Love looks not with the eyes, but with the mind;
And therefore is winged Cupid painted blind.

Kunjungan

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Tapi, ketika aku bangun. Ruangan sudah gelap. Kurasa aku tidur berjam-jam. Aku melewatkan makan siang, dan kini perutku begitu kosong dan berteriak minta diisi.

KRSSSK

Terdengar suara bergemerisik langkah kaki. Aku menjadi was-was. Aku menatap meja disampingku. Yang ada hanya obat-obatan dan bekas cangkir yang tadi diminumnya. Sialan! Mereka tidak meninggalkan tongkatku. Suara bergemerisik itu makin dekat.

"Siapa disana?" teriakku. Namun, tidak ada jawaban. Aku berharap Cho tidak terbangun dengan teriakanku.

Kemudian dua sosok manusia muncul dari dalam udara."Ha," teriakku terkejut. Aku menatap mereka sekali lagi, dan segera rasa keterkejutanku menghilang. Dari dalam kegelepan muncul dua orang cowok yang sangat aku kenal. Yang satu cowok gagah dan jangkung berambut pirang pucat dengan mata coklat susu yang hangat. Yang satu lagi lebih pendek, dengan rambut pirang terang dan bermata biru laut yang dalam, persis seperti mata ibunya.

"Astaga! Elroy! Louise! Kalian hampir membuatku dapat serangan jantung," semburku pada mereka.

"Tenang, bro" ujar Elroy sambil melemparkan sebuah jubah padaku, jubah gaib."Kami membawakan makanan untukmu, aku tahu kau pasti luar biasa lapar. Kami mengunjungimu tadi, dan kau tertidur seperti orang mati," tambahnya.

"Benarkah?" tanyaku pada mereka. Mereka mengedikkan bahu. Tiba-tiba aku merasa pening. Aku mengacak-acak rambutku. Mencoba menghilangkan peningku."Tampaknya aku harus menyalahkan Madam Pomfrey dengan obatnya itu," aku meringis pada mereka.

"Nih," Louise melemparkan bungkusan berwarna coklat muda yang berisi beberapa roti isi."Hanya itu yang bisa kami dapatkan dari dapur, bro" ia mendesah dan duduk dipinggir ranjang."Kau tidak apa-apa?" tanyanya penuh kekhawatiran.

Aku melemparkan jubah gaib ayahku padanya."Sejak kapan kau jadi peduli begitu?" tanyaku sambil tertawa. Aku membuka bungkusan itu dan mengunyahnya dengan rakus."Rasanya tidak sopan jika tidak membaginya dengan tetangga," ujarku sambil terus mengunyah roti isi itu.

"Ah tidak apa-apa, bro. Kami sudah makan," jawab Louise.

"Hei, jangan kepedean, deh. Maksudku, Cho Frederick, pasien sebelah," ujarku mengklarifikasi.

"Maksudmu wanita asia itu?" tanya Elroy. Aku mengangguk."Dia sudah dipindah, bro. Tadi siang, waktu kami berkunjung," lanjut Elroy.

Aku menatap wajahnya. Mencari secercah tanda kebohongan. Tapi, tidak ada."Tidak mungkin," gumamku. Menghabiskan roti isi terakhir dalam sekali gigit kemudian melompat bangun menuju ranjang Cho dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kosong. Aku mencarinya keranjang-ranjang lain, tapi semuanya kosong. Tak banyak murid yang berharap menginap di Rumah Sakit pada hari pertama mereka bersekolah.

"Ada apa dengan wanita itu, James? Kau sepertinya kehilangannya, jangan buat aku berpikir kau naksir dia," ujar Elroy. Aku tidak menjawab, dengan lesu aku berbalik keranjangku.

"Astaga James! Seberapa parah kepalamu terbentur? Mana bisa kau naksir wanita yang paling tidak seumuran ayahmu. Kau kemanakan Narcissa?" sembur Louise tidak percaya.

Aku menghela nafas."Pertama, kepalaku tidak terbentur. Kedua, aku tidak naksir dia. Ketiga, dia tidak seumuran ayahku, ia setahun lebih tua. Keempat, Narcissa masih ada disini," aku memegang dadaku."Kau tahu akan selalu seperti itu sampai ada keajaiban yang manghapuskannya,"

Mereka sepertinya menghembuskan nafas lega."Tenanglah, guys. Aku masih normal," aku menenangkan mereka.

"Darimana kau tahu dia lebih tua dari ayahmu?" tanya Elroy. Wajah tampannya yang diselimuti kegelapan tampak heran.

"Dia tadi bercerita tentang ayahku, dia ternyata mantan pacar ayahku," ujarku. Aku memberi mereka tatapan seharusnya mereka mengerti.

"Kau tidak bermaksud berkata kalau wanita tadi adalah ibu kandungmu, kan?" tanya Louise tiba-tiba, sepertinya ide gila memetik dari dalam otaknya.

"Hello, Louise. Apa kau pikir Cho akan melahirkan anak yang tampak seperti aku?" aku memutar bola mataku.

"Ah, ya. Dia cantik, kau yah..., tapi kalian tidak mirip satu sama lain," Louise sendiri membenarkan."Namanya Cho ya?"

"Ya, Cho Fredericks. Tapi itu namanya setelah menikah, kurasa aku sempat mendengar Profesor Dumbledore memanggilnya Chang tadi, ia bilang ia masih terbiasa dengan Cho sebagai muridnya. Jadi kukira nama gadis Cho adalah Chang, Cho Chang" jawabku.

"Jadi apa yang dia ceritakan?" tanya Elroy penasaran.

"Selain dia mantan ayahku? Dia bercerita tentand Laskar Dombledore. Sebuah organisasi yang didirikan oleh teman ayahku. Tapi, kemudian di jalankan oleh ayahku. Dengar, aku ingin kalian mencari tahu tentang Laskar Dombledore. Organisasi itu illegal dan menentang Kau-Tahu-Siapa,"

"Baiklah, James. Kami akan mencari tentang Laskar Dumbledore selama kau masih di Rumah Sakit, oke?" ujar Elroy.

"Trims, brothers," ucapku kepada mereka berdua."Sebaiknya kalian pergi, aku tidak ingin kalian kena masalah dihari pertama kalian," ujarku pada mereka.

"Yeah, kau benar. Tapi, James, kau tahu tidak? Saat kami tadi memberitahu Narcissa bahwa kau terluka, dia tampaknya sangat khawatir, kau tahu? Mungkin besok dia akan menjengukmu, jadi berpura-puralah sakit, oke?" ujar Elroy dengan senyuman lebar menghiasi wajah tampannya.

Aku tersenyum juga."Oke," ujarku mengiyakan.

"Cepat sembuh, brother. Kami ingin segera mendengar ceritamu," ucap Louise sebelum mereka berdua menghilang dalam udara. Kemudian terdengar bunyi gemerisik lagi dan aku melihat pintu dibuka secara gaib. Mereka berdua telah pergi.

Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan memejamkan mataku. Cho Fredericks sudah pergi, bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi dan membuatnya memberitahuku siapa gadis yang ia maksud mirip aku. Aku memejamkan mata dan hal yang terakhir kali aku lihat adalah wanita itu, yang hadir dalam mimpiku tadi pagi.

Esoknya ketika aku bangun, Madam Pomfrey tengah memeriksaku. Aku menggeliat dan Madam Pomfrey melihatku dengan senyuman. Ia menjauh dariku dan menulis sesuatu pada sebuah perkamen."Cho Fredericks, apa ia sudah dipindahkan ke St. Mungo?" tanyaku setelah aku 100% bangun.

"Ya, Potter. Perubahan rencana, Dumbledore bilang kementrian mulai curiga, sehingga Cho Fredericks harus segera dikeluarkan dari Hogwarts dan menghapus semua jejak adanya penyerangan itu. Dumbledore menyuruhku bilang padamu, bahwa kau sebaiknya merahasiakan penyerangan itu untuk dirimu dan orang-orang yang benar-benar kau percayai," ujar Madam Pomfrey. Kemudian ia menatapku."Sebaiknya kau mandi dengan air hangat di kamar mandi rumah sakit, aku sudah siapkan semuanya untukmu, mau kubantu?" tanyanya.

"Madam Pomfrey, aku bukan bayi lagi. Jadi kapan kira-kira aku bisa keluar dari rumah sakit?" tanyaku.

"Besok, jika keadaanmu membaik. Tapi, jika sama saja mungkin harus kuundur hingga lusa," jawab Madam Pomfrey. Ia menuju kelemari kecil dipojokan rumah sakit. Mengambil handuk dan pakaian pasien, kemudian memberikannya padaku."Sebaiknya kau mandi sekarang, Potter. Setelah itu kau akan sarapan dengan makanan yang sudah terjamin dan sehat," ujarnya.

Aku mengangguk kemudian bangkit berdiri, mengambil tumpukan pakaian dari tangan Madam Pomfrey."Terima kasih," ujarku yang ia balas dengan senyuman ganjil.

Kamar mandi rumah sakit tidak mewah. Bahkan lebih mirip kamar mandi biasa dirumah-rumah muggle. Kecuali jika kau lihat bahwa gambar-gambar ombak didinding-dindingnya bergerak dan jika kau sentuh kau akan basah.

Aku melepaskan pakaianku dan segera merendamkan diriku di bathtube. Aku memasukkan kepalaku kedalam air. Aku senang melakukan itu, membuatku bisa berpikir jernih kemudian. Setelah beberapa lama terdengar ketukan dari pintu kamar mandi."Keluarlah, Potter. Aku tidak ingin kau bertambah sakit hanya karena kelamaan berendam dalam air," suara Madam Pomfrey mengingatkanku.

"Ya, aku segera keluar," teriakku. Dengan segera aku menyikat gigiku, memakai baju dan keluar dari kamar mandi.

Madam Pomfrey menunggu tepat diluar pintu. Ia memapahku berjalan menuju ranjang, yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Setelah aku berbaring diranjang, Madam Pomfrey mengambil sesuatu dari meja disamping ranjangku. Mangkuk berisi bubur yang sudah seringkali aku makan."Habiskan dan nikmatilah, Potter. Sarapan yang menyehatkan. Kemudian minumlah ini," ia menunjukkan secangkir cairan hijau di meja.

"Itu bukan obat tidur lagi, kan?" tanyaku.

"Bukan, ini obat untuk mempercepat penyembuhan internalmu. Mungkin akan membuatmu sedikit mengantuk, tapi itu sudah menjadi efeknya," Madam Pomfrey menjelaskan.

"Sedikit mengantuk?" aku tidak percaya dengan kata-kata yang ia ucapkan."Terakhir kali aku meminum aku tidur seharian, Madam Pomfrey" protesku.

"Well, itu istirahat yang kaubutuhkan, Potter. Dan jika kau memang membutuhkan tidur dalam intensitas yang lama. Maka, obat ini akan memberikannya padamu. Tapi, jika tidak, obat ini juga tidak akan memberikannya. Itu semua tergantung kebutuhanmu. Tapi, aku ingatkan, jika kau ingin pulang besok sebaiknya kau minum obat itu," ujar Madam Pomfrey."Nah, sekarang, aku percaya kau sudah cukup dewasa untuk mengurusi dirimu sendiri, Potter. Aku ada urusan lain yang harus dibenahi, Semoga cepat sembuh!" ujarnya kemudian sekali lagi menuju ke pintu, menghilang dibaliknya.

Aku makan bubur itu dengan cepat, lebih baik dimakan seperti itu, rasanya masih sama, tidak enaknya. Kemudian aku meminum obat itu dan sekali lagi aku jatuh tertidur.

Ketika aku bangun, syukurlah, hari masih siang, terlihat dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Pertama kali yang kulihat adalah seorang wanita tercantik yang pernah kulihat dengan rambut pirang pucat dan sepasang mata abu-abu itu, Narcissa. Aku mengerdipkan mata karena tidak percaya. Kukira itu hanya mimpi, kemudian aku mengedipkan mata sekali lagi, dan dia masih disana. Duduk dikursi disamping ranjangku.

"Narcissa?" tanyaku. Berusaha duduk.

"James, kau sudah bangun?" ia balik bertanya padaku."Apa kau baik-baik saja?"

Aku tersenyum padanya, tidak percaya dia benar-benar ada disana."Yeah," ujarku diikuti senyuman senang. Ia membantuku duduk."Jam berapa ini?" tanyaku padanya. Hal konyol tapi aku tidak tahu lagi apa yang perlu ditanyakan.

"Break pertama," jawabnya, kembali duduk dikursinya. Dia mengambil sebuah mangkuk dimeja sebelah ranjang.

"Berarti aku hanya tidur dua jam, wow!" ujarku kepada diriku sendiri.

"Dua jam, James? Astaga, apa kau sadar? Madam Pomfrey bilang kau setidaknya tertidur selama 24 jam non stop," Narcissa memandangku dengan tatapan lucu, dan sesungging senyum manis tampil diwajahnya yang cantik.

Rasanya tangan kananku yang kubuat untuk bertumpu terselip saat Narcissa mengatakan 24 jam. Aku jatuh kembali keranjang dengan memalukan. Narcissa tertawa ketika melihatku seperti itu."Oh, berhentilah, Malfoy. Itu bukan sesuatu yang pantas untuk ditertawakan," ujarku dengan wajah serasa terbakar ketika aku sudah berhasil duduk kembali. Dasar Madam Pomfrey, obat itu memang didesain untuk membuatku tidur sepanjang waktu.

"Katakan itu pada dirimu sendiri, Potter" ujarnya tidak peduli. Ia menyendok sesuatu dari mangkuk, yang kemudian aku tersadar bahwa itu bubur."Madam Pomfrey bilang aku disuruh menyuapimu makan, kau sudah seharian tidak makan," tambahnya.

Aku tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa. Ia menyuapiku, dan selama hampir lima belas menit, itulah yang kami lakukan. Kami berbicara beberapa hal, ya. Kebanyakan apa yang sudah aku lewatkan selama dua hari belakangan. Ia tampaknya menghindari secara total topik penyerangan itu.

Bel berbunyi tepat setelah suapan terakhirku."Aku harus kembali, aku ada kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam," ujarnya. Ia meletakkan mangkuk itu dimeja dan meraih tas yang ia sampirkan dibawah kursi."Semoga cepat sembuh, James!" ujarnya sebelum pergi.

"Trims," jawabku. Ia tersenyum lagi padaku dan berlari keluar ruangan. Untuk beberapa menit yang kulakukan hanyalah memandangi pintu itu. Tempat terakhir kalinya ia terlihat. Sampai pintu terbuka dan muncullah Madam Pomfrey. Yang membuyarkan semua lamunanku. Sosok cantik Narcissa Iris Malfoy diubah menjadi sosok wanita separuh baya pendek dengan beberapa rambut putih disekeliling rambut hitam dan keriput yang selalu memakai celemek kemana-mana.

"Kurasa aku telah memberimu waktu yang menyenangkan, Potter" ujarnya sambil tersenyum penuh arti padaku. Ia mendekatiku, membawa cangkir yang sudah sangat familiar, meletakkannya dimeja disampingku yang kulihat dengan jijik.

"Aku tak akan meminum itu lagi," ujarku menunjuk ramuan berwarna hijau itu."Kau bohong, bagaimana bisa aku tidur selama 24 jam non stop?" tuntutku.

"Aku tidak berbohong, Potter. Itu memang yang kau butuhkan. Kau tidak perlu meminumnya, itu untukku. Aku perlu tidur, sudah beberapa hari ini aku kesulitan tidur. Mandilah," ia menyerahkan setumpuk pakaian Hogwartsku, yang kukenali sebagai pakaian yang kupakai waktu penyerangan terjadi."Kemudian makan sianglah di Aula Besar," tambahnya dengan senyuman.

Aku langsung bangkit berdiri dengan cengiran di wajah. Merebut pakaian itu."Trims, Madam Pomfrey," ujarku padanya.

"Tak perlu disebutkan. Tapi kuharap kau tidak memulai pelajaranmu hari ini. Kusarankan besok saja," katanya.

Aku tersenyum lagi dan memberinya pelukan singkat sebelum berlari ke kamar mandi. Dibelakang aku mendengar Madam Pomfrey bergumam pelan,"Capeknya,"

Please R&R