TAXI's love
Seira Montgomery
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama/Romance
Warning : OOC, typo.
Chapter : 1 – meet
Brak!
Pintu ruangan besar dengan meja bulat yang menjadi fokusnya itu dibuka dengan keras oleh seorang gadis dengan rambut merah jambu berantakan—Sakura. Wajah merah, bulir-bulir keringat, nafas terengah-engah, dan memeluk setumpuk kertas-kertas sketsa, sangat tidak cocok untuk presentasi. Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Sakura dengan pandangan meremehkan, jengkel, dan ada juga beberapa yang bernafas lega.
"Ehem " Seorang pria berambut merah dengan wajah babyface berusaha mencairkan suasana. Sakura buru-buru menuju tempat duduknya sambil menyisir rambutnya yang berantakan.
"Gomen Sasori-san" ucapnya setengah berbisik. Pria yang dipanggil Sasori-san itu hanya melemparkan senyum lembut.
"Baiklah, karena Sakura sudah datang, acara bisa segera kita mulai" serunya berwibawa. Sakura mulai mempresentasikan rancangan-rancangan pakaian yang dibuatnya. Mulai dari yang casual sampai yang bergaya Gothic loli, Sakura melakukannya dengan baik sekali karena ini adalah debut pertamanya. Berulang kali dia melihat ke arah Sasori karena gugup, Sasori yang ditatap hanya tersenyum memberikan dukungan.
Tapi, konsentrasi Sakura agak buyar saat melihat pantulan bayangan taksi di jendela ruangan itu. Dia langsung menarik nafas dan menghembuskannya lagi, mengurangi grogi. Akhirnya presentasi selesai, dengan penandatanganan kontrak oleh Uchiha Itachi, Direktur sekaligus model top Jepang kini.
"Sakura, kamu ini bodoh atau apa sih? Inikan rapat penting! Kenapa bisa telat? Untung ada Sasori-san, dialah yang berhasil meyakinkan Uchiha-san untuk menunggumu." Kata Ino sambil membereskan arsip-arsipnya. Sakura yang mendengar omelan Ino, mendengus perlahan dan kembali duduk di kursinya.
"Ini gara-gara Pain-senpai, dia memaksaku menemaninya membeli alat musik." Keluh Sakura, dibenaknya terlintas wajah pain yang cemberut karena Sakura menolak menemaninya. Tidak sengaja Sakura melihat bayangan taksi lagi, dia langsung terlonjak dari kursinya.
"Ino! Aku lupa membayar taksi!" Teriak Sakura histeris.
"Dasar bodoh" kata Ino sambil mengusap-usap telinganya yang berdenging. Sementara Sakura terlihat memijit-mijit kepalanya lalu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, tapi Ino dapat mendengar kata-kata uang, yen, dan sen.
"Kau kenapa? Jika bertemu taksi itu lagi bayar saja. Selesai kan?" Kata Ino sambil menarik pergelangan tangan Sakura.
"Ino, ini tanggal berapa?" Tanya Sakura. Ino mengeryitkan dahinya, dalam hati dia bertanya-tanya kenapa bisa memiliki teman yang aneh seperti Sakura.
"23 Maret, aku kira kau sudah tahu ini." Ujar Ino yang kemudian berjalan keluar ruangan diikuti Sakura.
"Ino! Inilah tanggal-tanggal aku kehabisan uang! Ini kan kontrak pertamaku, mana uangnya belum keluar. Gajiku bulan ini tinggal 200 yen lagi, semuanya sudah aku berikan pada nenek apertemenku. Dia itu lintah darat Ino.. masa apertemen kecil begitu harganya selangit. Aku bisa gila dengan semua ini Ino!" Keluh Sakura pada Ino dengan suara yang agak keras, Ino hanya bisa tersenyum kecut membalas tatapan orang-orang di sepanjang perjalanan mereka menuju gerbang.
"Saku, bisakah kau mengecilkan suaramu? Kau mau membuatku malu setiap hari? Lagipula.. harga selangit yang kau maksudkan itu, tidak selangit Sakura! Gajimu saja yang sedikit, kamu kan desainer baru. Walaupun berbakat sih. Baiklah, karena aku sudah lebih dulu dapat kontrak. Aku akan memberikanmu sebagian dari uangku." Kata Ino pada Sakura.
"Apa maksudmu Ino? Aku tidak memintamu mengasihaniku. Aku hanya butuh tempat mengomel. Lagipula kau kan lebih tua dariku, tentu saja kau lebih senior daripada aku." Ujar Sakura sengit. Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Sakura memang tidak suka dikasihani, lagipula dia adalah anak yang kuat. Pada umur 14 tahun dia sudah sendiri tanpa keluarga. Ino tak berani menanyakan kenapa, dia takut Sakura akan menangis dan mengurung diri dikamar seperti dulu.
"Jadi pink! Kau akan pulang dengan apa? Ingat kau tidak punya uang." Kata Ino, sekarang mereka sudah berada di luar gedung Uchiha Corporation.
"Umm... jalan kaki" ujar Sakura menimbang-nimbang.
"Hei! Sadarilah aku ada disini, kau tak pernah meminta bantuanku Sakura! Padahal kau sudah berulang kali menolongku, aku ingin balas budi! Aku yang akan mengantarmu ke apartemenmu! Kau tidak sadar bahwa dari sini ke apartemen jelekmu itu berjarak 6 km? Apa kau mau mati kehabisan air ditengah jalan?" Sakura hanya melongo melihat Ino yang sudah mencak-mencak tak karuan.
"Oke kalau begitu" ujar Sakura, dia tak mau mati kehausan seperti kata Ino. Ino tersenyum senang dan membukakan pintu mobilnya untuk Sakura. Sakura membalas senyum Ino dan masuk ke mobil. Selama diperjalanan kedua gadis itu sibuk bercerita soal pekerjaan dan Sasori. Sebenarnya Sakura menyukai Sasori, atasannya yang baik dan perhatian. Dan Ino menyukai Sai, seorang pelukis yang juga bekerja di Uchiha corporation yang juga bersahabat dengan Sakura.
Akhirnya mereka sampai di depan sebuah apartemen bertingkat 3 yang sederhana.
"Ino-chan! Terimakasih!" Kata Sakura sambil membungkukkan badan pada Ino.
"Ya pinky!" Sahut Ino dari dalam mobil, dan mobil berwarna hitam itupun tancap gas meninggalkan gadis merah jambu didepan apartemennya. Apartemen Sakura ada di lantai 3, selain karena paling murah, atap nya juga bisa dipakai untuk menjemur pakaian. Sakura mulai melangkahkan kakinya menuju apartemen, kemudian dia berhenti memerhatikan banyak kotak-kotak barang didepan apartemen lantai 2, yang berada tepat dibawah apartemen Sakura.
'Tetangga baru' pikirnya dan tersenyum senang.
"Semoga saja perempuan! Semoga saja anaknya manis dan baik! Semoga saja dia punya kucing! Semoga saja dia suka gitar! Se-" perkataan Sakura berhenti ketika melihat siapa tetangga barunya. Dengan mulut yang masih menganga dan mata membesar dia menunjuk-nunjuk seorang pria berambut raven dengan mata onyx yang sedang berdiri didepan Sakura.
"Nona, kita bertemu lagi. Biayanya 258 yen dan—" Belum habis pria itu berbicara, Sakura langsung berlari sekencang yang ia bisa menuju apartemennya.
"Maafkan aku. Aku lupa!" Teriak Sakura yang sekarang sudah sampai didepan tangga menuju lantai 3.
"Tidak semudah itu, nona. Kau lupa bunganya" ujar Pria itu yang kemudian menarik ujung bibirnya, tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah cincin.
"Aku benar-benar merasa familiar dengan cincin ini" ucap pria itu, entah kepada siapa. Kemudian dia mulai berbenah-benah lagi, sesekali pria itu tersenyum karena teringat ekspresi Sakura tadi.
Sakura POV's
'Aduh, gawat! Kenapa supir taksi itu ada disini? Bagaimana bisa aku membayarnya? Uangku tinggal segini' aku mengeluarkan beberapa uang receh dari sakuku.
"Kamisama! Kenapa aku bisa semiskin ini?" Kataku setengah berteriak, aku kelaparan sekarang. Cacing didalam perutku sudah menari-nari sedari tadi. Perlahan kulangkahkan kakiku menuju kulkas kecil di sudut ruangan dekat dapur. Dan seketika mataku membulat melihat isi kulkasku.
"Apa ini? Hanya tomat dan bawang? Aku tidak akan kenyang.. Kamisama, haruskah Sakura-Mu ini meninggal karena kelaparan? Ooh " keluhku sambil berjalan uring-uringan. Tetanggaku yang baik hati yaitu Pain sudah pergi 4 hari untuk seminar music, bagaimana aku menumpang makan? Aku kerja saja malam ini, semoga ada yang menerimaku.
End Sakura POV's
Ting tong ting tong
Suara bel pintu mengagetkan Sakura yang sedang berpikir tentang pekerjaan apa yang mudah dan mendapat banyak uang. Sakura waspada bila yang dating adalah supir taksi itu, dengan takut-takut Sakura membukakan pintu apartemennya. Sakura terkejut melihat siapa yang ada diluar. Buru-buru dia menutup pintu, membuat pria diluar terlonjak kaget.
' aduh, gawat ini.. dia pasti mau menagih hutang' keluh Sakura dalam hati.
"Hei Sakura! Kenapa kau menutup pintunya? Aku tak akan memakanmu." Teriak pria itu dari luar.
"Siapa kau? Kenapa tau namaku?" Sakura balas meneriaki pria tadi, dia terkejut mendengar pria itu sudah tahu namanya.
"Sasuke, namaku Sasuke. Aku menemukan barangmu di taksiku. Sekarang cepat keluar atau aku akan menelan cincin ini!" Ancam pria yang bernama Sasuke itu. Mata Sakura membulat mendengar kata-kata cincin, apalagi kata menelan. Satu yang ada dalam fikiran Sakura sekarang, Sasuke adalah pria yang nekat.
"Maaf kan aku Sasuke.. aku tidak punya uang sekarang.. maafkan aku… " teriak Sakura memelas, dengan perlahan dia membuka gerendel pintu dan membukakan pintunya. Sakura hanya bisa melihat sepatu Sasuke karena dia menunduk, tak berani memandang Onyx yang memabukkan itu, apalagi ketika Sasuke menyebutkan kata yen.
"Hn, aku tak minta kau membayarnya sekarang." Ujar Sasuke sambil menyeringai. Sontak Sakura mengangkat kepalanya dengan senyum terkembang.
"Tapi kau harus membayarnya tiap detik" lanjut Sasuke, dia menyeringai semakin lebar. Sakura yang mulanya tersenyum menatap Sasuke tidak percaya.
"Setiap detik? Apa maksudnya?" Ujar Sakura, dia menatap Sasuke sebal.
Kruyukk..
'eh? Perut ini, kenapa disini sih? Didepan Sasuke pula?' pikir Sakura, mukanya memerah menahan malu.
"Kau belum makan? Ayo makan bersamaku." Ajak Sasuke, langsung menarik tangan Sakura. Sakura diam saja, memang dia sangat perlu makanan sekarang, dia tidak mau mati kelaparan. Akhirnya sampailah mereka didepan pintu apartemen Sasuke. Sasuke mempersilahkan Sakura masuk, dan mereka berdua pun duduk di meja makan yang ada didekat dapur minimalis. Jika diperhatikan apartemen Sasuke jauh lebih bagus daripada apartemen Sakura. Sakura menelan ludah melihat makanan yang telah tersedia di depannya itu.
'Tomat?' pikir Sakura saat melihat makanan yang didominasi oleh tomat itu.
"Sakura, makanlah" ujar Sasuke sambil mengambil sendok dan garpu.
"Idatakimasu" ujar mereka berdua, sesekali Sakura memperhatikan Sasuke yang semakin dilihat semakin tampan saja. Tapi mereka belum pernah kenal sebelumnya, walaupun begitu mereka berdua merasa sangat familiar.
"Sakura" panggil Sasuke setelah menelan potongan salad tomatnya.
"Ya?" respon Sakura, sambil tetap melanjutkan makannya.
"Mengenai bayarannya" Ujar Sasuke lagi, Sakura menghentikan makannya, dia tetap menunduk.
"Kau harus menjadi kekasihku, titik." Ujar Sasuke ketus. Sakura mengangkat kepalanya, dia menatap onyx Sasuke lekat-lekat berusaha mencari sesuatu yang bisa memperjelas semuanya.
"Aku tidak mau" kata Sakura sebal.
"Kalau begitu kau haru membayar biaya taksimu plus bunganya" ujar Sasuke sambil bangkit berdiri dan berjalan kearah Sakura.
"Bunga? Apa maksudmu?" Tanya Sakura heran. Sasuke berdiri dibelakang Sakura membuat degup jantung Sakura menjadi tidak beraturan.
"1 detik bunganya 5 yen.. berarti total hutangmu.. 100 juta yen " ujar Sasuke sambil melingkarkan tangannya di leher Sakura.
"100 juta yen? Tidak mungkin ini gila!" Wajah Sakura memerah selain karena marah dia juga dapat merasakan nafas Sasuke di tengkuknya.
"Itu terserahmu, atau kau akan kulaporkan pada polisi" ujar Sasuke, dia beranjak berdiri di depan Sakura, duduk diatas meja makan. Sakura makin memerah tak karuan sekarang, akhirnya dia berkata setengah berteriak.
"Oke aku akan jadi kekasihmu Sasuke!"
To be continued ^^
Chapter pertama TAXI's Love sudah dipublish! Semoga tidak mengecewakan
Nah di chapter ini belum kebongkar kenapa Sasuke jadi supir taksi dan cincin Sakura itu.. karena ntar ficnya kepanjangan dan konfliknya jadi susah kebaca.
Maaf kan sei karena gak bisa balas review satu-satu T_T
Maaaf X'(
Ini waktunya mepet karena sei ada study tour XD
Maklum ya minna-saan XDD
Thanks to : Rurippe no kimi, Nurama Nurmala, Vhiehime, Maya, Yori Fujisaki, Devii koikoi, Natasya, lawranakaido, Eun Jo, me, 4ntk4-ch4n, bakaminnasan, Evan Uchiha Niwa, Hikaru Kin, Nanahara Miyu, OraRi HinaRa, ckckvivi, Pink Uchiha, Fidya Raina Malfoy, Rizuka Hanayuuki, HAa, Ichaa Hatake Youchi ga login, kauman b'tomat, x, Yola-chan, Uchiha Eky-chan, Michiko haruno.
Terimakasih sudah membaca fic saya… ^^
Menerima flame yang membangun!
Review dari anda sangat berharga bagi kelanjutan fic saya :D
Jika anda berkenan.. tolong
REVIEW ^^
