AU : if you want you can give me some advice here well, I guess I need some suggestion here. Please enjoy... and don't forget to review
Rencana
Hermione dan Ron ber-apparate di tanah berpasiran. Hermione bisa mendengar suara debur ombak dan angin yang menerbangkan rambutnya. Hermione bisa mengingat saat dimana ia, Ron dan Harry terakhir ditempat ini, menatap cahaya matahari tenggelam bersama-sama. Belasan tahun yang lalu...
"Ayo, Herm," ujar Ron dan mendahului Hermione. Berjalan ke rumah di pinggir pantai yang sangat familiar, Shell Cottage.
Hermione melirik ke cakrawala, dimana lautan yang luas bertemu dengan langit kebiruan. Seketika ia teringat kepada Harry dan memori itu membawa sebuah pisau menusuk tepat ke jantungnya. Begitu menyakitkan.
Setelah menghembuskan nafas panjang, Hermione berjalan mengikuti Ron. Ron baru hendak mengetuk pintu ketika tiba-tiba pintu tersebut dibuka dari dalam. Seorang wanita cantik muncul. Tapi, diwajahnya yang sempurna itu terlukis dengan jelas kecemasan yang dipantulkan mata birunya yang sewarna langit diatas mereka.
"Aku tahu kalian pasti akan datang," ujarnya buru-buru, keramahan telah hilang,"Bill ada didalam. Mengirim patronus pada semua anggota orde untuk berkumpul di The Burrow. Ayo masuk," Fleur menyingkir agar kedua tamunya bisa masuk ke dalam rumah.
Hermione baru saja menapakkan kakinya di ruang masuk ketika ia melihat seekor serigala keperakan berlari menembusnya.
"Ron, Hermione," Bill muncul dari ruang keluarga, wajahnya terlihat tenang. Tapi, Hermione lebih tahu.
"Bill, kami sudah membaca berita di Daily Prophet," ujar Ron,"Kau pikir itu benar?"
"Yah, anggota orde yang bekerja di Daily Prophet, Pier, mengunjungiku pagi-pagi benar. Beberapa jam lalu, dia sendiri yang berkata bawah memang itu fakta yang ditemukan. Tapi, informasinya sangat sedikit. Kementrian sendiri masih tidak bisa mengatakan apapun soal ini," jawab Bill.
"Evan Williams ini benar-benar Harry?" tanya Ron.
Bill menggeleng,"Entahlah, Ron. Kita masih perlu menyelidiki lebih lanjut hal itu. jika memang benar ia Harry. dimana ia sekarang? ia tak mungkin terus bersembunyi. Keberadaannya sudah diketahui. Jika dia terus menutupi keberadaannya dari kita. Maka-"
"Posisi orde akan jadi serba salah," Hermione melanjutkan tanpa berpikir.
Bill menatap Hermione sejenak sebelum mengangguk,"Dan juga dalam bahaya. Para Pelahap Maut berpikir bahwa orde sudah mati. Tapi, dengan kembalinya Harry. asumsi itu akan muncul kembali ke permukaan. Pier sudah bilang, bosnya akan menjadikan orde topik utama besok,"
"Kalau begitu kita harus menghentikannya!" seru Ron.
"Ah, sulit, Ron. Apa menurutmu ancaman akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan membuka kedok kita. Lebih baik kita biarkan saja. Toh, tak banyak yang akan mereka ketahui. Semua pekerjaan kita selalu rapi dan bersih," ujar Bill,"Ayo sebaiknya secepatnya kita ke The Burrow,"
"Aku akan dirumah, menjaga anak-anak," ujar Fleur,"Aku yakin, yang lain akan datang kemari. Tak baik ada anak-anak di The Burrow jika kalian memang ingin membicarakan tentang...urusan orde,"
"Ya, kau benar, Fleur," Bill berjalan ke arah Fleur dan menciumnya,"Aku akan pulang secepat yang aku bisa," Bill tersenyum kearah istrinya, kemesraan mereka membuat Hermione merasa sakit didalam. Tapi, ditekannya perasaan itu kuat-kuat. Bill berjalan mendekati Hermione dan Ron. Tongkat siap ditangan dan ia mengangguk ke arah Hermione dan Ron sebelum hilang dalam udara.
"Sampai nanti, Fleur," ujar Hermione sebelum menutup matanya, merasakan sensasi itu ketika udara menelannya.
Mereka muncul diruang masuk The Burrow. Anggota-anggota lain sudah muncul dan berkumpul didekat perapian. Api hijau menyala dan muncullah Andromeda Tonks.
"Bill," seru seru Augustus Ambrose, salah satu anggota baru Orde yang bergabung dua tahun yang lalu. Ambrose seorang lelaki berusia pertengahan tiga puluh yang bekerja sebagai mata-mata Orde di Departemen Kecelakaan Tak Diharapkan. Nama yang buruk untuk suatu Departemen, menurut Hermione.
Semua kepala menoleh ke arah mereka.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bill?" tanya Draco Malfoy yang sudah berubah seiring waktu. Rambut pirangnya yang dulu selalu disisir rapi dibelakang, kini berubah berantakan setelah Ginny memaksanya untuk tidak menggunakan gel lagi. sorot matanya sudah tidak menunjukkan remaja arogan menyebalkan itu lagi. tapi, terkadang tingkahnya bisa seperti Draco Malfoy belasan tahun yang lalu.
"Kementrian pasti akan mencurigai keterlibatan kita dengan Harry mulai sekarang. Para Pelahap Maut akan menjadikan kita target dan mulai melacak kita lagi. Saranku adalah tambah perlindungan dirumah kalian. Tak ada yang bisa kita lakukan selain berpura-pura sama sekali tak tahu tentang keberadaan Harry. tetaplah melakukan aktivitas seperti biasa. Ambrose, Aloysius. Aku ingin kalian melacak keberadaan Harry Potter," ujar Bill menatap Amrbrose dan lelaki bertubuh besar dan berambut gelap disampingnya, Alosysius.
"Aku ke pondok itu tadi malam," Aloysius membuka mulutnya,"Untuk penyelidikan. Dan, um, aku menemukan sesuatu. Aku menyembunyikannya secepat yang aku bisa. Karena petunjuk ini bisa memastikan bahwa Evan Williams itu Harry Potter," Aloysius mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Dan berjalan ke arah Ron dan Hermione,"Apa kalian mengenali ini?"
Hermione tahu didetik yang sama ia melihat foto itu. itu adalah foto mereka. Mereka bertiga ketika masih di Hogwarts. Diambil di akhir tahun ke-enam mereka. Mereka tengah bergandengan tangan dengan Hermione ditengah.
Ron mengambil foto itu dengan kasar dari tangan Aloysius dan membalik-balikkannya seperti mencari sesuatu.
Hermione mengambilnya dari tangan Ron,"Hey-" Ron memprotes, tapi Hermione tidak mempedulikannya.
"Specialis Revelio,"bisiknya.
Dibelakang foto itu muncul tulisan. Hermione yakin itu tulisan Harry.
Berthadine nomor 27, Wexlord
Souvre Loure nomor 59, Areachon
Piala Hufflepuff-tak diketahui
Diadem Ravenclaw-tak diketahui
Ular
Aku
Aku
Aku
"Ini-ini..." Hermione mencoba membuat suatu kalimat, tapi gagal.
"Wexlord, itu daerah kan?" seru Ron,"Di Irlandia. Kalau Areachon..."
"Di Prancis," Bill melanjutkan,"Itu tempat tinggal orang tua Fleur,"
"Apakah menurutmu ini adalah tempat-tempat yang mungkin dikunjungi oleh-" Hermione menelan ludah,"oleh Harry?"
"Ya, aku pikir Harry adalah penjaga kuncinya. Dan tanpa sengaja ia memberikannya pada kita. Mungkin kita harus menyelediki tempat-tempat ini. Tapi, bagaimana dengan Piala Hufflepuff, Diadem Ravenclaw, dan Ular itu? apa maksudnya dengan menulis aku?" tanya Bill.
"Aku tak tahu, Bill. Tapi, Aloysius bisakah aku memiliki foto ini? Mungkin ada hal lain yang tersembunyi,"
"Tidak apa-apa. Lagipula kementrian tidak tahu menahu tentang itu. jadi, silahkan saja," ujar Aloysius.
"Terima kasih,"
"Kalau begitu sebaiknya rapat ini langsung kita bubarkan," seru Bill,"jika kita terlalu sering dan lama berkumpul. Aku takut kementrian akan memperhatikan,"
Semua orang mengangguk dan mereka langsung ber-apparate meninggalkan The Burrow. Tapi, para Weasley masih berada disana, begitu juga Malfoy dan Andromeda. Hermione memilih tinggal disana lebih lama.
"Bagaimana dengan Mr. dan Mrs. Arlington?" tiba-tiba Andromeda bertanya,"apa sudah ada kemajuan?" lanjutnya.
Bill menggeleng sedih,"Mr. dan Mrs. Arlington, kami yakin berada dalam pengawasan Kau-Tahu-Siapa sendiri. Tapi, itu jadi mengingatkanku. Berita menghilangnya mereka ada dikoran muggle, tapi Daily Prophet bahkan tak meliriknya. Aku harus mengajak James untuk mengambil aset orangtuanya yang berada di bank muggle."
"Bill, aku bisa membiayainya," Hermione menginterupsi, merasa sedikit tersinggung, dia ibunya. Ini adalah tanggung jawabnya yang sudah direnggut belasan tahun lalu,"Aku bisa memberikan apapun yang ia inginkan,"
"Tentu saja kau bisa," Bill berkata buru-buru,"Ini hanya tindakan pengamanan. Mr dan Mrs. Arlington tidak memiliki sanak saudara lain. aku takut jika kita terlalu lama menunggu orang-orang bank menyebalkan itu akan mengambil semua hak James,"
"Kalau begitu mungkin kita bisa pergi bersama-sama ke Diagon Alley lusa," seru Ginny riang.
"Ya, mmm...Andromeda," Bill menatap Andromeda,"Aku ingin kau menyampaikan pada James bahwa aku akan menjemputnya besok,"
"Ya, tentu saja," ujar Andromeda.
"Bisakah aku ikut, Bill?" tanya Hermione ragu-ragu.
"Tentu saja. Aku kan butuh bantuan. Siapa lagi yang bisa membantuku jika bukan kau, Hermione?"
James membanting pintu dengan marah. Ia ingin berteriak. Mengepalkan tangannya keras sekali hingga buku-buku jarinya terlihat, James meninju bantal di ranjang. Ia tidak pernah merasa semarah ini. Hanya karena alasan sesederhana itu. ia tidak pernah marah tanpa alasan sebelumnya. Tapi, kenapa ia bisa merasa semarah ini. Pada Victoire. Bukan, bukan pada Victoire. Pada sesuatu yang lain. pada dirinya sendiri.
Pikirannya teralihkan ketika mendengar uhu-uhu diluar jendela. Eon terbang diluar jendela, menendang-nendang kacanya.
James membuka jendela dan membiarkan Eon masuk,"Hei kau, maaf aku tidak bisa bersamammu kemarin sobat. Kau pasti lapar, kan? Tapi sayangnya makanan ada di dapur. Mungkin kau mau terbang ke sana, huh? Victoire atau Ted akan memberi makanan,"
Tapi, Eon malah bertengger di bahu James. Beruhu keras, seperti tengah berkata tidak. James tertawa dan mengelus bulu Eon,"Kau tahu, Eon? Aku baru saja membuat kesalahan besar," ia memberitahu si burung hantu.
Pintu tiba-tiba dibuka. Teddy muncul dengan muka yang terlihat marah,"Apa-apaan kau James?" tanyanya,"berteriak-teriak pada Victoire seperti itu,"
James mendesah dan meletakkan Eon di meja,"Maaf, aku hanya kehilangan kontrol itu saja. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh berteriak-teriak seperti itu. terutama pada Vic, dia hanya memberitahuku faktanya. Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri,"
"Kalau begitu sana. bawa pantatmu itu turun dan minta maaflah pada Victoire,"
"Itu yang ingin aku lakukan," James berjalan ke arah pintu dan melewati Teddy. Perlahan, ia menuruni tangga dan mencari Victoire di ruang keluarga, tempat dimana ia meninggalkannya tadi. Victoire duduk disana, membaca salah satu buku Mrs. Tonks.
"Mmm...hei, Vic," sapa James perlahan.
"Hei," jawab Victoire dingin, tanpa melirik James. Wajahnya terututupi buku. James hanya bisa melihat rambut pirang Victoire.
James mendesah, tentu saja ini tak akan mudah. Ia duduk disamping Victoire, tak sekalipun Victoire meliriknya."Aku hanya ingin minta maaf,"
"Buat apa?"
"Karena sudah membentakmu seperti tadi. Aku hanya merasa sangat marah, untuk alasan yang tidak jelas. Maafkan aku, Vic. Dan maafkan aku juga karena aku belum sempat berterima kasih padamu selama ini,"
Akhirnya Victoire menaruh bukunya dipangkuan, menatap James dengan kernyitan,"Berterima kasih?" tanyanya.
"Ya, karena sudah mau jadi temanku. Memberitahuku dan mengajariku semua hal tentang sihir karena waktu itu aku tak tahu apa-apa. Karena tidak pergi bahkan setelah kau tahu siapa sebenarnya diriku. Untuk tahun-tahun sebelumnya karena sudah mau mengecek pr-ku. Untuk terus menyuruhku belajar hingga akhirnya aku setidaknya bisa mendapat E di ramuan. Aku belum sempat berterima kasih untuk itu, kan?"
"Kau tak perlu berterima kasih, kok," Victoire berdiri dan menatap James dengan pandangan mata yang masih dingin.
James menatap mata Victoire, mengeluarkan semua keberanian Gryffindor-nya,"Tetap saja, seharusnya aku berterima kasih dan...um...jadi...um..."
"Apa aku memaafkamu?" Victoire melanjutkan.
"Ya, itu. apa kau...um...memaafkanku?"
"Hanya jika kau berhasil mengalahkanku di permainan catur," Victoire tiba-tiba tersenyum, ia menarik tangan james,"Ayo, aku tahu Andromeda punya satu set permainan catur disini,"
"Kalau begitu aku mau tak mau harus mengalahkanmu, iya kan?" tanya James, senyum terlihat di bibirnya,"kalau begitu sih mudah,"
"Jangan meremehkanku, Tuan Muda," ujar Victoire, wajahnya tersembunyi dari James ketika ia berbalik memunggungi anak lelaki itu,"aku mengalahkan Paman Ron minggu lalu dan dia jago sekali. Dia bilang aku penerusnya,"
James tersenyum dan mulai mencari papan catur di rak,"Kalau begitu aku pasti mengalahkan penerusnya yang sangat Pamanmu banggakan itu,"
Ketika Victoire berbalik, seulas senyum cerah terlihat. Senyum yang sangat indah ketika ia melihat punggung James yang membelakanginya.
