Pairing : Hangen / Heechul / Siwon / Jay (Member Trax)
Genre : Angst drama / Pure Yaoi!
Rate : PG-13
Disclaimer : Ingin sekali ku memiliki mereka untuk diri sendiri *, *
Cerita ini murni adalah sebuat fiksi yang sedikit mengambil hal-hal realita. Jadi bila ada kesamaan dengan suatu kejadian nyata, ini murni hanya sebuah kebetulan.
summary : three love, three hate, three live. or four? Saat cinta datang, mampukah kau menolak saat hatimu membutuhkannya. Cinta datang begitu saja, namun tak bisa pergi semudah itu.
Keseluruhan cerita ini di lihat dari Point of View Heechul! (di luar dari intro feeling)
.
author by baby kyumin
.
"Pertemuan pertamaku dengannya hanya kebetulan, tanpa teguran yang berarti. Pertemuan keduaku dengannya menyadarkanku bawah dirinya begitu menyilaukanku. Pertemuan ketigaku dengannya membuatku mengerti betapa sialnya aku hari itu. Tapi saat pertemuan-pertemuan tak terduga setelahnya, akhirnya aku mengerti betapa rapuh dirinya, sosok yang begitu ingin di lindungi, tapi tak mengharapkan di saat yang bersamaan''
.
.
.
.
Aku tersenyum saat melihatnya berdiri di atas panggung. Menari dengan begitu luwesnya di antara penari latar yang lain, menggerakkan tubuhnya yang atletis dengan sigap. Tiap gerakan yang ia lakukan begitu bertenaga, dan detail. Memperlihatkan betapa besar bakatnya.
"Heechul-ssi harap bersiap-siap! 5 Menit lagi giliranmu" Teriak salah seorang staf kru padaku. Aku mengangguk tanpa bicara. Membalikkan badan bermaksud kembali ke ruang rias, namun, sebelum kakiku melangkah, aku berpaling sekali lagi untuk melihatnya yang masih menari di atas panggung, dan tersenyum menyeringai.
.
.
.
"Bagaimana dengan mic-nya?" Tanya seorang kru saat aku berjalan ke samping sisi kiri panggung, bersiap-siap dengan giliranku.
Aku mengangguk, mengancungkan jempol tanpa 'oke'.
Penata rias dan staf kostum berusaha memperbaiki penampilanku untuk terakhir kalinya, tapi aku bersikap acuh, karena bagaimanapun aku terlahir dengan wajah yang bisa membuat seorang gadis pun iri.
Ku tepis tangan salah seorang kru wanita yang berusaha merias ulang wajahku, "aku tak perlu dandanan tebal" kataku tanpa meliriknya sedikitpun, karena perhatianku masih tertuju di atas panggung, "tanpa itupun wajahku jauh lebih menarik darimu" sindirku. Wanita itu terkejut, di turunkan tangannya kesamping, menunduk dan mengangguk pelan, lalu pergi menjauh dariku, tapi sekilas kulihat di wajahnya tak tersirat kemarahan karena hinaanku.
Mungkin cara bicaraku terkesan blak-blakan, mengatakan apa yang ingin kukatakan tanpa peduli bagaimana perasaan orang yang ku bicarakan. Hal ini memang ciri khasku, namun, seperti yang semua orang tahu, dunia entertainment adalah dunia busuk yang penuh dengan kebohongan, saat seseorang berada di depan kamera, maka sang artis akan bersikap jauh berbeda dari dirinya yang sebenarnya. Terkadang beberapa netizen menghujat sikapku, berkata bahwa aku tak pantas menjadi seorang idola dengan tutur kata seperti ini. Tapi, apa peduliku, bukankah sikapku jauh lebih baik dari pada idola lain yang munafik. Tersenyum di depan orang lain, padahal menghina di dalam hati.
Dan lihatlah sekarang.
Hanya butuh waktu 1 ½ tahun aku berhasil mendapatkan kesuksesan yang belum tentu bisa semudah itu di dapat. Di elu-elukan setiap orang, baik luar maupun dalam negeri, Di cari-cari setiap sutradara agar aku bisa bermain di film yang mereka buat, atau juga, CEO-CEO dari beberapa statiun televisi yang tanpa malunya, mengemis-ngemis di bawah kakiku agar aku bisa ambil bagian di acara mereka, hanya untuk mendongkrak rating.
Hah, dunia ini benar-benar lucu. Di sisi lain para netizen itu menghina sikapku, tapi di sisi lain pula mereka mau tak mau harus mengakui bakatku. Cara mereka itu membuatku serasa ingin muntah, melihat sikap mereka begitu menjijikan, menjilat agar nama mereka masih bisa di dengar karena memujiku.
Tapi.
Tak bisa kupungkiri pula, aku pun salah satu dari mereka.
Tak mudah untuk mendapatkan kesuksesan di dunia entertainment ini. Dunia kejam yang tak segan-segan menjatuhkanmu dengan mudah.
Dan dari dunia kejam inilah aku menyadari, tak ada yang murni di dunia ini, semuanya selalu ternoda oleh keserakahan dan keegoisan.
.
.
.
.
Suara-suara gemuruh penonton mewarnai saat grup band yang baru debut dari agensiku, "Complex", menyelesaikan penampilan mereka, grup boyband terdiri dari 5 orang yang di sebut-sebut penuh bakat, namun tentu tak seberbakat diriku.
Suara gemuruh itu semakin kencang, saat mereka memberikan salam perkenalan sebelum kembali ke belakang panggung. Tentu saja suara gemuruh histeris bercampur tepuk tangan itu di tujukan pada artisnya, bukan penari latar, bukan dirinya.
Para penari latar berjalan sedikit berlari ke belakang panggung. Kembali ketempat mereka yang sebenarnya, di bawah bayang-bayang sorot lampu terang ketenaran.
Mataku menemukan sosoknya yang berlari ke arahku. Lapisan keringat berkilau karena pantulan lampu panggung membuat tubuhnya yang atletis tampak semakin menggoda.
Kami saling bertatapan selama persekian detik, sampai dirinya berjalan melewatiku.
Tak ada sapaan, tak ada teguran, ataupun tak ada senyum di antara kami. Hanya lirikan dari sudut mata dan sedikit sentuhan sekilas saat telapak tangan bergesekan. Namun dari situ aku bisa merasakan dukungannya.
Huh.
Aku tersenyum meremehkan.
Meremehkan diriku yang hanya dengan sentuhan kecil seperti itu bisa memberikan kepercayaan diri begitu besar untuk memukau penonton dengan penampilanku.
Aneh memang.
Tapi itulah dirinya.
Dari sekian banyak orang-orang yang ku kenal. Hanya dia yang masih berjiwa murni, dan menenangkan. Membuat semua orang di sekitarnya terhanyut oleh kebaikannya, termasuk aku.
Terkadang aku berpikir. Apa pantas orang egois sepertiku mengenalnya?.
Entahlah.
Hanya itu yang terpikir sebagai jawaban.
"Heechul-ssi, beberapa detik lagi giliranmu, harap siap di posisi" ucap salah seorang kru mengingatkan. Aku mengangguk, membetulkan pakaianku untuk terakhir kali dan letak mic serta volumenya, Sebelum lampu panggung itu di redupkan, dan aku berlari ketengah panggung.
.
.
.
.
"Apa kabar semuanya" Sapaku semangat saat lampu sorot menyala, menyorot keberadaanku di atas panggung yang mutlak.
Histerisan penonton yang memekakan telinga menyambutku. Aku menyeringai. "Apa kalian siap untuk terhibur malam ini olehku" Ucapku lagi, basa-basi. Dan penontonpun berteriak sekali lagi. Tak terdengar jelas memang apa yang mereka katakan, tapi raut wajah mereka yang tersamarkan karena terangnya lampu yang kurang, tetap membuatku melihat begitu bersemangat mereka.
Aku membalikkan badanku, berpaling ke samping panggung, menatap sosoknya yang tersenyum dari sana.
'Se-ma-ngat'
Katanya sengaja tanpa suara namun dengan gerakan mulut yang mudah terbaca. Aku tertawa dengan sikapnya yang seperti ini.
Ku putar pandanganku ke sisi lain panggung, menatap salah seorang kru yang memang selalu standby di sana, memberikan anggukan kecil tanda aku siap.
Ku putar badanku kembali ke depan saat intro musik mulai berkumandang. Betapa terkejutnya aku saat seluruh penonton yang hadir menyalakan stickglow berwarna merah, warna kesukaanku. Membuat seluruh hall ini berubah menjadi lautan sinar merah yang indah.
Aku tersenyum.
Senang karena penonton memperlakukanku istimewa karena hanya saat aku tampil mereka melakukan ini. Dan senang juga karena ini mengingatkanku saat pertemuan ku dengannya. Di bawah taburan bintang yang terang.
Pertemuan yang sedikit aneh dengan seorang pria yang tak lancar berbahasa korea. namun ia adalah sosok pria yang begitu baik hati, Hangen.
.
.
.
- Pertemuan Pertama -
Malam musim gugur di hari pertama ini jauh lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya karena angin yang bertiup dari barat, padahal biasanya, musim gugur identik dengan cuaca lembab dan kering, dengan daun-daun kering berguguran berserakan di sekitar tepi jalan.
Sama seperti malam-malam sebelumnya, suatu kebiasaan aneh yang ku lakukan sejak pertengahan tahun ini.
Aku berjalan diam-diam keluar apartemen yang sepi dari para fans yang biasanya berkumpul di luar hanya untuk satu alasan konyol, 'mencoba lebih dekat denganku'. Berjalan sendiri membelah angin dingin di tengah malam. Mengeratkan mantel dan syal yang kukenakan mencoba mendapatkan lebih kehangatan dari terpaan angin.
Hari ini begitu melelahkan, dengan setumpuk pekerjaan membuatku terpaksa kurang tidur. Hanya 4 jam perhari yang bisa kudapatkan. Mungkin karena itulah aku terbiasa tak cukup tidur, dan sebagai pelepas rasa bosan karena insomnia ini, aku memlilih untuk berjalan-jalan.
'Hatchim'
Ku usap cairan yang keluar dari hidung saat ku bersin, menguap sesekali tapi tak ada tanda-tanda mengantuk. Berjalan menelusuri jalan sepi menuju ke arah taman buatan di tengah-tengah komplek apartemen ini.
Saat kakiku melangkah masuk ke dalam kawasan taman yang sepi. Aku menghela napas jengah. Mengelusuri tiap sudut taman yang luas dengan pikiran kosong, membiarkan kaki membawaku melangkah entah kemana.
Lelah.
Membuatku memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangku panjang di dekat alun-alun taman.
Mataku terpaku menatap ke langit malam dengan bintang-bintang bertaburan, bagai batu-batu permata yang berserakan di tanah hitam kelam.
"Hup Ha Hup Ha"
Aku terkejut saat sayup-sayup terdengar suara aneh. Ku pandangin sekeliling taman yang remang-remang dan sepi. Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan, lalu dari mana asal suara itu?.
"Hup Ha Hup Ha"
Lagi-lagi suara itu terdengar, semakin dekat. Aku bergidik merinding, memeluk tubuh sendiri yang merasa ketakutan.
"Jangan-jangan hantu?" tanyaku sendiri. Ku berdiri, memutar tubuhku agar bisa melihat sekeliling taman ini lebih jeli. Tapi tetap tak ada tanda-tanda dari mana suara itu berasal.
Kresek kresek
Aku melompat kaget saat mendengar suara gemerisik daun-daun yang bergesekan. Ku picingkan mataku menatap arah selatan, di jalan setapak yang rindang oleh pagar alami dari tanaman.
Suara gemerisik itu makin mendekat dan terdengar jelas, terpaksa ku menelan ludah, bermaksud untuk segera pergi dari sini, tapi entah mengapa kakiku tak mau bergerak, dan mataku terus terpaku menatap ke arah jalan setapak itu.
"Masa zaman sekarang masih ada hantu?" pikirku, tertawa hambar berusaha agar tenang.
Kresek Kresek Kresek
Suara gesekan daun-daun semakin terdengar jelas mendekat. Ku putar setengah badan, menyiapkan ancang-ancang lari secepatnya bila hal tak mengenakan yang datang.
"Em?"
Kulihat dari tanah datar yang di sinari oleh cahaya remang-remang lampu taman dan bulan. Bayang-bayang menyerupai orang terlihat.
"Orang?" Pikirku sedikit tenang, menghela napas berat, ''tapi kenapa malam-malam begini?" ku garuk pelipis tanda tak mengerti.
Bayang-bayang itu semakin menyusut, menandakan 'sang pemilik' bayangan telah dekat, dan tak berapa lama, sesosok tubuh terlihat dari tikungan jalan setapak.
Ia seorang pria. Tak tampak jelas wajahnya karena tertutup hoodie. Sambil berlari-lari kecil, ia membawa tape kecil di tangan kiri.
Aku menatapnya heran, pikiranku bertanya-tanya mengapa ada orang susah payah mau jogging di tengah malam seperti ini, terutama saat cuaca yang dingin?.
"hn? Tapi bukannya aku juga aneh? Jalan-jalan ke taman yang sepi tengah malam seperti ini?" ingatku, menepuk dahi baru tersadar, bergumam sendiri saat menyadari kebodohanku.
Sosok itu berlari kecil ke arahku, tampaknya ia tak sadar akan kehadiranku karena sedari tadi menunduk.
Semakin dekat sosok itu, semakin sadar aku bahwa ternyata ia seorang pria dengan tubuh yang lumayan, karena pakaiannya yang ketat tertutup jaket tanpa lengan membuat cetakan otot-ototnya lengannya samar-samar terlihat. Cahaya remang-remang sekitar membuatku bisa melihat sekilas wajahnya yang tersamarkan karena memakai hoodie.
Ia berlari melewatiku. Aku hanya terteguh saat mata kami saling pandang sekilas. Mata hitam kecokelatan yang menenangkan. Ia tak tersenyum ataupun tak menyapa, tetap berlari dengan tenang melewatiku yang terkaku.
Butuh hampir 10 detik aku tersadar, bahwa ia sudah tak terlihat lagi, berlari belok ke bagian terdalam taman.
"Heh~ Siapa dia?" tanyaku sendiri. Sempat ku berpikir untuk mengikutinya tapi ku urungkan.
"Mungkin cuma orang aneh yang tergila-gila dengan jogging kali" ucapku, mengangkat bahu tak peduli. Memutar tubuh dan berjalan keluar taman, karena angin yang bertiup semakin dingin.
.
.
.TBC
.
.
Walau aku tak menerangkannya, tapi sebenarnya dalam penulisan fic ini aku di bantu dengan Snow. Yah, walau hanya ngerapikan plot-nya =='
Kalian bertanya kenapa aku sering minta bantuan dengan Snow?
Itu karena aku miskin ide! Tak pintar merapikan sebuah plot! Dan membuat sebuah ilustrasi sebuah kisah agar terlihat seperti nyata. Oh ya, ada pesan dari Snow nih.
"Jangan berpikir atau pernah mengira aku adalah seorang 'Oennie', dan jangan karena aku sering membantu baby, kalian berpikir aku sama dengan dia yang sedikit 'gila' "
Hufh! Antara rela dan tidak nulis pesan itu =='
Oh ya! RnR untuk fic ini kurang yah ==' Pada tak suka pairing Sihanchul yah? Ehm ya sudah lah, takkan ku posting di sini lagi lanjutannya =='
Oh ya satu lagi, hufh hampir lupa!
Mungkin memang beberapa fic-ku menggunakan bahasa yang seharusnya di sensor. Tapi, sekali lagi maaf! Kebiasaan luar membuatku melupakan aturan seperti itu (ToT). Apalagi aku selalu di wanti-wanti saat menulis Lemon tak perlu ragu-ragu ==' pokoknya tulis terus makai bahasa seheboh-hebohnya 'o'
