She said "Like it or not it's the way it's gotta be
You gotta love yourself if you can ever love me"

Whatever it Takes-Lifehouse

Cho Frederick

Seorang wanita tersenyum padaku. Hanya tersenyum. Wajahnya tidak tampak jelas. Namun, aku punya firasat ia adalah wanita yang cantik. Aku punya firasat seharusnya aku mengenalnya. Tapi, aku tidak tahu siapa dia. Dia memberiku kesan hangat dan lembut. Wanita itu mengulurkan tangannya. Yang dengan segera kujabat lembut. Namun, bersamaan dengan sentuhan kami. Dia menghilang.

Aku membuka mataku. Kecewa saat kusadari itu hanya mimpi. Aku menatap langit-langit ruangan yang sudah kukenal. Peralatan dan ranjang-ranjang berseprai putih. Percaya deh, aku sudah kesini lebih banyak dari semua anak lain. Aku berada di Rumah Sakit Sekolah.

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Aku ingat wajah lelaki itu dan setiap gerakan tongkatnya. Secara refleks aku menyentuh alisku. Ditempat dimana tadinya ada sayatan. Namun, sekarang sudah tidak terasa sakit ataupun ada sedikit bekas luka sayatan. Kemudian aku teringat pada Cho Frederick. Aku meninggalkannya dibalik tembok. Aku bangkit untuk duduk.

"Potter, kau sudah bangun," Madam Pomfrey datang mendekatiku dengan wajah cemas."Apa kau merasakan sakit?" tanyanya.

Aku menggeleng."Dimana Cho Frederick?" tanyaku.

"Dia ada diranjang disampingmu," ia menunjuk tirai putih disebelahku yang menyekat antara satu ranjang dengan ranjang lainnya."Sebaiknya aku beritahu Profesor Dumbledore sekarang. dia berpesan untuk memberitahunya apabila kau sudah siuman," ujar Madam Pomfrey. Ia menatapku seakan meminta izin. Aku mengangguk canggung.

"Tunggu, Madam Pomfrey, apa dia baik-baik saja?" tanyaku cemas dengan suara yang sedikit aku kecilkan.

"Siapa?" Madam Pofrey terlihat bingung.

"Cho Frederick," jawabku.

"Dia bangun beberapa jam sebelum dirimu. Tapi kurasa dia tertidur karena obat yang aku berikan padanya," ujarnya.

"Mmmm...apa anda tahu apa yang akan dilakukan Profesor Dumbledore padanya?" tanya setengah berbisik.

Dia memberiku raut muka prihatin."Mungkin dia akan menginterograsinya disini dan kemudian mengirimnya ke St. Mungo... atau langsung ke kementrian," jawab Madam Pomfrey berat.

"Tapi jika dia dikirim ke Kementrian dia akan dipenjara di Azkaban," protesku. Suaraku sedikit meradang. Aku tidak merasa kalau Cho Frederick bersalah. Dia bahkan melindungiku.

"Itu bukan keputusanku, Potter. Tetaplah diranjangmu selagi aku pergi," ujarnya kemudian melangkah keluar.

Aku menatap ketirai disebelahku. Aku turun dari ranjang. Ranjang berderit akibat beratku. Aku baru sadar seseorang sudah menggantikan bajuku dengan baju pasien. Aku juga baru sadar kalau cahaya matahari pagi menyorot melalui kaca jendela setinggi sepuluh kaki dan seluas 7 kaki. Membuat ruangan itu tampak berwarna emas.

Cho Frederick sedang terlelap di ranjangnya. Bajunya pun sudah diganti dengan baju pasien. Wajahnya tampak sedikit pucat. Namun, damai dan itu membuatku sedikit lega. Ia sangat manis jika tidur. Hey, jangan salah artikan! Aku tidak menaksir dia. Kalau saja dia, setidaknya sepuluh tahun lebih muda, mungkin bisa sih, tapi ia paling tidak seumuran ayahku.

Aku berpegangan pada tiang tirai, karena tiba-tiba aku merasa pening. Aku mengamati mata Cho Frederick terbuka. Menampakkan dua mata gelap. Aku tersenyum padanya ketika ia memandangku.

Pintu terbuka dan masuklah Albus Dumbledore, tanpa diikuti Madam Pomfrey."James," tegurnya. Ia mengamatiku sekilas, kemudian tampaknya menyimpulkan aku baik-baik saja. Kemudian beralih pada Cho Frederick. Dan memanggilnya dengan nama yang salah,"Miss Chang?"

"Mrs. Frederick," Cho Frederick membenarkan.

Albus Dumbledore mendekati Cho Frederick."Aku masih terbiasa dengan posisimu sebagai muridku, dulu" ujar Dumbledore dengan seulas senyum dibibirnya. Ia kemudian menatapku."Duduklah, James, aku perlu bicara pada kalian berdua," ia melirik kursi kayu tepat disamping Cho Frederick. Aku melangkah pelan kekursi itu dan duduk. Memberi Cho Frederick sebuah senyuman.

Dumbledore masih berdiri disamping ranjang Cho Frederick."Bisakah kau menjelaskan padaku semua ini?" tanya Dumbledore. Dia menatap Cho Frederick tajam, tapi aku bisa melihatnya, setelah semua tahun-tahun yang kulalui bersamanya aku bisa melihat tatapan hangat dari matanya tidak peduli keadaan apapun.

Cho Frederick tidak langsung menjawab. Aku menatapnya dengan pandangan penasaran, dan aku tidak bisa memandang hal lain selain wajahnya."Puncak kepemimpinan Departemen Auror sudah diganti," bisik Cho Frederick, suaranya masih lemah dan sedikit serak. Ia tidak memandang Profesor Dumbledore ataupun aku. Ia menatap bajunya, menghindari tatapan mata langsung.

"Irina Screamgeor?" tanya Profesor Dumbledore.

"Ya, putri Rufus Screamgreor. Setelah dia membuktikan kesetiaannya kepada Kementrian dan berhasil mendapatkan tempat di Departemen Auror tanpa melihat latar belakang keluarganya. Dan berhasil mencapai puncak kepemimpinan, dia diam-diam melaksanakan pemberontakan dalam, merengkuh orang-orang untuk menentang Pangeran Kegelapan, mengumpulkan kekuatan," ujar Cho Frederick.

"Dan ini adalah salah satunya?" tanya profesor Dumbledore tidak percaya. Aku bingung sendiri. Aku tidak tahu siapa Rufus Screamgeor itu atau putrinya, Irina.

"Ya, kami sudah berusaha untuk menyakinkan Orde atau paling tidak beberapa orang mantan anggota Orde yang masih ada. Namun, mereka tidak percaya. Dan aku pikir...aku pikir...dengan menyakinkan putera Harry Potter akan membuat orang lain percaya" jawab Cho Frederick.

"Aku mengerti Mrs. Frederick. Tapi kau tahu, dan kau harus tahu, karena kau harus belajar dari kesalahanmu Mrs. Frederick. Perbuatanmu itu sungguh ceroboh dan tanpa persiapan, kau tidak hanya bisa membahayakan posisi Irina Screomgeor dan para pengikutnya yang menentang Pangeran Kegelapan, tapi kau juga membahayakan nyawa," Profesor Dumbledore melirikku dan aku balik menatapnya, pembicaraan ini memebuatku bingung dan sakit kepala."Kau juga membahayakan nyawa James Potter, Mrs. Frederick."

"Maafkan saya, Profesor. Maafkan aku, Potter," ia melirikku dengan pandangan bersalah.

"James," ujarku sambil memberikan senyum dukungan, mengisyaratkan bahwa tak ada yang perlu dimaafkan atau disalahkan.

"Apa?" tanya Cho Frederick bingung. Ia menautkan kedua alisnya.

"Panggil aku James," jawabku.

"Ah," dia berhenti sejenak."Hanya jika kau memanggilku Cho," lanjutnya, memberiku seulas senyuman manis.

"Baiklah," aku memberi jeda sedikit,"Cho," tambahku.

"Terima kasih banyak kau sudah menyelamatkanku disana, James" ujar Cho. Ia menyentuh tanganku yang kurebahkan ditepi ranjang.

Aku membalas sentuhan tangannya, menggenggam tangannya dalam tanganku."Bukankah seharusnya aku yang berterima kasih. Ketika lelaki itu menyerangku untuk pertama kalinya, aku lengah dan tidak sadar. Tapi, kau menyelamatkanku hingga kau sendiri terluka. Terima kasih," kataku sungguh-sungguh.

"Jadi kurasa kita impas sekarang, James" Cho menyimpulkan, ia masih tersenyum. Dan senyum itu adalah senyum ketiga terindah yang pernah kudapat dari seorang wanita. Pertama kuberikan penghargaan itu pada Narcissa, kedua kepada perempuan misterius dalam mimpiku itu, walaupun itu hanya mimpi tetap dihitung.

Aku membalas senyumnya."Jadi, siapa lelaki itu?" tanyaku kepada tak hanya Cho tapi juga Profesor Dumbledore.

"Mr. Alexander Bolden," kata Profesor Dumbledore."aku sudah menginterograsinya dan secepatnya akan kukirim ke orde. Dia adalah salah satu pelahap maut yang dimasukkan kedalam Departemen Auror, yang dengan suatu sihir dapat menghilangkan tanda kegelapan. Merugikan, jelas. Dia sepertinya adalah aktor yang baik, pembohong yang luar biasa," komentar Profesor Dumbledore.

Cho mendesah,"Aku tak percaya Griffin," gumamnya.

"Tapi, lihat sisi baiknya. Berkatnya, kita berhasil mendapatkan daftar pelahap maut tak hanya di Departemen Auror. Namun, seluruh kementerian, kurasa aku harus mengurus hal itu" ujar Profesor Dumbledore ceria."Mrs. Frederick, besok akan kukirim anda ke St. Mungo. Untuk sementara saya kira anda harus bertahan disini dahulu. Suami anda sudah saya hubungi. Tapi, saya tekankan dilarang berkunjung di Hogwarts. Jadi, dia akan menemui anda di St. Mungo. Baiklah akan kutinggalkan kalian disini untuk berisirahat," tambah Profesor Dumbledore dan tanpa basa-basi ia mengambil langkah keluar rumah sakit.

Aku tidak punya waktu untuk memutuskan apakah yang kulakukan ini benar atau salah, apakah ini sepenuhnya keputusan yang bijaksana. Aku berlari mengejar Profesor Dumbledore."Profesor, tunggu" tegurku di pintu rumah sakit.

Profesor Dumbledore berhenti dan berbalik padaku."James," ujarnya dengan sekilas senyum dimatanya."Kubaik-baik saja kan, Nak?" tanyanya prihatin.

"Ya, Profesor. Saya sepenuhnya sehat," jawabku. Berjalan mendekati Profesor Dumbledore.

"Kau terluka dan seharusnya tidak boleh berjalan apalagi berlari, kau seharusnya beristirahat diranjang sampai kau sepenuhnya pulih," ujar Profesor Dumbledore.

"Profesor, apa yang anda bicarakan tadi? Saya benar-benar tidak mengerti. Apakah semua ini berkaitan dengan Rufus dan Irina Screamgeor? Siapa Rufus ini?" tanyaku tanpa menghiraukan perkataan Profesor Dumbledore. Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk dalam benakku.

"James, ini bukanlah saat yang tepat untuk membicarakannya. Kita harus menyempatkan waktu yang berkualitas...untuk berdiskusi. Maka dari itu, kuharap kau cepat sembuh dan kita bisa secepatnya membicarakan hal ini," kata Profesor Dumbledore.

"Tapi, Profesor..."

"Tidak ada tapi, James" sela Profesor Dumbledore."Kembalilah berisitirahat dan kita akan membahas ini lain waktu," ia menatapku dengan pandangan seperti meng-Xray ku. Ia menaruh sebelah tangannya dipundakku."Hati-hati lah, Nak. Jangan melibatkan dirimu dalam bahaya," ujarnya kemudian berbalik. Pergi menghilang dibalik pintu kayu setinggi beberapa meter. Meninggalkanku disini penuh pikiran yang tidak pasti.

Dengan kecewa aku berjalan pelan ke ranjang Cho. Aku sedang tidak ingin tidur sekarang. aku mendekatinya dan duduk ditempat yang tadi kududuki. Cho memberiku sebuah senyuman lemah yang manis.

"Kau tampak mirip seperti ayahmu, James" ujarnya. Menatapku dengan pandangan meneliti.

Aku tersenyum mendengarnya."Kau kenal ayahku?" tanyaku.

"Tentu saja, kami satu sekolah dulu. Kami bahkan pernah berkencan," ujarnya sambil melirikku dengan pandangan kocak.

"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda, kan?" tanyaku penuh dengan keterkejutan.

"Ya, waktu itu dia kelas lima dan aku kelas enam,"

"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku iseng.

Cho memelototiku, hampir sama persis seperti yang biasa dilakukan Narcissa padaku."Hei, Nak. Kau jangan berpikir yang macam-macam," ujarnya sungguh-sungguh.

Aku mengangkat tanganku tanda menyerah."Sorry, suma bercanda" aku meringis padanya.

Dia menghembuskan nafas berat."Well, kami membagi beberapa ciuman yang lembut dan...berbeda. tapi tak pernah lebih dari itu," dia menjawab pertanyaanku sambil menatap kelangit-langit.

"Jadi kenapa kalian putus?"

Dia kembali memandangku."Siapa bilang kami putus?"

Aku mengerutkan kening. Wanita ini bukan ibuku, kan? Dia tampak seperti orang asia tercantik dan aku tampak seperti orang Inggris asli. Itu tidak mungkin."Tapi jika tidak bagaimana..."

"Kami menjauhkan diri masing-masing," selanya.

"Ooh..." gumamku. Apa yang tadi kupikirkan."Jadi bagaimana kalian...menjauhkan diri kalian masing-masing?"

"Coba kuingat-ingat. Itu sudah lama sekali," ia berhenti selama beberapa detik. Matanya menerawang kedepan, berpikir."Well, sepertinya waktu itu musim dingin. Pertengkaran pertama kami," dia memandangku sekilas, mengamatiku kemudian tersenyum penuh misteri, aku bukanlah tipe orang yang pandai membaca isi pikiran orang."Waktu itu kami ada janji bertemu di Hogsmead. Dan dia datang terlambat!" dia menaikkan nada di kata terakhir, mulai tampak emosional."Ketika dia datang, akhirnya," ia memandangku sekilas, memberi pandangan seperti berkata jangan jadi sepertinya, nak. Kemudian melanjutkan,"Kau tahu apa yang dia bicarakan?" ia bertanya padaku.

Ketika aku menggeleng dia memutar bola matanya."Dia membicarakan gadis lain didepanku," dia menatapku, menjawab pertanyaannya sendiri.

"Jadi kau...cemburu? hanya karena dia membicarakan gadis lain didepanmu? Siapa gadis itu, hingga ia membuatmu begitu cemburu?" tanyaku penasaran, mulai terlarut dalam ceritanya.

"Jika kau jadi aku, James, kau pasti akan meraskan hal yang sama. Kau akan merasa terancam. Gadis itu...dia dekat sekali dengan ayahmu, sangat dekat, sahabat terbaiknya, orang paling hebat yang ia temui. Begitulah katanya pada hari itu, dia memuji seorang gadis, selain diriku, didepanku" dia berhenti sejenak."Aku tak akan pernah menang jika harus bertarung melawannya, dia menang" dia menghembuskan nafas."Sejak itu kami jadi semakin sering bertengkar, untuk masalah-masalah yang kecil. Puncaknya ketika salah satu sahabatku membocorkan tentang Laskar Dumbledore,"

"Laskar Dumbledore?" selaku.

"Iya, Laskar Dumbledore. Organisasi rahasia yang dibentuknya bersama sahabat baiknya itu," ia menatapku."Gadis itu," rujuknya."Organisasi itu adalah organisasi murid rahasia, disana kami berlatih mantera-mantera Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, ayahmu yang jadi gurunya, dia adalah yang terbaik di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, seperti dirimu kudengar?"

Aku hanya tersenyum merendah dan malu-malu, paling tidak aku berhasil mengalahkan Narcissa dipelajaran itu."Apa yang terjadi? Dengan organisasi itu?" tanyaku.

"Ya, seperti yang sudah kukatakan. Kawanku membocorkannya dan organisasi itu dibubarkan," jawabnya.

"Sayang sekali. Jadi...siapa gadis itu?"

"Maksudmu gadis yang membuatku cemburu?" tanyanya.

"Ya, yang menghancurkan hubunganmu dengan ayahku. Kau terlalu berharga untuk disakiti, kau tahu. Ayahku bodoh sekali melepaskanmu," jawabku.

"Well, jangan menyalahkannya. Kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama itu saja. Lagipula, kalau aku tidak putus dengan ayahmu aku tak akan bisa menjadi Mrs. Frederick," ujarnya.

Tiba-tiba pintu terbuka. Madam Pomfrey masuk dan berteriak-teriak pada kami."Astaga Potter! Dan kau juga Mrs. Frederick! Seharusnya kalian beristirahat sekarang," ia berada tepat didepan kami, berkacak pinggang dengan ekspresi muka yang mengerikan."Potter, di ranjangmu sekarang!" perintahnya padaku, yang dengan terpaksa kuturuti.

Sesampainya diranjang, Madam Pomfrey menemuiku. Ia memberiku secangkir cairan berwarna hijau daun."Minumlah," perintahnya. Aku menatap cangkir itu dan menatap Madam Pomfrey ragu-ragu."Astaga, Potter. Apa kau pikir aku tega meracunimu?" Madam Pomfrey memutar bola matanya.

"Tak ada yang tidak mungkin, Madam Pomfrey" candaku. Tapi, aku tetap meraih cangkir itu. Mencium bau menyengat yang tidak busuk, namun menyengat. Dan dengan satu tegukan besar menghabiskannya. Rasanya, tidak buruk, seperti jus wortel tapi sedikit hambar. Kemudian aku merasakan sensasi, tubuhku menjadi semakin berat. Aku menatap Madam Pomfrey."Itu obat tidur, ya?" tanyaku lemah.

"Ya, kau butuh istirahat Potter. Sekarang tidurlah," ujar Madam Pomfrey datar. Aku tidak membantah. Mataku jadi seberat gajah. Aku tidak kuasa menahan kemauan untuk menutupnya. Makanya, aku merebahkan diriku di ranjang dan memejamkan mata.