Jam tangan Ichigo telah menunjuk angka sembilan. Namun, Rukia tak bersuara sedikitpun semenjak meninggalkan acara reunian rutinnya. Mungkin, ia tengah merenungkan kesalahan yang habis ia buat beberapa jam lalu dengan mencium seorang brondong 17 tahun.
Ciuman? Brondong? Ichigo, sampai kapan otakmu mau menyimpannya? Toh wanita pelaku penciuman hanya bersantai seolah tadi ialah hal yang biasa ia lakukan. Hah...nampaknya hari-hari kedepan akan sulit dijalani.
Ichigo mengelus bibir pelan sembari menatap kosong pada setir mobil yang terhenti beberapa saat lalu. Setelah ini, ia harus banyak-banyak makan coklat demi terhapusnya bekas rasa jeruk di bibir yang barusan dilahap bibir pengonsumsi orange juice.
Untungnya, Ichigo masih menyimpan sekotak coklat di kolong ranjang dan berita baiknya tante Rukia belum mengetahui. Asal kalian tahu, selain Psikolog wanita yang duduk disampingnya dapat menjelma menjadi Dokter Gigi bila telah ditemukan beberapa coklat dan makanan berkadar gula tinggi di rumahnya.
"Tadi cuma pura-pura."
Rukia melirik si anak asuh sejenak. Tak ada hitungan belasan menit ekor mata wanita ini sudah berpindah ke luar jendela. Rukia tak henti memandang ke luar dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Pura-pura? Untuk apa?" Tanya Ichigo.
Dikeluarkannya seulas senyum pahit, "kau sudah tahu apa jawabnya."
Ichigo termenung mendengar jawaban sang tante.
Kembali sepi. Bertolak belakang dengan suasana luar yang meriah meski mentari telah menghilang. Sebenarnya Ichigo juga tak paham betul mengapa tantenya itu tak memperbolehkan mobil menggelinding setelah mereka memasuki sebuah restoran beberapa menit lalu.
"Bersandiwaralah menjadi pasanganku seminggu kedepan."
Daftar kepemilikan
Bleach : Om Kubo Tite
Fic gaje ini : milik author
Om, bisakah kita bertukar karya?
Warning : AU, tambah gaje, tambah abal, tambah garing, tambah OOC *pasti*,
typo *semoga tidak*, author masih belajar nulis, de el el
.
.
.
.
.
.
.
Bisa dipastikan, keesokan harinya, esoknya, esoknya, serta esoknya dan entah sampai kapan tante-tante maupun ibu-ibu genit itu berdatangan ke rumah Rukia. Dan ketika datanglah mereka dengan dandanan mengertikan serta lipstik super tebal, Ichigo melemas seketika.
Kemarin, sekitar dua puluh ibu-ibu dan 3 janda menor mengerubungi Ichigo yang belum sempat mencium apalagi melahap sarapannya. Lima menit kemudian, Ichigo keluar dari kerumunan membawa banyak bekas lipstik di sekujur tubuh. Lalu...pingsan.
Bagaimana dengan hari ini?
"Jadi brondongmu masih sekolah?"
"Be-begitulah. Sebentar lagi dia lulu-"
Pip! Pip! Pip!
"Halo?"
"Kyaaa! Rukia! Ah! Aku ikut senang!"
"Siapa ini?"
"Ini aku, Hisana!".
"Oh, aku tutup teleponnya ya? Aku sibu-"
"Ahh! Sibuk dengan kekasihmu? Wah, masih muda kan?"
"Bukan. Tadi Nemu telepo-eh, darimana kau tahu?"
"Ya ampun, Rukia! Aku kaget pas lihat foto ciumanmu di facebook! Komentarnya bejibun lho! Fotomu bahkan mengalahkan foto ciuman Grimmjow dan Neliel yang dulu pernah di-upload! Ih, irinya aku."
"Fo-foto? Siapa yang berani meng-upload foto itu?"
"Tentu saja Renji! Memangnya siapa lagi yang punya ide brilliant selain dia? Haha!"
Tak! Tak! Tak!
Rukia memenggal leher ayam dengan pisau dapurnya. Pundak kirinya tengah mengapit ponsel, dibantu dengan kepala sisi kirinya. Tadinya ia berpikir, menelpon sambil memasak mungkin merupakan solusi menghilangkan kejenuhan. Nyatanya? Bukannya meredam emosinya, aktifitas tersebut hanya menyulut amarah dengan bensin 20 liter.
Tepatnya, setelah ia mendengar kata facebook, foto, dan Renji, kepala ayam di depannya itu langsung terpisah dari anggota badan dengan sekali hentakan.
"Tante-"
Tak!
Ia kembali menghentak pisaunya.
"Tante-"
"Renji!"
Dipandanginya ayam hasil potongannya sendiri. Bagi Rukia, ayam itu diperumpamakan sebagai kepala seekor Babon Merah.
Tak!
"Tante, ak-" Sesosok pemuda tengah berdiri di belakang. Tanpa sepengetahuan Rukia tentunya. "Dasar penghianat! Kenapa tak sekalian ke neraka saja! Atau, kupenggal kau dengan pisau ini!"
Diangkatnya pisau daging tadi setinggi wajah, hingga tak khayal bayangannya tergambar jelas di pisau mengkilat itu. Eh, plus sebuah bayangan berwarna orange yang merusak pemandangan.
"Ichiberry?" Rukia menoleh.
Pemuda di belakangnya hanya mampu menelan ludah sembari mengelus-elus leher yang masih mulus. Ia mundur beberapa langkah menatap tantenya dengan takut dan gugup. Ditangan kiri Ichigo, terpegang secarik kertas.
"Kertas apa itu? Sini, berikan pada tante."
"I-ini kartu undangan..." Jawabnya gemetar.
Bukannya menyerahkan undangan itu, Ichigo malah lari terbirit-birit menjauh dari sang tante yang tengah mengendalikan sebuah pisau daging.
"Kenapa lari? Ayo berikan." Perintah Rukia.
Ya ampun, Rukia. Turunkan dulu pisau itu dari tanganmu. Kalau begitu kan dikiranya kau mau mengupas 'jeruk jadi-jadian'. Rukia menggeret kaos Ichigo, karena ia tahu anak di depannya ini tak mempan dengan omongan. Sementara si pemilik kaos mengerang sekuat tenaga demi mempertahankan kaosnya.
"Tante, kumohon! Berhenti menarik-narik harga diriku!"
"Makanya berikan kertas itu!"
"Turunkan dulu pisaunya, Tante!"
Saking kuatnya tarikan Rukia, tak dapat dihindari lagi, kaos Ichigo robek seketika. Sehingga nampaklah pundak mulus Ichigo serta otot-otot perut yang...wow?
"Ups, maaf. Aku tak bermaksud menggangu acara kalian."
"Siapa itu?"
Spontan, mereka berdua mengalihkan pandangan ke pintu dapur. Seorang pria berambut hitam −yang hampir sama dengan Rukia− tergugup-gugup ria menerima tatapan kurang mengenakkan. "Hanatarou? Ini tak seperti yang kau pikirkan." Terang Rukia.
"Tidak tidak tidak. Aku cuma mau mengantar undangan itu." Ucapnya. "Dan, selamat bersenang-senang."
Rukia menyusul Hanatarou menuju pintu depan. Bisa gawat kalau ia tak segera meluruskan dugaan keliru Hanatarou. Mengingat seberapa gesitnya gosip bertebaran jika sudah berada di ujung bibir pria tadi. Sesampainya di pintu depan, ia mendapati seorang pria bertampang salesman berdiri di depan pintu sembari memasang senyum aneh.
"Selamat siang, Nyonya. Saya menawarkan jasa pijat dari pemijat brondong yang tampan da-"
Brak!
Rukia menutup kasar daun pintu tersebut.
Seharusnya ia tahu, mengeluh tentang sakit encoknya pada Rangiku merupakan kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. "Well Ichiberry, ayo kita selesaikan ini." Rukia menggeretek kedua tangan seraya berkata, "kau tahu? Gara-gara ulahmu yang sulit dikendalikan, aku kena masalah!"
"Dan kau tentunya tahu, hukuman apa yang akan kuberi-" Saat ia menoleh, sepi. Tak ada siapa-siapa di belakangnya.
"Grrr!"
.
.
.
"Undangan. Atas berkat bla bla bla akan diadakan pernikahan bla bla bla..."
Kasur putih itu baru diduduki seorang pria jabrik 3 menit lamanya. Ichigo, sekali lagi mengamati undangan pernikahan yang masih dipegangnya sambil tidur-tiduran ria. Mata hazelnya terpaku pada foto seorang laki-laki dengan tanda 69 di pipi. Ichigo yakin, ia merupakan coverboy majalah playboy. Lihatlah tatonya!
Tok! Tok! Tok!
"Haaaahhh... Sebentar, Tante!"
Rukia menyilangkan tangan menanti pintu terbuka. Tak berselang lama, pintu terbuka dan nampaklah pria bermuka bantal. Si Tante alisnya berkerut. Ia akhirnya tersadar, "aku tak akan memukul wajahmu."
Ajaib, wajah pemuda di depannya berubah menjadi wajah manusia lagi! Tahu bahwa keadaan telah aman, Ichigo melempar bantal tadi ke tempat asal.
"Ikut aku." Berlalulah Rukia dari kamar Ichigo, sementara Ichigo? Ia hanya bisa membuntuti langkah tantenya.
Di sini Ichigo dan Rukia berada sekarang. Di dalam sebuah kamar kecil yang selama ini belum pernah Ichigo singgahi. Ditelannya ludah beberapa kali. Sebenarnya bukan kamar ini yang membuat bulu kuduknya tegang, melainkan makhluk bernama Rukia Kuchiki. Suasana makin mencekam tatkala pintu tertutup oleh tangan tantenya.
"Tante tahu kan? Aku masih terlalu kecil untuk jadi korban tindakan asusila."
Rukia acuh. Ia membuka sebuah lemari baju almarhum sang ayah yang berada tak jauh dari Ichigo berdiri sekarang. "Sejak awal aku tak berminat dengan bocah ingusan sepertimu."
Hey, Tante! Jangan sembarangan mengatai Ichigo anak kecil. Ia sudah punya S
IM!
"Ini, pilih satu yang cocok." Beberapa stel baju sukses mendarat di muka Ichigo.
Pemuda ini hanya bisa menatap bosan. "Aku juga tak berminat denganmu-" Ucap Ichigo menatap Rukia yang berbalik pergi. "-Perawan Tua..." Bisiknya lirih.
"Aku dengar itu!"
Oh, ternyata dengar tho? Ichigo pikir ketajaman pendengaran tantenya telah berkurang seiring bertambahnya usia. Tak apalah, sekali-kali ia mengejek psikolog yang sejauh ini lebih mirip dengan psikopat itu.
20 menit kemudian
Dok! Dok! Dok!
"Sudah dapat apa belum? Tinggal pilih satu saja susahnya minta ampun!"
Dok! Dok! Dok!
Tante Rukia mengetuk pintu, lagi.
Ceklek!
"Tante, ini bukan masalah pilih memilih, tapi-"
Tante Rukia memiringkan alis, pemuda di depannya nampak...err seksi? Bagaimana tidak? Lengan kependekan, sesak, perut pun nyaris nampak. "Hah..." Dirogohnya ponsel miliknya. " Ishida, aku butuh bantuan. Kutunggu segera."
Ichigo POV
Aku meremas sprei kasur yang kududuki sekarang. Entah mengapa perasaanku mulai tak enak tatkala seorang pria berkacamata memasuki kamar ini. Tante! Tante Rukia, kau tega meninggalkanku berdua dengan makhluk pembawa baju mengerikan ini? Tante...ah! Buat apa aku merengek padamu. Kau juga sama mengerikannya.
Kukancingkan kemeja kelima yang ku coba hari ini. Beberapa pakaian bawaan Om Ishida cukup membangkitkan jiwa style ku.
"Kau suka pacaran dengan Rukia?"
Ah? "Ya. Aku suka dengan Tante-". Ups, aku keceplosan. Ichigo! Ingat skenario!
'Ichiberry, jangan panggil 'tante' bila di depan umum selama kau masih ingin hidup di rumahku. Panggil 'sayang', 'beibh', dan sejenisnya. Terserah maugunakan yang mana.'
Kenapa aku jadi teringat kalimat tante Rukia yang berhasil membuatku muntah di kamar mandi selama berjam-jam?
"Ya. Aku mencintai Ru-Ru-Rukkiaaa..." Tolong, adakah diantara kalian yang punya permen coklat atau semacamnya? Aku mulai mual.
"Syukurlah." Respon Om Ishida tak kupahami betul. Memangnya kenapa? Oh, jadi kau berharap aku menikahi wanita lanjut usia yang kerjanya mengomel, mengomel, mengomel, dan mengomel itu?
"Setidaknya dia tak perlu menangisi pernikahan Hisagi besok."
"Hisagi?"
"Undangannya belum sampai?"
Yang kau maksud undangan tadi? Sudah ada ditangan tante Rukia kok. Dengan cara kekerasan, seperti biasa. "Siapa Hisagi?" Tanyaku kemudian.
Om Ishida merapikan pakaian-pakaian itu. "Orang yang dulu salah mengirim surat cinta ke Rukia." Tawanya. "Dan bodohnya, Rukia terlalu banyak berharap. Jadilah ia seperti ini sekarang."
Aku paham, mengapa tante Rukia mengirim Om aneh ini. Sepertinya besok aku harus siap mental bertemu manusia lanjut usia. Disebuah pernikahan manusia lanjut usia juga tentunya. "Kukira hanya Ru-Ru-Rukkiaaa yang belum menikah. Ternyata ada yang lain juga."
"Siapa maksudmu? Hisagi? Besok adalah pernikahan kelima."
Kelima? Hebat juga orang itu. Semoga aku bisa seperti dia kelak.
Sekarang tinggal aku sendiri di kamar ini. Om Ishida keluar dari sini sekitar 4 menit lalu. Dan saat ini aku tengah berkaca dengan pakaian baruku. Hihi, jika saja mantan-mantanku melihat laki-laki seperti yang ada di cermin ini. Soi Fong, Riruka, Halibel, Inoue, kuharap kalian menyesal telah memutuskanku!
Kuputuskan segera keluar dari kamar, bila terlalu lama monster penghuni rumah ini pasti akan merajalela.
Ceklek!
Tak ada siapapun saat Ichigo keluar. Kecuali seorang makhluk kecil yang terduduk bersandar ditembok luar kamar. Ia menunduk bersedekap, menutup wajah. Sedang apa tante Rukia di sini? Menyadari kehadiran Ichigo, Rukia mendongak ke samping. Rasa sakit di kepalanya mulai menyebar, begitu pula dengan yang ada di dalam dadanya.
"Sudah pilih?" Ucapnya mengelap air mata dengan bawahan yang ia kenakan. Tak ada bedanya, pipi Rukia masih basah. Seharusnya ia melihat, bawahan yang digunakannya pun sudah basah bagian tepinya. Lalu, seberapa banyak produksi air mata tantenya itu?
"Sudah."
Rukia bangkit dari sana kemudian, meninggalkan Ichigo berdiri terpaku di depan kamar."Besok bangunlah lebih pagi. Kita akan pergi."
Ichiberry sudah tahu untuk apa dan kemana ia pergi. Ke sebuah tempat berisi puluhan dan mungkin ratusan tamu usia 30 tahun keatas.
"Oh ya, Ichiberry. Tak usah kau cari kotak coklatmu yang ada di kolong ranjang. Tante sudah membuangnya."
Ya. Kesebuah tempat berisi orang-orang tua. Serta tak dapat dipungkiri, ibu-ibu dan beberapa janda genit akan hadir menciuminya seperti kemarin. Dan buruknya lagi, hari-hari sulit yang telah membentang panjangnya harus ia lalui tanpa sekotak coklat curahan hatinya. Apakah liburan semester Ichigo harus dihabiskan untuk menjadi om-om plus sopir gratis bagi tante Rukia?
Tubuh Ichigo merosot. "Siapapun, tolong aku..."
TBC
Rieka pundung setelah update chap ini. Makin g jelas. Tapi...Rieka dah berusaha update sebelum liburan usai, karena saya tahu, pelajaran yang biasa merenggut imajinasi dan rasa humor Rieka telah menanti.
Ini daftarnya :
Ulangan Fisika
Ulangan Kimia
Ulangan Matematika
Presentasi Biologi
Tugas Bahasa Perancis
Tugas Bahasa Jawa
Tugas PKn
Dan belum ada satupun yang Rieka cicil.
Apalagi Matematika, kurang paham. Gurunya pas nerangin cepet banget. Dua bab langsung pula.
Di sini ada yang mau ajarin fisika bab vektor gak? Huhu, malah ujung-ujungnya curcol gini.
Ya dah, author minta doa berupa review dari kalian. Readers maupun silent readers, makasih dah maw baca fic gajeku. Tapi Rieka seneng bgt kalo kalian maw meluangkan tenaga untuk mereview.
Review, please...
