"Tapi petunjukku tidaklah nol, kok."
Pemuda cantik itu menaikkan alis matanya. "Maksudnya?"
"Aku masih punya..alat yang kulepaskan tadi. Kamera dan perekam super mini dalam robot lalat buatanku. " sahut si gadis itu sambil tersenyum penuh arti. Sebuah senyum kemenangan.
Chapter 5: Found Her
"Ini,"kata Hotaru sambil menyodorkan sebuah headset kepada Ruka. Kemudian langsung mengutak-atik laptop di hadapannya. "Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu, kok."
"Aku mau," sahut Ruka, mengambil headset itu."Setelah apa yang kau bilang barusan, aku juga jadi penasaran dengan anak itu. Mungkin..benar katamu. Anak itu memendam sesuatu."
Cengiran menghiasi bibir mungil pemilik Invention Alice tersebut. "Bagus. Kalau begitu, kita sama."
"Ehm."
"Ini dia. " Hotaru menekan tombol terakhir di laptopnya. "Ruka, pertajam telinga dan matamu. "
Ruka mengangguk, dan untuk beberapa jam ke depan, mereka berdua serius menekuni hasil pantauan temuan Hotaru itu dengan seksama.
-000-
Pemuda atletis berambut raven itu masih terus berlari. Sudah cukup jauh dia meninggalkan sekolah, dan dia semakin yakin bahwa arahnya benar. Nampaknya penemuan Hotaru yang ada padanya dari dulu secara tidak sengaja itu kali ini dapat berguna.
"Dimana ini?" gumamnya sambil terus berlari. Setelah melewati kota, kini dia memasuki daerah asing, yang nampak lapang dan sedikit dipenuhi pepohonan. Aura tidak enak memenuhi dirinya.
Benarkah ia ada di sini?
Kepalanya sibuk menoleh. Ke kiri, ke kanan, dan ke segala arah. Mencoba mencari sisa-sisa keberadaan si Hazel tersebut.
Tempat itu entah kenapa dipenuhi oleh banyak tubuh. Mayoritas adalah tubuh lelaki, yang mungkin semuanya tidak sadarkan diri.
Ada apa di tempat ini? Apakah baru terjadi pertarungan?
Dan tiba-tiba ujung mata kanannya menangkap sosok yang sungguh tidak asing lagi di pikirannya.
Rambut panjang berwarna Brunette..
Seragam kemeja dengan rok biru kotak-kotak. Ya, Itu seragam murid perempuan alice academy..
Dan postur tubuh itu..
Ya. Ia sangat kenal betul ciri-ciri dari gadis yang sedang dicarinya itu.
Tidak mungkin! Kenapa dia...?
Sosok gadis itu nampak berantakan. Gadis itu tersungkur di lantai dengan wajah mencium aspal. Tubuhnya nampak penuh luka, namun, masih terlihat sedikit gerakan-gerakan, yang menandakan si gadis tersebut masih sadar dan ingin berdiri.
Tertatih-tatih, tubuh kecilnya ia paksakan untuk berdiri. Namun sepertinya tubuhnya sudah sangat kelelahan melewati batas. Tubuhnya terus bergetar lemah.
Natsume segera mendekati gadis itu. Meraih tubuh rapuhnya dengan sangat hati-hati. Raut wajah penuh cemas sangat kentara di wajahnya .
"Hoi! Kau kenapa, Mikan? Jawab! Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?"
Si Brunette itu membuka kedua matanya perlahan-lahan. Nampaknya dengan sangat bersusah payah. "Nggh...Natsu..me..? Kenapa kau..."
"Sudah jelas, bodoh!" sembur pemuda itu menyela. Tahu apa yang akan dikatakan Mikan. " Aku menyusulmu! Aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja! Apa yang terjadi, Mikan? Kemana orang-orang itu?"
"Mereka..per..gi.."
"Apa? Bisa-bisanya mereka—"
"Bu..Bukan begitu, Natsume..."
"Apanya?"
"Tugas mereka memang seperti itu. Dan inilah tugas..ku..."
Kesadaran Mikan semakin lama semakin menipis. Natsume dapat merasakannya. Deru nafasnya perlahan semakin memelan. Sangat pelan...
"Sial!"
Natsume baru saja akan membawanya pergi ketika hembusan angin kencang menerpanya dari belakang. Ditolehkan kepalanya ke arah asalnya angin. Kedua bola matanya membesar melihat pemandangan itu. Puluhan daun berputar datang dengan kecepatan yang luar biasa menuju dirinya.
"Ap—"
Dengan gesit, sambil membawa Mikan yang sudah berada di ambang sadar dan tidak sadar, ia menghindari serangan itu. Berusaha mengatasi serangan itu dengan alicenya.
Dia berusaha bergerak cepat dan sehati-hati mungkin menghadapi serangan itu mengingat bahwa ia membawa Mikan. Sayang, masih ada satu helai daun yang luput, menuju ke arah Mikan dan dirinya. Daun itu lewat, dan berhasil menggores kulit pipi Natsume.
Natsume meringis. Daun itu tajam sekali seperti silet. Dengan tangan kiri bebasnya ia mengusap sedikit darah yang muncul dari pipinya dan membuangnya ke lantai.
"Razor Leaf alice, ya." gumamnya sendiri, menebak jenis kekuatan—yang sudah jelas adalah alice—milik orang itu.
Sebagai seorang pengguna alice yang pernah ditempatkan dalam situasi serupa bertahun-tahun lalu, Natsume tentu saja dapat menebaknya dengan mudah.
Sekarang dia mulai paham tempat ini.
Sepertinya tempat ini adalah tempat pertarungan.
Ia menatap tajam pada sosok pemilik serangan tadi. "Siapa kamu?"
"Heh...Siapa katamu?"
Sosok wanita itu berusaha bangun dari posisi tersungkurnya dengan sangat bersusah payah. Dia memegangi lengan kirinya sesaat, dengan langkah sedikit terseok-seok. "Kau sendiri, siapa?"
"..." Natsume memilih untuk tidak menjawabnya.
"Yah..aku juga tidak peduli siapa kamu, " wanita itu berkata sambil melompat. Bersiap mengeluarkan alicenya. "Yang penting bagiku adalah menghabisi pewaris kekuatan Nullification alice satu-satunya itu. Kakeknya dan seluruh keluarganya melemah. Ayahnya sudah meninggal. Ini kesempatan bagus untuk menghilangkan clan Sakura. Jika mereka telah punah, maka tidak ada lagi yang dapat menghalangi kami!"
Daun-daun di sekitar tempat itu berdiri seakan memiliki nyawa, kemudian kembali berputar menyerang satu titik fokus.
Mikan dan Natsume.
Natsume melompat. Menghindari poros serangan Razor Leaf alice tersebut, kemudian diikuti dengan mengerahkan fire alicenya membentuk fire spin. Kedua serangan spiral attack—razor leaf dan fire spin—itu beradu di udara, dan meledak dengan sangat dahsyat menyisakan kepulan asap tebal.
Turun dari posisi lompatannya, Natsume tidak dapat melihat lawan tadi yang sebelumnya berada tepat di hadapannya. Tertutup oleh kepulan asap hasil ledakan barusan.
Merasa ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk melarikan diri, Natsume memaksakan otot-otot kakinya untuk segera berlari sejauh-jauhnya—keluar dari arena pertarungan itu—sebelum asap tersebut menghilang dan orang itu kembali melancarkan serangannya.
Saat ini hanya Mikan-lah yang ia pikirkan. Ia hanya ingin membawa gadis itu ke tempat yang lebih aman. Tidak ada yang lain lagi.
Semuanya demi seorang Mikan Sakura.
-00-
Dia terus berlari. Natsume memutuskan untuk memasuki hutan dengan membawa tubuh Mikan yang nampak sangat lemah. Ia berharap dengan tindakannya ini akan sedikit mempersulit musuh untuk menemukan dirinya.
Tidak. Bukan dirinya.
Prioritas utama adalah gadis itu, Mikan Sakura. Saat ini ia tidak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Mikan! Mikan! Sadarlah!" seru Natsume, berusaha membangunkan gadis itu.
"..."
Tidak ada jawaban dari si Brunette. Dan juga belum ada tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar dalam pelukannya.
Menggertakkan giginya, otak Natsume berusaha berpikir dengan sangat keras. Mencari cara bagaimana dapat menyelamatkan Mikan. Masih dengan menggendong Mikan ala bridal style, Natsume mencoba merogoh saku bajunya. Saat itu kedua pupil matanya membesar dan mengecil, menggambarkan keterkejutannya yang disusul dengan ekspresi menyesal dan kecewa.
Damn! Aku lupa membawa handphone!
Kedua kakinya berhenti berlari. Ia mencoba untuk berpikir dengan lebih jernih dengan mencoba menemukan ketenangan sesaat.
Tiba-tiba ia melihat sebuah gubuk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Didului dengan sebuah keyakinan hati, Natsume memantapkan kakinya dan melangkah menuju gubuk tersebut.
-000-
Dua makhluk berwajah cemas itu sedang berlari rusuh di dalam gedung asrama gakuen alice SMP. Wajah cemas yang terpancar dari pemilik mata amethyst dan blue sapphire itu semakin tidak terprediksi. Mereka terus berlari dalam kecemasan mendalam.
"Aku tidak menyangka Mikan Sakura itu pewaris klan besar Sakura. Keluarga pemilik Nullification Alice termahsyur yang sangat diandalkan kota." Ruka menggigit bawah bibirnya.
"Aku juga tidak menyangka, Ruka. Sungguh, dia...Ah, sudahlah. Yang jelas, kita perlu cepat, Ruka. Tidak ada waktu untuk lebih berdebat. " Hotaru membalas.
"Ehm. Aku tahu. Saat ini, Natsume...berada di mana, ya?"
Langkah Hotaru terhenti. "Hei Ruka..."
"Ya..?"
"Kau pikir...Natsume dapat mengejarnya?"
"Mu..Mungkin? Lagipula dari tadi kita tidak melihat dia..." Ruka berkata dengan sedikit tidak yakin.
"Dari alatku tadi..kita tahu kalau Natsume tidak langsung mengikuti Mikan, kan? Jadi, bagaimana dia bisa mengetahui posisi Mikan?"
Ruka tersentak. "Apakah mungkin...!"
"Kau juga memikirkan apa yang kupikirkan..lagi? " Hotaru berbalik badan menghadap Ruka sambil sedikit memperlihatkan cengiran nakalnya. Kontak mata amethyst nya beradu dengan mata blue sapphire Ruka.
Ruka hanya membalasnya dengan anggukan.
"Kalau begitu, siapkan dirimu, Ruka. Kita akan segera menyusul dua orang itu," cengir Hotaru penuh makna. "Tak lama lagi."
-000-
BRAAK!
Natsume membuka kasar pintu gubuk yang ia temui itu. Sepi. Syukurlah. Segera saja ia langsung masuk tanpa mengucap kata permisi. Menidurkan perlahan sosok gadis yang berada dalam gendongannya di atas lantai kayu sambil mendesah khawatir. "Mikan.."
Ia duduk di sebelah tubuh gadis hazel yang sedang pingsan itu. Terus menatapnya dengan pandangan resah. Dirabanya kening Mikan perlahan dengan sangat hati-hati. Ia terkejut ketika merasakan bahwa suhu tubuh Mikan memanas. Ia yakin, beberapa saat lalu, saat ia masih berada di atas pohon berdua, gadis itu belum menampakkan tanda-tanda sakit.
Namun, kenapa sekarang..?
Tcih. Sudah pasti itu akibat dari pertarungan. Pertarungan yang sudah dapat dinilai oleh Natsume sebagai pertarungan yang berat—melihat banyaknya efek luka-luka yang di tinggalkan di tubuh mungil Mikan. Dapat ia bayangkan situasi pertarungan Mikan saat itu. Mikan, yang mungkin seorang diri, menghadapi sekian banyak pengguna alice. Memikirkannya saja Natsume merasa hatinya sangat sakit.
Natsume mulai panik. Ia mencari sesuatu yang bisa ia bakar di dalam gubuk itu guna menghangatkan gadis itu dengan sedikit perapian dari alicenya. Tapi tidak juga ia temukan sesuatu yang bisa dibakar. Gubuk itu hanyalah gubuk polos yang tidak ada apa-apa.
Ekor mata crimson-nya melihat pemandangan di luar jendela gubuk. Pemandangan yang memperlihatkan beberapa batang kayu-kayu yang bisa ia gunakan. Seakan mendapatkan pencerahan, ia bergegas menuju pintu gubuk. Diputarnya sedikit kenop pintu. Gerakannya tiba-tiba saja terhenti ketika suatu sisi di otaknya seakan melarangnya untuk memutar kenop pintu lebih lanjut.
Benar. Setelah beberapa detik berpikir, ia sadar bahwa jika ia melakukan tindakan itu, mungkin justru malah lebih membahayakan. Karena bisa saja saat ia keluar, sosoknya ditemukan oleh orang itu maupun komplotannya.
Ia merasa tidak ada pilihan selain kembali duduk di samping Mikan. Dibukanya jaket yang dipakainya yang sedikit bernoda darah. Diselimutinya tubuh Mikan, dengan harapan dengan tindakannya itu dapat membantu Mikan.
Lidahnya berdecak kelu melihat ketidak berdayaan gadis yang sebenarnya baru saja ia kenal ini."Bertahanlah, Mikan."
.
.
.
~ Chapter 5: Found Her, Owari~
a/n: Sorry sekali atas keleletan mengupdatenya..*bungkuk-bungkuk*
Rasanya, tiba-tiba saja tidak lama setelah menyelesaikan chapter sebelumnya, Natsu merasa sangat jenuh dengan genre romance. Bermaksud untuk beralih-alih ke genre lain untuk sementara pun ternyata belum mampu, karena disibukkan oleh rutinitas kelas 3 yang..alamak...capek banget..T.T
Secara pribadi, Natsu merasa chapter ini sangat-sangat tidak menarik, baik dari segi deskrpsi maupun plot yang rasanya kok, jadi ga sebagus rencana..
Apa mungkin karena ditulis dalam kondisi kurang pas, atau bagaimana, entahlah. Natsu sendiri juga kurang paham.
Bersediakah memberikan kritik dan saran lagi di review?
Silahkan. Dibuka dengan sangat tangan terbuka^^
.
