YOOSH~~ Minna-saaan~~~~

Arasa-chan disini lagii~~ X3

Akhir part ini menunjukkan kalau cerita ini akan segera berakhiiir~ yay~ *bercucuran air mata bahagia*

Yah, mungkin akhir part selalu diakhiri dengan darah, yah... part ini juga. Arasa-chan akui part ini monoton. Tehehehehe. Habisnya ide Arasa-chan lagi buntu banget. Ditambah lagi hati-hari sekolah yang (excuse) kurang Arasa-chan suka. Kadang males sama pelajaran, temen-temen, dan lingkungan yang membosankan. Tiap hari pasti ada aja hal yang membuat Arasa-chan berharap libur dan bisa meringkuk sendirian aja. Hehehe. Kenapa? Oh itu Arasa-chan juga kurang paham *garuk-garuk kepala yang tidak gatal*

Ta-Tapi, kalau diperhatikan, point berharga di part ini hanya ada satu; kalimat/kata terakhir! Yak, jangan pencet kursor kebawah dulu, Arasa-chan masih berharap readers terhormat sekalian bisa menikmati semuanya kok! Akhir kata, maaf kalau monoton!

RinLen: "Arasa-chan, bagian kita manyaa~?"

Arasa-chan: "Ma-Maaf, Rin-chan, Len-kyan *menunduk* Keasyikan curhat (?) sih, jadi kalian Disclaimer aja ya?"

Rin: "Okelah, hohoho how lucky are you karena kita lagi baek nih." *padahal sebenernya roadrollernya ketinggalan*

Len: *angguk*

RinLen: "Disclaimer: Ada-ada aja deh, masa iya vocaloid punya Arasa-chan yang gaje itu. Sampai ke ujung dunia, samudra, dan alam semesta, vocaloid itu punya Yamaha Corp. Dan Crypton MF, inc."

Arasa-chan: *nangis bombay* "...Sa-Sankyu... A-Akhir kata (lagi?), please enjoy for read and review, maaf untuk segala kesalahan... Minna ga daisukii~ hiksuuu~" *squeesh*


Part 5

Apa.. apa yang kulakukan?

Aku tak merasa mengenal mereka, apa lagi "Len" yang mereka bicarakan.

Tapi kenapa ya...

Hatiku segelap ini..?

Kegelapan berkeliaran di sekeliling mereka yang sedang menangis histeris, diliputi perasaan takut, marah, dan dengki. Sekarang di depan mereka sudah ada genangan darah yang begitu merah dan menakutkan.

Darah semerah itu... apakah itu milik Len?

Jejak kaki itu jelas terhenti di sini. Tepat di depan genangan darah ini. Dan jejak kaki itu milik Len...

Mereka terdiam seribu bahasa. Rin menatap genangan darah di depannya dengan tatapan takut.

Ibunya berusaha mengelus pipi anak perempuan manis yang tengah kehilangan ingatannya itu. Wajahnya tengah basah oleh darah yang dia peperkan sendiri ke wajahnya.

"Ri-Rin.., tabahlah..," bisik Ibunya.

Rin hanya terdiam sambil memandangi Ibunya dengan tatapan sedih.

Kenapa aku harus tabah?

Mengenal pemilik darah ini saja tidak.

Tapi meski begitu.. aku merasa sedih...

...dan hampa.

Ibu dan Ayah Rin terdiam lagi, lalu berdiri. Mereka menggandeng tangannya. Rin menengok dan melihat wajah mereka. Kesedihan yang sudah tidak bisa dipungkiri lagi, sudah tersirat dengan jelas disana.

Dengan manggandeng tangan Rin, mereka mulai berjalan melewati genangan darah itu setelah menangis keras dalam beberapa saat.

"..Kita akan kemana lagi?" tanya Rin.

"...Kalian masih ingin menangisi darah itu, 'kan...?" lanjutnya.

Ayah dan Ibunya tersentak. Mereka melihat ke wajah putri mereka.

Meski terlihat tak mengetahui apa-apa, kenapa ia sekilas tampak begitu sedih dan memeperkan darah itu ke wajahnya?

"...Tidak, nak... Kita harus berfikir positif kalau itu bukan darah Len.. I-Iya, 'kan..?' jawab Ibunya lirih.

Ayahnya mengangguk. Rin menatap mata kedua orang tuanya bergantian.

...Tampaknya harapan mereka sedikit... Bisiknya dalam hati.

"...Mayatnya tak ada di sana, 'kan?" Tanyanya.

Orang tuanya kembali tertegun dengan pernyataannya.

"...Benar juga, ya.. Seandainya memang dia, tapi tak ada mayatnya disana..." Ucap Ayahnya. Rin mengangguk.

Hening lagi untuk beberapa saat.

"...Hei..." ia kembali berucap di tengah kebisingan hutan yang mereka lewati.

"...Kalian ini orang tuaku, bukan?"

Ayah dan Ibunya mengangguk.

"...Dan 'Len' itu saudara kembarku?"

Ayah dan Ibunya mengangguk lagi.

Rin kembali terdiam.

Mereka berjalan lurus menelusuri hutan yang belum pernah mereka lewati sebelumnya itu. Hutan itu memang gelap dan cukup mencekam. Tak heran kalau sampai ada hewan buas disana...

Mereka mulai bisa lebih tenang saat matahari mulai menampakkan cahayanya di ufuk timur. Meski cahaya matahari sepagi itu belum terlalu menambah pengaruh pada hutan yang gelap itu, tetapi mereka merasa sedikit lega karena akan terhindar dari berbagai bahaya di tengah kegelapan.

Sembari menunggu matahari lebih terang, mereka tetap berjalan menyusuri hutan.

Mereka sama-sama tak berbicara apa-apa, meskipun sebenarnya sejak tadi, banyak tetesan darah yang mengarah beraturan di sepanjang jalan setapak di hutan itu. Selain itu, mereka juga berjalan mengikuti jejak tetesan darah itu, meski–tetap–tak satupun dari mereka yang berbicara apapun.

Akhirnya, perlahan cahaya matahari makin menembus pepohonan. Hutan itu sudah terang sekarang. Meski tak benar-benar terang, tetapi setidaknya mereka mendapat penerangan yang lebih.

"Baiklah, apa kalian mau beristirahat dulu?" tanya Ayah Rin.

Rin dan Ibunya mengangguk.

"...Aku lelah," ujar Rin.

"Baiklah, ayah akan cari mata air. Kau dan Ibumu duduk saja di pohon besar itu, Ayah akan segera kembali." Pesan Ayahnya. Rin dan Ibunya lagi-lagi hanya membalas dengan anggukan.

Ayahnya pun berlalu, dan mereka terduduk di pohon besar yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Rin mulai memejamkan matanya, karena merasa kelelahan dan mengantuk. Ibunya juga mulai merasa mengantuk.

Akhirnya mereka berdua pun memejamkan mata mereka... entah berapa lama.

srek srek

"Nggggh..."

srek srek

"Emmh?"

srek srek

"...Siapa?" Bisik Rin.

srek srek

"Hei! Siapa!"

...

Tidak ada suara lagi.

Rin berdiri dan berjalan pelan-pelan menuju semak-semak. Ia menyibaknya.

...tidak ada apa-apa. Kosong.

"...aneh.," Gumam Rin.

Ia kembali ke tempatnya semula, di bawah pohon rindang. Disana masih ada Ibunya yang tertidur lelap dengan menyender pada pohon itu.

Rin terduduk sambil melihat wajah ibunya.

Apa iya orang ini ibuku?

Aku tidak pernah tahu apapun.

Apa ya yang terjadi padaku?

Rin merenungi kejadian yang ia alami. Seingatnya, ia terbangun dari tidur malam itu, dan disana sudah ada orang-orang yang mengaku sebagai teman dan orang tuanya, tetapi ia tak tahu apa-apa.

..Apa, ya... Selain itu... rasanya sesuatu yang penting telah menghilang dari pikiranku...

...Benar-benar penting... Kurasa melebihi nyawaku sendiri.

...Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?

Saat itu juga, suara itu kembali terdengar. Telinga tajam Rin langsung dengan cepat menangkapnya dan ia pun berlari ke arah semak itu lagi.

Srek!

"Si..."

Hmp!

"Jangan banyak omong kau, bocah sok pintar!"

"Si-Siapa kau?"

"Aku? Oh, jadi setelah kabur, kau berniat melupakanku, ya, bocah bodoh?"

Rin yang sangat terkejut karena tahu-tahu mulutnya dibungkam oleh seorang bapak-bapak besar yang bau, secara spontan menggigit tangan besar yang membekap mulutnya itu.

"Arrrgh!"

"Rasakan tuh!"

Rin berlari menjauh, sementara orang itu sedang kesakitan dan memegangi tangannya.

"Sialan kau bocah bodoh! Kau sudah menggigit tanganku dua kali! Awas kau! Kau pasti akan mati, dasar bocah sok!"

...dua kali?

Aku tidak pernah mengenal orang ini, kok, apa lagi menggigit tangannya.

Dan lagi katanya, aku pernah kabur darinya?

...Errr, tunggu. Aku tak ingat apapun!

Yang jelas, kurasa orang itu berbahaya...

Rin membangunkan Ibunya, dan meminta beliau untuk segera pergi dari sana.

"I-Ibu, sebaiknya kita cepat beranjak dari sini, ada orang aneh disana!" Seru Rin pada Ibunya, sambil menunjuk ke arah orang bau besar yang sedang sibuk mengurusi tangannya yang sakit. Rin terlihat agak ragu saat memanggilnya "ibu", tapi bukan itu masalahnya sekarang.

Ibunya terbangun dan menengok ke arah yang ditunjuk Rin.

Beliau terkejut setengah mati.

"...A-Anak buah orang bau!" Serunya.

"Ri-Rin, ayo kita pergi dari sini! Cepat lari! Ayah belum kembali!"

"Belum."

Ibunya bergumam cemas, lalu buru-buru menarik putri kesayangannya yang tengah kehilangan ingatan itu dan berlari secepat mungkin.

Di tengah kebingungan yang semakin besar, Rin pun akhirnya bertanya pada Ibunya, meski Ia sendiri merasa tak yakin.

"...Siapa orang itu?"

"...Ceritanya panjang, nak, tapi singkatnya, terakhir kali dia dan bosnya hampir saja membunuh kita, dan... melubangi kaki kananmu..."

Rin tersentak.

"...Ja-jadi, kakiku..."

"Ya, kakimu tertembak oleh mereka. Padahal kami pikir kita takkan bertemu dengannya lagi, tapi..."

Rin berdecak.

"...Apa orang itu harus dibiarkan begitu saja?"

Ibunya menghela nafas.

Mereka terus berlari. Ibunya tengak-tengok mencari Ayahnya, kuatir kalau beliau tak kembali, sudah tertangkap, dan mungkin takkan bertemu lagi dengan mereka...

"...Ayah! Ayah!" Seru ibunya, berharap sesosok suaminya akan muncul dari balik pohon atau semak-semak. Tetapi, sampai sekarang masih nihil.

Nafas mereka mulai terengah-engah, tetapi mereka belum juga menemukan beliau.

Ibunya terduduk lemas, mulai merasa lelah. Rin ikut terduduk dan mengelus punggung ibunya.

"Ayo berdiri, kalau orang jahat itu mengejar kita, bagaimana?" Ujarnya.

Ibunya hanya menggeleng dan menangis lagi.

Rin hanya terdiam, sampai ia menarik paksa tangan ibunya.

"Kalau dalam keadaan genting seperti ini, tidak ada waktu dan tidak ada gunanya menangis seperti itu! Kalau kau memang ibuku, bangunlah dan ayo kita cari ayah bersama-sama!"

Rin terus berlari sambil menarik tangan Ibunya.

"AYAH! AYAAAH! KALAU KAU DENGAR AKU, CEPATLAH KESINI!" Serunya. Ibunya yang sudah merasa lelah, hanya terdiam saat tangannya ditarik oleh Rin.

Rin... anakku.

Meski kau sedang hilang ingatan, tak ada yang berubah dari sikapmu.

Meski kita dalam kesulitan,

Kurasa sudah jalan Tuhan membuatmu kehilangan ingatanmu...

...Karena jika tidak, kau pasti sudah terpuruk lebih banyak...

"AYAAAH!"

...ya. Tak ada yang berubah padamu...

Tiba-tiba Rin berhenti dan terdiam sejenak dengan terengah-engah.

"Sial.." Bisiknya.

"Ada apa, nak?" Tanya Ibunya pelan.

Rin menggeleng, lalu ia terduduk di tanah dan memegangi kaki kanannya. Ibunya terperangah.

"Ri-Rin, kakimu..."

Rin hanya merintih pelan. Sebentuk cairan merah mengucur lagi dari kakinya.

"A-Aku tidak apa-apa. Ibu jalan saja duluan sampai menemukan Ayah..." Bisik Rin.

Ibunya terduduk dan melepas perban yang melilit kaki kanan Rin. Perban itu kini sudah berwarna merah.

"...Kau kelelahan, ya? Harusnya kau belum boleh banyak berjalan dulu, apa lagi berlari. Ini akan memperburuk keadaan kakimu..." Bisik Ibunya, sambil membuang perban itu.

"...Selain itu.. Mana mungkin Ibu meninggalkanmu, 'kan?" Lanjut beliau, sambil mengeluarkan perban baru, kapas dan obat merah dari kantungnya. Beliau lalu memberi obat merah pada kapas dan mengusap-usapkannya ke luka Rin.

Rin berkali-kali merintih kesakitan.

"Sebentar, ya, nak..." Bisik Ibunya lagi. Rin mengangguk pelan. Akhirnya, Ibunya melilitkan perban itu lagi di kakinya dan selesai.

"...Sekarang berjalan pelan-pelan saja, kau tidak boleh lelah."

Rin mengangguk sekali lagi dan berdiri dibantu oleh Ibunya. Mereka lalu berjalan pelan-pelan dan meneruskan mencari sang Ayah.

Saat sudah berjalan beberapa lama, sebuah suara kembali terdengar.

Srek srek srek

Rin dan Ibunya berhenti sejenak.

Srek srek srek

"...Siapa?" Seru Ibu Rin.

Mereka terdiam untuk beberapa saat, tetapi suara itu tidak lagi terdengar.

Ini... seperti yang tadi... Batin Rin.

"...Ibu, sebaiknya kita cepat jalan. Bisa jadi itu penjahat bau yang tadi," Bisiknya segera.

Ibunya mengangguk pelan, dan mereka kembali berjalan.

Tetapi tak lama kemudian, mata mereka kembali terbelalak melihat sesuatu di depan mereka.

Seseorang yang tergelepar, pakaiannya terkotori oleh tanah dan darah, dan wajahnya menelungkup di tanah. Tangan, pakaian, rambut, dan kakinya terkena darah.

Darah yang paling parah menggenangi pakaiannya, sepertinya ia mengalami luka yang cukup serius di perutnya.

Ibu Rin menganga melihat sesosok itu, dan beliau terjatuh. Sementara itu, Rin hanya terdiam dan terbelalak.

Sosok mengenaskan itu...

...Rambutnya dan postur tubuhnya...

"...Len...?" Bisik Rin–yang seharusnya tak mengingat apapun.

...To Be Continued...


Gimana~? X3
Monoton kah? *puppy eyes

Rin: "Ya, ya, dan... ya." *baca naskah

Arasa-chan: "Ne-Nee. G-Gomennasai..." *mata berkaca-kaca

Len: "Ukh~ Apa arti kata terakhir itu sih?""

Arasa-chan: "Hehehe. Bisa ditebak. Sedikit yang mau Arasa-chan bilang sih, ehehehe, tapi..."

RinLen: *nyikut Arasa-chan* "...PART BERIKUTNYA PART TERAKHIII~R!" *megal-megol

Arasa-chan: *berusaha nyelip ditengah RinLen* "Hooooeeeeee... hontou ni mukatsukuuuu~~~~"

RinLen: *menyikut lagi* "Pokoknya ARIGATOU GONZAIMASHITA MINNA, ALL THE READERS! MINNA GA DAISUKII~~!"

Arasa-chan: "Ooooi! Itu kata-katakuuu! Hiksuuuu!" *pundung sambil mewek gaje di pojokan