Hei, benarkah ini pertemuan kedua kita?
Kenapa saat aku melihat wajahmu, diriku seakan-akan mengenalmu sejak dulu?
Bahkan rasanya hatiku tertarik ke arahmu dengan sendirinya.
Benarkah ini pertemuan kedua kita?
Evil Baby Snow Company Featuring SM entertainment
Present
.
.
- Pertemuan Kedua -
"Selamat pagi Sunbae"
"Pagi Heechul-Sunbae"
"Ya ya ya, Pagi semua" kataku malas, namun tetap tersenyum, tentu saja senyum bisnis yang ku banggakan. Ku lambaikan tangan saat berpapasan dengan beberapa honbae atau sedikit membungkuk saat bertemu dengan Sunbae-Sunbae yang lain. Makin lama sepertinya intensitas aku harus 'hormat' semakin sering dengan seiringnya berpapasan dengan orang lain. Kesal, bosan, dan terlalu lelah berbasa-basi ku percepat langkah kakiku berjalan menyelusuri koridor kantor agensi, berpura-pura tak melihat saat beberapa orang menyapa, terus berjalan dan berbelok ke kiri menuju lift. Begitu aku berdiri di depan lift, langsung ku tekan tombol ke atas dengan keras.
Ku tekan berkali-kali tombol lift, tapi tak kunjung juga terbuka. Ku silangkan kedua tangan di dada, menghentak-hentakkan kaki pelan, dan menggerutu bosan, "Ais lamanya!" Keluhku saat lift tak terbuka juga. Ku lihat ke arah banner lift, "Ais baru lantai 5!".
Ku bersender di dinding di sisi lift, mengambil ponsel di saku dan mengutak-atik isinya. Sesekali ku lirik banner lift, "Cih apa tak bisa lebih cepat lagi lift ini turun" geramku.
Ku masukkan ponsel ke saku asal, membalik tubuh dan membuka pintu emergency yang berada tepat di sisi kanan lift. Tak peduli lagi pada banner lift yang sudah menunjukkan angka 1.
TRING
Pintu lift terbuka tepat saat pintu emergency tertutup. Dari dalam lift keluar beberapa orang dengan teratur, mulai dari laki-laki yang berpakaian rapi, modis ataupun gadis-gadis yang berpakaian sexy menggoda. Rata-rata dari mereka keluar beriringan, antara 2 sampai 3 orang.
"Benarkah Hyung? Mereka bilang akan mempertimbangkanmu untuk debut?" girang seorang lelaki remaja berperawakan kecil. Dengan matanya yang besar, ia menatap lelaki yang berjalan beriringan keluar dari lift di sampingnya
Lelaki yang di tanyanya tersenyum, "Itu yang ku dengar" ucapnya dengan bahasa korea yang terlalu formal dan baku. Namun remaja berperawakan kecil itu tak peduli, ia melompat-lompat sambil bertepuk tangan "Wah selamat Hyung!" histerisnya yang membuat gaduh di sekitar mereka.
Beberapa orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah mereka, menatap aneh. "Maaf" Ucap laki-laki itu merasa tak enak, di bungkam mulut remaja berperawakan kecil agar tak berteriak-teriak lagi, dan menyeretnya menjauh, "Kau membuatku malu" bisiknya di telinga remaja itu.
Mendengar itu, remaja tersebut hanya bisa membuat tanpa 'peace' dengan jarinya.
"Hm?" langkah lelaki itu ter-stop saat ia tepat di depan pintu emergency yang sesekali masih bergerak terbuka tertutup. Di lepas tangannya yang membungkam mulut remaja berperawakan kecil. Matanya terpaku menatap daun pintu, dan kakinya melangkah sendiri menuju pintu emergency.
"Hyung? Hei Hyung! Kau kenapa?" Tanya remaja berperawakan kecil sedikit meninggikan suaranya, karena lelaki yang di panggilnya tetap berjalan dengan ekspresi sayu ke pintu emergency. "HYUNG!" teriaknya lebih keras. Di pukul pundak lelaki itu, kontan membuat lelaki itu tersadar.
"Hah?" katanya bagai tak sadar apa yang terjadi.
"Kau kenapa Hyung? Kok mau ke pintu emergency?" tanya remaja itu khawatir, di lambai-lambai tangannya di depan wajah lelaki itu.
"Eh? Memang aku kenapa?"
Remaja itu mendelik, di tatap wajah lelaki yang jauh lebih tinggi di depannya ini. Di tatap dengan seksama, namun hanya butuh waktu seperkian detik ia sadar bahwa lelaki yang di depannya ini memang tak berbohong.
"Kau tiba-tiba berjalan ke pintu emergency Hyung" di hela napas panjang, "Memangnya kau mau apa ke pintu emergency?".
Lelaki itu masih terdiam tak mengerti. Di otaknya berputar-putar arti kalimat yang di tanyakan temannya ini. Di lihat tangan kanannya yang sudah memegang kenop pintu emergency, "Kenapa yah?" gumamnya sendiri tak mengerti, di tatap telapak tangannya bingung, "Kenapa ada perasaan ingin ke sini?" gumamnya masih, di tatap daun pintu emergency sendu.
"Hyung? Halo? Apa ada orang di sini?" tanya remaja berperawakan kecil, dengan bercanda di ketuk-ketuk kepala lelaki di depannya, "Kau masih ada di sinikan Hyung?" Tanyanya dengan sedikit memberikan irama pada tiap katanya.
Lelaki itu menoleh, menatap dalam ke mata temannya di samping, "Hm" ucapnya singkat.
Memutar tubuhnya dan berjalan menjauh, meninggalkan remaja berperawakan kecil tertinggal di belakangnya.
"Hyung tunggu! Tunggu aku hangen hyung!" Teriak remaja itu, di percepat langkahnya agar bisa mengejar. Orang yang dipanggil berpaling, "Makanya cepat sedikit Ryeowook" ucapnya.
"Ais gimana mau cepat! Kakimu itu terlalu panjang! Makanya walau kau berjalan pelan kau tetap lebih cepat! Langkah kakimu itu besar-besar Hangen Hyung!" Cercanya, di kerucutkan bibirnya kesal saat dia akhirnya bisa menyusul.
"Makanya cepat besar" Ledeknya.
.
.
"Huh! Ada apa memanggil ku" Bentakku kesal saat memasuki ruangan direktur. Ku hempas pintu terbuka lebar. Rasa kesal, lelah dan capek karena harus menaiki tangga sampai ke lantai 10 bukanlah perkara mudah. Kakiku bagai mati rasa sekarang.
Tanpa memperdulikan kilatan silau kemarahan dari mata Choi Siwon, direktur muda fawless, aku melangkahkan kakiku ke sofa empuk yang terlihat dari jangkauan mata. Ku hempaskan tubuhku disana, menaikan kedua kaki di atas meja kaca, menyilangkannya.
"Memangnya ada apa? Jangan kau bilang hanya memanggilku untuk urusan tak penting!" sungutku kesal, ku pijat-pijat kakiku yang letih, "Kau tahu sendirikan, jadwalku padat!".
"Apa pantas kau bersikap seperti itu di depan pimpinanmu sendiri?" kata suara tenang namun menghanyutkan dari Siwon, di kepal kedua tangannya menahan emosi.
Aku mendelik, menatap sinis pria yang duduk tenang di kursi direkturnya, "Apa pantas seorang pimpinan tidur dengan bawahannya sendiri" hardikku tak peduli. Ia sempat terkejut dengan perkataanku.
"Bukan aku yang meminta bukan" ucapnya tenang, "Bukannya kau sendiri yang rela" Dengan senyum kemenangan yang menghias di wajah tampannya ia menyindirku.
Aku mendengus, baru kali ini tak bisa berkata apa-apa lagi untuk melawan. Memang ini sebagian adalah keinginanku. Menyerahkan tubuhku pada seorang pimpinan yang memiliki adi kuasa adalah hal yang lumrah, karena dengan begitu aku bisa mendapatkan keuntungan dari sana.
"Cih" gerutuku, membuang ludah ke samping. "Lalu memangnya ada apa kau memanggilku kesini!" tanyaku sekali lagi, mencoba mengembalikkan topik pembicaraan ke semula.
Siwon tersenyum sesaat karena dia tahu aku tak bisa berkutik. Di buka laci mejanya dan mengeluarkan amplop cokelat. "Ada pekerjaan baru untukmu" katanya dan membuang amplop itu di atas mejanya. "Aku sudah menyetujuinya. Jadi kau cukup melakukannya saja".
Aku menatap Siwon kesal. Lagi-lagi pekerjaan baru!. Memang dengan itu aku semakin terkenal, namun tetap saja aku merasa terkengkang, karena waktu untuk diriku pribadi sama saja hilang.
Dengan malas ku seret kakiku melangkah menghadap siwon, mengambil berkas di dalam amplop cokelat yang tergeletak di atas mejanya. "Memangnya pekerjaan apa? Apa Jay-hyung tahu masalah ini?" tanyaku mengeluarkan isi amplop yang kini ku pegang.
Siwon tersenyum sumeringah, hingga lesung pipit di pipinya nampak, "Jay ada hanya untuk melakukan apa yang ku perintah. Ini masalah Avex japan yang tertarik untuk memproduserin album perdana berbahasa jepangmu. Jadi mulai bulan depan kau akan bolak balik ke sana. Bukannya ini menarik. Tanpa kita perlu bersusah payah membuat janji temu dengan mereka untuk masalah ini, mereka sendiri yang datang untuk meminta" Katanya senang, "Memang tak salah aku mengorbitkanmu" dengan kebanggaan yang terlalu berlebihan siwon bertepuk tangan, "Kau memang penghasil uang yang terbaik untuk perusahaan ini".
Aku hanya diam akan semua komentarnya, aku lebih tertarik membaca isi kontrak dan berkas-berkas lainnya dari dalam amplop cokelat ini. "Aku mengerti" kataku singkat, ku masukkan lagi semua berkas itu kembali ke dalam amplop. "Sudah selesaikan? Kalau begitu aku mau pergi. Masih ada pekerjaan lainnya".
"Tunggu!" Tahan Siwon. Aku menoleh bingung, "Ada apa lagi?" kataku tak sabaran.
"Masa kau lupa apa yang harus kau lakukan" ucapnya dengan nada bermain-main. "Kau tahu sendirikan, semua itu tak bisa kau dapatkan secara G-RA-TIS" katanya dengan menekan tiap kata di akhir kalimat.
Aku menyengitkan alis. Ku pandang wajah Siwon yang tersenyum. Sebenarnya bila ia tersenyum seperti itu, dia termasuk tipeku. Matanya yang memancarkan kesan polos, tubuhnya yang menggiurkan, dan tentunya senyumannya yang ramah, pasti membuat semua gadis manapun akan langsung tunduk olehnya, namun tentunya pasti ada beberapa laki-laki gay yang juga terpikat oleh pesonanya.
Namun sayang. Saat senyuman itu memancarkan maksud tersembunyi yang jahat, membuat pesonanya terlihat menjijikan.
"Haruskah?" kataku basa basi.
Dia menarik garis bibirnya membuat senyum andalannya, "Menurutmu?" tanyanya balik.
Ku tatap matanya yang menatapku penuh arti, turun ke bibirnya yang tersenyum, lalu lebih turun ke tangannya yang meremas-remas bongkahan daging mentah di balik celananya. Aku menelan ludah sedikit getir, "Tapi waktu ku hanya tinggal sedikit. Sebentar lagi aku harus ke lokasi syuting" ucapku berkilah, namun dia malah tersenyum lebih.
"Kalau gitu kita bermain cepat" di buka resleting celananya, tangannya meronggoh masuk dan dari balik celana dalam yang di kenakannya, di keluarkan bongkahan daging mentah itu. "Ayo kemari, bukannya kau bilang waktu mu hanya sedikit" di kocok perlahan kemaluannya yang masih lunglai, memberikan rangsangan agar menegang.
Aku melihat sikapnya tanpa perasaan. Otakku kosong karena memang sengaja aku tak berpikir. Ku langkahkan kakiku mantap, memutari meja direktur yang besar, berdiri di sisi tempat duduk Siwon.
Entah karena ini memang sudah terbiasa ku lakukan atau apa. Tubuhku bergerak sendiri, mengerti apa yang harus ku lakukan tanpa perlu otakku memerintah. Aku duduk berlutut di antara kedua kaki Siwon yang terbuka lebar, tanganku terjulur menyentuh kemaluannya. Memberikan blowjob pada daging mentah itu agar lebih terangsang dan menegang.
"Bagus. Kau memang anak pintar" kata siwon dengan suara terengah-engah akibat rangsangan yang bertubi-tubi di terima dari kemaluannya.
.
.
"Heh! Masa kau tak tahu dia Hyung!" Teriak Ryeowook histeris, matanya melotot menatap Hangen, makanan yang belum sempat di telannya menyembur keluar dari mulut.
"Yah! Ryeowook! Telan dulu yang kau makan baru bicara" Hardik hangen kesal. Di lap wajahnya yang menjadi korban semburan nasi dari Ryeowook dengan kesal.
Ryeowook dengan cepat menelan makanan yang masih tersisa di mulutnya, karena terlalu terburu-buru ia tersedak. Panik di ambil gelas Hangen, dan meminum isinya. "Puah~ Kukira aku mati tersedak" katanya lega, di letakkan gelas kosong kembali di tempat semula. Melihat itu Hangen hanya bisa mencongos, melihat gelasnya kini kosong tandas.
"Yakin kau memang tak mengenalnya?" tanya Ryeowook hati-hati, wajahnya terlihat tak percaya, bagai melihat sesuatu yang aneh. Hangen mengangkat bahu tak peduli, dan memulai melanjutkan makannya yang tertunda.
"Kau aneh Hyung!" serunya, di ambil sumpit yang di pegang Hangen dan meletakkan rapi di meja, "Dengar Hyung! Masa kau tak mengenal Sunbae kita yang satu itu? Dia Kim Heechul, Hyung! Artis yang saat ini terkenal!" Lanjut Ryeowook bergebu-gebu, sesekali di pukul meja makan membuat beberapa orang di samping menoleh padanya.
"sttt, kecilkan suaramu. Apa kau lupa kita ini ada di tempat umum" bisik Hangen risih saat beberapa orang menatap mereka, "Kau ini masa kau lupa kita ada di kantin kantor".
Ryeowook mendekap mulutnya sendiri, memandang orang-orang di sampingnya yang menatap sinis. "He he he maaf maaf" kata Ryeowook cengengesan pada orang di sekitarnya, di garuk belakang kepala canggung.
"Haah" Keluh Hangen, di pijat pelipisnya.
"Jadi Hyung. Kau memang tak kenal dia?" tanya Ryeowook lagi, tak menyerah. Hangen mendesah, dan mengangguk. Ryeowook mengangga tak percaya.
"Pokoknya mulai sekarang kau harus tahu tentang dia, Hyung! Tidak lucukan kau tak mengenal Sunbae-mu sendiri!" titah Ryeowook mutlak. Hangen menggeleng lemah, dia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dari bangkunya. Meninggalkan Ryeowook yang terus menerus memanggilnya di belakang.
Hangen terus berjalan sambil meronggoh kantong celananya, mencari beberapa uang koin yang ada. Saat di dapatkan beberapa koin recehan di kantong dan ia sudah berdiri di depan mesin kopi otomatis yang terletak di ruang istirahat, di masukkan beberapa koin itu ke dalan coffe machine. Di tekan tombol Hot Black coffe not sugar dan menunggu beberapa saat.
Sambil menunggu hangen bersenandung menggumamkan lirik beberapa lagu mandarin. Saat kopi yang di tunggu akhirnya tertuang juga secara otomatis ke dalam gelas kertas yang sudah di sediakan. Hangen tersenyum.
Tangannya terjulur mengambil gelas kertas yang sudah terisi kopi panas. Namun saat ujung jarinya baru menyentuh gelas kertas itu, tiba-tiba tangan lain mengambil gelas kopinya.
Hangen terkejut, di putar pandangannya ke samping, ke orang yang dengan santainya meminum kopinya.
"Pueh! Panas! Pahit" Keluh orang itu, di julurkan lidahnya yang seakan terbakar. Melihat sikapnya, Hangen hanya bisa melongo tak percaya.
"Hei itu" belum sempat Hangen menyelesaikan kalimatnya, perkataannya tertahan saat melihat wajah orang di sampingnya. Hatinya melongos melihat wajah orang itu. Matanya terpaku menatap bola mata hitam bagai beludru yang menghipnotisnya kuat agar terus memandangnya. Dunianya seakan-akan berhenti berputar saat itu.
"Hei kenapa kau menatapku seperti itu!" bentak orang yang di sampingnya membuat lamunannya buyar, "Kalau kau mau protes karena aku meminum kopi-mu itu semua salahmu! Salah sendiri gerakanmu lambat! Lagian kenapa ini panas sekali! Mana pahit pula! Pueh gara-gara kamu lidahku terbakar! Cih bagaimana kalau suaraku jadi rusak gara-gara meminum kopimu! Memangnya kau bisa tanggung jawab apa!" Teriak orang itu tak ada habis-habisnya, selalu kata-kata kasar yang keluar dari bibirnya. Di kipas-kipas lidahnnya yang terjulur.
Lagi-lagi hangen hanya bisa melongo, baru kali ini dia melihat orang secerewet ini, "Maaf Nona, tapi bukannya kau yang salah karena mengambil minumku" kata Hangen, matanya menatap gelas kosong di tangan orang itu.
Orang itu menyengitkan dahinya. "Hei! Kamu buta ya? Aku ini laki-laki. Sejak kapan aku memotong batang kelamin ku Hah!" cercanya tanpa sensor di kata-kata yang ia keluarkan. Mendengar itu hangen terkejut. Bukan hanya karena orang di sampingnya ini laki-laki, tapi juga kata-kata yang di lontarkannya. Tanpa sopan santun!.
"Kau"
"Hyung!" Teriak Ryeowook dengan suara cempreng-nya. "Aku mencarimu kemana-mana!" gerutunya kesal, napasnya tersengal-sengal karena lelah berlari. "Ngapain kau di sin" Belum sempat Ryeowook melanjutkan kata-katanya, matanya melotot, kaget tak percaya melihat laki-laki di samping Hangen, "KIM HEECHUL SUNBAE" Teriaknya tak percaya.
"Hah? Heechul?" tanya Hangen, di putar bola matanya menatap laki-laki yang mendengus sombong di sampingnya, "Kau Heechul?" tanya Hangen tak percaya.
