Yusha'Daesung AyamLvJidat™
Mempersembahkan Cerita Ketiga
Menjalani sebuah hubungan yang hampa, namun kau kalah telak saat sadar bahwa telah terperosok jatuh dalam sebuah permainan yang menyakitkan. Saling menyakiti, satu sama lain.
Egoisme
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasuke × Sakura
With
Alternative Universe story, typo(s), OOC.
Enjoy with this one
××XX××
"Sakura!"
Sasori dan juga gadis bernama Sakura saling melepas diri satu sama lain. Dari sisi Sakura, gadis ini terlihat gugup karena tertangkap basah tengah berpelukan dengan sang mantan kekasih. Ia menghapus sisa-sisa airmatanya dengan cepat menggunakan punggung tangannya, kemudian melempar pandang, menatap seorang pemuda yang tadi tengah meneriaki namanya dengan lantang. Alisnya terangkat tinggi saat tahu siapa yang memanggilnya.
Sedang Sasori memandangnya dengan menyipit, tampak tak menyukai akan hadirnya pengganggu disaat-saat moment indahnya dengan Sakura-sang mantan kekasih. Tampaknya ini saingan selanjutnya, tapi, coba saja. Sakura akan menjadi miliknya lagi, dan Akasuna no Sasori mengambil sumpah untuk hal yang satu itu. Hyuuga itu sudah memasuki wilayah ketenangannya, ini diibaratkan seperti, membangunkan seekor naga yang tertidur.
Dengan deheman untuk menyamarkan suaranya yang agak parau karena habis menangis, Sakura membuka suara. "Ada apa?" tanyanya dengan nada gamang.
Neji terpekur sejenak, matanya berubah dingin dan tegas saat bertemu pandang dengan sepasang hazel yang menatapnya balik dengan penuh waspada. Pemuda itu mengacuhkannya. Saat ini, membawa Sakura pergi dari pemuda yang bagi Neji tak kalah brengsek dari Uchiha itu adalah suatu jalan terbaik. Ia tak mau Sakura kembali terluka seperti yang sudah-sudah. Karena Neji tahu, Sakura hanya mambutuhkan pemuda sepertinya. Ya, Hyuuga Neji.
Perak itu berpaling kearah Sakura, wajahnya yang tadi datar berubah menjadi agak tenang dan syarat emosi di sepasang perak itu. "Ku kira kau sudah pulang?" tegurnya dengan sedikit menarik ujung alis memperhatikan Sakura, wajahnya tetap datar, seakan tak merasakan apapun. Walau dalam hati, mutlak, Hyuuga itu membenci saat ini. Saat dimana gadis yang Ia sukai berada dekat dengan musuh abadinya setelah Uchiha.
Sakura melangkah ragu mendekat ke arah Neji. "Belum, aku-" otaknya kembali membaca kejadian yang baru saja terjadi selang beberapa waktu yang lalu. Waktu dimana, Sasuke datang dan membuatnya kembali menangis setelah semuanya berusaha kuat coba Ia lupakan. Uchiha itu bahkan mampu memporak porandakan pertahanannya dalam sekejap, apa ini artinya perasaan pada pemuda itu masih belum bisa Ia buang? Tidak, Sakura takkan mengambil sebuah keputusan bodoh untuk mengenang masa lalu buram bersama si sialan itu, muak dan enggan.
Dia akan membiarkan rasa itu menjelma menjadi dendam sakit hati. Ya. Hanya itu.
"Aku antar!" dengan sigap dan tanpa takut, pemuda itu menggenggam tangan kecil Sakura. Sedang si gadis hanya mengangguk, kemudian berpaling menatap Sasori yang tengah memperhatikan keduanya dengan raut tak suka. "Err- Sasori, aku duluan." Pamitnya, raut itu terbaca di jadenya, namun di tepis. Toh, mereka sudah berakhir bukan?
Mau tak mau ikhlas tak ikhlas, Sasori mengangguk. "Hm. Hati-hati."
Hazel itu menatap lembut Sakura, namun kembali menjadi tegang saat matanya bersirobok dengan tangan yang terpaut itu. Sasori tidak menyukai gadisnya disentuh lelaki manapun selain dirinya. Hazel dan perak saling beradu tatap.
"Ya."
Detik berikutnya, hanya punggung seorang gadis berambut merah jambu dan pemuda berambut coklat gelap yang tengah berjalan beriringan dengan tangan terpaut yang dapat ditatap oleh hazelnya. Geram. Kesal. Muak. Sasori menggeram rendah sembari menendang udara. "Sial!"
××XX××
Di tempat yang tersembunyi, Uchiha Sasuke-pun juga merasakan hal yang tak kalah sama dengan apa yang dirasakan oleh Sasori. Demi kerajaan neraka! Berani sekali pemuda Hyuuga itu mendekat dan membawa kabur Sakura-nya dari sana. Sialan! Sasuke tak menyukai ini. Mereka pulang bersama, dengan posisi lengan saling menggenggam. Apalagi? Oh, oh. Tentu saja Hyuuga itu pasti bisa melakukan hal yang lebih pada gadisnya itu, mengingat menggandeng secara blak-blakan saja dia berani. Ia akan memotong rata bibir Hyuuga sial itu, jika sampai berani mendarat pada bibir gadisnya. Ya. Sasuke bersumpah dalam hati.
Haruno itu miliknya. Hidup atau mati. Dan itu merupakan hal mutlak yang tak bisa diganggu siapa-pun, termasuk Hyuuga ataupun Akasuna sekalipun juga. Perasaan panas, benci dan tak suka menggelayuti benaknya saat ini. Cukup. Cukup si Akasuna perusak itu yang tadi memeluk gadisnya, sekarang di tambah lagi dengan Hyuuga yang menggandengnya. Oh! Ini gila. Tapi biar, ini yang pertama, dan Sasuke akan membunuh mereka jika berani sekali lagi menyentuh organ dari tubuh gadisnya. Karena itu, miliknya!
Ini perasaan yang memuakkan yang kali pertama Ia rasakan. Perasaan dimana hatinya perlahan remuk redam. Haruno Sakura harus menerima pembalasannya kelak, ya, harus. Tunggu, kau tidak lupa juga kan Sasuka pada jejeran musuh-musuhmu, heh. Habisi mereka, dan kau akan mendapatkan apa maumu.
Dengan langkah cepat Ia pergi dari sana sebelum Akasuna menangkap basah dirinya tengah menjadi mata-mata tak jelas. Bukan takut atau apa, Ia malas berdebat disaat suasana hatinya tengah hancur dan kahilangan kesabaran. Bisa-bisa perkelahianlah yang ada. Setidaknya, Ia akan membunuh si benalu itu nanti, secara bertahap tepatnya.
××XX××
"Terimakasih." Sakura tersenyum kearah Neji, dari bingkai jendela mobil. "Kau tidak mampir dulu?" tawarnya sekedar basa-basi.
Neji menggeleng, tersenyum dipaksakan. "Maaf, aku langsung saja." Sahutnya dengan agak canggung takut Sakura akan menyangkanya macam-macam, maka Neji menolak tawaran itu, setidaknya pendekatan ini akan dengan pelan dan rapi, bukan dengan tergesa-gesa. Karena Neji tak mau jika gadisnya akan menjauhinya karena Ia terlalu mengejar dan memaksakan hatinya, itu terlalu ego menurutnya.
Ujung bibir Sakura kembali terangkat mengulas senyum. "Baiklah, hati-hati." Ia mundur dan melambai kearah Neji.
Pemuda Hyuuga itu mengangguk. "Hn."
Dan kemudian kaca jendela tempat dimana Sakura tadi terlihat kini kian menutup perlahan dengan seiring sedan coklat metalik itu berjalan pelan meninggalkan kediaman Haruno.
Sakura menghela nafas berat, kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke kediamannya. Gadis itu membutuhkan Ino-sobatnya- untuk berbagi saat ini, dan Ia akan menghubunginya nanti. Heh. Setidaknya sekarang hal utama yang Ia ingin lakukan adalah merebahkan tubuhnya pada kasur empuk andalannya. Karena sekarang, pening di kepalanya mulai terasa lagi, dan lama-lama kian mencengkram. Rasanya mau mati saja, begitu batinnya.
××XX××
"Jadi Sasuke juga memutuskanmu, heh?" seorang gadis berambut merah mengaduk pelan minuman soda miliknya, sembari menarik ujung alis kiri memperhatikan lawan bicaranya di seberang meja. Sosok gadis lain dengan rambut merah jambu. Dan si gadis yang dimaksud mengangguk.
"Dia memang suka seenaknya."
"Tapi dia memang begitu, dan kita tahu dari awal." Sahutnya, kemudian meminum jus jeruknya melalui sebuah sedotan berwarna senada.
Ya mereka simpanan Sasuke Uchiha, hebat bukan? Mereka adalah saingan dalam masalah cinta, namun kembali pada titik awal, kemana kau pergi jika sedang patah hati jika tidak pada sobatmu, heh? Munafik memang, tapi begitulah keadaan. Keduanya tak mau ambil pusing, setidaknya dengan memiliki masalah yang sama dapat membuat mereka nyambung untuk mengobrol dalam topic pembahasan yang 'klop'
Si gadis tertawa dibuat-buat, kemudian menyeringai. "Kau tak sakit hati?" sindirnya tanpa ragu.
Dari pihak lain, gadis itu menggeleng cepat. "Humm." Sahutnya tak jelas, karena cairan asam itu masih berada di rongga mulutnya.
"Jangan munafik, Tayuya. Kau sama sepertiku-" asumsinya, "-dan kita sama-sama di campakkan di sini." Ia memutar sendok itu, kemudian menyiduk gerumbul soda coklat yang mengapung pada permukaan air. Menyicipnya dengan ujung bibir yang dibalut warna merah pekat.
Menopang dagu, Tayuya hanya tertawa ringan. "Kau harusnya tahu resiko berpacaran dengan casanova macam Sasuke, bukankah kau dan aku sama-sama tahu, Karin?"
"Hn, aku tahu. Dan aku cukup pintar untuk tahu akan ini, Tayuya." Sambung Karin.
Bahkan dari awal, Sasuke tak pernah bermaksud menyembunyikan beberapa 'pacarnya' keterbukaan adalah kunci utama untuk Ia mendapatkan linangan airmata saat tahu bahwa sang pemuda tak hanya menduakan mereka, namun . . . Akh! entah, tanyakan sendiri pada Sasuke agar Ia yang akan menyebutkan jumlah kekasih gelapnya pada kalian.
Tayuya hanya memutar matanya jenaka, "kau selalu menutupinya."
"Tapi ku dengar Ia juga berakhir dengan Haruno Sakura."
Tayuya yang tadi tengah menyesap kembali minumnya hampir saja tersedak, dengan mata yang melebar Ia mentap Karin tak percaya. "A-apa?"
"Ya, ya, ya-" Karin mengangguk-anggukkan kepala, "-tepatnya gadis itu yang memutuskan Sasuke, hebat bukan?"
Detik berikutnya, Tayuya menganga lebar dengan perasaan kagum. Selama ini, tak ada satupun dari jejeran kekasih Sasuke yang mau diputuskan secara sepihak oleh pemuda itu. Dan well, Haruno Sakura mematahkannya. Gadis itu sudah membuat sesuatu yang menurut Tayuya patut dijadikan tauladan. Bravo! Dia ingin tahu, bagaimana perasaan Sasuke saat itu, malu? Gengsi? Atau, akh! Geli memikirkannya.
"Dia gadis yang sangat hebat."
"Tentu!"
××XX××
Baju kaos lengan panjang menutup telapak tangan, berwarna putih dengan tulisan 'smile' berserta iconnnya yang berwarna yellow soft, panjangnya mencapai bawah lutut. Hotpants biru awan yang tak terlihat, karena terkubur bajunya yang kelewat panjang. Haruno Sakura mengikat rambutnya yang panjangnya mencapai bahu dengan asal. Wajahnya memerah.
"Hatchimmmmm. . . . !"
Ya dia flu, dan buruknya persediaan obat di kotaknya sudah naas habis tak bersisa. Memaksa Sakura untuk menyeret langkah beratnya menuju apotik terdekat kostnya. Dasar menyebalkan batinnya. Bagaimana tidak, semua pasang mata kaum adam mengarah padanya karena kostum yang Ia gunakan, bukannya mau pemer bahwa kakinya mulus, Sakura saat ini sedang malas dandan dan menurutnya ini pakaian tersimple yang ditemukannya di lemari pakaiannya. Tak mau ambil pusing karena memang kepalanya tengah merasakan itu, Sakura memilih itu.
Ia menggosok hidungnya untuk kesekian kalinya dengan sebuah sapu tangan, di tangannya menjinjing sebuah kantong plastic bercorak hitam dengan garis putih yang berisikan persediaan obat-obatan. Langkahnya pelan, dan tampak limbung. Sakura berjalan pada trotoar sembari menunduk membungkam hidungnya. Ini penyakit yang paling Ia benci.
BRUKKK
"Akh maaf,"
Heh, bahkan Ia menabrak seseorang.
"Hn?"
Dan Sakura hanya menganga menatap sosok yang tadi ditabraknya. Tanpa berkata, Ia beranjak dari sana. Bagi Sakura cukup sekedar meminta maaf atas kejadian antara dia dan pemuda yang ditabraknya tak perlu basa basi lain. Terlalu muak.
"Tunggu!"
Shit! Tangannya tertangkap dan itu membuatnya tak bisa mengelak lagi untuk berpaling setelah tangan pemuda itu mencengkram menghentikan langkahnya. "Apa?" tanyanya dengan nada gamang karena flu yang tengah Ia hidap. Matanya menatap malas pemuda yang tengah balik menatapnya.
"Kau sakit?"
Sakura Haruno menepis kasar tangan besar yang singgah di keningnya. "Apa pedulimu!"
"Kau kekasihku, Sakura. Dan aku, pantas menghawatirkanmu!" ucap si pemuda dengan tatapan tegas, masih sambil mencengkram pergelangan si gadis. Mata keduanya saling beradu dengan tajam.
"Lepas! Bodoh!" teriak Sakura dengan nada tertahan, karena sekarang beberapa pasang mata tampak mengarah pada mereka. "Apa perlumu, hah?" bentaknya kemudian, menatap nyalak sosok didepannya.
"Ikut aku."
Dan ini adalah langkah awal dari srategi memiliki gadis itu kembali. Bukankah Uchiha akan melakukan apapun untuk mendapatkan hak miliknya, heh? Dan Sasuke melakukan itu pada Sakura. Kekasihnya!
××XX××
"Apa maumu, brengsek!"
Sakura meronta-ronta saat Sasuke menyeretnya ke dalam sebuah kamar losmen, sebersit pemikiran buruk akan sesuatu menggamang dibenaknya. Apa yang akan ayam ini lakukan padanya? Demi Tuhan, mereka masih sekolah dan semuanya terlalu cepat saat segalanya sudah berakhir seperti ini.
BLAMM!
Tunggu! Kenapa memikirkan hal seburuk itu, Sakura?
Sakura mengambil beberapa langkah untuk mundur, Ia mendelik pada Sasuke yang menatapnya tanpa ekspresi yang berarti. Dekat, dan semakin dekat. Pemuda itu terlihat seperti psikopat yang akan memangsa korbannya, memotong dan mengulitinya hidup-hidup. Ok. Imajinasi yang liar dari Haruno Sakura.
GREBB
Tubuh Sakura menegang, saat tubuh Sasuke menerjangnya cepat dengan sebuah pelukan kencang.
"Jaga jarakmu dari Akasuna maupun Hyuuga!" desisnya dengan geraman rendah syarat emosi tepat di telinga Sakura.
Sakura membalasnya dengan nada dingin. "Apa masalahmu?"
"Aku tak suka!"
Sesak. Pelukan ini terlalu kencang untuknya, Sakura sampai lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik.
"Lepaskan aku bodoh!"
"Tidak!"
"Lepas, sebelum aku berteriak kencang di sini!"
Sasuke menatapnya setelah dengan berat hati melepaskan tubuh si gadis dari dekapnya.
"Aku orang keberapa?-"
Alis Uchiha itu terangkat.
"-yang berada di pelukanmu, heh?"
"Berhenti memojokkanku, Sakura." Geram Sasuke, onyxnya menatap tajam Sakura yang kini balik menatap sinis padanya. "Dengar-" perlahan, Ia menarik nafas. "-kau, adalah gadis pertama yang ku peluk. Walau banyak gadis lain yang sudah memelukku." Sambungnya, dengan tanpa ragu.
Mencoba menepis, "omong kosong, dengar Uchiha-" telunjuknya menunjuk dada bidang Sasuke di depannya, "-apapun tentangmu, aku tidak sudi untuk tahu!" sinisnya.
Apa kau sakit hati Sasuke?
"Oh, ya?" tantangnya tanpa ragu, Ia menarik tangan Sakura yang tadi menuding dada Sasuke. Lalu membiarkan lengannya melingkari tulang pinggul Sakura mendekat. "Kalau begitu-" Ia berbisik rendah, "-akan ku buat kau perduli, Uchiha Sakura." Sambungnya, menciumi tengkuk Sakura.
Dan tak ada cara lain, mimpi buruk itu sudah terlanjur memilih Sakura sebagai pelakonnya.
××XX××
Suara memekakkan dan perih mengiris disebuah kamar kecil, umh, tepatnya sebuah kamar losmen.
"Maaf." Bahkan kata itu beradu menjadi satu dengan isakkan dari Haruno Sakura.
Sasuke menundukkan wajahnya, Ia tak tahu setan apa yang tadi merasukinya hingga berani merenggut kesucian Sakura. Bukan, bukan ini yang Ia mau, bahkan ini tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya barang sedetikpun. Ia tak pernah mau mendapatkan Sakura dengan cara kotor seperti ini.
"Ssst, ada aku." Ia mendekap Sakura yang berbalut selimut dengan erat didadanya, sedang Ia masih bertelanjang dada. "Aku tak akan meninggalkanmu." Ia menaruh dagu pada puncak kepala Sakura. Matanya terpejam mencoba merasakan kehangatan lewat tubuh yang tengah didekapnya. Ia mencium dalam puncak itu dengan mata terpejam. Sasuke menyukai harum ini, sebuah rasa yang tak pernah terjamah oleh indranya. Dan barusan beberapa waktu lalu sudah berbaur dengan tubuhnya.
Sakura menggigit bibir bawahnya, meredam rasa tersayat yang memenuhi rongga dadanya saat ini, panas. Ia benar-benar sakit hati sekarang. Kenapa? Kenapa si brengsek ini tega sekali padanya? Tega sekali menghancurkan masa depannya disaat semuanya sudah hancur berantakkan tak tersisa.
Apa membuat Ia mati secara perlahan dapat membuat si pemuda kejam ini puas, heh?
Dulu Ia sangat mencintai pemuda dari clan Uchiha ini, bahkan Ia menaruh bermiliar-miliar harapan yang indah pada si pemuda. Tapi, semuanya hancur saat Ia memergoki, kekasihnya itu tengah bermesraan dengan gadis lain. Bukan antang kepalang, si pemuda mengaku dengan nada acuh, bahwa itu simpanannya. Hati siapa yang tidak hancur lebur coba?
Tapi inilah kemukjizatan, Ia membuka maaf dan terjebak dalam permainan Uchiha itu. Jadi, siapa yang bodoh, dan dibodohi disini?
"Lepas!" gadis, ups, wanita, ya, wanita itu berontak. Ia mendorong kencang sosok yang memuakkan di depannya. Sepasang emerald memerah dan basah itu disekanya cepat. "Dasar brengsek! Biadab!" rancaunya, dengan nada menusuk.
Sedang Sasuke hanya menatap sosok rapuh itu, tangannya terulur ingin menghapus jejak airmata pada permukaan pipi Sakura, namun sayang Sakura menepisnya.
Sasuke tahu, kesempatan itu, Ia sendiri yang menutupnya. Tapi, Sasuke tak akan mau melepas Sakura, karena sekarang Ia sudah terikat secara biologis dengan si gadis. Ia akan membuat Sakura percaya kembali pada dirinya, bahwa sekarang Sasuke hanya ingin bersama gadis pink itu. Haruno Sakura.
"Jauhkan tangan kotormu! Aku-" isakan masih menggamang disana, "aku membencimu, sial!"
Onyx itu terus menatapnya, membiarkan wanita itu menumpahkan semua caciannya.
Dengan nada bergetar, "enyah kau! Aku tak sudi, melihatmu! Pergi!" Sakura melemparinya dengan bantal yang ada di sekitarnya.
Pemuda itu beringsut, malah mendekat pada Sakura. Dan-
Cup
-sebuah ciuman hangat Ia daratkan pada kening si gadis.
Waktu terasa berhenti di sekitar mereka.
Onyx dan emerald
"Aku akan bertanggung jawab." Ucapnya datar tanpa ekspresi.
Membuat Haruno muda kita menyunggingkan senyum miris. "Apa? Tanggung jawab?" sindirnya, Ia menyalak lagi. "Aku tak perlu pertanggung jawaban darimu, brengsek!"
"Pergi kau, dan-" kali ini kesungguhan itu jelas terpeta disana, "-jangan pernah nampak dihadapan ku!"
Bukankah takdir antara kau dan dia itu menyakitkan heh?
Tangisan itu mengencang ketika Sasuke sudah berada di luar kamar. Pemuda itu mencengkram erat dadanya. Kenapa sakit sekali?
Bukankah dulu, hampir tiap tangisan Sakura tak membawa pengaruh apapun padanya. Tapi sekarang, hanya dengan mendengarnya dari luar saja sudah sangat menusuk begini.
Sasuke sekarang yakin, bahwa-
"Aku benar mencintaimu, Sakura."
Cih, baru mengaku dia.
××XX××
Ino mendengus, menopang dagu. Hujan dari tadi tak hentinya mengguyur Konoha. Maka Ia memilih menyandarkan kepalanya pada bingkai jendela sembari bersenandung kecil. Matanya mengamati rintikkan hujan yang jatuh dengan sendu. Entah kenapa, perasaan Ino sekarang terasa hambar, tak tenang. Sekarang pikirannya berhenti pada Sakura Haruno-sobatnya.
Senandungnya terhenti, ketika matanya menangkap gambaran sosok yang Ia pikirkan tengah basah kuyub di bawah sana, di balik pagar rumahnya.
"Sakura?" serunya.
Dengan terburu-buru, ia beranjak cepat menghampiri sobatnya itu, dan Ino yakin, Sakura dalam kondisi buruk. Atau bahkan amat sangat buruk?
.
.
.
.
.
Tangisan itu masih belum berhenti, dan Ino, Ia hanya bisa menggenggam erat lengan Sakura. Mencoba menyalurkan kehangatan pada sahabatnya itu.
"Aku akan membunuhnya, jika kau mau!" ucapnya menggebu-gebu, dengan sepasang mata yang menatap tajam Sakura.
Gadis itu menggeleng lemah.
"Ino menariknya, memeluknya erat. "Sudah, akan ku pastikan, rahasia ini akan tersimpan rapi. Dan aku-" Ia mengusap pelan punggung Sakura, "-akan membantumu, mengurus anakmu nanti, Saku."
Dimanapun, kapanpun, seorang sahabat takkan pernah meninggalkanmu dalam sebuah ketepurukkan seorang diri. Begitu halnya yang Ino lakukan untuk sahabatnya ini.
Uchiha itu sudah menghancurkan sobatnya, dan Ino benar-benar mengutuknya.
Sakura sudah cukup terluka pada saat Ia masih menjalin hubungan dengan pemuda itu, apa itu belum cukup?
"Sasuke tak pantas kau tangisi, dia brengsek. Sakura!"
Maka dendam itu bukan hanya pada Sakura, tapi pada Ino juga.
TBC
××XX××
In next chap
"Sedang apa?"
"Heh?"
"Sabaku no Gaara."
"Sakura, Haruno Sakura"
"Sudah ku baca, kau menyukai Sakura, heh?"
"Jika kau mau, berkerjasamalah denganku!"
"Kau lupa ya?"
"Apa?"
"Aku mantan kekasihmu waktu kita masih di SMP. Kau lupa?"
"Aku bisa jelaskan ini Sakura!"
"Tidak! Dan aku sudah yakin akan ini, Sasuke."
"Sakura, maukah kau jadi kekasihku lagi?"
"A-aku-"
"Setidaknya, aku tidak serendah kau, Uchiha!"
"Aku akan menjadi ayah dari kandunganmu Sakura!"
"A-apa? Kau bercanda?"
"Sakura, milikku. Jadi kau, jangan bermimpi. Sialan!"
"Jaga mulutmu, Uchiha!"
"Setidaknya, aku tidak serendah kau, Uchiha!"
"Ino, Yamanaka Ino tepatnya."
"Aku, Uzumaki Naruto. Sahabat dekat Sasuke."
"Si brengsek Uchiha itu ya, heh?"
"Apa maksudmu?"
Dan biarkan takdir membelit mereka.
××XX××
Aoooo –alateletubies- maaf updetan ngaret, maklum ulangan jadi harus banyak berkutat ama jubelan buku. Do'a kan Saia ya teman-teman ^^ semoga nilai Saia memuaskan –ngarep-
Bagaimana? Ckckckckck, konflik itu bener-bener nggak kebayang sama sekali oleh Saia, tiba-tiba nongol gitu aja-watados- adakah yang suka pada pergolakan masing-masing karakter? –clingukan- hosh, sengaja diperumit oleh Author abal ini, wkwkwkwk-jitaked-
Sekedar pemberitahuan, Saia akan mengupdet fict-fict Saia dengan jangka waktu cukup lamaaaaaa. Penyakit malas dan juga ide yang nyendet-nyendet adalah factor utama ==" maafkan Saia, tapi semua fict Saia tidak akan discontinue jadi harap sabar menunggu ya sobat FFN –nyengir-
Ok, saatnya membalas ripiu :
Yui Hazono :
Makasih ya ^^
Iya, kadang bt sama karakter Sakura yang selalu lemes-?- ngarep gitu, well pengen nyoba karakter baru aja ^^ syukur deh kalau kamu suka
RnR lagi ya?
Maya :
Hahahay, sengaja diperbanyak, biar rame kaya tauran gitu –jiwapendemo-
Makasih RnR nya, RnR lagi ya? ^^
:
Hweeee NejiTen ya? –posepeace- tunggu aja ya ^^ tau ada atau nggak, tapi bakal diusahain kok, hehehe –nggak consistent- well sabar ya, Neji baik kok –dipeluk-PLAKK-
Hosh, sudikah meripiu lagi? ^^
.Hehe :
Nyieeee, maaf, maaf –ogiji- Yusha banyak tugas –puppyeyes- jadi maaf kalau lamaaaaa banget ngupdetnya hahahaha –disepak-
Kalau masalah banyak yang naksir Saia juga ngiri kali –ngajakinpundungbareng-
RnR lagi yawww ^^ makasih
Me :
Hehehe iya, ini updetannya ^^. Makasih ya –peyukpeyuk-
RnR lagi?
Michiko michiHaru :
Sasuke kan emang kudu disadarin dulu, khekhekhe, malah rencananya kalau masih belum sadar Yusha mau deh nyumbang ciuman buat dia biar sadar –WTH-PLAKK-
Neji bukannya seram, Cuma agak terobsesi aja kok, dan chapter ini emang dikasih bumbu-bumbu Saori-?- biar tambah sip –melet-
Makasih ya, RnR, lagi?
Anak Hilang :
Makasih atas sarannya ya –smile- smoga aja chap ini nggak meleset dari harapan deh, hehehe
RnR, lagi? ^^
Meity-chan :
Hosh! Arigatou Meity –Smile- hahay kita sehati, mungkin chap depan kita perbanyak ya hehehe. Selera sama itu harus di kembangkan-ngerangkul- bener nggak? Khekhekhe
RnR lagi ya, ^^
misterious girl :
Chapter depan ya sayang –smirk- kita sengsarakan Uchihayam itu –disepakSasu-
Makasih ya ^^ RnR lagi ya
:
Sakura ya, emmh- ntar deh di coba. Makasih idenya ya ^^ dan well kita memang sehati-peyukpeyuk-
RnR lagi ya ^^
Fiyui-chan :
Sakuranya nggak sakit kok, Cuma sekedar kata-kata aja kok, jangan dimasukkan ke hati ya-nyengir-
Makasih ya sayang, RnR, lagi? ^^
Rhan'z B'sELF :
Salam kenal juga ya ^^ kamu ELF ya?pertanyaannebakdarinama
Dan makasih sudah suka ^^ RnR lagi ya
Chamber :
Makasih banyak –peyukpeyuk-
RnR lagi ya ^^
Kikyo Fujikazu :
Hosh, tunggu chap depan ya ^^, kita siksa Sasu bersama khekhe –gempanged-
Tenang aja, nggak secepat itu kok, ok
RnR lagi ya ^^
Meyrin Kyuchan :
Saia suka semangat anda ^^ ayo Sa-su-ke –naribawapompom-
Makasih ya, RnR lagi ne?
VVVV :
Makasih V hehehe =peyukpeyuk- sengaja diperumit, biar keruh ajah-alasananeh-
RnR lagi ya V, ^^
Violet7orange :
Hohohoho iya, enakkan jadi Saku –smirk-
RnR lagi ya ^^
Ran Uchiha Ichikaz :
Ini lanjutannya ^^ makasih ya, RnR lagi ^^
Dan terimakasih buat : Uchiharu 'nhiela Sasusaku, Valkyria Sapphire, Haza ShiRaifu, 4ntk4-ch4n, Just Ana, Eky-chan, haruno yuwi, Green YupiCandy Chan, my beloved Imouto Ai Kireina Maharanii, Riku Aida, Namikaze HyuuZu, Ricchu, Midori Kumiko, riachan-uciha, Risuki Taka, Rurippe no Kimi, valentina14, Kirei Atsuka, d3rin. Dan para Silent Readers semua.
RnR?
