Annyeong Haseyo~ Minna. Apa kabar? Author harap pada baik ya. Jadi bisa meluangkan waktu untuk baca and review fict ini. :D

Wah terima kasih banyak buat yang review, jadi semakin semangat lanjutin fict ini. Maaf ya, ku bikin jadi Sasu dan Sakunya jadian. Abisnya gga tega liat Saku menderita. Hhaa

Nanti akan saya bikin pihak ketiga antara hubungan Sasu dan Saku. Tunggu update'an selanjutnya ya. :DD

Fidya Raina Malfoy : Ah, iya arigato. Hehe. Terima kasih ^^ panggil Erma aja. Ini udah update, oya kasih saran saran yah biar tambah referensinya. :D Makasih reviewnya ^^

Uchiha Airin no Kimi : Hu'um setuju banget. Karin itu cocoknya dapet peran antagonis. Hhee. Oke ini udah update. Makasih reviewnya ^^

Akera Raikatuji : Iyah, idenya tiba-tiba nyantol. Hha, iya maklum saya masih newbie tapi tpyonya gga parah bangetkan? Yosh, ini udah update. Makasih reviewnya ^^

Hime Youichi Uchiha : Yosh! Ini udah update. Makasih reviewnya ^^

Ichi yuka : Salam kenal juga. Boleh juga, nanti author bikin biar Sasuke lebih tertindas *ugh smile evil* Hhoo. Okeh ni udah update. Makasih reviewnya ^^

Park Ra Ra : Hai hai, iya makasih ayu. Yosh ini udah update. Makasih reviewnya ^^

4ntk4-ch4n : oke ini udah update. Yosh! Makasih reviewnya ^^

Maya : Hhaaha, iya kan biar terkesan cool gitu. Mana mau dia mengakui perasaannya sendiri. Hhee. Makasih reviewnya ^^

NARUTO/MANGA.

.

PAIRING : SASUXSAKU.

.

WARNING : OCC, TYPO, GAJE.

.

Rated T.

.

The Love neighbor

.

Happy Reading!

.

.

Chapter 2.

.

.

Aku kasih cerita di chap sebelumnya ya. :D

"Hn. Aku duluan ya semua." Pamitku tanpa menatap ke arah Sasuke aku berlari dan terus berlari. Aku tak menghiraukan penggilan sahabat-sahabatku. Air bening itu perlahan mengalir dari pelupuk mataku, semakin lama semakin deras. Aku berlari meninggalkan area kampus kakiku tak henti berlari, rasa lelah mulai merasuki fikiranku. Aku berhenti sejenak untuk menarik nafas.

"Hossh.. hoossh." Nafasku memburu.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, namun satu yang ku sadari 'Aku sama sekali tak mengenali daerah ini'. Aku tertunduk lesu "Kenpa jadi bisa tersesat seperti ini." Ucapku entah bertanya kepada siapa.

.

Oke, let's begin with the story.

.

"Hahh.." sekali lagi aku menghela nafas berat. Air mataku telah kering, terlalu lelah untuk menangis saat ini. Buat apa aku menangis toh Sasuke tak pernah memikirkan perasaanku sama sekali.

"LUPAKAN SASUKE! LUPAKAN DIA SAKURA, BUAT APA KAMU MEMIKIRKAN ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK MENGHIRAUKANMU!" teriakku dengan suara 4 oktaf. Rasa lega menjalar di hatiku, puas rasanya menumpahkan segala amarah dengan berteriak.

.

Tap.

.

Tap.

.

Tap.

.

Aku mendengar deru langkah kaki di belakangku, dan aku sangat kaget melihat sekarang siapa yang tengah ada di belakangku. Yap kalian pasti bisa menebak, dia adalah Sasuke Uchiha dia berjalan mendekat ke arahku.

"S-Sasuke." Ucapku terbata.

"Hn." Sasuke langsung merengkuhku dalam pelukannya. Aku bingung apa yang sebenarnya yang telah merasuki Sasuke kenapa dia bersikap begitu lembut. Kumohon jangan bersikap seperti ini, aku tidak sanggup untuk melupakanmu.

"S-Sasuke a-apa yang kau lakukan?" tanyaku gugup.

"Hn. Diamlah sebentar, biarkan beberapa menit sepert ini." Pintanya lembut, akupun luluh mendengar penuturannya. Perlahan Sasuke mengendurkan pelukannya terhadap diriku. Kini dia tengah menatapku lembut. Tatapan yang dari dulu ingin aku lihat ketika Sasuke melihatku.

"Sakura." Ucapnya membuka pembicaraan karena suasana canggung ini.

"…"

"Sakura." Panggilnya lagi.

"I-iya Sasuke." Ucapku namun aku tak berani menatap wajahnya.

"Ku mohon jangan pernah lupakan perasaanmu itu, kau tau kenapa aku selalu bersikap dingin kepadamu?" tanyanya.

"…"

"aku pasti akan gugup ketika berbicara denganmu, dengan bersikap seperti itu aku bisa menutupi perasaanku kepadamu. Hanya di dekatmu aku bisa merasakan getaran aneh di sini." Ucap Sasuke sambil menunjukkan hatinya, aku bergetar mendengar penuturan Sasuke. 'Wow baru kali ini Sasuke bicara panjang lebar. Biasanya hanya bicara dengan kata andalannya Hn' batinku dalam hati.

"Sakura," lanjutnya lagi kemudian menggenggam ke dua tangaku, aku mendongakkan kepalaku menatapnya.

"Aku mencintaimu." Bisiknya pelan namun masih bisa tertangkap oleh pendengaranku.

Aku tak dapat menutupi ekspresi kagetku 'Kami-sama kalau ini hanya mimpi, kumohon jagan bangunkan aku dari mimpi indahku ini'.

"S-Sakura." Panggilan Sasuke membuyarkan lamunanku, ternyata ini bukan mimpi.

"A-aku juga mencintaimu Sasuke.. err –kun." Ucapku dengan tergagap.

Sekali lagi dia merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Aku menenggelamkan kepalaku di dadanya. 'Oh, Kami-sama terima kasih atas semuanya' syukurku dalam hati.

Sasuke melepaskan pelukannya dariku kemudian perlahan tapi pasti wajahnya mendekaat ke arahku, rasa gugupku bercampur malu membludak di dadaku. Degup jantung yang sangat tidak beraturan. Wajah Sasuke tinggal sedikit lagi dann..

Cup!

Bibir kami pun bertemu, aku merasakan getaran aneh ketika bersentuha dengan bibir Sasuke, aku hanya dapat memejamkan mataku menerima sensasi sentuhan bibir yang diberikan oleh Sasuke. Ada terbesit rasa kecewa ketika Sasuke melepaskan ciuman itu. Semburat merahpun keluar dari kedua pipiku, kulihat Sasuke juga merona terlihat jelas wajah bersemu merah bak tomat busuk.

"Wajahmu kenapa Sakura, kenapa merah seperti itu?" tanya Sasuke dengan polosnya.

"A-apa tidak ada seperti itu Sasuke-kun" elakku.

"Hhha, mukamu sangat lucu Sakura, kau malu ya?" goda Sasuke lagi, 'Baru kali ini melihat Sasuke tertawa lepas, dan apa itu kenapa dia bisa menggodaku padahal dia orangnya sangat cuek. Mungkin inilah sifat yang selalu di tutupi oleh Sasuke dari semua orang, dan aku adalah gadis yang paling beruntung karena dapat melihat senyum Sasuke seperti tadi.'.

"Hn. Ayo pulang, Ibu pasti sudah menunggu kita." Ucapnya dengan senyuman yang dapat membuat orang pingsan karenanya.

Aku pun ikut tersenyum "Ayo."

Kami pulang denga bergandengan tangan, melewati pepohonan rindang. Dan aku baru sadar ini ternyata adalah tempat dimana kita dapat memandang dari kamar Sasuke yang terletak di sebelah timur.

.

"Tadaimaa~." Ucap kami berbarengan dan tanpa melepas genggaman satu sama lain.

"Okaeri~ Sakura-chan, Sasuke-kuu~.." perkataan Mikoto bachan terhenti melihat ke arah tanganku. Oh tidak aku lupa, akupun segera melepas genggaman Sasuke namun sayang genggaman Sasuke malah menguat, aku bingung apa sebernarnya maksud Sasuke.

"Kaa-san, sekarang aku dan Sakura telah resmi berpacaran. Mohon kaa-san memberikan restunya." Ucap Sasuke mantap, aku hanya tentunduk malu, detak jantungku kembali berdetak tidak normal.

Aku melihat pandangan heran dari pancaran mata Mikoto Bachan, oh tidak apakah bachan tidak merestui hubunganku dengan Sasuke. Hah aku menghela nafas dalam hati.

.

Satu.

.

Dua.

.

Tiga.

.

"UWAAAAA~, akhirnya kalian bersatuuu~" seru Mikoto bachan dengan riangnya. Kemudia dia memelukku erat. "Tentu saja kaa-san akan memberikan izin, nah Sakura mulai sekarang kau harus panggil aku 'Kaa-san'." Ucap Mikoto bachan … upss kaa-san dengan penuh penekanan.

"Ne, aku mengerti baa- err… Kaa-san." Ucapku akhirnya.

"Nah begitu, sebaiknya kalian cepat ganti baju kaa-san akan menyiapkan makan malam." Ucapnya riang.

Kamipun berjalan menuju kamar masing-masing.

"Blam." Aku berjalan menuju kamar mandi, aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Baru saja aku melihat Sasuke bersama wanita lain, sekarang Sasuke malah resmi menjadi pacarku. 'Arrggghh Kami-sama, anugerahmu sangat indah'.

Selesai mandi aku merapikan diri di cermin.

"Tok-tok." Terdengar suara ketukan pintu kamarku.

"Hn. Masuk saja tidak dikunci." Teriakku dari dalam kamar.

"Krek." Aku memalingkan wajahku memandang siapa yang datang dan ternyata Sasukelah orangnya. Yah kekasihku, sekali lagi aku tegaskan KEKASHIKU.

Dia pendekat perlahan ke arahku, tangan kekarnya melingkari perutku. Dia merengkuhku lagi di dalam pelukannya namun kali ini dia memelukku dari belakang, aku bisa merasakan hembusan nafasnya di tengkukku.

"Sakura.." panggilnya,

"Hm.."

"Arigato.."

"Nee, sama-sama Sasuke-kun.." aku membalikkan badanku menghadapnya dan menenggelamkan kepalaku di dada kekarnya.

"Sasuke sebenarnya kenpa kamu bisa sampai menemukanku kemarin?" tanyaku penasaran namun masih tetap dalam pelukannya.

"Hn. Ino, Tenten, Hinata dan Temarilah yang menyadarkan aku akan perasaanku padamu." Sasuke menarik nafas sebentar.

Flash Back on

Author POV~

"Karin sekarang kau boleh pergi." Ucap Sasuke datar, Karinpun menghentakkan kakinya tanda tidak setuju.

"Taap-." Belum sempat Karin meneruskan kalimatnya, Ino, Temari, Hinata dan Tenten menatapnya tajam. "Hn. Baiklah." Karinpun pergi meninggalkan meja kantin.

"KAU itu keterlaluan Sasuke." pekik Ino dengan Emosi yang menggebu.

"Ino sabar, jangan seperti itu." ucap Temari menenangkan.

"Tidak bisa, kau tau Sasuke?" Tanyanya, namun yang ditanya hanya bungkam seribu bahasa. "Sakura itu sangat mencintaimu Sasuke…" ucap Ino, " kau tau, bagaimana sakit hatinya dia kau perlakukan seperti itu."

"…" Sasuke tak mampu berkata.

"Teme, kau harus bilang perasaanmu yang sebenarnya kepadanya." ucap Naruto, Sasuke membeku.

Hinata, Temari, Tenten, Neji, Sai dan Shikamaru hanya diam seribu bahasa. Mereka tidak ingin menambah riuh keadaan sekarang.

Tanpa fikir panjang lari Sasuke berlari mencari sosok Sakura, dia terus berlari hingga sampai ketika mendegar suara teriakan seorang perempuan menggelegar, dia sangat mengenal betul pemilik suara itu. Ya itu suara gadis yang sangat dicintainya, Haruno Sakura.

"LUPAKAN SASUKE! LUPAKAN DIA SAKURA, BUAT APA KAMU MEMIKIRKAN ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK MENGHIRAUKANMU!" teriaknya menggema.

Sasuke tersentak, bagaikan boomerang hatinya hancur berkeping-keping mendengar sang pujaan hati mengatakan akan melupakan dirinya. Perlahan dia berjalan menuju di mana suara itu berasal. Hatinya semakin sakit melihat gadisnya yang amat dicintainya menangis.

"S-sasuke." Ucap Sakura terbata tampak ada raut kaget, sedih, bingung dan kecewa yang tersirat dari wajahnya.

"Hn." Respon datar Sasuke kemudian tanpa fikir panjang di rengkuhnya gadis itu dalam pelukannya.

.

Flash Back end

Endoff Author Pov.

.

"Kau tau?" tanyanya, Sasuke terlihat menerawang menatap langi-langit.

"…"

"Sebenarnya cewek yang bernama Karin itu bukan siapa-siapa, aku mengenalkannya kepada kalian semua hanya untuk melihat reaksimu Sakura, sebenarnya Dobe sudah melarangku untuk melakuan hal ini, tapi aku bersikeras. Maafkan aku jika aku telah menyakiti perasaanmu."

"…" aku tak dapat berkata apa-apa selain menenggelamkan kepalaku dalam-dalam di dadanya.

"Tunggu Dobe? Maksudmu Naruto?" tanyaku sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya.

"Ah, sebenarnya Naruto mengetahui perasaanku padamu. Dia juga sudah memperingatkanku tentang hal buruk jika aku memperkenalkan Karin sebagai seorang yang special, tapi aku mengindahkannya." Jelas Sasuke panjang lebar.

"JADI, Naruto sudah tau sebenarnya dari awal. Ugh~ awas kau Naruto." Pekikku.

"Hn. Itu bukan salahnya Sakura, itu salahku." Sasuke berusaha meredam emosiku.

"Hn." Hanya itu respon dariku.

"Dan kau tau rasanya sangat sakit ketika kamu berkata akan melupakanku, aku sadar itu semua salahku. Hn, maafkan atas semua kesalahanku Sakura-chan."

"S-sasuke." Aku tak dapat mempercayai penuturan Sasuke kali ini. Sungguh rasa amat bahagia menjalar di lubuk hatiku.

"Hn. Aku juga minta maaf, ku fikir Sasuke-kun membeciku." ucapku mendongakkan kepalaku menatapnya.

"Hn. Nani? Mengapa kau berfikiran seperti itu Sakura-chan?" tanyanya menggodaku.

"H-habis, setiap aku ajak bicara kamu selalu berkata 'Hn. Hn. Hn dan Hn." Jawabku sambil memperagakan gaya berbicaranya.

"Hahaha.. kau lucu sekali Sakura-chan." Ledeknya dengan tertawa lebar.

Aku tertegun sejenak, baru kali ini aku bisa melihat sikap lembut Sakuke kepada orang lain aku tidak pernah melihat dia tertawa selepas itu seolah tidak ada beban di hatinya.

"Hei, Sakura.. Sakura." Sasuke mengibas-ngibas tangannya di depan wajahku.

"Aaa." Aku mengalihkan pandanganku dari mukanya 'Aaa malu sekali' innerku berteriak.

"Kenapa menatapku seperti itu. Kau akan terpesona padaku nanti." Ucapnya menggodaku sambil menyeringai.

"A-apa aku tidak sedang menatapmu." Elakku kemudian melepaskan pelukan kami, aku berjalan ke arah ranjang kingsizeku yang berdimensi pink itu. Dengan enggan aku menghempaskan bokongku di sana.

"Benarkah?" tanyanya menggodaku lagi.

Sekarang Sasuke sangat berbeda dengan Sasuke yang dulu irit bicara, dingin, cool dan terkesan misterius namun malam ini dia seolah mempunyai kepribadian ganda, banyak berbicara dan satu lagi senang sekali menggodaku dan membuat mukaku merah bak tomat busuk.

"Ah. Sasuke jangan menggodaku terus."

"Nani? Siapa yang menggodamu Sakura-chan?" ledeknya.

"Ugh~ sudahlah, sepertinya sekarang kau sangat berubah seratus delapan puluh derajat. Sudah bisa menggoda orang rupanya eh.!" Ledekku balik dengan seringai mengambang jelas di wajahku.

"Hn." Jawabnya datar kemudian meninggalkan kamarku.

'Yeah. Satu kosong Uchiha, makanya jangan berani menggoda Haruno Sakura' innerku berteriak girang aku tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksinya.

Reaksi seluruh keluarga Sasuke benar-benar diluar dugaanku sebelumnya. Aku pikir mereka tidak akan merestui hubunganku, tapi mereka malah menyambut baik dan mereka malahan ingin meresmikan dengan cepat hubunganku dengan Sasuke ke jenjang yang lebih, ehem taukan maksudnya.

"HAH?" responku gusar mendengar ide cermelang Mikoto bachan, bahkan sangat cemerlang.

"Itu akan lebih baik, jadi kalian akan terikat dengan suatu ikatan yang resmi." ujarnya santai, sedangkan sang kekasih hati Tuan Muda Uchiha Sasuke hanya biasa saja tidak terlihat senang ataupun membantah. Yeah inilah susahnya mempunyai pacar sedingin bak pangeran es dari yang baru saja keluar dari kutub selatan

"Tapi kaa-san, kami-kan harus masih harus kuliah. Sasuke." ucapku dengan nada merengek ingin sekali mendapat perhatian sedikit saja dari kekasihku ini.

"Hn. Sakura benar kaa-san, kami harus mengenal karakter masing-masing." akhirnya Sasuke angkat bicara juga.

"Benar sayang, mereka baru saja meresmikan hubungan mereka. Mereka harus mengenal sifat masing-masing kalau ingin meneruskan ke jenjang yang lebih serius, seperti yang kamu usulkan tadi." Tou-san pun akhirnya angkat bicara untuk menggagalkan ide gila kaa-san.

"Baiklah, aku mengerti. Tapi itu hanya berlangsung sampai ke dua orang tua Sakura kembali ke Konoha. Setelah itu kalian harus benar-benar meresmikan hubungan kalian." ancam kaa-san gusar.

Yeah! Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan keadaan rumah ini, tapi aku senang sekali bisa diterima di keluarga ini terlebih oleh Sasuke. Oh iya aku baru menyadari kehilangan seseorang bukan seseorang tapi dua orang, ah di mana Itachi-nii dan Sai-kun saat-saat penting seperti ini.

.

End off Sakura Pov

.

"Tadaima~" seru suara itu riang. "wah ada apa ini, seperti ada rapat besar." Ujarnya mengomentari keadaan rumahnya sekarang. Terlihat jelas sekali sekarang keluarganya juga Sakura duduk manis di ruang keluarga dan juga terlihat raut kekecewaan sang Ibunda tersayang Uchiha Mikoto.

"Hn. Sepertinya sudah selesai aku mau kembali ke kamar." ucap Sasuke datar. "ayo Sakura sebaiknya kau juga tidur besok bukannya kau masuk kuliah pagi." tambahnya lagi. Sakurapun menurut tak membantah apa yang Sasuke katakana. Mereka berdua meninggalkan Itachi yang sedang kebingungan 'Kenapa Sasuke lembut sekali terhadap Sakura.' Batin Itachi resah. Bukan apa-apa adiknya yang cuek bak pangeran es itu bisa bersikap lembut terhadap wanita selain ibu mereka sendiri.

Ketika Sakura dan Sasuke hendak memasuki kamar mereka mendengan gelegar suara dari bawah. Kalian pasti sudah tau itu suara siapa.

"OTOUTO-KU YANG CAKEP, TERNYATA KAU SUDAH BESAR." Teriak Itachi menggelegar di seluruh penjuru rumah.

Seketika Sasuke langsung mengunci pintu kamarnya, Sakura hanya tertawa melihat tingkah kekasih dan kakanya itu kemudian juga masuk ke pembaringannya (?) Lho?. Sasuke tau pasti sang Nii-san nya itu pasti akan memburunya meminta penjelesan. Dan dugaan Sasuke benar sang kakak telah menggedor-gedor ria pintu kamarnya. Sampai jebol tak akan ku buka pintu itu, dasar Itachi-nii baka' runtuknya dalam hati.

"Sasuke Otouto-ku, cepat buka pintunya. Akhinya kau bersatu juga dengan Sakura-chan." ucanya di balik pintu kamar Sasuke. Sasuke sendiri hanya mendengus kesal dengan ucapan aniki-nya. Tapi dalam hatinya merasa hangat, begitu banyak orang yang memperhatikannya. Lama tak ada jawaban akhirnya Itachi pun menyerah untuk menggoda adiknya itu dengan langkah gontai dia kembali ke dalam kamarnya.

.

"TEME~" teriak orang itu melengking suara baritonnya mengalahkan suara singa kelaparan. Sedangkan orang yang di panggil tersebut tidak menoleh sedikitpun, cuek. Hn. Itulah sifatnya. Namun bukan Naruto namanya kalau dia menyerah di tengah jalan.

"TEME~" pekiknya lagi namun kali ini tepat di telinga Sasuke. Sasuke mendelik tajam ke arah Naruto.

"Berisik." Itu responnya datar. Dia terus melangkahkan kaki jenjangnya menuju kelas mereka.

"Teme bagaimana dengan Sakura-chan?" tanyanya antusias dan memang kelas sedang sepi hanya ada mereka berdua, nampaknya mereka berdua terlalu pagi untuk datang ke kamus.

"Hn."

"Ah~ Teme, apa maksudmu. Kamu pasti sudah jadian dengan Sakura-chan?" selidik Naruto sedikit tidak pus dengan respon datar dari Sasuke.

"Hn." Sekali lagi Naruto mendengus kesal dengan jawaban Sasuke itu.

"Ah, Sasuke-kun." Pekik gadis itu riang. "pagi Naruto-kun." Sapanya ramah. Naruto hanya membalas senyuman gadis bernama Haruno Sakura ini dan sebuah ide cemerlang hinggap di otak pemuda jabrik berwarn kuning ini.

Perlahan tangannya bergerak hendak merangkul Sakura. Sakura merasa ada sesuatu yang menyentuh pundaknya dia menoleh sedikit dan tersentak ketika Naruto merangkul pundaknya. Naruto memamerkan senyuman manisnya yang akan membuat orang muntah, tapi tidak bagi sang kekasih hati Hinata Hyuuga. Ketika Sakura hendak memberontak ingin melepaskan rangkulannya namun sebuah tangan kekar menariknya dalam pelukannya. Ya dia Sasuke Uchiha, dengan sekali tarikan saja Sakura sudah berada dalam dekapan Sasuke, Naruto tersenyum puas. Dia merasa menang hari ini telah mengerjai Uchiha.

"Hahhaha…" gelak tawa Naruto pun pecah seketika. "ya ampun Teme, aku tidak mungkin merebut Sakura-chan." ujarnya hambar.

Sakura sekarang sudah tertunduk malu, paras mukanya bak kepiting rebus yang siap di santap.

"Pagi~" sapa Sai dengan biasa. "wah, Sasuke pagi-pagi sudah bermesraan." ejeknya begitu melihat Sakura di dalam dekapan Sasuke.

"S-sasuke-kun, sebaiknya aku kembali ke kelas. Dan ini punyamu, tadi terjatuh di depan kamarmu." Degan menyerahkan tugas makalan Sasuke, Sakura pun beranjak pergi meninggalkan kelas dengan langkah tergesa-gesa seperti buronan menghilang di balik tembok.

"Kaa-san sudah menceritakan semuanya Sasuke, selamat atas hubunganmu dengan Sakura." ucap Sai datar dengan mengulurkan tangan kanannya, Sasuke menyambut uluran tangan Sai.

"Hn. Arigato." ujarnya pelan. Sai tersenyum tipis dan menuju ke tempat duduknya.

"HUA~ TEME. SELAMAT." Pekik Naruto memecahkan gendang telingan Sai dan Sasuke, memang di kelas baru ada mereka bertiga setelah tadi Sakura meninggalkan kelas. Kemudian dia berlari ke arah hendak memeluknya namun dengan gesit Sasuke menghindar alhasil jadilah Naruto terjungkal ke belakang dengan tidak elitnya dan itu membuat Sai tertawa terbahak namun respon Sasuke tetap datar seolah tidak bersalah, Naruto hanya mendengus kesal setengah mati terhadap sahabatnya yang kelewat dingin ini 'Bagaimana bisa Sakura-chan bertahan terhadap orang dingin kayak teme' ucap Naruto dala hatinya.

.

Sekarang ke sepuluh sahabat itu sedang membicarakan rencana mereka untuk berlibur ke villa keluarga Haruno di sisi barat kota Konoha, mereka sedang berdiskusi di kantin sekolah yang menjadi basecamp mereka.

"Besok kuliah sudah mulai libur. Bagaimana kalau sore kita berangkat?" cetus Ino.

"Hn. Aku setuju dengan Ino-chan." sambung Sai.

"Iya lagian ke villa hanya membutuhkan waktu tiga jam. Jadi kita bisa istirahat sesampainya di sana." Ino angkat bicara lagi.

"Terserah saja, cepat selesaikan aku mau tidur." Sambung Shikamaru. Ino hanya menghela nafas panjang, temannya yang satu ini tiada hari tanpa tidur heran kenapa bisa prestasinya sangat bagus padahal setiap hari bahkan di saat perlajaran pun sempat-sempatnya dia tidur.

Yang lain hanya mengangguk tanda mereka setuju dengan usul temannya ini.

Ketika sore menjelang merekapun berangkat bersama, Naruto, Hinata, Ino dan Sai satu mobil menggunakan Ferari milik Sai yang berwarna silver. Sedangkan Neji, Tenten, Shikamaru dan Temari mereka satu mobil menggunakan mobil Neji dan tertinggalah Sasuke bersama Sakura dalam satu mobil.

.

"Akhirnya sampai juga." ujar Naruto dengan riang dan turun dari mobil diikuti oleh teman-temannya yang lain. Sekilas dia melirik ke arah jam tangan sekarang telah menunjukkan pukul 9 malam, perjalan yang melelahkan ini cukup menguras tenaga. Sekarang perut mereka semua minta di isi, namun sayangnya di villa ini tak terdapat seorangpun pembantu.

"Kruyuk~" bunyi perut Naruto menggema menandakan sang empunya sedang menderita kelaparan stadium 4.

Naruto sendiri hanya dapat nyengir lebar. "Hehe, maklum penghuni perutku sudah minta diisi." ucapnya dengan wajah tanpa dosa.

"Tapi di sini tidak ada pembantu." Timpal Sakura.

"Hn. Kita masak mie saja, bagaimana?" usul Sasuke.

"Benar cepatlah aku ingin tidur." Timpal Shikamaru seenaknya.

"Dasar beruang kutub, kerjaanmu hanya tidur." Sungut Ino kesal.

"Sudahlah, ayo masuk. Udaranya mulai dingin." Sambar Sakura kesal yang sudah melihat bumbu-bumbu pertengkaran antara Ino dan Shikamaru. Heran dua temannya ini tidak pernah akur barang sedetik pun, ada saja hal-hal yang di ributkan.

Terpaksalah mereka semua makan mie rebus, untung membawa persediaan mie buat makan. Mereka tidur terpisah, walaupun mereka meiliki kekasih masing-masing, tidak ada pasangan yang boleh tidur satu kamar. Kesucian adalah lamabang utama bagi seorang gadis.

.

Cit… Cit.. Cit

Bunyi burung-burung itu telah membangunkan Sakura dari alam mimpinya, villa keluarga Haruno memang cukup besar yang mempunyai tiga lantai. Lantai satu hanya berisi ruangan makan, keluarga, ruang santai, dapur dan gazebo yang terletak di halaman belakang menghadap ke laut. Sedangkan untuk kamar tidur terdapat di lantai dua dan tiga. Di lantai dua terdapat enam kamar tidur, sedangkan di lantai tiga terdapat empat kamar tidur. Masing-masing memiliki kamar tersendiri, Sakura, Sasuke dan Naruto berada di lantai tiga sedangkan yang lainnya berada di lantai dua.

"Klek…" Sakura tak menanggapi bunyi suara pintu, dia kini tengah sibuk menatap pemandangan indah yang terpampar jelas di hadapannya, laut yang biru menambah kepuasan batinnya. Sampai dimana dia menyadari tangan kekar sedang memeluk perutnya dari belakang, kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu Sakura.

"Pagi hime." Sapanya ringan.

"Pagi Sasuke-kun." Pandangan Sakura tetap lurus menatap laut. "Sasuke-kun, kita jalan-jalan keluar yuk." Ajak Sakura riang.

"Hn. Aku capek Sakura-chan, aku ingin istirahat lagi. Ajak Ino saja." Ujarnya, Sakura menggembung-gembungkan pipinya tanda dia tidak setuju dengan ucapan Sasuke barusan.

"Yaaa~ aku mau jalan-jalan keluar Sasuke-kun." Rengeknya lagi dengan nada memohon, namun tetap dengan egonya sang Uchiha enggan menemani sang kekasih jalan-jalan.

"Tidak Sakura." Well itulah keputusan terakhir Sasuke.

"Hn. Baiklah kalau tidak mau menemaniku, aku akan pergi dengan lelaki lain." Ancamnya Sakura yakin kalau Sasuke akan menemaninya.

"Terserah kau saja." Balas Sasuke datar kemudia melepaskan pelukannya dari tubuh Sakura dan berjalan keluar kamar, terlalu percaya diri rupanya sang Haruno.

"Baiklah Uchiha, kau akan menyesal dengan keputusanmu." Ancam Sakura lagi, mungkin kali ini Sakura tidak main-main lagipula mana berani Sakura jalan dengan lelaki lain, di hatinyakan cuman ada Uchiha bungsu ini.

"Blam." Sasuke pun keluar dari kamar Sakura.

'Dasar Sasuke itu tidak ada romantis-romantisnya dengan pacar sendiri, tetap saja sikapnya yang dingin itu tidak pernah berubah sedikitpun' inner Sakura. 'baiklah, aku akan buat kau cemburu Sasuke.' Tambahnya lagi. Seringai tipis muncul dibibir Sakura.

.

TBC…

.

Akhirnya chapter 2 update, maaf ya atas keterlambatannya. Saya sudah berusaha semampu saya, dan inilah hasilnya.

Okeh, terima kasih banyak untuk para readers yang setia meReview fict ini. Jangan pada bosan yah!

.

.

Akhir kata

.

RnR

.

R

E

V

I

E

W