Love is like water;
We can fall in it.
We can drown in it.
And we can't live without it.


Intro

Part III

Sesosok gadis cantik berseragam Gryffindor duduk dipojok bangku kompartemen. Menyilangkan tangannya didepan dada dan menyilangkan kakinya. Gadis cantik inilah yang membuatku selalu bersemangat. Ia mempunyai rambut berwarna pirang pucat yang lurus dan terlihat lembut, well..aku tidak punya kesempatan membelainya. Matanya berwarna abu-abu yang sekarang sedikit lebih gelap. Ia menatapku terkejut. Aku memberinya senyuman yang paling mempesona. Tapi ia jelas-jelas tidak menyadarinya.

"James? Kau jadi Head Boy?" ujarnya dengan suara tercekat setelah hening beberapa lama.

"Well...yap" ujarku sambil melangkah masuk dan menempatkan diriku dibangku didepannya. Kompartemen itu seukuran kompartemen lainnya. Tidak ada yang menarik.

Ia memandangku tajam."Jadi apa yang perlu kita bahas sekarang?" tanyaku. Senyumanku berubah menjadi ringisan ketika ia masih saja memandangku.

Sedetik kemudian ia menghela nafas kesal. Sama persis seperti yang dilakukan kakak kembarnya, Elroy."Aku tidak tahu kau jadi Head Boy," ujarnya. Aku bisa melihat bahwa tubuhnya yang tegang menjadi lebih santai. Aku tersenyum.

"Aku sendiri juga tidak tahu sampai..." aku berhenti sejenak untuk melihat arlojiku."Sampai sekitar sepuluh menit yang lalu. Aku baru saja mendapat suratnya," ujarku. Hening sejenak."Tapi, aku senang kau jadi Head Girl," tambahku. Narcissa memutar bola matanya dan mendesah.

"Baiklah, James. Kita hanya punya waktu lima menit sebelum pertemuan para prefect karena kau terlambat 25 menit," kata Narcissa. Aku senang dengan suaranya yang indah.

"Maaf, suratnya terlambat 15 menit," aku membela diri. Memang benar, kok.

"Ya, tapi kita sudah tidak punya waktu. Untungnya, aku sudah membuat jadwal inspeksi untuk para prefect tanpa perlu bantuan Head Boy," kata Narcissa dengan nada dingin. ia menyerahkan jadwalnya padaku yang sudah sempurna sampai sekarang.

"Well, ini oke" ujarku. Aku memandang Narcissa. Namun, ia sudah tidak disana. Narcissa berdiri di pintu kompartemen tanpa sedikitpun suara, aku tidak tahu bagaimana ia bisa melakukannya. namun, ia pasti penyelinap terbaik didunia.

"Ayo, James, sudah jam 12.30 kita harus bertemu dengan para prefect," ujarnya tak sabar. Dengan segera aku berdiri dan mengikutinya ke kompartemen sebelah. Dimana sekitar 16 murid duduk dimasing-masing bangku. Kompartemen itu luas, sehingga kami semua muat. Anak-anak kelas lima dan enam memandang takut-takut pada Narcissa. Mereka pasti sudah tahu sikap Narcissa dan mereka pasti sudah tahu kalau Narcissa lah yang dipilih jadi Head Girl. Namun, mereka terkejut ketika melihatku masuk dibelakang Narcissa. Aku memberi mereka senyumanku yang kedua paling mempesona. Karena yang pertama hanya untuk Narcissa seorang.

Kami duduk disisa bangku yang tersisa. Aku melihat anak perempuan kelas lima dari Hufflepuff sedikit merinding ketika Narcissa duduk disisinya. Aku sendiri mendapat bangku didepannya, disamping anak lelaki kelas enam Slytherine yang berbadan besar dan mempunyai rambut hitam bernama Greg, ia tersenyum senang padaku. Aku menepuk pundaknya."Bagaimana kabarmu?" tanyaku pada Greg.

"Baik, aku tidak tahu kau jadi Head Boy. Itu mengejutkanku, James" ujarnya. Aku mengedikkan kepala sebagai jawaban. Greg adalah beater tim Quidditch kami. Ia mempunyai karisma yang didukung oleh penampilannya yang sangar. Aku berharap ia yang menjadi kapten tim quiddtich kami setelah Elroy lulus tahun depan. Aku mengenali wajah Lucy diantara para prefect.

"Baiklah," Narcissa mulai."Aku dan James Potter sudah merundingkan ini," aku terkejut ketika ia bilang kami sudah berunding. Apanya yang kami rundingkan? Aku terkejut ia mengatakannya. Maksudku, itu bukan sifatnya.

"Ini adalah bagian inspeksi kalian," ujarnya," Baca baik-baik setelah aku keluar. Dan sebaiknya kalian taati betul-betul. Masing-masing dari kalian akan berpasangan dengan kakak atau adik kelas kalian untuk menginspeksi para murid. Ini dikarenakan agar para junior mampu belajar dan tidak berbuat kekacauan seperti yang sebelum-sebelumnya.

"Kita akan menggunakan shift bergantian. Semua sudah tertera di kertas jadwal. Dan aku ingatkan sekali lagi, jangan gunakan fasilitas yang disediakan sekolah dengan semena-mena, jaga dan rawat baik-baik. jangan gunakan wewenang kalian sebagai prefect untuk mempermainkan murid-murid lain.

"Dan camkan ketika aku atau James melihat atau mendengar kalian melakukan pelanggaran, hukuman yang akan kami berikan dua kali lipat lebih berat dari anak-anak lain. Kalian adalah teladan, kalian sudah dipilih baik-baik. maka dari itulah keputusan ini diambil. Aku harap jika kalian melihat satu sama lain melakukan pelanggaran, segera laporkan padaku atau James," Narcissa mengakhiri pidatonya. Ia memberikan jadwalnya kepada anak perempuan Hufflepuff disebelahnya.

"Pertemuan selesai," ujarnya kemudian beranjak pergi.

Aku menatapnya membuka pintu. Masih terpukau dengan pidatonya. Maksudku, ia benar-benar menyebut namaku beberapa kali, sedikitnya tiga kali, iya kan? Greg menyenggolku."Dia benar-benar mengerikan," ujarnya padaku.

Sial, aku sudah kehilangannya. Aku segera beranjak berdiri. Menepuk pundak Greg prihatin."Semoga berhasil, semuanya!" seruku kemudian mengikuti Narcissa keluar kompartemen.

Aku melihatnya berjalan ke kompartemen dibagian belakang. Kearah kompartemen murid."Narcissa!" seruku. Ia langsung berbalik."Hei, tunggu" ujarku ketika Narcissa kembali berjalan tanpa menghiraukanku. Tapi aku menyadari ia berjalan lebih lambat.

Aku menarik tangannya. Nafasku terengah-engah."Ada apa, James?" tanyanya.

"Kita kan bisa pergi sama-sama," ujarku ketika aku sudah berhasil mengatur nafasku. Kami berjalan berdua."Pidato yang bagus," komentarku. Tak yakin apa yang harus aku katakan.

"Trims," ujarnya singkat.

"Kau tahu, aku tidak tahu sama sekali tentang hal-hal Ketua ini," aku mendengar suara sedikit gemetar.

"Yah, kurasaka aku bisa menghandlenya sendiri," ujar Narcissa sarkatis.

"Hei, bukan itu maksudku. Aku hanya berharap kau bisa membantuku untuk menjalankan tugas-tugasku," protesku.

Narcissa tidak menjawab. Hening sesaat."Jadi, bagaimana musim panasmu? Pasti menyenangkan. Berpiknik ria dengan Profesor Dumbledore," ujar Narcissa dengan nada datar. Memecahkan keheningan.

"Hah?...oh yeah," aku sedikit tertegun. Sial, aku pasti tampak bodoh."Well, tidak seperti yang kau harapkan sih. Bukan pilihan terbaik untuk menghabiskan liburan musim panas," tambahku.

Narcissa mengangkat sebelah alisnya, nampak penasaran."Sepertinya kau tidak mau menceritakannya, baiklah. Walau aku jadi penasaran, ya" ujarnya. Nada suaranya sekarang lebih bersahabat. Aku menatapnya dengan pandangan jahil dan mengedikkan kepalaku.

"Kau tahu aku ingin menceritakannya, tapi kurasa ini bukan saat yang tepat. Mungkin kita bisa mencari kompartemen kosong dan membicarakannya, berdua saja" ujarku iseng, masih mempertahankan sinar jahil dimataku.

Narcissa memukul pundakku keras. Dan mendongak menatapku. Yah, tidak benar-benar mendongak. Maksudku, dia hanya beberapa sentimeter lebih pendek dari padaku. Mungkin lima, itupun seperti sudah kulebih-lebihkan. Untuk sesaat aku berharap bisa kembali kesatu menit yang lalu. Mencegah diriku untuk mengatakannya.

"Singkirkan pikiran itu, Potter," ujarnya kesal. Dia nampak benar-benar kesal. Tidak bersikap dingin, hanya kesal. Dan itu membuatku berubah pikiran. Kurasa akan lebih baik kalau aku tetap mengatakannya.

Kami terus berjalan, perlahan-lahan, melewati beberapa anak kelas satu yang berlari-lari."Jadi bagaimana dengan musim panasmu sendiri, huh?" tanyaku. Kami tidak bertemu selama dua bulan penuh.

Dia menghela nafas."Yah, kau tahu. Masih sama seperti itu. Membosankan," aku menyadari nada suara dalam kalimatnya. Sepertinya dia memilih zona aman. Maksudku, entahlah kurasa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku menatapnya, mengamatinya yang sedang menerawang keluar jendela sambil terus berjalan. Aku bisa melihat sosoknya yang disinari cahaya matahari siang. Dia tampak...luar biasa. Aku tidak bisa menahan senyum diwajahku.

Kemudian dia berpaling dan menatapku heran."Apa?" tanyanya menyadari senyuman anehku.

Aku menolak menjawab dengan jujur,"Tidak apa-apa," dustaku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian aku melihat kompartemennya belasan kaki jauhnya."Sebaiknya aku berhenti disini dulu. Aku tidak mau ambil resiko dibunuh oleh teman-temanmu hanya karena ketangkap jalan denganmu," ujarku. Ya, sebagian benar. Maksudku, mereka mungkin tidak bakal membunuhku. Hanya saja, mereka mungkin menyiksaku.

Narcissa tertawa, suara tawanya begitu indah, seperti alunan musik yang dibawakan Eros, Dewa cinta dalam mitologi Yunani. Aku pun ikut tertawa."Kiasan yang indah, Potter" ujarnya."Baiklah, kurasa aku harus pergi dulu," ia kemudian berlari kembali ke kompartemennya.

Aku menatapnya hingga sosoknya menghilang. Aku menghela nafas dan balik ke kompartemenku sendiri. Aku membuka pintu kompartemenku. Elroy dan Louis sedang main catur penyihir. Mereka menatapku dengan tatapan penasaran, sementara kesatria putih Louis dihancurkan oleh benteng hitam Elroy.

"Oh tidak," ujar Louis tertahan.

"Skak mate, brother" Elroy tersenyum tipis. Elroy adalah pemain yang hebat. Ia selalu berhasil mengalahkan Louis yang terbilang masih amatiran. Tapi aku juga tidak terlalu buruk, aku menang beberapa kali melawannya, dia menang beberapa kali atasku. Anggap saja kami seri.

Elroy memang seorang ahli strategi yang alami, aku akui. Sementara aku, aku mampu karena dilatih. Dulu, hampir setiap hari aku main catur dengan Paman Ron. Dan setiap hari juga ia mengalahkanku. Ia mengajariku berbagai trik tentang catur. Dia adalah pemain catur paling hebat yang pernah aku temui.

Louise menatapku seakan-akan akulah penyebab kekalahannya."Kau mengangguku, James" ujarnya kesal.

Aku mengangkat tanganku, memberi isyarat menyerah."Sorry, aku tidak bermaksud. Tapi aku taruhan kau masih akan kalah walaupun aku tidak mengalihkanmu," aku memberi senyuman jahil. Dan menghempaskan diriku dibangku diseberang mereka.

"Jadi bagaimana?" tanya Elroy. Aku mengamatinya dan kemudian mengamati papan catur itu. Pion-pionnya yang sudah hancur lebur kembali menjadi satu, mereka berbaris, kebarisan semula.

"Tidak buruk," ujarku. Menghela nafas."Ayo, siapa yang berani melawanku main catur?" kemudian aku menantang mereka. Jadinya, kami bermain catur hingga matahari tenggelam. Tidak bosan-bosannya. Aku menang beberapa kali, dan Elroy menang beberapa kali. Dan Louise, well dia juga menang dua kali. Sekali dariku dan sekali dari Elroy. Lumayan juga. Dan bunyi kereta api mendengung di udara. Hmmm... kami sudah sampai di Hogwarts.


Terima kasih sudah membaca dan aku akan lebih berterima kasih lagi jika kalian semua memberi review!

Sampai jumpa!