One Fine Morning

James Arlington membuka matanya, menampakkan sepasang mata berwarna hijau cerah, sewarna emerald. Ia terbangun karena suara burung hantunya, Eon, yang beruhu-uhu ribut. James menatap burung hantunya yang berbulu putih dengan bulu hitam yang tersebar disekelilingnya."Ada apa, Eon?" tanya James sebal, ia mengusap matanya yang masih mengantuk.

Eon menatap tuannya dengan kekesalan yang sama, kemudian menatap kearah jendela. Seekor burung hantu mungil berwarna putih bersih terbang didepan jendelanya, membawa sebuah kotak."Ariadne!" seru James terkejut. Secepat kilat ia turun dari ranjangnya dan membuka jendela. Ariadne terbang masuk dan bertengger di bahu James. James mengambil kotak itu dan membukanya. Isinya adalah sebuah buku berjudul The History of Magical Sport: Quiditch.

James tersenyum, ia menyukai apapun yang berhubungan dengan Quidditch. Ia meletakkan Ariadne dikandang Eon, untuk makan dan minum. Ia tiduran diranjangnya sambil membaca surat yang datang bersama kotaknya.

Dear James

BANGUN TUKANG TIDUR!

SELAMAT ULANGTAHUN!

Aku memberikan buku itu sebagai hadiah. Pelajarilah.

Aku berharap kau selalu sehat, bahagia dan baik-baik saja.

Tak sabar bertemu lagi denganmu.

Jangan lupa kirim surat, oke?

Yang Selalu Merindukanku

Victoire

Victoire adalah sahabat baiknya, dan dia bukan sahabat baik biasa. Ia adalah sahabat sesama penyihirnya.

Ya, James Arlington adalah seorang penyihir.

James Arlington adalah penyihir muda yang berulang tahun ke-empat belas tepat hari ini, 31 Juli. Dari luar ia tak ubahnya remaja lelaki tampan, tipe yang dikejar para gadis, dengan rambut hitam berantakan, matanya membuat semua orang jatuh cinta padanya, terutama gadis-gadis.

Ketika ia berusia sebelas tahun, tepat hari ini tiga tahun yang lalu, ia menerima sebuah surat yang merubah kehidupannya. Sebuah surat yang memberitahunya bahwa ia adalah seorang penyihir. Bahwa dia di terima di Hogwarts, sebuah sekolah sihir. Ketika itu, hal yang paling ia takutkan ada reaksi orangtuanya. Tapi, jelas ketakutannya tak berarti. Karena orangtuanya mendukung apapun keputusan James. James bahkan curiga, bahwa orangtuanya tidak terlihat terkejut mendengar omong kosong itu.

Surat itu sudah membuka James ke dunia khayalan masa kecilnya. Banyak sekali hal yang begitu menakjubkan. Begitu tidak masuk akal terjadi. Di Hogwarts ia belajar untuk percaya.

James selalu menjadi murid yang pintar, selalu menjadi kesayangan guru-gurunya ketika di Sekolah Dasar. Tapi, James merasa disana bukanlah tempatnya. Sejak kecil, James selalu merasa berbeda. Hal-hal aneh terjadi disekelilingnya, yang setelah beberapa tahun ia tahu kalau itu karena kekuatan sihirnya. Dan lebih dari itu, ia merasa tidak pantas berada disana.

Ia menyukai sihir, selalu menyukai sihir, ia percaya terhadap peri sampai umur delapan. Dan menjadi penyihir mungkin adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya. Ia ingat perjalanan pertamanya di Hogwarts, menggunakan kereta uap yang pernah ia lihat dibuku pelajaran sekolahnya. Disanalah ia bertemu Victoire Weasley dan Teddy Lupin.

Kereta Hogwarts, 3 tahun yang lalu.

James menemukan satu kompartemen kosong dan langsung masuk, melemparkan tas ranselnya ke bangku kompartemen dan duduk dibangku kompartemen diseberangnya. Ia menyandarkan kakinya melintasi jarak ke bangku diseberangnya, memposisikan dirinya untuk tidur. Ia bisa merasakan kereta mulai bergerak.

Tiba-tiba pintu kompartemen digeser terbuka. Dua orang anak muncul diambang pintu, terlihat terkejut. James mendesah dan memposisikan dirinya keposisi sopan, seperti apa yang telah diajarkan kedua orangtuanya, dan tersenyum ramah kepada dua pendatang baru.

Kedua anak itu sudah memakai seragam Hogwarts. Yang satu anak perempuan paling cantik yang pernah dilihat James. Berambut pirang berkilau, tapi yang paling indah dari penampilannya adalah matanya yang sewarna lautan. Seragamnya tidak menunjukkan asrama manapun, jadi ia pasti anak kelas satu seperti dirinya. Yang satu lagi seorang anak laki-laki dari Gryffindor. Rambutnya berwarna hitam berantakan seperti James, dengan mata coklat gelap. Ketika anak itu tersenyum kepada James, rambutnya berubah menjadi biru elektrik.

"Wow..."James berseru dalam kekaguman,"Bagaimana kau lakukan itu?" tanyanya tak percaya.

Si anak lelaki tertawa, kemudian ia mengambil tempat duduk diseberang bangku James."Boleh duduk disini nggak?" tanyanya.

James mengambil tasnya."Hanya jika kau mengajariku cara melakukan itu," James menunjuk kearah rambut si anak lelaki."Itu tadi keren sekali,"

"Oh, jangan bodoh. Kau tak bisa mempelajarinya. Dia kan metamorphagus," ujar si anak perempuan kemudian duduk disamping si anak lelaki.

"Metamorph...apa?" tanya James mengerutkan keningnya.

"Metamorphagus," si anak lelaki mengulangi,"maksudnya orang-orang yang dilahirkan seperti aku. Orang-orang yang bisa mengubah bentuk tubuhnya. Lihat ini..." si anak lelaki menunjuk hidungnya, hidung itu kemudian berubah menjadi hidung burung elang yang lancip.

"Itu benar-benar keren..." puji James.

"Trims," balas si anak lelaki."Tapi karena ini bawaan lahir dan sangat langka. Bahkan lebih langka dari para animagus. Kau tak bisa mempelajarinya, kawan. Mungkin hanya akulah satu-satunya metamorphagus saat ini," ujar si anak lelaki menyombongkan diri.

Si anak perempuan menyodok perut si anak lelaki,"Jangan membual, Ted. Kau baru saja mengikuti forum metamorphagus musim panas lalu,"

"Ouch, itu sakit" erang si anak lelaki, mengerling si anak perempuan kesal."Tetap saja. Anggota kami tak lebih dari selusin," gumamnya.

"Apa sih animagus ini?" tanya James bingung. Memutus argumen mereka.

"Animagus itu orang-orang yang bisa berubah menjadi binatang. Biasanya, itu kemampuan bawaan lahir. Tapi, beberapa orang bisa membuat ramuan untuk menjadi animagus. Contohnya adalah kepala sekolah kita, Profesor McGonnagal, kau akan melihat dia nanti," jelas si anak lelaki."Ngomong-ngomong namaku Teddy," si anak laki-laki mengulurkan tangan."Teddy Lupin,"

James menjabat tangan Teddy."James Arlington,"

"Victoire Weasley," ujar si anak perempuan, mengulurkan tangannya.

"James Arlington," James menerima dan menjabat tangan Victoire.

"Makanan...makanan...ayo siapa yang mau beli?" seru suara seorang wanita dari luar kompartemen.

"Hey, James" panggil Teddy,"Jadi kau kelahiran muggle, ya?" tanyanya.

"Kelahiran muggle?" tanya James tidak mengerti.

"Maksudnya ayah dan ibumu bukan penyihir seperti kau," jelas Victoire.

James berpikir sejenak,"Ya, kurasa seperti itu,"

"Kurasa?" Victoire bergumam, cukup keras untuk didengar James. Tapi kata-kata Victoire disela Teddy.

"Baiklah, kalau begitu aku yang traktir deh" seru Teddy kemudian melompat berdiri. Ia mengubah rambutnya menjadi warna merah, maksudku benar-benar merah, merah api. Kemudian membuka pintu kompartemen."Mrs. Courtwell," serunya sebelum menutup pintu kompartemen. Aku bisa mendengarnya berlari.

"Mmm...muggle...apa itu?" tanya James sedikit ragu-ragu. Memecah keheningan.

"Muggle itu adalah sebutan para penyihir bagi orang-orang non penyihir seperti ayah dan ibumu. Kelahiran muggle adalah penyihir yang orangtuanya orang-orang non-sihir," jelas Victoire. Ia berhenti sejenak dan melirik James."Hei, jangan melihatku seperti itu. aku tidak mengigit kok," goda Victoire sambil tertawa melihat reaksi James yang langsung berwajah kemerahan.

Pintu kompartemen dibuka,"Hei...hei...apa yang kulewatkan?" tanya Teddy. Ia memeluk berbagai macam bungkusan didadanya, yang langsung ia jatuhkan ke samping James.

"Bukan apa-apa," jawab Victoire, tawanya mulai reda,"Aku hanya menjelaskannya tentang muggle dan bilang aku nggak akan mengigitnya kok. Soalnya di dari tadi memandangku aneh sih,"

"Oh," gumam Teddy penuh pengertian kemudian menatap James yang masih bersemu merah dan tersenyum penuh misteri.

"Apa ini?" tanya James, berusaha mengubah topik pembicaraan. Menatap kearah tumpukan plastik dan kotak disebelahnya.

"Kau bilang kau kelahiran muggle, kan?" James mengangguk."Sejauh mana yang kau tahu tentang makanan para penyihir?"

"Tidak ada," James mengakui.

"Well," Teddy mengambil satu plastik dan membukanya. Ia meraih sesuatu dan mengambil sebuah kacang dan memakannya."Mmmm...ayam panggang," gumamnya sambil terus mengunyah. James menatapnya bingung. Teddy menyodorkan bungkusan itu padanya."Giliranmu,"

James mengambil satu permen kenyal dan mengamatinya sejenak, tidak ada yang istimewa hanya kacang biasa. Kemudian ia memakannya dan rasanya sungguh menjijikkan. Ia membuat suara seperti akan muntah. James melarikan tangannya menutupi mulut, dalam usahanya untuk tidak muntah.

"Dia akan muntah..." gumam Victoire. James melihatnya mengambil sesuatu dari tumpukan makanan."Ini," ujarnya, menyodorkan seekor kodok coklat padanya yang seperti berjuang untuk melompat. James menatapnya sengsara."Astaga! ini coklat!" ujar Victoire sambil memutar bola matanya."Makanlah sebelum kau muntah,"

"Dan sebelum ia lari," tambah Teddy.

James merebut coklat itu dan memasukkannya kemulutnya. Ia bisa merasakan kodok itu melompat dimulutnya. Dan berpikir ada kodok dimulutmu membuatmu menjadi semakin mual. Tapi, sedetik kemudian kodok itu melumer menjadi coklat terenak yang pernah dimakan James.

"Kacang rasa apa yang tadi kau makan?" tanya Teddy.

"Astaga, Teddy. Setidaknya kau harus tanya apa ia merasa lebih baik?" ujar Victoire, kemudian menatap James."Jadi, apa kau masih merasa mau muntah?" tanyanya cemas.

"Yah, sedikit lebih baik" perut James masih seperti diputar-putar, tapi ia sudah lebih baik.

Victoire mengambil sebuah botol dari tumpukan makanan dan menyodorkannya pada James."Apa ini?" tanya James, ia merasa harus berhati-hati memilih makanan sekarang. ia tidak mau berakhir muntah-muntah dikamar mandi.

"Jus labu," ujar Victoire sambil memutar bola matanya.

Teddy menahan tawa.

James melirik Teddy, memberinya sebuah 'pandangan'. Kemudian meminum jus itu. tidak seburuk kacang tadi, tapi aku tidak pernah suka labu.

"Kacang apa itu tadi?" tanya James setelah meneguk satu tegukan besar jus labu, hanya karena haus.

"Kacang Segala Rasa Bertie Botts," jawab Victoire,"Didalamnya berisi kacang dengan segala rasa,"

"Ya, dan maksudnya segala rasa, bukan hanya segala rasa buah-buahan, tapi segala rasa. Bahkan ada rasa muntahan, rasa upil-" Victoire menginjak sepatu Teddy.

Teddy mengerang kesakitan,"Untuk apa itu tadi?"

"Kau bisa membuat James sakit lagi,"

"Oh, yeah. Sorry, sobat" ujar Teddy pada James. Wajah James sudah hampir memutih lagi karena pucat, ia hanya bisa mengangguk."Jadi rasa apa tadi, huh?"

"Mmm...hati mentah?"

"Ugh...menjijikkan," ujar Victoire dengan muka mual,"Aku tahu aku selalu punya alasan untuk membenci makanan itu sejak dulu,"

"Hati mentah? Seperti hati manusia atau hati hewan?" Teddy masih bertanya dengan penuh penasaran.

"Please, Teddy. Bisa nggak nggak mbahas itu lagi?" pinta James.

Teddy sudah membuka mulutnya, hendak memprotes, tapi Victoire membelalakkan matanya."Oke deh," Teddy mengangkat kedua tangannya, membentuk isyrat menyerah."Pokoknya, jika kau ingin belajar atau punya masalah tentang makanan ini. Kau tahu ke siapa kau harus pergi," tambahnya.

James mengangkat alis.

"Teddy si ahli Kacang Segala Rasa," gumam Victoire. Dan James tertawa.

"Coklat apa tadi?" tanya James.

"Itu coklat kodok. Tenang saja, itu Cuma coklat kok. Di mantrai agar bisa melompat. Tapi Cuma sekali saja," jawab Victoire.

"Oh, dan ini" Teddy mengambil bungkusan lagi dari meleparkannha padaku."cobalah,"

"Apakah ini aman?" tanya James ragu-ragu.

"Definisikan aman," ujar Victoire sambil tersenyum.

"Ah, sudahlah," desah James,"Kau tak akan tahu sebelum mencoba,"

"Dia benar, Vic" James mendengar Teddy bergumam.

James membuka bungkusan itu dan menemukan permen kenyal seperti permen muggle biasa."Doakan aku berhasil," gumamnya, kemudian ia melahap permen itu. james merasakan sesuatu didadanya, yang berlari menuju mulutnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa ia sadari ia mengaum seperti singa asli. Setelah ia selesai mengaum ia berujar penuh kekaguman,"Aku harus punya itu,"

Kemudian James melihat keluar kearah jendela, ia menatap kearah sawah-sawah yang jarang sekali ia lihat. Ia sedih meninggalkan orangtuanya, tapi ini bahkan bisa membuatnya tertawa.

Kalau saja James memperhatikan, ia akan bisa melihat Victoire tersenyum, memandangnya dengan penuh penasaran. Tapi, tentu saja, James tidak melihat itu.

Ketika mereka sampai distasiun Hogwarts, seorang lelaki tua besar dengan rambut hitam panjang lebat sepinggang dan janggut berantakan yang sama lebatnya dengan rambutnya menjemput para anak kelas satu.

"Itu Hagrid. ia adalah Profesor Pemeliharaan Satwa Gaib," bisik Teddy. Ia harus berpisah dari Teddy karena Teddy adalah anak kelas dua. Anak kelas dua akan diantar menggunakan kereta tanpa penarik ke Hogwarts. Tapi, anak-anak kelas satu akan diantar menyeberangi danau dengan kapal.

James menatap Victoire yang sedang memberi salam kepada Profesor Hagrid dengan tak percaya, dan juga kekaguman. Ia bisa melihat hampir semua anak laki-laki di stasiun itu menatap Victoire.

Teddy menyenggol siku James,"Ya...ya..aku tahu bagaimana rasanya," bisiknya dengan senyum nakal,"biasakanlah. Dia adalah seorang keturunan veela," tanpa banyak bicara lagi Teddy berlari menuju salah satu kereta.

James memandang Victoire, hal pertama yang akan ia ajukan pada Teddy ketika mereka bertemu lagi adalah, apakah veela itu?

James masuk ke Gryffindor, bersama Victoire. Instruktur sapu terbangnya, Madam Hooch, berkata bahwa James adalah penerbang alami dan menyarankan agar James masuk ke tim secepatnya. Tapi, James hanya menggeleng dan tersenyum. Ia tidak akan melanggar aturan sekolah. Ia masuk dikelas dua. Dan benar juga, James adalah seorang penerbang alami, seorang seeker hebat. Tak ada satu pertandingan pun tanpa James berhasil menangkap snitch. James pun hebat dalam akademic, urutan nomor dua dari seluruh asrama, setelah Victoire.

James, apa kau sudah bangun?" terdengar suara seorang wanita dari luar pintu kamar James, mengetuk-ngetuk pintunya.

"Ya, Mom" jawab James.

"Turunlah sayang, aku dan ayahmu menunggu dibawah," perintah Ibu James.

"Yap, Mom. Tunggu sebentar,"

James bisa mendengar langkah kaki ibunya menuruni tangga, sebelum ia bangkit berdiri dan mendesah. Ia pergi ke kamar mandi, untuk cuci muka dan gosok gigi. Menyimpan hadiah Victoire di laci meja. Ia menarik selarik kertas dari laci, ia menulis surat balasan untuk Victoire. Setelah selesai, ia mengambil Ariadne dari kandang Eon."Sorry, sobat. Kau harus pergi sekarang," ujar James kepada Ariadne yang bertengger dipundaknya, sambil menyodorkan suratnya kepada Ariadne. Ariadne dengan antusias menyambar surat itu dengan paruhnya. James tertawa lemah."Sampaikan itu kepada Victoire, oke?"

Ariadne beruhu, mengiyakan kemudian terbang ke arah langit. Membumbung tinggi keudara dan hilang dari pandangan James.

"Lapar, Eon?" tanya James.

Eon tidak menjawab, ia bahkan tidak menatap James.

"Hei, hei, ada apa ini?" tanya James sambil menyembunyikan senyum,"Kau marah padaku, ya?"

Eon masih tidak bereaksi.

James mendesah dan berjalan menuju kandang Eon, mengambil tempat makan Eon dan mengisinya dengan makanan. James meletakkan wadah makanan itu dimeja belajarnya, tepat disebelah tongkat bertengger Eon."Oke, Eon. Aku minta maaf. Itu makananmu. Kau harus makan, oke?"

Masih tak ada jawaban.

"Oh, ayolah, Eon" James memohon,"Maafkan aku. Jangan buat aku merasa sedih dihari ulang tahunku,"

Tampaknya kata-kata ini berefek. Eon terbang ke meja belajar James dan mengunyah makanannya."Nah, begitu. Dong," kata James sambil tertawa,"Jadi kau memaafkanku?"

Eon beruhu.

James mengelus bulu dipunggung burung hantunya."Jika kau mau keluar, kau boleh keluar, Eon" ujarnya."Aku harus kebawah,"

James meninggalkan Eon dan menuruni tangga kearah dapur rumah mereka.

"Apa yang membuatmu begitu lama?" tanya Jack Arlington. Ia duduk dimeja makan, menyeduh secangkir kopi susu. Jack sudah mengenakan setelan kerjanya, seperti biasa.

"Membalas surat ke seorang teman," jawab James, dan duduk disebelah ayahnya.

"Apakah temanmu ini seorang gadis?" tanya Jack Arlington sambil menyembunyikan senyum, mata birunya bersinar menggoda.

"Dad," seru James kesal, tapi mukanya berubah merah.

"Ketahuan...ketahuan..." Jack berdecak.

James baru saja membuka mulutnya, hendak memprotes sang ayah. Tapi Ibunya menginterupsi,"Sudah...sudah..." desah Jenna Arlington."Aku ingin memberikan pelukan kepada puteraku yang tengah berulang tahun," ujarnya kemudian memeluk puteranya.

"Thanks, Mom"

"Dan ini hadiah untukmu," Jenna Arlington menyerahkan bungkusan kotak kecil kepada puteranya.

James menerima dan mengamatinya sekilas,"Apa ini, Mom?" tanya james penasaran.

"Bukalah," perintah sang Ibu.

James membuka bungkusnya yang berwarna hijau, sewarna mata James. Didalamnya terdapat sebuah kotak berwarna bening dan transparan. Sebuah kotak berisi jam. James membuka kotak itu dan mengenakan jam perak yang diberikan ibunya."Trims, Mom. Ini indah," puji James kemudian memeluk Ibunya sekali lagi.

"Dan ini dari ayahmu," Jack menginterupsi. Ia memberikan sebuah bungkusan persegi panjang yang tidak terlalu tebal.

Jenna memberikan ruang kepada putera dan suaminya, pergi untuk mengambil secangkir teh.

James mengambilnya dan mengamatinya. Bentuk sangat pas untuk sebuah buku."Apa ini sebuah buku, Dad?" tanya James tidak percaya.

Jack mengangkat bahunya."Bukalah dan kau akan tahu," gumamnya.

"Well, tapi ini buku..."

"Bukalah dulu,"

"Aku bertaruh ini buku,"

James membukanya dan memang benar, itu adalah sebuah buku. Tapi bukan jenis buku yang akan disukainya atau akan ia beli ditoko buku."Cara Terbaik untuk Mendapatkan Gadis yang Kau Sukai?" seru James terkejut. Jenna Arlington tersedak tehnya dan membelalakkan matanya kepada suaminya.

"Dia empat belas, aku yakin dia akan membutuhkan itu cepat atau lambat," ujar Jack Arlington membela diri.

James mengira ibunya akan meledak marah. Tapi, betapa terkejutnya ia ketika ia mendengar Ibunya mendesah. James melirik Ibunya,"Mom?"

"Well, James, kau empat belas. Itu benar," Ibunya menjawab pertanyaan James yang tidak dia utarakan.

"Cinta pertama Ibumu datang ketika ia berusia empat belas," ujar Jack sambil tertawa. Jenna menyikut siku suaminya keras-keras sehingga Jack mengerang kesakitan.

Ketika James melihat memeluk orangtuanya sebelum mereka berangkat bekerja. Mengucapkan selamat jalan dengan senyum diwajahnya, ia tidak tahu bahwa mereka tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang cukup lama.