Rika Tylore: Yak, kita berjumpa lagi Readers di chapter 2 ini. Tanpa basa - basi kita langsung saja disclaim cerita ini, Tama!

Tama: Bentar, kucari dulu papan disclaimernya! Di mana, sih? *ngacak - ngacak kotak berkas* Nah, ini dia!

"I DON'T OWN SENGOKU BASARA,

CAPCOM & PRODUCTION I.G. DO.

HOWEVER I DO OWN THE OCs & THE STORY"

Rika Tylore & Tama: Selamat membaca, reviewnya juga ya...


Tama jatuh terduduk di depan pintu rumahnya. Keringatnya bercucuran, jantungnya berdebar keras, & napasnya terdengar berat. Meski tak kuat untuk mengangkat kedua tangannya, ia berusaha membetulkan bandage matanya yang hampir lepas. Di tengah napasnya yang tersenggal - senggal ia berbisik, "Sampai kapan...?"


Another One Eyed

Story 2

Acknowledging

"Oy, Masamune! Lihat dong, SMS hiburan dari Okazaki - chan." ujar seorang cowok berambut oranye membangunkan Masamune dari lamunannya.

Masamune yang merasa agak terganggu mendongakkan kepalanya, "Hiburan katamu, Sarutobi?"

"Soalnya cuma dari situ aku bisa mendapatkan hiburan yang isinya sebutan - sebutan aneh buatmu." kata Sasuke sambil cengar - cengir menghadapi wajah kesal Masamune.

"Dia belum mengirimkan SMS lagi," jawab Masamune singkat.

"He? Kok tumben, jangan - jangan... Dia tewas digebuki para preman." Sasuke tiba - tiba jadi memikirkan hal - hal buruk.

"Tidak mungkin dia tewas cuma karena digebuki. Daya tahannya lebih hebat dari pada anak - anak seumurnya."

"Memang sekuat apa sih, Okazaki Tama si ketua OSIS SMP Tsubasa itu?"

"Hmm," Masamune berpikir sejenak, "menjitak orang sampai pingsan, mengangkat meja & melemparkannya dengan jarak sekitar 5 meter, bisa mengangkat sepeda dengan 1 tangan, menendang kotak pos sekali langsung rusak, kalau dia melemparkan sepatunya & kena kepala bisa bocor atau minimal mimisan 1 setengah jam. Sejauh yang kutahu begitulah kekuatannya."

Setelah terdiam sesaat, Sasuke memulai kembali pembicaraan, "Itu manusia atau alien? Kau serius dia seperti itu?"

"Serius..." balas Masamune sambil nyengir.


Saat istirahat, Tama memilih menenangkan dirinya di perpustakaan. Kebetulan di sana juga ada Masuda kembar, Rika & Riku yang memang rutin ke perpustakaan yang ada rak khusus manganya serta majalah yang mengulas anime & manga. Suasananya sangat tenang sampai si duo Hitomi Keita & Satoru Jun serta Sakurai Seto datang.

"Yo, Tama! Ternya-!" mulut Jun buru - buru ditutup Keita & Seto.

"Jun, sadar dong! Di sini perpustakaan!" omel Keita sambil berbisik.

"Tidak heran, deh tiap kali ke sini kau selalu dikeluarkan." tambah Seto.

"Kalau Jun sih, meski diperingatkan begitu nanti juga kebablasan." ujar Tama sambil membalik halaman buku yang dibacanya.

Jun malah cengar - cengir, "Gak bakal terulang lagi deh, Kaicho."

"Jangan panggil aku Kaicho, dong. Kita kan teman sepermainan dari kecil, buat apa manggil begitu."

"Habis kamu memang Kaicho, kan? Ketua OSIS, ketua kelas 2 - 3, ketua keamanan sekolah, plus kapten klub kendo. Lengkap deh, gelar Kaicho - mu." kata Riku yang tiba - tiba muncul.

"Eh, Kei - kun!" lalu Rika mengeluarkan sebuah paket, "nih, paket yang kau pesan waktu itu."

"Apa itu, Kei?" tanya Jun penasaran, Seto & Riku memperhatikan paket itu lekat - lekat.

"Isinya apa, Rika - chan?" Tama membalik halaman lagi.

"Yah, lihat sajalah." Rika mulai membuka majalah yang diambilnya.

Setelah Keita membuka kertas pembungkus paketnya & membuka isinya, "I-i-i-itu...! Keita kamu ternyata..." Kairi yang baru datang terkejut melihat baju lolita berwarna merah tua dari kotak tersebut.

"Jangan salah sangka dulu dong, ini pesanan Rin." balas Keita yang cukup membuat Kairi paham. Adik Keita, Rin memang suka memakai baju bermodel lolita.

"Untunglah aku punya kenalan yang biasa membuat cosplay."

"Oh, yang suka membuat cosplay lolita yang sama sekali gak cocok dipakai olehmu, ya?" Riku mulai menjahili kakak kembarnya.

Spontan, Rika langsung mengeluarkan tatapan kejam, aura mematikan, & wajah suram khasnya kalau tersinggung. Lalu dikeluarkannya senyum yang meskipun terlihat normal tapi sebenarnya sadis, "Tadi bilang apa Rikkun? Coba ulangi lagi..."

"Kau ini tetap saja tidak pernah puas, ya dihajar Rika kalau menyinggung soal itu..." wajah Seto pucat melihat ekspresi Rika.

Tama menghela napas meskipun agak takut juga melihat Rika, "Apa boleh buat, adik laki - laki memang selalu begitu."

"Riku karena kau yang paling tahu cara menenangkanya, cepatlah..." kata Kairi sambil bergidik.

"A- A- Aku cuma bercanda kok, Rika. Serius, cuma bercanda gak ada maksud menyinggung..." semua yang ada di meja itu terutama Riku pucat & gemetar melihat Rika seperti itu. Setelah Rika kembali tenang, mereka bersenda gurau lagi sambil membaca apa saja yang ada di perpustakaan itu. Bagi Tama itu merupakan suatu hal yang bisa membuatnya melupakan segala kesusahan hidupnya, berkumpul bersama teman - teman masa kecilnya.


Masamune baru saja mengalahkan sekelompok preman yang menantangnya di tengah perjalanan pulang. Setelah mengusap darah yang keluar dari mulutnya ia berjalan ke salah satu preman yang tergeletak, "Pengecut, bertarung sendiri kalau mau." lalu meneruskan perjalanannya. Tak lama kemudian, ia merasa mendengar sesuatu di sebuah lorong. Spontan dia berlari menuju suara itu, Jangan - jangan...

Benar saja perkiraannya, di lorong itu dia melihat Tama baru saja bertarung dengan 3 orang. Dari kepalanya mengucur darah, bandage matanya juga lepas & memperlihatkan mata kirinya yang berwarna merah darah. "Sial, harusnya tadi aku menghindari jalan ini..." setelah berkata demikian, penglihatannya langsung kabur & jatuh tersungkur.

"Tama!" Masamune langsung berlari menghampirinya, "Hei,bertahanlah!"

Dengan mata kirinya, dia melirik ke atas, "Ba... Bakamune? Kenapa... bisa di sini?"

"Sudah jangan banyak bicara, lukamu parah!" Masamune langsung mengangkatnya & menggendongnya di punggung.

"Tunggu... Bandagenya..."

"Itu kan bisa diganti, yang penting sekarang kepalamu!"

"Tidak bisa... diganti... Harus dipakai..." lalu Tama langsung pingsan karena kekurangan darah.

"Oy, Tama," Masamune merasa bebannya bertambah berat, "shit, dia pingsan." lalu dia mengambil bandage biru itu. Dia sempat melihat ada tulisan kanji "ban" di baliknya, tapi dihiraukannya & menurunkan Tama sebentar untuk memakaikannya seperti yang diminta. Dia berpikir sejenak sambil berjalan ke mana seharusnya dia pergi, ke rumahnya atau Tama. Dia pasti tahu harus bagaimana...


Tama terbangun di sebuah kamar, yang sudah jelas bukan kamarnya. Lalu dia menyentuh bandage matanya & lega ternyata Masamune mendengar bisikannya sebelum pingsan, di kepalanya ada perban yang menutupi lukanya. Dia kaget saat melihat ke luar jendela ternyata matahari hampir tenggelam. Dia langsung memakai jas seragam sekolahnya, kaus kaki, & sepatu setelah itu mengambil tasnya sebelum keluar dari kamar tersebut. Saat menelusuri koridor untuk mencari jalan keluar, ia bertubrukan dengan seseorang & langsung membungkuk, "Wah, maaf maaf! Aku tidak sengaja!"

"Ah, tidak apa - apa." segera Tama mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ditubruknya. Di depannya berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan rambut yang luar biasa jabrik & memakai kacamata model jadul. "Nama saya Yoshinao, pelayan yang bekerja di sini. Tadi Masamune - sama membawa anda ke sini untuk perawatan."

Tunggu dulu, jangan bilang... "Ini rumah kediaman keluarga Date?"

"Ya, tepat sekali. Anda pasti Okazaki Tama, Masamune - sama kadang membicarakan anda."

Tama agak kaget mendengar kalau Masamune membicarakan tentang dirinya, "Begitu... Ah, iya! Yoshinao - san, kalau bisa boleh antar aku keluar? Aku harus cepat - cepat pulang."

"Sebelum itu saya informasikan kalau adik anda, Yuji- san ada di sini."

"Apa? Yu- Yujin ada di sini?" Gawat, anak itu sudah masuk jebakan setan Bakamune! "Di mana dia sekarang?"

Yoshinao kaget dengan reaksi Tama, "K- Kalau begitu, mari saya antar..."

"Lari, Yoshinao - san! Jangan jalan, lari!" Tama benar - benar panik mengetahui adiknya di sini. Dia berpikir Yuji pasti dijebak Masamune untuk datang ke sini untuk dijadikan preman sepertinya. Tama benar - benar tidak rela adiknya dijadikan begitu.

Begitu mencapai sebuah pintu, Yoshinao buru - buru membukanya & Tama langsung menyerbu masuk. Segera setelah Tama melihat sosok Yuji, ia langsung mengambil adiknya itu dengan 1 tangan. Yuji kaget setengah mati melihat kakaknya, "Yujin, bisa - bisanya kau tertipu!"

"Hah? Maksud Onee - chan apa, sih?"

"Bakamune bilang apa padamu sampai kau bisa masuk jebakan setan,hah?"

"O- Onee - chan, kau salah paham! Jangan paranoid, dong!"

"Hei, hei, tenang dulu..." Tama langsung berbalik ke belakang & melihat Masamune berdiri di situ.

"Bakamune." Kenapa sih, orang ini sering muncul tiba - tiba?

"Oh iya, luka Onee - chan udah nggak apa - apa, kan? Kojuuro - san bilang padaku kalau Masamune nii - san membawa Onee - chan ke sini setelah pingsan dihajar preman! Kepala Onee - chan berdarah, kan?" Yuji kelihatan panik. Pandangan Tama melembut pada adiknya.

"Tenanglah, kepalaku udah nggak apa - apa. Jangan khawatir, sudah diobati kok." Tama menunjuk perban yang mengelilingi kepalanya. Adiknya itu langsung tersenyum lega.

"Syukurlah, kukira Onee - chan sekarat~" katanya setengah bercanda.

"Hei, kau kira kakakmu ini lemah sekali, ya?" Tama mengernyitkan dahinya.

Masamune tersenyum kecil melihat pemandangan tersebut. Hubungan kakak beradik yang sudah bertahun - tahun tidak dirasakannya. Dia masih berpikir kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin ia takkan kehilangan adiknya, bahkan tidak ditinggal oleh ibunya. Kalau soal ayahnya, hubungan mereka memang kurang baik sejak dulu. Tiba - tiba seseorang muncul dari belakang.

"Iri, Masamune - sama?" tanya seseorang mengenakan pakaian serba hitam dengan bekas luka di pipinya.

"Kalau sudah tahu jangan katakan, Kojuuro."

"5 tahun sejak Kojiro - sama meninggal, saya benar - benar kehilangan adik anda waktu itu."

Ada keheningan setelah bodyguard Masamune itu mengucapkan kalimat tersebut, "Diamlah."

"Bakamune," panggil Tama, "terima kasih... Sudah menyelamatkanku tadi." Mendengar itu Masamune agak terkejut kata - kata tersebut bisa keluar dari Tama yang membencinya. "Tapi aku tetap kesal dengan perbuatanmu yang membuatku susah!"

Masamune tertawa pelan mendengarnya, Bukan Tama kalau dia tidak mengatakan itu. "Ya, aku mengerti kau tidak bisa mengampuniku. Ngomong - ngomong kau memanggilku cuma untuk itu saja?"

"Kami mau pulang, maaf merepotkan." jawab Tama tegas, sebal dengan perkataan terakhir Masamune yang bercanda. Kurang ajar, sudah dibaikin malah bikin orang kesal! Bisa - bisa kuhabisi nanti!

"Baiklah, Kojuuro tolong antar mereka." perintah Masamune.

"Baik, Masamune - sama." keluarlah pria itu dari balik pintu. "Silahkan ikuti saya, Tama - san & Yuji - san."

Kakak beradik itu langsung mengikuti Kojuuro keluar. Saat melewati Masamune Tama berbisik, "Sampai nanti." Masamune tersenyum mendengarnya, sepertinya Tama tidak membencinya seperti yang ia kira.

"Yujin, kamu ngantuk ya?" Yuji mengangguk. Tama menawarkan pundaknya & Yuji langsung tertidur lelap setelah meletakkan kepalanya di pundak kakaknya.

"Kalau Masamune - sama di sini mungkin dia akan murung semalaman." canda Kojuuro yang sedang menyetir.

"Eh? Maksud Katakura - san apa?" Tama agak kebingungan.

"Tolong tidak usah terlalu formal, panggil saja saya Kojuuro."

Tama mengangguk, "Jadi maksud Kojuuro - san tadi?"

Kojuuro menghela napas sebentar, "Masamune - sama sebenarnya memiliki seorang adik yang lebih muda 2 tahun darinya. Karena mata kanan Masamune - sama cacat, ibu mereka, Yoshihime - sama enggan menyayanginya. Hanya adik Masamune - sama, Kojiro - sama yang membelanya di keluarga selain saya sebagai pengasuh mereka. Ayah mereka, Terumune - dono tidak pernah ada di rumah karena itu hubungan Masamune - sama dengan beliau tidak pernah baik."

"Oh..." Tama mulai berpikir menurutnya hubungannya dengan kedua orang tuanya dianggap tidak baik. Ia menganggap orang tuanya terlalu sibuk untuk memikirkan anak mereka sendiri.

"Mereka berdua sangat akrab & sering bermain bersama. Kalau ibu mereka mencaci - maki Masamune - sama, Kojiro - sama pasti membela kakaknya. Kalau Kojiro - sama diganggu, giliran Masamune - sama yang membelanya. Tapi sayang, Kojiro - sama meninggal 5 tahun lalu saat umurnya 9 tahun. Sejak saat itu, Yoshihime - sama meninggalkan rumah & hubungan Terumune - dono dengan Masamune - sama bertambah buruk."

Mendengar penjelasan Kojuuro, Tama menunduk & mengerutkan dahinya. Ternyata orang yang selama ini dia anggap menyebalkan mempunyai kenangan pahit dalam hidupnya. Selama perjalanan dia jadi memikirkan hal tersebut, Tunggu dulu, kenapa aku jadi memikirkan si Bakamune? Alasannya hanya satu, mereka orang sama - sama hanya memiliki 1 mata. Jadilah tanpa sadar mereka sudah terhubung satu sama lain.


"OMG! Tama - chii, kepalamu kenapa?" Rika menjerit saat melihat perban di kepala sahabatnya.

"E- eh, ini cuma kecelakaan... Dihajar preman..." Tama berusaha agar teman - temannya tidak khawatir.

"Enteng sekali kau bicaranya, padahal babak belur begitu!" Riku tidak kalah panik dengan kakak kembarnya.

"Aku sudah bilang kan, kalau perlu bantuan panggil saja aku!" bisa dibilang Kairi yang paling khawatir.

"Kamu pasti tak sengaja melewati daerah rawan serangan, kan?" tanya seorang cewek berambut pirang dikuncir 2, Hanazono Koyuki yang juga anggota kelompok teman sepermainan sejak kecil Tama.

"Tama, kamu kan Kaicho kami! Kalau terjadi apa - apa padamu, kami khawatir luar biasa!" kata Jun agak lebay.

"Begini saja, dalam seminggu kita bergantian mengantar Tama sampai ke rumah!" usul Hanakuro Loki, teman Tama sejak kecil juga.

"Tunggu dulu, itu tidak-" kali ini meskipun posisi Tama sebagai pemimpin, dia benar - benar tidak diberi kesempatan bicara.

"Kairi hari Senin, Rika Riku hari Selasa, Koyuki hari Rabu, aku hari Kamis, Loki hari Jumat, Jun Keita hari Sabtu. Semuanya sudah jelas?" bisa dibilang Seto yang mengambil alih.

"Mengerti!" jawab mereka serempak.

"Hei, aku kan belum setuju!" protes Tama.

"HARUS SETUJU, INI DEMI KAICHO!"

Dasar, kalau begini aku sudah nggak bisa lawan. "Baiklah, aku setuju." yang lain langsung bersorak - sorai atas kemenangan melawan sifat keras kepala ketua mereka. "Tapi kalian nggak salah? Seto, Rika, Riku, rumah kalian kan berselisih jalan. Bagaimana caranya kalian mau mengantarku?"

"Itu sih, nggak masalah..." balas Riku.

"Cuma masalah itu sih, kecil!" kata Seto sambil memetik jarinya.

"Kalau demi Tama - chii, kita nggak peduli sama hal kecil begitu." tambah Rika.

"Yang penting Tama selamat. Kita semua teman, kan?" Kairi tersenyum pada Tama, meyakinkan cewek itu kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Teman... Ya, kita semua teman. Oke, lakukan sesuka kalian, deh!" pernyataan Tama sambil mengeluarkan senyum lebarnya yang khas membuat teman - temannya bersorak lagi.


Sementara itu di SD Tsubasa, "Yuji - kun!" panggil seorang anak perempuan kuncir dua.

"Kenapa Miyu - chan?" Miyu itu cewek yang ditaksir berat oleh Yuji. Wajar, mereka berdua sudah kenal dari kecil. Bisa dikatakan kalau Yuji jatuh cinta pada pandangan pertama sama Miyu.

"Ada sekelompok anak SMA di luar mencarimu. Salah satu dari mereka bilang namanya, kalau tidak salah Masamune..."

"Oh, dia kenalanku!"

"Serius? Penampilannya kurang meyakinkan..."

Yuji menepuk kepalanya, "Tenang saja Miyu - chan, kebetulan dia kenalan kakakku juga jadi jangan khawatir. Dia memang mirip preman sih, tapi bukan kok." melihat Miyu mengangguk, Yuji langsung berlari keluar, "Aku akan segera kembali!" Miyu memperhatikan Yuji sampai dia hilang dari pandangannya.

5 menit

10 menit

15 menit

20 menit

25 menit

30 menit

KRINGG! Bel tanda istirahat selesai sudah berbunyi, tapi Yuji belum juga kembali. Karena khawatir, Miyu langsung berlari menuju gerbang & mendapati penjaga gerbang sekolah pingsan. Ia lebih kaget lagi saat melihat gantungan kunci Yuji yang berbentuk huruf katakana namanya tergeletak di sana.

"Yuji - kun? Yuji - kun? Yuji - kun? YUJI - KUN?" dia memanggil namanya tapi tak ada tanda - tanda darinya. Satu kesimpulan, Yuji sudah diculik.

To be continued...


Bagaimana nasib Yuji selanjutnya kita lihat saja di chapter selanjutnya. Saya Rika Tylore sang penulis, mohon diri dulu. Ja nee, Readers...