Mereka berdua saling bertatapan, lalu setelah beberapa detik kontak mata mereka terputus, dan mereka berdua saling menatap langit.

Ryoma harap, semoga liburan kali ini bisa ia lalui dengan tenang, damai, seperti malam ini.

Ah, tapi kadang, harapan tinggal harapan.

Karena tidak ada seorang pun yang akan mengetahui kejadian apa yang akan menimpa mereka di masa mendatang…

.


.

Summer Breeze

Disclaimer : Prince of Tennis to Takeshi Konomi

Rate : T

Genre : Romance / Family. Genre bisa berubah seiring jalannya cerita.

Summary :

Ryoma pikir, liburan musim panasnya bisa ia gunakan untuk santai, tidak dikejar ujian sekolah ataupun turnamen tennis. Tapi, kali ini pikirannya salah. Di hari terakhirnya sekolah, ayahnya memberitahukan bahwa ada seseorang yang akan tinggal di rumah mereka selama liburan. Dan, liburan kali ini benar-benar menguras tenaga, hati, dan pikirannya, dengan berbagai fakta yang tiba-tiba muncul –atau sebenarnya sudah ia ketahui, tapi berusaha ia hiraukan?

WARNING! AU, OOC –maybe buat tokoh-tokoh utamanya- dan bakalan ada OC di chapter-chapter mendatang. Boyxboy alias Boy's Love walau di chapter awal-awal baru shounen-ai, Ryoma yang suka duluan tapi terlalu polos untuk menyadari bahwa itu cinta(?), dan bahasa berbelit(?), UPDATE NGARET hehehe {(^_^)}

This is a Pillar Pair fict!

DON'T LIKE DON'T READ

But yeah,

Enjoy!

.


Chapter 3 – Fact no.2 : He is Not an Ordinary Teen.

.

Ciap, ciap, ciap!

Suara kicauan burung terdengar, bersumber dari suatu pohon yang tertanam di sebuah halaman. Tumbuh menjulang, dengan dahan bersentuhan dengan sebuah jendela dengan gorden biru yang menutupi ruangan di dalamnya dari jarak pandang seseorang, atau sesuatu. Tapi, sebenarnya secercah cahaya mentari pagi masih bisa masuk dan menyinari ruangan tersebut dengan cahaya terbatas, menimbulkan efek yang indah. Cahaya tersebut jatuh di atas sebuah benda,yang rupanya adalah sebuah tempat tidur single.

Ah, lebih tepatnya menyinari sebuah wajah polos dengan pikiran yang masih mengelana ke alam bawah sadarnya, dan sayangnya pikirannya harus ditarik paksa kembali ke alam sadarnya saat otaknya menerima sinyal dari wajahnya. Sebuah benda –atau cahaya- jatuh ke wajahnya, membuatnya merasa hangat tapi terasa terganggu. Mengerjapkan matanya tidak nyaman, perlahan sosok itu membuka matanya –yang rupanya masih setengah mengantuk- dan menguceknya. Mata tersebut kemudian melirik jam dinding. Pukul tujuh.

Mengerang tertahan dan mengeluh, sosok tersebut kembali menutup matanya, dan sebagai tambahan, menarik selimutnya sampai melebihi kepala, dan bergelung nyaman di dalamnya.

Ryoma memang tidak suka bangun pagi, terutama di hari libur ini.

Dan sayangnya, baru saja pikirannya akan kembali berkelana, sebuah teriakan yang sudah sering ia dengar menghampiri telinganya.

"RYOMA!"

Set! Entah karena sudah terlatih atau apa, Ryoma malah menarik selimutnya makin ke atas, dan mencengkram ujung-ujungnya. Seolah takut selimut itu akan pergi.

Dalam hati, ia menghitung mundur. Delapan detik, tepat setelah teriakan itu terjadi dan ia tahu hal lain akan terjadi lagi.

Delapan… tujuh… enam…

Drap! Drap! Drap!

Lima… empat… tiga…

Dap! Drap! Drap!

Dua… sa-

"RYOMA!" brak!

-tu.

'Aniki lebih cepat setengah detik dari biasanya,' keluh Ryoma dalam hati, makin bergelung di tempat tidurnya. Mengabaikan derap langkah yang makin jelas, pertanda ada seseorang yang berjalan mendekatinya.

Set! "Ryoma! Bangun!" dengan sadisnya sang kakak alias Ryoga menarik selimut Ryoma, menampakan sosok sang adik dengan kaus dan celana pendek, bergelung di tempat tidurnya.

Sedetik kemudian, sebuah ekspresi kesal dan marah terukir di wajah yang sebelumnya polos karena tidur, berhadapan dengan sosok (sok) polos dengan cengiran lebar terpampang di wajah (sok) inosen itu.

"Aniki! Sekarang tuh liburan dan lagi sekarang baru pukul tujuh pagi!" bentak Ryoma dengan wajah mengantuk tapi nada suaranya sarat kekesalan.

Ryoga malah terkekeh mendengar bentakan adiknya. Dengan santai ia menaruh kedua tangannya di saku celana, berekspresi dan bertingkah seolah-olah ia tidak terpengaruh dengan bentakan adiknya.

"Ayah menyuruhku membangunkanmu," ucap Ryoga sambil menyeringai, puas melihat espresi adiknya yang sangat-sangat kesal itu. "Kau disuruh menemaninya latihan pagi."

Twitch! Tiga guratan kecil muncul di dahi Ryoma, pertanda kekesalan menghampirinya. Dengan cepat ia mendorong kakaknya sampai pintu, yang –tumbennya- sang kakak tidak bertingkah apapun, hanya menyeringai. Tapi hal itu malah membuat Ryoma curiga, jangan-jangan sang kakak merencanakan hal yang tidak-tidak.

Dan ia benar.

Set! Tepat saat Ryoga berada di depan pintu, ia mengeluarkan tangannya dari saku celana dan menaruhnya di geredel pintu. Menahan gerakannya secara tiba-tiba, membuat Ryoma hampir menabrak punggung Ryoga dan mengumpat tertahan.

"Ani-"

Set! Belum sempat Ryoma menyelesaikan kalimatnya, Ryoga sudah berbalik untuk menghadap sang adik, membuat Ryoma hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya andai Ryoga tidak menyambar pergelangan tangan kiri adiknya. Dan sebelum adiknya bereaksi lebih lanjut, Ryoga mendekatkan kepalanya dan berbisik tepat di telinga Ryoma, membuat sang korban merinding.

"Ototou, kalau kau tidak menuruti kata ayah, aku yang akan kena. Jadi, lebih baik kau menurut…" di sudut matanya, Ryoga melirik pintu kamar sebelah, "… atau beberapa tingkah lakumu yang cukup bisa dikategorikan sebagai 'kriminalitas' selama di Amerika akan kubeberkan kepada kakak kelasmu itu…"

Ryoma merinding. Wajahnya memucat, dan ia menelan ludahnya paksa. Memang, selama di Amerika ia tidak selalu menjadi 'anak-baik' malah sering melakukan hal-hal bertaraf 'nakal'. Walau itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu, tetap saja itu 'aib' yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada siapapun, bahkan Momoshiro. Apalagi Tezuka. Ia benar-benar tidak mau rahasianya itu diketahui sang buchou. Hell no!

"Oke oke!" teriak Ryoma, mendorong kakaknya keluar. "Aku akan bersiap, jadi keluar!"

BLAM! Sekali lagi, pintu kamar Ryoma menjadi korban ketidak-pintu-an, korban malang dari emosi Ryoma. Pintu tersebut terbanting di depan hidung Ryoga, membuatnya menyerngit sedikit.

"Ada apa?" suara datar terdengar, dan Ryoga berbalik untuk mendapati Tezuka memandangnya bingung dari pintu kamarnya.

Ryoga menyeringai. 'Ini mungkin akan menjadi suatu permainan yang menyenangkan untuk dilihat,' batinnya. 'Tapi sayang, besok aku harus pulang,'

"Tidak, tidak apa-apa." Ucapnya santai sambil berjalan memasuki kamarnya, seringai masih terpampang di wajahnya.

"Hmm…" kentara sekali Tezuka tidak mempercayai perkataan Ryoga. Wong dia tadi ngeliat Ryoga mendekati adiknya dan Ryoma membentak Ryoga, terlihat kesal.

Brak! Sekali lagi, pintu kamar Ryoma terbanting terbuka dengan sadisnya, dan munculah sosok Ryoma dengan hantuk di sekeliling lehernya, dan wajahnya kusut.

Tatapan mereka kembali bertemu, dan sekali lagi, Ryoma membatu.

'Sial…'

"O-ohayou, bunchou."

"Ohayou, Echizen. Dan bukankah sudah kubilang agar tidak memanggilku bunchou lagi?"

"Ah," Ryoma tergagap, lalu memalingkan wajahnya. "Gomen, Tezuka-san,"

Ada getaran aneh saat Tezuka mendengar Ryoma memanggil dengan marganya, bukan 'bunchou' seperti biasa. Entah itu dikarenakan karena ia tidak biasa, atau 'tidak rela'.

Dan dengan cepat Ryoma memasuki kamar mandi dan menutup pintunya cepat. Membuahkan sebuah tatapan tanya di mata Tezuka.

"Pagi hari pertama di rumah Echizen terasa aneh ya…" gumam Tezuka, lalu berbalik memasuki kamarnya.

Yah Tezuka, ini baru hari pertama. Masih ada dua bulan lagi untuk dijalani…

.

.


.

.

Siang hari di musim panas itu memang terasa panas, ya.

Itulah yang dipikirkan Ryoma saat ia menjelajahi dapur, mencari minuman dingin atau semangka. Dan betapa kesalnya ia saat apa yang ia cari tidak ada.

"Ah, sial."

Dengan cepat ia berjalan keluar dari dapur, melewati ruang makan yang kosong dan berjalan menuju kamarnya. Ia meraih dompet dan topinya, lalu kembali turun ke bawa, ke ruang tv dimana sang ayah sedang membaca koran (A/N: sebenernya sih, lagi baca majalah porno! Wakakak \(^o^)/)

Ditatapnya sang ayah dengan kekesalan, dan dalam hati Ryoma menyesal tadi pagi ia sudah meng-iya-kan suruhan ayahnya untuk menemaninya latihan pagi, yang membuat dirinya sekarang kecapekan dan merasa gerah, dan memerlukan makanan atau minuman yang dingin, segera.

"Yah."

"Hm?"

"Minimarket, sebentar."

"Ajak Tezuka-san."

Deg! Ryoma membeku seketika. Awalnya ia enggan untuk mengajak kakak kelasnya itu, karena entah kenapa saat ia berada di dekatnya ia selalu merasa gelisah, panas dingin, dan gugup. OOC banget deh dari kelakuannya yang sebenernya. Tapi, agar ayahnya tidak curiga, ia hanya mengangguk dan bergumam.

Terpaksa ia menaiki tangga lagi, menghampiri pintu kamar Tezuka. Dan begitu ia sampai di pintu berwarna cokelat itu, ia menarik nafas, lalu melepasnya.

"Huft…"

Tok! Tok!

"Masuk!"

Glek! Ryoma enggan sih, untuk masuk teritori 'pribadi' sang kapten walau itu di rumahnya sendiri. Yah, entah kenapa tidak mau saja.

Kriet… Ryoma mendorong pintu perlahan, dan kepalanya menyembul. Dilihatnya Tezuka sedang mengerjakan sesuatu di meja, dan kemudian berbalik menghadap Ryoma.

Cokelat keemasan bertemu cokelat.

Sedetik, mereka tidak melepaskan pandangan itu.

Dan lalu, yang memutuskan kontak itu duluan adalah Ryoma, memalingkan wajah mengamati dinding seolah-olah dinding tersebut lebih menarik.

"Ada apa, Echizen?"

"Emm…" Ryoma menggigit bibir bawahnya, gugup. "Ano, aku ingin ke minimarket sebentar beli minuman dingin, dan pak tua itu menyuruhku mengajak Tezuka-san. Tezuka-san mau ikut?"

"Hem…" Tezuka terliha berfikir. Ia memang mempunyai pekerjaan lain yang akan ia lakukan, tapi mungkin berjalan sebentar keluar melemaskan otot kakinya merupakan ide yang baik.

Dan lagi, entah kenapa di sudut hatinya, ia merasakan perasaan liar yang mendorongnya untuk ikut Ryoma dan berjalan di sebelah pemuda itu.

"Ya, aku ikut."

Ryoma tersentak. Bukannya ia mengharapkan sebuah penolakan, tapi jarang-jarang sang kapten mau ikut untuk hal-hal seperti ini.

"Terserah bunchou sajalah." Ucapnya lalu berbalik, membiarkan Tezuka mengambil dompetnya terlebih dahulu.

Mereka berjalan beriringan keluar. Awalnya, di pinggir jalan, Tezuka memposisikan dirinya di belakang Ryoma. Tapi, seiring berjalannya waktu, ia mengambil alih tempat di sebelah Ryoma. Ryoma menyerngit, tapi ia berusaha normal.

Deg!

'Gawat…' batin Ryoma, yang merasakan hawa khas Tezuka di sebelahnya, 'Kalau bunchou sedekat ini, bisa-bisa…'

Bahkan kedua tangan mereka nyaris bertautan.

Menahan diri supaya tidak bergetar ataupun pucat, Ryoma akhirnya sampai di minimarket dan segera berjalan cepat menuju tempat minuman dingin. Diambilnya fanta favoritnya beberapa kaleng, dan ia menengok.

Untuk menemukan Tezuka yang wajahnya tepat di hadapannya.

"Huaaa!" Ryoma hampir terlompat saking kagetnya, tapi akhirnya ia bisa mengendalikan diri. Tezuka memandang aneh ke arahnya, menaikan kedua alisnya.

"Kenapa?"

"Bunchou, apakah bunchou tidak menyadari bahwa bunchou mengagetkanku?"

Tezuka menghela nafas. Lagi-lagi, sang kouhai berada di alamnya sendiri. Rupanya Ryoma tidak menyadari bahwa Tezuka sudah sedari tadi berada di belakangnya, berfikir memilih minuman yang mana. Anehnya, Ryoma sama sekali tidak menyadarinya, dan akhirnya terkaget saat berbalik.

"Haah…" Tezuka menghela nafas, meraih tiga minuman kaleng secara acak, "Aku sudah berada di sini sedari tadi asal kau tahu, Echizen."

Duh, Ryoma serasa mati kutu saja mendengarnya. Berarti sedari tadi ia menghiraukan sang kapten dong?

"A-ayo kita ke kasir," kata Ryoma tergagap lalu segera meluncur menuju kasir, menarik tiga minuman kaleng Tezuka.

Setelah membayar dengan uangnya, Ryoma meraih kantong plastik berisi barang belanjaannya. Tapi, sebelum ia menentengnya keluar, plastik tersebut sudah direbut oleh Tezuka.

"Buchou-"

"Biar aku yang bawa." ucap Tezuka tegas, nada final. Ryoma langsung terdiam dan merengut.

"Mada mada dane,"

"Sopanlah sedikit kepada kakak kelasmu."

"Hmm…"

Mereka kembali berjalan ke rumah Echizen dalam diam, jarak di antara mereka menjadi sedikit lebih lebar karena plastik yang di bawa Tezuka. Dan Ryoma mensyukuri hal itu.

Sesampainya di rumah dan Ryoma membawa seluruh bawaannya ke dapur untuk ia masukan ke kulkas, Tezuka mengekor di belakangnya dan duduk di salah satu kursi di dapur.

Ryoma menyadari ada seseorang yang mengikutinya, dan ia berbalik untuk mendapati Tezuka yang sedang meminum salah satu minumannya sambil memandang keluar.

"Apa yang bunchou lakukan di sini?"

"Bukan apa-apa." Elak Tezuka. Ia kemudian terdiam dan meneguk minumannya lagi, lalu kemudian mengangkat kepalanya, menatap lurus Ryoma. "Dan bukankah sudah kubilang agar kau tidak memanggilku 'buchou'?"

Ryoma mengangkat bahunya. "Aku sudah berusaha, tapi sepertinya aku terlalu terbiasa memanggil bunchou sebagai 'bunchou', bukan 'Tezuka-san'."

Mendengar sanggahan yang diucapkan sang kouhai, Tezuka menghela nafas dan akhirnya menyerah. "Ya sudah kalau itu maumu."

Menyeringai, Ryoma membuka tutup kaleng fanta-nya dan berjalan keluar, menuju teras yang –tumbennya- tidak ada seorangpun yang ada di sana. Bahkan ayahnya.

Ryoma terduduk di pinggi teras, sementara Tezuka mengikutinya. Mereka berdua duduk dalam diam, menatap langit yang mulai memerah. Rupanya hari sudah sore, menjelang malam.

"Ah, di sana rupanya kalian," ucap sepupu Ryoma, Nanako yang berdiri dengan raut wajah tidak bisa ditebak.

Ryoma berbalik. "Ya?"

"Sudah sore, Ryo-kun. Mandilah. Terkecuali kalau Tezuka-san ingin mandi terlebih dahulu," Nanako beralih kepada Tezuka dan mengangguk kepadanya, yang dibalas anggukan oleh Tezuka, "Sementara aku akan menyiapkan makan malam."

"Aaaah," keluh Ryoma, meneguk kembali fanta-nya. "Aku sedang minum ini, tunggulah sebentar lagi,"

"Um," Nanako mengangguk maklum. Kemudian ia berbalik. Tapi, sebelum ia mencapai ruang dalam ia berbalik menatap Ryoma. "Jangan sampai kau tertidur lagi di teras. Walaupun sekarang sedang musim panas, tidur di teras tetap tidak baik untuk kesehatan!"

Ryoma merasakan wajahnya memerah. "Iya iya, baiklah!"

Sepeninggalan Nanako, Ryoma merebahkan diri di teras, menatap langit yang sekarang sudah berwarna merah bercampur kuning dan ungu tua.

Hampir saja ia tertidur andai ia tidak merasakan guncangan di bahunya, pelan.

"Engg…" Ryoma membuka matanya, menampakan bola matanya yang berwarna cokelat keemasan, menatap siapapun itu yang telah membangunkannya. Ternyata Tezuka.

"Bangunlah." Ucapnya datar. "Kau hampir tertidur, dan kalau Nanako-san menemukanmu dalam keadaan tertidur, ia bisa marah."

"Ung…" setengah malas ia mengangkat tubuhnya, duduk. Ia kemudian menghabiskan fantanya dan melemparnya ke tong sampah terdekat. Ia kemudian berdiri, dan merenggangkan ototnya.

"Aku mandi duluan ya, bunchou."

"Hn."

Ryoma naik ke kamarnya untuk mengambil handuk dan kemudian ia memasuki kamar mandi, tepat pada saat itu sang kakak keluar dari kamar mandi. Mereka bertatapan muka, dan sedetik kemudian Ryoma mengalihkan wajahnya, cemberut. Rupanya, ia masih dendam perihal masalah tadi pagi.

Sementara itu, Ryoga menyeringai.

'Ah, andai tidak ada urusan mendesak, aku bisa menyaksikan betapa serunya permainan yang akan berlangsung,' batin Ryoga sambil tetap menyeringai saat ia memasuki kamarnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Ryoma keluar dari kamar mandi dengan handuk di rambutnya, yang kemudian ia gunakan untuk mengeringkannya. Tapi, sekarang ia tidak memasuki kamarnya, tetapi turun menuju ruang tv, dan menduduki sofa sambil meraih remote tv dan mulai mencari channel yang bagus.

Sekitar setengah jam berikutnya, Nanako memanggilnya untuk mengatakan bahwa makan malam sudah siap dan memintanya untuk memanggil Tezuka. Dan dengan berat hati, Ryoma berdiri dan menaiki tangga, mengetuk kembali pintu kamar Tezuka.

Tok Tok!

"Siapa?"

"Ini aku, Ryoma."

Jeda.

"Masuklah."

Kriet… Ryoma membuka pintu kamar, dan betapa terkejutnya ia mendapati pemandangan di depannya.

Seorang Kunimitsu Tezuka yang terkenal sebagai atlit tennis itu berdiri dengan kondisi half-naked, telanjang dada. Memperlihatkan perut mulusnya terbentuk dengan otot-otot dan juga kulit mulusnya yang tanpa cacat itu.

Glek! Ryoma menelan ludah paksa. Ini sih, pemandangan yang sangat-sangat-sangat langka!

"Ada apa?" suara datar Tezuka terdengar saat pemuda tersebut selesai mengeringkan rambutnya dan kemudian meraih sebuah kaos berwarna hitam untuk kemudian ia pakai.

Ryoma menggelengkan kepalanya. 'Tidak, tidak. Kau harus bisa berfikir jernih, Ryoma!' "Eng, makan malam sudah siap, bunchou."

"Ah, oke."

Ryoma dengan cepat keluar dan menuruni tanggai, diikuti dengan Tezuka. Di sana rupanya sudah ada sang ayah dan ibu, sang sepupu, dan tentunya Ryoga.

Ryoma dan Tezuka mengambil tempat masing-masing, dan setelah berdoa mereka semua memulai makannya. Makan kembali sunyi.

Dan tepat ketika makan selesai dan Nanako membawanya ke bak cucian piring, Nanjirou angkat bicara.

"Sepertinya kakakmu ingin bicara sepatah kata."

Ryoma, yang berniat membuka kulkas untuk meraih sekaleng fanta, harus kembali ke tempat duduknya sambil merengut kesal. Akhirnya ia hanya meraih segelas ocha yang terbiasa dihidangkan di meja makan.

"Sepertinya ini kabar baik," Ryoga memulai, menatap keluarganya. Raut wajahnya tidak terbaca. Ryoma hanya menatap kakaknya bingung. Ada apa sih?

"Karena sepertinya rektorku datang lebih cepat daripada perkiraan dan aku harus secepatnya mengumpulkan tugas, sepertinya kepulanganku ke Amerika harus dipercepat dari seminggu lagi menjadi besok."

"Apa?"

Ryoga memiringkan kepalanya, menatap raut tak percaya Ryoma, lalu menyeringai. "Ya, ototou, aku pulang besok, pesawat sore."

Ryoma merengut, kesal. "Sejak kapan aniki merencanakan hal ini?"

"Bukannya kau sudah mendengar kalau aku baru tahu beberapa saat yang lalu?"

"Beberapa saat yang lalunya itu kapan? Beberapa saat yang lalu itu definisinya kan luas!"

"Tadi pagi," jawab Ryoga ringan, tersenyum.

"Cih."

"Bukannya seharusnya kau senang?"

"Kalau tidak ada aniki kan aku susah minta di traktir."

"Hmph," Ryoga mendengus, meraih secangkir ocha dan menegaknya. "Hormatilah kakakmu ini, jangan sering-sering memintanya mentraktirmu. Uangnya habis nanti."

"Resiko seorang kakak."

"Sudahlah Ryo-kun, Ryoga-kun, jangan bertengkar," Nanako akhirnya menengahi setelah ia kembali ke tempat duduknya.

"Berarti, besok kita harus mengantarnyake bandara?" Tanya Ryoma, yang akhirnya bangkit untuk meraih fanta-nya.

"Kalau kau mau, ototou."

"Tentu saja aku mau. Lumayan lah nanti di bandara aku bisa minta dibelikan ini-itu."

"Dasar matre!"

"Resiko!"

"Hei, sudahlah kalian berdua!"

"Oke oke." Ryoma bangkit sambil tetap memegang kaleng fantanya. "Aku naik."

"Hmm,"

Dan dengan cepat Ryoma membanting pintunya, membuat sang ayah berdecak kesal.

Tezuka hanya terdiam, lalu meraih gelas ocha-nya. Setelah pamit, ia naik ke atas. Dan lalu, setelah ia pertimbangkan, akhirnya ia mengetuk pintu kamar Ryoma.

Tok tok!

"Siapa?" suara Ryoma terdengar gusar, dan Tezuka menaikan alisnya. Tumben.

"Ini aku."

Jeda.

Kriet… pintu terbuka perlahan, menampakan sosok Ryoma yang sedang tertidur di tempat tidurnya.

"Ah, bunchou."

"Kau kenapa sih tadi?" Tezuka duduk di kursi belajar Ryoma, menaikan salah satu kakinya. Setidaknya pintu sudah di tutup, jadi tidak ada yang bisa melihat tindakan Tezuka.

Well, aneh memang. Tumben sekali Tezuka perhatian kepada adik kelasnya itu. Tapi, tetap saja ia tadi tidak bisa melupakan raut wajah Ryoma yang bercampur antara rasa sedih, kesal, gusar.

"Tidak, tidak apa-apa"

"Kau bohong."

Ryoma menghela nafas. Sedari tadi, ia memang berusaha menahan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Dan untungnya, ia berhasil menguasainya. Ia terduduk dan menyender di tembok, sementara tangannya meraih Karupin yang rupanya sudah ada di kamarnya.

"Yah, hanya saja… aniki terlihat lebih cepat pergi…" suara Ryoma lirih, dan ia memandang jendela. Tezuka sampai harus mencondongkan tubuhnya sedikit untuk bisa mendengarnya.

Tezuka terdiam, menunggu Ryoma melanjutkan. Dan memang, Ryoma melanjutkan. Kedua matanya teralih dari jendela menuju Tezuka, menatap matanya lurus-lurus.

"Aniki baru saja sampai seminggu yang lalu. Baru saja bermain denganku hanya sekitar lima hari, sisanya ia tergeletak di rumah karena jet lag. Aku hanya merasa, aniki menjadi lebih jauh daripada sebelumnya…"

Tezuka menghela nafas dan kemudian bangkit dari kursi, duduk di sebelah Ryoma di tempat tidur. Ia kemudian menatap lurus ke depan, embusan nafasnya yang jelas terasa oleh Ryoma, membuat remaja tersebut hampir merinding dan menjauh. Tapi, ditahannya hasratnya itu, mengingatkan dirinya kalau perlakuannya mungkin akan membuat bunchou-nya curiga.

Malam itu mereka lalui dengan sunyi, mendengarkan alunan musik yang keluar dari stereo Ryoma. Mereka berdua hanya duduk bersampingan, bahkan sampai jam menunjukan pukul sepuluh malam. Ryoma terdiam, bingung akan maksud dari sang bunchou untuk tetap di sebelahnya. Tapi, kemudian ia paham. Bunchou-nya ada di sebelahnya hanya untuk menemani, tanpa kata, tapi ada.

Tersenyum, ia merasakan matanya terasa berat. Lalu, tanpa ia sadari, ia berhenti mengelus Karupin dan kepalanya pun terjatuh di pundak Tezuka.

Tezuka, yang sedang terdiam memikirkan-entah-apa itu, kaget saat ia merasakan bahu kirinya berat. Dan ketika ia menoleh, betapa terkejutnya ia saat melihat Ryoma tertidur pulas di bahunya.

Tidak bisa menahan senyum, Tezuka perlahan bangkit dengan tangan menahan kepala Ryoma, menggendongnya sedikit dan membaringkannya, lalu menarik selimutnya. Karupin sudah kabur terlebih dahulu.

Tezuka menatap wajah tidur Ryoma. Begitu polos… seolah tanpa dosa. Padahal, bukan itu kesan yang sering ia tangkap di keseharian Ryoma di klub. Biasanya, bocah itu hanya menggerutu atau mencemooh atau bahkan datar tanpa ekspresi. Tapi di rumahnya, bocah tersebut seolah bebas. Dan entah kenapa Tezuka senang melihatnya.

Melihat Ryoma bergelung di tempat tidurnya dengan mata makin terpenjam dan wajah polos membuat Tezuka seolah ingin memeluk pemuda di depannya. Tapi, ia tahan. Bahkan ia sendiri tidak mengerti darimana datangnya hasrat aneh tersebut.

Tapi, semakin lama ia menatap wajah tidur Ryoma, membuatnya tidak tahan. Akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan membungkuk, lalu perlahan mengecup dahi Ryoma.

Tapi secepat kilat Tezuka bangkit. 'Apa yang telah kulakukan?' batinnya merana. Ia kemudian mengacak rambutnya, kesal. Bukan kesal apa, ia sangat kesal kepada dirinya sendiri yang entah kenapa tidak bisa menahan dirinya sendiri. Bagaimana kalau Ryoma tahu? Bagaimana kalau Ryoma menjauhinya? Bagaimana-bagaimana-

Pikirannya terhenti seketika. Pemuda berusia lima belas tahun itu kemudian menggeleng. Menjadi pesimis bukanlah dirinya. Mana mungkin kan, ada orang lain yang tahu? Pintu tertutup rapat dan satu-satunya akses seseorang dapat melihat adalah melalui jendela. Tapi ini kan lantai dua?

Setidaknya sekarang Tezuka bisa tenang.

Tapi, entah kenapa ia tidak menyesali ciumannya tadi. Tidak, sama sekali tidak ada rasa penyesalan. Hanya ada keterkejutan mengenai reflek dirinya, dan juga getaran aneh di dadanya.

"Apa aku menyukainya?"

Jawaban datang secepat pertanyaan itu muncul. Tidak, tentu saja tidak. Kata itulah yang terus diulang-ulang Tezuka kepada dirinya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, walaupun jauh di dalam hatinya ia meragukannya.

Kemudian, bertekad untuk tidak kehilangan kendali lagi, Tezuka keluar. Ia membuka pintu tanpa suara dan menutupnya dengan suara hampir sunyi. Sedikit lagi pintu tertutup, Tezuka berbisik.

"Selamat malam dan selamat tidur… Ryoma."


XOXOXOXOXO

TBC

XOXOXOXOXO


Bagaimana?

Duh duh ini gua ngebut bikinnya, karena otak gua udah gatahan untuk mengetik -_- bahasa gaul-nya keluar karena stress

Sekali lagi, mohon maaf kalau Ryoma ataupun Tezuka terlalu OOC, atau jalan ceritanya aneh, atau keganjalan lainnya. Itu semua gua coba perkecil lagi. Sekali lagi, mohon maafkan otak gua yang hobi banget berkhayal kejauhan -_-

Oyaa! Buat para reviewer non akun:

Milky-Cat: Thanks banget buat reviewnya! Ehehe, thanks :D Oke, ini sudah update, semoga suka yaaa {(^_^)}

Amu Zholdick: Thanks yaa udah review :D Heem… Ryoma OOC yak? Waduh, ampuni aku -_- Konflik? Mulai chapter depan sudah terlihat kook :D Hehehe. Ini sudah update, semoga suka yaaaa {(^.^)}

QRen: Thanks lagi yaa udah review lagii :D Ryoma lucu? Makaciiiiiih XD #tampol. Ehehe, ini sudah update, semoga suka yaaa :D

Sasuke Chan: Thanks lagi yaaa udah review :))) Iyap! Ini sudah update! Semoga sukaaaaa XD

SEKIAN!

Oh iya,bener! KONFLIK SUDAH MULAI DI CHAPTER DEPAN~ #nyuritoamesjid #dipukul

And, REVIEW pleaseeeeeee~ :D