Disclaimer : Harry Potter belong to JKR. But this plot belong to me.
Big D's Return
"Daddy!" Victoire berteriak dan mengalungkan kedua lengannya di leher seorang pria berambut merah panjang yang dikucir kuda.
"Ha...ha..ha..." Bill Weasley tertawa dan memutar putrinya di udara, kedua sisi wajahnya terlihat sangat kontras. Sisi wajahnya yang tercabik Greyback belasan tahun lalu begitu kaku, begitu dingin dan menyeramkan sementara sisi lainnya menunjukkan kegembiraan ketika melihat putrinya.
James tak bisa menahan senyumnya. Melihat Victoire sebahagia ini. Kemudian matanya melihat Hermione, yang berdiri di samping Bill, memberikannya senyum lemah yang canggung. James membalas senyum itu sama canggungnya sebelum cepat-cepat mengalihkan pandangan. Menatap sneaker-nya yang tiba-tiba terlihat begitu menarik. Atau berpura-pura terlihat begitu menarik.
"James, kurasa Andromeda sudah menginformasikan tentang kedatanganku hari ini," ujar Bill memecah keheningan canggung diantaranya dan Hermione.
"Mmm...yeah, Andromeda sudah bilang," James berhenti sejenak sebelum melanjutkan,"Dia mendapatkan orangtuaku, kan? Kau-Tahu-Siapa. Mrs. Tonks tidak memberitahuku apa-apa. Tapi, aku bisa merasakannya,"
"Itulah informasi yang kami dapatkan, Maafkan aku, James. Tak banyak yang bisa kami perbuat," Jawab Bill sedih.
James menggelengkan kepalanya, bersikeras menahan tangis yang rasanya sudah diujung mata. Ia tidak ingin terlihat lemah didepan orang-orang ini. Ia tidak ingin terlihat rapuh,"Tidak. Tidak apa-apa. Jadi, sudah bisa dipastikan mereka-mereka tewas, ya?"
Bill tidak menjawab. Tiba-tiba seluruh ruangan terasa begitu suram. Cahaya matahari cerah diluar seperti tengah mengejek James sekarang. orang-orang lain berdiam diri dalam ketidaknyamanan.
Mengetahui hal ini, James cepat-cepat merubah topik pembicaraannya,"Kalau begitu apa yang kita tunggu?" serunya pada Bill.
"Oh-ya. ayo," balas Bill,"Dan, um, James,"
"Ya?"
"Kita akan menggunakan jaringan floo ke Diagon Alley. Pinjamlah jubah Hogwarts Teddy,"
Kenapa mereka tidak langsung saja ber-apparate ke bank itu? bukankah akan lebih mudah dan menghemat waktu. Tapi, jika dipikir-pikir, mungkin saja ada resiko yang tidak diketahui James adanya. Memutuskan untuk tidak bertanya James hanya mengangkat bahunya,"Oke," James berpaling ke arah Ted, memberikannya pandangan bertanya.
"Oh, jubahku ada di kamar. Kalau begitu ayo aku tunjukkan," Teddy memimpin menuju kamar tidurnya. James mengikuti dari belakang. Teddy mengambil sebuah jubah Hogwarts hitam dari dalam lemari dan memberikannya pada James.
"Trims," ujar James, mengenakan jubah yang agak sedikit kedodoran itu mengelilingi tubuhnya. Menyembunyikan kaos muggle yang juga dipinjamnya dari Teddy.
"Kau yakin tidak akan apa-apa, James?" tanya Teddy.
"Ted, aku bukannya mau terjun ke medan perang, kan?"
Teddy mengangkat bahunya,"Memang tidak, sih"
"Ayo, kau mau disini atau turun?"
"Aku akan turun,"
Kedua anak lelaki itu menuruni tangga. Bill dan Hermione sudah ada didepan perapian. Bill mengisyaratkan kepada James untuk mengenakan tudung jubahnya. Yang walaupun kebingungan, James mematuhinya.
"Aku akan pergi duluan. James kau selanjutnya," ujar Bill. James mengangguk dan ia melihat Bill masuk ke dalam perapian."Diagon Alley," serunya dan api hijau melahapnya.
James menarik nafas panjang dan melangkah ke dalam perapian. Bubuk floo sudah berada ditangannya."Diagon Alley," ia bisa mendengar dirinya sendiri berseru, dan seketika api hijau yang sama melahapnya.
Hal berikutnya yang James lihat adalah bangunan-bangunan tinggi, kerumunan-kerumunan orang yang memakai jubah dan jalan panjang yang cukup sempit. James tahu, ia telah berada di Diagon Alley. Anak lelaki itu melangkahkan kakinya keluar, dan berjalan ke arah Bill yang sudah menunggu dua meter jauhnya. Hermione muncul beberapa detik kemudian, dan tanpa banyak bicara, mereka berjalan ke Leaky Couldron.
James hanya diam saja. Ia, entah kenapa, tak menemukan keinginan untuk berbicara apapun pada Bill atau Hermione. Padahal, diotaknya banyak sekali pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri takut akan jawaban yang didengarnya.
Bill menuntun mereka menuju jalan muggle diluar Leaky Couldron."Kita akan naik mobil," ujarnya. Bill menunjukkan sebuah mobil sedan silver di dekat trotoar.
"Kenapa kita harus naik mobil?" tanya James, menemukan satu pertanyaan yang bisa ia katakan tanpa takut,"kukira ber-apparate akan lebih simpel dan mudah,"
Bill membuka pintu belakang mobil dan mengisyaratkan James agar masuk dengan kepalanya. James mendesah sesaat sebelum melangkahkan kakinya ke dalam dan menutp pintu tersebut. Dengan sedikit lebih banyak kekuatan dari yang dibutuhkan.
Bill dan Hermione masuk beberapa saat kemudian. Bill ada dijok kemudi. Ia menghidupkan mesin dan tiba-tiba mereka sudah berada dijalan raya.
"Kau masih empat belas tahun," Bill menjawab pertanyaan James,"Kau masih memiliki jejak. Kementrian sudah disusupi Pelahap Maut. Dan hanya dalam beberapa detik mereka akan meringkusmu. Kita akan tidak akan menggunakan sihir disekitarmu hingga kau sampai di Hogwarts, mereka akan mendeteksi siapa yang menggunakan sihir didekatmu. Dan dengan itu, mereka akan tahu dimana kau berada,"
"Tapi, semisal jika kau berada di Diagon Alley. Banyak penyihir yang menggunakan sihir disekitarku. Bukankah itu akan menjadi masalah,"
"Begitu banyak sihir hingga akan sulit mendeteksi dimana dirimu. Karena sesungguhnya, sistemnya tidak bekerja untuk mendeteksi siapa yang menggunakan sihir didekat seorang penyihir dibawah umur. Tapi, bekerja untuk mendeteksi siapa yang menggunakan sihir di sekitar penyihir itu," Jawab Hermione.
"Oh, well, yeah," ujar James sebelum kembali bersandar di jok dan melihat keluar jendela,"itu bisa dimengerti,"
Kembali kedunia muggle seperti sebuah pengingat baginya. Pengingat bahwa kedua orangtuanya tak ada lagi disini. Tapi, mereka berada diluar sana. entah hidup atau mati. Tapi, ia tidak bisa begitu saja membiarkan mereka. Ia tak bisa lagi bergantung pada orde. Ia harus menyelamatkan orangtuanya. Atau setidaknya, memastikan apakah mereka berdua sudah mati atau masih hidup. Tapi bagaimana?
Ia hanya anak kecil. Semua jalan yang ia lihat didepannya, sepertinya menjurus ke arah kematiannya sendiri. Ia tidak bisa melihat sedikit saja celah, sebuah cara untuk menyelamatkan mereka.
"Kita sampai," kata-kata Bill membangunkannya dari lamunan. Waktu terasa cepat ketika ia tengah berpikir. Waktu terasa cepat ketika kau ingin memperlambatnya.
James melihat keluar, sebuah bangunan besar, sebuah bank. Sebuah bank muggle.
"Ayo, James," ujar Bill, memimpin.
Ketiganya memasuki bank tersebut. Bill menemui seorang resepsionis wanita dan si wanita mengantarkan mereka ketiga ke sebuah ruangan bertuliskan Direktur Bank. Apakah kasusnya sepenting ini? Hingga mereka harus menemui Direktur Bank.
Direktur itu seorang lelaki gemuk berambut putih dengan kacamata persegi tebal dan jas yang sangat mahal. Tapi, ia tidak sendirian. Didepannya ada seorang lelaki lain. james tidak mengenali lelaki itu. lelaki itu berbadan besar dan pasti akan terlihat menyeramkan, jika saja rambut pirangnya digantikan hitam. Ia mengenakan satu setel jas yang sangat rapi.
"Mr. John," sapa si Direktur Bank. Namanya Mr. Allen, James membaca dipapan nama. Kursi Mr. Allen berderit ketika lelaki itu mencoba berdiri dan menyilahkan mereka bertiga untuk duduk ditiga kursi yang masih tersisa. Tampaknya dipersiapkan untuk mereka.
James memperhatikan jika Hermione tidak mengalihkan pandangannya ke arah si lelaki berambut pirang. Matanya membesar ketika melihat lelaki itu, seperti ia mengenalinya. Berkali-kali ia mengerling Bill. Walaupun Bill hanya mengangguk dan memberinya tatapan menyakinkan.
Bill menjabat tangan Mr. Allen dan si lelaki berambut pirang yang buru-buru berdiri sebelum duduk di kursinya. Hermione melakukan hal yang sama. Si lelaki berambut pirang memberikan senyuman padanya. dan James hanya meniru apa yang Bill dan Hermione lakukan.
"Jadi, kita akan membahas tentang warisan atas nama Jack dan Jenna Arlington," Mr Allen memulai, ia mengeluarkan sebuah berkas dari lacinya."Polisi sudah menyelidiki kasus mereka dan walaupun kejadian itu baru beberapa hari yang lalu. Sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka dibunuh berdasarkan kesaksian James Arlington," Mr. Allen menatap James.
James hanya balik menatapnya. Bingung sendiri. Ia tidak pernah memberikan kesaksian apapun atas hilangnya kedua orangtuanya. Ia bahkan tidak pernah bertemu polisi manapun. Ketika James menatap Bill. Ia hanya mengangguk ke arahnya.
"Sebenarnya itu agak aneh," james bisa mendengar Mr. Allen bergumam sendiri.
"Kita sudah membahas tentang ini, Mr. Allen," ujar lelaki berambut pirang memperingatkan.
"Ah, ya. ya... tentu saja, Mr. Robert" ujar Mr. Allen buru-buru,"Semua warisan Jack dan Jenna Arlington akan dikirimkan ke rekening baru yang dibuka atas nama Daniel Robert sebagai pengawas sementara dan terikat akan hukum sampai James Arlington berusia enam belas tahun," Mr Allen mengeluarkan sebuah data dan menunjukkannya ke arah James,"Ini adalah semua data harta warisan orangtuamu, Nak. Sebaiknya hafalkan baik-baik. kalau-kalau setahun dari sekarang berkurang setengahnya," Mr. Allen melirik Mr. Roberts yang berpura-pura tak memperhatikan.
James membaca sebentar, jumlahnya benar-benar diluar sepengetahuannya. Dua puluh juta pound. Ia memiliki uang sebanyak itu? ia bahkan tak pernah melihat uang sebanyak itu.
Mr. Allen menariknya setelah beberapa menit dan mengeluarkan berkas-berkas lain. James disuruh untuk menandatangi beberapa berkas, begitu juga Mr. Roberts. Dua jam kemudian, barulah mereka keluar dari bank. Mr. Roberts berjalan bersama mereka. Mengikuti mereka hingga ke parkiran. James kira ia hanya berjalan menuju mobilnya. Tetapi, Mr. Robert berjalan menuju mobil mereka. Yang diparkir di pojokkan, dimana tidak ada mobil didekatnya.
Sesampainya di mobil, Hermione memberikan lelaki itu pandangan menuduh,"Dan bagaimana dia bisa ada disini?" tanyanya pada Bill.
Mr. Robert melirik arlojinya dan tersenyum riang ke arah mereka,"sudah waktunya makan siang, iya kan? Bagaimana kalau aku ceritakan semuanya sambil menyantap seporsi besar chessburger?"
Hermione tidak menjawab, tangan dilipat didepan dada, sementara ia tetap menatap Mr. Robert dengan pandangan yang sama.
"Baiklah, itu berarti oke," Mr. Robert menatap Bill,"ikuti aku. Aku tahu tempat yang tepat,"
Mr. Robert tersenyum ke arah James sebelum ia berjalan menjauh ke arah mobil SUV hitam yang diparkir beberapa meter dari mobilnya. Bill menyuruh James segera masuk ke mobil. Ia menghidupkan mesin dan menyetir mobil ke luar area bank.
"Aku tahu kau mungkin menyamarkan namamu, Bill. Tapi, bagaimana-bagaimana ia bisa terlibat?" tanya Hermione.
"Siapa lelaki itu?" tanya James tiba-tiba, penasaran.
Hermione menatapnya, tampaknya enggan menjawab.
"Siapa dia?" desak James lagi.
"Dia sepupu ayahmu," jawab bill sambil membelokkan kemudi.
"Dan maksudmu dengan ayah..."
"Dia sepupu Harry," lanjut Hermione. James bisa mendengar nada tidak senang ketika ia mengatakan nama harry. mungkin, ia merasakan hal yang sama, iya kan? Membenci lelaki itu, lelaki yang sudah membuangnya. Atau begitulah yang ia dengar."Dudley Dursley. Dulunya Dudley Dursley. Dia-"
"Sebaiknya kita dengar cerita dari mulut orangnya sendiri, Hermione," Bill menginterupsi,"mobilnya sudah di parkirkan. Kita sudah sampai,"
Itu adalah sebuah restauran besar dipinggir kota London. Restauran itu sangat ramai. Mr. Robert menemui mereka."istriku bekerja disini. Ia bisa menyiapkan satu ruangan pribadi untuk kita. Aku sudah memintanya," Mr. Robert menuntun mereka ke lantai atas. Lantai atas restauran itu terdiri dari ruangan-ruangan yang memang sudah disiapkan untuk pelanggannya.
Mr. Robert membuka salah satu ruangan tersebut dan mempersilahkan mereka masuk."Mmm..mungkin sebaiknya aku memesankan dulu-"
"Maaf Mr. Robert," Hermione menginterupsi,"bisakah anda tolong langsung menjelaskan saja,"
Muka Mr. Robert berubah pink. Dan James ingin tertawa melihatnya. mukanya jadi terlihat seperti babi. Babi besar yang menyeramkan.
"Setelah kami dikawal pergi hari itu," Mr. Robert memulai,"Ayahku memilih untuk pergi ke luar negeri dan ia bilang ia tidak ingin punya hubungan apapun atau dikait-kaitkan pada Harry. kami pergi ke amerika dan mengubah nama kami menjadi Robert. Bibi Marge menetap di Bahama sejak kejadian waktu dia...mmm...diterbangkan. jadi, kami tak punya banyak masalah. Sejak kami tidak memiliki anggota keluarga lain. aku menetap disana selama setahun. Dan punya karir yang lumayan di tinju. Walaupun aku harus mulai lagi dari nol.
"Tapi, aku bersikeras kembali ke Inggris. Mengandalkan kemampuan tinjuku, sebuah Universitas memberiku beasiswa. Tapi, karena merasa tidak cocok, makanya aku pindah ke pelatihan kepolisian. Ya, aku menjadi polisi sekarang. percaya atau tidak. karena itu aku tahu tentang kasus keluarga Arlington dan bertemu Bill.
"Ketika aku berusia empat belas tahun. Sekumpulan orang berambut merah menyala muncul dan menghancurkan perapian rumahku. Untuk menjemput Harry. Bill mengingatkanku pada mereka jadi yah...aku bertanya apa ia ada sangkut pautnya. Ternyata ia juga seorang Weasley. Aku tahu tentang keluarga weasley dari surat-" Mr. Robert meledak tertawa,"Maaf-maaf..." ia tertawa lagi," aku hanya teringat surat itu. bagaimana bisa seseorang mengirim surat dengan entahlah, lima puluh perangko?"
"Surat dengan lima puluh perangko?" tanya James.
"Ibuku," ujar Bill,"dia tidak tahu menahu tentang surat menyurat cara muggle. Karena takut perangkonya tidak cukup. Ia mengelem hampir semua bagian amplopnya dengan perangko,"
"Oh, sepertinya lucu,"
"Sangat lucu," Mr. robert tertawa lagi kemudian menghisap ingus,"Tapi, yah, kembali ke cerita. Kemudian aku membantu Bill disini untuk menutupi seluruh kisahnya dengan cerita-cerita palsu. Dan dia berubah jadi kau pakai apa itu... ramuan puli, sulijus..."
"Polyjuice?" Hermione melanjutkan.
"Ya, itu," seru Mr. Robert.
"Tapi, kau butuh bagian tubuh seseorang jika kau ingin membuat ramuan polyjuice, kan?" tanya James.
"Ya," jawab Bill.
"Dan kau butuh bagian tubuhku!"
"Ya,"
"Tapi, aku bahkan tidak memberikanmu bagian tubuhku,"
"Mudah saja meminta Andromeda untuk memotong sedikit rambutmu ketika kau tertidur,"
"Tapi, itu namanya mencuri!"
"Mencuri untuk kebaikan bukan berarti mencuri dalam arti yang sebenarnya. Lagipula, itu hanya sejumput rambut. Jika kau kehilangan beberapa galleon itu baru disebut mencuri,"
"Masih saja-"
"Sekarang, sekarang. berhenti disitu, James. Aku tak akan membiarkanmu melanjutkan ini lagi," bill menegaskan,"lanjutkan Dan,"
"Eerrrr...jadi aku membantu Bill untuk memastikan ayah dan Ibumu sudah tewas di catatan Kepolisian dan menjadikanku pengawas warisanmu hingga kau sudah cukup umur," lanjut Mr. Robert,"ada pertanyaan?"
Sebelum James bisa bertanya terdengar suara ponsel berdering."Oh, itu aku," seru Mr. Robert dan mengeluarkan ponsel dari saku jasnya,"Maafkan aku. Tapi, aku harus pergi. Ini dari kantor," Mr. Robert menunjukkan ponselnya."Jika salah satu dari kalian ingin menghubungiku. Erm, kalian penyihir, jadi kalain pasti bisa dengan...burung-burung hantu itu. tapi, jika kalian ingin menghubungiku lewat cara-cara muggle, Bill tahu alamat maupun nomor ponselku," Mr. Robert berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah James,"Senang sekali bertemu denganmu James. Kau persis ayahmu,"
James menjadi kaku ketika ia mendengar komentar Mr. Robert, tapi cepat-cepat menutupinya dengan menjabat tangan Mr. Robert,"Senang bertemu anda juga, Mr. Robert," balas James.
Mr. Robert kemudian menjabat tangan Hermione,"Aku harap kesan kedua yang bertahan sepanjang masa. Senang bertemu denganmu, Miss Granger,"
"Panggil aku, Hermione," ujar Hermione sambil tersenyum,"Aku tak percaya Dudley Dursley yang dulu sudah berubah menjadi Dan Robert,"
"Percaya atau tidak percaya," ujar Mr. Robert sambil tertawa kemudian beralih ke arah Bill,"Semoga kita bisa bertemu dalam waktu dekat ini, Bill," ia mengulurkan tangannya ke arah Bill.
"Percayalah kepadaku, kita akan banyak bertemu," Bill meyakinkan, mengulurkan tangannya sendiri dan menjabat Mr. Robert. Mr. Robert kemudian keluar dari ruangan tersebut dan seorang pelayan muncul.
Setelah makan siang yang bisu, ketiganya keluar dari restauran tersebut dan masuk ke dalam mobil."Kita akan pergi ke suatu tempat dulu, james," ujar Bill.
"Kemana?" tanya James.
"Ke rumah orangtuamu,"
Dudley Dursley atau Dan Robert sekarang, membelokkan mobilnya menjauh Kantor Polisi tempatnya bekerja. Dan tak lama kemudian memakirkan mobilnya didepan sebuah rumah. Dan keluar dari mobilnya dan mengambil pintu rumah dari saku celana panjangnya, membuka pintu rumah tersebut dengan mudah.
"Aku pulang," ujar Dan.
"Astaga, Dud! Tak usah kau mengumumkan kedatanganmu. Aku bukan istrimu," seru seorang lelaki kurus dengan rambut hitam berantakan dan mata hijau cerah dibalik kacamata bundar.
"Lucu sekali, Harry," ujar Dan sambil memutar bola matanya.
Harry tertawa tapi tawanya segera menghilang digantikan ekspresi serius,"Jadi bagaimana? Bagaimana mereka? James dan Hermione maksudku,"
Dan menaikkan sebelah alis dan melonggarkan ikatan dasinya, ia benci dasi dan jas, kemudian duduk di sofa."James baik-baik saja. Sumpah, Harry. Anak itu persis sepertimu. Tapi, semua berjalan lancar dan sukses. Hermione agak terkejut ketika melihatku. Tapi, aku berhasil merebut hatinya pada akhirnya. Jujur, jika kau sangat mencintainya, kenapa kau meninggalkannya?"
"Aku sudah menceritakanmu tentang ramalannya, kan?" tanya Harry.
"Ya, kau sudah. Tapi, aku masih tidak bingung, kenapa kau tidak memberitahunya? Apa karena kata-kata seorang nenek tua menghentikanmu?"
"Dia Kepala Sekolah Hogwarts, Dud. Bukan hanya sekedar nenek tua biasa. Kata-katanya penting. Tapi, dia ada benarnya. Kau tahu...lebih sedikit orang yang tahu akan jauh lebih baik. Aku seharusnya tidak memberitahumu. Hermione adalah ibu James, Dud. Terlalu banyak perasaan dan emosi. Terlebih lagi, Hermione adalah anggota orde. Ia berhubungan dengan para Pelahap Maut dan Kau-Tahu-Siapa sendiri secara tidak langsung. Ia sudah menjadi target utamanya. Membiarkan Hermione tidak tahu justru adalah hal yang membuatnya aman. Jika ia ingin, ia bisa mengobrak-abrik pikirannya. Dia adalah legilimens yang hebat. Sedangkan terlalu menyakitkan untuk Kau-Tahu-Siapa memasuki pikiranku. Profesor McGonnagal dan Profesor Trelawney berada jauh dibalik perlindungan Hogwarts. Para Pelahap Maut terlalu jijik untuk menyentuh muggle-"
"Hey," Dan protes.
"Sorry, sorry. Tapi, itu benar," Harry meringis."aku senang bisa bertemu lagi denganmu, Dud"
"Aku juga senang, sepupu," Dan memberikan sebuah senyuman pada Harry.
N please review...
