Disclaimer : I am JK Rowling (But JK Rowling can't speak Indonesia, can she?) Well, Sorry Mrs. Rowling I can. But that's mean I am not her. Sorry, guys!

Laptopku, tahu kah kau betapa aku menyayangimu? Jangan buat aku sedih lagi karena melihatmu terbaring tak berdaya lagi, ya?

Lupakan apa yang aku tulis diatas. Maafkan jika ada salah-salah kata dan tulisan. Maklum manusia tempat salah dan lupa. Pokoknya Read and Review!


Intro

Part II

Awal tahun ketujuhku pun dimulai. Aku membawa troli berjalan di stasiun King Kross menuju peron 9 ¾. Disampingku ada Paman Ron yang selalu mengantarkanku disetiap tahun ajaran. Kami berlari menembus dinding diantara peron 9 dan sepuluh.

Peron 9 ¾ cukup ramai. Tidak tampak seperti ada penyihir hitam yang siap menghancurkan mereka diluar sana. Anak-anak bersama orangtua mereka mengucapkan salam perpisahan.

Paman Ron memimpin menuju segerombolan orang-orang berambut merah menyala dipojokkan peron. Dan aku mengenali mereka. Ada Paman Bill dan istrinya Fleur beserta kedua anaknya, Louis yang mempunyai rambut pirang lurus sebahu dan bermata biru, tampan dengan matanya yang tampak jahil yang seangkatanku dan dia ternyata masuk Slytherine, dia adalah sahabat baikku, dan adiknya Dominique, satu-satunya anak Paman Bill yang mewarisi rambut keluarga Weasley. Mereka sebenarnya memiliki tiga anak. Namun, puteri pertama mereka Victoire yang lulus tahun lalu sekarang bekerja untuk Orde, organisasi yang melawan Pangeran Kegelapan.

Victoire adalah gadis yang sangat cantik, tapi aku tidak pernah membanding-bandingkan mereka, kau tahu, Victoire dan Narcissa. Secara fisik mereka mirip, wajah cantik yang sama, rambut pirang yang sama hanya saja milik Narcissa lebih berwarna keperakan dan Victoire sewarna emas. Aku pernah naksir Victoire sebelum aku masuk Hogwarts.

Kemudian ada Paman Percy dan istrinya Audrey serta kedua putrinya, Lucy dan Molly. Lucy mewarisi rambut coklat ibunya, dia setahun lebih muda dariku dan Molly yang mewarisi ciri khas keluarga Weasley tiga tahun lebih muda.

Kemudian ada Paman George dan istrinya Angelina serta kedua anaknya, Fred dan Roxanne. Fred diambil dari nama saudara kembar Paman George, Fred yang meninggal belasan tahun lalu ditangan pelahap maut. Roxanne dan Lucy ada ditahun yang sama. Sementara Fred tiga tahun lebih muda.

Dan yang terakhir adalah Bibi Ginny dan suaminya Draco serta dua anak kembar mereka, Elroy dan Narcissa. Sudahkah aku bilang bahwa Narcissa itu kembar?

Ia kembar tidak identik dengan saudaranya Elroy. Elroy masuk Slytherine, aku sangat bersyukur untuk itu. Elroy beberapa menit lebih tua dari Narcissa. Ia dan Narcissa mempunyai rambut pirang pucat yang sama. Tapi, mata Elroy berwarna coklat susu persis seperti ibunya sementara Narcissa mempunyai mata abu-abu seperti ayahnya. Elroy jago dalam permainan quidditch, chaser terbaik kami, dialah kapten quidditch Slytherine selama dua tahun terakhir. Dia seperti kakak bagiku. Dia lebih dewasa daripada aku dibeberapa hal dan aku lebih dewasa dibanding dia di beberapa hal lain. Aku, Louis dan Elroy sudah seperti kakak beradik.

"Hei, bro" sapa Louis dan Elroy ketika aku datang mendekat. Aku memberi mereka tos yang seperti anak-anak, tapi biarlah itu sudah jadi kebiasaan kami. Kemudian aku bertukar sapa dengan keluarga Weasley yang lain. Dan mengedip kepada Narcissa yang melotot padaku.

"Bagaimana kabarmu? Profesor Dumbledore tidak menyulitkanmu, kan?" tanya Louis.

Aku menggeleng. Selama musim panas ini, Profesor Dumbledore telah memberiku latihan khusus. Ia mengajakku terbang ke Albania untuk mencari informasi tentang Pangeran Kegelapan. Dan itu semua menyita waktu hampir seluruh musim panas. Aku baru pulang beberapa hari yang lalu. Albania bukanlah tempat yang cocok untuk liburan."Ayo naik, jika kita bisa mendapatkan tempat eksklusif. Aku akan cerita," ujarku. Maka dengan segera kami berpamitan pada seluruh keluarga dan segera naik ke kereta.

Setelah menaruh barang bawaan kami dikompartemen yang eksklusif. Aku tutup pintu kompartemen rapat-rapat."Siap?" tanyaku. Mereka mengangguk dan menunggu dengan penasaran sementara aku duduk.

"Albania itu mengerikan," aku pun mulai."Banyak sekali hutan-hutan, dan setiap hari hampir selalu mendung dan hujan padahal saat itu musim panas. Dihari pertama kami menginap di sebuah penginapan muggle disebuah desa. Yang katanya sih tempat penginapan Tom Riddle dulu. Tempat itu sudah tua dan reyot. Untuk beberapa hari dan beberapa minggu pertama kami menelusuri jejak Pangeran Kegelapan di desa itu.

"Kejadian itu sudah terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Tak ada orang yang tahu. Jadi kami tidak punya banyak kemajuan. Jadinya, selama itu Profesor Dumbledore hanya mengajariku berbagai sihir baru.

"Ketika aku mengusulkan untuk mencari informasi lebih lanjut didaerah lain. Profesor Dumbledore bilang, kami harus mencari disini. Akhirnya kami berhasil menemukan seorang kakek tua yang aku tebak umurnya hampir setua Profesor Dumbledore sendiri diminggu terakhir kami. Dia agak gila. Selalu bicara tentang pemuda yang mampu menghilang, yang membakar rumahnya dengan pandangan matanya. Profesor Dumbledore curiga, makanya ia mulai menelusuri jejak lelaki itu. Ternyata dia itu adalah anak pemimpin desa itu, dulu sekali.

"Keluarganya mati tragis dan rumahnya terbakar, dia adalah satu-satunya yang selamat. Dan jasad kakak perempuannya tidak pernah ditemukan, kukira sih sudah jadi abu. Sejak itu ia jadi gila. Sebenarnya agak membosankan juga sih, tidak ada yang menarik. Kami memang sempat menjelajah hutan dan bertemu dengan beberapa centaurus paling tua yang pernah kulihat. Tapi mereka hanya menceritakan kisah-kisah lama tentang Pangeran Kegelapan," aku mengakhiri ceritaku.

Hening sejenak."Wow, aku berharap aku bisa kesana," ujar Louis memecahkan keheningan.

"Yah, aku bersedia kok tukar tempat," ujarku asal. Semuanya sungguh tidak enak bagiku. Aku bersedia tukar tempat jika bisa. Aku ingin punya ayah ibu dan kehidupan yang normal. Tidak ditekan dengan ramalan bodoh itu. Aku benci dengan ramalan. Yah, tidak heran ramalanku dapat D.

Kemudian pintu kompartemen dibuka. Seorang wanita pendek setengah baya dengan raut muram muncul. Dia adalah si penjaja makanan. Troli makanannya disandarkan disampingnya."Surat untuk Mr. Potter" ujar wanita itu. Ia menyodorkan surat beramplop warna zamrud sama seperti yang kuterima ketika dinyatakan masuk Hogwarts. Berat.

Aku berdiri dan mengambilnya dengan terkejut."Eh, terima kasih," ujarku. Dia tidak menjawab."Tunggu dulu, aku mau membeli beberapa coklat kodok dan kacang segala rasa," ujarku segera. Aku segera berdiri lagi dan tersenyum. Ekspresi wanita itu jadi aneh. Seperti menahan senyum. Aku membeli tiga coklat kodok dan tiga permen segala rasa dan mengedarkannya pada Louis dan Elroy yang menerimanya dengan senang hati. Aku baru sadar kalau kereta sudah berjalan.

Kemudian aku membuka amplop itu yang direkatkan dengan stempel Hogwarts. Ada sebuah lencana yang mirip seperti lencana prefectku hanya saja tidak ada lambang Slytherine dan tulisan prefect sekarang diganti Head Boy.

Dear Mr. Potter

Dengan surat ini saya nyatakan anda sebagai Head Boy untuk tahun ini. Tugas anda dimulai mulai hari ini tepat pukul dua belas. Head Girl akan menemui anda di kompartemen depan, khusus pengurus, dijam yang sama. Semoga anda mampu menjalankan tugas anda sebaik-baiknya.

Albus Dumbledore

P.S: Go to my room 12 o'clock on Tuesday. (Sorry belum diterjemahkan he...he...)

Itulah isinya. Astaga! Aku jadi Head Boy. Aku tidak senang dengan itu. Maksudku, aku berharap bisa bersenang-senang tahun ini. Hanya memfokuskan diriku untuk N.E.W.T dan latihan dari Profesor Dumbledore. Dulu aku semangat jadi Prefect karena Narcissa juga jadi Prefect.

"Astaga, kau jadi Head Boy!" teriak Louis. Ia meraih lencanaku dan memandanginya dengan takjub.

"Yah, aku tidak terlalu bersemangat," ujarku jujur. Aku tidak ingin pergi menginspeksi seluruh siswa sementara dua sahabat baikku ngobrol-ngobrol santai disini. Maksudku, itu sangat membosankan.

"Mungkin jka kuberitahu soal ini semangatmu akan tumbuh lagi," ujar Elroy sambil memandangku dengan penuh kemisteriusan. Dia mendapatkan perhatianku. Matanya yang berwarna coklat susu itu bersinar."Narcissa yang jadi Head Girl," ujarnya lirih.

Api berkobar dalam tubuhku, membakarku. Aku tersenyum seperti orang gila."Benarkah?" tanyaku senang pada Elroy.

Elroy menghela nafas."Kutahu ini akan selalu berhasil," ujarnya kemudian ia berpaling kearah Louis."Ingat saat ia jadi Prefect, dia sama tidak bersemangatnya. Sampai aku bilang bahwa Narcissa juga jadi prefect," tambahnya pada Louis.

Louis menyeringai dan memandang genit."Kau seharusnya mengajaknya kencan, sobat" ujarnya. Aku memandangnya dengan pandangan 'seperti kau tidak tahu Narcissa saja?'. Pangeran Kegelapan sudah mati dihari yang sama ketika Narcissa menerima ajakan kencanku.

Aku tidak mempedulikan mereka lagi. aku melirik arlojiku. Arloji lama yang sudah melesak, peninggalan ayahku. Pukul 12.15 astaga! Aku terlambat. Aku membongkar koperku. Dan berganti baju disana dengan baju seragamku.

"Astaga, sobat. Apa kau tidak pernah lihat tulisan kamar mandi sepuluh kaki dari sini?" tanya Elroy dengan pandangan sedikit jijik. Aku tidak peduli, dia bisa kuurus nanti. Aku tidak bisa membuat Narcissa marah dengan keterlambatanku. Dia kan selalu on time.

"Aku sudah terlambat, big bro" jawabku sambil mengancingkan jubahku. Aku merenggut lencanaku daru tangan Louis. Dan tanpa banyak bicara lagi aku keluar kompartemen. Aku berlari ke kompartemen depan. Kompartemen khusus untuk Head Boy dan Head Girl, para Prefect serta guru-guru, jika ada. Aku bertemu beberapa anak perempuan kelas tujuh Gryffindor yang memandangiku dengan tajam ketika melihat lencana Head Boy tersemat dijubahku. Mereka tidak terlalui menyukaiku. Maksudku, yah aku kan saingan mereka. Mereka mungkin akan mendukungku jika aku sudah terang-terangan menyatakan aku melawan Pangeran Kegelapan. Mereka juga tidak suka karena putera tunggal Harry Potter masuk Slytherine.

Aku meringis pada mereka. Mereka mengabaikanku. Well, kurasa aku tidak sepopuler itu. Dengan nafas terengah-engah, aku berhasil sampai di kompartemen depan. Aku melihat arlojiku, 12.20. tidak buruk.

Dengan segera aku melewati kompartemen prefect. Sebuah kompartemen besar untuk para prefect. Dua kali aku harus kesana ketika aku masih menjadi prefect. Aku memandangi kompartemen disebelahnya. Kompartemen yang selalu membuatku penasaran ketika aku masih menjadi prefect. Aku mengatur nafasku dan kemudian membuka pintu kompartemen.


"There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle." – It's mine! It's mine! (No...No...No it's from Albert Einstein, I just love this quote)

Please visit my other fanfic and give me a review!

It's still continue to the next part so click it!