Part 3~~~

Mohon maaf kalo mungkin part ini agak melenceng, abisnya Arasa-chan lagi galau T^T

Rin: "Alesan, tuh, alesan!" *mencibir

Len: "Udah, buruan lanjutin. Aku ndak sabar tahu lanjutannya apakah saya mati atau tidak. Kalo mati, siapa tahu onee-chan saya nangis." *GEPLAK! Digeplak Rin pake music sheet Gubuk Derita.

Arasa-chan: "hohoho. Mana mungkin dia ndak nangis,nyu~" *digeplak juga

Rin: "B'risiiik! Arrrrgh... gara-gara orang-orang sableng ini saya jadi susah ngapalin lagu dangdut kayak begini tau gak!" *nunjuk-nunjuk kertas berisi lirik atau music sheet dari lagu... Errr,, mungkin ndak udah dikasi tau lagi yah '==.

Arasa-chan: "Hih.. yaudah deh daripada ngelama-lamain... ckckck '=="

Len: "Enjoy the story! :D"


Part 3

Len...

Len.

Apa kau masih ada diluar sana?

'masih ada'..

Bagaimana kalau 'sudah tak ada'..?

Dadaku terasa sesak memikirkannya...

Kumohon, satu kali saja.

Yang benar saja kita harus berpisah setelah aku menyakiti hatimu.

Tidak... Tidak. Kumohon...

Kumohon... Len, jangan mati...

"...LEN..!"

Rin terbangun dari mimpi pagi itu. Ia menghembuskan nafas panjang, setelah celingak-celinguk menyadari itu hanya mimpi. Ia menengok ke kanan-kirinya. Ada Ibu dan Ayahnya yang sedang terlelap. Untunglah, mereka tidak terbangun gara-gara teriakanku tadi... Batin Rin.

Ia berdiri dan mendekati jendela. Oh, Iya, ya. Ia tidak di rumahnya meski ada kedua orang tuanya. Ia di gudang, gudang yang agak besar, dengan karung-karung terigu dimana-mana, ada sedikit bau tidak enak, ia baru menyadarinya sekarang.

Ia mengusap-usap kepalanya, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Tengah malam yang gelap, berjalan sampai jauh... dan ditarik pria bau yang tadinya disangka Len olehnya–padahal itu tidak mungkin. Ia ditarik sampai ke tempat ini, dan bertemu orang tuanya, dan...

Ckit! ...Diceritakan kondisi berbahaya untuk keluarga mereka sekarang –sekarang..., mungkin tepatnya Len...

Dadanya serasa berbesit mengingatnya. Ditambah lagi dengan mimpinya barusan. Dalam mimpinya, ada Len yang berjalan menjauh darinya...

Meski Rin berusaha menggapainya, Len tetap berjalan. Rin berusaha menyentuhnya, tapi tangannya tembus. Eh?

Len terus berjalan, dan ketika Rin memanggil-manggil namanya sambil menangis di belakangnya, Ia membalik dengan wajah yang... penuh darah.

"Rin- Onee chan."

"Matta Ne..,"

"Onee-chan."

"Tidak.. Len, jangan tinggalkan aku.." Bisik Rin, dengan air mata di pelupuk matanya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat semua kebaikan Len. Darah. Lagi-lagi darah. Kenapa? Kenapa selalu darah? Dan kenapa Len..? Kenapa bukan aku saja..!

Rin terus menangis di depan jendela sampai kedua orang tuanya terbangun. Ibu dan Ayahnya menghampirinya, dan mengelus-elus punggungnya.

Rin masih menangis, terus menangis menghadap jendela. Tapi saat melihat dua orang bau itu mendekat, Ia buru-buru menghapus air matanya.

Pintu gudang itu dibuka, dan muncullah wajah orang-orang bau itu.

"Ada apa lagi?" Seru Rin.

"Tahan, Nona. Kami cuma mau meminta bayaran uang sewa untuk rumah baru kalian!" Balas orang bau yang dipanggil bos–oke, mulai sekarang kita sebut dia bos orang bau–itu sambil menyeringai.

"Jadi kalian meminta bayaran? Cih! Dasar orang-orang rendah." Bisik Rin.

"Biar aku buktikan siapa yang rendah," Bos orang bau itu lagi-lagi tersenyum menyeringai, dan mendekat ke arah Rin dengan membawa pistol.

" Tunggu! Jangan main serang dulu. Ini uangnya!"

Ayah Rin menghalangi dengan menyodorkan sejumlah uang. Orang bau itu mengangguk.

"Bagus. Ditunggu yang selanjutnya." Bisik Bos orang bau itu, menerima uang itu dengan kasar, dan pergi sambil tertawa. Orang bau yang satunya lagi, yang kemarin menarik Rin, ikut-ikutan tertawa dan langsung 'digaplok' oleh bosnya itu.

Rin menatap kepergian mereka dengan sengit.

"Jadi ini maksud mereka menolong Ayah dan Ibu? Beruntung kalian membawa uang, tapi uang itu takkan cukup untuk selamanya! Kita juga harus pergi di sini!" Seru Rin.

Ayah dan ibunya menggeleng.

"Tak ada tempat aman untuk kita saat ini, Nak! Kita bisa terbunuh dengan mudah!"

"Kalau uang kita habis, kita juga akan terbunuh oleh orang-orang bau itu! Tempat aman tidak cuma disini! Apa kalian tak memikirkan Len! Andai kita terbunuh pun, Itu sudah takdir! Kalau bersembunyi itu namanya pengecut! Tidakkah kalian memikirkan Len? Kalian pikir dia ada di tempat aman sekarang?" Seru Rin. Amarahnya tak tertahankan lagi, semuanya pecah. Ia terduduk lemas, dan menangis histeris.

Orang tuanya terdiam, saling berpandangan, lalu mengangguk.

"...Baiklah, ayo pergi dari sini."

Rin mendangak, menghapus air matanya lagi.

"Benar?"

Kedua orang tuanya mengangguk.

"Kami akan betul-betul memalukan kalau tak mendengarkan kata-katamu. Ya, kau benar. Tapi bagaimana caranya kita keluar?" Tanya Ibu Rin.

"Mudah saja." Rin menunjuk jendela.

Kedua orang tuanya melotot.

"Itu jendela kaca, Nak!" Seru Ayahnya, tepat sebelum Rin mengeluarkan jurus tendangan Orange Kick pada jendela malang itu, tapi.. PRANGGG!

O-Ow.. terlambat, deh.

"Nah, mudah kan? Yuk."

Kedua orang tuanya melongo sebentar. Kapan kita mengajari Rin taekwondo? Batin kedua orang tuanya, sambil saling melirik. Ah, sudahlah.

Mereka meloncat keluar dari jendela itu, dengan didahului oleh Rin. Celakanya, dua orang bau itu sudah siap di depan.

"Oh-how, mau kemana, gadis kecil?" Ujar Bos orang bau.

"Hih! Baka. Memangnya kalian pikir kami kemana kalau tak menjaga kalian, hah?" Tutur orang bau yang satu lagi –mulai sekarang kita sebut saja dia anak buah orang bau.

Rin meringis, lalu mengambil nafas panjang dan menahannya (untuk menghindari bau). Ia berlari ke arah si anak buah orang bau, lalu menggigit tangannya sekuat tenaga. "Ouch!"

"Rasakan itu, orang bau! Jadi kau belum puas dengan gigitanku, ya! Bagaimana rasanya, hah!" Seru Rin, sambil berlari menjauh dan mengambil nafas. Gheh! Berat juga menahan nafas sambil menggigit. Mau bagaimana lagi? Habis, orang itu bau sekali! Batin Rin.

"Diam, Nona kecil! Kalian diam disana! Bergerak sedikit, akan kutekan pelatuk ini!" Seru si Bos orang bau, sambil menyodongkan pistolnya lagi, seperti tadi, saat ia menagih uang.

"...Cih!" Terpaksa Rin dan kedua orang tuanya diam di tempat.

Suasana hening seketika, masih dengan si bos orang bau yang selalu siap menekan pelatuk pistolnya. Ia mengarahkan pistolnya bergantian ke arah Rin, Ayah, dan Ibunya.

"A-Ano," Sebuah suara menyahut. Si Bos orang bau pun langsung mengarahkan pistolnya ke arah datangnya suara. Oh.., Itu Ayah Rin.

"Aku mau ke kamar kecil."

"...Heh! Kau pikir kami ini bodoh? Kau pikir itu tipuan zaman kapan, hah?" Dengus si bos orang bau.

Rin melirik Ayahnya. Hey, Ayahnya tak sebodoh itu.

Ayahnya balas meliriknya, lalu matanya mengarah-arah ke sesuatu. Hem... Bukan tipuan ketinggalan jaman itu yang Ayah maksud. Tapi...

...Ah! Ya, benar!

Rin tersenyum puas, lalu berseru; "Hei, orang bau. Memangnya kau segitu inginnya melihat Ayahku pipis di sini? Gheh! Dasar penjahat maniak!"

"Ap-Apa katamu!" Si Bos orang bau itu geram. "Ya sudah! Hei, anak buah! Temani orang tua itu! Jaga yang benar!"

"Siap, Bos!"

Si anak buah orang bau itu menggeret Ayah Rin ke kamar kecil.

Rin ganti melirik Ibunya yang sedang kebingungan.

"...Ibu.. Ibu!" Bisik Rin. Ibunya meliriknya.

Rin menggerak-gerakkan matanya ke arah sebuah karung yang mirip karung-karung di dalam gudang tadi, yang disenderkan pada tembok yang berada di sebelah Ibunya. Ibunya melirik karung itu.

...Hem... Karung terigu, ya...

Si Bos orang bau menyadari ada sesuatu.

"Kalian mau lakukan apapun, peluruku masih penuh untuk membuat tubuh kalian berlubang-lubang. Tinggal katakan, mau berapa lubang yang kalian inginkan!" Serunya sambil tertawa.

Rin menyeringai.

"Silahkan saja lubangi tubuh kami. Tak masalah! Tapi..."

Rin melirik Ibunya.

"...SEKARANG, IBU!"

Ibunya mengambil karung itu, dan merobeknya sekuat mungkin. Bodohnya –atau kita bisa bilang untungnya, Si Bos bau itu justru kebingungan sambil diam di tempat.

"LIHAT, BAU! ADA LEBAH DI ATAS KEPALAMU!" Seru Rin.

Si Bos bau yang bodoh itu, langsung kelabakan memegangi kepalanya.

Tapi tepat saat ia menyadari yang mereka lakukan, Terigu sudah berterbangan, menutupi pandangan. Yang terlihat hanya putih, putih, dan putih. Oh, jadi inilah rencananya.

Si Bos bau itu langsung mengarahkan pistolnya dan menembakkannya dengan membabi-buta, tetapi untungnya, Rin dan Ibunya sudah berlari secepat kilat sebelum mereka betul-betul tak bisa melihat–ya, saat Rin mengatakan ada lebah di atas kepala si bodoh itu.

Mereka berlari secepat mungkin, menjauh, sebelum terigu-terigu penolong itu mulai pudar. Di tengah jalan, mereka bertemu kembali dengan sang Ayah.

"Ayah!" Mereka bertiga berpelukan.

"Bagaimana ayah kabur?"

"Ayah memukul si bodoh itu pakai gayung. Hahaha, betul-betul penjahat yang bodoh." Tawa Ayahnya.

Mereka sangat senang karena rencana mereka berhasil. "Ayah hebat menyusun rencana," Puji Ibu.

Rin dan Ayahnya saling melirik. Jeh, padahal itu kan salah satu adegan dalam film Tom & Jerry yang kami tonton bersama Len saat Ibu sedang memasak, batin Rin.

Tapi satu hal yang bodoh telah mereka lupakan. Saat mereka meninggalkan si bos bau tadi.. Ia sedang menembak membabi-buta, 'kan...?

CLAK!

Dengan mendadak dan sangat-sangat tiba-tiba, sebuah peluru menembus kaki kanan Rin. Mata Rin seketika melotot.

BRUGH! Ia terjatuh.

"RIN!" Jerit Ibunya.

Kedua orang tuanya terduduk di sisi kiri dan kanan Rin.

"A-Apa yang harus kita lakukan..?" Ibunya lemas, melihat putrinya yang jatuh tersungkur dan merasakan sakit yang luar biasa.

"Kita lari saja, dan bawa dia ke klinik! Cepat!"

Ayah dan Ibu Rin buru-buru membopong Rin, dan berlari menyusuri jalan sempit yang sama seperti yang kemarin Rin lalui ketika ditarik oleh si anak buah bau.

Ibunya melihat ke wajah Rin. Ia masih merintih kesakitan. Mulutnya mulai mengeluarkan darah. "L-Len..." Bisiknya, ditengah kesakitan yang sangat-sangat luar biasa. Darah terus mengucur keluar dari kakinya yang sudah dilubangi oleh peluru.

"Len..."

"Kita... Akan segera bertemu.. ya...?" Bisiknya lirih.

"Rin..! Bicara apa kamu!" Seru Ibunya.

"Jangan berkata begitu! Kau.. Kau dan Len takkan mati!"

Mereka sibuk berusaha berlari sambil membopong Rin, sampai tak menyadari... kalau Rin menutup matanya.

Mereka akhirnya sampai, di pinggir kota dimana terletak taman mini yang ditengahi oleh jam besar yang membuat telinga Rin hampir pecah semalam. Suasana lumayan ramai, karena sudah pagi, orang sibuk berlalu-lalang.

Tapi, semua seperti tak melihat mereka. Seperti tak melihat pria dan wanita yang membawa seorang anak yang bersimbah darah. "To-Tolong!" Seru mereka, mencoba membuat orang-orang melihat. Tapi apa? Orang-orang hanya melihat mereka dengan tatapan dingin, lalu kembali melanjutkan aktivitas.

...Apa ini? Apa ini.. kota kematian?

Mereka terus berlari, mencari sebuah klinik atau rumah sakit.

Tanpa sadar, air mata mengalir di pelupuk mata kedua orang tua yang menderita itu.

Segitunya kah? Segitu bencinya mereka pada kami?

Kami tak melakukan apapun pada mereka. Yang kami lakukan adalah terus mencoba menaikkan pamor keluarga kami dengan bermusik, menaikkan nama keluarga besar kami. Tapi.. tapi mengapa? Mengapa begitu banyak orang yang membenci kami!

Orang kota ingin membunuh kami...

Orang desa mengacuhkan kami, bahkan ketika kami membawa seorang anak yang sedang sekarat...

..Kalau kau?

Apa yang akan kau lakukan... Saat kau dibenci semua orang, salah satu anakmu menghilang dengan status kehidupan yang tak pasti, dan anakmu yang satunya lagi sedang sekarat, antara hidup dan mati...?

Apa kau.. hanya akan menangis...?

To Be Continued


Arasa-chan : "Fuaaahhh... Akhirnya bebas dari perasaan sunyi saat menulis nih cerita atu. Gimana? Melenceng ndak? Ya kan? Lama-lama kemampuan nulis saya makin Gaje. Maafkan saya~~ TAT"

Rin: "Melenceng abis! Enak aja kaki gue ketembak! Errr, pengen bikin aku jadi putri tidur ya!" *baca naskah sambil ngedumel

Arasa-chan : "Iya, deeeh..." *melirik ke arah lain

Rin : "..." *mengamati

Arasa-chan : "Eng... Ada apa, Rin-chan?" *takut-takut

Rin : "Gak papa! Cuma inget hukum karma yang terjadi pada kakimu karena kamu bikin kakiku ketembak. '=="

Arasa-chan : "AAAAH! JA-JANGAN BUKA AIB, DONG!" *shock

Len : "Nah, begitulah, jadi ceritanya, kaki Arasa-chan terpentok ujung meja dengan sangat keras dan membuat mata kakinya suka cenat-cenut, sampe sempet jalan terpincang-pincang dengan lebaynya, setelah selesai membuat chapter ini dimana kakinya Onee-chan ketembak. Hohoho! Rin-onee chan, sekarang kita senasib. Sama-sama sekarat. Hohoh.."

... (suasana hening sejenak)

Arasa-chan: "LLLEEEEEEENNNNN! KENAPA KAU BOCORIN, HAHH!" *kepala membesar hingga 99% gara-gara Len buka dua aib sekaligus : Kaki Arasa-chan yang kepentok meja dan tentang kelanjutan cerita yang mereka sama-sama sekarat.

Len : "GYAAA! GOMEN! GOMEEEENN!" *shock

Rin : "Ckckckck! Dasar! Udah ah! Sampe ketemu di part selanjutnya! Makasih uda mau baca! Ah, Ano! Lupain aja bocoran Len barusan! Dia emang lagi rada-rada gara-gara kesenengan dirinya dikhawatirin!"

Arasa-chan : "Iya lupakanlah, nak! (?) Baiklah! Tunggu yang selanjutnya dan selalu R to R ya! Arigato!"

Len : "P-Plis.. Lu-Lupain ya..." *masih shock

Arasa-chan : "Wis wis, to, ndhuk... Yo wis rapopo... '=="

Len : "Bener?" *puppy face (udh bkn eyes lagi '==)

Arasa-chan : "Iya Iya... btw, anuuu... Rin... Kok udah gak nyanyi lagu *BIIIIIIP* lagi..?" *dengan nada takut-takut

Rin : "Gheee! Lupa! Jadi kamu pengen aku nyanyi? Oke! Walau hi..."

Arasa-chan : "AKU GAK BILANG GITTTUUUUUUUUUUUUUUUUUUU...!" U... U.. U.. U... *gema

Len : "Ja-Ja-Jadi aku sudah dimaafkan ka-kan..?" *sesenggukan

Arasa-chan : "Iya, iya, uda, kok~ cup cup cup..."

Len : *sesenggukan

Arasa-chan: *terdiam

Arasa-chan : "...Len, kupikir kamu nangis terus saja, deh... Te-ternyata... Manis banget, lhooo~~~..." *ter-hanyan

Len : "&!%#^!$#^!#%*!$*$%#%!" *semakin mewek

Rin : "Sudala, dengan(dialog gak guna yang bener-bener terlalu kepanjangan)ini kita akhiri chapter ini~... Bye bye~~~ '=="