Aku Tak Bisa Menganggapmu Lebih dari Sekedar Teman
James Arlington, mungkin James Potter sekarang, membuka matanya. Tapi setelah beberapa detik ia menetup kembali matanya, berharap semua hal yang terjadi kemarin hanyalah mimpi. Itulah yang biasa ia lakukan jika harinya buruk atau ia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi, ketika ia membuka matanya dan melihat langit-langit tinggi mengerucut membentuk segitiga, ia tahu harapannya tidak dikabulkan.
James bangkit duduk dan melihat bahwa ia masih mengenakan sepatunya. Ia tertawa sendiri akan ini. Jika ibunya disini ia akan memarahi James karena tidur tanpa sikat gigi, dan lebih buruk, memakai sepatu. Tapi detik selanjutnya, pikiran ini malah membuatnya sedih. Ibunya tidak disini, ia bahkan tidak tahu ibunya dimana. Hidup atau...mati.
Pintu dibuka, Teddy Lupin masuk."Ayo, turun. Nenekku sudah menyiapkan makanan," ujaknya sambil tersenyum.
James mengangguk dan membalas senyuman Teddy."Dimana kamar mandinya?" tanyanya sambil beranjak berdiri.
Teddy menunjukkan kamar mandi dilantai dua. James mencuci muka dan menggosok gigi dengan sikat gigi yang diberikan Teddy. Mereka kemudian turun kelantai bawah. Teddy menunjukkan arah menuju dapur. Didapur duduk seorang wanita tua berambut hitam dengan rambut putih yang menyeruak disela-selanya. Matanya segelap malam, tapi raut mukanya ramah. Disampingnya, James terkejut, duduk Victoire.
"Pagi, James. Bagaimana tidurmu?" tanya nenek Teddy.
James tersenyum,"Baik"
"Duduklah dan makan," ujar nenek Teddy ramah.
"Terima kasih, Mrs. Tonks" James tampak ragu-ragu sesaat,"Mrs. Tonks, boleh aku bertanya sesuatu?"
Andromeda Tonks menatap James sesaat sebelum menjawab dengan buru-buru,"Ya, tentu saja. Ada apa, nak?"
"Mmm...ini tentang orangtuaku," jawab James sambil menundukkan kepala,"Apakah ada berita tentang mereka?"
"Orde akan menyelidikinya. Orde tengah menyelidikinya. Aku yakin dalam satu atau dua hari orde akan mendapatkan informasi tentang mereka," Jawab Andromeda Tonks.
"Ya, aku harap juga begitu," ujar James lemah.
"Harry yang meminta ini," gumam Andromeda Tonks.
"Maaf, Mrs. Tonks?" tanya James.
"Ayahmu," ulang Andromeda,"Harry yang meminta ini,"
"Oh,"
"James, jangan terlalu keras padanya. Aku yakin ia melakukan semua dengan tujuan yang jelas. Harry selalu adalah orang yang baik,"
"Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan sekarang, Mrs. Tonks" James mengakui.
"Aku tahu apa yang harus kau pikirkan," James mendongak mendengar ini,"makan," Andromeda melanjutkan dengan mantap. James tersenyum dan mulai memakan sarapannya.
Setelah beberapa menit, James sudah memakan setengah dari roti pangangganya dengan lahap, Andromeda Tonks berdiri dan berkata,"Maaf, aku harus pergi. Ada urusan, aku akan kembali sewaktu makan siang. Teddy?"
"Ya, Nek"
"Jaga teman-temanmu, oke?"
"Oke, Nek"
"Senang bertemu denganmu, James" nenek Teddy menoleh kearah James.
"Senang bertemu dengan anda juga, Mrs. Tonks,"
Andromeda Tonks tersenyum dan menghilang kedalam udara. setelah nenek Teddy menghilang James bertanya,"Kau disini sepagi ini?" tanya James kepada Victoire.
Victoire menggelengkan kepalanya,"Aku tidur disini," ia menatap James dan menyadari anak lelaki itu menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya."Ayah datang kemarin malam untuk mengajakku pulang dan...kau tahu..." ia berhenti sejenak dan menatap James, yang masih memandangnya dengan pandangan bertanya-tanya,"memeriksamu. Tapi aku memutuskan untuk tinggal disini. Nenek Meda bilang, boleh-boleh saja,"
"Dan kenapa kau menginap disini?" kali ini Teddy yang bertanya."Aku tak mengundangmu,"
Kali ini wajah Victoire memerah."Aku Cuma sedang tidak ingin dirumah setelah kejadian semalam," gumamnya.
Kata-kata Victoire mengingatkan James akan kejadian semalam. Seharusnya, kejadian itu sudah tak memberi efek lagi bagi James. Tapi ternyata efeknya masih bertahan lebih lama dari yang diharapkan. James menunduk dan tiba-tiba menjadi sangat tertarik pada piringnya.
Victoire baru saja menyadari apa yang dikatakannya dan segera menutupi mulutnya. Matanya menatap James, terlihat bersalah.
"Mmm...kau mau membicarakannya?" tanya Victoire ragu-ragu, memecahkan kesunyian yang telah berjalan beberapa menit.
James mengangguk, tak ada gunanya juga menyimpan perasaannya lebih lama."Kemarin adalah hari ulang tahun terburuk dalam hidupku," James tersenyum pahit," pertama, tiga pelahap maut masuk kerumahku, memberiku kutukan cruciatus dan menendang perutku. Lebih parah lagi mereka menculik ayah dan ibuku, atau yang tadinya kuanggap sebagai ayah dan ibuku. Seharusnya aku bisa menyelamatkan mereka waktu itu, paling tidak aku bisa berusaha, sehingga aku tidak merasa bersalah seperti ini. Tapi lelaki itu, Harry Potter, anak Yang-Bertahan-Hidup, atau semacam itulah, yang mengklaim adalah ayah kandungku dan berusaha menyelamatkanku, menghalangiku. Memang beralasan, tapi aku tidak peduli lagi pada hidupku jika orangtuaku hilang dan tidak jelas nasibnya seperti ini, aku begitu cemas dan takut kalau-kalau hal buruk terjadi pada mereka. Kalau-kalau aku akan kehilangan mereka untuk selamanya. Aku tidak bisa merasakan apapun pada Harry sekarang, tidak sedikitpun peduli karena ia ayah kandungku ataupun karena rasa berterima kasih karena ia menyelamatkanku. Aku tahu seharusnya aku tidak memiliki perasaan ini. Tapi, aku memilikinya. Dan ia datang padaku, bilang kalau aku bukan anak kandung orangtuaku. Itu hanya menambah kebencianku terhadapnya. Selain itu aku juga sangat sedih dan marah. Sedih karena aku bukan anak ayah dan ibu yang sudah kuanggap seperti orangtuaku sendiri, dan marah, karena aku merasa dibohongi," James mengakui semuanya.
"Pertama, James" ujar Victoire lembut,"jangan pernah berpikiran untuk mati," James membuka mulutnya, hendak memprotes, tapi Victoire memotong,"jangan menyelaku," ia berhenti sejenak,"hidup itu bukan itu dipermainkan. Kau tak bisa bilang, kau ingin mati begitu saja. Diluar sana, banyak orang berharap bisa hidup lebih lama lagi. dan ada orang-orang lain yang selalu mengeluh dengan hidupnya dan berharap mati secepatnya. Tapi, hidup tidak pernah mudah. Kadang ada masalah-masalah, tapi kita harus menghadapinya, bukan menghindarinya. Kita ingin melindungi orang-orang yang kita sayangi, itu tindakan benar. Tapi, kita juga harus memperjuangkan hidup kita sendiri. Hidup ini adalah berkah, kita hidup melalui penderitaan orang lain. Dan kau harus menghargai usaha ibumu itu, yang melahirkanmu dengan penuh perjuangan. Kau harus menghargai setiap rasa sakit yang ia rasakan. Hanya untukmu. Kau harus mengingat orang-orang yang mencintaimu, yang akan menangis untukmu ketika kau pergi. Kau harus mengingat orang-orang yang kau cintai, yang akan kau tinggalkan. Jangan pernah bermain-main dengan kehidupan, James. Kau lebih berharga dari yang kau kira.
"Kedua, kau tak perlu sedih karena ternyata kau bukanlah anak ayah dan ibumu. Tidak, bukan, mereka adalah ayah dan ibumu. Walaupun mereka tidak berhubungan darah denganmu. Mereka menganggapmu sebagai putera mereka, dan amat sangat menyayangimu. Kau tidak perlu marah kepada mereka, karena mereka hanya takut, jika mereka memberitahumu yang sebenarnya, mereka hanya akan menyakitimu, mereka hanya akan kehilanganmu.
"Ketiga, Aku tidak mau berkomentar terhadap Harry Potter," James meringis mendengar ini,"Keempat, aku dan Teddy ada disini bersamamu. Kami akan membantumu menemukan orangtuamu dan selalu mendukungmu,"
James menatap Victoire dan tersenyum,"Terima kasih,"
"Sudahlah, cepat habiskan sarapanmu dan mandi. Kau tampak begitu...berantakan," ujar Victoire.
"Benarkah?" ujar James, ia mencoba merapikan rambutnya. Yang membuat Victoire meledak tertawa.
Sesudah sarapan, James langsung mandi. Teddy sudah meminjaminya baju. Sedikit kebesaran, hanya sedikit. Setelah selesai ia selesai, ia bergabung dengan Teddy dan Victoire diruang keluarga. Ia tersenyum senang ketika melihat burung hantu berwarna putih salju dengan bulu hitam yang menyeruak, tersebar disayapnya, bertengger di lengan sofa, sementara Teddy memberinya makan melalui tangannya.
"Eon," seru James dan berlari untuk membelai burung hantunya. Kalau saja Eon lebih besar, ia akan memeluknya hingga tulang-tulangnya patah."Anak pintar, aku tahu kau akan menemukanku disini,"
Tepat saat itu, tiga burung hantu lainnya masuk dari arah dapur dan terbang kearah mereka, membawa sepucuk surat di paruh mereka. Salah seorang burung hantu, yang mungil dan berwarna coklat muda terbang kearah James, menjatuhkan surat dari Hogwarts kepangkuan James.
Dua burung hantu lainnya melakukan hal yang sama kepada Victoire dan Teddy."Satu Agustus," Teddy bergumam, burung hantu dari Hogwarts akan datang pada tanggal satu Agustus. Tiga burung hantu itu bertengger dimeja, didepan sofa, tiga pasang mata burung hantu menatap mereka dengan pandangan mengiba.
"Oke, aku akan mengambilkan makanan untuk kalian," ujar Teddy sambil menarik nafas. Ia pergi kearah dapur.
James membuka suratnya dan melihat daftar buku yang harus ia beli tahun ini."Oh, sial. Bagaimana aku harus membeli semua ini?" desah James.
"Aku yakin ayah dan ibumu punya simpanan di bank, dirumah kalian mungkin, kalau kau menolak kemungkinan itu. kau bisa meminjam uang dariku atau Teddy atau mengajukan permintaan dana ke Hogwarts," usul Victoire.
"Yeah, benar sekali, Victoire. Aku akan pergi kerumahku lagi," James mendesah dan melemparkan suratnya kemeja.
"Kau takut?" tanya Victoire.
"Jujur atau bohong?"
"Jujur,"
"Ya, sulit mengakuinya. Tapi, ya"
"Tidak sulit, kok. Lihat sendiri,"
James memutar bola matanya.
"Ini, tiga mangkuk makanan dan tiga cangkir minuman untuk tiga burung hantu yang manis," seru Teddy yang baru saja masuk keruang keluarga. Ia meletakkan bawaannya di meja dan duduk diantara kedua sahabatnya dengan muka berseri-seri."Tebak ada apa diamplopku?"
Victoire mengangkat alisnya, kemudian ia terhenyak ketika menyadarinya,"Oh, Tidak mungkin!" serunya tidak percaya.
"Pembetulan," gumam Teddy,"Mungkin," ia memperlihatkan sebuah lencana prefect berlambangkan simbol Gryffindor, singa, ditangannya.
James lupa, Teddy kan kelas lima. Dan ketika kelas lima, 2 prefect, seorang prefect laki-laki dan perempuan akan dipilih mewakili asrama masing-masing.
"Selamat, Ted" ucapku.
"Terima kasih, James" ujarnya sambil tersenyum lebar sekali.
Disampingnya Victoire masih berguma,"Tidak mungkin...tidak mungkin..."
Teddy tidak menghiraukan gumaman Victoire,"Ayo kita main Quidditch," ajaknya. Aku tersenyum dan mengiyakan.
Hal yang paling aku James adalah Quidditch. James menjadi pemain tetap ketika kelas dua, dan tak pernah gagal menangkap snitch, James adalah seorang seeker. Teddy tidak bermain dalam tim. Sementara Victoire adalah seorang chaser hebat. Semua orang bilang jika Victoire mirip sekali dengan pamannya, Charlie, ketika ia berada diudara.
Mereka 'mengusir' ketika ketiga burung hantu itu secara paksa setelah makanan dan minuman mereka habis. Teddy, walaupun tidak ikut dalam tim, ia punya hampir setengah lusin sapu, lima tepatnya. Itu dikarenakan karena selama lima tahun ini, ia hanya mendapatkan sapu sebagai hadiah ulang tahun dari neneknya. Teddy murid yang cerdas, tapi banyak berguru pada Paman Victoire, Goarge Weasley, sehingga dibelokkan kearah yang salah. Ia suka mengotak-atik sesuatu, dan hampir semua sapu terbangnya sudah ia otak-atik, dimodifikasi. Yang membuat James agak ragu-ragu.
"Ini sapu terbang Pembersih X231," ujar Teddy, memperlihat sapu terbang bergagang biru dan bulu-bulu sapunya terenggang-enggang."Kau lihat renganggan ini," ia memutar jari telunjuknya disekitar bulu-bulu sapu."Renganggan ini membuat angin memacu sapu Pembersih X231 lebih cepat," Teddy tersenyum percaya diri,"Kecepatannya menyamai Nimbus 2001," James hanya bisa tersenyum tidak yakin.
"Nah kalau yang ini, Nimbus 2003," ia menunjukkan sapu terbangnya yang lain, gagangnya berlekuk-lekuk kasar,"aku mengganti gagangnya. Kau lihat ini," ia mengelus gagang sapu itu,"sangat baik untuk bermanuver,"
"Mmm...bagaimana kalau yang itu?" tanya James, menunjuk sapu bergagang merah.
"Firebolt pertama," jawab Teddy,"sayangnya belum aku modifikasi-"
"Aku ambil yang itu," ujar James buru-buru, memotong kata-kata Teddy.
"Baiklah, tapi itu belum kumodifikasi. Jadi kemampuannya hanya rata-rata firebolt biasa," ujar Teddy.
"Tak apa-apa," gumam James sambil tersenyum.
"Oke, aku akan mengambil sapu terbang Nimbus terbaru, yan sudah kumodifikasi tentunya, tapi modifikasinya masih rahasia," ujar Teddy, ia mengambil sapu salah satu sapu terbang bertuliskan Nimbus, X34."Nah, Victoire, kau memilih sapu yang mana?"
"Sapu ini," ia menunjuk satu-satunya sapu yang belum disebutkan Teddy.
"Itu juga belum kumodifikasi karena itu hadiah darimu," ujar Teddy sambil tersenyum. James mengerutkan kening, ia tidak tahu kalau salah satu sapu Teddy pemberian Victoire.
Mereka kemudian bermain di halaman, hanya memperebutkan quaffle semenjak hanya ada tiga dari mereka.
"Hei," seru Teddy dari angkasa,"Mau lihat modifikasi sapu terbangku?" tanyanya. James dan Victoire tidak menjawab, tapi Teddy menganggapnya sebagai iya."Perhatikan baik-baik," Teddy membungkuk kesapu terbangnya dan melakukan sesuatu. Sapu terbangnya langsung meluncur keudara dan berbelok tajam, bermanuver dengan manuver paling sulit, seperti yang dikatakan majalan-majalah olahraga sihir, kemudian menukik tajam kebawah. Tapi sepertinya ada yang salah, karena Teddy terus menukik dan menabrak tanah. Sapu terbangnya patah dan Teddy terpental.
"Teddy!" seru Victoire cemas. Ia langsung meluncur begitu cepat menuju Teddy. James juga melakukan hal yang sama, tapi Victoire tiba lebih dulu. Ia bisa melihat kecemasan Victoire. Dan itu membuat James merasa, iri.
"Aargh," Teddy mengerang kesakitan sambil memegangi lengannya. Rambut biru elektriknya berubah menjadi merah kelam, seperti kalau dia sedang tidak senang dengan sesuatu.
"Biar kulihat," Victoire menyentuh lengan Teddy pelan. Teddy mengerang ketika Victoire memeriksanya.
James memperhatikan mereka berdua, terutama Teddy yang menatap Victoire aneh."Sudah kubilangkan, kau akan cocok sekali menjadi Penyembuh," ujar Teddy.
Victoire tidak membalas tapi menekan lengan Teddy keras-keras, Teddy langsung mengerang kesakitan."Hei, untuk apa itu?" protesnya.
"Untuk mengecek apakah terjadi kelumpuhan saraf atau tidak," ujar Victoire sambil tersenyum,"Ternyata tidak. Hanya terkilir,"
"Kelumpuhan syaraf?" gumam Teddy tidak percaya. James menatap mereka berdua dari belakang, merasa tersingkirkan. Teddy mengalihkan pandangannya.
"Anak-anak, kalian ada disana?" tanya seseorang dari dapur. Suara Nenek Teddy.
"Iya, Nek. Kami disini," jawab Teddy.
Nenek Teddy muncul dari ambang pintu, tersenyum dan berjalan mendekati kami. Senyumnya menghilang ketika melihat memar dilenan cucunya dan sapu terbang yang terbelah menjadi dua."Teddy, apa lagi yang kaulakukan?"
"Tidak apa-apa, Nek. Hanya-"
"Modifikasi yang gagal," Victoire melanjutkan sambil menyeringai pada Teddy,"Tapi ia tidak apa-apa. Hanya, terkilir biasa,"
"Teddy, sudah kubilang untuk menghentikan modifikasi-modifikasimu ini," ujar Nenek Andromeda kesal sambil membantu Teddy berdiri."Oh, dan James," James menoleh ketika mendengar suaranya disebut,"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,"
Dari ambang pintu muncul tiga orang lagi. dua orang lainnya sudah pernah ia lihat kemarin. Lelaki bernama Ronald yang memukul Harry. Dan yang seorang lagi perempuan berambut merah yang James tidak ketahui namanya, tapi ia sudah melihatnya kemarin. Tapi wanita berambut coklat keriting yang muncul paling terakhir sama sekali asing bagi James, tapi disaat bersamaa juga terasa begitu familiar.
Victoire dan Teddy menatapnya dengan pandangan aneh, James tidak mengerti, mengirimkan tatapan bertanya-tanya. Victoire membisikkan sesuatu ditelinganya,"Wanita berambut coklat itu teman keluargaku, Bibi Hermione. Kau kenal nama itu?"
Ya. Itu adalah jawaban yang tidak diutarakan James. Hermione adalah wanita yang kemarin disebut-sebut sebagai ibunya.
"Jadi kau dan Hermione punya seorang putera? " kata Bill Weasley kemarin hari kepada Harry Potter.
Ia menatap wanita itu lagi. apakah wanita ini adalah ibunya? Ibu kandungnya?
"Anak itu diserang pelahap maut dirumahnya," ujar Ginny Weasley.
Hati Hermione terlonjak dan berdebar karena cemas, puteranya dalam bahaya dan ia tidak melakukan apapun.
"Harry menyelamatkannya, tapi orangtuanya diambil pelahap maut," Ginny Weasley melanjutkan.
"Jika anak itu mirip Harry. Rencana mereka akan berhasil," gumam Ron Weasley. Menjatuhkan diri kesofa, disebelah adiknya.
"Kita harap saja James lebih berotak dari pada Harry," ujar Ginny.
"Yah, itu mungkin," Ron mendesah,"sejak ibunya Hermione. Seharusnya dia sedikit punya otak,"
Hermione tertawa,"Jadi seperti apa James itu?"
"Secara fisik?" tanya Ginny.
"Ya, dua-duanya"
"Aku tidak mengenalnya. Tapi menurutku, secara fisik ataupun emosional, ia mirip Harry. Penampilannya persis Harry, rambut hitam berantakan, mata hijau, tanpa bekas luka atau kacamata," ujar Ginny.
"Anak itu lebih tampan dari Harry, dan pakaiannya lebih keren dari pada pertama kali aku bertemu Harry," tambah Ron yang menyebabkan kedua wanita lainnya tertawa.
"Dia emosional," ujar Ron."Kau ingat ketika ia menjeblak pintu dapur dan berteriak-teriak marah?"
"Persis seperti apa yang akan dilakukan Harry," ujar Ginny setuju.
"Tapi tidak mau kalah, seperti ibunya" ujar Ron.
"Oh, iya. Kau harus melihat argumentasinya dengan Harry," Ginny berhenti,"Oh dan kupikir ia suka kepada Victoire," serunya dengan nada bermimpi.
"Tak ada anak laki-laki yang tidak menyukai Victoire, Gin" Ron mendesah.
"Maksudku seperti suka dalam jatuh cinta, Ron"
"Benarkah?" tanya Hermione.
"Tak berkomentar, mereka baru empat belas" ujar Ron, tapi Ginny mengangguk dan membelalakkan mata kepada kakaknya.
"Aku ingin sekali bertemu dengannya," gumam Hermione.
"Besok...bagaimana besok kita pergi kerumah Andromeda?" usul Ginny.
Hermione mempertimbangkan ini.
"Oh, ayolah, Mione?" bujuk Ginny,"cepat atau lambat kau akan bertemu dia,"
Pada akhirnya Hermione hanya mengangguk.
Esoknya, Hermione, Ginny dan Ron yang menginap dirumah Hermione, ber-apparate ke The Burrow, menyempatkan mampir sebelum kerumah Andromeda ketika makan siang. Tapi ternyata Andromeda Tonks ada disana, tengah berbincang-bincang dengan Mr. dan Mrs. Weasley.
"Hermione," Mrs. Weasley berseru dan merangkul Hermione erat kepelukannya."Aku tidak menyangka kau dan Harry-" ia berhenti,"Oh, kenapa kau harus menyembunyikan semua ini dari kami?"
"Maaf, Mrs. Weasley"
"Dan Harry, ia tega sekali mengambil puteramu dan pergi begitu saja, lain kali bertemu dia akan aku cincang dia," tentu saja Mrs. Weasley hanya bercanda.
"Mom, aku pegang kata-katamu," ujar Ron dari belakang Hermione.
"Oh, diamlah. Ronald" desah Mrs. Weasley.
Hermione hanya bisa tersenyum. Kemudian Andromeda Tonks datang memeluknya, sekali lagi."Aku baru akan datang kerumahmu. Aku ingin bertemu James," ujar Hermione.
"Dia anak yang baik, James. Kau takut ia tidak menerimamu?" tanya Andromeda Tonks.
"Ya, itu benar," Hermione mengakui.
"Jangan khawatir. Aku bisa menjamin, setidaknya ia tidak akan marah padamu. Kalaupun iya, itu tidak akan bertahan lama," ujar Andromeda menenangkan."Bagaimana kalau kita kerumahku saat makan siang?"
"Baik, Andromeda" Hermione tersenyum, ia kemudian beralih kepada Mr. Weasley.
"Hermione, bagaimana kabarmu?" tanya Mr. Weasley.
"Baik, bagaimana kabar anda, Mr. Weasley?"
"Baik, bagaimana dengan pekerjaanmu. Apa yang orang-orang ini lakukan, huh?"
Jadi begitulah, mereka berbincang-bincang, kebanyakan tentang pekerjaan Hermione. Selain itu Ron dan Ginny menginformasikan perkembangan Orde terbaru kepada Hermione. Sejauh mana mereka mampu memojokkan Pangeran Kegelapan, sejauh ini tidak ada kemajuan sama sekali.
"Yah, paling tidak kami masih bisa mempertahankan Hogwarts," ujar Ron.
"Kepergian Harry membuat orang-orang tidak lagi percaya kepada Orde," desah Ginny.
Pada akhirnya, siang yang ditunggu-tunggupun telah tiba. Hermione, Ginny, Ron dan Andromeda Tonks ber-apparate ke ruang keluarga rumah Tonks.
Hermione melihat seekor burung hantu bertengger dilengan sofa."Burung hantu siapa ini?" tanya Hermione sambil mengelus-elus burung hantu itu.
"Bukan milik seseorang yang aku tahu," jawab Ron.
"Mungkin itu milik James," ujar Andromeda."Aku pernah melihat burung hantu itu memberi surat kepada Teddy. Ia bilang itu dari James,"
Hermione melihat kearah burung hantu itu, apa benar burung hantu ini milik James, milik puteranya?
"Kalau tidak salah namanya Eon," ujar Andromeda.
"Eon, ya?" gumam Hermione,"Nama yang bagus,"
"Kurasa mereka sudah mendapat surat mereka," Ginny menunjuk kearah tiga amplop yang berserakan dimeja dan tiga mangkuk makanan dan minuman,"tapi diamana mereka?"
"Mereka mungkin ada di halaman," ujar Andromeda. Ia berjalan menuju dapur."Anak-anak kalian ada disana?" teriak Andromeda.
"Iya, Nek. Kami disini," jawab Teddy Tonks dari halaman.
Andromeda Tonks beralih menatap mereka sekali lagi."Tunggu disini sebentar, oke?"
"Baiklah,"
Kemudian Andromeda Tonks keluar menuju halaman.
Satu menit berlalu,"Oh, aku sudah tidak tahan lagi," gumam Ron."Ayo kita keluar," ajaknya.
Ketika Hermiona keluar ia melihat tiga anak, dua anak diantaranya sudah Hermione kenal. Tapi, anak yang ketiga, tanpa diberitahu, Hermione sudah tahu jika ini adalah puteranya. Bagaimana tidak? Penampilannya persis seperti Harry.
Ia menatap wanita itu lagi. apakah wanita ini adalah ibunya? Ibu kandungnya?
James tidak tahu apa yang ia pikirkan, apa yang seharusnya ia pikirkan. Ketika ia memikirkan seorang ibu, ia akan memikirkan Jenna Arlington, ibunya selama empat belas tahun kehidupannya. Ia akan memikirkan bau parfumnya yang khas, rambut kepirangan dan sepasang mata biru langit. Ia akan mengingat pelukannya, ciumannya. Ia akan mengingat Jenna Arlington bukan Hermione, entah siapa, karena James bahkan tidak tahu nama belakang wanita ini.
Mengingat ibunya dan menatap wanita ini, membuat James sedih. Wanita itu seperti pengingat baginya bahwa Jenna Arlington bukanlah ibu kandungnya.
Tapi ia berjalan menuju wanita itu. lebih tepatnya mengikuti ketiga orang didepannnya, atau dua, sementara Victoire mengenggam tangannya. Ia tidak menyurutkan satu langkah apapun. Karena wanita ini adalah seorang yang asing baginya. Ia punya alasan untuk membencinya, tapi tidak ia tidak membencinya. Sebagian besar karena ucapan Victoire tadi. Sebagian lain buka karena hal khusus. Wanita ini hanya seorang wanita.
Wanita ini mempunyai sepasang mata coklat hangat. Dia cantik, tak diragukan. Wanita ini memandangi James dengan pandangan aneh yang membuat James mengedip dan mengalihkan pandangannya.
"Anak-anak bantu aku menyiapkan makanan," perintah Nenek Teddy.
"Tentu," jawab Teddy seketika.
"Kami akan membantu," ujar Ronald dan perempuan berambut merah bersamaan.
"Jangan bertindak bodoh," bisik Victoire dan melepaskan lengan James. Ia berjalan ke dalam rumah dan memberi lirikan terakhir yang menyemangati bagi James.
James melihat kearah langit dan mengambil nafas panjang, ia memasukkan tangannya dalam kantong. Mereka meninggalkannya sengaja disini, bersama wanita ini. Sial, pikir James.
Ia merasa canggung dan tidak nyaman, tapi menghindari wanita ini bukan pilihan tepat, ia akan menghadapinya lagipula. Cepat atau lambat, jika memang yang dikatakan semua orang benar. Dengan satu tarikan nafas panjang. Ia mengeluarkan tangannya dari saku dan mengulurkannya.
Hermione menatap tangan James yang terulur dengan tidak percaya, awalnya ia mengira puteranya tak akan menerimanya. Menjadi ibu bagi James mungkin masih jauh, tapi paling tidak mereka punya awal yang baik.
"James Ar-" James berhenti, bukankah nama aslinya Potter? Tapi ia benar-benar tak ingin menggunakannya. James menggelengkan kepala, menghapus pikiran menggunakan nama Potter."Arlington. james Arlington,"
"Hermione Granger," ujar Hermione, menerima uluran tangan James.
James menarik tangannya."Jadi kau yang mereka bilang ibuku, ya?" ia berhenti sejenak,"Kau tahu ini bukan hal yang mudah. Banyak hal yang terjadi. Dan mungkin, sekarang, aku tak bisa menganggapmu lebih dari sekedar...teman,"
"Tentu, aku bisa menerimanya. Aku mengerti," ujar Hermione. Ia tidak bohong, semua ini bahkan diluar perkiraannya. Dengan mengandalkan sifat Gryffindornya, ia bergerak maju dan memeluk puteranya lembut. Bagi Hermione, mendapatkan puteranya lagi adalah hal terbaik yang bisa ia harapkan untuk saat ini.
James membeku ditempat, tak ada perasaan khusus.
Hermione menarik dirinya dan tersenyum."Well, sebaiknya kita membantu mereka menyiapkan makan siang,"
"Ya, ya. Tentu saja," ujar James setuju.
