Pairing : Hangen / Heechul / Siwon / Jay (Member Trax)

Genre : Angst drama / Pure Yaoi!

Rate : PG-13 (Tersirat NC-17)

Disclaimer : kyumin is mine ~ yang lain silahkan di ambil~ Hohoho.

Cerita ini murni adalah sebuat fiksi yang sedikit mengambil hal-hal realita. Jadi bila ada kesamaan dengan suatu kejadian, ini murni hanya sebuah kebetulan.

summary : three love, three hate, three live. or four?

Keseluruhan cerita ini di lihat dari Point of View Heechul! (di luar dari intro feeling)


.


author by baby kyumin

Full credit only for Another Alone


.


"Aku terperangkap dalam mata tajam berwarna hitam itu, Jiwaku terpenjara dalam sangkar emas hidupnya, Dan ragaku terus menerus mencari kehangatan dirinya. Takdir datang mendekat tak menentu, Nasib menggelitik tanpa tahu latar belakang, Dan cinta bersemi tanpa bisa di hentikan."

"Sejak awal mataku hanya terfokus padamu, Bagai terhipnotis agar selalu melihatmu, Hatiku terus meronta mengharapkanmu, Walau aku tahu kesempatan itu sangat kecil. Melihatku seperti ini, entah mengapa aku bisa mendengar tuhan tertawa di atas sana, Tertawa akan penderitaanku karena nasib dan takdir yang di berikannya"


.

.

.

.

Hari ini cuaca begitu mendung. Rintik-rintik hujan berjatuhan membasahi bumi, angin dingin dari selatan berhembus dengan kuatnya, yang membuat rambut ku tersibak.

Aku berdiri di sini. Di atas atap sebuah gedung bertingkat di tengah-tengah kota seoul. Berdiri tepat di tepinya, Memandangi jauh ke bawah sana, sesosok tubuh tak berdaya dengan darah yang mengalir keluar dari tubuh itu.

Rasa sedih kurasakan, namun dinginnya hatiku jauh membuatku bersikap egois.

"KYAAAA! ADA YANG BUNUH DIRI!"

Terdengar suara orang-orang yang mulai berkumpul mendekat ke tubuh yang bersimbah darah yang ada di bawah sana. Walau aku yang ada di atas sini tak bisa melihat ekspresi mereka dengan jelas, Namun aku yakin, Ekspresi ngeri yang terpancar dari wajah mereka yang ada di sana.

Masih ku tatap tubuh bersimbah darah itu. Warna putih mantel yang ia kenakan kini berubah dengan corak merah darah, kulit putih kecokelatan karena terbakar sinar matahari berubah menjadi putih pucat, mata jernih kecokelatan itu tertutup rapat, bibir sempurna yang selalu mengulas senyum tulus, terkatup rapat, terlihat aliran darah yang mengalir dari ujung bibirnya, dan tubuh atletisnya itu. Aku yakin kini remuk redam saat tubuhnya jatuh terhempas di jalan beraspal.

Aku terdiam di sini, terus menatap tubuh itu dengan mata kosong. Pikiranku melayang tak menentu, namun perasaanku begitu dingin, sedingin es di kutub utara. Tak ada rasa di hatiku.

"LIHAT DI ATAS SANA! MASIH ADA SESEORANG!"

Suara teriakan terdengar dari bawah sana, mungkin ada salah seorang dari mereka kini menyadari keberadaanku.

"APA DIA MAU BUNUH DIRI JUGA?"

Timpal suara lainnya.

"TUNGGU! BUKANNYA ITU KIM HEECHUL?"

"HAH? MAKSUDMU HEECHUL YANG ARTIS ITU?"

!

!

!

Perhatian semua orang kini teralih padaku, teriakan-teriakan khawatir, dan penasaran terdengar. Bahkan sosok tubuh penuh darah yang tergeletak di dekat mereka tak di perhatikan lagi.

Sirine ambulans dan mobil polisi mendekat, beberapa orang berpakaian seragam polisi keluar, membentangkan policeline di dekat tempat kejadian, memaksa orang-orang yang masih ada di sekeliling mayat itu menjauh.

Beberapa orang lain berpakaian putih, menenteng tandu dan peralatan medis turun dari ambulans. Setengah wajah mereka tertutup masker, dengan sigap menutupi tubuh itu dengan kain putih, mengangkat dengan hati-hati ke tandu, dan memasang beberapa peralatan medis ke tubuh itu. Dengan cermat mereka mengangkat tandu dan membawanya ke ambulans yang menanti.

Kasak kusuk orang-orang yang berkumpul, terpecah perhatian mereka antara tubuh yang di bawa ke ambulans dan diriku. Blitz-blitz lampu kamera wartawan yang telah berkumpul, maupun dari kamera ponsel orang yang lalu lalang di arahkan padaku.

Hah~

Aku menghela napas panjang saat mobil ambulans bergerak pergi, menjauhi kerumungan.

Ku tatap langit hitam bertabur bintang. Sangat jarang ku lihat langit berbintang seperti ini di tengah-tengah kota seoul. Ah tidak. Dulu pernah saat-saat seperti ini ada. Saat pertemuan pertamaku dengannya. Di bawah langit malam yang dingin saat musim gugur, di terangi oleh cahaya redup bintang-bintang di langit sana, Kami bertemu.

"OPPA~!" teriakan gadis-gadis di bawah sana dengan wajah takut dan khawatir.

Aku jenuh. Ku langkahkan kakiku turun kembali ke atap gedung. Menjauhi kematian yang memanggilku agar melangkahkan kaki jatuh ke jalan beraspal di bawah sana. Meninggalkan orang-orang yang masih berisik karena penasaran akan keberadaanku.

Ku buka pintu emergency, turun kembali ke lantai bawah gedung. Langkah demi langkah saat menurunin tangga terasa berat. Pikiranku berkecamuk. Memikirkan sosok tubuhnya yang bersimbah darah.

!

!

!

Pagi hari datang. Mentari bersinar menyinari bumi. Aku terbangun malas dari tidur sesaat.

"Sudah pagi ternyata" gumamku dalam hati, melangkah ke jendela yang sedikit terbuka. Menghirup udara segar pagi ini, mengisi paru-paru.

Tiba-tiba kejadian semalam melintas di pikiranku. Ku gelengkan kepala pelan, memijat pelipis, berusaha menghilangkan sosok tubuhnya.

Ku pendar pandanganku ke arah lain. Sebuah bingkai foto berisi foto dua orang yang saling bergandengan di letakkan rapi di atas meja kecil dengan vas bunga di sampingnya.

Ku raih bingkai foto itu, menatap lekat wajah seseorang yang ada di sana. Seorang pria dengan tubuh tegap atletis, tersenyum lembut di sana. Bisa di lihat sudut mata orang itu menatap pria lain di sebelahnya yang berwajah cantik.

"Maaf" kataku, dengan suara dingin dan tatapan kosong.

Ku letakkan lagi bingkai foto itu di atas meja saat suara bel pintu terdengar.

!

!

!

BRAK

Kepalaku linglung saat sebuah majalah yang lumayan tebal di lemparkan di wajahku, begitu aku membuka pintu. Ku pegang keningku, memijatnya, dan melihat dengan tajam orang yang tiba-tiba datang langsung melempar barang padaku.

Mataku terbelalak saat tahu siapa yang datang.

"Ada apa?" Tanyaku dengan suara tenang, menggeser tubuhku ke samping, mempersilahkan dua orang yang ku kenal untuk masuk.

Seorang dari mereka masuk dengan tampang garang, emosi bisa ku lihat. Sedangkan yang seorang lagi hanya diam, mengikuti langkah orang yang berjalan di depannya. Ia melirikku, senyum terulas di wajahnya, 'tenang, aku sudah melakukan sesuatu' bisiknya saat kami berpapasan. Aku mengangguk mengerti, menutup pintu yang masih terbuka.

"KENAPA KAU BISA ADA DISANA!" ucap orang bertampang garang begitu sampai di ruang tamu, di hempaskan tubuhnya di sofa. Menggeram dan menatapku.

"Aku yakin itu hanya kebetulan" Timpal yang lain, ia berdiri tepat di depanku, seakan-akan melindungi dari orang yang satunya bila sewaktu-waktu ia akan menyerang.

Orang bertampang garang itu memukul meja di depannya dengan keras, melempar barang yang ada di letakkan di sana ke arahku. Spontan orang yang berdiri di depanku langsung melindungi tubuhku dengan tubuhnya, membiarkan barang-barang itu mengenai tubuhnya.

"Aku harap anda yakin aku bisa menyelesaikan semua ini, Siwon-ssi" ucap orang yang melindungiku, matanya menatap ke arah orang bertampang garang.

Siwon mendengus, menyenderkan punggung, melipat tangan di dada dan meletakkan kakinya di atas meja, "Itu memang tugasmu sebagai manajernya!" remehnya, sedikit meludah kesamping, "Selesaikan dengan cepat! Aku tak ingin ada skandal tentang kehadirannya di tempat kejadian bunuh diri itu! Semua harus bersih sebelum besok! Kau mengerti" Tuntutnya.

"Tentu saja, anda suda tahu seperti apa cara kerjaku, anda hanya cukup duduk tenang di kursi direktur anda, dan mendapatkan laporan baik dariku" kata orang itu tenang, sedikit menundukkan kepalanya.

Siwon mendengus, melambaikan tangannya menyuruh pergi, "Selesaikan secepatnya" katanya.

Orang yang melindungiku menundukkan badannya 30 derajat, memutar tubuhnya membuat pandangan kami bertemu, 'jangan lakukan yang aneh-aneh lagi' bisiknya, menepuk pundakku pelan.

'maaf jay-hyung' balasku. Ia tersenyum dan berlalu pergi. Meninggalkan aku dan siwon berdua.

!

!

!

Ku perhatikan pria yang duduk di depanku, Choi Siwon. Pria berwajah tampan dengan garis rahang yang tegas, perawakannya tinggi dengan bentuk yang bagus karena otot-ototnya, dan mata tajam bagai elang. Seorang pria dengan umur yang tak jauh beda denganku, namun memiliki nasib yang sangat bertolak belakang, karena ia adalah direktur utama tempatku bekerja, Fawless Entertainment.

Ah, Aku lupa. Namaku heechul, Kim Heechul. Seorang artis yang terkenal dengan segudang bakat. Di dukung wajah cantik yang membuat gadis-gadis iri, membuatku meraih kesuksesan dengan mudah. Tidak begitu mudah juga sebenarnya.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan dengannya di sana? Kenapa hal seperti itu bisa terjadi" tanya siwon to the point, matanya lurus menatapku, di ronggoh saku jas-nya, mengeluarkan sekotak rokok dan pematik.

Tak butuh berapa detik hingga kepulan asap putih mengambang di sekitarnya. Bau menyengat asap rokok menyekat pernafasanku. "Untuk sesuatu" kataku datar.

Dia hanya menghela napas panjang, mematikan rokok yang baru di hisapnya setengah di asbak yang di letakkan di meja kecil samping sofa. "Terserahmu. Hanya saja akhirnya kau mendengar kata-kataku juga. Dengan begini dia tak mengganggumu lagi" katanya, senyum sinis terulas di wajah tampannya, "Namun apa kau sadar, masalah ini bisa mempengaruhi kariermu!" Bentaknya.

Aku mengangguk, "Aku tahu".

"Bagus kalau kau sadar! Hanya saja kau pasti mengertikan apa yang harus kau lakukan?. Masalah yang mungkin akan kau timbulkan tak mudah untuk di hilangkan. Aku sudah menginvestasikan banyak uang untuk mengorbitkanmu, dan tentunya aku tak ingin rugi" katanya, "Tapi itu terserah padamu. Tanpamu pun aku tetap bisa mendapatkan keuntungan dengan mengorbitkan yang lain. Kau pasti sadar betapa beratnya untuk terkenal sejauh ini tanpa dukunganku kan" ejeknya, diturunkan kakinya dari atas meja, menegapkan posisi duduknya, dengan kaki sedikit terbuka.

Aku terdiam menatapnya, aku mengerti akan tiap kata-kata yang ia lontarkan. Ku langkahkan kakiku mendekatinya, tiap langkah yang ku ambil ia tersenyum. Kini aku duduk tepat di antara kakinya yang terbuka, mataku menatap lurus ke depan, di bongkahan 'daging' yang di tutupi celana. Ku julurkan tanganku, melonggarkan sabuk, melepaskan kait celana, dan membuka resleting celana itu turun, tanganku mengeluarkan 'barang' yang masih terkulai lemas di balik celana dalam ketat yang ia kenakan. Menatap kosong 'barang' itu.

"Bagus" Katanya, di belai kepalaku dan menyeringai, "Kalau kau menurut seperti ini, kau akan tetap ku anak emaskan, akan ku pastikan karier-mu" Di tarik dengan paksa kepalaku ke hadapan 'barang'-nya yang masih terkulai lemas, "Lakukan" Perintahnya, semakin menurunkan kepalaku.

Hidungku tak sengaja tersentuh 'barang'nya. Bau khas laki-laki bisa tercium jelas. Ku gigit bibir bawahku, tanganku menekan pahanya, agar wajahku tak terkena benda menjijikan itu lebih. "Ada apa? Kau tak mau di buat lebih terkenal? Kau tahukan, tidak ada yang gratis di dunia ini. Kalau kau ingin terkenal, minimal kau harus mau melakukannya. Bukannya ini bukan yang pertama" ejeknya.

Ku telan ludah, dan menutup mata.

Pikiranku penuh dengan banyak hal yang tak bisa ku sebutkan satu persatu, namun ada satu yang terus mengusik pikiranku, Dia.

Ku buka mataku setengah terbuka, melirik bingkai foto yang di letakkan jauh di sana, walau samar bisa kulihat foto yang terpapar di sana, hatiku mulai gelisah.

"Kenapa? Kau tak mau melakukannya?" tanya siwon jengkel, menjambak rambutku kasar.

Aku meringis kesakitan, tapi berusaha tetap menjaga agar wajahku tak berekpresi. Aku menggeleng lemah, mengepalkan tangan berusaha menguatkan batin. Menghela napas panjang seraya menghilangkan bayangannya.

"Maaf Hannie" kataku dalam hati lirih, ku raih 'barang' siwon, menggenggamnya, mendekatkan bibirku ke 'barang' itu. Mengecup sekali di kepala kemaluan siwon yang masih terkulai lemas, sebelum memasukkan ke dalam mulutku, merangsang 'barang' itu agak berdiri tegak.

"Maaf" gumamku dalam hati seraya ingatan akan malam itu datang kembali, mengingat tubuhnya yang bersimbah darah, "Maaf" tanganku mulai mengurut-urut batang kemaluan siwon yang mulai menegang, mengulum dan menyedot kepala kemaluannya dengan lihai. Desahan mulai terdengar dari mulut siwon, tangannya meremas-remas rambutku, "Good Heechul~~" katanya yang membuat hatiku makin sakit.

Begitu kemaluan siwon sudah terangsang sempurna, dengan precum yang sudah keluar dari lubang kencingnya. Di angkat tubuhku, melepas pakaian yang melekat di tubuh dengan paksa dan terburu-buru. "Seperti biasa, tubuhmu begitu menggoda" katanya, mengelus-elus tubuh bugil-ku, mendorong terlentang di sofa.

Aku hanya bisa terdiam, pasrah. Ku tutup kedua mataku saat tangannya mulai meraba tiap inci kulitku. Dengan paksa ku bayangkan tangan yang menyentuhku itu adalah dia, hangen. Walau yang terbesit hanya sosok tubuhnya yang bersimbah darah.

Aku meringis tertahan saat barang tumpul merongsok masuk ke liang anusku. Begitu besar, kasar dan mentah. Ku eratkan kepalan tangan, mencoba menahan rasa sakit, walau air mataku tak bisa ku ajak bekerja sama karena mengalir keluar. Air mata sedih, bukan air mata kesakitan saat tubuh bagian bawahku di salah gunakan. Sedih karena keegoisanku, sedih karena sifat tak ingin kalahku, sedih karena keputusanku memilih karier daripada dirimu.

"Ugh" Rintihku tertahan saat kepala kemaluannya menyodok titik prostatku, titik dimana memberikan kenikmatan tiada tara saat tersentuh, titik kelemahan di tubuhku. Siwon menyeringai, menguatkan goyangan pinggulnya, memaju mundurkan kemaluannya keluar masuk ke liang anusku.

Sensasi orgasme semakin kurasa, tubuhku terus menggeliat saat prostatku di hantam dengan kemaluannya. Keras, kasar dan cepat.

"AKHH!" teriakku saat orgasme datang, setiap bagian tubuhku menegang, suaraku tertahan, aku bagai melihat bintang-bintang bertaburan di depanku. Namun pikiranku terus melayang-layang mengingatnya, Hangen.

Saat pertama kali kami bertemu di bawah langit hitam bertabur bintang, saat pertama kami berbicara walau sedikit tak nyambung karena logat kata-katanya yang aneh, dan saat pertama kali kami meng-ikrarkan cinta tulus.

.

.

.

TBC


.

.

Ini termasuk lemon atau ga yah?

mungkin dari sini kalian pasti bingung apa itu Intro feeling?

Intro feeling itu yang bagian dialog sebelum cerita di mulai (yang di bold itu loh).

bagian itu murni di luar dari konteks isi cerita. Yah sebenarnya koko han minta di tuliskan perasaannya dia setiap part di mulai. jadinya di turuti deh, daripada tuh koko ga mau main di fic ini ==' *maklum authornya ga punya modal gede buat bayar semua pemain

cerita ini semuanya di lihat dari konteks sudut pandang heechul (kecuali bagian intro feeling), dan dari segi cerita. Uhm, tanpa ku beritahukan pun kalian pasti mengertikan. Mungkin kisah ini bisa di bilang mendekati kenyataan sebenarnya dari sisi gelap dunia entertainment. Tapi jangan gara-gara ini buat kalian yang niat untuk jadi artis malah mikir-mikir lagi loh. Ga semua agensi yang ada di seluruh negara seperti itu ^^'

Sip, seperti biasa, Ku tagih RnR-nya!

kesalahan typo murni adalah kesalahanku.