Hohoho.. Part 2 nih *dengan gaya ngomong Obama: Pulang kampung nih '^v^
Nah, pada chapter ini...
...
...Tunggu...
...Berhubung ada Backsound; Errrr,,, Suara Rin yang mati-matian ngapalin lagu Gubuk Derita..
Uuuun~... ~ ukh... La-Lanjutkan aja langsung~~ *berusaha nutup kuping*
Part 2
"...Rin, apa yang terjadi...? Mana Len..?"
Miku mendekat ke arah Rin dan melihat tatapan matanya. Kosong, seperti domba kehilangan harapan.
Rin membisu, Ia terlihat ingin bicara, tetapi suaranya tidak keluar.
Melihat Rin yang memegangi lehernya dengan pucat, Teman-temannya langsung khawatir dan mendekatinya.
"Ada apa dengan tenggorokanmu? Sebetulnya ada apa, sih!" Ujar Meiko, sambil mengelus-elus pipi Rin.
"A.., a.." Rin terlihat berusaha bicara, tetapi suaranya tidak keluar. Rin tidak bisa bicara!
"Miku, air putih hangat! Jangan-jangan tenggorokannya sakit gara-gara makan kue daun bawangmu!" Omel Luka.
"Huh, Tidak, kok! Rasanya 'kan enak!" gerutu Miku, sambil menyiapkan air putih hangat dan memberikannya pada Rin.
"Gheh! Baiklah! Rin, Ada apa sebetulnya barusan?"
"Haaah.." Mereka menghela nafas.
"Kau ini seperti orang buta keadaan saja, Neru. Tak lihat Rin kehilangan suaranya?"
"'Kan bisa lewat bahasa isyarat!" Ujar Neru.
Mereka melirik Rin. Rin menunjuk pisang yang ada di atas meja, lalu menunjuk pintu, dan menggeleng.
"Pisang?"
"Pisang itu Len, 'kan? Len keluar melalui pintu?"
Rin mengangguk.
"Lalu menghilang?"
Rin mengangguk lagi.
"Hm.." Suasana hening sejenak.
"Apa yang terjadi sebelumnya?"
Rin memegangi lehernya, lalu menggeleng. Dari gerakan bibirnya, ia berkata; "Tidak bisa."
Mereka menghela nafas.
"...Kami mengerti. Tidak bisa, ya..?" Ucap Haku lirih.
"Baiklah, kalau sudah cerah, Kaito, Miku dan aku mencari Len. Yang lain menemani Rin di sini. Sudah sore, kalau tidak ketemu, besok kita cari bersama-sama!" Usul Meiko. Yang lain mengangguk setuju.
Sambil menunggu cerah, mereka mengobrol, berusaha membuat Rin tertawa. Tapi tidak ada yang berhasil, Rin hanya diam dan menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong. Tatapan penuh rasa sesal, tatapan penuh arti yang mendalam.
Malam tiba dengan cepat tanpa hentinya hujan. Demikianlah maka mereka tidak mencari Len hari ini. Mereka bersiap untuk istirahat karena mungkin esok akan melelahkan.
Rin tak bisa tidur. Tengah malam, Ketika yang lain sudah tidur, Ia menyelinap keluar.
Ia membuka pintu. Ah, hujan rupanya sudah berhenti.
Ia berlari keluar, tak tentu arah. Ia mengikuti perasaannya saja. Jika memang ia dan Len adalah saudara kembar, seharusnya ada ikatan batin yang tersambung antara mereka berdua. Jika memang benar, Rin seharusnya melalui jalan yang tak lain adalah yang dilewati Len juga saat itu.
Meski gelap, Rin tetap berlari. Bintang- bintang yang indah, malam ini juga terlihat bercahaya. Malam yang sama seperti kemarin-kemarin, saat mereka berdua terlelap di rumah yang sama, kamar yang sama, dan suasana yang sama. Yang berbeda malam ini hanya satu; Len tak ada di sampingnya.
Jika menemukan Len, hanya satu kata saja yang akan pertama kali ia ucapkan.
"Maaf"
Ya, mulutnya sudah tak tahan ingin mengucapkan kata-kata itu pada Len. Ia sangat menyesal telah mengucapkan hal yang sudah jelas fatal buat Len. Kata-kata terakhir Len berkata kalau mereka tetap saudara kembar, baik dulu maupun sekarang. Rin masih sedikit berharap karenanya, agar Len masih mau memaafkannya.
Sepertinya, Ia sudah berlari begitu jauh. Ia sudah sampai di pinggir kota, dan bukan pinggir desa lagi. Itu tertandai oleh jam besar di tengah-tengah taman mini yang dikelilingi kolam kecil, ditengahnya lagi penuh dengan bunga tulip merah dan kuning yang sedang kuncup di malam hari. Tulip merah membentuk kata "welcome" seakan-akan mengucapkan selamat datang untuk Rin, di malam yang penuh pertumpahan darah itu.
Jam menunjukkan pukul 12:00. Jam besar itu berdentang, sangat keras hingga memekakkan telinga. Rumah penduduk agak jauh dari sini, sehingga tak ada penduduk yang terganggu.
Rin menutup telinganya, menghentikan larinya sesaat. Tapi kemudian ia melihat samar-samar seseorang yang duduk di pinggir kolam kecil disekeliling jam itu.
"...Len..." Bisiknya pelan, lalu berlari tergopoh-gopoh menghampiri orang itu, tak mempedulikan lagi suara dentangan jam yang bisa saja memecahkan gendang telinganya.
Tetapi..., Alangkah kagetnya Rin, begitu melihat orang misterius itu lebih dekat.
Dia... bukan Len! Tapi...
...Ah! Aku harus lari! Batin Rin, lalu berlari sekuat tenaga. Tepat pada saat jam berhenti berdentang. Wajah orang itu tak terlihat karena gelapnya malam.
Tapi... Tiba-tiba, Orang itu memegang tangan Rin dan menariknya. Rin panik dan berusaha keras melepaskan tangan orang itu. Tangan yang besar, kasar, dan bau! Ini jelas –sangat JELAS bukan tangan Len!
Meski tak tahan dengan bau yang dikeluarkan orang misterius itu, Rin menggigit tangannya sekuat tenaga sambil menahan nafas (untuk menghindari bau orang itu). Orang itu mengerang dan melepaskan tangan Rin, lalu mengaduh kesakitan sambil memegangi tangannya. Rin langsung berlari, tetapi Ia tidak bisa lolos! Orang itu langsung menangkapnya lagi. Rin sangat ketakutan. Ia gemetaran. Orang itu menariknya lagi. Dia sangat kuat dan besar. Begitulah deskripsinya dilihat dari caranya menarik Rin dan karena cengkraman tangannya jauh lebih besar dari tangan Rin.
Meski ditarik dengan kuat, Bukan Rin namanya kalau Ia tidak melawan! Ia terus bergulat dengan tangan besar itu, mencoba berlari berkali-kali meski tak satupun yang ia berhasil lolos.
Karena kelelahan, Rin menyerah pada tangan kingkong itu. Ia kembali ditarik menuju suatu tempat.
Mereka sampai pada suatu gudang yang cukup besar.
"Bos! Saya bawa anaknya!" Seru si pemilik tangan kingkong.
Pintu gudang dibukakan.
"Bagus sekali! Bagus sekali. Segera gabungkan dengan orang tua bodohnya!" Sebuah suara balasan muncul. Rin menyipitkan matanya, karena di dalam gudang terang sekali, berbeda dengan keadaan luar yang sangat gelap oleh malam.
Ah, kini Ia dapat melihat wajah-wajah itu. Pemilik tangan kingkong memang kingkong! Ia sangat besar–dan sangat bau–tentunya.
Sedangkan yang dipanggil dengan sebutan "bos" tadi adalah pria yang lebih kecil, hampir sama baunya, tetapi tidak sebesar si tangan kingkong.
Sebelum sempat menutup hidung, Rin sudah didorong masuk ke sana, lalu menubruk seseorang.
Ia terduduk dan melihat wajah orang yang ditubruknya.
"...Ibu!"
Orang itu tersenyum lemah. Ya, itu Ibunya.
Seseorang menyentuh tangan Rin dari sebelahnya.
Rin menengok.
"...Ayah!"
Rin memeluk kedua orang tuanya itu. Ia sangat-sangat senang dan lega bisa bertemu mereka lagi.
"Sudah, selamat menikmati pertemuan keluarga kalian! Hah!" Cibir pria bau yang dipanggil "bos" tadi, sambil menutup lagi pintu gudang itu dengan keras–BRAKK! Dan mengunci pintunya.
Ketika sudah memastikan kalau tak ada siapa-siapa lagi di sana, Rin langsung bergelut manja.
"Ayah.. Ibu.., apa yang terjadi sejak kemarin?" Tanya Rin sembari duduk di tengah-tengah mereka. Ia seakan sudah lupa dengan kingkong yang menariknya secara paksa tadi.
Ayah dan Ibunya bertatapan dengan lemah, lalu beralih pandang ke Rin.
"...Sebelum itu... Nak, Di mana Len?"
Rin menahan nafas, lalu Ia menggeleng. Ia menceritakan semua yang terjadi.
Saat kata-kata terakhir dari kejadian tadi diucapkannya, Kedua orangtuanya tampak sangat shock.
Mereka meneteskan air mata, membuat Rin sangat kaget.
"...Nak," Ibunya membuka pembicaraan.
"...Situasi sedang berbahaya untuk kita semua. Kau ingat 'kan suasana semalam...?" Bisik Ibunya lirih.
Rin mengangguk pasti.
"...Orang-orang yang terlihat panik itu, orang-orang yang berusaha menolong ibu itu... semuanya palsu."
"Pal.. su..?"
"Ya, palsu. Orang-orang itu sengaja ingin membuat kita keluar dan mereka akan membunuh kita... Tanpa rasa belas kasihan."
Rin menahan nafas.
"...Membunuh...?"
"Ya. Orang-orang itu yang dendam pada kita, entah mengapa. Mungkin banyak yang berfikir macam-macam tentang keluarga kita, dan menaruh dendam. Manusia itu mengerikan... Betul-betul mengerikan... dan liar."
Suasana hening. Terang saja. Tak ada siapa-siapa lagi selain Rin dan orang tuanya.
"...Lalu apa yang terjadi... A-Apa yang membuat kalian selamat dan bagaimana... lalu yang lainnya–" "Sabar, Rin, sabar, sayang. Kami akan jelaskan," Ujar Ibunya pelan.
"...Mereka.. Adalah perusak. Mereka membenci kita. Mereka menyuntikkan obat beracun pada seorang ibu penduduk pemukiman. Ibu itu adalah ibu yang terlihat sakit parah kemarin, yang kalian pun pasti sudah melihatnya. Dan setelah kami keluar, orang-orang itu mulai bertindak liar. Ibu yang saat itu malah menjadi benar-benar sakit karena obat yang disuntikkan secara diam-diam itu, diabaikan begitu saja–malah kasur dorongnya yang ditidurinya terguling karena kebrutalan orang-orang itu. Mungkin agak menyakitkan mendengarnya tapi Ibu itu terinjak-injak oleh keliaran dan kebrutalan itu..., perlahan Ibu itu mulai memuntahkan darah, mengeluarkan cairan merah mengerikan itu dari sekujur tubuhnya... dan nafas terakhirnya pun berhembus. Anak dan suaminya yang histeris, ikut dianiaya orang-orang abnormal itu. Keluarga itu.. meninggal bersimbah darah, dengan tragis. Hanya karena orang-orang itu ingin melihat kita menderita, ingin melihat kita menangis, ingin melihat darah kita –bukan begitu? Beruntung kami dapat terselamatkan oleh orang-orang yang tadi menarikmu... Meski kasar, kita berhutang budi pada mereka. Mungkin mayat-mayat keluarga yang tragis itu, dibawa atau disembunyikan oleh orang-orang gila itu. Kita harus tetap di sini. Meski mungkin Len dalam kondisi berbahaya di sana–tapi apapun yang terjadi kita harus tetap di sini.."
Ibu Rin menutup ceritanya dengan gemetar. Wajah beliau dan suaminya –ayah Rin, begitu lunglai, kaku, dan memancarkan ketakutan yang tidak biasa. Wajar, mereka baru menyaksikan pemandangan mengerikan karena kebencian. Rin tak sanggup berkata-kata. Ia gemetar. Ia tak tahu musti bicara apa lagi.
Saat tahu sudah terlindungi di sini, Rin merasa sedikit lega. Meski yang membawa mereka ke sini adalah orang-orang kasar dan bau yang kelihatan pasti akan meminta imbalan dari keluarga mereka yang sangat kaya, Ia pikir itu tak penting. Tapi satu hal lagi yang membuatnya gemetar hebat dan takut jauh –dan jauh lebih penting.
...Len... Len.
Kalau orang-orang itu betul-betul sebrutal itu.. Tak mungkin Len yang sudah menghilang sejak kemarin itu masih baik-baik saja–atau masih hidup.
Tidak... Tidak. Len.., Len.., Len... Kumohon.. Semoga kau baik-baik saja..
Aku betul-betul menyesal atas perkataanku kemarin. Aku keterlaluan! Aku bodoh! Aku mengakui semuanya! Asal kau kembali, menunjukkan senyummu seperti biasa. Len... Len!
Kumohon... Tuhan.. Lindungilah Len...
...To Be Continued...
Yeyeeey~ Arasa-chan lagi disini~ *digaplok gara-gara bosen*
Berhubung Len lagi melihat ke luar jendela dengan dramatis gara-gara terharu di fict ini dia dikhawatirkan (entahlah, saya juga gak ngerti maksudnya O_O), Dan Rin masih sibuk-sibuknya ngapalin lagu Gubuk Derita dengan penuh penghayatan *HUAAAA!
Jadi saya aja deh di akhir chapter ini~ (cih, membosankan '==)
Nah, tenang aja, saya cuma mau bilang, REVIEW nyaa~ kok X3
Arigato~ Nyaa~
