The Unwanted and Unexpected

Malam itu James merasa begitu lelah. Ayah dan ibunya belum pulang. Setelah berjuang untuk tetap terjaga selama satu jam, menunggu kedua orangtuanya pulang. James akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju tempat tidurnya.

James tidur meringkuk ditempat tidurnya. Kamarnya gelap karena ia sudah mematikan lampu. James selalu merasa lebih nyaman dalam kegelapan, hal aneh yang ia sendiri tidak mengerti. Ia hampir saja terlelap ketika ia mendengar suara teriakan ibunya. Kemudian suara seorang lelaki yang tidak dikenalnya, mengancam.

James mengambil tongkat sihirnya yang ia selipkan dibawah bantal. Dengan hati bergetar karena cemas dan panik, ia keluar dari kamar, berhati-hati untuk tidak membuat suara ke kamar Ibu dan ayahnya.

Seluruh rumahnya gelap. Ia melihat cahaya dari depan. Sebuah cahaya dari tongkat sihir. Secepat kilat James bersembunyi ke belakang sofa. Sesosok lelaki berjubah dan bertopeng muncul. Ia membuka pintu James dan setelah mengobrak-abrik kamar James, ia berteriak dalam kemarahan.

James tahu benar, orang itu adalah pelahap maut. Dan itu membuat pikiran James terbayang-bayangi ketakutan. Tidak...tidak...

Ia takut untuk ayah dan Ibunya yang sekarang berada dikamarnya, dalam bahaya.

Si penyihir berjubah keluar dari kamar James, dengan langkah kasar ia kembali ke kamar ayah dan Ibu James.

James mengikutinya, pelan-pelan. Dan ia bersyukur karena si penyihir tidak melihatnya. kamar orangtua James bercahaya karena lampu. Cahaya itu menyorot kepintu. James bisa melihat bayangan orang. James bersembunyi dalam bayangan dinding diluar kamar orangtuanya.

"Tidak ada, anak lelaki itu tidak ada disana," gumam si penyihir berjubah, setelah masuk ke kamar orangtua James.

"Jangan sakiti putera kami," cicit Jenna Arlington.

"Diam kau, perempuan" suara lelaki lain berteriak dalam nada bariton.

"Aargh," ibunya mengerang kesakitan. James mendengar ibunya dipukul. Hati James rasanya disengat.

"Kumohon jangan sakiti kami. Jangan sakiti putera kami," ayah James memohon.

Lelaki itu tertawa,"Putera kalian, huh?" tanyanya.

"Kumohon...kumohon..." Jenna Arlington kembali mengemis.

"Homonum Revelio," ujar si lelaki, tidak menghiraukan Jenna Arlington.

James merasakan sensasi aneh yang melewati dirinya, menyelimuti dirinya dalam bayangannya.

"Anak itu disini," geram si lelaki. James bisa mendengar si lelaki berjalan keluar kamar.

Ia dalam bahaya, lelaki itu tahu posisinya, sialan. Tepat ketika si lelaki itu muncul dari kamar, James mengacungkan tongkatnya dan berteriak,"Stupefy,"

Si lelaki terpental dan menabrak dinding beberapa meter dibelakangnya.

"Anak sialan," geram lelaki lain, lelaki yang suaranya tidak ia kenali. Lelaki itu bergerak begitu cepat, James tidak mampu menghindari kutukannya."Crucio,"

James terjatuh, ia berteriak-teriak karena rasa sakit luar biasa yang ia rasakan. Setiap senti tubuh seperti diiris-iris, ditusuk dengan paku berkali-kali. Perutnya terasa sangat panas. Ia tidak tahu rasa sakit itu bertahan selama beberapa menit, tapi baginya itu sepertinya selamanya. Kemudian tiba-tiba rasa sakit itu pergi.

"Anak sialan," geram lelaki itu, ia menendang perut James keras sekali, hingga James terbatuk darah.

"Jangan gegabah, Dolohov" teriak lelaki lain, lelaki yang tadi pergi kekamarnya."Pangeran Kegelapan ingin dia tidak disakiti," lelaki itu muncul dan menyentuh bahu Dolohov.

Dolohov mengangkat bahunya,"Jangan bicara, Malfoy! Kau dan anakmu yang pengkhianat itu!" umpat Dolohov keras sekali.

Malfoy berjalan kearahku, mengangkat James berdiri dengan kasar. Ia mendorong James berjalan ke arah kamar orangtuanya. James melihat ibunya berada dilantai, pipinya lebam karena dipukul. Ayahnya memeluk Ibunya yang tengah terisak.

"Mom! Dad!" teriak James. Ia meronta dari pegangan Malfoy. Malfoy melepaskan James dan anak lelaki itu langsung berlari kearah orangtuanya."Mom! Dad! Kalian tidak apa-apa?" tanya James cemas.

"Oh, James. Kau tidak apa-apa, nak?" Jenna Arlington memeluk puteranya.

"Minggir, Malfoy!" Dolohov berteriak, disampingnya lelaki yang dilukai James berdiri terhuyung-huyung."Kita bawa mereka ke Pangeran Kegelapan," geramnya.

Tepat saat itu terdengar bunyi 'pop', seorang lelaki muncul disebelah James."Stupefy," teriak lelaki itu. dolohov terlempar kearah temannya, keduanya jatuh dilantai. Lelaki itu menarik James ke sisinya.

James meronta,"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.

Dolohov berdiri. Ia meneriaki James dan lelaki itu dengan mantra-mantra yang tidak ia ketahui. Lelaki tadi menangkisnya dengan cepat dan gesit.

Malfoy dan lelaki yang satu lagi berhasil meraih kedua orangtua James."Mom! Dad!" James berteriak dan mencoba berlari kearah orangtuanya. Tapi lelaki itu mendorongnya dengan sebuah mantra.

"Kita harus pergi sekarang," teriak Malfoy, kemudian ia dan temannya ber-dissaparate.

"Sialan!" teriak Dolohov,"Avada Kedavra," teriaknya, mantra itu ia tujukan pada James, tapi James tak bisa bergerak.

"Protego," teriak si lelaki. Kutukan pembunuh terpental.

Tepat saat itu Dolohov menghilang.

James bisa merasakan mantra yang dipasang untuknya melemah. Dalam sedetik, ia berdiri dan berlari ketempat orangtuanya tadi berdiri."Mom! Dad!" erangnya, teriaknya, tangis nyaris meledak darinya.

"James," ujar lelaki itu pelan.

James baru saja menyadari kehadiran si lelaki lagi. james menatapnya, lelaki itu mungkin berusia pertengahan tiga puluhan. Pakaiannya kusut. Rambutnya hitam berantakan, dan matanya, hijau cemerlang, persis seperti mata James sendiri."Kau siapa?" teriak James. Mundur secara instingtif. Tongkatnya terangkat didepan dada.

Si lelaki mengangkat kedua tangannya tanda menyerah."James, kita harus pergi dari sini dulu. Kau dalam bahaya," ujar si lelaki tenang dan lembut.

James menggeleng,"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" tanyanya.

"Kumohon percayalah," jawab si lelaki,"Kau lihat orang-orang tadi, kan? Mereka adalah Pelahap Maut. Aku berada disisimu, James. Aku disini untuk menolongmu. Kumohon, percayalah padaku. Kita harus pergi sekarang,"

James mempertimbangkan ini. Lelaki ini tampaknya tidak berbahaya. Dan lelaki ini tampak sangat familiar. Tapi, ia tidak bisa mengingatnya. Lagipula, ia tahu para pelahap maut. Entah karena alasan apa, ia sudah menjadi target mereka. Dan ia tahu, ia tidak aman. Perlahan, James menurunkan tongkatnya."Kemana kau akan membawaku?" tanya James akhirnya.

Lelaki itu tersenyum, ia mendekat kearah James, mengulurkan tangannya."Ke tempat yang aman," ujarnya.

Ragu-ragu, James menerima uluran tangan si lelaki. Tangan lelaki itu kasar, tapi kuat. James memejamkan mata, tahu apa yang akan terjadi. Mereka ber-dissaparate. James belum pernah ber-apparate atau ber-dissaparate sebelumnya. Ia asing dengan rasa ini. Rasanya ia seperti diputar-putar. Kepalanya dibawah, kakinya diatas. Dan mungkin masih lebih baik dari portkey, tapi jelas membuatnya pusing.

James muncul di, sepertinya, ruang masuk sebuah rumah. Didepannya ia melihat sofa-sofa. Dan ketika ia melihat keatas, tangga-tangga melingkar mengelilingi dinding kayunya. Rumah ini pasti, paling tidak, tiga lantai. Rumahnya tampak sempit, tapi nyaman. Cahaya terang menyelimuti seluruh ruangan. Benda-benda disesakkan didinding-dinding. Tapi itu tidak mengurangi rasa nyamannya.

Seorang gadis cantik muncul dari sofa, dengan pandangan terkejut, menatap mereka dengan mata biru lautnya yang indah, Victoire.

"James," ia berseru, melemparkan bukunya ke sofa dan berlari kearah James, memeluknya. James membalas pelukan Victoire. Ia butuh seseorang yang ia kenal, ia sayangi, yang ia percayai sekarang. ia butuh seseorang untuk bergantung, untuk mengutarakan semua keresahannya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya ketika mereka menarik diri."Dan, Oh Astaga!" Victoire menyentuh sisi bibir James, membawa aliran listrik keubun-ubunnya,"Kau berdarah,"

James menyentuh tangan Victoire dan mendorongnya dari pipinya."Tidak apa-apa, kok" bisikku.

"Victoire, siapa-" suara seorang perempuan dengan aksen aneh, terdengar. Seorang perempuan muncul didepan kami. Perempuan itu mungkin perempuan paling cantik yang pernah James lihat, selain Victoire, ibunya. Ia persis sekali seperti Victoire, rambut yang sama dan mata yang sama. Kata-katanya tercekat ketika ia menatap lelaki disampingnya. Mata birunya melebar,dan mulutnya terjatuh kelantai."A...Arry?"

"Hei, Fleur. Apa yang sedang kau-" suara lelaki lain berambut merah, kurus dan jangkung muncul dan sama seperti si wanita, tercekat ketika memandang mereka. Tapi, bukannya memandang mereka penuh keterkejutan. Kemarahan mengisi sinar mata coklatnya. Lelaki itu berlari kearah mereka dan memukul si lelaki tepat diwajah. Lelaki itu terjatuh dilantai dengan suara keras."Dasar lelaki brengsek," umpatnya keras. Ia berlutut dilantai dan baru saja hendak memukul si lelaki lagi.

"Ronald Billius Weasley," teriak seorang perempuan,"Hentikan,"

Tinju Ronald berhenti diudara. Ia mendorong si lelaki keras-keras dilantai. Sebelum berdiri. Didepan James berdiri sekumpulan orang, sebagian besar dari mereka berambut merah. James mengenali beberapa diantaranya Teddy, neneknya, Andromeda. Ayah Victoire, adik Victoire yang baru saja masuk Hogwarts tahun lalu, Louise, adik bungsunya, Dominique. Pemilik Sihir Sakti Weasley, Goarge Weasley. Dan dua orang sepupu Victoire yang masuk Hogwarts tahun lalu, Lucy dan Roxanne.

Seorang perempuan tua gemuk berambut merah terhuyung berlari kearah lelaki disebelah James, berlutut dan memeluk lelaki itu."Oh, Harry! Apa yang terjadi padamu?" tanya si wanita.

"Mom, menjauhlah darinya. Lelaki brengsek ini tidak berhak berada disini setelah apa yang telah ia lakukan," teriak Ronald.

"Ron! Jaga bicaramu! Ada anak-anak disini," seru si wanita berambut merah dan membantu Harry berdiri.

"Terima kasih, Mrs. Weasley" bisik Harry. Ronald mendengus.

"Harry, kita perlu bicara" kata ayah Victoire.

Harry mengangguk.

"Teddy, aku ingin kamu membawa anak-anak untuk bermain diatas," ujarnya menatap kearah Teddy. Teddy menangguk dan menarik seorang anak perempuan kecil berambut merah lembut.

"Ayo kita bermain diatas," ajak Teddy kepada seluruh anak disana. Lebih dari setengah lusin anak-anak mengikutinya menaiki tangga.

"James kau ikut mereka," perintah Harry.

"Tapi orangtuaku-"

"Kita bisa bicara tentang orangtuamu nanti. Sekarang kau ikuti mereka," Harry menginterupsi.

James hendak memprotes, tapi Victoire menarik tangannya."Ayo, James. Kita keatas," ujar gadis itu dengan pandangan memohon. James menelan kembali protesnya dan mengikuti sahabatnya keatas tangga.

Harry Potter melihat sekumpulan orang didepannya, sekumpulan orang yang harus dihadapinya. Dan Ron, sahabatnya, atau lebih tepatnya mantan sahabatnya, terlihat ingin membunuhnya. Harry menghembuskan nafas,"Dimana kita bisa bicara secara pribadi?"

Bill Weasley menuntun mereka ke dapur. Menutup pintu dapur. Ketika ia berbalik menghadap keluarganya, ia bertanya,"Kenapa kau pergi, Harry?"

"Karena aku ingin orang-orang yang kusayangi selamat, itu saja," dengan kata-kata itu ia melirik Ron. Hanya Ron lah yang tahu arti makna itu, atau mungkin juga, Ginny.

"Tapi, Harry kau bisa berguna disini. Hanya kau yang mampu mengalahkan Pangeran Kegelapan. Dan sekarang, kau lihat, kami tidak bisa mengalahkannya," Bill berargumen.

"Tidak, aku tidak bisa mengalahkannya. Dan ada satu masalah yang aku tidak bisa menceritakannya sekarang. masalah yang membuatku pergi," ujar Harry.

"Masalah apa itu?" tanya Bill.

"Sudah aku bilang, aku tidak bisa menceritakannya sekarang," jawab Harry.

"Ya, benar sekali Potter Sialan. Kau tidak bisa membicarakannya," teriak Ron."Kau pergi meninggalkan kami tanpa penjelasan apapun. Kau membuat hidup Hermione hancur. Aku tak pernah bisa menyangkanya. Kau...kau-"

"Aku harus melakukan ini, Ron" Harry berteriak, memotong kata-kata Ron."Dan ada yang lebih penting sekarang. mereka sudah tahu tentang James, mereka menjadikannya target, Ron. Aku menemukannya dirumahnya, melawan tiga pelahap maut yang hendak menculiknya,"

"Tunggu...tunggu..." teriak Bill menengahi,"Apa yang tengah kalian bicarakan, huh?"

Untuk sesaat keadaan menjadi tenang. Harry dan Ron tak menjawab.

Ginny Weasley mendesah, ia tidak menyukai keadaan ini, sangat."Harry, sepertinya kau harus menceritakannya" ujarnya, memecah keheningan.

"Menceritakan apa, Harry?" tanya Bill penasaran.

Harry menatap Ginny sejenak. Kemudian mendesah,"James adalah puteraku,"

Berpasang-pasang mata mendongak, menatapnya dengan pandangan tidak percaya dan ketekejutan."Tapi kau tidak punya putera, Harry. Iya, kan?" tanya Bill.

"Aku menyembunyikannya hingga ia berumur satu tahun,"

"Ya, dan setelah itu kau membuangnya," dengus Ron."Mengambil anak itu dari ibunya sendiri. Kau tahu betapa hancurnya Hermione ketika ia berjalan ke kamar James dan menemukan keranjangnya kosong. Bagus sekali, pahlawan"

"Aku tidak membuangnya, Ron. Aku hanya ingin ia selamat," Harry mencoba membela diri.

"Dengan menyakiti Hermione?" tanya Ron sarkatis.

"Diam, kalian berdua" teriak Bill. Harry dan Ron diam."Oke, jadi Harry" ia menatap Harry."Kau dan Hermione memiliki seorang putera?"

Harry mengangguk,"Dia dalam bahaya sekarang,"

Tepat saat itu, pintu dapur terbuka. James Arlington, atau tadinya James Arlington. Muncul dengan muka merah karena marah."Omong kosong apa yang kalian bicarakan?" teriaknya.