"Yesterday is history, tomorrow is a mystery. And today? Today is a gift. That's why we call it the present." – B. Olatunji (Luv it)
Penyerangan
Tepat saat matahari sudah tenggelam, kami tiba di Hogwarts. Kami tidak sabar untuk segera tiba di Hogwarts. Aku rindu sekali dengan sekolah itu, kastilnya, hantu-hantunya. Aku rindu pada para peri rumah. Aku sering menyelinap ke dapur bersama Elroy atau Louise, mengambil makanan dari sana. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka lagi, terutama pada Dobby dan Kreacher. Dua abdi ayahku. Dulunya abdi ayahku. Mereka sangat hormat pada ayahku. Aku bahkan rindu pada guru-gurunya, pada Hagrid, guru pemeliharaan terhadap satwa-satwa gaib.
Setelah kami keluar dari kereta. Anak-anak kelas satu sudah digiring menuju kapal yang akan membawa mereka ke Hogwarts. Sementara kami, para seniornya, menaiki kereta tanpa penarik.
Ketika masih kecil, ketika ayahku masih hidup, ia banyak bercerita tentang Hogwarts. Ia bilang, kalau kereta itu sebenarnya ditarik oleh seekor makhluk seperti kuda namun bisa terbang. Ia menggambarkannya sebagai seekor kuda bersayap yang kurus kering berwarna hitam dengan tulang belulang yang transparan. Itu sudah cukup untuk menakutiku. Namanya Thestral. Mereka hanya mampu dilihat orang-orang yang pernah melihat kematian. Dan aku, lebih beruntung, karena belum mendapat kesempatan itu. Bagiku mereka hanya kereta. Tanpa ada yang menarik.
Aku menaiki salah satu kereta terakhir. Beberapa anak perempuan kelas tujuh Slytherine bergabung. Aku sangat mengenal mereka karena tidak banyak anak Slytherine.
Kami diturunkan di gerbang sekolah. Beberapa auror dari kementrian berjaga-jaga. Berjalan bolak-balik disekitar gerbang. Muka mereka tersembunyi dengan sempurna oleh kegelapan. Mereka mengenakan setelan seragam Auror yang selalu membuatku kagum. Ayahku bilang, ia bercita-cita menjadi auror, namun cita-citanya tidak pernah terwujud. Dan sekarang aku pun yakin aku bisa menjadi auror. Yah, setelah semua kekacauan ini berakhir. Aku tahu aku bisa. Aku akan mewujudkan cita-cita ayahku. Itu janjiku.
Mr. Flich dan kucingnya yang begitu aku benci karena berkali-kali membuatku mendapat hukuman karena melanggar aturan, sedang mendata murid-murid yang masuk. Aku, Elroy, Louise dan beberapa anak perempuan Slytherine termasuk yang terakhir. Dan aku ada di paling buntut.
Mr. Flich menyeringai padaku ketika ia melihatku."Mr. Potter," ucapnya dengan nada tidak menyenangkan. Ia melirikku sekilas."Masih utuh dan sama saja," komentarnya sambil melihatku jijik. Ia kemudian melirik pada para auror, dua auror yang berjaga-jaga di depan gerbang. Auror disini bukanlah suatu keanehan, mereka setiap tahun ajaran baru berjaga-jaga, menjaga para murid agar sampai dengan selamat.
Salah satu dari mereka mendekatiku. Wajahnya diterangi oleh lampu jalan. Ia adalah seorang perempuan, paling tidak berumur tiga puluhan dengan kulit coklat terbakar sinar matahari dan rambut hitam lurus, berwajah oriental. Aku tebak ia pasti keturunan asia, dia cantik dan manis."Mr. James Sirius Potter," tegurnya.
"Ya?" tanyaku.
"Saya dari Departemen Auror di Kementrian, Cho Frederick, saya mohon waktu untuk berbicara sedikit pada anda," ia mengulurkan tangannya yang dengan segera kujabat. Aku melirik ke depan. Menatap Elroy dan Louise yang menatapku khawatir. Aku memberi mereka pandangan tidak apa-apa. Kemudian Mr. Flich mendorong mereka untuk masuk ke kastil.
Pintu gerbang menutup dengan sendirinya dibelakangku, ketika aku mengikuti wanita itu melewati halaman tempat latihan sapu dan memasuki Hogwarts dari pintu sebelah. Anggap saja pintu belakang. Temannya mengikuti kami dari belakang. Wajahnya masih tersamarkan. Dan aku tidak berani menatapnya. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak benar.
Cahaya obor seketika menerangi. Cho Frederick membawaku menuruni tangga. Aku tahu kemana ia akan membawaku. Ke ruangan bawah tanah yang dulunya adalah ruang ramuan. Namun, sekarang tidak lagi.
Ia membawaku masuk. Ruangannya berdebu, membuat hidungku gatal. Kecil, sempit dan terkucilkan dengan rak-rak yang tidak terurus dan botol-botol yang masih tersimpan dirak-raknya. Aku pernah ketempat ini sebelumnya, ditahun pertamaku. Salah satu keisenganku. Akhirnya aku ditangkap oleh Mr. Flich dan kucingnya yang sialan itu.
Untuk pertama kalinya aku melihat wajah wanita itu dengan sejelas-jelasnya, ia jadi semakin cantik. Auror dibelakangku maju, merengsek kedepanku. Wajahnya sekarang sudah jelas. Rambut hitamnya obrak-abrikkan menutupi wajahnya. Sebelah matanya ditutupi penutup mata hitam, membuatnya tampak seperti bajak laut. Dan sebelah matanya yang tidak ditutupi, berwarna gelap, memancarkan sinar keputus asaan dan kekejian. Janggutnya tumbuh tidak teratur. Bajunya kusust. Lelaki didepanku itu tampaknya sudah berhari-hari tidak mandi.
"Mr. Potter, saya ingin membicarakan tentang tawaran perlindungan yang diajukan diam-diam oleh kementrian," Cho Frederick memulai.
Aku mengerutkan kening."Tawaran perlindungan yang diajukan diam-diam oleh Kementrian?" ujarku tidak percaya.
"Ya, maka dari itu..."
"Tapi kementrian bekerja untuk Pangeran Kegelapan," selaku, aku merasakan emosi yang entah dari mana datangnya, membakarku. Nadaku semakin meninggi seiring dengan amarah yang datang.
"Tawaran ini diajukan oleh Departemen Auror untuk tepatnya, secara mandiri," jelas Cho Frederick.
"Apa kau sudah berdiskusi dengan Orde?" tanyaku.
"Kami tahu Orde tidak akan mempercayai kami. Makanya kami datang langsung kepadamu," jawab Cho Frederick.
"Dan kau pikir aku bisa percaya begitu saja? Setelah apa yang kalian lakukan terhadap ayahku, setelah kalian mengkhianatinya. Kau bisa berpikir aku akan mempercayai kalian begitu saja?" aku berteriak pada mereka, amarah sudah membakarku. Ayahku tewas karena dikhianati oleh kementrian. Terutama oleh Departemen Auror. Aku bilang aku ingin menjadi auror kan? Yeah itu benar. Tapi setelah semua hal ini berakhir. Aku akan merubah Departemen Auror. Aku akan mewujudkan cita-cita ayahku.
"Semua itu sudah berlalu, Mr. Potter. Sudah sepuluh tahun berlalu. Dan sekarang puncak kepemimpinan Departemen Auror sudah digantikan. Seharusnya anda sudah tahu itu," jelas Cho Frederick dengan suara datar dan wajah tenang. Mana aku punya waktu untuk baca koran sementara aku berada di desa terpencil di Albania?
"Apa kau bisa bersumpah dan jika aku memintamu untuk membuat sumpah tak terlanggar, apa kau berani menyanggupinya?" tanyaku sesudah amarahku kukendalikan.
"Ya," ucapnya. Kemudian sebuah ledakan terdengar dari sebelahku. Cho Frederick mendorongku hingga jatuh tertelungkup di lantai. Debu berterbangan dimana-mana. Mataku terasa perih karena debu-debu itu. Dengan segera aku melihat apa yang terjadi. Dibalik debu, auror yang lain, dengan wajah yang semakin menyeramkan. Menatap tepat kearahku, ia tidak bisa menatapku kurasa, ia sepertinya menerawang. Mungkin penglihatannya kurang bagus.
Aku mengecek keadaan Cho Frederick. Ia sepertinya pingsan. Darah mengucur tepat dari sisi tubuh sebelah kanannya, seperti air mancur. Membasahi seragam coklat aurornya dengan darah. Aku menyangga tubuhnya. Menyeretnya ketempat yang aman dibalik tembok. Aku mendengar lelaki itu mengucapkan sesuatu,"Obfirmo Alohomora," ia mengunci pintu.
Siapa lelaki itu sebenarnya? Aku bersandar ditembok. Berpikir apa yang harus kulakukan. Aku menatap Cho Frederick, takut ia akan mati karena kehabisan darah. Aku menarik tongkatku dari celana."Claudo," desahku pelan kesisi tubuhnya yang berdarah. Pelajaran Mantera kelas lima, sangat berguna.
"Ayo Potter! Keluarlah, hadapi aku dan matilah seperti ayahmu yang tercinta itu!" teriak lelaki itu. Kabut debu telah menghilang dan sosoknya bisa kulihat jelas melalui pantulan kaca didepanku. Ia melangkah semakin dekat padaku. Tongkatnya siaga.
"Protego Incartatum," ucapku disekeliling Cho Frederick.
"Bambarda," sebuah mantera meluncur tepat kesebelahku. Menghancurkan sedikit dinding. Pecahannya menyayat kulit didekat mataku. Mengaburkan penglihatanku. Aku berhasil menahan rintihan. Tapi, yang lebih parah, aku melepaskan tubuh Cho Frederick dan tubuhnya meringsek jatuh dengan suara bum.
Lelaki itu melihat kearah dinding tempatku bersembunyi."Hah, disitu kau rupanya," ucapnya dengan suara terkekeh mengerikan. Aku menarik nafas dan mengeluarkannya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Bersembunyi disini bukanlah keputusan terbaik, makanya aku mengambil keputusan secepat kilat. Satu detik, dua detik, waktu seakan berjalan melambat.
Aku lari dari tempatku. Ia menyadarinya, dan gerakan refleknya cepat sekali."Bambarda maxima," ia mengarahkan tongkatnya tepat kearahku. Aku menunduk secepat kilat, meringsek ke bawah. Kalau saja aku sedetik terlambat. Aku sudah akan menjadi bubur.
Secepat kilat aku membalas balik,"Incarcerous," seruku dan sebuah tali membelit kakinya dari bawah. Menjatuh lelaki itu. Untuk sedetik lelaki itu lengah. Dan itu sudah cukup untukku. Aku berdiri."Expeliarmus," tongkat lelaki itu terpental ke udara.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Namun tiba-tiba tubuhku kaku, tak bisa digerakkan. Aku terbang keudara, sesuatu mendorongku keras kearah rak-rak. Beberapa botol berjatuhan. Aku merasakan punggungku sudah remuk. Lelaki itu berdiri tepat didepanku sekarang. ini mantra non verbal. Sial, seharusnya aku tahu."Anak bodoh," ia meringis keji."Seperti ayahnya, dan karena itu kau akan mati nak,"
Sesuatu yang tak kasat mata menekan leherku. Mencekikku. Menyempitkan pipa tenggorokanku. Nafasku tersengal-sengal. Aku meraih-raih ke leherku. Namun, percuma yang kuraih hanya udara. Aku terbatuk-batuk. Penglihatanku kabur. Kurasa aku akan mati sekarang.
Kemudian tiba-tiba pintu meledak. Cekikan dileherku terlepas. Yang terkahir kulihat adalah sosok Albus Dumbledore memasuki ruangan dan menatapku prihatin. Kemudian aku tenggelam dalam kegelapan.
Terima kasih sudah membaca. Sudahkah kalian menebak siapa Cho Frederick?
Remember always, R&R!
