sambil menatap ke arahnya. Sekejap Ryoma langsung mengalihkan wajahnya ke makanannya, meraih sumpitnya dan makan dalam diam. Berharap sang kapten sudah mengalihkan perhatiannya.

Tapi, kebalikannya malah Tezuka menatap Ryoma lekat-lekat. Ada yang aneh, yang ia rasakan, tentang tingkah laku Ryoma akhir-akhir ini. Kadang mendekat, kadang menjauh. Tidak mau berkontak mata.

Memang ada kesalahan yang ia lakukan?

'Yah,' Tezuka membatin, meraih kembali sumpitnya dan mulai makan, 'Mungkin saja ada masalah dengan teman atau pacarnya?'

Sekarang, hanya ada sedikit getaran saat ia menyebut 'pacar' kepada Ryoma. Tapi ia tidak menyadari, bahwa lambat laun getaran itu membesar.

Oke, kembali ke cerita. Mereka berlima makan dalam diam, sunyi. Sampai Ryoma, yang entah kenapa cepat sekali makannya, menaruh sumpitnya dan beranjak.

"Aku selesai."

"Jangan pergi ke mana-mana, Ryoma."

"Aku memang tidak berniat ke kuil, yah,"

Ryoma memang tidak berniat ke kuil, ia hanya duduk di ruang TV dan menyalakan salah satu peralatan elektronik umum itu. Hanya berpindah-pindah saluran, dan akhirnya ia menetapkan pilihan pada channel musik. Channel olahraga-nya sedang bukan tennis.

Tanpa sadar, sosok Tezuka sudah berada di sebelah Ryoma, duduk di sebelahnya. Dan ketika Ryoma menyadarinya, ia hampir terlonjak. Ia memang bisa mengendalikan diri, tapi tentu saja reaksinya tertangkap mata Tezuka.

"Ada masalah, Echizen?"

"Ah, tidak, bunchou… hanya, bunchou mengagetkan."

Tezuka menaikan sebelah alisnya. Bukannya sudah sedari tadi ia ada di sini?

"Bukannya aku sudah lama di sini? Dan jangan panggil aku bunchou, aku sudah hampir bukan bunchou-mu lagi."

"Hem," Ryoma terlihat berfikir, tapi perhatiannya teralih oleh tv, yang sedang menayangkan salah satu konser musik luar negri. "Lalu, kau kupanggil apa? Tezuka-san."

"Yah, itu juga boleh."

Percakapan mereka terhenti saat sosok Nanjiro Echizen melangkah masuk, duduk di salah satu sofa yang berbeda dengan mereka. Tatapan matanya lurus, menatap anaknya.

"Yah."

"Apa?"

"Sepertinya ayah belum memberitahuku alasan Tezuka-san menginap di sini."

"Uhuk!" entah kenapa Nanjiro merasa tertohok mendengar pertanyaan menjurus tapi diucapkan dengan nada polos oleh anaknya itu. Ia kemudian mengacak rambutnya, berusaha terlihat wajar.

"Hem, sebenarnya, orangtua Tezuka-san merupakan teman dekat ayah, dan mereka sekeluarga akan pergi ke luar negeri selama musim panas, meninggalkan Tezuka-san sendirian. Lalu, ayahnya menitipkan Tezuka-san untuk tinggal di sini selama musim panas."

"Uhuk!" sekarang gantianlah Ryoma yang tersentak, terbatuk. "Apa? Jadi, selama musim panas?"

"Yup."

"Ayaaaah~ kenapa tidak bilang sejak lama?"

"Keputusannya saja baru di buat." Terdapat nada ragu di dalam nada suara Nanjiro, karena memang kebohongan yang ia ucapkan.

Dan sayangnya, Ryoma menangkap nada itu. Ia menyerngit, menyadari ada yang salah. Ia ingin bertanya –atau mungkin membantah- tapi dilihat dari raut wajah ayahnya yang sepertinya tidak ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, sehingga Ryoma memilih untuk menutup mulutnya.

'Tidak, kebenarannya baru boleh di ucapkan nanti. Yang sekarang, yang terpenting adalah membuat Ryoma menerima Tezuka di rumah,' begitu pikir Nanjiro.

Tapi sebenarnya, Ryoma sudah menerima Tezuka melebihi perkiraan ayahnya sendiri.

"Ah, baiklah." Katanya datar. Setelahnya, Ryoma berdiri dan berjalan ke arah tangga.

"Mau ke mana?"

"Lapangan Tennis."

"Tung-"

Ryoma berbalik, menatap ayahnya kosong. "Sepertinya aku tau maksud ayah tidak membuatku pergi ke kuil. Karena akan membicarakan ini kan? Pembicaraan sudah selesai, jadi biarkan aku bermain sebentar." Segera ia berlari ke arah tangga, membanting pintu kamarnya, lalu menyambar tas tennis-nya. Segera ia berlari menuruni tangga, melewati ruang tv dengan menghiraukan teriakan ayahnya, lalu membanting pintu depan.

"Aduh, tuh anak. Kalau lagi bad mood kerjaannya pasti membanting pintu," decak Nanjirou, menyalakan rokoknya.

Tezuka terdiam di tempatnya. 'Benarkan Echizen tidak menerimanya di sini?' batinnya. Kalau hal itu terjadi, mungkin liburan musim panasnya tidak akan berjalan baik.

Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada Nanjiro. "Nanjiro-san, apakah anda tahu kemana Echizen pergi?"

Nanjiro menghembusan rokoknya, kemudian mengganti salura tv. "Ke lapangan tennis di samping kuil. Di sanalah ia biasa berada kalau bad mood seperti itu."

"Terima kasih, Nanjiro-san."

Nanjiro mengangguk, matanya mengikuti kepergian Tezuka. "Tezuka-san."

"Ya?"

"Jangan pakai bahasa terlalu formal, anggap saja rumah sendiri."

Tezuka terlihat seperti menimbang-nimbang, dan akhirnya ia mengangguk. "Ya, baiklah. Terima kasih Nanjiro-san."

Tezuka berbalik dan berjalan menuju pintu, memakai sendalnya dan dengan cepat berlari menyusul Ryoma, berharap adik kelasnya itu tidak berlari terlalu jauh.

Sementara Nanjiro masih menyalakan rokoknya, menghembusnya, bersamaan dengan ia menghembuskan nafasnya.

"Semoga semuanya berjalan lancar. "

.

.


.

.

"Echizen!"

Ryoma berbalik saat didengarnya namanya disebut, tapi begitu ia melihat siapa yang mengejarnya, ia malah berlari makin cepat.

"Echizen, tunggu!"

Mereka berlari menaiki tangga, lalu Ryoma dengan cepat berlari menuju lapangan tennis.

"Echizen!"

Ryoma berhenti, menaruh kedua tangannya di lutut dan menarik nafas dalam-dalam. Kecapekan setelah berlari menaiki tangga.

"Echizen!"

Ryoma berbalik dan mendapati sang kapten sedang berada di dekatnya, hanya sekitar dua meter di belakangnya. Entah kenapa, wajahnya memerah.

Tapi untungnya, rona kemerahan di wajahnya bisa ia samarkan sebagai efek dari larinya.

"Ja-jangan lari… jangan lari lagi-"

Ryoma jatuh terduduk, sementara Tezuka mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Ryoma menjauh, tapi tangan Tezuka menahannya.

"Kenapa memang?"

Mendengar nada saktrastik yang dikeluarkan Tezuka, Ryoma tidak jadi melakukan aksi menjauhnya dan duduk diam.

Sunyi.

"Kau marah?"

Sunyi.

"Hey."

Masih sunyi.

"Tidak," Ryoma akhirnya angkat suara. "Aku tidak marah kepada bunchou."

"Lalu, kenapa kau menjauhiku?"

"Aku-" Ryoma angkat suara. Tapi, kemudian ia menutup kembali mulutnya. Kenapa coba ia menjauhi kaptennya? Ia kembali berfikir. Bukannya tidak apa-apa bunchou-nya itu menginap di rumahnya? Toh orangtua dan kakaknya tidak keberatan. Dan lagi, di sudut terkecil hatinya, ia sangat memimpikan hal ini dan begitu terwujud, tentunya ia merasa senang, bukan?

Tapi kenapa ia bersikap sebaliknya?

"Mungkin… tidak tahu."

"Ha?" tentu saja Tezuka heran dengan jawaban yang tidak masuk akal itu! "Apa maksudmu dengan tidak tahu?"

"Sudah, abaikan saja. Dan, maaf."

Tezuka menghela nafas. Saat sang kouhai menolak untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, mungkin memang dianya tidak akan mau menjelaskan lagi. Jadi, tidak ada gunanya mendesak. "Maaf? Untuk?"

"Karena menjauhi bunchou akhir-akhir ini."

"Sudahlah," Tezuka mengibaskan tangan. "Aku tidak marah ini."

"Hmm…"

Mereka saling diam, menatap langit yang ganjil karena ketidak hadiran sang bulan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, dan Ryoma menutup matanya. Tidak menyadari sang bunchou yang menatapnya lekat-lekat.

Entah kenapa ada sedikit rasa damai menyusupi hati Tezuka saat ia melihat kouhai-nya menutup matanya, terlihat seperti tertidur dengan wajah damainya. Rasa menenangkan, dan akhirnya ia memutuskan tatapannya dan mengalihkannya kepada langit yang terisi bintang, menutup matanya juga dan tersenyum.

"Hey, Echizen…"

"Ya?"

"Mohon bantuannya ya selama liburan ini."

"…"

"Echizen?"

"…." Ryoma memalingkan wajahnya saat dilihatnya sang kapten menatapnya lekat-lekat. Jantungnya seakan akan meledak saat dilihatnya tatapan tajam itu –yang entah kenapa begitu ia suka dan begitu ia ingin lihat terus- dan mendengar nada bersahabat yang dipakai oleh bunchou-nya.

"Ya… baik."

"Hmm…"

Mereka berdua saling bertatapan, lalu setelah beberapa detik kontak mata mereka terputus, dan mereka berdua saling menatap langit.

Ryoma harap, semoga liburan kali ini bisa ia lalui dengan tenang, damai, seperti malam ini.

Ah, tapi kadang, harapan tinggal harapan.

Karena tidak ada seorang pun yang akan mengetahui kejadian apa yang akan menimpa mereka di masa mendatang…

.

.


X0X0X0X0X0

TBC

X0X0X0X0X0


HEEEEEY!

Bagaimanaa?

Hem, mungkin masih rada-rada 'rada-rada' *ngerti maksudnya?* dan lagi masih penuh dengan basa-basi. Sebenernya ini bisa dijadiin satu chapter, tapi karena kemalasan sang author #PLAK! Sehingga chapter ini baru datang belakangan. Belum lagi fict ini masih sedikit petunjuk mengenai apa yang akan terjadi berikutnya.

Sayangnya, fict ini sudah ku-plot dan ditulis poin-poin pentingnya sehingga yang akan ditulis tidak akan bisa diubah lagi. Sudah ditentukan berapa chapter yang ada. Dan sepertinya, ini akan menjadi fict terpanjang yang aku tulis :D

THANKS BANGET untuk seluruh dukungan yang adaaa thanks buat para recviewers I LOVE YOU :D Hemm, tanpa kalian mungkin aku sudah berfikiran untuk menghapus fict ini.

Konflik belum kelihatan, mungkin dua sampai tiga chapter kedepan baru kelihatan. Dan tidak akan terselesaikan begitu saja, karena bagiku ini menyangkut masalah hati {(^_^)}

Oke, terus buat balasan review yang gapake pakai akun:

Sasuke Chan: Thanks yaa :D Hem,, oke, ini sudah update, semoga suka :D

Ra Amune: Oke, thanks untuk reviewnya :D Oke, ini sudah update, semoga sukaaaaa

QRen: thanks yaa sudah menjadi reviewer pertama :D Ini sudah update, semoga sukaaaaaaa

Mungkin sekian saja dari aku, thanks untuk semuanya *bungkuk-bungkuk*

Oke readers, REVIEW pleaseeeee :D