A/N. Maafkan saya karena molor publish fanfict ini (_ _). Saya berulang kali merefisi ulang jalan ceritanya sih… Tapi, semoga yang di publish ini disukai. Terima kasih buat para readers yang berkenan membaca dan meninggalkan review. Saya tunggu lagi reviewnya… Errr, untuk chapter dua ini saya saja kaget bisa bikin sampai 6300 word. Apa? (O A O) ternyata sepanjang ini…. Sekali lagi, maaf kalau ada TYPO dan EYD yang salah. Tolong beritahu sayaaaaa~

.

.

+= Until 2 Years=+

One Piece © Eiichiro Oda

Until 2 Years © Arale L. Ryuuzaki

Pair: Zoro x Sanji (Slight Ace x Luffy)

Genre: Hurt/Comfort/Romance

Rated: T

Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…

.

Part 2:

WTH!

.

.

Lalu? Perasaan apa ini sebenarnya?

Kalimat itu berputar-putar di kepalaku sejak Ace bertanya sekembalinya kami dari atap gedung sekolah tadi siang.

"Taichou, sampai kapan anda akan mengayak? Tepungnya sudah terayak semuanya," kalimat dari salah seorang anggota klub berambut pink panjang yang terlihat sedang mengunyah permen karet menyadarkanku dari lamunan.

"Ah, ahahaha. Terimakasih, Bonney-chan. Maaf aku tadi melamun," aku segera meletakkan ayakan dan mulai memindahkan semangkuk tepung yang telah ter-ayak itu ke tepi meja dan mengambil adonan setengah jadi yang kuletakkan di rak bawah meja.

"Apa kau ada masalah, Sanji-taichou?" tanya gadis manis berambut lurus sebahu dengan mata biru kelam dan rambut Jade-nya yang melambai pelan tertiup angin.

Aku hanya tersenyum dan terpaku pada warna rambut anggota klubku yang masih duduk di bangku kelas satu itu.

"Kau mewarnai rambutmu, Porche-chan?" tanyaku sambil membelai rambut gadis polos yang kini tersenyum lebar itu.

"Ah, ini?" gadis itu meraih rambutnya. "Iya. Bagus kan? Terlihat seperti rambut Zoro-kun," ucapnya yang dengan sukses membuat emosiku kembali naik.

"Tapi, kurasa kau lebih cocok dengan warna rambutmu yang dulu, Porche-chan," ucapku sambil tetap tersenyum dan berusaha menutupi amarahku yang mulai terasa hingga ke ubun-ubun.

"Begitukah?" Porche terlihat memperhatikan penampilannya melalui pantulan dirinya dari lemari kaca tempat menyimpan peralatan masak. "Kalau begitu akan kuminta Bon-chan-senpai mengecat rambutku ulang," ucapnya seraya tersenyum manis padaku.

Aku tersenyum dan melanjutkan pekerjaanku.

"Kali ini Taichou akan membuat apa?" Jewelry Bonney, gadis manis pemakan segala seperti halnya Ace terlihat menarik kursi dan memosisikan dirinya duduk di tepi meja panjang yang kugunakan untuk membuat adonan. Jemari lentiknya terlihat meraih sebuah strawberry yang menghiasi cake yang baru selesai dikerjakan Porche yang kini siap memprotes.

"Ah, Bonney-senpai, cake itu mau kuberikan pada Zoro-kun saat makan siang nanti. Jangan dimakan donk," rengek Porche.

Darahku berdesir dan langsung melirik tajam Porche yang sedang menambahan kembali beberapa strawberry yang hilang akibat di culik Bonney.

"Cih, kau pelit sekali sih! Aku kan hanya minta sedikit," rutuknya. "Lho? Taichou? Ada apa? Kenapa kau mendadak pucat?" tanya Bonney saat melihat parasku yang mendadak pucat pasi sambil menatap cake dan Porche yang sedang memperbaikinya.

Aku mengacuhkan pertanyaan Bonney, "Porche-chan, kau menyukai Marimo-ah maksudku, kau menyukai Zoro dari kelas 1-3, ya?" ucapku dengan intonasi yang sedikit aneh.

Porche langsung berbalik menatapku kaget karena pertanyaanku. Terlihat semburat kemerahan dipipinya. Tangannya mulai menggaruk pipinya yang tak gatal dan mulai tertawa rikih.

"Iya, Taichou. Aku berencana mengutarakan perasaanku saat istirahat siang nanti," ucapnya terbata dengan mata yang mulai melirik dengan ekor matanya.

"O-oh, begitukah? Aku turut senang mendengarnya, semoga berhasil," ucapku.

"Arigatou, Taichou!" ucapnya sambil memeluk langanku dengan kegembiraan terpancar di parasnya yang lugu.

Bonney yang dari tadi hanya diam mulai angkat bicara, "Kalau kau sukses, jangan lupa traktirannya lho?" celetuknya sambil menopangkan dagunya diatas lengannya.

"Tenang saja," Porche mengacungkan jempolnya.

Aku berusaha kembali focus pada adonanku yang sudah setengah jadi.

"Bonney-chan, bisa tolong matikan kompor yang sedang memanaskan hot plate tanah liat itu?" pintaku pada Bonney yang langsung melangkah mematikan kompor yang diatasnya terletak hot plate besar cairan yang berisi kuah.

Ketika Bonney membuka tutupnya dengan menggunakan kain, terkuarlah bau lezat dari kuah yang baru saja kupanaskan.

"Hoa, Taichou mau membuat ramen rupanya," senyumnya merekah sambil membaui aroma sepanci kuah ramenku yang juga berisi potongan-potongan daging.

"Lebih tepatnya, Sukiyaki Ramen," ucapku sambil membentangkan adonan kenyal yang ada di kedua tanganku.

Kedua gadis itu terdiam seketika ketika aku mulai menarik dan menghempaskan adonan mie yang mulai berbentuk itu. Tarik-lipat-tarik-lipat.

Ace pernah berkata padaku, "Kau tahu, Sanji. Teknik memasakmu itu membuat setiap orang terpukau dan terkesima lho?"

Mungkin kata-kata Ace ada benarnya juga. Buktinya kini dua gadis anggota klub memasakku ini terpaku melihatku yang hanya membuat mie. Padahal teknik ayahku jauh lebih indah jika dengan teknik koki yang masih belum matang sepertiku. Akupun sebenarnya belum bisa menyandang nama Koki walaupun aku kini telah menjadi salah satu Chef inti di Baratie, Restoran keluargaku pimpinan Zeff, ayahku.

"Sanji senpai!" teriak sosok manis dari jendela ruang klub yang menghadap ke lapangan sekolah.

"Yoo, Koki," panggil Ace yang menyusul Luffy.

"Makanannya sudah masak belum, Senpai?" kulihat Luffy melompat-lompat di balik jendela dengan pandangan penuh harap.

Aku hanya bisa tertawa melihat sikap junior satu itu. Acepun hanya bisa mengacak-acak rambut raven Luffy dan memperingatkannya.

"Masuk saja, sebentar lagi selesai," ajakku pada mereka yang langsung bersemangat dan bersiap melompat masuk melalui jendela.

"Gyaaa! Barbar!" teriak Porche yang dilanjutkan dorongan dari Bonney hingga mereka berdua terjatuh dengan posisi saling menghipit.

Aku yang sedang merebus adonan mie langsung berteriak, "Hei! Kalian masuk lewat pintu donk. Kebiasaan barbar seperti itu tidak diterima di dapurku yang suci ini!"

"Maaf!" mereka berdua berteriak dari balik jendela dan bergegas berlari memasuki ruang klub dari pintu masuk.

Adonan mie yang sudah matang langsung masukkan ke dalam kuali tanah liat sambil kembali memanaskannya di atas kompor kecil yang baru kupindahkan keatas meja panjang tempatku membuat adonan tadi.

Brak!

Pintu ruangan klub terbuka sedikit kasar dan memperlihatkan dua sosok pemuda raven yang terengah-engah karena berlari memutari gedung hanya untuk masuk lewat pintu.

Keduanya langsung berjaln cepat kearahku sambil menengadahkan kedua tangan meminta jatah makanan sambil tersenyum lebar.

"Ambil mangkuk di rak itu," tunjukku pada rak kaca berisi set peralatan makan.

Ace dan Luffy segera melangkah bersemangat kearah yang kutunjuk.

"Aku juga," Bonney dengan semangat segera menyusul Sanji dan Lufy.

"Aku juga mau," Porche juga berlari membuntuti.

Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berampat yang sudah seperti pengungsi yang tak makan seminggu.

Mereka langsung menyendokkan sendiri Sukiyaki-ramen yang kupanaskan di dalam hot plate tanah liat yang isinya mulai menggelegak.

"Ittadakimasu," ucap mereka serentak.

Aku ikut ambil bagian dan mengambil posisi duduk di hadapan Ace dan diapit Luffy di samping kiriku dan Porche di sebelah kananku.

"Humm, seperti biasanya, Taichou. Masakanmu selalu enak," histeris Porche sambil memegang pipinya yang berisi mie kenyal hasil karyaku.

"Betul! Seperti kata, Ace! Masakan Sanji-senpai lebih enak daripada masakan restoran!" Luffy menimpali dengan penuh semangat.

Aku tersanjung dengan pujian yang dilontarkan rekan-rekanku ini. Apa lagi walau Bonney dan Ace tak mengeluarkan pujian, aku sudah cukup senang melihat mereka makan dengan lahap dan dengan penuh semangat pula untuk menambah porsi.

Hatiku yang masih berbunga-bunga ini mendadak kembali keruh saat seseorang mengacaukannya.

"Ah, Zoro!" Luffy melambaikan tangannya cepat pada sosok makhluk berkepala marimo yang melewati jendela ruang klub dari halaman luar.

"Ah, Zoro-kun," Porche ikut melambaikan tangan denga rona merah sudah mewarnai kedua pipinya.

"Ayo ikut bergabung. Makanannya masih banyak kok," tawar Luffy pada sosok dingin yang kini menatap Luffy dan diriku bergantian.

"Terima kasih. Tapi sepertinya senpai yang disana takkan mengizinkanku," ucapnya dan berlalu dari pandangan kami setelah menunduk singkat pada Ace dan Bonney.

Switch!

Aku mulai naik darah!

Tanganku terkepal erat, di pelipisku mulai terlihat tonjolan memanjang yang berdenyut karena pembuluh darahku yang menegang akibat luapan emosi.

Ugh! Anak itu! Benar-benar menyebalkan!

Gah! Rasanya ingin sekali aku menghadiahi tendangan mautku ke wajah sombongnya itu!

"Tahan Sanji! Kau jangan cari masalah dengan bocah itu, kau akan dimusuhi para gadis di sekolah ini dan dicap sebagai lelaki barbar."

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri dari emosi yang siap meledak itu dan segera beranjak dari ruangan klub.

"Kau mau kemana, Taichou?" tanya Bonney padaku yang melangkah keluar ruangan.

Aku hanya tersenyum dan menunjukkan sekotak rokok menthol di genggamanku dan melangkah melalui lorong gedung menuju tempat favoritku, atap sekolah.

.

~Arale66~

.

Seperti biasa, atap pintu darurat menjadi jajahanku. Asap tipis yang kuhembuskan melingkar perlahan di sekitar wajahku yang mendongak menatap langit biru. Tenang, yang kurasahan hanya hembusan angin yang menerpa wajahku dan melambaikan perlahan helaian rambut pirangku. Mataku terpejam sesaat kemudian sambil menghela nafas panjang.

"Ada apa denganku?" tanyaku pada diri sendiri.

Mungkin selama ini isi kepalaku hanya mengedepanan dua hal, wanita dan memasak. Ya, aku begitu menyukai wanita dan keindahan yang dipancarkan oleh tubuh wanita. Tubuh mereka yang indah, kulit lembut yang terawat, wangi parfume lembut yang selalu tercium dari tubuh indah mereka. Berbeda dengan tubuh lelaki yang berkeringat, bau, keras, dan berbulu.

Sedangkan memasak adalah bagian dari hidupku. Aku tak bisa mambayangkan kalau sehari saja aku tak memasuki dapur atau minimal tidak memegang pisau. Dulu pernah sekali aku menderita demam tinggi yang membuatku tak bisa turun ke dapur membantu pekerjaan di restoran ayahku. Obat dari dokter yang kuterima bukannya membuatku lekas sembuh tapi malah memperparah keadaanku. Dihari ketiga pembaringanku karena sakit, aku muak dan memutuskan untuk pergi ke dapur rumah dan memasak sesuatu. Kakiku kupaksakan melangkah menuruni tangga dari kamarku yang terletak di lantai tiga Restoran Baratie menuju lantai dua tempat dimana dapur kediaman kami berada. Dengan langkah terseok dan waktu yang terbuang cukup lama, akhirnya tubuhku sampai di tempat tujuan dengan lecet di beberapa tempat akibat berulang kali jatuh sebelum mencapai lokasi dapur. Tapi, ajaibnya sesampainya di dapur, tenagaku langsung melimpah dan sembuh seketika. Sejak hari itu, kusimpulkan penyakitku akibat ketagihan memasak.

Lalu? Apa yang terjadi pada diriku belakangan ini? Isi kepalaku kini belakangan ini hanya menonjolkan satu hal. Bocah marimo itu!

Gara-gara para gadis disekitarku menyebutkan namanya disetiap obrolan, mengelu-elukan dirinya, ketampanannya, kepandaiannya berkendo, betapa cool-nya dirinya. Argh! Menyebalkan sekali! Aku benci dia! Aku benci sikapnya yang sombong itu! Aku benci dirinya yang tak pernah tersenyum padaku! Aku benci padanya yang tak mengakui hasil masakanku! Aku benci tatapan matanya yang selalu membuat jantungku memompa darah lebih cepat daripada biasanya. Aku benci dirinya yang membuat kepalaku panas akibat menahan emosi. Aku benci dirinya yang selalu membuatku tersenyum paksa untuk menutupi rasa benciku setiap namanya diperdengarkan. Aku benci dia! Aku benar-benar membencinya!

"ARGH! DASAR MARIMO BRENGSEK!" teriakan kerasku membahana ke sekeliling atap sekolah. Terlihat burung-burung kecil yang bertengger di dahan pepohonan yang tertanam di sekitar sekolahku berterbangan ke udara akibat kaget mendengar teriakanku.

Aku benar-benar harus ke psikiater sekarang! Aku tak mau lagi bocah marimo itu memenuhi kepalaku dan mengganggu kinerja otakku seperti sekarang! Oh, Tuhan, tolonglah hambamu ini.

.

~Arale66~

.

Gaak! Gaak! Gaak!

Suara teriakan parau para gagak memenuhi langit sore yang kini berwarna darah di bagian barat. Mentari yang mulai kembali keperaduanya menandakan malam akan menghampiri hari.

Malam?

"Gheeee!" teriakku kaget ketika menyadari bahwa aku tertidur hingga sesore ini.

Kupandangi arloji yang melingkar di pergelangan tangan kananku dan menemukan jarum jam sudah menunjukan pukul 6 sore.

Aku bersiap melompat turun dari atap pintu darurat. Tapi sepertinya nasib sial belum meninggalkanku untuk hari ini. Sesaat setelah kakiku lepas landas dari pijakan, aku tiba-tiba melihat kaki yang menjuntai tepat di bawahku. Gawat! Ternyata di bawahku ada orang, dan—

BRUK!

"Ugh!" aku dan sosok yang kutindih meringis kesakitan.

Kuusap kepalaku yang sakit akibat terbentur tulang dada sosok itu, "Gomen, aku tak melihat ada orang dibawah," ucapku.

"Hn," erangnya.

Oh Tuhan, berapa terkejutnya diriku saat kuangkat kepalaku dan mengetahui siapa sosok yang kutindih. Wajah kami hanya terpaut beberapa centi saja. Mataku kembali bertatapan dengan mata kelamnya yang tajam. Tubuku merasakan kehangatannya. Hidungku samar dapat mencium aroma laut dari tubuhnya. Kurasakan sentuhan di pinggang rampingku dan terlonjak seketika ketika melihat sebelah tangannya sudah melingkari pinggangku. Langsung kutarik cepat tanganku yang tadinya berpegangan pada pundaknya untuk menjaga keseimbangan. Kujauhkan tubuhku secepat yang kubisa dari sosok itu. Rasa bersalah karena telah menimpanya langsung berganti dengan, rasa jijik?

"Kau!" geramku tertahan sambil menatapnya benci.

Bocah Marimo itu hanya melihatku datar. Lagi-lagi isi pikirannya tak bisa kutebak. Selama beberapa saat kami hanya saling melempar pandang dan tak mengucapkan sepatah katapun kecuali rutukan yang keluar dari mulutku, menyesali ucapan maaf yang kutujukan pada bocah kepala rumput itu.

Tubuhku reflek kembali mundur selangkah ketika kulihat sosok itu berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu. Mata kelamnya kembali menatapku.

"Bisakah kau tidak bersikap seperti itu padaku, Senpai? Kau melihatku seolah-olah aku seonggok kotoran kuda,"

"Bukannya kau yang menganggapku begitu?" berangku.

Wajahnya menatapku keheranan. "Memangnya kapan aku berkata begitu?"

"Hah! Tatapanmu yang mengatakannya, Marimo!" bentakku.

"Aku tak pernah berfikiran begitu!" sepertinya emosinya mulai tersulut.

"Iya! Kau pasti berfikir seperti itu!" teriakku tak mau kalah.

"Tidak! Tidak pernah!"

"Iya!"

"Tidak!"

"Iya!"

"Tidak!"

CKLEK!

Mata kami langsung menoleh pada pintu darurat yang menjadi sumber suara.

"Gawat!" aku langsung berlari menuju pintu dan memutar kenopnya dan tak terbuka sama sekali.

"FOXY! FOXY-SAN! BUKA PINTUNYA! KAMI TERKURUNG DISINI!" teriakku sambil menggedor-gedor pintu darurat.

"ARGH! SIALAN! PASTI PENJAGA SEKOLAH MUKA KUDA ITU MABUK LAGI!" aku menendang keras pintu yang terbuat dari kayu tebal itu.

Mataku kembali menatap pemuda yang menjadi juniorku itu. "INI SALAHMU! KITA JADI TERKURUNG DISINI SEKARANG!" aku mulai menyalahkannya.

"LHO? KENAPA KAU MALAH MENYALAHKANKU!" protesnya keras.

Aku mengacuhkan protesnya, "ARGH! AKU BENAR-BENAR SIAL HARI INI! KENAPA AKU HARUS TERKURUNG DIATAP SEKOLAH DENGAN BOCAH MARIMO INI! OH TUHAN, AKU AKAN TERIMA KALAU YANG TERKURUNG BERSAMAKU ADALAH SEORANG GADIS CANTIK ATAU BAHKAN KUREHA SENSEI SEKALIPUN! TAPI KENAPA HARUS DIA!" teriakku depresi sambil terpuruk di lantai.

"Ah! Ponsel!" aku langsung merogoh saku celanaku dan meraih ponselku.

"Ah! Tidak mungkin! Baterainya habis! Kenapa disaat-saat seperti ini!" aku mulai kembali histeris.

Aku langsung berbalik dan melangkah, nyaris berlari mendekati si Marimo, "Mana ponselmu! Keluarkan!" teriakku sambil mengulurkan tangan.

"Di laci kelasku," jawabnya acuh.

"Argh! SIAL!" teriakku.

Saat aku kembali merutuki dan menyesali nasibku, bocah Marimo itu melangkah ke tepi atap dan melompati kawat pembatas.

"Hei-hei-hei! Mau apa kau? Kalau kau mau bunuh diri, nanti saja setelah kau bantu aku masuk ke dalam gedung!" teriakku panik dengan aksinya.

"Bodoh! Aku sedang mencari jalan masuk ke dalam gedung tahu!" protesnya sambil memandang kebawah.

"Apa!" amarahku tersulut akibat kata-katanya tadi.

"Sudahlah, sebaiknya kau tunda protesmu padaku sampai kita keluar dari masalah ini. Ah, ada!" si kepala ganggang itu terlihat melongokan kepalanya ke arah bawah.

Aku segera menyusulnya melompati pagar kawat pembatas dan melihat apa yang ditunjuknya.

"Kau lihat jendela itu?" tanyanya.

"Ya? Itu jendela lokal kelas 3-3," ucapku sambil tetap memperhatikan apa maksudnya menunjuk jendela itu.

"Kau lihat, jendelanya sedikit terbuka, artinya kita bisa masuk lewat sana," ucap bocah Marimo itu dan berdiri sambil membuka kancing seragamnya.

"Eh! Yang benar saja! Pakai apa?" teriakku histeris.

"Buka bajumu!" kalimat pendek yang diucapkannya membuatku terserang demam di akhir musim panas.

Apa lagi dengan kondisi saat ini. Pemuda juniorku itu memegang seragam sekolahnya di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya terulur padaku. Tubuhnya yang terbetuk dengan sempurna diterpa cahaya kemerahan mentari sore yang lembut membuatnya tampak semakin rupawan. Bekas luka lama yang memanjang dari pundak kiri hingga pinggang kanannya tampak membuatnya bertambah jantan. Matanya yang menatap lurus padaku membuat jantungku kembali berdentum seakan festival musim panas yang baru saja berlalu dua minggu yang lalu kembali diadakan dengan meriah.

"GHE! YANG BENAR SAJA!" teriakku sambil mundur beberapa langkah dengan muka merona. Tanpa kusadari kakiku tak mantap menjejakkan langkah di tepi atap yang berjarak sempit untuk berdiri hingga tubuhku oleng.

"Awas!" dengan cepat tangan kekar itu meraih lenganku dan menarikku ke dalam dekapannya.

Oh Tuhan, mukaku semakin panas! Ada apa dengan tubuhku yang kini semakin tak terkontrol ini.

Marimo rupawan itu menghela nafas panjang dan berkata, "Kau jangan bertindak bodoh seperti tadi, Senpai. Kalau kau ingin mati muda, nanti saja setelah kita keluar dari masalah ini."

Dengan cepat aku berusaha mendorong tubuh yang masih mendekapku erat itu.

"Ah, maaf," ucapnya sambil melepaskan pelukannya.

"Lalu apa rencanamu?" tanyaku sambil menatap wajahnya setelah mati-matian memperbaiki raut mukaku yang panas. Semoga saja cahaya mentari sore bisa menyamarkan rona mukaku.

"Kita coba ikat kedua seragam kita dan menjadikannya pengganti tali untuk turun dan masuk ke jendela di bawah.

Aku terdiam dan memperhatikan jarak antara tempat kami berada dengan jendela di bawah.

"Kurasa panjang kemeja kita yang diikatkan tetap takkan sampai kebawah," analisisku setelah memperkirakan panjang jika lengan kemeja kami saling diikatkan dan diulurkan kebawah. Walaupun lengan kemeja kami panjang, tetap saja panjangnya tidak cukup.

"Yah, paling tidak kita masih bisa mencapai tonjolan di bagian atas jendela itu," tunjuknya pada semen yang menonjol keluar di bagian atas kusen jendela kelas.

Kupikir kalau hanya sampai ke sana sih sepertinya masih bisa kami raih.

"Kalau bisa lancar sampai sana, jadi lebih mudah untuk kita masuk lewat jendela itu."

"Hm. Boleh dicoba," akhirnya kubuka seragamku dan menyerahkan ke tangannya.

Dengan sigap bocah itu mengikat erat lengan baju kami dan mengaitkannya ke salah satu lubang pada jaring pagar kawat.

"Sip! Kau duluan, Senpai!" tawarnya padaku yang langsung melotot.

"Tidak! Aku belum yakin ini aman! Kau turun terlebih dahulu! Kalau kau bisa selamat sampai di bawah, baru aku percaya."

Bocah Marimo itu hanya mengangkat alisnya, "Baiklah kalau itu maumu," dan bersiap turun.

Perlahan tapi pasti tubuhnya turun merayap di dinding seperti seorang mata-mata terlatih. Tangannya yang berpegangan erat pada kain kemeja kami yang terulur, serta kakinya yang stabil menepel pada dinding sekolah dan perlahan turun. Yah, sepertinya kemampuan kendonya menjadikan keseimbangannya terlatih dengan baik. Tak lama berselang, kakinya sudah memijak tonjolan dinding dan dengan mudahnya tangannya meraih daun jendela, menggesernya terbuka lalu melompat masuk.

"Hoi, Senpai! Sekarang kau bisa turun!" teriakannya dari bawah membuatku menelan ludah.

Jujur saja, soal olah badan rasanya aku tak kalah dari bocah rumput itu. Tapi, kalau yang berhubungan dengan ketinggian lain ceritanya. Dengan tangan yang sedikit bergetar akibat grogi, kuturunkan tubuhku perlahan sedikit demi sedikit. Kucengkram erat kain yang terjulur kebawah itu sambil berharap-harap cemas. Oh Tuhan, masih jauhkah lagi? Mataku melirik ke bawah mencari tonjolan pada dinding untuk tempatku berpijak nantinya. Sayangnya jaraknya masih sedikit jauh. Berapa lama lagi aku harus bergelantungan seperti ini. Kenapa sepertinya waktu mengalir begitu lambat.

BRET!

"Eh, bunyi apa itu?" celetukku.

"Apa? Aku tak dengar?" teriak si Marimo yang kepalanya melongok ke luar jendela.

BRET! BREEERREET!

Jangan bilang kalau kainnya robek!

"GYAAA!" tubuhku turun dengan cepat kebawah, tanganku tak sempat meraih tonjolan di bagian atas kusen jendela dan terus meluncur turun melewati jendela tanpa sempat meraihnya.

Tamatlah riwayatku kali ini.

GREP!

Sepertinya belum.

"Ugh! Aku sudah memegangmu!" kurasakan tangannya menggenggam erat lenganku dan menarik tubuhku keatas hingga aku bisa menjangkau ambang jendela. Tapi karena tenagaku yang sudah tak sanggup lagi menopang tubuhku sendiri, akhirnya pemuda itu membantu hingga kami terjatuh kedalam ruangan kelas.

BRAK!

Punggungnya terbentur kaki meja saat kami terjatuh.

"Ugh!" dari erangannya aku bisa tahu kalau dia kesakitan tapi tak kuacuhkan karena kakikupun terasa sakit karena tebentur sisi kusen jendela saat melompat masuk.

Aku mengerang sambil perlahan membuka kelopak mataku. Jantungku kembali menciptakan dentuman tak berturan ketika didepan mataku terekspos dengan jelas dada bidangnya yang padat dan terbentuk sempurna. Indra perabaku dapat merasakan tonjolan kasar akibat bekas luka yang memanjang di bagian dadanya tersentuh oleh ujung jemariku yang sesitif. Dapat kurasaan pula sebuah lengan kekar melingkar di bagian belakang kepalaku berusaha melindungi dari benturan sedangkan lengan satunya lagi melingkar di pinggang rampingku. Posisi kami begitu menempel sekarang.

"Kau taka apa-apa, Senpai?" tanyanya sambil berusaha duduk setelah melepaskan pelukannya dariku.

Aku hanya mengangguk dan mencoba menatap matanya. Mencoba menciptakan kontak dengan mata tajamnya yang mulai kusukai hingga aku tersadar bahwa di bagian sudut meja yang tadi ditabrak punggungnya terdapat bercak luka.

Dengan cepat aku membalikkan punggung terbuka miliknya dan menemukan luka menganga yang terpampang di bagian punggungnya.

"Kau terluka!"

"Biarkan saja. Aku sudah terbiasa dengan luka kecil seperti ini!"

"…" aku hanya bisa terdiam mendengar penuturannya.

"Kau baik-baik saja, Senpai? Ada yang terluka?" tanyanya lagi padaku dan mengacuhkan luka di tubuhnya.

Kuacuhkan pertanyaannya dan langsung menarik lengannya ke luar kelas.

"He-hei!"

"Diam, dan ikut saja!" perintahku dalam dan tegas pada sosoknya yang memprotes tindakanku.

.

.

"Agh! Itte!"

"Diam dulu!"

"Aduh!"

"Cerewat!"

"Aw!"

PLAK!

"Kau bisa tenang sedikit, tidak! Lukamu ini lumayan dalam, Marimo! Bisa infeksi kalau tak segera diobati!" aku menghantam kepalanya dengan tinjuku dan membentaknya yang menggelinjang kesakitan saat aku mulai mencoba mengobati lukanya yang ternyata lumayan dalam itu.

"Tapi, apa kau tak bisa mengobatinya lebih pelan sedikit! Aw!" protesnya diiringi erangan saat kapas berlumur alcohol menyentuh luka dipunggungnya.

"Aku mengoleskannya sudah dengan sangat pelan, Baka Marimo!" kataku pada pemuda tegap yang duduk membelakangiku itu.

Setelah mengoleskan alcohol untuk mensterilkan lukanya dari kuman, aku langsung menempelkan kapas yang udah kulumuri obat luka dan melapisinya dengan kain kasa sebelum kututup dengan plester luka berukuran besar yang kutemukan di dasar lemari obat klinik sekolah setelah kuobrak-abrik selama kurang lebih lima menit.

"Oke, selesai! Tapi, kau tetap harus memeriksakan lukamu ke rumah sakit untuk jaga-jaga kalau lukamu ternyata perlu dijahit. Soalnya luka tadi sedikit dalam," ucapku sambil mencuci tangan di wastafel yang terletak di sudut ruang klinik.

"Sudah kubilang biarkan saja, tapi kau malah repot-repot mengobatinya. Sudahlah, begini saja sudah cukup. Aku tak mau buang-buang uang demi mengobati luka kecil seperti ini," ucap pemuda berkepala ganggang laut itu sambil mencoba meraba punggungnya yang baru saja kuobati.

Aku melangkah mendekatinya dan mendekati wajahnya dengan tatapan tajam mengancam.

"PE-RIK-SA-KAN LU-KA-MU!" ulangku dengan penuh penekanan.

Pemuda juniorku itu terkaget, "Ba-baiklah," pada akhirnya dia mengiyakan perintahku.

"Bagus!" ucapku sambil tersenyum dan berkacak pinggang di hadapannya.

Kami terdiam beberapa saat akibat kehabisan bahan pembicaraan dan entah kenapa Marimo di hadapanku itu masih menatapku tanpa henti. Akupun mulai salah tingkah karena tatapan matanya yang seolah mampu membaca isi kepalaku.

"A-apa?" tanyaku dengan terbata.

Dia hanya tersenyum sinis, "Tidak, tidak ada apa-apa,"

"La-lalu kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Rasanya sudah lama aku tak bertemu pandang denganmu dalam jarak sedekat ini,"

Ucapannya membuatku blushing seketika. Apa maksud perkataannya tadi?

"A-apa maksudmu?"

"Kalau tak salah, terakhir kalinya kita saling bertatapan dalam jarak dekat sekitar lima bulan lalu, saat penerimaan murid baru. Setelahnya, kau seolah menghindari tatapanku dan menghindari keberadaanku."

"O-oh ya? Itu Cuma perasaanmu," ucapku sambil merogoh saku seragamku dan meraih sekotak rokok menthol.

"Begitukah?"

Kuambil sebatang rokok dan kusematkan di antara bibirku dan menyalakan ujungnya dengan geratan yang kuselipkan di dalam bungkus rokok yang isinya tinggal kurang dari setengah itu.

"Satu pertanyaan lagi,"

Aku melangkah mendekati jendela klinik dan membukanya agar udara mengalir dan asap rokokku tak memenuhi ruangan.

"Apa?" tanyaku santai sambil menopangkan kedua lenganku pada kusen jendela dan menatap mentari yang sesaat lagi benar-benar terbenam sepenuhnya dan menyisakan kegelapan.

"Kenapa kau tak pernah memanggil namaku? Kenapa kau hanya memanggilku sengan sebutan 'Marimo'?"

Aku menoleh padanya dan menatapnya dalam diam.

"Aku kembalikan pertanyaan itu padamu," ucapku ringan sambil melangkah melewatinya dan keluar dari ruang Klinik.

Kulangkahan kakiku menaiki tangga menuju kelas dimana kami menggunakan jendelanya sebagai pintu masuk dan mencari kemeja robek yang kugunakan sebagai pengganti tali pemanjat. Karena ruang klinik terletak di lantai dua, aku harus berusaha menyeret kaki kananku yang bertambah nyeri sambil berusaha menyembunyikan rasa sakit melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga. Bocah marimo itupun mengikuti langkahku tanpa banyak kata.

Aku mengeluh panjang saat menemukan ternyata yang robek adalah lengan bajuku yang kini tinggal separo dan bagian pungung yang robek akibat tersangkut sesuatu.

"Aaa~, bajuku," rutukku sambil membentangkan seragam yang tak berbentuk lagi itu. "Ini tidak adil! Kenapa seragamku jadi hancur begini sedangkan serangam si Marimo itu masih utuh!" raungku.

"Masih utuh apanya!" dia membentangkan seragamnya yang baru dipungut dari lantai dan memperlihatkan bagian ketiak kanan seragamnya yang robek.

"Tapi paling tidak kau masih bisa memakai baju itu sampai dirumah! Sedangkan aku? Masa harus pulang bertelanjang dada?" protesku.

Tiba-tiba bocah itu menarik tanganku dan membawaku keluar dari ruang kelas itu.

"Eh! Cho-chotto! Kau mau membawaku kemana!"

"Ikut saja!" perintahnya sambil tetap menarik lenganku.

Dia menarikku menuruni tangga dan berjalan menuju kelasku yang terletak di lantai dua. Kami berhenti di depan pintu lokal 2-1, kelasku.

"Ambil tasmu," perintahnya dan entah mengapa aku akhirnya hanya bisa mengangguk dan bergegas mengambil tas yang tersangkut di samping mejaku dan setengah berlari menghampirinya yang langsung meraih tanganku dan menggenggamnya sambil menarikku kembali menuju tangga dan turun ke lantai satu.

"Pakai ini," ucapnya sambil menyodorkan sepotong jaket olahraga ke tanganku sesampainya kami di lokalnya.

"Tidak!" ujarku tegas sambil memandang jaket yang ada di tangannya. "Bau keringat!"

"Apa boleh buat. Kau tahu sendiri kalau tadi siang aku ada jam olahraga," katanya sambil meletakkan jaket yang sedikit kotor itu diatas meja. "Masih lumayan daripada kau pulang ke rumahmu dengan telanjang dada begitu. Atau jangan-jangan kau lebih suka dipanggil 'Orang Mesum' saat perjalanan pulang nanti."

"Ugh!" benar juga ucapannya. Aku juga tak mau masuk angin hanya karena tidak memakai baju saat pulang dan tak mau diteriaki 'Orang mesum'. Akhirnya dengan sedikit ogah-ogahan aku meraih jaket itu dan mengenakannya.

Entah karena ukuran tubuhku yang kecil, atau marimo itu yang sengaja mengambil ukuran jaket yang satu nomor lebih besar. Tapi, intinya tubuhku seperti terbenam dalam jaketnya yang lebar. Memang rasanya pundak pemuda di hadapanku ini sedikit lebih lebar daripada pundakku yang tak selebar dan tak seberisi tubuhnya. Dia juga sedikit lebih tinggi, kakinya sedikit lebih panjang. Tapi, tak mungkin perbedaan ukuran tubuh kami sejauh ini.

Aku merutuk pelan ketika melihatnya berusaha menyembunyikan tawa dibalik kepalan tinjunya yang diposisikannya di depan wajahnya.

"Apa yang kau tertawakan?" hardikku.

"Kau terlihat manis kalau berekspresi seperti itu, Senpai."

Parasku memerah. Bukan karena malu, tapi kerena kesal akan ucapannya. Bagaimana tidak! Lelaki mana yang senang dibilang 'manis' dan itu berlaku untukku juga.

"Apa lagi dengan wajahmu yang memerah itu," lanjutnya sambil mengacak-acak rambut pirangku sambil tertawa. Ya, dia tertawa dihadapanku. Aku hanya bisa terpaku memandang senyumnya yang menawan. Senyuman khas lelaki yang lucunya dapat membuatku terpikat.

Trrr-trrr-trrr

Bunyi ponsel menginterupsi kegiatan kami dan menyadarkanku dari lamunan bodoh yang memalukan.

"Ya, Shishou?" si ganggang laut langsung merogoh laci mejanya dan mengambil sebuah ponsel lipat berwarna hijau dan menjawab panggilan yang masuk.

Aku segera membalikkan tubuhku agar pemuda marimo itu tak melihatku memukul-mukul kepalaku sendiri.

"Maaf, aku masih di sekolah. Aku segera pulang. Eh? Baiklah aku mengerti," pemuda itu memutus sambungan telepon dan langsung menyambar tasnya yang tersangkut di pinggir tepi meja.

"Aku harus segera pergi," katanya padaku yang langsung menoleh padanya yang kini terlihat terburu-buru.

"Oh, ya sudah," jawabku pendek sambil menarik kursi terdekat dan duduk diatasnya.

"Kau sendiri?"

"Aku? Aku nanti saja," kataku sambil meringis padanya.

Juniorku itu hanya memandang mataku dalam diam dan melangkah perlahan mendekatiku.

"Ka-kau mau apa?" ucapku terbata.

Sosok itu hanya diam sambil tak melepas pandangannya dariku. jarak di antara kami semakin menghilang karena dia terus melangkah merapat padaku dan membuat jantungku yang baru beristirahat kembali bertentum cepat. Lengan kekarnya perlahan meraih lutut kananku dan menopangkan sebagian berat tubuhnya disana.

"ITTE!" teriakku sambil langsung memegang pergelangan kaki kananku yang terasa luar biasa nyeri.

"Sejak kapan?" matanya masih menatap wajahku.

Aku memandang langit-langit sambil berfikir, "Aaa, sejak melompat masuk dari jendela tadi sepertinya,"

"Kenapa kau tak bilang padaku?"

Dahiku berkerut heran, "Untuk apa?"

"Berarti kau terus menahan sakit di kakimu dari tadi?"

"Tidak juga sih. Awalnya hanya sedikit nyeri, tapi sepertinya semakin sakit," kataku santai sambil memandang pergelangan kakiku yang kini membengkak dan membiru.

Tanpa membari kode terlebih dahulu padaku, bocah marimo itu langsung membopongku di punggungnya.

"Hei-hei! Kau mau apa?" teriakku panik saat berada di atas punggungnya.

"Ke rumah sakit!"

"Aku tidak mau! Turunkan aku!"

"Kalau tidak langsung diobati, kakimu akan semakin parah!" dia melangkah cepat keluar gedung sekolah kami dan menuju parkiran sepeda.

"I-iya, tapi jangan ke rumah sakit!" teriakku panik sambil menjambak-jambak rambut hijaunya.

"Argh! Iya-iya, kalau begitu kita ke rumah Chopper saja," ucapnya sambil mendudukkanku diatas jok belakang sepedanya.

"Chopper?" kumparan di kepalaku berputar cepat untuk menganalisis nama yang baru saja disebutkan Marimo di depanku yang kini mengayuh cepat sepedanya.

"Tenang saja, dia sudah berpengalaman, kok. Yah, paling tidak kemampuannya tak kalah dengan Kureha-sensei,"

"Eh?"

.

~Arale66~

.

Aku memandang sebuah rumah berdesain minimalis di hadapanku saat bocah marimo itu menghentikan laju sepedanya. Cat putih yang mendominasi warna dinding serta warna biru yang melapisi bingkai kayu kusen jendela serta pintu masuk rumah yang terdapat motif helaian kelopak Sakura. Belum lagi halaman rumahnya yang dipenuhi berbagai jenis tamanan obat. Memang bukan hal yang aneh untuk rumah seorang ahli kesehatan, tapi yang mengganggu pikiranku dari tadi adalah kain jemuran yang terlihat dari jalan depan rumah putih itu. Rasanya aku mengenal pakain wanita muda yang terjemur disana.

"Ini?" tanyaku tak jelas pada sosok yang kini kembali memopongku memasuki halaman rumah kediaman itu.

BRAK!

Terdengar suara bantingan keras dari dalam rumah disusul dengan lengkingan yang sangat kukenal.

"HOI! CHOPPER! BAWAKAN SAKE-KU, CEPAT!"

Sosok yang sedang menggendongku menghela nafas panjang.

"Lagi-lagi," ucapnya tak jelas.

"Hei-hei, Marimo. Jangan bilang kalau ini rumah Kureha-sensei," suaraku sedikit bergetar saat mengeluarkan kalimat itu dari tenggorokanku.

"Yah, begitulah,"

"TIDAK! AKU TIDAK MAU DIOBATI NENEK SIALAN ITU!" teriakku sambil berontak dan menjambak-jambak rambut belakang bocah ganggang laut yang menggendongku dipunggungnya itu.

"Maaf, kalau aku ini Nenek Sialan. Yah ini masih mendingan daripada kau, Bocah pirang dengan alis keriting!" sebuah sosok wanita tua dengan pakaian sexy terlihat berdiri di depan pintu masuk yang entah sejak kapan terbuka.

"Selamat malam, Kureha-sensei," bocah marimo itu menunduk pada sosok sangar di hadapan kami yang matanya sudah melemparkan tatapan yang mampu membuat seekor Mammoth pingsan seketika. Akupun tak sanggup menatap matanya setiap guru senior yang entah kenapa bodynya masih sintal itu mengamuk. Akhirnya, aku hanya bisa menyembunyikan kepalaku dibalik punggung lebar bocah yang masih menggendongku ini.

"Mau apa lagi kau, Bocah Roronoa? Kenapa kali ini kau membawa bocah tukang masak ini bersamamu?" ketusnya sambil berkacak pinggang dan memandang rendah kami.

"Kakinya terkilir," jawab bocah itu sambil membalas tatapan gahar guru kesehatan GL Gakuen itu. Apa sih yang ada di otaknya sampai-sampai dia sanggup menahan aura mematikan yang dipancarkan penyihir satu itu. Bocah satu ini benar-benar bodoh.

"Che! Kau pikir disini tukang pijat!" umpatnya keras.

"Tapi, setidaknya Chopper lebih bisa mengobati hal yang satu ini daripada anda, Sensei," ejek bocah marimo itu frontal.

"Gyaaaa! Oh Tuhan, sembuhkanlah kakiku ini saat ini juga sebelum aku terlibat baku hantam dengan dua makhluk aneh ini!" teriak batinku dengan keringat dingin yang mengucur deras dari setiap lubang di pori-pori kulitku.

"Che! Ya sudah!"

Eh? Apa yang terjadi?

"CHOPPER! BOCAH RORONOA INI MENCARIMU LAGI!" teriak sang wanita tua itu ke arah dalam rumah.

"Tidak perlu teriak-teriak seperti itu aku juga sudah mendengarnya, Sensei," sesosok pemuda mungil berkulit kecoklatan muncul dari dalam rumah sambil membawa baki kosong.

"Chopper," panggil bocah Marimo ini pada sosok imut itu. Sedangkan Kureha-sensei melangkah memasuki rumah mereka.

"Lho? Ada apa Zoro-kun? Kau terluka lagi?" tanyanya dengan raut cemas.

"Bukan, kali ini bukan aku, tapi dia?" ucapnya sambil menunjukku dengan dagunya.

"Lho? Sanji-senpai? Yang kau gendong itu, Sanji-senpai siswa kelas 2-1, kan?"

Aku perlahan melongokkan wajahku yang dari tadi bersembunyi di balik punggung pemuda yang menggendongku ini.

"Halo," kataku sambil meringis.

"Kakinya terkilir," pemuda itu menambahkan pada sosok mungil itu.

"Ah, ya sudah cepat bawa masuk," pemuda mungil bernama Chopper itu segera mempersilakan kami masuk dan si Marimo yang menggendongku ini langsung melangkah memasuki sebuah kamar yang terletak disebelah ruang keluarga sedangkan Chopper melangkah ke arah berlawanan.

"Hei-hei kita mau kemana? Anak itu ke sebelah sana!" kataku panik sambil menunjuk arah Chopper berjalan.

Bocah ganggang laut itu hanya diam dan tetap menggendongku memasuki kamar bernuansa putih-putih itu dan mendudukkanku dipinggir kasur king-size berlapis bedcover putih yang terletak di salah satu sudut kamar yang lumayan luas itu.

"Hei, Marimo! Buta arahmu sedang kambuh ya? Jelas-jelas anak tadi berbelok ke arah kanan, kenapa kau malah membopongku ke dalam kamar ini?" tanyaku padanya yang langsung merebahkan diri diatas kasur.

"Hmmm," hanya itu yang keluar dari mulutnya ketika dia membalikkan tubuhnya dan tidur tengkurap sambil menyelipkan kedua lengannya kebalik bantal yang terletak dibawah kepalanya.

"Biarkan saja dia, Sanji-senpai. Zoro-kun tak akan bisa diganggu kalau sudah berhadapan dengan kasur. Kesadarannya akan langsung hilang," ucap sosok mungil yang kini masuk membawa kotak P3K di tangan kirinya dan sebaskom air dingin dipelukan lengan kanannya. "Yah, sebenarnya dia biasa tidur dimana saja sih. Aku malah pernah melihatnya tertidur didekat tiang gawang saat kami mengikuti mata pelajaran olahraga. Dia sampai ditendang Smoker-sensei karena tidur di tengah pertandingan antar kelas.," lanjutnya sambil tertawa kecil.

Chopper mempehatikan dengan seksama pergelangan kakiku dan menekankan jari mungilnya di beberapa titik hingga aku mengaduh kesakitan sebelum akhirnya dia menopangkan kakiku pada sebuah kursi yang ditariknya mendekat.

"Untung kakimu hanya terkilir ringan, Senpai. Tapi, untuk dua-tiga hari ini jangan terlalu banyak beraktifitas yang membuat kakimu terforsir," sarannya sambil mulai mengompres kakiku dengan handuk yang sudah dicelupkan ke dalam baskom berisi air es.

"Kau mengenalku?" tanyaku tiba-tiba saat pemuda mungil itu saat dirinya meletakkan handuk dingin itu keatas pergelangan kakiku.

Pemuda itu hanya tersenyum. Mata ramahnya menatapku dalam diam. Jemarinya menggaruk pelan helaian rambut halusnya yang berwarna coklat tua.

"Sebenarnya aku mengenalmu dari cerita Zoro-kun," ucapnya perlahan sambil melirik sosok Zoro yang masih tertidur pulas.

"Eh?" aku terkaget mendengar pengakuan sosok dihadapanku.

"Zoro pernah bercerita padaku. Di hari pertama upacara penerimaan siswa baru, dia bertemu seorang siswa senior yang berbaik hati memberitahu lokasi aula sekolah saat dia tersesat di halaman depan sekolah. Sayangnya, gara-gara penyakit buta arahnya yang parah itu, dia malah nyasar ke deretan ruang klub dan kembali bertemu dengan senior yang sama yang terlihat sedang asyik memasak dan mengira sosoknya yang melangkah masuk ke dalam ruangan adalah orang lain,"

Kau hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku pada Chopper yang masih melanjutkan ceritanya.

"Lalu Zoro-kun bercerita kalau masakan senior itu enak sekali. Hanya dengan sekali cicip, dia sudah ketagihan ingin memakan masakannya lagi. Tapi, sayangnya gara-gara sifatnya yang dingin itu, dia jadi tak bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Apa lagi setelah memakan masakan lezat itu dia malah bertengkar dengan senior itu dan mengejeknya hanya karena senior itu menertawakannya yang buta arah,"

Aku menunduk menahan malu saat mengingat kejadian hari itu. Memang aku tertawa. Tapi bukan menertawai ke-buta arah-annya. Tapi, menertawai kebodohanku yang mengira dirinya makhluk sempurna.

"Sejak hari itu, Zoro-kun dan senior itu tak pernah bertegur sapa lagi. Setiap berpapasanpun senior itu selalu mengacuhkan keberadaan Zoro-kun."

Setelah dirasa cukup, Chopper mengangkat kain yang mengompres kakiku dan mengeringkannya. Tangannya yang mungil dengan cekatan membebatkan bandage ke pergelangan kakiku yang terkilir.

"Zoro-kun itu tipe orang yang tak bisa jujur pada dirinya sendiri. Dia merasa bersalah atas sikapnya, tapi tak berani meminta maaf. Padahal dia berani melawan orang-orang yang jauh lebih kuat dan lebih mengerikan seperti genk motor Kurohige yang merajalela belakangan ini. Tapi, mulutnya selalu kelu setiap dirinya ingin meminta maaf pada Sanji-senpai. Bukan karena harga dirinya yang terlalu tinggi. Tapi dia hanya—"

Kalimat Chopper terpotong saat melihat sosok yang tadi tertidur dibelakangku telah memperlihatkan kembali mata kelamnya yang tajam.

"Kenapa berhenti, Chopper?" tanyanya dengan tatapan tajam sambil menopangkan dagunya diatas lengannya.

"Ahahaha. Kau sudah bangun, Zoro-kun?"

"Begitulah. Lalu? Aku kenapa?"

Chopper tersenyum jahil. "Kau hanya gro—"

BUK!

Sebuah bantal terlempar tepat ke wajah imut Chopper yang kini jatuh terlentang dengan bantal menempel diwajahnya.

"DIAM KAU BOCAH PENDEK! SIAPA YANG MENGIZINKANMU BERCERITA PADANYA!" hardik Zoro pada Chopper.

Chopper hanya tertawa dan melemparkan balik bantal itu ke wajah si kepala rumput dan melanjutkan membebatkan bandage di kakiku.

"Yak, selesai," ucapnya sambil berdiri berkacak pinggang dihadapan kakiku.

"Wah, kau berbakat menjadi dokter, Chopper," ujarku.

Pemuda mungil itu hanya tertawa malu-malu, "Ah, Sanji-senpai bisa saja. Ehehe, aku baru tahap belajar kok."

"Tonny-tonny Chopper, pemuda Jepang termuda yang meraih gelar dokter diusia 14 tahun. Kau pernah dengar kan, Senpai?" Zoro kini berdiri di sebelah pemuda mungil itu dan mengacak-acak rambut cokelat kelamnya.

"Ah, aku pernah dengar! Tapi aku tak menyangka kalau anak jenius itu seorang pemuda manis yang mungil seperti ini," aku menatap Chopper dengan tatapan kagum. Sedangkan yang kutatap wajahnya semakin memerah dan salah tingkah.

"Ahahaha, Kalian terlalu memujiku," kini Chopper mulai berputar-putar tak jelas di tempatnya berdiri dengan tangan yang memegang kedua pipinya yang memerah.

Aku sweatdrop melihat tingkah pemuda mungil itu.

"Ayo kita pergi, dia akan terus seperti ini selama lima menit," Marimo pekendo itu langsung mengangkat tubuhku dengan entengnya di punggungnya.

Aku hanya bisa menatap heran pada sosok mungil yang kini masih berputar-putar sambil menari-nari itu.

.

~Arale66~

.

"Hei," panggilku pada sosok pemuda tegap yang sedang mengayuh sepeda dengan serius itu.

"…" tapi bocah marimo itu hanya diam dan terus mengayuh sepedanya.

"HOI!" panggilku lebih keras.

"…"

"MARIMOOOOO!" teriakku tepat ditelinganya.

"Hm," hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya.

"Sekarang kita mau kemana?"

"Mengantarkanmu pulang,"

"Memangnya kau tahu rumahku dimana?"

CKIT!

Rem mendadak tanpa aba-aba itu membuat tubuhku terdorong ke depan dan menabrak punggungnya.

"Ugh!"

Sosok itu menatapku dalam diam. Aku tak terlalu jelas melihat ekspresi di wajahnya karena hari sudah gelap dan penerangan jalan hanya bersumber dari lampu rumah-rumah di sepanjang jalan dan lampu jalan yang jaraknya masih 10 meter dari lokasi kami berdiri.

"Ti-dak," jawabnya pelan. Aku sedikit melihat semburat kemerahan di pipinya.

Aku tertawa pelan melihat ekspresinya yang aneh, antara malu dan kebingungan.

"Ya sudah, kau kayuh saja sepedamu mengikuti jalan ini, nanti sebelum jembatan kita belok ke kanan.

Pemuda itu hanya menganguk dan kembali mengayuh sepedanya. Tapi, sesampainya di jembatan yang kukatakan, dia bukannya berbelok ke kanan, tapi—

"Hoi! Marimo bodoh! Aku bilang ke kanan, kenapa kau malah belok ke kiri!" teriakku sambil memukul-mukul punggungnya.

"Ah, maaf!" si bodoh itu langsung memutar stang sepedanya dan berbalik menuju jalan yang baru saja kami lewati tadi.

"Dasar bocah buta arah! Kesana!" tunjukku pada sebuah jalan, tapi dia malah membelokkan arah sepedanya menuju jembatan.

"Argh! Berhenti dulu!" perintahku.

Pemuda berbadan tegap itu langsung menghentikan sepedanya dan menggaruk-daruk kepala hijaunya dengan wajah bingung.

Aku menghela nafas panjang. Depresiku setelah melihat warna kepalanya bertambah setelah ingat bahwa dia, si pemegang juara kendo nasional tiga tahun berturut-turut ini menderita buta arah AKUT!

"Sekarang konsentrasi! Kau lihat arah yang kutunjuk!" kataku dengan serius dan menunjuk arah sebelah kanan kami.

"Ya," jawabnya pendek sambil melihat arah tanganku yang teracung kesamping.

"Putar sepedamu ke arah yang kutunjuk, dan jalankan!"

Perlahan diputarnya stang sepeda yang kami naiki ke arah yang kutunjuk dan mengayuh sepedanya. Aku menghela nafas lega karena akhirnya pemuda itu berjalan ke arah yang seharusnya.

"Maaf merepotkan," ucapnya tak enak hati.

"Sudahlah," jawabku sembari menepuk punggungnya. "Mau apa lagi, kau kan penderita buta arah AKUT," tambahku dengan intonasi sedikit mengejek.

"Ugh," aku dapat melihat dari sadel belakang kalau bocah marimo itu memajukan bibir bawahnya dengan raut kesal.

Tawaku langsung membahana, ternyata menggodanya lumayan menyenangkan.

"Hei, Marimo. Bukannya tadi kau bilang kau harus segera pergi. Kenapa kau malah mengantarkanku ke rumah Chopper?"

Sesaat pemuda itu terdiam, tapi matanya langsung membelalak dan menghentikan laju sepedanya mendadak yang menyebabkan tubuhku kembali menghantam punggung kerasnya.

"Aaaaaaaaaaah! Aku lupa!" kepanikan langsung menghampiri pemuda ganggang laut itu. Aku hanya bisa sweatdrop melihat tingkahnya yang langsung celingak-celinguk tak tentu arah.

"Kau ini," aku hanya bisa memijat pelipisku.

"Hei senpai. Kau tau restoran bernama Bakrie tidak?" tanyanya tiba-tiba.

"Hah? Bakrie?" aku speechles seketika.

"Eh, Bakrie, Bakari, atau Bakarati. Argh, pokoknya yang seperti itulah," ucapnya tak jelas sambil memutar tubuhnya menghadapku.

Huh, yang seperti itu apanya? Dasar marimo pelupa.

"Baratie, maksudmu?" ucapku membetulkan.

"Iya, iya. Itu namanya, Baratie!"

"Mau apa kau ke sana?" tanyaku. "Jalannya masih terus, sampai di persimpangan dekat jalan raya itu," tunjukku lurus. entah mengapa aku sedikit malas mengatakan kalau restoran itu milik ayahku.

"Shishou menyuruhku kesana sepulang sekolah," katanya sambil kembali mengayuh sepedanya. "Kita mampir kesana dulu, setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang,"

"Hum," aku hanya bergumam kecil dan mengangguk.

Tak lama berserang kami akhirnya berhenti di depan sebuah restoran yang lumayan terkenal di kota ini dengan masakan ala Barat, Itali, dan Prancisnya, Baratie.

"Aku tunggu disini saja," ucapku pada si Marimo.

"Tidak apa-apa nih?" tanyanya ragu.

Aku mengangguk yakin. Yah, aku memutuskan untuk membohonginya sedikit.

"Lho, Bocchama? Baru pulang?" tiba-tiba salah seorang koki ayahku yang baru kembali entah dari mana menyapaku dengan kondisi si Marimo itu masih berdiri di dekat kami.

"Bocchama?" alisnya berkerut.

"Ah, anda pasti teman Bocchama? Terimakasih sudah mengantarkan Bocchama pulang. Permisi saya harus masuk dulu," dia langsung membungkuk hormat pada Zoro yang masih bertanya-tanya dan melangkah pergi.

"Sanji?" tiba-tiba sebuah suara berat memanggil namaku. Saat aku berbalik ke arah datangnya suara, terlihat sesosok pria paruh baya dengan topi chef tinggi yang tertempel tak tergoyahkan diatas kepalanya, kumis panjang pirangnya terjalin rapi dan dendy. Perawakannya yang keras akan terlihat bertambah sangar setelah melihat kaki kanannya yang puntung dan digantikan oleh kaki kayu bak seorang bajak laut yang telah membelah samudera dengan kapalnya yang mengalahkan para bajak laut lain. Itulah Zeff, ayahku.

"Oyaji," aku menelan ludah. Tamatlah sudah, aku memang tak bisa berbohong.

"Lho, Zoro?" tiba-tiba sesosok paman berwajah ramah dengan rambut hitam panjang yang diikat kebelakang serta kacamata bulat yang membingkai wajah teduhnya yang dihiasi senyuman terlihat dari balik punggung ayahku.

"Shishou," Marimo juniorku itu langsung membungkuk dalam pada paman dengan setelan tradisional jepang itu. "Maaf aku terlambat,"

Paman itu menghampiri kami dan langsung meraih pundak tegap Zoro yang sedikit lebih tinggi darinya itu.

"Zeff-san, ini Zoro, keponakanku yang kukatakan tadi," ucapnya pada Ayah.

Ayah melangkah menghampiriku yang masih terduduk diatas sadel penumpang sepeda milik Zoro.

"Wah-wah sepertinya anak-anak kita sudah saling mengenal, Shishou. Perkenalkan, ini Sanji, putra tunggalku," ucap ayah sambil menepuk puncak kepalaku.

Aku hanya bisa memaksakan diri tersenyum dan sedikit membungkuk.

"Selamat malam, Paman. Maaf, kakiku sedikit terkilir jadi agak susah berdiri," ucapku meminta maaf karena memperkenalkan diri sambil duduk diatas sepeda.

Paman ramah itu hanya tersenyum ramah, "Tidak apa-apa, Sanji-kun. Kalau dilihat dari situasinya, pasti keponakanku yang barbar ini yang membuat kakimu seperti itu, kan?"

"Benar sekali, Paman," ucapku sambil tersenyum.

"Hei!" marimo bodoh itu membentakku sedangkan aku hanya tersenyum mengejek sambil menjulurkan lidah.

"Nah, Zeff-san. Berarti mulai minggu besok Zoro bisa tinggal disini, kan?" mataku membelalak mendengar kalimat yang diucapkan paman ramah itu.

"Tenang saja, Sishou. Zoro bisa mulai tinggal kapan saja," lanjut ayahku.

"Eh?" hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

"Sanji-kun, paman titip Zoro, ya?" ucap paman ramah itu padaku yang masih kagok.

"Sanji, mulai minggu besok kau harus berbagi kamar dengan Zoro. Karena dia akan tinggal dirumah kita," kini ayah tersenyum padaku sambil mengacak-acak rambut pirangku.

"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH?" mataku terbelalak kaget.

.

TBC

.

A/N. Semoga ga ada typo…. (berharap karena malas ngecek sekali lagi).

Arale: Baiklah saya aka mulai membalas review daaaaa~ Zzz…Zzz…

Luffy: Gyaaaa! Arale-chan, jangan tidur!

Ace: Terlambat! kalau bocah ini sudah tidur, dia akan bangun 3 jam lagi.

Luffy: Bagaimana donk, Ace?

Ace: Kalau begitu, biar aku yang membacakan balasan surat-surat yang masuk. Kau boleh istirahat dulu, Luffy.

Luffy: Makasih, Ace (mengecup pipi Ace).

Ace: Lu-luffy, ini di depan kamera lho…

Luffy: Ehehe… (melangkah pergi)

Ace: Ehem! Baiklah, kita mulai saja!

Pertama, dari Annakaz yang bilang akan menghantui kalau fict ini gak lanjut. Dan akhirnya sang author pusing ingin dikemanakan fict ini kalau ternyata chapter dua-nya gak seru.

Lalu dari Dark Leg Sanji yang mempertanyakan usia Zoro yang lebih muda dari Sanji. Sebenarnya, karena Zoro lahir tanggal 11 November sedangkan Sanji tanggal 2 Maret (di tahun yang sama), author awalnya ingin membuat kalau Zoro itu Seme yang lebih muda dari sang Uke. Tapi, kayanya jalan pikiran sang Author agak berubah belakangan ini. Kita lihat saja nanti.

Terus, dari Eneg Troll yang menghajar Author dengan pembetulan EYD. Author berterima kasih banget, soalnya dia suka lupa dan males nge-cek balik EYD yang ada. Terima kasih dan ditunggu kritik dan sarannya lagi.

Kemudian dari artist kita, Honeyf yang mewanti-wanti OOC. Harap maaf karena kami rada OOC karena Author-chan juga susah dan rada plin-plan mengembangkan karakter akibat selalu melibatkan mood saat mengetik. (_ _)

Lho? Sanji kurang Tsundere? Kenapa Kanata D. Renkinjutsushi bilang gitu? Apa Sanji kurang histeris? Kalau di chapter ini sudah histeris blom?

Cendi Hoseki-san apakah perasaan cintamu pada pair ini tetap bertahan setelah membaca chapter dua ini?

Permintaan maaf dari Author saya sampaikan pada Sanjiro Key yang sedang kehausan pair ini karena Author telat update fict ini. *tending Author*

Terakhir dari Michon yang mengatakakan kalau si Marimo tidak bereaksi sesuai yang diharapkan, Author jadi pusing maksudnya apaan?

.

.

Ace: Terimakasih untuk para Readers yang menyempatkan membaca dan berkenan meninggalkan Review.

Luffy: tetap ditunggu reviewnya untuk chapter ini ya!

Ace: Sore ja. Mata ashita! (_ _)

Luffy: Mata ne. *melambai-lambai*