Disclaimer: Tachibana Higuchi

"Nona.."

Gadis itu terkesiap. Ia langsung melongokkan kepalanya kebawah, di bawah dahan kokoh yang kami duduki. Aku juga. Kuperhatikan wajahnya sekilas. Mendadak, wajahnya berubah menjadi tegang dan takut.

Keempat sosok berjas hitam yang menghampiri kami berujar pelan. "Saatnya telah tiba, Mikan Sakura.."

Chapter 4: The Mission..One more thing I Know About Her

"Ka..Kalian.."

Suaranya bergetar. Wajahnya yang semula tenang dan nyaman kini berubah. Menjadi..sesuatu yang tidak dapat kuprediksi.

Ada apa ini?

"Nona Mikan Sakura..sudah saatnya. Ayo. Kami sudah siapkan.."

'BWOOSH!'

Tanpa basa-basi, kobaran apiku langsung menyala membara dengan ganasnya disekeliling orang-orang itu.

"Na..Natsume! Hentikan! Apa yang kau—"

"Diam kau!"

Aku berteriak. Dia diam seketika, Tetapi gemetaran di tubuhnya kulihat tidak juga hilang. Yang ada, dia tambah gemetaran. Keempat orang itu panik dalam sekejab melihat api mengelilingi mereka, tapi itu tidak lama. Mereka mampu menguasai dirinya tak lama kemudian. Mereka terlihat..entahlah..tenang?

Apakah karena orang-orang ini?

"Siapa kalian?" ancamku.

"Kami?" salah satu dari keempat orang mencurigakan itu tersenyum menyeringai. Ia mengerahkan telapak tangan kanannya ke arah apiku. Tak lama, muncullah air yang langsung mematikan nyala apiku yang mengelilingi dia dan kelompoknya.

Oh, Shit! Dia pengguna alice air?Nampaknya aku harus ekstra keras menghadapi lawan yang satu ini.

"Kami..pengawal. Pengawal keluarga Sakura. Kau tidak tahu apa-apa, bocah. Minggir."

Kalimat itu bernada tahu. Yah, aku sangat tahu nada itu. Aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam situasi ini. Tapi aku tidak peduli.

Ini tentangnya,dan aku, entah kenapa tidak bisa membiarkan hal ini.

"Apa maumu dengan Mikan Sakura? Jauhi dia! Brengsek!"

"Kau yang tidak mengerti apa-apa, bocah. Minggir! Tidak sadarkah kau? Kau hanya bocah, lagipula, kau sendirian. Kalau kau masih bersikeras untuk melawan kami silahkan saja, kalau mau mengambil resiko. Kami disini berempat. Dan asal kau tahu saja kami pengguna alice yang cukup hebat."

Ok, that's it! Mereka ikut-ikutan menghinaku! Aku marah. Bersiap mengeluarkan daya alice apiku yang paling besar.

"Hmmm...Kau serius rupanya, bocah," tawa orang-orang itu menyeringai, "Baiklah. Kami juga tidak akan kalah melawan bocah ingusan macam kau."lanjutnya.

Suasana panas. Aku dan keempat orang itu sudah bersiap dengan alice masing-masing. "Huuh! Akan kulihat seberapa besar kemampuan kalian."

Aku melempar aliceku ke arah mereka dengan kekuatan yang cukup besar ketika tiba-tiba seberkas cahaya putih datang.

"Hentikan!"

Cukup dengan satu teriakan dan cahaya yang berasal dari dirinya itu, semuanya hilang tak berbekas. Apiku. Juga alice mereka yang sudah terlihat sedikit.

Tiba-tiba saja Mikan meraih lenganku, "Cukup, Natsume! Hentikan!"

"Ap—"

"Cukup. Kumohon, Sudah cukup, Natsume! Kamu tidak perlu terlibat lebih jauh lagi!" ucap Mikan dengan nada memohon, dan pandangan matanya nampak berkaca-kaca.

Semuanya reda. Api dan amarahku pergi entah kemana saat kulihat tatapan itu. "Mikan.."

Pandangan Mikan beralih ke paman-paman mencurigakan itu."Baiklah. Sudah waktunya, ya?" ia tersenyum miris, " Aku ikut sekarang."

Mikan Sakura melangkah mendekati mereka. Orang-orang itu dalam sekejab langsung membawanya ke dalam mobil, dan tak lama kemudian, mobil melaju.

Dan aku, masih berdiri di sini.

Dalam diam tanpa ekspresi, segala hal yang ada didalam diriku berkecamuk tidak menentu. Amarah kembali muncul menguasai diriku.

"Sialan!" makiku beberapa menit kemudian, tak lupa menonjok pohon di sampingku. Helai-helai daun dan bunga-bunga kecil gugur dalam jumlah banyak.

Bagiku, itu nampak seperti derai hujan, yang hendak mencoba untuk meredakan kemarahanku. Tapi itu semua tidaklah berhasil.

"Kkhkkh..!"

Aku tidak tahu apapun tentang gadis itu. Apapun..Bahkan keterkaitan dia dengan orang-orang tadi. Kesal, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Kedua otot kakiku berjalan, membawaku menuju ruang guru.

-000-

Normal POV

'SRAAAK!'

Sebuah pintu ruang guru terbuka dengan kasarnya. Seisi guru penghuni ruangan itu terkaget, Hampir semuanya langsung menoleh ke arah pintu.

Mereka mendapati sesosok Natsume Hyuuga berdiri di tepi pintu tersebut. Dengan nafas menderu dan beberapa tetes cairan bening jatuh dari pelipisnya.

"Araa..Natsume-kun. Ada apa? Tumben-tumbennya kau.."

"Dimana Narumi?"

Pemuda itu tidak menghiraukan pertanyaan Serina-sensei dan langsung menuju ke pokok sasaran. Mencari guru itu.

"Natsume-kun?"

Suara yang amat familiar itu terdengar dari belakang tubuh Natsume. Kepalanya menengok, untuk melihat sosok di belakangnya yang sebenarnya sudah sangat ia ketahui. Ya. Dia Narumi-sensei, dengan pakaiannya yang nyentrik dan beberapa buku di tangannya.

"Ada apa?"

Tanpa basa-basi, Natsume menarik guru itu sedikit menjauhi ruang guru. Bersyukur pada tinggi badannya yang sangat proporsional, kini tinggi dia sudah menyamai Narumi. Mempermudah geraknya untuk mengancam Narumi-sensei.

"Siapa Mikan Sakura itu sebenarnya?" tanyanya, sambil mencengkram erat kerah baju Narumi.

Narumi-sensei berlagak bodoh. "Eh? Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh, Narumi! Dia..tadi didatangi oleh sekelompok orang aneh. Mereka mengaku sebagai pengawal keluarga Sakura, mereka mengatakan semua sudah waktunya bagi dia untuk melakukan sesuatu! Mereka pergi, begitu saja! Selama aku berada disini, murid yang keluar sekolah pada masa seperti ini tidak akan diperbolehkan! Mereka akan dikejar, tapi kenapa tadi tidak terjadi apa-apa? Kenapa, Narumi?"

Senyum kepura-puraan di wajah Narumi berangsur menghilang. Berganti dengan ekspresi sedih. "Apa lagi yang kau tahu?"

"Apakah dia..misi..Persona?"

Pemuda berambut raven itu bergumam tidak jelas. Namun cengkraman tangannya di kerah baju Narumi melonggar. Meski tidak jelas terdengar, Narumi sudah mengerti apa maksud dari pemuda itu.

"Hhh..Sudah kuduga.."

Memicingkan matanya, Natsume berseru,"Apa maksudmu?"

"Dengar, Natsume. Ini tidak ada hubungannya dengan Persona. Dia..."

-000-

Natsume duduk pasrah di bawah pohon yang berada di pojok taman sekolah. Dia pusing memikirkan semua ini. Kata-kata Narumi tentang gadis itu bergaung terus menerus dalam benaknya, bagai sebuah kaset yang terus di-replay.

'Dia adalah keturunan langsung clan Sakura, Natsume. Keluarga itu selama berpuluh-puluh tahun, dari generasi ke generasi merupakan keluarga yang sangat terkenal di kalangan dewasa pengguna alice, dan juga organisasi alice Negara, sebagai keluarga yang selalu menghasilkan keturunan ber-alice Nullification. Kemampuan itu sangat penting untuk menghadapi organisasi...yah, kau tahu hal itu tanpa perlu kujelaskan, kan, Natsume? Kau sudah pernah terlibat dengan mereka. Pendek kata, gadis itu mengemban tugas yang sama dengan dirimu dulu sebagai 'alat negara' untuk mengurusi organisasi itu. Gadis itu penerus clan Sakura. Ayahnya, Izumi, meninggal 3 tahun yang lalu karena melepaskan alice yang sangat besar dalam pertempuran melawan mereka. Saat kedatangannya ke sini, kakeknya, pemimpin keluarga Sakura mengatakan pada kami, guru-guru Alice Academy untuk merahasiakan dan jangan membesarkan masalah ini. Kakeknya mengatakan bahwa Mikan dipindahkan ke sini sejak semula hanya atas tujuan itu.'

"SIAL!" kutuknya memaki dirinya sendiri.

Lagi-lagi ia melepaskan amarahnya dengan menonjok keras pohon yang disandarinya sedari tadi. Tak peduli bahwa kegiatannya yang ia lakukan berulang-ulang sedari tadi itu telah menampakkan gurat-gurat memar pada tangannya, dan mungkin jika kau memperhatikan pohonnya, pohon itu sudah sangat kehilangan daun dan juga bunganya yang indah, berterima kasihlah pada kegiatan Natsume.

Rambut ravennya ia cengkram kuat-kuat di tengah kegalauannya. Bahkan tidak cukup dengan pernyataan tadi yang sudah membuat syok dirinya, ia menanyakan hal yang membuatnya tambah galau.

Masih seputar gadis itu.

Dan Natsume galau karena..menyesali ketidakmampuannya dalam menyelamatkan gadis itu.

"Apa yang harus kulakukan..."

Flashback in Natsume's POV, beberapa saat yang lalu

"Dia adalah keturunan langsung clan Sakura, Natsume. Keluarga itu selama berpuluh-puluh tahun, dari generasi ke generasi merupakan keluarga yang sangat terkenal di kalangan dewasa pengguna alice, dan juga organisasi alice Negara, sebagai keluarga yang selalu menghasilkan keturunan ber-alice Nullification. Kemampuan itu sangat penting untuk menghadapi organisasi...yah, kau tahu hal itu tanpa perlu kujelaskan, kan, Natsume? Kau sudah pernah terlibat dengan mereka. Pendek kata, gadis itu mengemban tugas yang sama dengan dirimu dulu sebagai 'alat negara' untuk mengurusi organisasi itu. Gadis itu penerus clan Sakura. Ayahnya, Izumi, meninggal 9 tahun yang lalu karena melepaskan alice yang sangat besar dalam pertempuran melawan mereka. Saat kedatangannya ke sini, kakeknya, pemimpin keluarga Sakura mengatakan pada kami, guru-guru Alice Academy untuk jangan membesarkan masalah ini. Kakeknya pun juga mengatakan bahwa Mikan dipindahkan ke sini atas tujuan itu. "

Tubuhku membeku. Semua penjelasan Narumi barusan terdengar khayal di telingaku.

Gadis itu..?

Dia penerus clan Sakura, clan pemilik Nullification Alice...?

Memang ia mengatakan alicenya Nullification.

Memang aku akui dia hebat dalam penggunaan alicenya.

Memang aku akui level alicenya setara denganku.

Memang segalanya cocok jika ia memiliki kesamaan alasan denganku.

Tapi aku tidak mengakuinya.

Meskipun dikatakan aku sangat tidak ingin untuk mengakuinya.

Ia alat Negara juga dalam menghadapi organisasi itu?

"Ja.." kedua bibirku bergetar mengatakannya, "Jangan bercanda Narumi. Gadis itu..Tidak mungkin dia.."

"Sayangnya ini semua benar, Natsume. Ini memang takdir yang perih baginya. Ia harus menanggung beban berat ini, " suara Narumi menghilang sesaat, "seumur hidupnya."

Seumur hidupnya.

Kata itu makin membuatku kacau. Gadis yang nampak serapuh itu..akan menghadapi hal itu seumur hidupnya...?

Ini terlalu kejam! Aku memang pernah terikat dengan hal itu. Menjadi 'alat rahasia' sekolah dan Negara dalam menghadapi kelompok itu. Semua itu bukan saat-saat yang menyenangkan. Sungguh, itu sangat menyiksa. Tapi aku bertahan..demi Aoi..demi keluargaku..

Dan kini, setelah beberapa tahun berlalu dapat dikatakan aku sudah 'bebas'dari misi-misi menjadi 'alat rahasia' itu. Aku sudah jarang dan bahkan tidak pernah lagi diberi misi.

Sedangkan gadis itu..harus menanggungnya seumur hidup?

Terus menahan kepedihan ini sendiri?

Sebesar itu kah beban yang harus dipikul keturunan keluarga Sakura, seumur hidupnya?

Sampai ia bernasib sama dengan ayahnya?

End Of Flashback

Mikan...apakah ini yang kau pendam selama ini dibalik senyuman palsumu...?

-000-

Natsume's POV

Aku berlari.

Pertama, menuju kamarku.

Mencari sesuatu yang nampaknya bisa membantuku.

Yah, sudah kuputuskan aku akan mengejarnya.

Dan waktuku tidaklah banyak, sementara aku tidak tahu lokasi dia berada sekarang.

Aku membuka laci lemariku. Kuteliti setiap barang yang terdapat di dalamnya. Dan..ketemu!

Itu dia! Kuharap ini bisa membantuku. Penemuan dari seorang pemilik Invention Alice di kelasku yang entah kenapa sedikit akrab denganku.

"Kuharap ini masih bekerja untuk melacaknya, Imai. Awas jika tidak."

-000-

Normal POV

"..."

Pemilik iris mata amethyst berjalan di sepanjang lorong asrama dengan langkah bete. Tak ketinggalan, di belakangnya mengekor pemuda blonde sambil memegangi kelincinya.

"Ma..Maaf, Hotaru.." seru pemuda itu takut-takut.

Hotaru Imai—yah, gadis pemilik iris mata amethyst itu—seolah tidak mempedulikannya dan terus melangkah, hingga ia tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, kemudian menoleh dengan pandangan datar. "Nogi, gara-gara ulah kelincimu, kita gagal mematai mereka."

"Maaf, Hotaru...Err..tapi kenapa kamu mau mematai anak baru-ah, maksudku Mikan Sakura itu? Ada masalah?"

"Hng. Aku hanya penasaran sama anak itu.."

"Penasaran?"

"Yah, penasaran. Terutama setelah dia memperlihatkan kemampuannya tadi. Aku yakin kalau alicenya juga sangat kuat dan bagus, tapi aku tertarik dengan triknya menghadapi bear dan Tsubasa-Misaki tadi." ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali perkataannya, "juga aku merasakan hal yang aneh dengan anak itu. Tentang hal pendaman. Dan makna sesungguhnya dari senyum anehnya itu."

"Aneh? Maksudnya?"

"Aku hanya merasa seperti itu. Entahlah...anggap saja ini hanya sekedar feeling? Perasaanku sedikit tidak enak tentang dirinya.."

Ruka Nogi mengangguk-angguk. Nampaknya masih berusaha menerka-nerka maksud dari Hotaru. "Begitu.."

"Tapi petunjukku tidaklah nol, kok."

Pemuda cantik itu menaikkan alis matanya. "Maksudnya?"

"Aku masih punya..alat yang kulepaskan tadi. Kamera dan perekam super mini dalam robot lalat buatanku. " sahut si gadis itu sambil tersenyum penuh arti. Sebuah senyum kemenangan.

.

.

.

~ Chapter 4: The Mission..One more thing I Know About Her, Owari~

Yap! Ini dia chapter 4, all!

So sorry atas keleletan mengupdatenya. Padahal nie chapter sudah mendekam ¾ cerita di lappie aku selama ini. Hanya aku saja yang terlalu malas untuk mengetik lanjutannya yang sudah ada di kepala.

Oh, ya. Soal adegan di chapter 3 lalu, soal trik Mikan menghadapi Bear, akan dibahas kok, di chapter berikut-berikutnya. Dan soal trik menghadapi Tsubasa-Misaki itu, kurasa sudah pada tahu, kan?*smirk*

Ok. How was it? Makin..abal? aneh? Alay?

Layangkan saja deh ya di review. Review lagi, ok?

Sign,

Hana 'natsu' phantomhive