A/N. Maafkan saya karena molor publish fanfict ini lagi m(_ _)m. Apa boleh buat, ujian semester yang didepan mata dan laporan magang yang belum selesai lagi-lagi membuat konsentrasi saya terpecah beberapa bagian. Untuk chapter ini sedikit kependekan, yah maaf sekali lagi deh, soalnya isi otak dibagi tiga ditambah lagi fict di Fandom Naruto yang udah ditagih update sama readers *hiks*. Selamat membaca, dan jangan lupa Review.
Saya juga minta maaf pada para readers atas ketidak nyamanan membaca chapter sebelumnya. Soalnya ternyata tanda pembatas scene ilang pas di publish, dan saya lupa mengeceknya kembali. Akhirnya adegan terkesan berlanjut padahal udah di moment yang berbeda *PLAK
.
+= Until 2 Years=+
One Piece © Eiichiro Oda
Until 2 Years © Arale L. Ryuuzaki
Pair: Zoro x Sanji (Slight Ace x Luffy)
Genre: Hurt/Comfort/Romance
Rated: T
Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…
.
.
"Bagaimana?" tanya sosok itu pada pemuda dibelakangnya.
"Dia pemuda yang luar biasa," pemuda berambut merah itu tersenyum dan menatap punggung bosnya yang kini sedang membakar ujung cerutunya.
"Pendapat anakku sendiri?"
"Tuan muda sangat dekat dengannya dan sangat menyukai masakannya,"
Sosok berwibawa itu berbalik menghadap bawahannya dan tersenyum penuh arti. "Kalau begitu hubungi Shirohige dan kau urus secepatnya, Shanks. Bakat itu tak boleh tersia-siakan."
"Sesuai perintah tuan," sosok pemuda berambut merah itu membungkuk hormat. "Saya permisi," ucapnya undur diri dan keluar dari ruangan itu.
.
.
Part 3:
Scar.
.
.
TAK!
"Aduh! Bisa pelan-pelan sedikit tidak?" aku mengaduh keras pada pemuda yang memapahku berjalan menuju kamarku yang terletak di lantai tiga Baratie Resto.
"Maaf," ucapnya pendek, sedangkan aku hanya bisa merutuki sikapnya.
"Pintu biru itu," tunjukku pada sebuah pintu di sebelah kiri lorong lantai tiga.
Marimo itu langsung memapahku masuk ke kamar bernuansa biru dan mendudukkan tubuhku keatas kasur single-size yang ada di sudut ruangan yang bersebelahan dengan meja belajar milikku.
"Seperti kata ayahku tadi. Kamar ini 'nanti' akan menjadi kamarmu juga selama kau menginap di sini dan karena di kamarku hanya ada satu kasur ukuran single, terpaksa kau tidur di futon.
Pemuda marimo itu hanya memandangku dengan ekspresi datar.
"Kenapa?" dia angkat bicara.
"Apanya? Soal futon? Tentu saja kau tidur di futon, tidak mungkin kita tidur diatas kasur yang sempit seperti ini berdua," kataku santai sambil menghidupkan sebatang rokok.
"Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau ini rumahmu?"
"Kau tak bertanya, kan?" aku mengangkat alis.
"Kau benar-benar menyebalkan," dia berbalik keluar kamarku sambil membanting pintu.
Aku hanya mencibir pada punggungnya. Kumatikan rokokku yang belum tandas kuhisap pada asbak yang tergeletak di tepi meja belajarku dan langsung menghempaskan tubuhku terlentang diatas kasur.
.
~Arale66~
.
TOK-TOK-TOK
"Bocchama, sudah pagi. Anda tidak berangkat ke sekolah?" suara ketukan pintu membangunkanku dari tidur. Sepertinya semalam aku langsung tertidur setelah bocah marimo itu pergi. Jaketnya saja masih kukenakan.
Ya, jaket yang menyelimutiku dari dinginnya angin malam. Sedikit kebesaran memang, tapi setidaknya tak membuatku masuk angin, apa lagi anak itu mengendarai sepeda dengan lumayan kencang.
Kalau dipikir-pikir, dia begitu mudahnya membopongku kesana kemari dan mengayuh sepeda secepat itu sambil memboncengku. Apa aku terlalu ringan atau dia yang lebih kuat? Entahlah, tak perlu kupikirkan.
"OI SANJI!" kali ini teriakan ayah yang terdengar dari telingaku.
"IYA, SEBENTAR LAGI AKU TURUN!" akusegera bergegas melangkah ke kamar mandi yang untungnya terdapat di kamarku, jadi aku tak perlu terlalu jauh menyeret kakiku yang masih sedikit nyeri ini terlalu jauh.
20 menit berselang, aku yang masih merapikan letak dasiku kembali dipanggil dengan suara kelas dari lantai bawah.
"SANJI! MAU SAMPAI KAPAN KAU DI KAMAR! NANTI KAU TERLAMBAT!"
Kakiku kuseret paksa menuruni tangga sambil berpegangan pada selusur tangga dan melangkah sehati-hati mungkin agar tidak terjatuh sambil berteriak keras, "IYA, SEBENTAR KUSO JIJI! KAU KIRA AKU BISA CEPAT-CEPAT MELANGKAH DENGAN KAKI BEGINI!"
"Kau ini selalu lama di kamar mandi! Alismu yang keriting itu tak akan pernah lurus walau kau mematut dirimu selama apapun di depan cermin, bocah bodoh," ayahku berkacak pinggang dengan celemek terlingkar di pinggangnya. Dari teksturnya aku tahu persis itu celemek siapa.
"ARGH! KUSO JIJI! KENAPA KAU PAKAI CELEMEK MILIKKU! MILIKMU SENDIRI KAN ADA!" aku berniat berlari menerjang ayahku yang seenaknya menggunakan celemek kesayanganku hingga melupakan kalau kakiku sekarang sedang menderita penyakit bernama sedikit ter-ki-lir. Akhirnya, tubuh kurusku bukannya menghantam tubuh besar milik pak tua berkumis aneh itu tapi malah oleng kedepan dan bersiap memberikan ciuman selamat pagi pada lantai dingin dapur dimusim gugur sebelum tangan itu menangkap tubuhku dari samping.
"Sepertinya kau punya hobi jatuh ya, Senpai?" suara dingin itu kembali menghantam pendengaranku dan menghembuskan angin hangat di daun telinga milikku.
Langsung kujauhkan tubuhku hingga rangkulannya terlepas dan punggungku menghantam dinding di belakang. Itu lebih baik daripada jantungku melompat keluar dari sarangnya akibat serangan jantung dipagi hari gara-gara aku 'lagi-lagi' dipeluknya.
"Mau apa kau disini pagi-pagi begini, Marimo jelek?" ucapku dingin sambil menurunkan kecepatan detak jantungku.
DUAK!
Lemparan sendok nasi tepat mengenai jidat lebarku. Pelemparnya siapa lagi kalau bukan ayahku tercinta yang menyukai adegan kekerasan untuk mendidik buah hatinya ini.
"Jangan kurang ajar begitu, Sanji! Zoro sudah capek-capek datang pagi-pagi seperti ini demi menjemputmu tahu!" berangnya.
Mataku membulat sempurna dan memandang ayahku. "Untuk apa! Aku bukan anak TeKa yang harus diantar jemput ke sekolah segala!"
BLETAK!
Kali ini mangkuk plastik sempurna mendarat di jidatku 'lagi'.
"Anak tak tahu terima kasih! Seharusnya kau bersyukur Zoro menjemputmu pagi ini! Kalau tidak, bagaimana kau berangkat ke sekolah dengan kaki seperti itu!"
Benar juga. Selama ini aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Kalau dengan kondisi kaki seperti ini, tak mungkin aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Bisa-bisa aku sampai keesokan harinya di sekolah. Akhirnya aku akhirnya hanya bisa merutuk pelan sambil berusaha berdiri dan melangkah menuju meja makan.
Kulirik pemuda berkepala hijau itu yang tak lagi mengeluarkan suara dan kini menarik kursi di sebelahku dan duduk diatasnya dalam diam saat ayah menaruh dua piring nasi goreng special dihadapan kami berdua.
"Makanlah kalian berdua," perintahnya yang hanya kami jawab dengan anggukan.
"Ittadakimasu!" ucap kami berbarengan, membuat ayahku tersenyum dan duduk di hadapan kami yang sedang makan dengan lahap.
"Kalian terlihat seperti saudara kalau sedang makan dengan kompak seperti ini," ucapnya tiba-tiba sambi menopangkan dagunya diatas sebelah tangannya.
"Uhuk! Uhuk!" aku terbatuk keras akibat tersedak bulir nasi yang meluncur kedalam kerongkonganku tanpa izin akibat mendengar kalimat tadi.
"AYAH APA-APAAN SIH! Lebih baik aku bersaudara dengan Arlong, bocah muka ikan yang buka bengkel di ujung jalan sana dari pada dengan marimo ini!" teriakku.
Kali ini bocah marimo itu juga melirikku tajam.
"Aku juga tak sudi menjadi saudaramu, Senpai," ucapnya dingin dan melanjutkan makannya.
"Hah! Bagus kalau begitu!" aku menjejalkan nasi goreng special masakan ayahku itu kedalam mulutku dan mengunyahnya cepat.
Ayah hanya tertawa melihat tingkah kami dan beranjak menuju bak cuci piring untuk mencuci beberapa peralatan masak yang kotor.
"Kau tahu, Zoro—" ucapnya sambil membelakangi kami yang sedang makan. "—Kau lebih terlihat seperti kakak Sanji. Kau jauh lebih tenang dan bersikap jauh lebih dewasa dari pada Sanji yang suka meledak-ledak dan mengamuk tak karuan," dari nada bicaranya tergurat jelas bahwa dia sedang menyindirku.
"Cih! Sayangnya aku lebih dulu lahir daripada dia," gumamku sambil melanjutkan makanku.
"Buhahahaha, kau lupa ya? Atau kau tidak tahu?" tawa gahar ayahku yang seperti monster penghuni goa keramat pagi ini harus kudengar dengan pandangan heran yang kulemparkan. Sedangkan makhluk hijau di sebelahku hanya tersenyum sinis sambil merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan sebilah card dari dalam dompetnya dan meletakkannya di depan piring nasiku.
Dapat dengan jelas kulihat bahwa card berwarna hijau yang ternyata adalah kartu pelajar sekolahku, dan yang lebih mengejutkan lagi bukan tanggal lahir yang tertera di card itu. Melainkan—"
"APA!" teriakku sambil dengan cepat mengangkat kartu itu dan mendekatkannya kedepan mataku dan meyakinkan mataku bahwa aku tidak salah lihat.
Disana tercetak jelas nama, tanggal lahir, dan tahun lahir bocah marimo itu.
Roronoa Zoro || 11 November 1989 || Kelas 1-3
"Bohong," aku menggelengkan kepalaku tak percaya dengan penglihatanku. "Ini pasti bohong! Pasti pihak sekolah salah cetak! Ya, kan?" ucapku sambil menatap matanya. Tidak mungkin dia lebih tua dariku. Yah, memang hanya beberapa bulan, tapi tetap saja tahun lahirnya mendahuluiku setahun karena aku lahir pada tanggal 2 Maret 1990.
Marimo brengsek itu hanya menaikkan pundaknya dan mengambil kembali kartu pelajarnya dan memasukkannya kembali ke dalam dompetnya. "Setidaknya kartu pelajarku tidak salah cetak," ucapnya santai.
"Zoro sempat cuti selama satu tahun sewaktu dia duduk dibangku kelas 3 SMP sesaat setelah pengumuman kelulusannya," ucap ayah sambil membakar sebatang cerutu yang tersemat dibibirnya.
Pemuda berkepala hijau itu angkat bicara, "Kau ingat luka memanjang dari pundak kananku hingga pinggang kiriku itu?" perkataannya mengingatkanku pada kejadian kemarin sore saat pertama kali aku melihatnya bertelanjang dada dengan ukiran kasar bekas luka mengerikan di permukaan tubuh indahnya.
Aku mengangguk sekejap.
"Kecelakaan yang menyebabkan luka itu membuatku harus terbaring koma selama empat bulan di rumah sakit sehingga aku terpaksa harus mengambil cuti selama setahun dan kembali mendaftar sekolah pada tahun ajar berikutnya," sekali ini aku mendengarnya bercerita sepanjang ini dan cerita itu cerita tentang masa lalunya yang mengerikan.
"Tapi untung saja pelakunya langsung tertangkap sebulan setelah kejadian itu," ayah yang baru selesai membilas piring kini melangkah mendekati kami dan mengajak-acak hamparan hijau di puncak kepalanya sambil tersenyum lebar.
Aku yang tak mengerti kemana arah cerita kali ini hanya bisa mengerutkan dahi.
"Sayangnya, setelah aku sadar dari koma. Laki-laki brengsek itu tak bisa kutemui. Penjagaan terhadap selnya terlalu ketat. Warga sipil tak boleh menemuinya dipenjara. Padahal aku ingin sekali menghajarnya yang memahat permanen luka ini tubuhku," ucapnya dengan tatapan siap membunuh seseorang.
Jujur, aku merinding melihat tatapannya yang seolah mampu merobek perut seseorang dan menarik keluar isinya. Perutku bergolak ketika melihat tatapan pemuda itu yang haus darah. Tatapannya mengerikan. Dan satu hal yang aku tahu, aku tak suka melihatnya menunjukkan tatapan seperti itu. Dia jauh lebih manusiawi dengan senyuman di bibirnya daripada tatapan membunuh seperti itu. Tatapan itu membuatnya seperti seorang pembunuh berdarah dingin dengan sebilah katana di tangannya daripada seorang siswa yang kesal akibat dibuat terluka.
"Dracule Mihawk," bisiknya dengan penuh dendam.
"Ya, Mihawk sang penghisap darah. Pelaku pembunuhan berantai yang menyebabkan 12 orang warga sipil tewas dengan mengenaskan dan puluhan luka parah bahkan cacat permanen akibat perbuatannya," ayah mencopot celemekku dan menggantungkannya di sebuah gantungan yang terdapat di salah satu sudut dapur.
Aku tahu betul nama itu. Seorang pria rupawan dengan mata tajam dan rambut hitam yang tertutup topi ala cowboy dengan katana besar tersampir dipunggungnya dan membuat terror dua tahun lalu. Ayah bahkan mewanti-wantiku saat itu dan bersikeras mengantar-jemputku ke sekolah selama pembunuh itu masih buron.
.
~Arale66~
.
"Marimo brengsek, berjalan pelan sedikit bisa tidak?" kau kira aku bisa melangkah secepat itu dengan kondisi seperti ini," hardikku pada sosok yang memapahku.
"Kau saja yang terlalu manja dan lelet, Senpai-chan," ujarnya dengan nada mengejek.
"Kalau begitu, lepaskan aku dan biarkan aku bejalan menuju kelasku sendiri!" bentakku sambil berusaha menjauhkan tubuhnya.
Tapi, bukannya menjauh. Tubuh kami malah oleng dan jatuh saling tindih di depan para siswa yang sedang sibuk mengambil sepatu mereka di loker masing-masing.
BUGH!
Ini benar-benar memalukan. Aku kena kutuk siapa sih hingga hari-hariku belakangan ini menjadi begitu menyebalkan dan selalu saja berhubungan dengan Marimo brengsek satu ini.
"Sanji-kun, Zoro-kun. Sebaiknya kalau kalian ingin melakukan hal 'itu', kalian bisa menyusup ke klinik sebelum Kureha sensei datang," sosok gadis berambut jeruk sepanjang bahu menghampiri kami sambil tersenyum jahil. "Tapi jangan lupa kalian rekamkan adegan itu untukku yah?" lanjutnya kemudian meninggalkan sejuta tanya di kepala bodoh marimo diatasku yang kini menatap heran pada sosok gadis yang kini telah menghilang di belokan ujung lorong.
"Kau-kau salah paham Nami-san," teriakku histeris sambil menggapai angin.
Para siswa siswi lain hanya bisa tersenyum kecut sambil melirik kami. Diantaranya malah ada yang sibuk mengabadikan kejadian langka ini kedalam memori ponsel mereka.
Seorang gadis berambut sebahu salah seorang anggota Klub memasak tampak menitikkan air mata dari kedua mata jernihnya sambil berusaha tetap tersenyum manis pada dua orang pria yang masih diposisi yang sama.
"Sanji-taichou, tolong bahagiakan Zoro-kun," ucap gadis itu dan bergegas berlari menjauh.
"Tu-tunggu Porche-chan! Ini tak seperti yang kau pikirkan!" aku berteriak berusaha menghentikan langkah Porche yang kini menghilang di balik tikungan.
"Sanji, sebagai seniormu, aku mengerti bahwa kau seorang playboy sejati. Tapi tak seharusnya kau juga menarik perhatian lelaki juniormu ini. Apa para gadis yang selama ini mengelu-elukanmu tidak cukup? Dasar Mesum!"
Kata-kata yang menusuk itu?
Aku langsung mendongakkan kepalaku dan menemukan sosok gadis cantik berkacamata yang rambutnya digelung rapi sambil memeluk buku setebal kamus.
"Kalifa-chan?" panggilku pada gadis yang kini sedang mengenakan sepatu dalam ruangannya dan melirikku sinis sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Yah, jangan sampai kau terlambat masuk kelas hanya karena keasyikan bersenang-senang di pagi hari, bocah mesum," diapun melangkah pergi dari tempat itu.
"Tunggu Kalifa-chan," teriakanku lagi-lagi diacuhkan.
Tangis kepedihan membanjiri kedua pipiku. Ini semua gara-gara marimo brengsek yang selalu saja membawa sial dihari-hariku.
"Menyingkir kau kepala Marimo! Mau sampai kapan kau menghimpitku!" kepalan tinju langsung kulayangkan ke wajahnya yang tanpa pertahanan dan langsung membuatnya terjungkal ke belakang sambil memegangi pipi kirinya yang kini memerah.
"Lho, Sanji? Sedang apa kau tiduran disini? Nanti kau bisa masuk angin," lagi-lagi sebuah suara menyapaku.
"AAAACE," kali ini aku merengek keras.
Sahabatku, Portgas D. Ace langsung meraih tangan kananku yang kini menggapainya dan membantuku berdiri.
"Kakimu kenapa, Senpai?" sosok pemuda manis muncul dari balik punggung Ace yang membantuku berdiri.
"Kemarin aku terkilir, Luffy," aku meringis kesakitan saat aku menjejakkan kaki kananku yang masih dibalut bandage.
Tanpa dikomando, Luffy langsung menarik lengan kiriku lalu menyampirkannya di pundak kurus miliknya untuk membantu Ace memapahku berjalan. Benar-benar anak yang baik. Ace sangat beruntung memiliki pemuda manis ini sebagai kekasih.
"Kenapa belakangan ini kau ceroboh sekali sih, Sanji," rutuk Ace sambil membantuku menaiki tangga menuju lantai dua.
"Ini juga bukan mauku, bodoh!" protesku cepat.
TING-TONG-TENG-TONG!
"Luffy, bel masuk sudah berbunyi, sebaiknya kau masuk kelas. Biar aku saja yang membawa koki ceroboh kita ini," perintah Ace pada Luffy yang langsung di-iya-kan oleh pemuda manis itu.
"Baiklah, hati-hati lho, Ace," katanya. "Semoga cepat sembuh, Sanji-senpai," dan melangkah menuju kelasnya.
"Terima kasih Luffy," ucapku tulus.
"Luffy, tolong bawakan tasku ke kelas, aku akan segera kembali," sebuah suara berat memasuki pendengaranku samar.
"Lho, kau mau kemana, Zoro?"
"Aku harus mengantarkan senior ceroboh kita itu sampai ke kelasnya. Karena ini tugasku!"
Tiba-tiba aku merasakan kakiku terangkat dari permukaan tanah dan saat sadar, ternyata tubuhku sudah berada di pundaknya.
"Maaf senpai, ini tugasku," ucapnya gamblang pada Ace yang kini terlihat tersenyum jahil.
"GYAAAA! MARIMO BRENGSEK! TURUNKAN AKU!" teriakku lantang sambil berusaha memberontak sambil menjambak-jambak helaian rambutnya yang berwarna hijau. Tapi, sayangnya usahaku tak membuahkan apa-apa karena marimo brengsek ini masih kokoh melangkah melangkah cepat menuju kelasku.
GRAK!
Pintu geser kelas terbuka lebar dan langsung menampakkan sosokku yang sedang berasa di pundak seorang siswa kelas satu yang jadi bahan pembicaraan. Riuh-rendah suara para penghuni kelas sampai ke telingaku. Dan saat aku menjelajahkan pandangan ke seisi kelas, bisa kulihat berbagai ekspresi dari rekan-rekanku. Ada yang tertawa, ada yang berteriak histeris, ada yang menatap dengan pandangan tak percaya, ada pula yang sibuk memotret adegan ini.
Marimo brengsek ini akhirnya menurunkanku di atas bangkuku yang terletak di tepi jendela.
"Nanti aku jemput," ucapnya gamblang dan segera melangkah keluar ruangan.
Serombongan siswa yang didominasi para gadis langsung menghampiri mejaku dan memberondongiku dengan berbagai pertanyaan yang berbedatapi dengan tujuan satu yaitu 'Kenapa Marimo brengsek itu sampai bisa membopongku ke dalam kelas!'.
Tentu saja aku kewalahan melayani semua pertanyaan mereka apalagi ditambah dengan Usopp sang informan yang langsung memberondongiku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Sanji, sejak kapan kau mengenal Roronoa Zoro? Apa alasannya menggendongmu sampai ke dalam kelas? Lalu kudengar dari siswa kelas sebelah, tadi di loker sepatu kalian melakukan hal yang tidak pantas. Apa maksudnya? Lalu apa semua ini berhubungan dengan kakimu yang sedang dibalut perban itu?"
"DIAM!" aku kehabisan kesabaran.
"MARIMO ITU—" kataku sambil menunjuk pintu masuk dimana sosok itu menghilang. "—TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN DENGANKU!" sejenak aku mengambil nafas. "DAN AKU TAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENDEKATINYA ATAUPUN MENGAKRABKAN DIRI DENGANNYA!"
Aku melipat kedua tanganku di depan dada dan menatap marah pada semua orang yang mengerbungiku, khususnya Usopp yang kini terbelalak kaget dengan reaksiku yang berlebihan.
Seumur hidup, baru pertama kali ini mereka melihat seorang Sanji berteriak keras di depan umum yang rata-rata terdiri dari para gadis manis yang sangat kupuja itu. Tapi aku benar benar sudah muak dengan segala keadaan yang ada dan terjadi belakangan ini padaku. Sudah cukup! Aku ingin sendirian sekarang ini!
"Maaf nona-nona manis, hari ini aku sedang tidak berselera berbaik hati. Tolong tinggalkan aku. Kumohon!" pintaku tegas sambil mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas sekolahku.
Para gadis itupun mulai melangkah meninggalkan kursiku dengan berbagai ekspresi.
"Maafkan kami ya, Sanji-kun," ucap gadis cantik berambut biru panjang bergelombang itu padaku dengan tatapan menyesal.
"Aku yang seharusnya minta maaf, Vivi-chan. Aku sedang uring-uringan belakangan ini. Aku takut nanti malah kalian yang menjadi sasaran amukanku," jelasku sambil tersenyum miris.
Gadis cantik itu tersenyum maklum dan melangkah menuju kursinya.
.
~Arale66~
.
TING-TONG-TING-TONG
Bel tanda jam istirahat siang berdentang keras ke sekeliling GL Gakuen yang disambut bahagia para siswa-siswi yang rata-rata sudah menahan cacing di perut yang bernyanyi nyaring.
"Uhk," rintihku sambil memegang kepalaku yang terasa pusing. Semenjak pagi hari tubuhku memang terasa sedikit janggal, tapi kuacuhkan. Kali ini kepalaku berdenyut membuat pandanganku kabur sesaat.
GRAK!
Pintu geser terbuka dan menampakkan pemuda berkepala hijau yang sedang membawa sesuatu di tangannya.
Uhk, apa maunya lagi sih? Dengan kondisi tubuhku seperti ini dia malah datang mengacaukan 'lagi' siangku.
"Ini," hanya itu yang diucapkannya ketika sampai di depan mejaku sambil menyodorkan sebuah kruk.
"Untuk apa?"
Dia menghela nafas panjang. "Untukmu berjalan. Memangnya kau mau terus merepotkan orang dengan minta dipapah atau di gendong setiap berpindah tempat," katanya tanpa memikirkan bahwa kalimat yang bsru saja dilontarkan mulut berbisanya itu membuat amarahku tersulut.
"Maksudmu aku merepotkanmu? Begitu?" bentakku sambil menggebrak meja dan berdiri memelototinya.
Matanya terbelalak kaget.
"Memangnya siapa yang memintamu repot-repot menjemputku ke rumah, dan mengantarkanku ke sekolah? Memangnya aku pernah meminta pertanggung jawabanmu sampai kakiku sembuh? Memangnya—," kata-kataku terputus, kepalaku kembali berdenyut.
"Ukh," mataku berkunang, kesadaranku perlahan mulai menghilang. Lututku lemas dan aku jatuh lunglai. Diantara kesadaranku yang tinggal beberapa persen lagi, aku merasakan seseorang meraih tubuhku dan memanggil namaku.
"Sanji! Sanji! Kau kenapa? Hoi!"
Siapa?
"Badanmu panas sekali! Bertahanlah, kita ke ruang kesehatan sekarang,"
Siapa yang berbicara? Siapa yang mengangkat tubuhku?
Perlahan kupaksakan membuka kelopak mataku yang semakin berat. Aku tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang kini berlari sambil menggendongku. Tapi satu hal yang kukenal, hamparan hijau yang menghiasi kepalanya.
"Zo-ro," bisikku perlahan sebelum kesadaranku benar-benar menghilang.
.
TBC
.
Sanji: Sekarang saatnya balas rivew yang masuk!
Zoro: Lho? demamnya udah sembuh, Senpai. Kalau tahu kamu pura-pura pingsan, bagusan kagak gw gendong!
Sanji: (Lemparin bata) Marimo Brengsek! (melangkah pergi)
Arale: Kamu sih! Kan Sanjinya jadi pergi! (jitakin Zoro)
Zoro: Gomen. (nunduk)
Arale: Gantinya, kamu yang harus balas! (merintah)
Zoro: Ah, iya. Author-san ganti Pen-Name yah?
Arale: (Blushing) Ehehehe, iya nih. Lagi jatuh cinta.
Zoro: Siapa?
Arale: Okumura Rin. Tokoh AoEx.
Zoro: Hooo (manggut-manggut). Baiklah saya akan membals Review yang masuk ke kantong redaksi.
Arale: Sial gw dikacangin. (pergi sambil bersungut-sungut).
.
.
Pertama datang dari N.h dan Chary Ai TemeDobe Maaf Update-nya ga kilat. Next!
Lalu dari, annakaz. Siapa suruh kamu baca sebelum ngantor (dilempar bakiak sama Author). Soal Sisshou dan Zef-san yang saling kenal. Setelah saya tanyakan, ternyata mereka dulu rival dan sering bertarung untuk melihat siapa yang lebih hebat dalam olah badan.
Lalu dari Honeyf. Cekit-cekit? Maksudnya? Rating yang naik ya? Saya menentang keras! (Dilempar KBBI sama author, 'Gw authornya bego!'). Sial pinggang gw pegel selesai ngebonceng tuh senior alis keriting (dilempar spatula sama Sanji. 'Awas minta-minta masakan gw'). Soal adegan sekamar… (ngebaca scenario yang tadi dikasih sutradara) kayanya ada sesuatu yang terjadi deh.
Lalu ada Dark Leg Sanjiyang lagi mimisan (lemparin tissue). Terpaksa saya nebeng kamar senior pirang itu, daripada saya terlunta-lunta selama sebulan.
R.Z Raissa Cihuyminta saya berekspresi seperti apa? (muka datar)
Erochimaru bisa memberi tahu saya siapakah UKE idaman itu? (innocent sambil celingak-celinguk)
Moist Fla, jangan kuat-kuat nunggu-nya. Soal fict ZoSan lain, di otak Author udah banyak ide sih, kalau ga ditahan, mungkin udah di publishnya tanpa ampun dan membuat cerita ini terbengkalai. Yah, bersabarlah.
Kanata D. Renkinjutsushi, nama lu susah amat sih. Penggemar Chopper ternyata. (Lirikin Chopper yang senyum-senyum gaje di sudut ruangan)
Lalu yang terakhir, Hatakari Hitaraku. Oi, gw beneran buta arah kok! Bukan sebuah kesengajaan sehinga mengantarkan pada bau masakan si Uke(?)
.
.
Arale: Baiklah, ditunggu Reviewnya. Maaf kalau Chapter ini Kurang memuaskan.
m(_ _)m
