"Kenapa kau sangat suka membuat topeng-topeng aneh itu?"
"Untuk menutupi identitasku, bodoh. Ah, kau ini 'kan Uchiha, masa' yang seperti itu saja tidak tahu."
"Hn."
"..."
"Ksatria, eh?"
"Yap. Ksatria untuk orang lemah."
Naruto © Kishimoto Masashi
Knight of Peasant Song
by ceruleanday
October, 2011
Warning: Dark Naruto.
The last chapter of this fic. Saya tahu fic ini begitu ambigu untuk dipahami maksudnya /plaks. Well, saya hanya ingin menunjukkan siapa diri saya dan bagaimana saya menulis. But, fic ini memang saya tonjolkan pada sisi Saviour-nya ketimbang yang lain.
And, for Nad. Could I say uhm—happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday to Nad. Happy birthday to denayaira! xD I'm very sorry if I made Naruto suffered more than everyone. /plaks. Gomenne. ;A;
Mimpi itu menjadi pil penahan tidur bagi Sasuke. Temaramnya cahaya di dalam bilik istirahatnya tak menjadi alasan khusus agar ia segera terlelap. Ia kembali pada posisi siaga. Melekatkan kembali pakaian siang harinya tanpa kemeja yang sudah lusuh. Hanya, perlu ditambahi sedikit aksesoris—shotgun berisi lima peluru.
Kaki-kaki pucatnya dilapisi dengan boot kulit rusa yang tahan di atas lapisan salju. Langkahnya tak menimbulkan satu suara pun—bagai cicitan tikus dalam pipa paralon. Sama sekali bukan inginnya hingga ia harus berlakon layaknya pencuri di kediaman orang-orang kaya. Ia bukan Robin Hood maupun Goemon. Pikirannya hanya dibebani dengan banyak tanya oleh ingatan samar-samar yang ditunjukkan melalui kata-kata abstrak Minato sebelumnya.
Lorong demi lorong, koridor demi koridor, dan waktu demi waktu. Tengah malam membangunkan jam burung hantu yang berdiri di ujung lorong terjauh. Lorong sama yang kian membuatnya semakin penasaran. Saat melangkah, hembusan angin dingin menerbangkan anak-anak rambutnya begitu kencang. Ia berbalik dan mendapatkan jendela yang selalu tertutup itu terbuka tanpa batas. Detik berikutnya, ia menginjak lantai yang terasa begitu berbeda dan keras. Lebih mirip bata-bata tanpa dilapisi marmer. Saat meraba-raba dindingnya, ia tahu di sini lah rahasia Namikaze Minato tersembunyi.
Tuk tuk tuk.
Bunyi ketukan kayu menjadi penanda akan letak sebuah pintu di balik karpet merah yang menempel di sana. Sekuat tenaga, Sasuke menarik karpet itu—menemukan pintu berbentuk bulat oval. Tak ada knop, hanya sebuah lubang kunci.
Tuk tuk tuk.
"Siapa di sana?"
Suara lain menajamkan tingkat kewaspadaan Sasuke. Ia tak dapat melihat jelas sosok yang tampak membawa lampu obor dari kejauhan. Saat melihat cahaya dari obor itu makin membesar, Sasuke tahu hal apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan diri.
Kayu itu rapuh, seperti yang diduga sebelumnya. Dengan hanya menekan kuat lubang kunci, tekanan sedang membuatnya retak dan hancur perlahan-lahan. Tak ada waktu untuk membiaskan bising yang dibuatnya. Lebih baik bersembunyi di balik pintu itu sebelum sosok yang mendekatinya dari kejauhan tiba dan menghakiminya sebagai seorang pencuri. Tidak. Tentu tidak untuk nama Uchiha yang disandangnya.
"Au voleur! Au voleur!" suara si sosok makin terdengar. Berulang kali ia menyerukan kata yang sama—pencuri.
'Au voleur! Au voleur! Au voleur!'
'Au voleur! Au voleur!'
'Au voleur!'
'Au vole—'
Senyap.
Nafasnya memburu cepat. Hawa dingin menyakitkan kulit dan tulangnya. Gelap tanpa celah cahaya sama sekali. Ia hanya mampu menangkap bayang semu akan wujudnya. Ia melangkah tertatih sembari mengingat jejak dengan samar. Tungkainya terasa kebas, bagai berada di lautan balok es yang tak mencair. Namun, jauh lebih dalam, ia melihat satu titik kecil cahaya. Berwarna violet dan terkadang berubah bentuk. Cahaya itu bagai kode yang menuntun langkah lelahnya. Ia yakin. Ia selalu yakin, di sana lah ia akan menemuka sesuatu yang pernah hilang dari dirinya.
Suara bedebug keras menghantam liang pendengarannya. Sunyi senyap berubah menjadi keributan beruntun tatkala kaki-kaki cepat berlari mendekatinya dari belakang. Sekuat tenaga, sang Baron berlari. Menuju sebuah lorong tersempit yang akan menyamarkan tubuhnya dalam gelap. Telapak tangannya bersandar pada dinding dingin, rapuh dan kasar. Menit berikutnya, Uchiha Sasuke telah berada di dasar sebuah dunia yang tak bermateri sama sekali.
Drap. Drap. Drap.
Semakin dekat dan semakin dekat. Ia mendengar tapak-tapak itu kembali. Jauh lebih bergema dan semakin menggaung. Benaknya mencari cara 'tuk lari, namun tak dapat menemukan satu ide pun. Ia terjebak. Ia lelah. Ia hanya terlalu bodoh.
Drap!
"Au voleur!"
Monokromatisasi cahaya obor mengelilingi dirinya. Seketika, suara-suara itu makin bergemuruh. Anjing-anjing lapar menyalak kejam. Mereka liar dan buas. Mendekati tubuh pias sang Baron yang keletihan. Nyalakan anjing-anjing liar itu semakin menjadi. Justifikasi sekompi pasukan berpakaian bak penjaga istana abad ke-19 semakin mengganggu alih pikir Sasuke. Benar, ia terdesak. Dan, entah alasan apa yang harus diucapkannya. Iseng kah? Atau—terlalu penasaran? Karena, semboyan nenek moyang dahulu memang benar adanya— curiosity kills the cat.
Dan, sang kucing telah termakan jebakan buatannya sendiri.
"Angkat tanganmu!"
Sasuke diam. Ia tetap terdiam. Terus terdiam. Tak menggerakan sedikit pun anggota tubuhnya.
"Angkat ta—"
Jleb!
Apa yang dilihatnya berubah kaburoleh ketajaman visus yang kian menurun. Entah mengapa, sekumpulan cahaya itu semakin menggelap dengan sendirinya. Satu per satu—mereka lumpuh. Yang tersisa hanya teriakan putus asa—
"Aaakh!"
—seperti dalam dongeng-dongeng kolosal yang bercerita akan kehidupan penjara bawah tanah tahanan-tahanan gila di zaman peperangan.
"Arrgh!"
'Siapa?' tanya sang Baron. Tetapi, pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya.
Ya.
Sebab—satu, dua, dan tiga. Itu lah hitungan detik untuk nyawa-nyawa yang masih ada.
Anjing-anjing itu masih menyalak, seakan baru saja mengecap kebebasan yang abadi dari tuannya yang jahat. Namun, sayang. Usia mereka terlalu muda untuk merasakan kehidupan bebas di luar sana. Gelap terlihat jelas di antara satu titik cahaya kecil yang berkedip-kedip dari sudut sana. Tepat di ujung lorong yang lebih dalam, cahaya itu mengalami pembiasan. Semakin membesar. Membesar dan membesar.
Lalu—
"Selamat datang di istanaku, Tuan-Tuan. Apa ada yang bisa kubantu. Oh, mungkin—belati ini cukup untuk menebas leher kalian?"
"Ti—ti—"
"Vi Veri Vniversum Vivus Vici." Sebuah suara terdengar samar bagai desisan ular. Dan, bisa sang ular menjadi rangkaian melodi maut untuk beberapa pasang kaki dan tangan yang tak lagi hidup. Belasan belati bermata tajam melayang menjadi media pembiasan cahaya kecil dai ujung lorong tergelap. Jauh—jauh dan begitu jauh. Tapi, mendekat bagai tubuh tanpa jiwa. "By the power of Truth, I, while living, have conquered the universe. Itulah akhir dari melodi pertunjukan kita di malam ini. Hm."
Crik.
Mata api dari sebuah obor yang masih hidup menunjukkan rupa empunya suara. Hanya beberapa kaki dari tubuh sang Baron, sosok itu berdiri tanpa raut ketakutan sedikit pun. Ah tidak—ia tak pernah takut. Tak'kan pernah takut. Sebab, ia bahkan tak memiliki wajah sama sekali. Wajahnya tertutupi oleh topeng gips putih dengan coretan sepasang alis dan kumis serta janggut yang tergoret hingga ujung dagunya. Semua goretan memiliki warna hitam. Bahkan, kalau pun sosok itu ingin menunjukkan ekspresi apa yang kini melekat di wajahnya, yang terlihat hanya garis melengkung tajam ke atas—membentuk senyuman paling menyeramkan.
"Hanya orang bodoh yang berani masuk ke tempat ini. Dan, jika itu berarti semua orang bodoh termasuk dirimu, Tuan—maka, dengan senang hati, aku akan menebaskan belati ini di leher—" ujar sosok bertopeng menyeramkan itu sembari menurunkan obor kecil yang digenggamnya ke arah bawah. Matanya seakan mencari-cari sesuatu dari tubuh mati pasukan itu. "—ah, kunci! Ck, ck, sudah berapa lama aku menginginkan benda kecil ini. Di mana—di mana pintunya—hm—"
Ada yang salah dengan sosok itu, pikir Sasuke. Ada yang benar-benar salah dan tak ada benarnya sama sekali. Detik saat bunyi kunci yang berputar di lubangnya terdengar, suara tawa maniak jua mengikuti sebagai dialog perpisahan. Beberapa kali pun Sasuke mencari kemungkinan identitas sosok itu, ia tak ingin menemukan satu nama yang kembali terefleksi di ingatannya. Jika warna rambut itu masih sama seperti dahulu—kenapa, kenapa... kenapa tawa dan suara itu benar-benar berbeda? Kenapa—
"Kau—"
'Tidak... Dia bukan—'
"Ah, apa yang sudah terjadi di luar sana selama ini ya? Aku bahkan lupa harus meletakkan benda-benda ini. Haha!" serunya membahana. Tertawa penuh kebebasan ke angkasa. Melepaskan segala kemarahan yang telah tertahan selama puluhan tahun dalam hatinya—jiwanya. Namun, raut wajah itu masih sama—tertutupi oleh topeng yang melekat erat. "Je suis libre! JE SUIS LIBRE!"
Sang baron mengingat sebuah wajah dan nama. Ia mengingat suara lantang yang selalu tersembunyi dalam derap ketakutan. Ketika bocah itu menangis dan ketika bocah itu tertawa. Jika ingatannya tetap setajam seperti saat ini, sama sekali tak ada penolakan atas kesimpulan yang dibuatnya. Jika—jika—bocah itu masih hidup. Jika bocah cengeng itu masih ada. Akankah bocah itu adalah—
"Kau..." bisiknya seakan tertahan. Tangan itu bergerak menyentuh pakaian lusuhnya. Menariknya pelan dan meminta bukti. Sang baron menginginkan sosok itu berbalik dan melihatnya.
Ia bergeming. Diam seribu bahasa dan hanya mendesis. "Jika kau tidak mengenalku, maka—biarkan diri ini terbebas. Tapi, jika sebaliknya—ikutlah denganku dan kita akan menyelesaikan sesuatu yang semestinya kita selesaikan sejak dulu." tuturnya bak perintah. Ada nada pemaksaan dalam setiap bait nafasnya. Dua pilihan itu sama saja dengan option mati atau hidup. Keduanya sama sekali tak dibutuhkan Sasuke. Yang diharapkannya hanya—nama.
Cahaya dunia nyata menyinari tubuh mereka. Sasuke merasa telah kembali ke waktu di mana ia seharusnya berada. Saat di mana ia mengingat tiap frase dan kosakata yang tertutur oleh belah bibirnya, ia tahu dan ia benar-benar meyakini jika sosok berdarah dingin di hadapannya adalah—bagian lain dari rahasia kelam sang tuan tanah—Namikaze Minato.
Mereka mencari sedikit masa lalu yang tersembunyi di masa depan. Keduanya melangkah tanpa tahu identitas masing-masing. Hanya ingatan pasif yang terselip di balik tumpukan memori tua menjadi petunjuk langkah mereka. Tak peduli, tak peduli dengan yang lainnya. Sang Baron menuntut kebenaran dan yang lainnya menginginkan kebebasan mutlak atas hidupnya.
"Selamat datang di dunia nyata!" teriaknya. Koridor penuh cahaya menyinari tubuhnya. "Mari kita mulai pertunjukannya..."
.
.
.
Ia menjinjing sebuah tas butut dengan robekan yang tak pernah dijahit. Pakaian lusuhnya begitu kotor dan ikut mewarnai kulitnya yang masih terekspos. Ia melangkah tanpa beban. Terlihat begitu ringan, bahkan dengan dominasi dunia baru yang dirasakannya sangat asing. Aroma, rasa, dan pemandangannya jauh berbeda dari yang sudah dilewatinya selama bertahun-tahun dalam kegelapan. Persembunyiannya menuntut batas jelas antara dunia penuh cahaya dan kebohongan dengan dunia monokrom hitam yang selalu berkata jujur.
Sosok di belakangnya turut mengikuti. Ia menolak bersuara hingga apa yang terasumsi dalam benaknya telah terbukti. Ia tak berhenti meski suara sumbang keributan dari arah koridor lain membuat degup jantungnya bertambah berkali lipat. Ketika penentu arah mengambil belokan ke kiri, sang Baron memilih berhenti dan mendengar suara lain yang mengejar mereka dari kejauhan.
"Stop!"
Ia benar-benar berhenti melangkah.
"Oh. Pengganggu lagi ya?"
Saat tetesan darah membatasi karpet putih yang menutupi lantai marmer, genangannya merembes hingga membentuk lingkaran yang makin meluas. Tanpa diminta, lima nyawa melayang hanya dengan belati berjumlah sama yang dilemparkannya secara bersamaan. Tepat sasaran dan hanya menyisakan derit ketakutan dan kesakitan. Sang Baron membulatkan mata oniksnya—mengamati dengan begitu cermat wajah bertopeng si pelaku yang tepat berdiri di belakangnya.
"Perhatikan langkahmu, Tuan. Kalau tidak—belati ini juga bisa saja mengenai lehermu tadi." Desah nafas bisikannya tepat mengenai cuping telinga sang Baron. Tak lama, sosok itu menyingkir dan kembali berjalan santai.
Tak pernah sekali pun—bahkan dalam seumur hidup sang Baron—ia memandangi tubuh manusia yang teronggok oleh karena tebasan belati. Tepat di depan matanya dan ia merasakan betapa ketakutan itu semakin menggantikan banyak tanya yang bertumpuk dalam pikirannya. Sasuke—menatap punggung si pembunuh berdarah dingin dengan tatapan kosong. Kaki-kaki itu pun menapaki koridor demi koridor. Mencari ruang secara random dan teracak. Kemudian, melekatkan benda-benda aneh yang tersimpan dalam tas butut sosok beropeng itu. Ia mengais sudut perapian yang sudah kering, membuat tangan-tangan penuh goret luka dan darah menjadi hitam, dan apapun yang dilakukannya tak membuat sang Baron berhenti mengikuti.
Dalam hati, Sasuke ingin menghentikan perbuatannya. Perbuatan sinting yang tidak seharusnya dilakukan oleh manusia asing dan misterius seperti dirinya. Apakah untuk alasan inilah Namikaze Minato menyembunyikan benda tak berguna miliknya ke dalam sebuah menara gelap tak berpenghuni itu? Untuk alasan inikah sang tuan tanah menyembunyikan harta terbaiknya jauh dari pengelihatan publik? Jika jawabannya adalah iya, dengan senang hati, sang Baron akan berseru penuh kesal.
"HENTIKAN PERBUATANMU ITU!"
"Ouch."
Ia merasakan darah menetes dari ujung telunjuknya. Ia membiarkannya mengering dan melupakan nyeri berdenyut yang sama sekali terbias oleh rasa frustasi yang membuncah dalam hatinya. Ia tuli dan menolak mendengar. Ia tetap melakukan apa yang tengah diperbuatnya. Tidak sampai semuanya hancur lebur—sama seperti tangan-tangan miliknya. Harta satu-satunya yang ia miliki adalah jemarinya. Jika balas dendam bisa membayar kekesalan itu, ia tak sungkan menghancurkan semua yang telah menghancurkan hidupnya jua.
"Kau ingat tapi kau selalu lupa, Tuan. Kau tentu tak ingin melihat wajah ini, bukan? Kau takut. Kau takut jika sosok di balik topeng ini adalah monster berkepribadian ganda yang akan membunuhmu, menghantuimu, dan mengutukmu hingga kau tiba di persinggahan neraka. Kau pergi dan pergi. Kau meninggalkan sosok ini seorang diri. Saat sosok ini telah putus asa, ia ingin kembali ke rumahnya—ke sebuah rumah kumuh di mana ia bisa menjadi seorang Ksatria. Dan... tahukah kau di mana letak rumah-rumah kumuh itu, Tuanku? Ah, kau sudah melihatnya. Kau sudah menatapnya banyak sekali. Banyak. Banyak!"
Ia bercerita seolah ia adalah seorang dalang pementasan boneka kayu. Ia berputar-putar di tempatnya seolah ia sedang menceritakan dongeng pengantar tidur. Berpuisi layaknya pujangga romansa yang tak kenal zaman. Detik saat ia berseru, ia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi ke langit.
"Kau tahu!" Didekatkannya wajah bertopeng itu tepat di hadapan sang Baron. Mengamati lamat-lamat gerak pupil oniks sang Baron—menilik ketakutan yang tersimpan di sana. Dan, nihil. "Tanah Kebebasan. Di sinilah—di istana inilah Tanah Kebebasan itu terletak. Yang sebenarnya—yang sebenarnya—Tuan." Ia menjetikkan jemarinya. Mengamati kemarahan yang tersimpan dalam rahang sang Baron. "Saat bara bertemu api, segalanya akan hancur. Tirani akan runtuh. Kekecewaan dan kepalsuan. Di atas tanah ini, Tuan, kau harus ingat. Di sinilah mimpi negeri ini akan terwujud! Dan di situlah! Di situlah! Sang Knight akan berpijak di atas panggung orkestranya!"
Kedua tangannya berekstensi maksimal di sisi kanan kiri tubuhnya. Berpose selayaknya ia adalah korban penyaliban. Hanya, tatapan kasihan dan nanar sang Baron mengais sejarah pilu yang sempat dilaluinya bersama—orang itu.
"Apa yang kau rencanakan, Naruto?" Untuk pertama kalinya, Sasuke menyebut nama itu. Respon sosok bertopeng jauh lebih menarik setelahnya.
"Namaku? Itukah namaku? Oh, kupikir aku adalah Tchaikovsky. Ah, scoring. Aku masih belum bisa menyelesaikannya. Swan Lake itu memang sulit untuk digubah."
"Kali ini—siapa yang keluar?" tanya Sasuke. Sang Baron kembali mengingat dua puluh macam kepribadian yang akan ditunjukkan sahabat satu-satunya itu. Entah identitas siapa lagi yang dipalsukannya.
Mengamati balok-balok berwarna merah mencurigakan yang dilekatkannya di ujung perapian kering membawa logika Sasuke pada kesimpulan paling tepat. Mata oniksnya bersirobok sepenuhnya dengan api-api kecil yang menyala perlahan.
"Hm, biar kutebak. Kalau bukan sang maestro Tchaikovsky, apa mungkin aku saat ini adalah—Mad Hatter? Ataukah King Henry ke-sembilan. Atau—George the Monkey?"
Api-api kecil menyulut bagai membasahi kayu-kayu yang telah kering sempurna. Ide dan taktik berteknologi tinggi namun sangat sederhana itu hanya dapat terbentuk oleh kecanggihan kecerdasan tanpa batas. Sang Baron mengingat pribadi lain dalam sisi kehidupan bocah cengeng itu—pribadi jenius yang muncul setiap kali ia memainkan jemarinya di atas piano mereka. Apa yang sebenarnya direncanakan olehnya selama ini?
Apa yang—kau rencakan?
"Berhenti dengan semua omong kosong itu, Naruto!" Kesal, Sasuke menarik pita berwarna putih lusuh yang melekat sebagai kerah pakaian sosok bertopeng. Jemarinya menarik kuat-kuat hingga merasakan sesak yang terdengar melalui hembusan nafasnya. "Kau hanya ingin kebebasan, bukan? Kau sudah mendapatkannya! Dan sekarang—kau tidak perlu melakukan hal bodoh itu. Sadarkan kau dengan tindakan konyolmu ini, hah?"
Ia terdiam. Bergerak pasif dan lemas.
"Kau lihat tangan ini, Tuan? Kau lihat bagaimana tangan ini hancur selama berpuluh tahun ini? Aku tidak pernah mengamati kalender matahari maupun bulan, tetapi aku bisa merasakan waktu yang begitu konstan membunuh jiwaku prlahan-lahan. Mereka menangis di luar sana, Tuan. Tidakkah kau ingat dengan janji kita dahulu—dahulu sekali—saat kita masih sering berduel bersama? Kau berkata untuk selalu berada di sana hingga scoring ini selesai? Tapi—ayahku yang kejam itu membuat tubuh ini terbelenggu oleh rantai-rantai penyiksaan, Tuan. Tidakkah kau ingat itu, Tu—"
"Berhenti memanggilku Tuan, Naruto!"
Ia tak tahan dengan sakit yang juga dirasakannya. Bahkan, rasa sakit yang lebih menyiksa. Kedua tinjunya bergetar kuat tapi ia tak berani memukulnya dan menyentuh kulit milik orang itu. Degup jantungnya berdetak kuat dan ia bisa merasakan—merasakan—keinginan kuat dan rapuh itu masih tersimpan meski tertutupi oleh topeng bercorak miliknya.
"Kalau kau bersikukuh tetap memanggilku dengan nama itu, tak ada alasan lagi untuk mengatakan penolakan. Tidak untuk kali ini, Sasuke."
Dan ia menyebut namanya. Dengan begitu jelas. Fasih. Seakan kembali ke masa lalu. Seperti masa lalu.
Dar!
Dar!
Dar!
Dar! Dar! Dar!
Merah. Api. Marah. Dengki. Murka. Kejam. Culas. Serakah. Iblis.
Pesta itu baru saja dimulai. Pesta kembang api dengan ribuan warna di langit. Gelapnya tengah malam bersamaan bunyi genta raksasa membiaskan bising pendengaran di koridor-koridor dan ruang hampa. Teriak kesakitan membahana mengisi acara inti yang dibuka dengan meriahnya api dalam kobaran yang maha dahsyat. Entah sejak kapan pesta itu berubah secepat mungkin menjadi penyambutan kehancuran yang begitu binasa. Meluluhlantakkan sebagian besar area menara utara yang berdiri eksklusif tepat di belantara hutan pinus istana. Menara berisi tak lebih dari anak buangan yang merintih kesakitan.
"Hahaha! Dengarkanlah melodi pembuka untuk pertunjukan sang maestro, Sasuke! Bergabunglah dengan orkestra indah ini!"
Dar!
Dar! Dar! Dar!
Hanya merah dan api yang kian berkobar. Memberi gradasi warna gelap untu tirai-tirai yang berhembus terkena sapuan angin panas di tengah malam. Kaki-kakinya berlari menuju jendela dan mengamati chaos yang baru saja terjadi. Kedua mata oniksnya terkejut luar biasa memandangi istana yang baru saja dimasukinya perlahan demi perlahan termakan oleh kobaran api. Semuanya tak lagi berwarna-warni. Yang terlihat jelas hingga ke ujung langit sana hanya merah. Merah yang berkobar ke mana pun. Bersedia membakar apa saja meski belum sepenuhnya.
"Apa yang—apa ini?"
Tawa yang tertahan terdengar tepat di liang pendengarannya. Saat berbalik, ia akhirnya mengamati bagaimana wajah masa cilik itu masih lah melekat di sana. Masih. Masih di sana.
"Tanah ini bukan milik pria culas itu, Sasuke. Tanah ini adalah milik para peasant yang menginginkan melodi kebebasan bernyanyi riang di angkasa. Dan, hanya aku—hanya aku yang bisa memberikan kebebasan itu untuk mereka. Atau... hanya kita?"
Alisnya membentuk kerutan kasar. Ia berpikir sembari menetralkan kemarahan yang masih tersimpan di bawah tenggorokannya. "Kau tidak tahu apa-apa, Naruto. Waktu itu kita masih terlalu kecil untuk memahami hal-hal konotatif yang terdengar di mana-mana. Kau naïf."
"Aku? Naif, katamu? Hm... yah, mungkin benar. Terpenjara selama ribuan tahun pun tidak akan jadi masalah bagiku. Sebab, bagaimana pun—aku akan tetap membenci istana ini. Aku akan tetap membenci ayahku. Membenci orang yang sudah membunuh ibuku." desisnya. Topeng miliknya terjatuh di lantai.
"Dari mana kau mendapatkan semua senjata itu? Kau tidak mungkin membuatnya di dalam sana. Kau—tidak seperti itu."
Senyum Naruto mengembang hingga ke ujung mata miliknya. Terkesan begitu menyeramkan. "Di dalam sana—di dalam sana—sungguh banyak misteri yang terkunci. Hanya aku, ya, hanya aku yang menemukannya. Terkadang aku bisa begitu bosan kalau hanya bergulat dengan scoring itu. Jadi, sedikit olahraga akan membantuku menemukan inspirasi. Kau mau mencobanya, Sasuke?"
"Tsk!"
"Hahaha! Sudah kuduga! Kau selalu saja menjadi anak baik, Sasuke! Berbeda denganku, hm."
Ia melangkah mendekati sang Baron. Dalam wujud aslinya, sang pembunuh berdarah dingin melanjutkan. "Sebuah kisah kuno berkata melalui not-not bernada sumbang di tiap malam ketika bocah itu tak bisa terlelap di tidur malamnya. Kisah itu bermula dari masa lalu seorang wanita muda berparas anggun yang menunjukkan performans-nya tepat saat Tanah Kebebasan diakui oleh pulau seberang. Ia memainkan pianonya dengan begitu elok. Menunjukkan siapa yang berkuasa di pulau ini. Namun, seorang bangsawan kaya meminang wanita itu—membelenggu takdir wanita itu dengan janji pembebasan total untuk semuanya. Semuanya palsu dan kosong. Janji iblis yang hanya manis di bibir saja. Lalu, wanita itu tewas oleh kesalahannya sendiri. Mencampur obat-obatan yang disimpannya di bawah kasur miliknya dan membuat seolah ia diracuni. Ketika kebenaran terungkap, mereka berkata jika wanita itu gila. Ya—" Ia menoleh sembari memantik-mantik kayu dengan pemantik api kuno. Beberapa kali dicobanya hingga sukses mengeluarkan api mungil. "—bersama dengan putranya yang didiagnosis dengan kelainan yang sama! Dan anak itu adalah aku! Aku! AKU!"
"Kau tahu itu, Sasuke. Kau bisa melihatnya, bukan?"
Louie.
Sasuke mengingat anak kecil itu. Tidak. Tidak hanya Louie. Sekumpulan pria dan wanita berpakaian lusuh dan berwajah kumuh bertebaran di jalan-jalan. Sang Baron berkata ia akan menuju Tanah Kebebasan—sebuah tanah yang dahulu hingga sekarang adalah milik mereka. Namun, sang Baron sama sekali tak pernah tahu di mana letak tanah itu. Tidak sama sekali. Ia hanya menerka-nerka. Mengingat kisah lama akan petualangan ayahnya bersama sang tuan tanah pulau ini. Mereka berlayar ke sembilan samudera dan berambisi mengumpulkan harta terbaik milik para perompak yang tertinggal di kapal-kapalnya. Kemudian, mereka membuat gambling—menentukan siapa yang pertama kali bisa menaklukan pulau ini. Pulau dengan seribu tambang permata dan berlian.
Louie dan para peasant.
Tanah kebebasan.
Knight of the Peasant Song.
Itukah scoring yang selama ini ingin diselesaikannya? Itukah judul yang ingin ditunjukkannya pada mereka? Pada sang Baron?
"Scoring itu akan bernilai sangat mahal. Ibuku berkata demikian." tutur Naruto—pemuda bertopeng itu—dengan bisikan. Api kecil yang masih menyala di pemantik kuno miliknya bergerak-gerak mengikuti arah angin yang berhembus. "Hanya—terlalu sulit. Begitu sulit untuk diselesaikan. Aku tidak tahu. Tidak pernah tahu apa yang salah. Selama ini—selama ini—arrghhh!"
Ia mengobarkan api mungil itu ke arah perapian. Melemparnya penuh amarah sembari memegangi kepalanya dengan begitu kuat. Berteriak dan terus berteriak entah karena apa.
"Persetan dengan semua kemewahan ini! Mereka seharusnya hidup! Bukan ia! BUKAN!" teriaknya. "SASUKE! Sasuke! Sasuke!"
Hanya nama itu yang mampu diucapkannya. Hanya satu nama itu yang masih teringat baik di antara dua puluh identitas berbeda dalam dirinya. Hanya satu nama itu saja—Sasuke.
'Sasuke... Sasuke...'
Anak kecil cengeng, huh?
Ia menangis. Anak cengeng itu menangis. Menangis pilu.
"Arrghhh! Kepalaku sakit!"
'Sakit sekali, Sasuke.'
Lagi-lagi, anak cengeng itu berteriak. Anak cengeng itu terluka.
"Naruto—"
Kemudian, sang Baron berkata. Ia akan membuat janji. Bersama dengan sebuah topeng yang terjatuh itu. Menutupi identitas lain dari wajah stoiknya. Mengingat wajah yang ingin disentuhnya.
"—kita akan menyelesaikan scoring itu."
Brak!
Hantaman demi hantaman membuka daun pintu yang remuk. Barisan kavaleri bersenjata menemukan dua sosok yang terlihat begitu defenceless. Yang satu terlihat merintih kesakitan dan yang lainnya hanya mengamati tanpa ekspresi. Sebuah sosok tiba bersama shotgun yang tergenggam di tangannya. Mata biru langitnya membelalak lebar. Terkejut dengan kehadiran putranya yang berhasil kabur dari penjara buatannya sendiri.
"Na—Naruto... Kau—kau semestinya tidak boleh keluar dari tempat itu!"
Bunyi kokangan senjata terdengar. Pasukan kavaleri menutupi akses mereka. Menutupi setiap sudut agar mereka tak bisa kabur. Namun, siluet api kecil menyala kian membumbung tinggi dari arah perapian yang terbakar.
"Kau seharusnya menyadari perbuatanmu, Tuan." ujar Sasuke sembari menenangkan Naruto yang masih merintih sakit. "Kau seharusnya menyadarinya."
"Tsk! Menyingkir kau dari anak itu, Uchiha!"
Dor! Satu tembakan berdesing. Memuntahkan satu peluru yang tidak mengenai siapapun.
"Berhenti sebelum hal yang jauh lebih mengerikan terjadi pada dirimu." lanjut sang Baron begitu tenang.
Sang tuan tanah menggetarkan kedua tangannya. Ia terlalu takut. Takut melukai, namun sangat ingin menyingkirkan penghalang itu. Bibirnya ikut bergetar dan sulit mengucapkan satu patah kata pun. Di saat kokangan lain ikut berderit, sebuah belati terlihat menancap tepat di kepala orang itu. Hanya Naruto yang bisa melakukannya—hanya anak cengeng itu.
"Hh, hh. Pembunuh. Pembunuh. Kalian akan mati. Kalian akan dikutuk." cerca Naruto bersamaan dengan wajah kesalnya. "KALIAN AKAN MATI!"
Dar!
"Tir!"
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Satu.
...dua. Tiga dan empat.
...mereka menembaknya tanpa henti.
Mereka menembak satu-satunya pertahanan yang dimiliki oleh tubuh sang Baron. Bocah cengeng itu tak lagi menangis. Ia tertawa dan tersenyum. Meregangkan kedua lengannya seakan melindungi sang Baron. Menjadi baja akan martil. Dan, darah kian mengucur deras dari tubuhnya.
"Dengarkan orkestra inti dan penutupnya, Sasuke. Dengarkan bagaimana dunia ini akan runtuh. Tapi... aku tidak lagi terpenjara di sana. Aku di sini—bebas. Bebas memilih hidupku. Dan... akhirnya, aku tahu—aku tahu nada apa yang ingin kumasukkan di baris scoring terakhir kita. Ya—"
Ia berbicara meski dengan nafas yang tak lagi tepat berada di paru-parunya. Ia akhirnya memilih tuk menjadi dirinya sendiri—pribadinya yang sesungguhnya.
"Na—NARUTO!"
DAR!
DAR!
DAR!
Dar!
"Aku hanya ingin hidup di luar sana. Mengamati bagaimana tanah-tanah menumbuhkan tanaman. Mengamati bagaimana langit memuntahkan hujannya. Dan... mengamati bagaimana kita tetap hidup bersama.
—tapi, kurasa semuanya sudah berakhir.
Iya 'kan, Sasuke?"
.
.
.
Hanya puing-puing metal yang tersisa. Api telah membakar segalanya. Membinasakan dan membumihanguskan hingga ke dasarnya. Menyisakan sedikit debu di langit ketika fajar baru saja menyingsing. Bagai sebuah ironi hidup yang terjadi dalam semalam saja. Istana itu hancur selayaknya baru saja merayakan sebuah pesta besar tak berkesudahan. Tubuh-tubuh mati ikut hancur bersama yang lainnya. Namun, di sudut sana, tanah-tanah penuh genangan air menjadi satu-satunya sumber kehidupan baru.
Satu orang. Kemudian, dua hingga puluhan. Mereka berdatangan dan memandangi istana terbesar di pulau mereka hancur seketika entah karena apa. Tangan-tangan kotor mereka menyentuh benda yang layak pakai. Mengendusnya dan segera menyimpannya baik-baik dalam tas butut mereka. Ada yang bersorak dan ada pula yang bertanya-tanya.
Sasuke melihat anak kecil itu—Louie. Ia bersama sang ibu mengamati istana yang telah luluh lantak itu. Tanpa takut, Louie mengejar postur tegap sang Baron yang penuh luka. Ia berdiri tepat di atas sebuah tanah berwarna kekuningan dan terkena biasan cahaya—membentuk gradasi warna cantik.
Tanah itu—tepat di bawah istana itu—ribuan emas dan berlian bergelimpahan. Sang Baron mengingat kata-katanya. Tanah Kebebasan. Louie hanya menatap kosong dan mengamati apa yang diperhatikan oleh sang Baron. Senyum tipis sang Baron menjadi awal mula bagi anak kecil lusuh itu tuk menggerakan tungkainya.
"Quel est ce, Monsieur?"
"Votre terrede Liberté." jawab Sasuke. "Tanah Kebebasan milik kalian."
Anak kecil itu menyunggingkan senyum terlebarnya pada sang Baron. Ia berlari begitu kencang ke arah ibunya dan berteriak-teriak sembari menunjuk tanah yang diucapkan oleh Sasuke.
Pada akhirnya, semuanya sesuai dengan apa yang diimpikannya. Mimpi meski di dalam penjara bebatuan. Kemudian, ia merasakan kebebasan hanya dari kesempatan lain.
Sang baron mengamati benda yang digenggamnya sejak tubuh ringkih Naruto berada di pelukannya. Topeng itu akan menjadi identitas baru akan dirinya. Identitas baru yang akan menjelaskan sebuah kisah tragis akan kehidupan.
Sang Baron tidak menangis. Ia hanya menundukkan kepala sedalam mungkin. Menyembunyikan perasaan paling sulit yang berkecamuk di dadanya. Suatu kenyataan lama berubah tragis hanya dalam satu malam.
Naruto. Naruto. Hanya Naruto.
Jika dengan cara ini, ia akan dapat kembali menemui anak cengeng itu, maka ia akan melakukannya.
Uchiha Sasuke mengenakan topeng sang Knight. Dan, berharap ia akan mewujudkan mimpi-mimpi lain dari anak kecil ringkih itu tanpa satu pun yang tahu.
.
.
.
La Fin
.
.
.
Dictionary :
Au voleur = Pencuri!
Je suis libre = Aku bebas!
Tir = Tembak !
Quel est ce, Monsieur? = Apa itu, Tuan?
Votre terrede Liberté = Tanah kebebasan kalian.
A/N:
;A;
Pertama-tama, saya ingin berkata... Gyeeeeeee, akhirnya selesai! Meski saya merasa rada aneh dengan endingnya. ;A; Maafkan daku, Nad. (ngelap ingus)
Sepanjang perjalanan kisah di fic ini, sama sekali gak ada romens ya? Wkwk. Jelas. Genre-nya juga gak tentang itu kok. Hihe. /plaks. Endingnya pun sama sekali gantung. (nguyel-nguyel tanah).
Well, di sini saya banyak terinspirasi dari film V for Vendetta. Film yang menurut saya sangat oke mengenai pahlawan yang meruntuhkan zaman tirani di masa depan. Walau, hingga akhir hayat pun, wajahnya gak ketahuan sama sekali. T_T Dan... saya adore topengnya V! Kyaaan! Dan, deskrip topeng yang dipakai sama Naruto mirip seperti topengnya V. :3
Menurut saya, fic ini sangat banyak kesalahan. Constructive critiscm dan comments sangat diperlukan guna mengetahui layak tidak layaknya fic ini untuk ada. Haha.
Oke. Sekian dulu dari saya. Jika ada kesalahan, mohon dimaafkan.
Thanks for reading, review, click, and visit. Ciao!
