AU : I know, I know, it have been ages. And i know...I know...it's not too much. But, hey, I wrote it anywhy. It's just that school and life i guess is driving me crazy. So forgive me my friends. and give me some feeback please...

I'll try to keep writing, guys!


Penglihatan

"Crucio!"

Cahaya merah menyala begitu terang dan menubruk sebuah tubuh. Cahaya itu masuk dan tampak seperti diserap oleh tubuh itu.

"Aaah!" tubuh itu berteriak dan menggeliat menahan sakit.

Harry menarik tongkatnya dan seketika tubuh itu berhenti berteriak. Tubuh itu memeluk dirinya sendiri, seperti seorang bayi yang memeluk tubuhnya sebagai bentuk pertahanan. Tubuh itu mengeluarkan rintihan yang hampir tak bisa didengar.

"Dengarkan aku muggle," ujar Harry. tapi itu bukan suara Harry, suara itu jauh lebih dalam dan serak."Aku tahu kau melihat lelaki itu-" tiba-tiba Harry tercekat. Ia bisa melihat sepasang mata merah menyala menatapnya, matanya sendiri.

"Harry Potter..."

Harry bangun tiba-tiba, ia terduduk, menggapai kacamata yang diletakkannya diseblah bantal. Kaosnya lengket ke tubuh Harry karena mandi keringat. Bekas luka sambaran kilatnya berdenyut menyakitkan dan ia merasa ingin muntah.

Tapi Harry menyisihkan semua ketidaknyamanan itu ketika sebuah kenyataan menghantamnya.

"Dia tahu,"

Tak membuang waktu, Harry langsung berdiri dan meraih tongkatnya. Ia memasukkan semua barang miliknya yang tersisa kedalam sebuah ransel.

Tiga bayangan hitam muncul diluar pondok. Kaca-kacanya pecah, menimbulkan suara bising yang membangunkan pemilik pondok dirumahnya.

Harry berpaling tepat ketika sebuah sosok yang sangat ia benci muncul, tersenyum penuh kemenangan. Mata merahnya berkilat sebelum ia mengangkat tongkatnya dan sebuah cahaya hijau terpancar.

Beruntung, setelah bertahun-tahun bermain quidditch. Harry memiliki reflek yang bagus. Ia mengangkat tongkatnya tepat waktu,"Protego,"

Sebuah tameng tak kasat mata muncul didepannya. Mementalkan mantra Voldemort. Tapi, mantra itu meledakkan semua benda di pondok tersebut. Dua pelahap maut dibelakang Voldemort jatuh ke tanah.

"Kau tak akan bisa mengalahkanku, Nak," ujar Lord Voldemort, suara tak berubah sedikitpun setelah dua anak buahnya tewas.

"Ya, aku bisa," ujar Harry tak menunjukkan satu ketakutan pun.

"Aku akan menemukannya, anak itu, James. Iya kan, Harry? aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri,"

"Kalau begitu aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri,"

Lord Voldemort terlihat begitu marah,"Avada Kedavra," sekali lagi ia berteriak, tapi mantranya hanya menubruk tembok kayu ketika Harry Potter menghilang ke dalam udara.

Lord Voldemort mengacungkan tongkatnya ke langit-langit pondok yang rendah dalam semua kemarahannya yang membakarnya seperti api. Dan ketika ia berteriak, api muncul dari ujung tongkatnya. Membakar rumah itu dan menjadikannya abu besok ketika pagi menjelang.

Tapi, ketika Lord Voldemort menghilang ia tidak tahu bahwa pemilik pondok itu menyelamatkan dua tubuh dari ancaman kehancuran. Ia menyelamatkan tubuh dua pelahap maut itu. walaupun hanya tubuhnya...

Puluhan kilometer dari pondok di pinggir pantai diujung paling utara Skotlandia. Seorang anak lelaki bangun tiba-tiba. Ia melihatnya. ia telah melihatnya.

"Teddy, bangun, Ted. Bangun!" teriak James, membangunkan anak lelaki disampingnya.

"Lima menit lagi, Nek..." gumam Teddy mengantuk, ia menarik selimut menutupi dadanya, dan sesaat kemudian terdengarlah suara dengkuran pelan.

"Ted! Aku bukan nenekmu, sekarang bangun ada yang ingin kuceritakan padamu," james menarik selimut Teddy.

"Aargh, James. Tidurlah ini baru jam dua pagi," protes Teddy.

"Sebenarnya ini jam setengah empat, Ted,"

"Apa bedanya? Ini masih pagi. Kembalikan selimutku,"

"Ted, kau harus mendengarku," seru James,"aku baru saja mendapatkan mimpi itu,"

"Mimpi apa?" tanya Teddy acuh tak acuh.

"Ini tentang kau tahu siapa,"

Ketika tiga kata terakhir disebutkan, Teddy langsung terduduk, terkejut,"Kau mimpi tentang kau-tahu-siapa?" teriak teddy.

"Sssh, Ted. Kau bisa membangunkan seisi rumah," desis James mengingatkan.

"Itu pertanda buruk, James. Astaga. Kau mimpi tentang kau-tahu-siapa. Apa yang kau impikan?"

James menarik nafas sejenak,"Aku-aku melihatnya, Kau-Tahu-Siapa, menyiksa ayahku. Kemudian, tiba-tiba ia membeku dan meneriakkan kepada dua Pelahap Maut untuk mengikutinya. Ia terbang, Ted, Kau-Tahu-Siapa. Ia terbang ke sebuah pondok, aku bisa mendengar suara air pasang. Menghancurkan kaca-kacanya ketika tiba. Kemudian aku melihat Harry Potter. Kau-Tahu-Siapa meneriakkan mantra itu. mantra yang kudengar dimalam para pelahap maut mendatangi rumahku. Cahaya hijau meluncur dari tongkatnya.

Tapi, Harry Potter mementalkan mantra itu. dan mantra itu meledakkan seluruh isi rumah, membunuh dua pelahap maut yang mengikuti Kau-Tahu-Siapa. Kau-Tahu-Siapa berkata bahwa ia akan menemukanku dan ia akan-dia akan membunuhku. Sekali lagi ia meluncurkan cahaya hijau dari tongkatnya tepat ketika Harry Potter menghilang. Aku masih bisa mendengar teriakan kemarahannya ketika dia membakar pondok itu,"

Teddy mengerutkan keningnya,"Apa menurutmu itu nyata, James?" tanyanya.

"Aku...aku tak tahu, Ted. Aku-bagaimana aku bisa memimpikan suatu hal yang nyata,"

"Mungkin kau seorang penglihat. Seperti Trelawney, walaupun aku tak yakin ia bahkan bisa melihat apapun,"

"Tapi, aku bukan, ted. Aku tahu aku bukan,"

"Apa kau yakin, James?"

James membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi ia bahkan tak yakin apakah dirinya penglihat atau tidak. James sudah mengikuti pelajaran Trelawney tahun lalu. Dan ia bahkan tak bisa melihat apapun. Ia hanya mengikuti pelajaran itu karena itu merupakan subjek paling mudah di Hogwarts. Tanpa bekerja keras, jika kau mengarang sesuatu yang menyedihkan dan tragis, Trelawney pasti akan memberikanmu O.

"Sudahlah, James. Tidur lagi. kita bicarakan saja ini dengan Victoire ketika sarapan, oke?" ujar Teddy,"Otakku sudah mati, ni,"

Teddy langsung melemparkan dirinya ke ranjang. Sedetik kemudian suara dengkuran pelannya mulai terdengar.

James berusaha keras untuk tidur. Tapi, seberapa pun kerasnya ia mencoba, setiap kali ia menutup matanya. Sepasang mata merah itu akan menatapnya terus, lagi dan lagi.

Harry Potter telah Kembali

Selasa-2 Agustus dini hari, terjadi sebuah kebakaran besar yang menghanguskan sebuah pondok dipinggir pesisir Wick, Skotlandia. Tak hanya itu, ditemukan dua mayat pelahap maut didalam pondok tersebut.

"Sekitar jam setengah empat, aku mendengar suara kaca pecah. Aku melirik keluar dari jendela dan melihat pondokku sudah dilalap api. Tentu saja aku berlari ke sana. ingin aku lelaki itu, penyewanya. Seenaknya saja membakar pondok orang. Tapi, aku tidak menemukannya diluar pondok. Marie, istriku, menyuruhku masuk untuk melihat apa lelaki itu ada didalam. Aku tak menemukannya dimanapun. Yang kutemukan hanya dua tubuh berjubah hitam itu," jelas Mark Wherebout, seorang muggle yang menjadi saksi kunci peristiwa tersebut. Sebelum akhirnya Kementrian terpaksa menghilangkan ingatannya.

Namun, ketika Kementrian meminta Wherebout mendeskripsikan penyewa pondok tersebut. Sebuah kesimpulan mengejutkan muncul.

"Namanya Evan Williams. Umurnya sekitar tiga puluh tahunan. Kurus, rambutnya hitam berantakan. Memakai kaca mata ber-frame bulat. Marie selalu bilang ia punya mata yang indah. Menurutku malah menjijikkan. Matanya berwarna hijau seperti kotoran. Dan ia punya bekas luka berbentuk kilat disini. Didahinya. Aku tak sengaja melihatnya. dia bilang ia mendapatkannya disebuah kecelakaan mobil," ujar Wherebout.

Kementrian belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang kejadian tersebut. Tewasnya dua pelahap maut didaerah tempat tinggal muggle maupun kemunculan lelaki bernama Evan Williams yang dideskripsikan seperti Harry Potter.

Jadi, benarkah Harry Potter telah kembali?

Hermione melemparkan Daily Prophet ke atas meja makannya setelah membacanya sekilas. Voldemort sudah menemukan Harry. sebuah rasa sakit tiba-tiba menyergap jantungnya yang berdetak tak karuan. Apakah Voldemort berhasil mendapatkan Harry. apakah Harry berhasil selamat? Apakah dia baik-baik saja? Jika iya, dimana ia sekarang?

Hermione tiba-tiba menggelengkan kepalanya sendiri. Ia harus berhenti mencemaskan Harry. setelah apa yang Harry lakukan kepadanya. Lelaki itu tak pantas mendapatkan rasa cemasnya. Tak pantas ia pikirkan.

Sebuah suara 'pop' tiba-tiba terdengar. Hermione mendongak terkejut. Tapi, rasa terkejutnya memudar ketika ia melihat siapa yang didepannya. Ron Weasley muncul di dapur dengan sebuah koran ditangannya.

Hermione sudah tahu apa itu. atau apa yang hendak Ron katakan.

Ron berjalan ke arahnya dan melemparkan koran tersebut diatas meja makan Hermione,"Omong kosong besar," serunya kesal,"Daily Prophet sialan!"

"Ron, tenanglah,"

"Tenang, Hermione? Tenang?" Ron meledak,"bagaimana aku bisa tenang? Orang-orang Kau-Tahu-Siapa akan menjadikan seluruh keluargaku berada dalam daftar orang paling ingin dibunuh. Dan ini semua karena Harry Potter yang hebat," teriaknya sarkatis.

"Ron! Dunia Sihir belum jatuh ke tangan Kau-Tahu-Siapa. Tidak akan jatuh ke tangan Kau-Tahu-Siapa. Kita masih punya harapan,"

"Harapan Hermione? Orde seperti berperang untuk sesuatu yang sudah pasti kalah. Satu-satunya tempat yang aman dari Kau-Tahu-Siapa hanya Hogwarts. Orang-orang kementrian sebagian besar mendukung Kau-Tahu-Siapa. Orang-orang yang lain terlalu pengecut untuk melawan. Apa yang kau namakan harapan Hermione? Apa kau pikir kembalinya Harry adalah harapan itu? apa Harry adalah harapan itu?"

"Ron, berhenti bicara tentang Harry! itu bukan maksudku. Kita adalah harapan itu, Ron. Selama masih ada orang yang menentang. Selama masih ada keinginan untuk menentang. Kita masih punya harapan, Ron. Berhentilah bersikap pesimistis,"

Kemarahan Ron perlahan memudar. Wajahnya tampak lebih rileks, dan mata coklatnya menunjukkan rasa bersalah,"Maafkan aku, Hermione. Aku hanya-"

"Tak usah dibahas, Ron. Sekarang duduklah, aku baru mau membuat sarapan. Setelah ini aku ingin ke rumah Bill. Orde harus melakukan sesuatu tentang ini. Kita masih ada kesempatan. Berita ini akan memotivasi orang-orang lain untuk melawan. Berita ini akan membuat orang-orang Kau-Tahu-Siapa ragu bertindak,"

Ron memberikan Hermione senyum terima kasih dan duduk disalah satu kursi,"Aku ikut, Hermione" ujarnya.

Ketika James turun ke dapur untuk sarapan, ia sudah tak sabar ingin menceritakan kepada Victoire apa yang dilihatnya tadi pagi. Mimpinya. Sepasang mata merah yang menatapnya, membuat James merinding.

"Bagaimana Kau-Tahu-Siapa bisa tahu?" James bisa mendengar suara Victoire.

"Ia kuat, Victoire. Ia punya berbagai macam cara," jawab suara Mrs. Tonks.

"Tapi apakah Harry Potter baik-baik saja. Di Daily Prophet tidak disebutkan apa-apa tentang keberadaannya,"

"Aku yakin ia baik-baik saja. Harry pasti baik-baik saja. Anak itu kuat. Aku taku ia bisa menjaga dirinya sendiri,"

"Hei, James," sebuah tangan tiba-tiba memegang pundaknya.

"Aaah!" James berteriak kaget. Mengutuk dirinya sendiri sesudahnya. Victoire dan Mrs. Tonks pasti tahu ia sudah mencuri dengar.

"Wei, wei, tenang James. Ini aku, Teddy Lupin," seru Teddy sambil meringis,"ngapain kau diam saja disitu?"

"Teddy! James! Cepatlah sarapan sebelum makanannya dingin!" teriak Mrs. Tonks dari dapur.

Teddy sudah melupakan tentang pertanyaannya,"Ayo James," ajaknya dan mendahului James ke dapur. James mengikutinya setelah menghembuskan nafas.

"Pagi, Mrs. Tonks, Victoire," sapa James dan mengambil salah satu-satunya kursi yang tersedia. Keduanya tampak tak menunjukkan tanda-tanda mereka tahu James menguping, atau setidaknya membuat itu seperti masalah besar.

"Pagi, James. Bagaimana tidurmu?" tanya Mrs. Tonks.

"Biasa saja," dusta James.

"Kau terlihat mengerikan, James. Kau yakin kau bisa tidur kemarin?" tanya Victoire.

James melirik Daily Prophet yang tengah dibaca Victoire dan membaca headline-nya. Harry Potter telah Kembali.

Ah, ya. Pasti itu. Apa lagi?

"Well, um, bisakah aku meminjam Daily Prophet-nya, Victoire?" tanya James hati-hati.

Victoire melirik Mrs. Tonks sesaat. Dan Mrs. Tonks menganggukan kepalanya. Dengan enggan Victoire menyerahkan Daily Prophet ditangannya kepada James.

"Trims," gumam James. Ia mulai membaca artikel tersebut.

Sebuah pondok dipesisir. Voldemort. Harry Potter. Dua pelahap maut yang tewas. Pondok yang terbakar.

Hanya itu yang bisa James tangkap. Ini tidak mungkin. Semuanya cocok. Apa yang dikatakan Teddy benar adanya. Ia melihat kejadian asli, nyata. Tapi, bagaimana bisa?

"James, apa kau baik-baik saja?" tanya Victoire terdengar cemas,"kau terlihat agak pucat,"

"Aku baik-baik saja, Vic" jawab James. Ia menatap Teddy yang tengah sibuk melahap seporsi besar roti isi,"Ted, baca ini," ujar James mengulurkan Daily Prophet kepada Teddy.

Teddy segera mengambilnya dengan muka tidak tertarik. Tapi, beberapa menit kemudian warna mukanya langsung berubah. Ia menatap James dengan pandangan penuh arti.

"Jujur, sebenarnya ada apa sih diantara kalian berdua?" tanya Victoire tak sabar.

"Tak ada apa-apa," jawab Teddy dan James bersamaan.

Victoire menyipitkan matanya curiga, membuka mulutnya hendak menyarangkan pertanyaan lain sebelum Mrs. Tonks menginterupsi.

"Sudahlah, Victoire," ujar Mrs. Tonks lembut,"biarkan anak-anak ini makan dulu. Kau bisa bertanya lagi sesudahnya. Ngomong-ngomong aku akan pergi setelah sarapan. Aku akan ke rumah ke The Burrow. Bill pasti punya informasi tentang ini. Sementara itu kalian harus menjaga diri kalian baik-baik. Teddy jaga rumah,"

"Baik, Nek," ujar Teddy.

James berharap sarapan cepat berlalu dan Mrs. Tonks segera pergi. Ia ingin privasi untuk membicarakan ini bersama Teddy dan Victoire. Akhirnya, saat-saat yang ditunggu pun segera tiba. James menatap api hijau yang menjilat tubuh Mrs. Tonks sebelum wanita itu menghilang diperapian.

"Jadi," Victoire bersidekap didepan dada,"apa yang kalian tidak katakan padaku?"

James dan Teddy bertukar pandang,"Ayo kita duduk dulu, Vic," ujar Teddy, memandang sofa.

"Beritahu aku sekarang," Victoire menolak untuk duduk.

Teddy memandang James yang terus memandang sepatunya seakan tiba-tiba muncul emas disana,"James..."

James mendesah pelan,"Kau masih ingat berita di Daily Prophet hari ini, kan?"

"Sejelas aku melihatmu sekarang," jawab Victoire,"Jadi? Bisa tidak langsung ke intinya?"

"Tadi malam, aku bermimpi tentang sesuatu. Aku bermimpi tentang Kau-Tahu-Siapa menyiksa ayahku. Kemudian aku melihatnya terbang ke sebuah pondok. Aku tahu itu disekitar pesisir. Aku bisa merasakannya, seperti aku disana. Suara ombaknya yang pasang. Aku kemudian melihat Harry Potter. Mereka mulai meneriakkan mantra-mantra. Salah satu mantra menghancurkan seisi rumah dan membunuh dua pelahap maut dibelakang Kau-Tahu-Siapa. Tapi, Harry Potter berhasil lolos. Kau-Tahu-Siapa begitu marah dan ia membakar pondok tersebut," James meninggalkan detail tentang Kau-Tahu-Siapa yang ingin membunuhnya.

"Maksudmu kau melihat kejadian di Daily Prophet tersebut dalam mimpimu?" dengan cepat Victoire menarik kesimpulan. Suaranya terdengar terkejut.

"Ya, begitulah," James mengiyakan.

"Kupikir mungkin saja James adalah seorang penglihat," timpal Teddy.

"James? Seorang peramal? Aku bersamanya disepanjang kelas meramal tahun kemarin. Bahkan orang paling bodoh didunia ini pun tak akan percaya jika James bisa melihat,"

"Hei, nggak usah gitu-gitu juga, dong," ujar James tersinggung.

"Sorry, James. Bukan maksudku. Itu kenyatannya," Victoire berjalan ke arah sofa dan duduk,"jadi itu yang kalian sembunyikan," gumamnya dengan senyum.

"Vic, ini bukan sesuatu yang menyenangkan," ujar James dan duduk disamping Victoire. Dan James tersenyum. Dan senyum Victoire belum juga pudar. Dan mereka tersenyum pada satu sama lain.

"Mmmm...tapi itu mungkin saja, kan?" Teddy menginterupsi.

James dan Victoire langsung mengalihkan padangan mereka. Menatap Teddy yang berjalan untuk duduk disebelah James.

"Setahuku bakat tersebut sangat jarang. Melihat adalah sebuah bakat keturunan. Tapi, hampir semua centaurus bisa melihat. Itu adalah kelebihan mereka,"

"Tapi, aku seorang kelahiran muggle-hey, apa?" James menatap kedua temannya ketika mereka berdua menatapnya dengan aneh,"Oh, ya. aku kan dibohongi," James teringat akan siapa sebenarnya dia.

"Jadi, mungkin saja. Iya kan, Vic?" tanya Teddy lagi,"Kita tidak tahu garis keturunan keluarga Potter,"

"Sebenarnya seorang kelahiran muggle pun bisa memiliki bakat seperti itu," ujar Victoire,"kalian pasti tahu kan kalau sebenarnya seorang kelahiran muggle pasti memiliki darah penyihir dalam dirinya. Dia pasti merupakan keturunan dari seorang penyihir. Tolong katakan jika kalian tahu?" Victoire menatap kedua temannya yang mukanya bingung,"Ted, kau kan sudah lima belas, masa kau juga tidak tahu,"

"Itu kan tidak ada di buku pelajaran," ujar Ted defensif.

Victoire memutar bola matanya,"Seorang kelahiran muggle pasti adalah seorang keturunan penyihir. Mungkin penyihir itu memiliki keturunan squib. Kemudian keturunan tersebut menikah dengan muggle dan seterusnya hingga kemampuan sihirnya terpendam selama belasan generasi. Jadi, sebenarnya ada kemungkinan hal tersebut bisa terjadi. Beberapa peramal di dunia muggle bahkan tidak tahu menahu tentang dunia sihir. Tapi, mereka bisa meramal. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat. Terkadang kemampuan ini benar-benar tepat. Itu karena darah penyihir mereka. Walaupun mereka tidak memiliki kemampuan sihir tapi mereka bisa melihat,"

"Tapi, akan sulit melacaknya jika sudah terpendam ratusan tahun. Iya kan, Vic?" tanya James,"sulit untuk memastikan apakah aku punya leluhur yang bisa melihat,"

"Sebenarnya kita bisa menyimpulkan kalau semua penyihir berdarah murni itu memiliki nenek moyang yang sama,"

"Hah, bagaimana bisa?" Teddy terlihat terkejut.

"Dahulu penyihir menikahi sepupunya sendiri agar bisa memiliki anak berdarah murni, Ted. Bahkan, sekarang hal itu pun masih berlangsung. Lihat sekelilingmu,"

"Tapi, tetap sulit untuk melacaknya," ujar James.

"James benar," Victoire setuju,"amat sangat sulit bagi kita. Tapi, mungkin jika kita membicarakannya dengan-"

"Victore, jangan katakan ini pada siapapun," seru James tiba-tiba.

"James ini benar-benar masalah serius,"

"Masalah serius apanya? Ini cuma masalah apakah aku penglihat atau bukan,"

"Tentu saja ini serius. Jika memang kau memiliki kemampuan ini, kita bisa menggunakannya untuk menyelamatkan puluhan nyawa didunia,"

James berdiri, tiba-tiba ia merasa sangat marah kepada Victoire,"Jadi, menurutmu aku ini mesin, begitu. Yang bisa kau manfaatkan semaumu? Well, maaf mengecewakan, Victoire. Tapi, aku seorang manusia yang punya perasaan," bentak James.

"James, aku-"

James tidak memberi Victoire kesempatan untuk membalas, ia berbalik dan berjalan menuju kamar Teddy. Membanting pintunya keras sekali.