WHAT! PART 4!

Nee,... Gak terasa sudah part segini, nyaa~ TTATT *air mata bahagia? '==

Baiklah, tidak tahu kapan cerita ini akan berakhir, jalanin aja *ngomong seenak jidat '==

Hem.. berhubung di part sebelumnya udah kebanyakan nyerocos, kayaknya ndak ada yang mesti diomongin lagi deh '==

Oh ya! Disclaimer~ Vocaloid jelas bukan Arasa-chan dong yang punya. Kalo Arasa-chan yang punya, Rin bakal manggung di pulogebang dengan lagu favoritnya; Gubuk Derita. psst, syukur-syukur dia kayaknya udah lupa deh sama tuh lagu atu.

Nyem~

Gimana kalo langsung aja?

Eh.. iya gak ya?

Hem...

Mumpung mereka (Rin ama Len) lagi sibuk ngeliat-liat naskah tuh... *baca: meriksa, kalau ada bagian mereka yang jelek, Arasa-chan akan langsung digiles pake roadroller kecintaan mereka.

...

...Oke, kalau begitu langsung saja! *ambil langkah seribu


Part 4

Apa yang akan kau lakukan... Saat kau dibenci semua orang, salah satu anakmu menghilang dengan status kehidupan yang tak pasti, dan anakmu yang satunya lagi sedang sekarat, antara hidup dan mati...?

Apa kau.. hanya akan menangis...?

Di sebuah sudut kota atau pinggir desa, terdapat sebuah rumah.

Di rumah itu... Terdapat banyak orang. Tapi mereka semua menangis...

...Menangis dengan mengelilingi seorang anak perempuan yang terbujur dengan kaki yang berbalut perban yang sudah mulai memerah ditembus oleh darah.

"...Dia akan mati... Dia..." Ibu anak perempuan itu menangis histeris. Suaminya menepuk-nepuk punggungnya, sambil menangis juga.

Beberapa orang yang lainnya juga menangis sesenggukan.

"Ri-Rin..."

Gadis yang terluka itu, adalah Rin. Ya... Rin.

Tapi sebetulnya, selain mereka semua yang sedang menangis, ada seseorang lagi yang mengamatinya dengan tatapan sedih.

Mereka semua tak menyadari apapun, saking terlarut dalam kesedihan. Terutama kedua orang tuanya yang sedang menderita.

Kenapa... Kenapa ini harus terjadi...?

Kenapa semua orang mengacuhkan kami, tak terkecuali petugas klinik yang harusnya bertindak melihat anak yang bersimbah darah seperti ini. Hanya mereka.. Teman lama Len, dan teman Rin juga, yang mau peduli pada kami...

Setelah hanyut dalam kesedihan untuk beberapa lama, Luka, salah satu dari teman Len dan Rin, berdiri dan menyiapkan air untuk mereka minum.

"Sudah cukup bersedihnya, 'kan..." Bisiknya, sambil menyuguhkan air itu untuk semua orang yang ada di sana, kecuali Rin yang masih memejamkan matanya.

"Sekarang waktunya berfikir jernih setelah lelah menangis. Kita pikirkan bagaimana selanjutnya."

Semua orang mengangguk.

Saat itu juga, seorang lagi yang tak mereka lihat tetapi melihat mereka, pergi.

"Jadi... Kalau Rin sembuh, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Luka, memulai.

"Mencari Len," Jawab Ayah Rin tegas. Sepertinya beliau sudah menghapus air matanya.

"...Tapi..." Miku berbisik.

"...ssssst!" balas Meiko.

"Jangan bicara macam-macam dulu. Kau tahu 'kan kagundahan mereka? Jangan ganggu harapannya," Lanjutnya dengan suara pelan.

Miku mengangguk dengan wajah lunglai.

"...Baiklah, kita cari bersama-sama!" Seru seseorang. Semua mata langsung mencari pemilik suara itu.

Ah... Itu Neru. Dia memang bersemangat... Meski dalam situasi seperti ini. Wajahnya masih merah, tapi Ia bisa tersenyum pada semua.

Melihatnya tersenyum, yang lain menjadi ikut senang dan mulai berfikir positif. Yah... meski tidak sepenuhnya.

"...Benar!"

Mereka semua mulai mengembangkan senyum dan menghapus air mata mereka.

Akhirnya, mereka mengobrol tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, sampai malam tiba. Mereka menginap bersama-sama disana, sekalian untuk menjaga Rin. Di rumah Miku ada dua kamar, dan mereka bagi perempuan dan laki-laki.

Di tengah malam, saat semua tengah terlelap, Rin terbangun. Ia membuka matanya, dan terduduk pelan-pelan.

"...Ini dimana..?" Gumamnya pelan. Ckit! Kakinya terasa sakit ketika ia mencoba berdiri.

"...Sa-Sakit... Ukh, Apa yang terjadi pada kakiku..?" Ia merintih kesakitan.

Saat itu, Miku yang tidur sekamar dengannya, terbangun. "Ummmh... Eh? Rin? Kau sudah bangun...?" Bisiknya, dengan agak terkejut.

Rin menengok ke arahnya dengan agak heran. Ia diam saja.

"...Rin...?"

Hening sejenak, sampai Miku menyebut nama Rin lagi untuk kesekian kalinya. "...Rin?"

Rin diam saja, tatapannya terlihat kosong. "...Kau..."

Miku menegak ludah. Jangan-jangan... Tidak. Jangan sampai dia mengatakan hal-hal yang seperti di komik-komik... yang terjadi secara mengagetkan...

"...Kau siapa? Dimana aku?"

...oh tidak. Dia mengatakannya. Dia mengatakannya!

"...Ri-Rin.." Miku terbata-bata sambil menatap mata Rin yang terlihat kosong, hanya dengan penerangan cahaya bulan.

"...Hei, dari tadi kau menyebut nama itu terus saja. Cepat jawablah, dimana aku, siapa kau, dan orang-orang ini?"

Miku makin memucat. Ia bingung harus bilang apa atau melakukan apa, karena itu tanpa berfikir panjang ia langsung membangunkan semuanya yang ada di kamar itu.

"Emmmh... Miku, ada apa?"

"A-A-Ano.., Rin.."

Semua yang ada di sana, menengok ke arah Rin. Ya, di sana, tampak Rin yang sedang terduduk kaku dengan bingung.

"Ka-Kalian semua.. siapa..?"

Mereka semua langsung tertegun. "Ri-Rin...?"

"Bohong..."


Suasana sangat aneh malam itu. Malam yang gelap, penuh dengan kebingungan. Dia–Rin, hilang ingatan?

"Hmm, mungkin ini disebabkan karena kerja otaknya yang kacau karena sedang terpukul, atau karena putusnya suatu syaraf akibat pendarahan yang tidak wajar. Aku tidak habis pikir kalau akan terjadi amnesia, sih, setidaknya itu masih wajar jika dia tertembak di kepala, tapi.." Jelas Kaito.

"Belakangan ini dia banyak mengalami tekanan yang berat, kupikir karena ditambah dengan rasa sakit yang luar biasa dari tembakan saat itu, membuat syaraf atau ingatannya tertidur. Kemarin dia pingsan, 'kan?"

"Ya, tapi tak kusangka akan jadi begini." Rintih Ayah Rin.

"...Lalu kita harus bagaimana...? Tak ada yang mau menerima kita, bahkan melihat saja tidak. Sungguh intimidasi masyarakat yang tidak bisa dimaafkan." Ujar Luka.

"Sebelumnya tidak seperti ini, mungkin karena pengaruh dari orang-orang yang membenci kami itu. Yang penting sekarang.., bagaimana dengan Rin..." Bisik Ibu Rin. Air mata beliau mulai menetes lagi.

"...Tenang saja, Sepertinya ingatan Rin hanya terkunci. Mungkin kalau sudah tenang, ingatannya bisa kembali." kata Haku.

"..Tapi itu tidak logis." Bisik Ayah Rin.

Semua mata menatap beliau dengan sedih, tetapi ada satu orang yang tidak.

"..Logis atau tidak logis, itu hasil penerkaan yang paling akurat. Apakah Bapak tidak pernah mendengar orang yang menjadi gila karena stress akan beban hidup? Ini dinamakan beban psikologis. Kalau Rin pun mengalaminya, kurasa itu tidak aneh. Aku yakin ingatannya hanya terkunci karena goncangan yang tiba-tiba dan bertubi-tubi selama beberapa hari ini. Aku tidak mengerti hal-hal yang berkaitan dengan jaringan otak saraf, tapi kurasa itu ada hubungannya dengan kerja otak atau bagian-bagian otak yang..."

"...Kau benar, Luka. Sebaiknya sekarang kita tangani sendiri dulu, kalau memang tak ada yang peduli pada kita. Jadi, Rin..." Miku menengok ke arah Rin.

"...Aku Miku. Miku Hatsune, kita 'kan sudah berteman dekat. Dengar, Namamu adalah Kagamine Rin. Dan sekarang, kau sedang hilang ingatan, makanya kau tidak tahu siapa itu Rin, aku, maupun mereka. Paham?" Ucap Miku dengan tampang serius.

...Hening.

Miku mulau sweatdrop. Ia mengulang kata-katanya. "...paham?"

Semua menatap Rin dengan tegang, sampai ia menggeleng pelan dengan tampang polos. Mereka semua langsung terduduk lemas.

"...Terang saja ia tidak paham. Kau pernah dengar teori tentang orang gila yang melihat orang disekelilingnya yang sesungguhnya adalah waras sebagai orang yang gila? Kira-kira kasusnya sama seperti orang hilang ingatan yang takkan paham kalau kau katakan jika dia hilang ingatan," keluh Luka.

"...Errr... Yasudahlah! Yang penting sekarang, kakimu sudah sembuh 'kan Rin?" Tanya Kaito.

Rin menatap ke arah kakinya yang diperban karena tertembak kemarin.

"...Ada apa dengan kakiku? Sakit." Bisiknya.

"Kakimu tertembak. Jadi, masih sakit, ya..." Gumam Kaito lirih.

"Tentu saja. Kau pikir dia cuma jatuh tersandung? Dia tertembak, bodoh! Tertembak!" Seru Haku jengkel.

"Sudah, sudah. Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan untuknya?"

Mereka semua tampak berfikir, sampai kedua orang tua Rin angkat bicara.

"...Kami pikir kami akan membawa Rin ke suatu tempat sambil mencari Len. Kami takkan kehilangan harapan untuk mencarinya. Len cukup cerdas dan mungkin dia yang paling bisa memahami perasaan Rin. Mungkin dengan keberadaannya, Rin bisa mengingat sesuatu. Selain itu, kami..."

"...merindukannya."

Miku, Luka, dan yang lainnya terbelalak.

"...Ka-Kalian akan pergi?" Tanya Luka.

Mereka mengangguk.

"Tapi kondisi sedang separah ini! I-Itu terlalu beresiko! Kalian bisa saja terbunuh dengan mudah!" Seru Miku.

"...Memang, tapi itulah resiko. Tak ada gunanya berdiam diri di sini. Kalau terus di sini, kita takkan pernah mengetahui keadaan Len. Selain itu, Rin juga takkan mengingat apa-apa. Kalau tak mengambil jalan, kita takkan pernah maju," Ujar ayah Rin.

"...Kami sudah putuskan..."

"...Kami akan pergi sekarang juga."

Miku, Luka dan yang lainnya semuanya membisu, wajah mereka semakin pucat.

"...terima kasih atas bantuannya semalam ini."

Ayah Rin menggandeng tangan Rin yang tampak kebingungan–terang saja, karena ia tak mengerti apa-apa–dan berjalan pergi, diikuti oleh Ibunya yang tersenyum ke arah mereka dengan lemah. Mereka membisu sambil menatap punggung keluarga yang memikul begitu banyak kesedihan itu. Punggung-punggung yang semakin menjauhi mereka, berjalan dengan tertatih-tatih.

Mereka kembali menitikkan air mata. Setetes-demi tetes air mata yang mereka jatuhkan, setara dengan jumlah doa yang mereka tuturkan untuk keluarga yang berduka itu.

Sementara itu, Ayah dan Ibu Rin yang menggandeng putri mereka itu sedang berjalan menuju taman pinggir kota yang kemarin mereka lewati dengan perasaan hancur karena ditatap dengan dingin oleh setiap orang yang melihat mereka.

Saat itu subuh, belum banyak orang yang berlalu-lalang. Atau lebih tepatnya, tidak ada. Ya, justru karena itu mereka bisa lewat dengan tenang, tanpa perlu khawatir akan mendapat tatapan dingin yang menusuk itu lagi.

Mereka sedikit waspada kalau orang-orang bau itu muncul lagi dengan pistol mereka yang jelas tidak akan membiarkan mereka lolos untuk kedua kalinya. Apa lagi Rin sedang hilang ingatan dan tak tahu apa-apa, ia takkan bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan hidupnya.

Akhirnya mereka dapat melewati taman itu dengan lancar, tak ada apapun yang menghadang. Sekarang, di depan mereka sudah ada hutan. Dan sekarang mereka harus memilih. Kalau belok kiri, mereka akan sampai ke gudang tempat mereka dikurung oleh orang-orang bau itu. Dan kemungkinan orang-orang bau itu masih ada di situ juga. Jalan satu-satunya hanyalah hutan itu, tetapi kabarnya di hutan itu ada makhluk buas atau semacamnya, tetapi itu belum pasti. Karena itu mereka memilih melewati hutan dari pada melewati gudang yang sudah jelas ada orang-orang yang akan membunuhnya.

"...Di sini tidak ada apa-apa, 'kan..?" Bisik Ibu Rin.

"Entahlah. Berdoa saja, dan lewati hutan ini dengan tenang. Entah mengapa firasatku mengatakan... Len pernah melewati jalan ini." Balas Ayah Rin.

Ibu Rin tersenyum kecil. "...kuharap firasatmu takkan salah..." bisik beliau.

Rin hanya menatap kedua orang tua itu dengan bingung.

"...Hei, untuk apa kalian membawaku kemari? Siapa itu Len yang kalian bicarakan?" Tanyanya.

"...Nak, kita akan berkelana mencari Len, saudara kembarmu.," Bisik Ibunya.

"Saudara kembar?"

"Ya... saudara kembarmu."

Rin terdiam sejenak, lalu ia menatap ke bawah.

"...Apa jejak kaki ini miliknya?"

"..Eh?" Ayah dan Ibunya tertegun, lalu berhenti sejenak dan melihat ke bawah.

...benar. Terdapat sebuah jejak kaki di sana.

"...Rin, coba cocokkan ukuran kakimu dengan ukuran tapak kaki ini. Kalau sama, sudah jelas ini milik Len." Ujar Ayahnya.

Rin meletakkan kakinya di samping jejak kaki itu, dan menyocokkannya.

"...Tidak salah lagi.. Ini..." gumam Ayahnya.

"...Ini... milik Len."

Ibunya menahan nafas, lalu matanya menyusuri jejak kaki itu.

"...Kita ikuti jejak kaki ini, 'kan..?" Bisik beliau.

Ayah Rin mengangguk. Mereka berjalan mengikuti jejak kaki itu. Tetapi jejak kaki itu berakhir di sebuah...

...genangan darah...

Ibu Rin bungkam saat melihat genangan darah itu. Beliau terduduk dan terbatuk-batuk, lalu menangis.

"...Le-Len.."

Ayah Rin masih tidak percaya akan yang dilihatnya. Darah. Lagi-lagi darah. Apa lagi ini genangan darah terbesar yang pernah dilihatnya.

Beliau ikut terduduk di samping istrinya yang sedang menangis tak karuan, dan menangis histeris.

Darah lagi, dan darah lagi. Kebencian, darah, kematian, lalu apa?

Rin menatap kedua orang tuanya yang sedang menangis histeris dengan pakaian berlumuran tanah dan merah darah, lalu menatap ke arah genangan darah itu.

Sekilas ia menatap ke depan, dan entah mengapa ia menitikkan air mata, padahal seharusnya saat ini ia tak mengerti apa-apa.

"...Len.."

Di tengah suasana yang begitu menyedihkan, Ia pun kemudian terduduk pula, dan memasukkan tangannya ke genangan darah itu, dan menempelkan tangannya yang sudah berlumuran darah itu ke pipinya. Air matanya mulai bercampur dengan merahnya darah, dan saat itu kedua orang tuanya tak ada yang menyadari ini karena mereka masih menelungkupkan wajah mereka dan menangis penuh penderitaan.

Apa.. apa yang kulakukan?

Aku tak merasa mengenal mereka, apa lagi "Len" yang mereka bicarakan.

Tapi kenapa ya...

Hatiku segelap ini..?


Rin Onee-chan...

Matta Ne..,

Onee-chan.

...To Be Continued...


Arasa-chan : "HOHOHO!"

Rin : "Heh, sedeng. Ngapain lo ketawa udah kaya tante-tante ga jelas gitu? =3="

Arasa-chan : "uuu, Rin bawel, ah. Biarin dong. Arasa-chan kan lagi bahagia karena ini udah mencapai klimaks. =3="

Rin: "Gheh. Klimaks apa.."

Len : "klimaks apa kau... author goblok!" *lengkap dengan aura aku-ingin-membunuhmu-sekarang-juga.

Arasa-chan:"Y-Y-ya? A-Ada apa, Len-kyan ~?"

Len : "Sedeng lu! Errrr, kemaren kaki Rin yang kau buat ketembak. Sekarang aku lebih parah! WTH of genangan darah, hah! Gue masih seger buger, tauk!" *gantian ngedumel kaga jelas

Arasa-chan: "Ung, ini kan sekedar demi kelangsungan ceri.."

Rin : "LEN! MARI KITA BALASKAN DENDAM KITA!" *nyiapin roadroller

Len : "HOW A NICE IDEA!" *semangat nyemperin

Arasa-chan : "Oke! Silakan lindes aku!" *bukannya kabur '==

Roadroller: WHURRRRM! *ngelindes

Arasa-chan: "O-Oke.. jangan lupa ya R to R nya~ a-arigato~" *jatuh ke bawah layaknya kertas yang lenggak-lenggok kekiri ke kanan (inget yang di tom & Jerry kaan?)

Rin : "Mohon banget Reviewnya ya~! Arigato! Yang mau review dicium Len, kok!"

Len : "WHAT THE..."

Arasa-chan : "UU, KALO GITU AKU JUGA MAUUU!" *ngejar-ngejar Len

Len : "NGGAAAK! TIDAAAAAAAAKKK!" *kabur