Ri Tyler : Yak, kita bertemu lagi Readers terhormat! Tanpa basa - basi la-

Masamune : Gak bisa begitu, dong! Kita tokoh utama gak pernah kebagian tempat di sini!

Rika Tyler : Ya, langsung saja!

"I DON'T OWN SENGOKU BASARA,

CAPCOM & PRODUCTION I.G. DO.

HOWEVER I DO OWN THE OCs & THE STORY"

Fyuuh... Hampir aja ada penyalah gunaan Author's note...

Masamune : Apa maksudmu, hah?


Another One Eyed

Story 3

Searching

Ruangan itu gelap & berdebu, tidak ada cahaya yang masuk sama sekali. Di tengah ruangan itu, Yuji terkapar tak sadarkan diri. Tak beberapa lama kemudian, matanya terbuka & langsung terbangun. Saat sedang mengingat apa yang sudah terjadi, dia teringat ketika menemui orang yang mengaku sebagai Masamune, orang itu langsung menyergapnya karena dia mau kabur. Karena berontak, kepalanya dipukul hingga pingsan. Sebelum kesadarannya hilang, dia sempat mencopot gantungan kunci dari ban pinggangnya untuk memberi tanda dengan harapan seseorang menemukannya.

Setelah mengingat semuanya, Yuji meringkuk di tengah ruangan itu dengan kepalanya yang masih agak sakit. Ia berkata dengan pelan, "Onee - chan... Aku tunggu di sini..."

"Okazaki!" panggil seorang guru panik & masuk ke dalam kelas Tama.

"Tsukiko - sensei? Ada apa?" tanya Tama yang kebingungan sambil menghampiri gurunya itu. Setelah wanita itu membisikkan sesuatu padanya, jantungnya langsung berdetak keras, matanya melebar, wajahnya langsung panas, & tangannya mengepal. Spontan ia langsung berlari keluar kelas tanpa mengatakan apa pun lagi.

Wali kelasnya, Uchida - sensei & teman - teman sekelasnya kaget dengan reaksinya, "Okazaki? Tsukiko - san, apa yang terjadi?"

"B- Begini, Uchida - san! Adik Okazaki... Okazaki Yuji diculik!" pernyataan itu mengagetkan seisi kelas terutama kelompok teman sepermainan Tama.

Kairi spontan berdiri, "Maaf, Sensei! Tapi ini penting!" ia berlari keluar mengikuti Tama. Kemudian diikuti oleh teman - teman sepermainan yang lain.

"H- hey! Tunggu dulu!" seru Uchida - sensei. Dia tahu mereka sangat kompak, tapi tidak mengira akan jadi seperti ini, "Tsukiko - sensei, sudah telepon polisi?"

"Ah, sudah!"


"Tamacchii! Tunggu!" panggil Rika yang napasnya tersenggal - senggal karena berlari.

"Jangan ikuti aku!" jerit Tama. Dari suaranya & ekspresinya jelas kalau dia memang sangat marah. Tapi ada sesuatu yang lain; dia merasa takut & bersalah. Takut Yuji akan terluka & merasa bersalah kalau ini semua karena ia menjadi target para banchou. "Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kalian! Yuji diculik, itu urusanku seorang! Diamlah di sini!"

Kairi yang tidak pernah melihat Tama seperti ini sedikit kaget, "Tama..."

*Plak!*

Tiba - tiba Rika memukul wajah Tama. Kali ini bukan wajah datar Rika yang dilihat Tama, tapi wajahnya yang penuh kekesalan. Lalu ia menarik dasi Tama, "Kamu belum sadar juga, Tama? Meski Yuji bukan adikku, bukan adik siapapun dari kami, tapi tetap saja kami sudah menganggapnya seperti adik sendiri! Sekarang Yuji diculik, jelas kalau pelakunya banchou - banchou yang mengicarmu. Pasti penculiknya lebih dari satu! Kalau kamu cuma sendiri, percuma! Pastinya kamu juga akan disandera juga kalau kalah dari mereka! K- Kalau itu terjadi... Aku nggak tau harus gimana lagi, Tamaki..."

Sudah lama Rika tidak memanggil Tama dengan nama aslinya, "Rika, maaf... Aku sudah egois ya, cuma marah - marah sendiri padahal kalian mengkhawatirkanku." Lalu ia memeluknya, "Maaf ya, Rika..."

Cewek berambut cokelat itu balik memeluknya dengan tatapan sendu. Setelah itu Tama berjalan mendekati teman - temannya yang lain, "Baiklah, kalian semua boleh ikut. Aku punya rencana & untuk itu kita harus mencari informasi dulu tentang orang - orang yang menculik Yuji."

"Jadi pertama - tama kita harus tanya pada orang yang benar - benar tahu tentang banchou." Seto ambil kesimpulan.

"Yah, berarti satu - satunya sumber terpercaya ya, orang itu..." ujar Tama.

"Tunggu, itu berarti!" Riku agak kaget Tama memilih jalan itu.

"Kau yakin soal ini, Tama?" tanya Kairi sedikit cemas.

"Coba pikirkan lagi, mungkin ada cara lain. Daripada kau jadi kesal sendiri." ujar Loki.

"Sebenarnya kita mau tanya ke siapa?" Koyuki kebingungan.

Jun melirik ke arahnya dengan tatapan 'masa - kau - tidak - tahu', "Itu lho, Koyuki..."

"Orang yang dimusuhi Tama," jelas Keita sambil menghela nafas.

"Sebenarnya sih, nanya ke orang itu ogah banget. Tapi untuk yang seperti ini aku terpaksa mengakui kalau dia ahlinya. Sebelum itu kita jemput dulu Miyu, baru ke tempatnya."


Sementara itu di SMA Sengoku, "Perhatian, Date Masamune dari kelas 1 - A dimohon datang ke ruang kepala sekolah. Sekali lagi, Date Masamune dari kelas 1 - A dimohon datang ke ruang kepala sekolah."

"Masamune, kau habis melakukan apa sih? Ngerusuh di sekolah lain lagi?" tanya seorang cowok berambut putih jabrik dengan headband yang menutupi mata kirinya. Dialah Chousokabe Motochika, teman semasa kecil Masamune. Teman senasib & seperjuangan.

"Ngaco, jangan berpikiran macam - macam." lalu Masamune langsung meninggalkan kelasnya. Di jalan dia juga berpikir tentang alasan dipanggilnya dia ke ruang kepala sekolah. Seingatnya dia tidak melakukan kekacauan apa - apa hari ini. Begitu memasuki ruangan tersebut, Masamune kaget melihat Tama di sana.

"Bakamune."

"Tama? Sedang apa di sini?"

"Masamune," kata sang kepala sekolah yang bernama Takeda Shingen itu, "Okazaki Tamaki butuh bantuanmu soal informasi. Menurutnya hanya kau yang paling tahu tentang ini."

Cowok berambut hitam itu masih tidak mengerti sampai Tama mengatakan padanya, "Yuji... Dia diculik."

Masamune kaget bukan main, ia langsung memegang bahu Tama, "Apa? Siapa yang menculiknya?"

"Masamune! Pelankan suaramu!"

"Takeda - san, tidak apa - apa. Kami permisi dulu." ujar Tama sambil beranjak keluar dari ruangan diikuti Masamune.

"Jadi siapa yang menculiknya?"

"Aku juga tidak tahu!" ujar Tama sebal, tapi Masamune merasakan rasa takut & amarah dari suaranya. "Kata guruku, temanku Yasumi Miyu juga melihat gerombolan yang menculiknya. Karena itu aku butuh bantuanmu untuk mengidentifikasi orang - orangnya."

Masamune berpikir sejenak, "Baiklah, tapi tunggu sebentar..." Laki - laki itu masuk kembali ke ruang kepala sekolah. Beberapa saat kemudian, pengeras suara dinyalakan.

"YUKIMURA, SASUKE, KEIJI, MOTOCHIKA, TOSHIE, KUMPUL DI DEPAN KANTOR TAKEDA! KITA BAKAL PESTA!" suara Masamune menggema ke seluruh sekolah. Tama hampir saja tuli kalau dia tidak menutup kedua telinganya dulu.

"Date Masamune! Kamu saya berikan detensi 5 minggu atas penyalahgunaan sarana sekolah!" Takeda sepertinya tidak sadar kalau pengeras suaranya masih dinyalakan. Terdengar tawa para siswa dari beberapa kelas mendengarnya.

Bakamune memang benar - benar bodoh. IQ - nya tenggelam, ya? ujar Tama dalam hati sambil menghela nafas. Kemudian keluarlah orang bodoh yang dimaksud, "Kau... Mau bikin orang tuli seminggu?"

"Maaf, maaf, kebiasaan heboh." jawab Masamune cengengesan. Tak lama kemudian, terdengar suara beberapa orang yang menuju ke arah mereka. "Mereka sudah datang."

Munculah cowok berambut panjang yang dikuncir kuda, "Masa - chan, ada apa?"

Ma- Masa - chan? "Uph... Pfft.." Tama dengan susah payah menahan tawa. Untung Masamune tidak memperhatikan.

"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi atau kau kubuat babak belur, Maeda." ancam Masamune.

"Iya iya, santai aja, Masa - mune..." hampir saja Keiji memanggilnya dengan nama panggilan itu lagi. Lalu perhatiannya tertuju pada Tama, "Aku Maeda Keiji, namamu siapa?"

"Aku Okazaki Tamaki, salam kenal Maeda - san." ujar Tama sambil membungkuk.

Spontan Keiji memeluknya, "Jadi ini ketua OSIS SMP Tsubasa yang kau ceritakan itu? Manis sekali anaknya! Panggil aku Onii - chan, dong!"

Keiji pun melayang & hampir menubruk Yukimura, Sasuke, & Motochika yang baru datang, "Gak sudi! Dikira kau itu siapa, hah? Ini masih kurang dari 5 menit setelah kenalan!"

"Kekuatannya... Luar biasa..." komentar Sasuke. Jadi memang benar kata - kata Masamune.

Dia pasti ketua OSIS Tsubasa itu. Pantas Masamune terkesan dengan anak ini. pikir Motochika.

"Masamune - san, tadi kau manggil, kan?" lalu dia membungkuk di depan Tama, "Aku Sanada Yukimura, salam kenal. Kau Okazaki Tamaki - san, kan?"

"Sarutobi Sasuke, panggil saja Sasuke."

"Yo, Chosokabe Motochika. Panggil Motochika."

Tama membungkuk sopan, "Salam kenal. Sekarang ayo-" langkah Tama diberhentikan oleh Masamune, "Mau apa lagi? Kita harus cepat!"

"Masih ada satu orang lagi, itu dia." keluarlah orang yang kelihatan... kelaparan.

"Toshie! Kau kelaparan lagi? Tadi kan baru makan!" kata Keiji sambil membantu temannya itu berjalan.

"Mau... Onigiri... Buatan... Matsu..." wajah orang itu sudah seperti zombie.

"Matsu nee - chan tidak masuk hari ini, Toshie..."

"Mau... Onigiri... Matsu..."

"ARRGH, SUDAHLAH!" Tama langsung berlari keluar. "Kalau mau membantu serius, dong! Kalian itu seperti dokter - dokter yang terlalu sibuk bergaya & pasiennya mati sebelum kalian operasi!"

Para pemuda itu pun terdiam sampai Sasuke angkat bicara, "Sebenarnya kenapa dia, Masamune?"

"Adiknya diculik," ujar Masamune, "kemungkinan oleh para banchou yang mengincarnya."

"Apa? Itu namanya mempermalukan nama banchou! Ayo, kita hajar mereka!" Motochika langsung lari.

"Memangnya kau tahu siapa banchou yang menculiknya, Chika - chan?" tanya Keiji, yang sukses menghentikan langkah cowok berambut putih itu.

"Ano, Masamune... Siapa yang menculiknya?"

"Baka, mana kutahu? Katanya dia mau tanya dengan temannya yang kebetulan melihat gerombolan yang menculik Yuji."

"Yuji itu siapa?" tanya Toshie.

"Adiknya, dari tadi kau tidak dengar, Toshie?" tanya Keiji.

"Maaf, kalau lapar aku tidak bisa konsentrasi." teman - temannya memandangnya dengan tatapan 'dasar - tukang - makan'.

"Kalau begitu tanpa buang waktu lagi, kita langsung ikut saja." ujar Yukimura.

"Baiklah!"


"Terima kasih banyak, ya Sumino! Maaf merepotkanmu! Aku gak akan melupakan kebaikanmu seumur hidup!" Tama sujud di depan teman sekelasnya, Akari Sumino yang juga bintang baru di dunia selebritis. Setelah bertanya - tanya pada Miyu tentang bancho yang menculik Yuji, diketahui salah satu dari mereka adalah Shinnosuke Genta dari SMA Fumoto. Setelah Masamune memberitahu di mana mereka biasa berkumpul, mereka semua berunding soal bagaimana cara untuk pergi ke tempat itu. Tentunya tidak bisa pakai bus, maka atas usul Keita mereka minta tolong pada Sumino untuk meminjam karavan khusus tur miliknya. Tapi tidak menyangka Sumino juga ikut. Murid - murid SMA Sengoku yang ikut pun kaget & Keiji langsung minta tanda tangan.

"Sama - sama, tidak apa - apa kok, Tama! Jadwalku hari ini sudah selesai & aku nganggur. Lagipula aku masih berhutang padamu yang menjadikanku seperti sekarang ini." dulu Sumino adalah gadis yang sangat pemalu, tapi berkat dukungan Tama dan yang lain dia bisa menjadi terkenal. "Dan kupikir ini seperti misi - misi yang dijalankan FBI jadi aku ikut saja!"

"Hoe?" teman - temannya bingung dengan obsesi terbaru Koyuki tentang dunia kepolisian.

"Koyuki nee - san semangat sekali." komentar Miyu polos.

"Di luar dugaan, SMP Tsubasa cukup menarik untuk ukuran sekolah yang membosankan." ujar Motochika.

"Kukira isinya cuma anak - anak tanpa cela yang hobinya belajar & melakukan hal - hal lain yang membosankan." tambah Sasuke sambil bercanda.

"Apa maksudmu membosankan?" seru Riku, Jun, Keita, & Loki.

"Hei, tenanglah kalian." Kairi berusaha mendinginkan kepala teman - temannya.

"Itu cuma bercanda, hey!" Seto juga ikut. Sedangkan para cewek hanya menonton saja karena sudah tahu sulit untuk menenangkan para cowok itu.

"Sabar - sabar, kami tidak bermaksud menyinggung, kok." ujar Keiji, "Ngomong - ngomong kita belum berkenalan, ya. Aku Maeda Keiji, yang berambut putih itu Chika - chan."

"Chosokabe Motochika! Maumu apa, Maeda?"

"Yang pakai cat wajah itu Sarutobi."

"Sarutobi Sasuke."

"Terus yang sedang makan di sana sepupuku, Toshie." Keiji menunjuk ke arah cowok yang lahap memakan onigiri yang disiapkan Sumino.

"Dia selalu lapar, ya?" tanya Sumino.

"Begitulah, Sumi - chan~" nada genit Keiji membuat Tama waspada, "Kalian pasti sudah kenal dengan Masamune. Terus, yang polos di sana Yukimura."

"Po- polos?"

"Yah, daripada dibilang tidak polos yang bisa berarti mesum, itu lebih baik" komentar Rika.

"Begitu, ya?" tanya Yukimura polos.

Memang polos. pikir orang - orang di sekitarnya.

"Kalau begitu, namaku Usato Kairi. Lalu yang ini Sakurai Seto,"

"Salam kenal."

"Masuda Riku & kembarannya, Masuda Rika."

"Yo."

"Hai."

"Satoru Jun & Hitomi Keita."

"Keita."

"Jun."

"Hanakuro Loki."

"Si playboy." ejek Tama

"Maksudmu apa, Spikehead?" spontan sebuah garpu dilempar ke arah Loki yang berhasil menghindar.

"Tuh, durinya." Tama memperlihatkan wajah mengerikannya yang 5 kali lipat lebih mengerikan daripada wajah mengerikan Rika & menakuti semua orang di karavan itu.

Loki langsung mengecil, "Ma- maaf, Kaicho..."

"Te- terus, ini Hanazono Koyuki." Kairi masih merinding setelah melihat wajah Tama tadi.

"Senang bertemu kalian." senyum Koyuki kelihatan bersinar di mata siswa - siswa SMA itu.

"Lalu Yasumi Miyu, teman sekelas Yuji sekaligus adik wakil ketua OSIS kami."

"Halo..." sapa Miyu malu - malu.

"Manisnya~" puji Keiji.

Dasar genit. pikir Masamune & Tama.

"Kalau teman - temanmu seperti ini harusnya kau kenalkan padaku dari dulu, Tama." ucap Masamune.

"Buat apa aku? Tidak ada hubungannya, kan? Lagipula kau tidak pernah tanya." balas Tama dingin.

"Dingin sekali."

"Masa bodoh." lalu Tama mengeluarkan kalung yang dipakainya. Tali kalung tersebut hanya terbuat dari tali hitam biasa tapi batu biru berbentuk tetesan air mata itu membuat Masamune penasaran.

"Kalung apa itu?"

"Ini kalung yang diberikan nenekku saat lahir, katanya ini semacam jimat untuk melindungiku. Dan memang terbukti. Memangnya kenapa?" Tama agak bingung Masamune menanyakannya.

"Tidak, aku cuma merasa pernah melihatnya."

"Eh?"

"Sumi - chan, aku & Riku turun di sini, ya." ujar Rika.

"Eh? Baiklah, Jinno - kun! Berhenti di sini." perintah Sumino pada supirnya.

"Baik, Akari - sama." karavan itu langsung berhenti.

"Heh? Rika, tapi-" gadis berambut coklat itu langsung memotongnya.

"Kita akan menyusul nanti, tunggu saja." Rika mengedipkan mata sebelah kanannya sebelum meninggalkan karavan itu.

"Yang pasti kita akan mendapatkan Yuji kembali, tunggulah senjata ampuh kami!" seru Riku sebelum menjauh bersama kakaknya.

"Senjata?" tanya Keiji.

"Mungkin nanti mereka akan membawa handgun Rika & pisau militer Riku." jawab Tama yang membingungkan para cowok Sengoku itu.

Keluarga Masuda itu keluarga macam apa yang memperbolehkan anaknya menggunakan senjata seperti itu? batin Yukimura & Sasuke.

"Benar juga, kita butuh senjata. Shinnosuke & kelompoknya selalu pakai senjata saat perkelahian antar geng." ujar Motochika.

"Yah, tidak peduli lawannya pakai senjata atau tidak. Itu cara yang kotor." komentar Sasuke.

"Dasar pengecut! Perbuatan curang seperti itu tidak bisa diterima! Orang itu harus dihukum seberat - beratnya!" seru Yukimura.

Tama melebarkan matanya, "Yukimura - san ikut klub kendo, ya?"

"Iya, begitulah. Tahu dari mana?"

"Dari perkataanmu tadi, seorang samurai tidak pernah mentolerir kecurangan sekalipun. Orang yang melakukannya harus dihukum berat karena sudah menodai gelar samurai & kemurnian pedangnya. Itu dasar perkataanmu tadi, kan?"

"Ya!Aku berpegang sepenuhnya pada aturan itu!"

"Lagipula struktur tubuhnya cocok dengan para pemain kendo. Otot tangannya juga cocok karena sering memegang pedang. Dan sepertinya kau sudah mempelajarinya sejak kecil." Tama membuat analisa yang membuat yang lain tercengang.

"Tama, jadi agen rahasia kerajaan saja, ya. FBI atau CIA juga boleh." kata Sumino.

"Ah, aku tidak tertarik dengan hal - hal seperti itu. Pekerjaan macam itu lebih cocok untuk kembar kesa-"

"Tama nee - san itu orangnya!" pekik Miyu. Di sana kelihatan orang yang berbadan besar & berambut yang dicat ungu acak – acakkan.

Melihat orang itu, kemarahan Tama muncul lagi, "Koyuki, siapa nama supirmu?"

"Eh? Jinno - san."

"Jinno - san! Hentikan busnya!" perintah Tama.

"Eh? Kita langsung menyerangnya?" tanya Jun.

"Tidak, kita buntuti dia dulu. Kalau kita tangkap dia langsung, dia tidak akan mau mengatakan tempat Yuji disekap. Kalau dengan karavan, pasti akan sangat mencolok. Sumino, sekali lagi terima kasih, ya. Lebih baik kau tunggu di sini." jawab Tama & bersama yang lain, ia turun dari karavan.

"Eh, tunggu aku ikut!"

"Sumino, jangan. Bahaya, lho." ujar Keita.

"Tidak apa, tenang saja." Sumino tersenyum & wajah Keita langsung memerah. Mereka juga salah satu pasangan kasmaran di sini.

Loki langsung menggoda mereka, "Keita and Sumino sitting on the tree, K - I - S -"

"Loki! Ini bukan saatnya bercanda!" tegur Kairi & Seto.

"Dasar penghancur suasana!" Jun ikut - ikutan.

"Maaf!"

"Semoga Rika & Riku sampai tepat waktu." kata Koyuki.

"Pasti bisa! Soalnya mereka juga peduli dengan Yuji - kun. Kita pasti bisa menyelamatkannya, iya kan Tama nee - san?" tanya Miyu.

"Harus, kita harus bisa menyelamatkannya."

"Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu," Masamune angkat bicara, "Ayo, kita bisa kehilangan Shinnosuke."

Tama menyeringai lalu mengikuti Masamune, diikuti yang lain juga, Tunggu saja Yujin, Onee - chan datang dengan yang lain. Bertahanlah!

To Be Continued