Yusha'Daesung AyamLvJidat™

Mempersembahkan Cerita Kedua

Menjalani sebuah hubungan yang hampa, namun kau kalah telak saat sadar bahwa telah terperosok jatuh dalam sebuah permainan yang menyakitkan. Saling menyakiti, satu sama lain.

Egoisme

Naruto © Masashi Kishimoto

Sasuke × Sakura

With

Alternative Universe story, typo(s), OOC.

Enjoy with this one

××XX××

Uchiha Sasuke membanting pintu kamarnya dengan amat sangat keras, suara debaman itu sampai bergema menyahut pada lantai bawah kediaman Uchiha. Membuat tiga orang yang tengah bersantai saling melempar pandang dengan bingung.

"Kenapa lagi dia?" Tanya seorang pria, mengintip dari balik sebuah surat kabar dengan dahi berkerut, pria itu menaikan kaca matanya.

Uchiha Itachi dan juga sang Ibu hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan sang kepala keluarga pada mereka. Keduanya kembali focus menonton sebuah drama dari televisi setelah melakukan jawaban alibi itu. Fugaku, Ia hanya mendengus kembali menatap surat kabar itu dan membacanya. Anaknya itu sudah dewasa, dan Fugaku yakin serumit apapun masalah yang ada pada pemuda itu, Sasuke putra bungsu Uchiha itu pasti dapat menyelesaikannya.

Kita tinggalkan keluarga Uchiha yang tengah bersantai membagi kehangatan di ruang keluarga. Mari kita jenguk Uchiha Sasuke yang tengah berada di kamar pribadi miliknya.

Sasuke berada di sini, di kamarnya. Sebuah ruang pribadi yang terlarang bagi siapa saja untuk memasukinya, kecuali keluarga dan juga Haruno Sakura kekasihnya err maaf, mantan kekasihnya lebih tepatnya. Sebuah ruangan cukup besar dengan dominasi blue cream sebagai cat ruangan, ruangan ini terhubung dengan sebuah balkon luar yang dibatasi oleh sebuah kaca besar berbentuk pintu kembar.

Sebuah kasur king size diletakan disamping sebuah lemari besar dengan sepasang pintu kembar dan sebuah pintu tunggal berbahan dasar besi dengan ukiran rumit pada permukaannya. Di hadapan si kasur terdapat sebuah meja khusus computer lengkap guna mendukung kinerja Sasuke. Di sebelah meja khusus itu berjarak agak jauh terdapat kamar mandi terpisah milik Sasuke.

"Rghhhh!" Ia mencengkram frustasi rambut deep blue miliknya, pemuda itu menghempaskan diri pada kasur dengan kasar, membuat kasur berderit dan setengah berguncang hebat karena ulahnya.

Menangkup wajah dengan tangan yang terlipat, Sasuke mulai terbayang kejadian tadi sore yang dialami olehnya. Sebuah kejadian dimana Sakura memilih memutuskan hubungan mereka. Dasar gadis sinting! Makinya berulang kali dengan geraman rendah namun sarat akan emosi.

Mengambil posisi duduk, pemuda berwajah stoic itu memasang wajah paling kesal miliknya. Ini kali pertama baginya, pertama kali dibuat se-frustasi ini oleh seorang gadis yang merupakan mainannya. Berpuluhan gadis diluar sana saja bahkan berani menyerahkan kesuciannya untuk Sasuke. Rela, amat sangat rela. Asal satu, dapat terus bersama Sasuke.

Bukankah pesona Uchiha Sasuke benar-benar mematikan heh?

Tapi kenapa gadis bodoh itu malah mencampakkannya seperti ini? Ia adalah satu-satunya boneka terlama milik Sasuke dan pemuda itu sangat amat menyayanginya. Kau bayangkan saja bagaimana perasaan seorang anak kecil yang kehilangan bonekanya, perasaan itulah yang tengah dirasakan Sasuke saat ini. Kesal dan menginginkan hak kepemilikannya kembali. Secepatnya!

"Sial!" makinya berteriak cukup kencang.

Wajah stoic miliknya sejak kapan menjadi milik Sakura? Gadis itu meniru apa yang Ia selalu tunjukkan untuk si gadis. Semoga saja Sakura tak membalasnya dengan menjadi seorang playgirl pula.

Mau tak mau, Sasuke tahu hal ini akan datang juga. Sikon dimana Sakura sadar akan permainan Sasuke selama ini. Tapi terlambat, Sakura itu sudah jatuh terlalu dalam, dalam benak Sasuke. Jadi jangan bermimpi bisa keluar begitu saja dari dalamnya. Karena Uchiha Sasuke takkan membiarkan bonekanya jatuh ke tangan anak lain. Bonekanya adalah miliknya, tetap miliknya!

Sebuah seringai mengembang dengan seiring suara pelan dan dalam milik Sasuke berucap, "kau takkan bisa mencampakkan ku Cherry!"

Dan setiap omongan Sasuke biasanya akan terkabul.

××XX××

Pagi ini, Haruno Sakura entah mengapa merasa keadaan fisiknya kurang baik. Tubuhnya terasa sangat lemas, bahkan untuk berjalan saja rasanya tak sanggup. Tapi hari ini, pelajaran milik Asuma yang terkenal kejam dan sangat mencintai 'kebersihan' pada absen. Well, sudah pasti dikenakan denda jika kau tak masuk hari ini Sakura, begitu batinnya. Bayangan membersihkan WC menggamang dibenak si gadis. Lebih baik turun dan tertangkap pingsan karena sakit ketimbang Sakura harus pingsan saat menjalankan hukuman di tempat nista itu.

Di sini-lah Sakura, Ia menyeret langkahnya dengan berat menuju ke kelasnya. Tumpukkan buku paket dilengannya semakin memperberat ! Bahkan sekarang rasanya pandangannya sudah mulai mengabur. Ia harus menepi sebelum benar-benar limbung. Gadis itu mengambil posisi ke pinggir dan berjongkok. Memejamkan dalam-dalam matanya. Semoga saja pening ini hilang setelah memejamkan matanya seperti ini.

Tapi nihil, pandangan Sakura seakan bergoyang- dan memburam. Sial! Dia tidak boleh mati di sini, lorong ini sepi dan dapat dipastikan jika kejadian buruk menimpanya tak akan ada satu orang-pun yang mengetahuinya kecuali orang itu . . .

"Sakura?"

"Ne-Neji?"

Neji?

Ya. Bukan secret admirer namanya, jika Neji tak tahu dimana Sakura berada.

"Kau kenapa?" Neji duduk merendah dihadapan Sakura, tangannya terulur menyentuh lengan atas si gadis dengan agak ragu bertaut senang. "Kau sakit?" pertanyaan selanjutnya darinya hanya disahuti dengan anggukan lemah dari Sakura.

"Ku antar kau ke ruang kesehatan!" detik setelahnya, Neji merangkul pinggul Sakura, dan menalungkan lengan si gadis pada pundaknya. Wangi memabukkan khas milik Sakura membuat darah Neji berdesir pelan. Dan mereka pelan beranjak dari sana dengan keadaan sunyi tanpa sepatah kata apapun.

Tulisan UKS dengan huruf cetak membuat kepala Neji mendongak sejenak, lalu kemudian kembali membawa Sakura ke dalam ruangan berdominasi putih dan beraroma obat itu. Perlahan Ia membantu Sakura berbaring pada sebuah kasur di UKS, melepaskan sepatu si gadis dan menyelimutinya dengan selimut putih bergaris strip-strip hitam.

Sakura tersenyum ramah dan terlihat lemah kearah Neji. Ketika Neji menarik selimut itu sampai kebatas dagunya. "Terimakasih," gumamnya.

Pemuda bermata perak itu mengangguk menyunggingkan senyum tipis menawan pada Sakura. "Ya," sahutnya seolah kehabisan kata-kata.

Keduanya terdiam sejenak. Sampai Neji kembali membuka suara, "tidurlah! Aku akan memintakan izin pada guru pengajarmu-" suruh pemuda itu sembari beranjak berdiri dari duduknya disebelah Sakura yang tengah berbaring. Mereka tampak seperti sepasang kekasih, bukan?

Gadis itu tersenyum dengan geliatan kecil. "Hum."

Dan Neji beranjak dari sana setelah mengelus pelan kepala Sakura. "-aku akan kembali."

Keduanya sama-sama tersenyum.

××XX××

Ino terperanjat dari duduk santai namun gelisah miliknya saat mendengar sebuah gebrakan keras oleh Sasuke . Gadis itu baru akan menyemprot si pemuda namun kalah cepat. "Mana Sakura?" Tanya atau lebih pantas sebagai sebuah bentakkan dari Sasuke yang ditujukan pada Ino.

Ino berdiri dari bangkunya sekilas ikut menggebrak meja, menatap sengit Sasuke yang tengah menatap si gadis dangan tatapan datar miliknya. "Harusnya aku yang bertanya padamu, brengsek!" makinya menunjuk Sasuke.

Mata onyx itu berputar bosan, dengan dengusan keras Sasuke mulai berkata. "Heh! Berhenti menghakimi ku, nona Yamanaka." Sahutnya, menampik kasar telunjuk berkutex soft purple itu.

"Menghakimi mu, heh?" gadis itu berkacak pinggang dengan ekspresi bosan, "aku bahkan tak sudi untuk menjadi hakim untuk narapidana tak termaafkan sepertimu sialan!" serunya melotot kearah Sasuke dengan garang.

"Kau!" pelan, tangan Sasuke mulai terangkat akan menampar Ino jika tidak datang Neji dari arah pintu masuk ruang kelas Ino yang tengah kosong . Berpaling, Sasuke -Pemuda itu mendelik kearah Neji yang berjalan santai ke arah bangku mereka berdua, tepatnya kepada Ino.

Bukannya tak tahu, Sasuke bahkan mengerti akan sikap yang pemuda itu tunjukkan pada Sakura-nya. Hyuuga itu saingannya. Tiap kali pemuda itu menatap Sakura, memperhatikannya. Mendekati Sakura secara terang-terangan dihadapannya. Itu benar-benar membuatnya muak! Harusnya pemuda itu mundur saja, karena pertandingan ini sudah pasti dimenangkan oleh Sasuke. Bukan Neji. Sakura itu mencintainya, jadi tak perlulah pemuda itu berusaha membelokkan hati gadisnya. Satu kata. Percuma.

Hyuuga sialan itu tersenyum sinis ke arahnya, seolah mengejeknya.

Ino dengan alis terangkat menatap bingung kedua pemuda sakit dihadapannya ini. Demi Tuhan! Sakura membuatnya bingung akan ini. Kenapa bisa gadis itu dikelilingi oleh pemuda-pemuda haus akan rasa memiliki seperti Uchiha Sasuke dan Hyuuga Neji? Kasihan, pikirnya. Ino agak lega juga kerena dia tidak berada di posisi rumit layaknya Sakura saat ini. Jika Ia yang menjadi Sakura, mungkin Ino akan memilih mengambil tali dan mengikatkannya pada beton penyangga plapon lalu membelitkannya ke lehernya, err atau meminum obat tidur sebanyak mungkin.

"Ada apa?" Ia bertanya dengan nada ketus ke arah Neji.

Pemuda berambut coklat dengan iris perak itu melepas pandang dari Sasuke sesaat. "Sakura-" Ia melirik Sasuke yang ternyata ikut mencuri dengar. "-dia ada di UKS." Sambungnya dengan tanpa nada, sembari melirik sekilas kembali pada Sasuke. Pemuda Uchiha itu mendengus membuang muka.

Raut Ino mengeras sejenak, dengan nada panic, gadis blondie itu angkat bicara. "UKS? Dia sakit?" tanyanya lebih condong kepada Neji yang kini tengah mengangguk. Setelah bergumam terimakasih pada pemuda beriris perak itu, Ino beranjak dari sana dengan sengaja menabrak bahu tegap Uchiha Sasuke yang mendelik tak suka padanya.

Ada dua kubu yang menjadi penghalangnya ternyata.

Sepeninggalan Ino, Neji kembali kearah pintu keluar sebelum itu pemuda Hyuuga itu sudah membisikan izin atas nama Haruno Sakura dan Yamanaka Ino pada Nara Shikamaru, sang ketua kelas tentu saja dengan alasan sakit.

Sasuke menggeram pelan, tangannya mengepal kencang seperti siap menghancurkan sesuatu. Makin banyak saja yang menyudutkannya sekarang. Tadinya hanya gadis dengan wajah galak itu tapi selanjutnya, pemuda Hyuuga itu harus diwaspadai. Harus.

"Sialan!" tak cukup banyak yang mendengar, hanya sebuah gumaman rendah namun bernada kesal.

××XX××

"Kau kenapa, jidat?" Ino meletakkan tasnya pada meja di samping kasur di mana Sakura tengah dalam posisi setengah tidur, gadis itu duduk di sampingnya. "Kau sakit?" lengannya menempel pada jidat Sakura yang terasa menghangat. Dan gadis itu menjengit.

"Hanya kurang enak badan saja kok," sela Sakura dengan gelengan pelan serta mengumbar senyum lemahnya. Ia menggenggam tangan Ino.

Ino hanya mengangguk, tersenyum ringan kearah Sakura. "Jangan terlalu difikirkan, kau tahu kan?" terangnya, Sakura hanya mengangguk. Ino melanjutkan. "Kau harus kuat, bukankah kau sudah berjanji, heh?"

"Aku tahu Ino. Dan aku-"matanya menerawang, menatap lurus kedepan, "-tak mau membebani diriku dengan perasaan tak penting seperti Sakura yang dulu." Ucapnya menatap Ino.

Gadis pirang itu mengeratkan genggaman mereka. Keduanya melempar senyum penghangat.

"Mengganggu, heh?"

Sakura maupun Ino menoleh cepat. Tampak Neji tengah membawa kantong plastic dengan berbagai cemilan dan juga beberapa minuman kaleng di dalamnya.

"Tidak." Sahut Ino sedikit melirik Sakura.

Sedang Sakura hanya mengangguk dengan senyum tipis ke arah Neji.

"Ini, untuk kalian." Ujarnya, meletakkan kantong itu pada meja.

Haruno Sakura dan Ino Yamanaka tak tahu, bahwa ini adalah langkah pertama dari Hyuuga Neji.

"Terimakasih."

××XX××

Keadaan UKS hening, sekarang Ino dan Neji yang tadinya menemani gadis itu sudah pergi. Keduanya dipanggil untuk ulangan kelas biola, sedang Sakura diberikan kelonggaran dengan diikutkan ulangan susulan oleh sang guru pembimbing.

Kesunyian ini malah makin membuat Sakura takut, matanya jadi kian terasa enggan menutup. Ruangan ini cukup gelap, karena ruang cahaya masuknya matahari sangat terbatas, berhubung UKS ini hanya ada sebuah pintu tanpa adanya jendela. Tapi beruntung ada sebuah AC yang nyala setiap saat dengan suhu tetap sejuk tidak membuat ruang kesehatan ini pengap tanpa udara sedikit-pun.

"Hhh~" helaan nafas-pun rasanya begitu jelas terdengar oleh indra pendengaran Sakura, karena saking sunyinya ruangan ini tadi.

KREKKK

Spontan Sakura terperajat kaget, Ia mengambil posisi bangkit dari tidurnya dengan posisi setengah duduk. Tidak hanya sampai disitu, kekagetannya tampaknya harus berlanjut kala melihat siapa yang datang.

"Kenapa? Kaget?"

Uchiha Sasuke berdiri dengan santai, kedua lengannya tenggelam dalam saku celananya. Mata onyx itu tampak merekam rakus Sakura yang melongo menatapnya. Hebat! Bahkan Sasuke merasakan kerinduan mendalam dalam menatap sosok itu.

Ia beranjak mendekat, duduk menyamping pada pinggir tempat tidur UKS itu.

"Sakit apa kau?" tanyanya, lengan kanannya menangkup pipi kiri Sakura. Wajah itu masih sama datar seolah tak merasakan apa-apa.

Keduanya terdiam dalam posisi ini, pertanyaan menggantung Sasuke tak digubris Sakura. Di dalam satu garis lurus, kedua iris itu bertemu.

"Aku merindukanmu."

Dan saat itu juga tangan Sasuke ditampik Sakura dengan kasar, matanya menatap datar pemuda itu.

"Merindukanku, heh?" ejek Sakura, sedikit menahan senyum getir. Tenggorokannya serasa pahit, kering tercekat. Bahkan dulu, saat semuanya masih terjalin, kata-kata itu tak pernah terluncur oleh Sasuke sekalipun banyak pesan singkat yang Sakura ketik dan kirim padanya dengan kata dan juga nada yang sangat- amat sama bahkan serupa, pemuda itu mengacuhkan perasaan rindunya. Berulang kali.

Padahal, Ia sangat memerlukan sosok itu disisinya. Tidak lama, hanya sebentar.

"Belajar dari mana kau, kata-kata itu?" lanjut si gadis, raut mengejek terpeta jelas saat pertanyaan itu mulus terlontar.

Sasuke mendengus, menatap tajam Sakura. "Bukankah kau tak pernah mendengar ini sebelumnya, ya?" sahutnya acuh, "-jadi ku pikir, mengatakan itu sekali-sekali tak apakan?" kalimat itu meluncur begitu polosnya dari Sasuke.

Tak bisa dipungkiri, perasaan terluka itu masih ada disana. Walau dicengkram erat oleh pemiliknya.

"Pergi!" dengan setengah bergetar Sakura berucap dalam, "tak ada gunanya juga kau disini." Telunjuknya mengarah pada pintu keluar, seolah membuat gerakan perintah mengusir.

Bukannya pergi, Sasuke malah melepas sepatu dan merangkak naik ke kasur. Ia menghempaskan badannya tepat di samping Sakura.

Gadis Haruno itu menjengit kaget, menarik tubuhnya menjaga jarak dari Sasuke. Tapi lambat, lengan kanan Sasuke sudah melingkari depan perut Sakura dan memeluknya.

"Aku juga sakit, tahu." Guamamnya rendah, "kau pikir kau saja?"

Demi Tuhan yang menciptakan, kenapa Sasuke hobby manyakiti hatinya seperti ini.

"Lepaskan Uchiha!" geramnya, mencoba melepas tangan Sasuke yang melingkari perutnya. Pemuda itu mendongak. "Tidak! Aku ingin tidur dengan boneka ku!" wajahnya mengeras, "dan boneka ku itu kau-" Sasuke-pun mengubur wajahnya di pinggang Sakura. "-Haruno Sakura~"

Kenapa tak cari wanita lain saja? Sakura sudah geram akan ini, Ia tak boleh lemah dan bodoh seperti ini. Ia harus meyakikan diri bahwa dirinya bukan seperti gadis-gadis bodoh di luar sana yang mau saja dikibuli berapa kali oleh Sasuke.

Hentakan keras, Sakura menarik paksa lengan Sasuke, terlepas. Dan beranjak bangun dari kasur, mengambil sepatu Sakura memasangnya cepat.

Di kasur wajah Sasuke menatapnya. Pilu. Dengan posisi duduk.

"Aku bukan gadis bodoh Uchiha! Jadi lakukan itu pada kekasih-kekasihmu di luar sana saja, mengerti!"

BLAMM!

Di kamar itu, Sasuke mulai menyadari satu hal, bahwa ini akan sulit. Mungkin Sasuke belum sadar akan ini pada saat Sakura masih miliknya. Tapi, pemuda itu merasakannya sekarang. Sebuah rasa tak enak dihatinya, seperti dihujam jutaan benda tajam di sana.

××XX××

Pontang-panting Sakura, mencengkram tasnya kuat-kuat dengan langkah besar dan terburu-buru. Sesampainya di sebuah bangku taman, Ia menangis dalam diam dengan kepala menunduk.

"Ini!"

Emerald itu mendongak, menatap sosok pemuda berambut merah di hadapanya. Akasuna no Sasori. Mantan kekasihnya.

"Saso-"

Ada perasaan rindu saat menatap mata basah itu, itu yang ada di benak Sasori saat ini. Ia masih ingat, dengan amat sangat jelas. Bagaimana berakhirnya hubungan indah mereka dahulu hanya karena godaan seorang gadis yang membuatnya buta dan meninggalkan Sakura, membuat gadis itu berpaling pada Uchiha Sasuke. Dan melupakannya.

Sasori menarik Sakura berdiri, mereka berhadapan. Lengan besarnya menangkup wajah kecil Sakura. Pelan kedua belah ibu jarinya mengusap pelan airmata Sakura sembari berucap pelan. "Kenapa kau menangis Cherry?" bisiknya, menatap sendu Sakura dengan jarak yang dekat.

Gadis itu menggeleng sampai saat Sasori memeluknya erat-erat. Mata keduanya terpejam rapat, merasakan kerinduan mendalam di sana yang tampaknya hangat menjalar dari tubuh kedua orang itu.

"Maafkan aku, Sakura."

××XX××

Pemandangan itu mengiris lamat-lamat jantung Sasuke. Matanya terasa panas oleh perasaan asing yang menjalar di sekitar rongga dadanya. Sakit dan ngilu.

Ini kenyataan terburuk yang paling ditakutkan oleh seorang Uchiha macam Sasuke. Saat di mana, Sasori kembali merebut gadisnya. Dan Sasuke tahu, bahwa Sakura walau sedikit pasti masih sangat mencintai Sasori. Dahulu, jauh sebelum hubungan itu terjalin antara Sakura dan dirinya, betapa susahnya, Sasuke mendapatkan Sakura dulu saat gadis itu terpuruk dalam kepedihan oleh Sasori.

Harusnya Sasuke tak pernah melepaskan Sakura dari sisinya sampai kapanpun juga.

Dan satu hal terpatri di wajah itu, ringisan kecil saat Ia mencengkram dadanya yang berderit ngilu. Sasuke bersumpah, Ia akan melepaskan rentetan gadis-gadis tak penting di luar sana demi Sakura. Hanya demi gadis itu.

"Saku . . . ."

××XX××

Selain Sasuke, ternyata Hyuuga Neji juga ada di sana dengan tatapan sendu dan perih. Di sini, Ia-lah yang sangat terluka karena saingannya merupakan dua orang yang pernah memiliki Sakura.

Tapi Neji tak akan menyerah begitu saja. Ia menyeringai, berjalan mendekat kearah pasangan SasoSaku.

"Sakura!"

TBC

××XX××

Terimakasih atas respon positif kalian semua –peyuk-peyuk- maaf jika masih ada typo(s) bertebaran pada chapter kemarin, tolong periksa yang ini ya ^^ Dan maaf kalau porsi SasuSakunya kurang, sekali lagi, tuntutan cerita. Mohon pengertiannya ya ^^V

OK, saatnya membalas ripiu chap kemarin :

Michiko michiharu :

Salam kenal ^^, terimakasih sudah menyukai ini, RnR lagi ya ^^V

Tanpa Nama :

Makasih sayang ^^ Yusha senang kamu suka fanfict-fanfict Yusha –peyuk-peyuk- soal cepat updet, Yusha usaha'in ya, so, RnR, lagi? ^^

misterious girl :

Makasih banyak ^^, ini udah updet. Buat fict yang lain ditunggu aja ya ^^ RnR lagi? ^^

Uhe_Haha Hehe :

Yang nyesel? Hehe liat aja ya ^^, makasih sudah meripiu, RnR lagi yaw ^^V

Kikyo Fujikazu :

Sudahkah Sasu terlihat cemburu di sini? Atau malah kebanyakkan NejiSakunya? Ayayay, RnR lagi ya ^^ makasih ^^

Cheries :

Makasih sayang –peyuk-peyuk- RnR lagi ya ^^

Fiyui-chan :

Kurang panjang ya O.o" GOMEN! Moga aja yang ini memuaskan ya ^^ RnR lagi? ^^

Meity-chan :

Iya –blush-lagi ad aide sih, hehehehe. Makasih loh Meity, atas dukungannya ^^-peyuk-peyuk- RnR lagi ya ^^

Yuki Yuki :

Keep kok ^^ makasih banyak, RnR lagi? ^^

Just ana g login :

Hiye, makasih Senpai ^^ini updetannya, semoga suka, RnR lagi? ^^

Cmecy :

Kamu semangat banget nyiksa Sasu, Yusha jadi pengen ikutan-apaansih-disepakSasu- Makasih udah suka ^^ RnR lagi?

Maya :

Makasih, ini updetannya ^^ RnR lagi?

me :

Makasih ^^ senangnya-peyuk-peyuk- RnR, lagi?

d3rin :

Hehehe ^^ ini lanjutanya ^^ semoga suka, RnR lagi?

ss holic :

Makasih ^^ ini updet, RnR lagi?

princess 2 :

Hahahay, maaf, butuh proses ya sayang jadi harap sabar ^^ makasih banyak, RnR lagi ya? ^^V

Uchiharuno Kagome :

Makasih ^^ RnR lagi ya ^^

Yakuza :

Ini updetanya ^^ RnR lagi ya ^^

Anak hilang :

Makasih, semoga chap ini typo berkurang ya ^^ Tolong koreksinya lagi ^^

numpang liwat :

Hahahaha ada-ada aja kamu ^O^ sip! Permintaan dikabulkan ^^ RnR lagi ya?

Debbie J, Bieber :

Makasih ^^ AyamLvJidat updet kamarin, RnR lagi ya?

lawranakaido :

Hehehehe makasih banyak ^^ RnR lagi yaw ^^V

Dan terimakasih buat : Hana ShiRaifu, Kim Sungrin, Cuteshiibeauty, Uchiha Eky-chan, 4ntk4-ch4n, Ryosuke Michi626, Ricchu, V3Yagami, Valkyria Sapphire, Riku Aida, Midori Kumiko, Green YupiCandy Chan, Rurippe no Kimi, Kirei Atsuka, Uchiharu 'nhiela SasuSaku, Risuki Taka, Violet7orange, Namikaze HyuuZu. Dan para Silent Readers ^^V

RnR?