TAXI's love
Seira Montgomery
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama/Romance
Warning : OOC, typo.
Chapter : 2 – why?
Sasuke menyeringai memandang wajah seorang gadis yang sedang tertunduk didepannya. Perlahan tangan kanan Sasuke mengelus rambut Sakura dan meniup pelan poninya. Sakura mengangkat kepalanya menantang Sasuke. Dengan wajah merah padam Sakura bangkit dari duduknya.
"Sekarang! Hutangku lunas! Aku mau pulang!" Kata Sakura berusaha meredam suara jantungnya.
"Sakura-chan, besok pagi kau pergi kerja bersamaku. Pulangnya juga, dan nanti malam kekasihmu ini akan berkunjung ke apartemenmu." Kata Sasuke sambil mendongak. Karena Sakura berdiri, dia lebih tinggi dari Sasuke sekarang.
"Oh, tolonglah Sasuke, apa mau mu? Aku bukan wanita murahan yang bisa kau ajak tidur sembarangan!" Kata Sakura dengan tampang memelas—lagi.
"Aku tidak mengajakmu tidur denganku, atau kau yang ingin?" Ujar Sasuke sambil terkekeh pelan.
"Hei Tomat! Kita baru bertemu hari ini, aku baru berbicara denganmu hari ini! Tiba-tiba kau memintaku menjadi kekasihmu dengan paksaan! Aku tidak mengerti. Atau jangan-jangan kau adalah pria yang suka memacari gadis muda? Dasar mesum!" Kata Sakura berapi-api, tangannya melambai kesana-kemari mendramatisir suasana.
"Karena aku mencintaimu" kata Sasuke, mendengar kalimat yang cukup padat itu Sakura terdiam, wajahnya memerah lagi. Emeraldnya melirik takut-takut sang Onyx yang kini sedang tersenyum—tulus.
"Dan aku bukanlah seorang mesum yang suka memacari gadis muda, asal kau tahu saja. Umurku baru 19 tahun, dan aku tidak bodoh." Kata Sasuke menambahkan. Perlahan dia bangun dari meja makan dan berjalan kearah balkon belakang. Sakura benar-benar bengong sekarang, bagaimana bisa pria berumur 19 tahun hidup sendiri menjadi supir taksi? Yah, walaupun Sakura juga berumur 19 tahun.. tapi dia punya seorang paman yang dengan kurang ajarnya berniat menjodohkan Sakura, makanya Sakura hidup sendiri sekarang. Sakura memandang punggung bidang Sasuke dan ikut berjalan disebelahnya.
"Sasuke, kau ini sebenarnya siapa? Apa margamu? Kenapa kau menjadi supir taksi? Menurutku kau ini orang yang berpendidikan?" Tanya Sakura setelah sampai di balkon, suasana malam yang dingin dan langit yang bertabur bintang tidak bisa mengalihkan perhatian si gadis merah jambu. Sasuke memejamkan matanya menikmati semilir angin malam yang memainkan rambut ravennya.
"Sasuke, kau mendengarku tidak sih? Kalu begini terus aku pulang." Ujar Sakura cemberut. Masih memejamkan mata, Sasuke tersenyum. Kemudian dia membuka matanya dan menatap emerald Sakura dalam. Mereka baru bertemu hari ini, siang tadi didalam sebuah taksi, tapi rasanya mereka sudah bersama beribu-ribu tahun. Sasuke merasa sangat nyaman dengan Sakura, begitu juga sebaliknya.
"Sakura, kau tidak perlu mengetahui itu, cukup namaku saja. Dan bisakah kau tidak membuatku mengulang kata-kata aku mencintaimu? Aku sudah cukup lelah menahan degup jantungku sendiri, Sakura." Ujar Sasuke, wajahnya yang pucat itu berubah menjadi merah. Sakura terperangah dan bersyukur dalam hati, dia tidak berpacaran dengan seorang mayat.
"Aku tidak tahu kenapa aku membiarkanmu berada didekatku. Kau itu pria asing, tapi rasanya kita sudah sangat dekat. Aku tidak tahu aku menyayangimu atau tidak Sasuke, karena aku sudah menyukai seseorang." Ujar Sakura sambil tersenyum kecut, matanya melarikan diri dari menatap mata Sasuke. Sasuke tersenyum menyakitkan dan merengkuh Sakura dalam dekapannya. Mata Sakura membulat, dia sudah cukup banyak terkejut hari ini, tapi toh Sakura membiarkan Sasuke memeluknya, dia merasa Sasuke adalah bagian dari dirinya yang hilang.
"Aku.. akan membuatmu mencintaiku." Kata Sasuke akhirnya, dia buru-buru melepaskan pelukannya. Dengan tangan yang masih memegang pundak Sakura, Sasuke melihat wajah Sakura yang sudah sangat merah dan tidak bergerak—tunggu! Sakura mati? Sasuke panik! Dia menggendong Sakura dan merebahkannya di sofa, tangannya berusaha mencari detak nadi ditangan kiri Sakura. Syukurlah Sakura hanya pingsan.
'Apa aku memeluknya terlalu kuat ya? Ah! Aku sudah melakukan pelecehan pada seorang gadis! Terkutuklah kau Sasuke!' pikir Sasuke, dia langsung berlari ke kamarnya mencari kotak P3K—untuk apa kotak P3K, Sasuke?
Ketika Sasuke masih mengobrak-abrik kamarnya Sakura tersenyum nakal, dia membuka setengah matanya melirik kearah kamar Sasuke. Dalam benaknya terbayang lagi adegan peluk-memeluk itu, sontak wajahnya memerah lagi. Tanpa sadar dia memukul-mukul kepalanya sendiri berusaha membuang bayangan Sasuke dari kepalanya, dan hal itu disaksikan sendiri oleh Sasuke. Sebuah ide cemerlang melintas di kepala Sasuke, dia menyeringai.
"Jangan bermain-main dengan seorang Uchiha, Haruno" Gumamnya. Sasuke berjalan ke arah Sakura sambil memegang kotak P3K, dia berjongkok didepan gadis itu. Perlahan dia mengeluarkan jarum suntik dari dalam kotak P3Knya.
"Kasian Sakura, aku harus menyuntiknya dulu supaya cepat sembuh." Ujar Sasuke sambil terkekeh. Dahi Sakura berkerut, dalam bayangannya pastilah jarum suntik itu sudah berkarat, belum lagi obat apa yang akan di suntikkan Sasuke. Bisa-bisa Sakura terkena Tetanus dan penyakit aneh lain. Sakura dapat merasakan Tangan Sasuke memegang pundaknya, cukup! Sakura benar-benar takut sekarang.
"Aku rasa aku sudah sembuh Sasuke." Ujar Sakura sambil duduk dan tersenyum lebar.
"Hn."
"Apa itu hn? Apa itu bahasa baru Sasuke?"
"Hn."
"Hn."
"Hn, hn."
"Hn, hn, hn."
"Oke Sakura! Cukup!" Ujar Sasuke pada Sakura yang sedang menatapnya polos. Sakura diam saja melihat Sasuke sebal, dalam hati dia tertawa terbahak-bahak karena berhasil membalas Sasuke.
"Sasuke, aku mau pulang." Kata Sakura, dia berdiri dari sofa dan berjalan kearah pintu keluar.
"Oh ya! Mana cincinku?" Tanya Sakura lagi, dia berbalik menghadap Sasuke.
"Disini." Sasuke menunjuk dadanya. Sakura menautkan kedua alisnya, tangannya mengepal berusaha mengontrol emosi untuk tidak meninju wajah tampan pria asal-asalan didepannya.
"Jangan bercanda! sekarang tuan.. Tolong kembalikan cincin saya!" Ujar Sakura ketus.
"Baiklah, tapi rasanya aku pernah melihat cincin ini." Kata Sasuke, dia merogoh saku celananya, dan mengembalikan cincin Sakura.
"Tentu saja pernah! Semua orang pernah melihat cincin ini, karena sudah disiarkan di televisi. Ini cincin pertunanganku, tapi karena aku tidak mau ditunangkan dengan orang kaya yang manja itu. Aku kabur, tapi cincin ini masih ada padaku. Dan aku tidak mau meghilangkannya." Jelas Sakura, sambil berjalan keluar. Dia menatap Sasuke yang sedang melamun.
"Ada apa Sasuke? Ceritaku konyol?" Tanya Sakura yang sudah berdiri diambang pintu.
"Apa kau tahu dengan siapa kau akan ditunangkan?" Tanya Sasuke, jantung nya mulai berdetak tidak beraturan dan badannya panas dingin menunggu jawaban Sakura.
"Mmm.. Tidak. Aku tidak mengenal apapun darinya, tapi yang aku tahu dia itu orang kaya, dan merupakan anak bungsu. Yah, orang kaya bisa melakukan apapun termasuk menikah lagi, aku tidak mau memiliki suami beristri dua." Jelas Sakura, dia heran melihat tampang Sasuke yang kini berubah sangat aneh.
"Baiklah, malam." Ujarnya Sambil berlari menuju apartemennya. Sasuke masih berdiri mematung, kemudian dia menutup pintu apartemennya dan bersender di pintu depan. Sasuke meremas rambutnya frustasi.
"Kenapa bisa jadi seperti ini? Padahal aku sudah pergi sejauh ini dari keluarga Uchiha. dunia ini benar-benar sempit, dan kenapa harus Sakura? Argh!" Kata Sasuke, dia berjalan kearah kulkas dan meneguk kopi pahit.
"Kalau Sakura terus berada disana. Ini bisa gawat.." Katanya entah kepada siapa.
05.24 pagi
Tok tok tok
Sebuah ketukan pada jendela kamarnya membangunkan Sakura. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggeliat perlahan. Ketika dia melihat siapa yang ada di jendela kamarnya Sakura terpekik pelan dan langsung meloncat dari atas tempat tidurnya.
"Sasuke ! sedang apa kau disitu?" Tanya Sakura sambil membuka jendela balkon belakangnya.
"Mengunjungimu." Ujar Sasuke, kemudian dia masuk ke apartemen Sakura dan mulai tur mengelilingi apartemen kecil itu.
"Tapi kenapa tidak lewat pintu? Kau itu sangat ekstrim sekali." Kata Sakura cemberut. Sasuke bisa kapan saja berada didekatnya seperti hantu, pikirnya.
"Karena aku malas menggunakan pintu, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu." Ujar Sasuke yang dengan seenak hatinya duduk diatas sofa Sakura. Sakura menaikkan sebelah alisnya dan bergumam 'terserah.' Sambil mengikat rambutnya.
"Kenapa kau bisa sampai tinggal di apartemen ini." Ujar Sasuke tanpa nada suara yang menjelaskan bahwa kalimatnya barusan adalah sebuah pertanyaan kecuali kata kenapa. Sakura mengeryitkan dahinya.
"Karena murah." Ujar Sakura, dia berjalan ke kulkas dan mengambil dua kaleng kopi untuk Sasuke dan dia sendiri.
"Maksudku, keluargamu, tunanganmu itu, sampai kau bisa tinggal disini." Ujar Sasuke, dia menautkan kedua tangannya dan menumpukan tangannya diatas lutut, pose serius Uchiha.
"Aku.. sudah lama tak menceritakannya pada orang, mau mendengarnya?" Tanya Sakura, dia tersenyum kecut dan duduk di samping tempat tidur.
"Ceritakanlah." Ujar Sasuke.
"Jadi begini, saat itu aku baru berumur 14 tahun saat orangtuaku dibunuh oleh pamanku, adik tiri ibuku.. karena—uang."
Flashback—
Dor! Dor!
Seorang gadis kecil berlari tergopoh-gopoh memasuki rumahnya, air matanya berlinang dan rambutnya acak-acakan.
"Tou-san! Kaa-san!" Teriaknya berulang kali, dadanya naik turun kelelahan berlari dan berteriak. Langkahnya terhenti didepan sebuah ruangan, ruang keluarga.
Tangan Sakura bergetar saat menyentuh gerendel pintu, dia dapat mendengar isak tangis ibunya dari dalam, akhirnya dia menendang pintu itu dan menyaksikan pemandangan sadis didalam sana. Pamannya memegang pistol sambil menyeringai seperti setan, dan tou-sannya terkapar berdarah-darah dilantai.
"Tou-san! Apa-apaan ini paman! Kau kenapa? Gila!" Teriak Sakura sambil berlari kearah tou-sannya, dia merengkuh tubuh yang telah merenggang nyawa tersebut.
"Sakura! Mau apa kau kesini! Kau kan les!" Teriak pamannya kalap.
"Hentikan Orochi.. Jangan sakiti Sakura.. kumohon." Suara lemah kaa-san Sakura terdengar dari belakang meja yang telah hancur berantakan. Mendengar suara kaa-sannya Sakura langsung menyeret jasad tou-sannya menuju tempat kaa-sannya.
"Kaa-san.. kaa-san.." Ujar Sakura sambil terisak, dia tidak menyangka semuanya telah terlambat ketika dia memutuskan untuk pulang karena sakit kepala.
"Sakura sayang.. lari-lah.. ce-pat." Perintah kaa-san Sakura dengan suara yang hampir tak terdengar lagi.
"Kau! Orochimaru brengsek! Kenapa kau membunuh orang tuaku hah!" Teriak Sakura, dia menggenggam pistol kepunyaan tou-sannya. Orochimaru tak dapat melihat tangan Sakura yang memegang pistol karena terhalang meja.
"Hahaha.. uang Sakura! Harta!" Ujar Orochimaru, dia mulai mendekat kearah Sakura. kaki Sakura gemetaran, keringat dingin mulai membanjiri pelipis dan lehernya.
"Jangan mendekat!" Ujar Sakura, dia mengangkat pistolnya sambil gemetaran. Orochimaru tertawa melihat Sakura.
"Kau sudah ku peringatkan!" Bentak Sakura, dia menarik pelatuk pistolnya sambil memejamkan mata.
Dor!
Sebuah tembakan peluru panas melesat kearah Orochimaru, matanya membulat tak menyangka Sakura akan senekat itu. Kondisi Sakura lebih mengenaskan, kakinya gemetaran dan keringat dingin membanjiri leher dan pelipisnya.
Tak!
Tembakan Sakura kena tepat sasaran mengenai pistol yang digenggam Orochimaru, pistol itupun terlepas sekarang dia tidak punya senjata lagi, mulutnya menganga. Sakura bersyukur tidak membunuh orang, dia mengatur nafasnya dan berusaha tetap tenang.
"Sakura.." Suara lemah kaa-san Sakura terdengar semakin mengecil.
"Kaa-san.." Sakura tetap berdiri sambil menodongkan pistolnya, telinganya waspada pada orochimaru.
"Selamat tinggal Sakura sayang.. Kaa-san pergi dulu." Ujar kaa-san Sakura, tubuhnya menegang dan dia merenggang nyawa tepat disebelah kaki Sakura.
"Kaa-san!" Teriak Sakura, dia masih tetap berdiri. Matanya terpejam berusaha menghilangkan air mata yang membuat penglihatannya kabur.
'Kamisama.. kamisama.. kenapa ini semua terjadi!' Teriak Sakura dalam hati.
"Orochimaru! Kau brengsek! Kau gila! Aku akan membunuhmu! Sekarang!" Teriak Sakura penuh amarah. Orochimaru terlihat santai dan berjalan mendekati Sakura.
Dor!
Sakura menembakkan peluru lagi, kali ini mengenai tubuh Orochimaru, terdengar keluhan kesakitan dari Orochimaru dan tanggannya yang memegangi perutnya yang telah berdarah-darah.
"Kau.. gadis kecil. Akan mati." Ujar Orochimaru lirih, tak berselang lama dia pun tumbang.
End flashback
"Apakah kau masih sanggup melanjutkan ceritamu?" Tanya Sasuke karena melihat Sakura sudah menangis, dia berpindah tempat duduk ke dekat Sakura dan memeluknya perlahan.
"Ya, Sasuke." Ujar Sakura, dia mengelap air matanya dan kembali bercerita.
"Kau tahu, itu adalah pengalaman tragis bagiku Sasuke, mendengar rintihan kaa-sanku, melihat jasad tou-sanku. Ah.. aku sangat terpukul. Aku tidak membunuh Orochimaru karena orang-orang segera berdatangan dan mengamankannya. Pemakaman segera dilakukan, dan aku tinggal bersama pamanku dari sebelah tou-sanku. Kemudian, dia berniat menjodohkanku dengan seorang Uchiha, aku tidak mau. Aku lari dari rumah dan akhirnya bekerja sendirian." Ujar Sakura, matanya menerawang dan dia bercerita dengan nada suara yang datar.
"Sakura.. jika aku seorang Uchiha, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sasuke, dia mengigit bibir bawahnya dan semakin mempererat genggamannya pada Sakura. Sakura terlihat heran dan menghembuskan nafas perlahan.
"Tidak mungkin seorang Uchiha menjadi supir taksi, kau kira aku bodoh? Oke Sasuke, aku mau mandi dan bersiap kerja, sekarang keluar." Perintah Sakura dengan kejam.
"Oke, oke. Nanti pergi dengan ku." Ujar Sasuke.
"Tapi a—"
"Titik"
Blam!
Sasuke sudah pergi sekarang, dan Sakura mulai ritual mandi paginya.
07.00
Seorang gadis terlihat mengendap-endap turun melewati tanggan darurat, kenapa harus lewat tangga darurat? Karena dia takut bertemu seseorang. Akhirnya Gadis itu—Sakura, berhasil keluar dari apartemennya dan berlari kencang mencari taksi. Akhirnya dia menemukannya.
"Taksi!" Panggilnya sambil melambai-lambaikan tangan dengan cepat. Taksi itupun berhenti didepan Sakura, dan Sakura menaikinya.
"Mau kemana nona?" Sakura membelalakkan matanya tidak percaya, suara ini..
"Sasuke!" Kata Sakura sambil mengucek-ngucek matanya.
"Kenapa? Aku sudah bilang kau pergi dengan ku. Dasar bodoh." Ujar Sasuke, dia mulai menjalankan taksinya menuju Uchiha Corporation. Sakura diam saja sambil cemberut. Berkali-kali dia bergumam, kau menyebalkan kau menyebalkan. Taksi itu berhenti didepan gedung berlambang kipas merah putih.
"Haruskah aku membayar argonya Sasuke-kun." Ujar Sakura dengan penekanan pada kata 'kun'. Sasuke tersenyum dan kemudian bergerak perlahan menuju jok belakang. Sakura yang melihat gelagat yang kurang baik otomatis memundurkan tubuhnya. Tapi dia sudah terpojok sementara Sasuke semakin mendekat.
"Kau mau apa?" Ujar Sakura gelagapan.
Cup!
Wajah Sakura memerah, Sasuke baru saja menciumnya! Walaupun hanya pada keningnya dia benar-benar merona. Sementara Sasuke tersenyum dan terkekeh pelan.
"A-pa yang kau lakukan? Pervert!" Sakura yang sudah salah tingkah pun membuka pintu taksi dan langsung berlari keluar.
"Kau lupa lagi membayar taksimu nona." Ujar Sasuke sambil tertawa, tapi kemudian tawanya berhenti ketika melihat seseorang yang baru keluar dari pintu utama gedung itu, kakaknya—Uchiha itachi.
"Itachi-nii.." Ujarnya lirih, segala perasaan berkecamuk didalam dadanya. Tentang Sakura, dia, keluarganya, dan Uchiha.
"Ini akan semakin menarik." Ujarnya lagi, kemudian dia menjalankan taksinya menuju ke suatu tempat 'gelap' di Tokyo.
To be Continued~
Akhirnya saya sempat juga mempublish fic ini
Semoga tidak mengecewakan reader ^^ lagi-lagi saya tidak bisa membalas review satu-satu karena ada perebutan hak computer dengan adik saya. Saya mohon saran dari para reader sekalian.
Alur chapter 1 dan 2 sengaja saya buat lambat, Disini juga belum dijelaskan kenapa Sasuke-san menjadi supir taksi karena itulah ending dari fic ini.
Terimakasih yang sudah menyempatkan membaca fic saya (_ _)
Fic ini tidak akan berubah rated ke M, karena saya tidak bisa.. maafkan saya.. :'D, lalu Sasori-san tidak saya masukkan di chapter ini karena untuk chapter depan gilirannya banyak. Di chapter depan bakal ada cemburu-cemburu dam SasuSaku yang lebih romance, Sakura-san juga udah mulai jujur dan harus memilih diantara Sasuke-san juga Sasori-san. ^^
Thanks to : Rurippe no kimi, Nurama Nurmala, Vhiehime, Maya, Yori Fujisaki, Devii koikoi, Natasya, lawranakaido, Eun Jo, me, 4ntk4-ch4n, bakaminnasan, Evan Uchiha Niwa, Hikaru Kin, Nanahara Miyu, OraRi HinaRa, ckckvivi, Pink Uchiha, Fidya Raina Malfoy, Rizuka Hanayuuki, HAa, Ichaa Hatake Youchi ga login, kauman b'tomat, x, Yola-chan, Uchiha Eky-chan, Michiko haruno, Ameliamaraqy, Risuki Taka, Sky Pea-chan, rottenass, ermaMothredglittle, Cheinn Rini PinkTom, sasusaku lovers, Senayuki-chan, Yamanaka Chika, UchihaKeyRaSHINee20, SasuSaku LoVer'z 4EveR, Kristal, Nanahara Miyu, TaroChiha, Anak hilang, Michiko Michiharu, Natsume Yuka.
Terimakasih teman-teman FFn yang sudah mereview fic saya..
Saya mohon reviewnya..
Flame diterima dengan syarat harus membangun :D
R-E-V-I-E-W
