The day the pain started ..
reality came too..
It was the day i realized ..
...I'LL NEVER BE WITH YOU...
Lagu Nina Bobok untuk Dobby
"Hello, tampan," tegur tiga orang gadis yang aku kenali sebagai, Bianca Bloomwood, Jessica Dennise dan Alexandra Aviart, tiga orang gadis genit yang selalu mengejar-ngejar kami sejak kelas satu. Ketiganya mempunyai rambut pirang gelap yang sama, tubuh langsing, kulit coklat terbakar sinar matahari. Bukannya aku bilang mereka jelek, mereka cantik secara fisik, ya harus kuakui itu. Walaupun masih kalah jauh dengan Narcissa. Rambut pirang gelap itu masih kalah jauh dari rambut pirang pucat Narcissa, tubuh langsing itu masih kalah jauh dari tubuh memikat Narcissa, kulit coklat terbakar sinar matahari itu masih kalah jauh dari kulit putih bersinar Narcissa. Semua bagian tubuh Narcissa adalah yang paling indah bagiku.
Aku memaksakan senyum pada mereka. Bianca duduk dilengan sofa didekatku, Alexandra di lengan sofa sebelah Elroy dan Jessica duduk diantara aku dan Louise."Hallo, tampan" ujar Bianca padaku, dengan senyum menggoda.
"Hallo, bagaimana kabarmu?" tanyaku padanya. Bianca lebih tertarik padaku dari pada Elroy maupun Louise seperti halnya Alexandra pada Elroy dan Jessica pada Louise. Disampingku Louise dan Jessica sudah berciuman. Aku tidak pernah menghiraukan Bianca, dan Elroy tidak pernah menghiraukan Alexandra. Sementara Jessica lebih beruntung, ia dan Louise menghabiskan hampir seluruh tahun keenam mereka bercumbu.
"Baik, bagaimana denganmu sendiri? Kau masuk rumah sakit di hari pertama tahun ajaran ini," ujar Bianca dengan ekspresi keprihatinan yang membuatku bosan.
Aku mendengar erangan Jessica disampingku ketika ciumannya dengan Louise semakin mendalam dan gila-gilaan. Aku berpaling pada mereka dengan kesal,"Pergi cari kelas kosong sana," ujarku kesal pada mereka.
Louise melepaskan ciumannya dan nyengir padaku."Kau benar, James" Louise berdiri, satu tangannya terulur pada Jessica,"Ayo Jessica" dan dengan segera Jessica menyambutnya."Kalian berdua juga membutuhkan kamar," godanya padaku.
"Sialan kau Louise," ujarku padanya.
Bianca menempati tempat kosong Louise, menarik dirinya lebih dekat padaku. Aku mendesah."Jadi, bagaimana kabarmu, tampan?" tanya Bianca.
"Baik, Bianca" aku menatap Bianca. Gadis ini adalah salah satu gadis paling cantik di Hogwarts, bisa dibilang lebih cantik dari Alexandra maupun Jessica. Kulitnya tidak secoklat seperti kedua sahabatnya, matanya hampir sewarna dengan mataku, emerald. Mata yang kuwarisi dari ayahku. Dan seharusnya aku merasa beruntung untuk disukai gadis seperti Bianca, bukannya malah mengejar-ngejar gadis yang tampaknya tidak menyukaiku. Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Jangan khawatir. Yang aku khawatirkan adalah pelajaranku, kukira aku akan pergi ke kamar dan mengejar ketinggalan pelajaran selama tiga hari berturut-turut," tambahku. Hendak beranjak dari sofa. Namun, tangan Bianca yang lembut menahanku.
"Apa yang bisa kau tinggalkan dalam tiga hari, James? Kau seperti...salah satu murid paling brillian di Hogwarts, kau tidak akan ketinggalan apapun," desah Bianca di telingaku. Hangat nafasnya, di telingaku.
"Ya, dan akan ada banyak sekali, aku mau kekamar dan mandi, itu juga perlu," aku menolak Bianca dan memaksanya untuk melepaskan tangannya.
"James, kau butuh pembimbing, kan?" tanya Elroy. Dengan mata penuh harap, ia sama tidak sukanya dengan Alexandra seperti perasaanku pada Bianca.
"Tepat sekali hal yang kubutuhkan, Elroy, ayo" ajakku, kami segera naik ke asrama anak lelaki. Memasuki kamar untuk kelas tujuh. Kusadari tempat tidurku adalah tempat tidur yang paling rapi karena belum tersentuh sedikitpun, koperku masih diletakkan disebelah tempat tidurku. Aku melemparkan diriku sendiri ke tempat tidur. Dan tertawa."Senang bisa terlepas dari gadis-gadis itu, aku tidak ahu apa yang dilihat Louise dari Jessica," ujarku.
Elroy duduk disebelahku."Kukira Louise hanya mempermainkan gadis itu, gadis malang, setelah Louise lulus dari Hogwarts, dia akan diputuskan," ujar Elroy penuh keprhatinan.
Louise adalah yang paling playboy diantara kami semua. Aku dengan penuh rasa malu harus kuakui, belum pernah berciuman sebelumnya, jika aku ingin mencium seorang gadis, aku ingin gadis itu spesial dan bagiku hanya Narcissa gadis yang paling spesial.
Sementara Elroy, pengalaman percintaannya lebih baik daripada aku, dia memiliki dua mantan pacar sebelumnya, satu salah seorang gadis Gryffindor, teman dekat Narcissa, satu lagi pacar pertamanya, atau mungkin lebih tepatnya ciuman pertamanya, karena mereka sesungguhnya tidak punya hubungan sama sekali. Gadis itu setahun tahun lebih tua dari Elroy, tetangganya didunia muggle, hubungan singkat dua remaja dimusim panas, begitulah Elroy memanggilnya. Elroy pernah bilang waktu itu ia berusia tiga belas. Ia lebih cepat mendapatkan ciuman pertamanya dari pada Louise.
"Entahlah, Roy. Terkadang aku berpikir memang seperti itu, tapi terkadang Louise menatap gadis itu dengan pandangan yang berbeda, seakan-akan ia tidak mau kehilangan gadis itu," ujarku, mengingat-ingat semua gadis yang pernah dipacari Louise, ia pertama kali pacaran diakhir tahun ketiganya, gadis itu anak slytherine juga, namanya Anne. Ia memutuskannya setelah liburan natal ditahun keempat, kemudian setidaknya ada enam hubungan lain yang kesemuanya tidak pernah lebih dari tiga bulan. tapi, kali ini hubungan mereka sudah bertahan selama enam bulan.
"Taruhan, hubungan mereka hanya sampai akhir tahun ajaran ini, paling lama" ujar Elroy.
"Diterima," ujarku. Kemudian duduk dan beranjak mandi. Kamar mandi di asrama Slytherine dua kali lebih besar dari kamar mandi asrama-asrama lain, aku sendiri tidak mengerti kenapa Salazar Slytherine membangun kamar mandi yang megah, mungkin karena ia hobi tidur di kamar mandi (bercanda).
Seperti halnya ruang rekreasi, seluruh tembok kamar mandi dilapisi cat berwarna hijau dengan seekor ular besar yang menatap tepat kearah kolam besar yang berfungsi layaknya bathtube, aku tidak pernah mengeluh tentang kamar mandi asrama Slytherine, kecuali untuk ular itu, coba bayangkan seekor ular raksasa memelototimu ketika kau mandi dengan lidah menjulur dan terlihat lapar, tentu saja tidak menyenangkan. Juga seperti di ruang rekreasi cahaya hijau samar-samar terpancar keseluruh tembok dan lantai pualamnya, cahaya itu menyatu dan membetuk aliran ombak disekeliling tembok.
Aku manyampirkan pakaianku begitu saja di lantai, yang kering tentunya, lantainya dimantrai agar selalu kering. Aku hidupkan kerannya, yang terletak ditengah kolam, dan dengan segera air mancur keluar dari dari tengah-tengah kolam, airnya berwarna pelangi, satu demi satu muncul. Tapi, ketika aku menyentuh kolam air itu berubah bening.
Aku langsung masuk kedalam air, kurasakan rasa air dingin yang membekukanku hingga ke tulang-tulang."Air hangat," desahku dan dengan segera airnya berubah hangat
. Aku tiduran di tepi kolam, kepala membelakangi ular raksasa. Pintu kamar mandi sudah terkunci dengan sendirinya jika ada orang didalam. Slytherine mempunyai total, empat kamar mandi, dua untuk cewek dan dua untuk cowok. Tapi hanya satu kamar mandi dari setiap kategori yang sama persis seperti tempat ini. Dua yang lainnya tak bisa dibedakan dengan toilet muggle kelas menengah.
Jika memang benar Salazar Slytherine punya hobi tidur dikamar mandi ini, maka tempat ini akan menjadi ruang terapi psikisku. Ruangan ini kedap suara dan jika kau ingin privasi, maka ia akan memberikan privasi padamu. Kau bisa berbuat apa saja ditempat ini tanpa diketahui siapapun. Kau bisa menangis maupun menjerit sepuasmu.
Aku mengumamkan sesuatu dan dengan segera sebuah gelembung menutupi hidung dan mulutku. Sihir tanpa tongkat, cukup berguna. Seketika itu aku teringat kepada lelaki yang berusaha membunuhku waktu itu. Tapi langsung menghilangkan pikiran tentangnya. Menyelam kedalam air dan menenggalamkan segala pikiranku kedalamnya.
Aku selalu menyukai air, membuatku mampu berpikir jernih. Ayah selalu bilang kalau aku adalah perenang alam. Aku mampu berenang tanpa diajari saat usiaku baru dua tahun. Saat itu bahkan aku belum bisa berbicara dengan lancar.
Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan didalam kamar mandi. Tapi, ketika aku keluar dan kembali kekamarku. Teman-teman sekamarku lainnya sudah terlelap didalam ranjang mereka masing-masing.
Karena belum merasa lelah setelah seharian penuh tidur, aku pergi ke ruang rekreasi. Dan disana sudah tidak ada orang sama sekali. Aku tidak duduk disofa. Tapi memilih duduk di lantai tepat didepan perapian. Menyandarkan punggungku disofa. Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah gitar yang terpajang dirak disebelah perapian. Alan Terrynies, cowok yang satu tahun diatasku memberikan gitar itu sebagai hadiah kenang-kenangan, sebuah gitar akustik biasa. Ayah Alan adalah salah seorang anggota The Weird Sisters, dengan posisi gitaris. Alan mengajariku memainkannya ditahun ajaran pertamaku, ditahun ajaran selanjutnya aku sudah mahir untuk memainkannya sendiri.
"Accio Gitar," gumamku, lagi-lagi sihir tanpa tongkat. Jangan khawatir tongkatku patah, kawan. Tongkatku sesehat dan sebaik aku. Ia tidur disalah satu laci meja disamping tempat tidurku. Gitar itu meluncur dari rak kearahku. Debunya membuatku bersin, setelah dua bulan tergeletak tanpa tersentuh apa lagi yang bisa kau harapakan. aku menggumamkan mantera pembersih dan semua debu itu terangkat dan hilang dalam udara. Kemudian aku memainkan melodi lagu yang kucipatakan sendiri.
"Indah sekali, Master James,"
"Waw," jeritku karena kaget. Gitarnya jatuh dari pangkuanku. Aku langsung berpaling ke tempat suara itu berasal, Peri-Rumah Dobby berdiri dengan pandangan mata sedih bahkan matanya yang besar bulat itu berair dan tampak merasa bersalah. Tangannya meremas-remas sweater merah mudanya yang aku ingat kuberikan padanya sebagai hadiah natal tahun lalu. Aneh juga melihatnya memakai sweater itu diawal musim gugur begini.
"Maaf, Master James. Dobby tidak sengaja," ujar Dobby.
Aku menyentuh pundaknya dan menepuk pundak peri rumah itu."Tidak apa-apa, Dobby" ujarku dengan senyum lebar. Dobby tampak masih terlihat bersalah,"Oh ayolah Dobby, senyum, itu perintah," ujarku dengan nada memerintah. Dobby menatapku tak percaya. Tapi kemudian, perlahan-lahan, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman."Begitu dong," kataku,"Ngomong-ngomorng makasih buat pujiannya, Dobby. Ada lagu khusus yang ingin kau minta?"
Dobby menatapku. Namun, tampak tidak berani berkata apa-apa.
"Ayolah, Dobby. Sebutkan salah satu lagu yang kau tahu. Aku bukan Tuanmu untuk memberimu perintah. Ini sebuah permintaan, Dobby" rayuku.
"Mmmm...Mistress pernah memberitahu Dobby sebuah lagu. Mistress baik pada Dobby, orang paling baik yang pernah Dobby kenal selain Master Harry dan Master James," ujar Dobby.
Aku menaikkan sebelah alisku mendengar namaku dan nama ayahku disebut,"Benarkah, Dobby? Aku begitu tersanjung. Dan aku tahu jika ayahku disini sekarang, dia akan merasakan hal yang sama padaku. Tapi, jangan lupakan Elroy dan Louise, jika mereka tahu tidak disebut, mereka akan marah," godaku.
"Master Elroy dan Master Louise juga, mereka baik pada Dobby" Dobby langsung berkata.
"Baiklah, Dobby. Sebutkan apa lagu yang ingin kau dengar," pintaku.
Dobby tampaknya ragu-ragu,"Right Here Waiting For You-Di sini menunggumu," jawab Dobby.
"Richard Marx?" tanyaku. Dobby mengangguk. Aku terkejut sekali ditambah heran, kukira ia akan menyukai lagu Weird Sisters atau band sihir lainnya. Aku tidak mengharapkannya menyukai lagu yang dibuat sebelum aku lahir dari salah satu muggle terkemuka di dunia."Siapa Mistressmu ini, Dobby?" tanyaku penasaran.
"Dobby tidak diperbolehkan memberitahu siapa namanya, Master James" ujarnya. Ketika aku ingin memprotes, aku melihat raut muka sedih dan bersalah itu lagi, dan seketika aku tidak ingin mengatakan apapun kecuali menyanyikan lagunya.
Paman Ron dan aku tinggal disebuah rumah dengan padang rumput dibelakang rumah kami. Yang dialiri oleh sungai bersih dan sebagian dipagari tembok tinggi. Rumah kami terletak dipedesaan, tapi seluruh tetangga kami muggle. Rumah kami tak jauh dari kota terdekat dan kota yang cukup maju walaupun mesti kuakui belum semaju London. Aku bersekolah disekolah muggle ketika masih kecil, sampai tamat sekolah dasar. Aku bersekolah disebuah asrama, Paman Ron berpikir akan lebih baik jika aku banyak bergaul dengan para muggle, sekolah itu terletak dipinggiran London.
Diakhir tahun ajaran aku akan pergi ke Diagon Alley dan ber-floo kembali ke rumah. Sekolahku dulu lumayan, Academi Henrey untuk Anak Lelaki. Aku punya teman-teman yang keren dan aku cukup populer karena bermain di Tim Basket sekolah yang brillian untuk negara seperti Inggris (biasanya Inggris adalah tempat untuk sepak bola, bukan basket) bahkan kami sempat diundang ke Amerika untuk mengikuti pertandingan basket junior.
Paman Ron punya mobil sederhana, ia mengajariku mengendarainya dua musim panas yang lalu, setelah ulang tahunku yang keenam belas aku berhasil mendapatkan izin mengemudi. Dan karena hidup ditengah muggle yang tinggal dipedesaan dengan lebih banyak orang tua yang pensiun, aku jadi lebih tahu tentang hal-hal yang terbilang ketinggalan zaman.
Aku suka musik, Paman Ron cukup menerimanya, tapi ayahku membenci musik. Aku tidak tahu alasannya. Setiap kali aku menyetel lagu Right Here Waiting For You yang notabene menjadi lagu favorite tetangga-tetanggaku termasuk aku sendiri, Paman Ron akan meneteskan air mata.
Lagu itu punya kemenarikkan sendiri bagiku, rasanya memberiku gambaran akan sesuatu yang sangat familiar dan hangat. Aku mulai memetik melodinya."Bernyanyilah bersamaku, Dobby" pintaku. Dan kami bernyanyi bersama-sama. Suaraku tidak bagus, jujur. Dan suara Dobby seperti suara rengekan yang jelas tidak enak didengar. Tapi kami menikmatinya.
Ocean apart day after day
And I slowly go insane
I heard your voice on the line
But it doesn't stop the pain
Seorang wanita berjalan menyusuri koridor gelap tersebut yang hanya diterangi cahaya obor yang menyala redup, jubah hitamnya terseret di lantai marmer.
If i see you next to never
How can we say forever
Wanita itu mendongak menatap seorang lelaki bertubuh kekar dengan jubah berwarna merah. Lelaki itu membungkuk kepadanya."Pangeran Kegelapan sudah menunggu anda," ujar si lelaki.
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will right here waiting for you
Pintu setinggi sembilan kaki terbuka. Wanita itu melangkahkan kakinya, sorot matanya tajam dan dingin. didepannya duduk seseorang, sesuatu, yang ditutupi kegelapan. Wanita itu berlutut.
"Akhirnya kau pulang," ujar suara mendesis. Kejam dan dingin. sosok itu membuka mata ularnya yang berwarna merah tua, tersenyum.
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will right here waiting for you...
"Ya, Tuanku," jawab Hermione Granger.
Uh...OH...No... Hermione's a deatheater?
Well, you have to read to know more about her anywhy. Sorry with the rewritten chap.
AKu lupa tentang dua chap sebelumnya, pasti kalian merasa janggal karena alurnya cepat banget.
