Truth is Suck

James mengikuti Victoire, masuk kesebuah kamar kosong. James duduk diranjang. Sementara Victoire duduk disebelahnya."Apa yang terjadi James?" tanyanya pelan.

"Orangtuaku. Mereka mendapatkan orangtuaku," jawab James.

"Siapa yang mendapatkan orangtuamu?" lima belas tahun Teddy Lupin berdiri diambang pintu. Mengerutkan keningnya dan merubah rambut hitamnya menjadi biru elektrik, warna kesukaannya.

"Pelahap maut," jawab James.

Kening Teddy berkerut dalam ketidak mengertian,"Kenapa para pelahap maut datang kerumahmu?"

"Entahlah, mungkin karena aku kelahiran muggle,"

"Tidak, bukan itu, James" Victoire menginterupsi, Teddy dan James menatapnya penasaran."Para pelahap maut tidak akan repot-repot mendatangi seorang kelahiran muggle. Dan lebih-lebih menculik ayah dan ibunya. Mereka bahkan tidak mau menyentuh seorang kelahiran muggle apalagi seorang muggle,"

"Jadi mengapa mereka menculik ayah dan ibuku?" James bertanya bingung.

Victoire tidak menjawab.

"Ada yang mau mengintip?" tanya Teddy, sebuah senyum nakal terpampang diwajahnya. Ditangannya ada tiga buah telinga terjulur.

Sesampainya dipintu dapur. Teddy memberikan Victoire dan James, masing-masing satu telinga terjulur. Kemudian mereka mulai mendengarkan.

"Menceritakan apa, Harry?" tanya ayah Victoire.

Diam sejenak.

"Harry, sepertinya kau harus menceritakannya" ujar seorang wanita yang asing bagi James.

Hening.

Harry mendesah,"James adalah puteraku,"

Hati James seperti hendak keluar dari dadanya. Matanya melebar dalam ketidak percayaan. Ayahnya adalah Jack Arlington. Tidak, lelaki itu tidak mungkin ayahnya. Teddy dan Victoire menatap James terkejut.

"Tapi kau tidak punya putera, Harry. Iya, kan?" tanya ayah Victoire tidak percaya.

"Aku menyembunyikannya hingga ia berumur satu tahun," Harry menjawab

"Ya, dan setelah itu kau membuangnya," dengus Ronald."Mengambil anak itu dari ibunya sendiri. Kau tahu betapa hancurnya Hermione ketika ia berjalan ke kamar James dan menemukan keranjangnya kosong. Bagus sekali, pahlawan"

"Aku tidak membuangnya, Ron. Aku hanya ingin ia selamat," Harry mencoba membela diri.

"Dengan menyakiti Hermione?" tanya Ron sarkatis.

"Diam, kalian berdua" teriak Bill. Harry dan Ron diam."Oke, jadi Harry" ia menatap Harry."Kau dan Hermione memiliki seorang putera?"

Harry mengangguk,"Dia dalam bahaya sekarang,"

James tak dapat menahan dirinya sekarang. ia harus tahu omong kosong apa yang orang-orang ini bicarakan. Omong kosong tentangnya apa yang mereka bicarakan. Dengan marah, James menjeblak pintu dapur terbuka. Orang-orang terlompat karena terkejut."Omong kosong apa yang kalian bicarakan?" teriaknya

"James, dengarkan aku dulu," Harry berjalan ke arah James, menyentuh pundak James.

"Jangan sentuh aku," seru James, menyentakkan tangannya."Kau bukan ayahku. Ayahku sekarang mungkin tengah meregang nyawa ditangan para pelahap maut. Dan itu semua karenamu. Kalau saja kau membiarkan aku menyelamatkannya. Mungkin mereka ada disini sekarang,"

"Dan menyebabkan dirimu sendiri terbunuh?" tanya Harry.

James berhenti sejenak, amarah masih terpancar jelas dalam matanya."Jika itu memang harus terjadi untuk menyelamatkan nyawa orangtuaku, maka akan aku lakukan," kata James tegas.

Harry tersenyum,"Tapi itu tidak terjadi. Kau terlalu berharga. Aku tidak akan membiarkan puteraku terbunuh,"

"Berhenti bilang aku adalah puteramu. Kau bukan ayahku," potong James.

"Kau boleh menganggap aku bukan ayahmu, James. Tapi kau tidak bisa menyangkal aku adalah ayah biologismu. Tidak bisakah, untuk sekali saja, kau melihat kemiripan kita?" ujar Harry.

James terhenti. Ya, tak akan ada yang bisa menyangkal kemiripan mereka.

"Bagaimana, James? Kau bisa melihatnya? Kau mau menyangkalnya?"

James tak menemukan kata-katanya lagi.

"Aku muak dengan ini, aku mau pergi," desis James. Ia berbalik dan berjalan keluar dapur. James terus berjalan, ia melewati Victoire dan Teddy yang menatapnya cemas. Ia tidak mengenal tempat ini. Ia hanya ingin terus berjalan. Ingin menyibukkan dirinya sendiri. Ia sangat sedih dengan kenyataan ini. Ia bukanlah anak kandung ayah dan ibunya, atau ia anggap sebagai ayah dan ibunya.

"James, kau mau pergi ke rumahku?" tanya Teddy dari belakangnya.

James berhenti dan mengangguk.

Mereka ber-floo ke rumah Teddy. Mereka baru berjalan beberapa langkah keluar dari perapian ketika James berhenti dan bertanya,"Bisakah kau mengantarku ke kamarmu? Aku ingin tidur,"

"Ya, tentu saja. Ikuti aku," Teddy menuntunnya menaiki tangga, ke sebuah kamar yang dindingnya dilapisi wallpaper Gryffindor. James langsung melemparkan dirinya ke ranjang Teddy.

"Sorry ya, kalau aku tidak sopan," gumam James.

Teddy hanya tertawa,"Tidak sama sekali, sobat. Tidurlah, hari ini pasti berat untukmu"

"Benar sekali," James bergumam mengiyakan. Ia mendengar Teddy menutup pintu dan berjalan menjauh. James menyisihkan segala kekhawatirannya, segala kesedihannya. Dan berjalan menuju alam mimpi yang penuh kebahagian, setidaknya, baginya.

Lord Voldemort berdiri, menyeringai, tongkatnya siap didepan dada."Kau akan mati, James Potter," ia menatap Hermione, bukan, bukan Hermione. Tapi, menatap seorang anak lelaki didepan Hermione."Aku ingin melihat bagaimana ayahmu bereaksi terhadap ini,"

"Tidak, tidak, kumohon" Hermione memohon, air mata mengaliri pipinya. Hermione berlari kedepan si anak lelaki. Merentangkan tangannya dalam posisi defensif."Kumohon, jangan James. Jangan James. Ambil aku saja. Ambil diriku. Bunuh aku " Hermione terisak,"Kasihanilah...Kasihanilah..."

Lord Voldemort menatap Hermione murka,"Minggir Darah Lumpur. Atau kau juga akan aku bunuh,"

"Jangan James...Jangan James..."

"Kalau begitu, aku akan membunuhmu, Darah Lumpur. Avada Kedavra," cahaya hijau muncul dari tongkat Lord Voldemort.

Hermione Granger terbangun, keringat membasahi wajahnya, air mata mengaliri pipinya. Dengan cepat ia turun dari ranjangnya, berlari menuju kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel yang sungguh sangat membantu. Air dingin selalu membuat pikirannya jernih.

Ini adalah mimpinya, yang mungkin, keseratus kalinya, Hermione tak pernah benar-benar menghitung. Dia sudah mendapat mimpi ini, mimpi yang sama, selama tiga belas tahun, semenjak Harry dan James pergi. Dan semenjak itu pula, ia menjadi kurang tidur. Terbangun ditengah malam karena mimpi buruk sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Hermione.

Ia membasuh mukanya sekali lagi, dan dia ingat,"Oh, Sial" umpatnya. Ia berlari kembali kekamarnya dan meraih ponselnya dimeja kecil didekat ranjangnya. Menelepon Ron.

Hermione telah berjanji akan datang ke The Burrow untuk makan malam seminggu yang lalu, tapi dengan pekerjaannya sebagai seorang peneliti di Australia membuatnya lupa. Australia, ya ia pergi ke Australia.

Beberapa bulan setelah kepergian Harry. Hermione mendapat tawaran untuk bekerja sebagai seorang ilmuwan disebuah lembaga penelitian di Australia. Tanpa berpikir panjang Hermione langsung menerima tawaran ini. Ia mencari James, tentu saja, tapi tak pernah sekali pun ia mendapatkan hasil. Beberapa tahun yang lalu, ia menyerah. Di Australia, Hermione berharap ia bisa memulai kehidupan baru. Melupakan Harry. Tapi, tak pernah sehari pun lewat tanpa memikirkan lelaki yang sudah mengkhianatinya itu. entah itu kerinduan, kesedihan, atau kebencian. Tapi, Hermione bersyukur, paling tidak, ia masih memiliki ayah dan ibunya dan Ron, yang selalu mendukungnya. Setiap tahunnya ia berkunjung ke Inggris, ke The Burrow. Dan ia baru saja membayar kunjungannya untuk tahun ini.

"Hallo?" suara Ron terdengar marah.

"Hallo Ron. Ini-" kata-katanya terputus ketika ia mendengar suara orang yang begitu dirindukannya, atau dibencinya.

"Bagaimana, James? Kau bisa melihatnya? Kau mau menyangkalnya?" tanya seorang lelaki, Harry Potter.

"Aku muak dengan ini, aku mau pergi," ujar suara lain. Suara yang tidak ia kenal.

Mata Hermione membesar karena keterkejutan. Harry ada di The Burrow. Dan dia tadi menyebut-nyebut nama James. James mungkin nama yang umum. Ada ribuan orang bernama James di dunia ini. Tapi, setiap kali ia mendengar nama James, hatinya terlonjak karena harapan. Dan kali ini harapannya tidak juga padam. Mungkinkah...mungkinkah,,,

"Ron, Harry ada disana, ya?" tanya Hermione, suaranya serak dan pelan.

Ron tak langsung menjawab. Tapi, jawabannya telah memukul Hermione."Ya," jawab Ron pelan.

Dada Hermione sesak, karena kerinduan dan kebencian. Karena rasa dendam yang dimilikinya. Harry adalah kunci baginya untuk mendapatkan puteranya kembali.

"Hermione dengar-" Ron memulai.

"Aku akan kesana, Ron" potong Hermione dingin kemudian mematikan ponselnya. Hermione langsung beranjak berdiri dan berganti pakaian. Kemudian ber-apparate ke The Burrow.

Hermione muncul di hallway. Ia bisa mendengar suara-suara dari dapur The Burrow. Jantungnya berdetak semakin kencang seiring setiap langkah yang ia ambil ke dapur. Seiring setiap langkah yang ia ambil ke Harry.

"Kemana dia pergi?" tanya Ginny."Ia tidak ada di penjuru rumah. Begitu pula Teddy dan Victoire,"

"Mungkin ia pergi ke rumah Bill atau rumahku," ujar Andromeda."Aku akan pergi ke sana dan memastikan,"

Hermione bisa mendengar suara langkah kaki Andromeda, keluar dari dapur. Tepat ketika ia keluar dari dapur, Andromeda Tonks menatap Hermione."Hermione," ujarnya sambil tersenyum sedih. Andromeda berjalan kearahnya dan memeluknya."Senang sekali berjumpa denganmu," suaranya bergetar. Hermione bisa melihat Andromeda mengusap air mata dari ujung matanya."Aku harus pergi,"

Hermione mengangguk,"Terima kasih, Andromeda"

"Hanya-" Andromeda tercekat,"Pikirkan ini secara rasional, Hermione"

Hermione kembali mengangguk. Andromeda menepuk pipi Hermione sebelum pergi melewatinya. Dengan nafas panjang, Hermione melangkah. Hanya beberapa langkah lagi. dan ia ada disana, melihatnya, Harry Potter.

"Hermione," Ginny berseru lemah.

Tapi, itu sudah cukup bagi Harry. Ia mengangkat kepalanya dan matanya bertemu sepasang mata coklat hangat yang sangat ia rindukan.

Menatap mata hijau emerald itu lagi, menyalakan api kemarahan dalam diri Hermione. Ia berjalan beberapa langkah, mantap dan tegas. Matanya menatap kedalam mata Harry dengan dingin dan kemarahan. Mereka hanya berjarak bererapa meter lagi. hermione mendongak untuk menatap Harry, mata Harry penuh kerinduan, penuh perminta maafan. Tapi itu tidak cukup bagi Hermione, ia menamparnya.

Semua orang menahan nafas.

"Tega-teganya kau," desis Hermione."Kau ambil puteraku dariku dan pergi tanpa penjelasan. Tega-teganya," Emosi mengambil alih pikirannya. Ia menarik-narik kemeja Harry, kemudian mendorongnya sekuat tenaga."Tega-teganya kau melakukan itu," teriaknya. Air mata mengaliri pipinya.

"Hermione, tenanglah-" ujar Ginny.

"Tidak, Gin. Tidak, aku tak bisa tenang," suara Hermione penuh rasa sakit dan amarah."Lelaki ini," ini menunjuk Harry dengan jari telunjuknya,"Telah menghancurkan hidupku,"

"Maafkan, aku, Hermione. Aku sungguh minta maaf," ujar Harry.

"Maaf saja tidak cukup, Harry"

"Aku tahu," Harry berhenti sejenak,"Aku tahu itu. aku seharusnya tidak mengambil James darimu. Tapi, aku harus. Aku tidak bisa menjelaskannya kenapa. Tapi, aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Ini semua juga sangat berat bagiku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa dirimu dan James. Setiap harinya aku-" Harry tercekat, ia menarik nafas."Aku merindukanmu, Hermione. Aku mengerti jika kau tak bisa memaafkanku," ujarnya pelan. Kemudian ia menatap Bill,"Tolong jaga dan cari orangtua James. Nama mereka Jack dan Jenna Arlington, Bill. Ia ada dalam bahaya sekarang. aku tahu kau akan melakukan yang terbaik untuknya,"

"Kau bisa percaya padaku, Harry" ujar Bill,"Tapi, apa kau mau pergi lagi?"

Harry melirik Hermione, kemudian beralih pada Bill."Ini yang terbaik,"

"Setidaknya beritahu kami kemana kau akan pergi, Nak" ujar Mrs. Weasley.

"Maafkan aku, Mrs. Weasley. Aku tidak bisa," ujar Harry sedih. Kemudian ia menghilang dalam udara.

Ginny berjalan kearah sahabatnya, dan memeluknya erat. Hermione menangis dalam pelukan Ginny. Hermione menepuk-nepuk pundak Hermione, mencoba menenangkannya.

Setelah beberapa menit, Hermione menarik dirinya. Ia mengusap air mata dari pipinya dan tersenyum."Dia...dia...ada disini kan?" tanya Hermione terbata-bata.

Ginny tidak langsung menjawab,"Dia tadi ada disini," jawabnya pelan.

"Tadi?" Hermione mengerutkan keningnya bingung.

"Ia pergi bersama Teddy dan Victoire. Kami pikir ia pergi ke rumah Andromeda atau Bill," jawab Ron dari belakang adiknya.

"Ermione," panggil Fleur."Ini ada teh, minumlah" Fleur mengulurkan secangkit teh hangat kepada Hermione.

Hermione mengambilnya."Terima kasih, Fleur," ia meneguk teh itu sedikit."Ini enak sekali,"

Fleur tersenyum,"Aku akan keatas untuk mengecek anak-anak," ujarnya kemudian keluar dapur.

Seekor kancil masuk menembus dinding, tentu saja itu patronus. Mata semua orang tertuju pada Patronus itu. patronus itu membuka mulutnya dan bicara menggunakan suara Andromeda Tonks,"James, Teddy dan Victoire berada dirumahku. Biarkan anak itu tidur disini. Ia butuh istirahat," kemudian patronus itu buyar menjadi kabut putih keperakan.

Bill menghela nafas lega.

Ginny tersenyum,"Kau mau menemuinya, Hermione?"

Dulu Hermione sangat ingin bertemu dengan puteranya. Jika kesempatan ini datang kepadanya beberapa tahun yang lalu, sebelum ia menyerah mencari puteranya itu. ia akan mengangguk tanpa keraguan. Tapi, sekarang, ia malu, ia takut jika James tidak menerimanya. Ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Hermione akhirnya menggelengkan kepala pelan,"Tidak, Gin. Tidak sekarang,"

"Baiklah," Ginny menghela nafas,"kau mau disini atau kuantar pulang?"

"Aku ingin mendengar keseluruhan ceritanya," ujarnya."Tapi bagaimana dengan Draco dan Scorpius,"

Draco Malfoy telah memilih membela orde, begitu juga ibunya, Narcissa. Sementara ayahnya, Lucius, masih saja setia dengan para pelahap maut. Alasan Draco Malfoy, sebagian besar, karena cintanya kepada Ginny Weasley. Untuk mempertahankan cintanya kepada gadis itu. enam tahun setelah James lahir, putera mereka, Scorpius yang sekarang berusia delapan tahun menyusul. Tapi, anehnya, pasangan yang pastinya mempunyai kisah yang menarik ini belum memutuskan untuk menikah juga. Ginny tinggal bersama Draco, Narcissa dan puteranya, Scorpius.

Draco Malfoy bekerja sebagai auror, karena hanya Departemen itulah yang belum berhasil dilumpuhkan Pangeran Kegelapan. Dia berubah. Ya, semua orang itu bisa berubah. Narcissa Malfoy, entah apa yang dipikirkannya, ia ikut puteranya yang sangat dicintainya itu. menyeberang lautan yang belum pasti dan sangat beresiko. Scorpius Black Malfoy, lahir pada 1 Agustus 2006. Mirip sekali dengan ayahnya, kecuali matanya yang berwarna coklat hangat, persis mata ibunya. Dan mata itu pun memancarkan sikap yang serupa ibunya.

"Lupakan mereka. Mereka yang memilih pergi ke makan malam mewah itu," ujar Ginny.

"Kau benar-benar bukan ibu yang baik," gumam Hermione dengan nada sarkatis, tapi tujuannya tak lebih dari bercanda.

"Dimana kau mau mendengarkan ceritanya?" tanya Ginny tak menghiraukan komentar Hermione sebelumnya.

"Dirumahku, please"

"Setuju," ujar Ginny dengan kegirangan yang tardengar berlebihan. Ia mengulurkan tangannya, hendak ber-apparate.

"Hei, tunggu," Ron memotong,"Aku ikut dengan kalian," ia berjalan dan menyentuh pundak Hermione.

"Hermione?" tanya Ginny.

"Baiklah, Ron. Pegangan yan kuat," ujar Hermione. Kemudian ia menerima uluran tangan Ginny dan mereka bertiga hilang kedalam udara.

Harry Potter ber-apparate ke sebuah gubuk kecil dipinggir telah ia sewa dari seorang nelayan. Malam itu langit Scotlandia bergemuruh karena petir. Dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebat. Ombak menyambar pesisir dan pantai menjadi pasang.

Gubuk itu hanya terdiri dari satu ranjang kecil bekas yang ia beli dari si penyewa gubuk. Harry mengganti pakaiannya dan segera tidur terlentang diranjangnya yang lapuk. Memikirkan segala kejadian yang telah terjadi malam itu. kalau saja ia bisa mengatakan kenapa ia harus pergi, pasti keadaan tidak akan serumit ini. Kalau saja ia mengatakannya, mungkin Hermione akan memaafkannya. Kalau saja...

Hogwarts, 13 tahun yang lalu.

Harry Potter berjalan menyusuri koridor Hogwarts, mengenakan jubah gaibnya, agar orang-orang tidak mengenalinya. Ia berhenti didepan Gorgoyle penjaga kantor kepala sekolah. Ia melihat sekelilingnya, saat ini sedang jam pelajaran, keadaan di Hogwarts sangat sepi. Ia berbisik, mengucapkan passwordnya,"Permen Lemon,"

Gorgoyle itu terangkat, menunjukkan tangga memutar. Harry menaiki tangga itu. ia berdiri di kantor kepala sekolah.

Minerva McGonnagal duduk dibelakang mejanya, kepala sekolah yang baru, menatap Harry dengan pandangan sedih.

"Profesor anda memanggil saya?" tanya Harry.

"Ya, Harry" ia mendesah,"Duduklah,"

Harry duduk didepan Kepala Sekolah Hogwarts yang baru."Ada masalah apa anda memanggil saya kemari? Bukankah ini terlalu berbahaya," ujar Harry.

Minerva McGonnagal berdiri dan berjalan kearah pintu disamping Harry. Pintu yang digunakan untuk menyimpan Pevensieve. Ia mengucapkan sesuatu dan pintu menjeblak terbuka secara ajaib, muncullah Pevensieve.

"Bagaimana kabar James, Harry?" tanya Minerva McGonnagal.

"Dia...dia baik-baik saja," Harry berhenti,"Tapi saya tidak yakin anda memanggil saya kemari untuk menanyakan James,"

Minerva McGonnagal mengangkat tongkatnya kepelipis."Kau benar," ia mendesah dan menarik seutas tali elastik berwarna keperakan dari kepalanya. Kemudian menjatuhkannya ke arah Pevensieve. Ia berbalik menatap Harry."Kemarilah, Harry. Ada sesuatu yang perlu kau lihat,"

Harry berjalan kearah Pevensieve, dan menenggelamkan dirinya kedalam air didalamnya. Ruangan kepala sekolah berubah dan hilang. Ia sekarang berdiri disebuah ruangan dengan banyak meja pendek bulat yang dibuat bertingkat dan sebuah bola seukuran bola bowling diletakkan disetiap meja. Ia sadar ruangan apa ini, ruang kelas ramalan.

Dihadapannya Minerva McGonnagol bertanya,"Apa yang sedang kau bicarakan, Sybil?"

Sybil Trelawney, guru ramalan nyentrik dan aneh itu menatap Minerva McGonnagal, tapi tidak benar-benar menatapnya. Pandangannya kosong, maksudnya benar-benar kosong, matanya berwarna putih.

"Seorang anak lelaki akan terlahir dari penerima takdir sebelumnya, untuk sekali lagi mengulangi sejarah. Seorang anak lelaki, seorang dan satu-satunya, bagi orang yang telah selamat dari Pangeran Kegelapan. Yang terlahir bersamaan matinya bulan Juli. Yang terlahir bersama ayahnya. Dia akan bertarung dan melawan Pangeran Kegelapan, itulah takdirnya. Ia akan hilang dari orangtuanya dan tumbuh dengan orangtuanya. Sekali lagi, ayah dan anak bertemu dan bersatu. Kekuatan terbentuk untuk mengalah Pangeran Kegelapan. Ditangannya nasib dunia ditentukan. Kemenangannya akan menjadi kemenangan kita, kekalahannya akan menjadi akhir," ujar Sybil Trelawney dengan suara serak dan mengerikan, persis yang didengar Harry saat ia berusia tiga belas tahun.

Mata Sybil Trelawney perlahan kembali normal, bola matanya terlihat dan berwarna coklat gelap. Sybil Trelawney menggelengkan kepalanya, terlihat bingung."Profesor," ujarnya,"Apa yang tadi saya katakan?"

Minerva McGonnagal menggelengkan kepalanya,"Tidak ada, Sybil. Tidak ada..."

Kemudian ia kembali ke kantor kepala sekolah. Butuh semenit bagi Harry untuk mencerna semua itu. kemudian ia menatap Minerva McGonnagal dengan pandangan ngeri. Menanyakan pertanyaan tanpa kata-kata.

"Benar, Harry" Minerva McGonnagal mengangguk,"Sebuah ramalan baru telah lahir,"

"Ini tentang James. Aku tidak bisa membiarkannya hidup dengan beban sama yang aku tanggung," ujar Harry terbata-bata.

Minerva McGonnagol menyihir botol dari udara dan memasukkan kenangannya kedalam botol itu. secara sihir, pintu itu menutup, menutupi Pevensieve.

"Duduklah, Harry. Kita perlu membahas ini," ujar Minerva McGonnagal. Ia berbalik kearah kursinya.

Harry menatap kearah foto Albus Dombledore dan Severus Snape, keduanya kosong. Kemudian berjalan kembali dan duduk.

"Aku perlu mengutarakan kesimpulanku disini," ujar Minerva McGonnagal, kemudian ia menarik nafas,"'Seorang anak lelaki akan lahir dari penerima takdir sebelumnya, untuk sekali lagi mengulang sejarah' bagaimana menurutmu, Harry?"

"Seorang anak lelaki akan lahir dari penerima takdir sebelumnya. Penerima takdir...kemungkinan adalah saya. Sementara anak lelaki itu akan menjadi putera saya, James. Sekali lagi akan mengulang sejarah,"

"Betul. Sekarang, 'Seorang anak lelaki, seorang dan satu-satunya, bagi orang yang telah selamat dari Pangeran Kegelapan. Yang terlahir bersamaan matinya bulan Juli. Yang terlahir bersama ayahnya'?"

"Saya selamat berkali-kali dari Pangeran Kegelapan, jadi mungkin itu hanya untuk penjelas. James lahir pada tanggal 31 Juli, sama seperti hari lahir saya,"

"'Dia akan bertarung dan melawan Pangeran Kegelapan, itulah takdirnya. Ia akan-" Minerva McGonnagal berhenti.

"hilang dari orangtuanya dan tumbuh dengan orangtuanya" Harry melanjutkan. Kemudian matanya membesar karena kengerian."Profesor..."

"Ya, Harry. Ini yang kutakutkan, James akan hilang darimu,"

"Tapi, Profesor saya tak bisa kehilangannya. Saya harus menghentikannya-"

"Tidak, Harry" Profesor McGonnagal memotong."Sebuah ramalan adalah kemungkinan. Ini bisa terjadi dan tidak bisa terjadi. Itu hanya berasal dari pilihan kita. Seperti dengan ramalan sebelumnya. Pangeran Kegelapan memutuskan untuk membunuh anak lelaki dalam ramalan. Dan keputusannya itulah yang menghancurkannya. Dengan ramalan ini, kita mempunyai satu harapan baru, harapan baru yang penuh resiko. Aku sudah memikirkan ini baik-baik. kita harus memilih untuk membuat ramalan itu menjadi kenyataan,"

"Tidak, Profesor. Saya tidak bisa-"Harry berdiri tapi perkataannya dipotong.

"Dengar, Harry ini satu-satunya harapan yang kita miliki. Kita harus melakukan ini. Pikirkanlah, pikirkanlah seluruh orang didunia. Pikirkan mereka, jika kita kalah. Dunia akan dihancurkan oleh Pangeran Kegelapan. Orang-orang akan hidup dalam ketakutan, kengerian. Pikirkanlah mereka baik-baik, Harry. Pikirkan ayah dan ibumu, yang telah mengorbankan nyawa mereka. Untukmu, untukmu agar kau bisa hidup dan mengalahkan Pangeran Kegelapan,"

Harry kembali jatuh terduduk dikursinya. Ia diam dalam satu menit yang panjang dan menyakitkan. Kemudian akhirnya berkata,"Apa yang harus kulakukan?"

"Kau harus memberikan James kepada orang lain. Seseorang yang pasti akan menjaganya dengan baik. dengan begitu kau sudah membuat ramalan itu terpenuhi," jawab Minerva McGonnagal.

"Bagaimana dengan Hermione?" tanya Harry pelan.

"Kita harus menyembunyikan semua ini dari semua orang," ujarnya,"bahkan dari Hermione."

Harry melakukan semua itu dengan hati yang terluka, hatinya sakit. Terutama ketika ia harus pergi dari Hermione. Itu bukan keharusan, itu hanya sekedar pilihannya. Ia tidak bisa melihat Hermione menangisi kepergian James. Sementara ia sendiri yang menyerahkan James kepada orang lain. Ia tidak tahan dengan itu. maka, ia memilih lari, pergi. Bukan pilihan yang bijak, tapi itu pilihannya. Ia memilih untuk menahan sakitnya kerinduan. Dan berdoa agar semuanya berjalan sesuai ramalan. Kecuali, tentu saja, beberapa kata terakhir.

Selama tiga belas tahun, Harry berkelana, ia tidak punya tempat tinggal khusus. Ia datang ke suatu tempat dan pergi beberapa minggu kemudian. Ia sudah pergi ke hampir seluruh penjuru dunia. Dari Afrika hingga Amerika. Sekaligus berjuang menemukan hocrux yang masih tersisa, tapi ia tidak menemukannya.

Harry tidak merasakan, air mata mengaliri pipinya. Ia menutup matanya. Pilihan terbaik memang tidak selalu mudah.