A/N. Minna-san maafkan saya karena mendadak musti vakum untuk beberapa saat. Karena sekarang ini jadwal Praktek Kependidikan saya (Mendadak jadi guru Fujo). Tapi, karena tiba-tiba nama saya nongol di list daftar Nominasi IFA, rasanya saya tidak sopan banget kalau gak UPDATE fict ini. Karena Fict inilah saya bias masuk nominasi IFA. Siapa sih yang milih? Saya berterima kasih banget XD
Untuk kali ini, Selamat menikmati karya abal saya m(_ _)m
.
+= Until 2 Years=+
One Piece © Eiichiro Oda
Until 2 Years © Okumura Arale
Pair: Zoro x Sanji (Slight Ace x Luffy)
Genre: Hurt/Comfort/Family
Rated: T
Warning: TYPO, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…
.
.
Beberapa suara menghampiri telingaku dan membuat kesadaranku perlahan kembali kedalam tubuhku yang sesaat tadi terbaring lemas di atas sebuah ranjang kosong di ruang kesehatan milik sekolah ini. Saat kesadaran sepenuhnya kembali jadi milikku, penglihatan pertama yang menghantam mata kebiruan milikku adalah, HIJAU!
"Sensei, dia sudah sadar," sosok itu memanggil Kureha-sensei yang langsung menghampiri ranjang tempatku berbaring.
Tangan keriputnya langsung meraih pergelangan kurusku dan mengukur denyut nadiku. Stetoskop dingin yang menyentuh permukaan kulit langsung membuatku sedikit mengidik menahan arus dingin yang tiba-tiba menjalar.
"Semalam kau makan apa?" katanya sambil melepaskan gagang stetoskop yang menyumpal telinganya.
"Tidak ada,"
Pemuda berambut hijau yang berdiri di sebelah Kureha-sensei terlihat mengerutkan dahinya.
"Siang kemarin?" guru kesehatan tua itu kembali bertanya.
"Tidak ada,"
"Tunggu!" Marimo itu menyela. "Bukannya kau memasak Sukiyaki Ramen di ruang klub memasak kemarin siang?"
"Bukan berarti aku akan selalu memakan setiap masakan yang kubuat, kan?" protesku sambil menatap dingin pemuda itu.
Kureha-sensei menghela nafas panjang.
"Kau menderita radang tenggorokan, darah rendah, dan maag akut, ditambah lagi kau membiarkan begitu saja kakimu yang kemarin terkilir itu terforsir. Sebaiknya kau pulang saja hari ini daripada demammu bertambah parah,"
"Separah itu?" kagetku saat mendengar pemaparan dokter sekolah yang berdiri di depanku sambil berkacak pinggang.
"Apa perlu kutambahkan `gejala tipus` agar kau mau beristirahat diatas ranjang rumah sakit?"
Aku segera menggeleng cepat.
"Bocah Roronoa, antarkan anak ini pulang! Kau bisa kan?" perintahnya pada si Marimo brengsek yang kini menampakkan raut protes.
"Kenapa harus aku?"
"Bukankah kau yang paling panik saat anak ini pingsan tadi? Sampai-sampai kau berteriak-teriak memanggil namanya berkali-kali begitu,"
Wajah pemuda itu langsung bersemu, "Si-siapa yang—"
"Sudahlah, kau antarkan saja dia pulang dan pastikan dia baik-baik saja daripada kau harus terus menatapinya sambil berwajah cemas seperti itu," potong Kureha sensei santai sambil menuliskan beberapa resep diatas selembar kertas putih.
"Diam kau nenek brengsek! Apa mulutmu tidak bisa diam!" berangnya dengan wajah yang persis kepiting rebus.
Sedangkan aku, hanya bisa terbengong-bengong melihat raut wajah kacau pemuda di hadapanku yang kini sibuk menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan ekspresi marahnya.
"Apa kau lihat-lihat, Alis keriting!" bentaknya padaku.
"Hah! Kali ini kau memanggilnya `Alis keriting` padahal tadi kau sibuk memanggil-manggil `Sanji… Sanji…` begitu," Kureha Sensei tersenyum mengejek.
"Argh! Sudah-sudah! Baiklah! Aku akan mengantarkannya pulang! Puas?" bentaknya sambil keluar dari ruangan.
Sedangkan sang guru kesehatan sekolah menyunggingkan seringai licik penuh kemenangan dari bibirnya.
"Kau mau kemana?" tanyanya padaku saat menoleh dan menemukan sosokku yang sudah berdiri dari pembaringanku dan melangkah menuju pintu keluar Ruang kesehatan.
"Pulang," jawabku polos.
"Dengan kondisi seperti itu?"
Aku menghela nafas panjang. "Sensei, tolong jangan perlakukan aku seperti gadis berusia sepuluh tahun yang akan merengek setiap diserang penyakit. Aku remaja laki-laki berusia 17 tahun lho," protesku sambil mengelap keringat yang menetes di daguku.
"Terserahmu kalau begitu," ucapnya sambil berdecak dan memberikan sepucuk kertas resep obat ke tanganku yang sedikit gemetaran.
"Terimakasih," ucapku. "Sensei, boleh aku pinjam kruk itu?" lanjutku sambil menunjuk sebuah kruk yang menyender pada dinding ruangan.
"Hn? Bawa saja," ucapnya sambil mengibaskan tangan.
.
。。。Zo-San。。。
.
Kepalaku pusing, keringatku kembali membanjiri tubuhku yang masih lembab, mataku berkunang-kunang.
"Argh, kenapa aku harus demam dengan kondisi kaki seperti ini sih!" rutukku sambil tetap melangkah menuju gerbang sekolah.
"Hoi, Sanji! Kau mau kemana di jam sekolah begini?" teriak seorang lelaki pendek dengan wajah aneh.
"Diam kau muka kuda! Gara-gara kau mengurungku di atap sekolah kemarin, aku jadi seperti ini sekarang!" ketusku sambil menunjuk hidung besarnya yang aneh itu.
"Kenapa kau malah menyalahkanku, pirang! Mana kutahu kalau kau masih berada diatas sore itu!"
"Tentu saja kau tak tahu! Karena kau sedang mabuk dan tak mendengarkan pangilanku, bodoh!"
Wajah Foxy sang penjaga sekolah panik mendengar kata-kataku. Tapi tak kuacuhkan dan kembali melangkahkan kakiku.
"Mati saja kau bocah brengsek!" umpat laki-laki itu sambil mengacungkan tinjunya ke udara.
"Kau saja yang mati, Muka kuda!" teriakku dan menghilang di balik tembok tinggi pagar sekolah.
Ugh, kepalaku malah bertambah pusing gara-gara berdebat dengan penjaga sekolah brengsek itu. Aku ingin cepat sampai di rumah dan berendam dalam bak mandi berisi air panas untuk menghilangkan rasa mualku.
"Hoi, Senpai!" teriak seseorang dibelakangku.
Reflek aku menoleh ke belakang dan menemukan sosok Marimo pekendo itu sedang menyusulku sambil mengayuh sepedanya.
"Apa?" ketusku padanya
Dia hanya menatapku dalam diam lalu menunjuk bangku boncengan yang terpasang di belakang sadel sepedanya. "Naik! Aku akan mengantarmu pulang,"
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri," aku melengos dan kembali melangkah meninggalkannya yang mulai menyamakan langkah denganku.
"Aku tidak yakin kau akan sampai dengan kondisi utuh dengan langkah oleng seperti itu."
Aku menatapnya tajam, "Bukan urusanmu, Marimo!" bentakku.
Tiba-tiba pandanganku mengabur dan perutku semakin mual.
"Ugh," erangku tertahan.
Marimo itu langsung menjatuhkan sepedanya dan melangkah cepat mendekati tubuhku yang merosot kebawah.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Aku mau mun—"
HOEK!
Dengan sukses aku memuntahkan isi perutku diatas seragam dan celana sekolahnya dan akupun kembali kehilangan kesadaran.
.
。。。Zo-San。。。
.
ZRASSSSH
Bunyi aliran air menghantam pendengaranku. Apa sedang hujan? Tapi kenapa air yang membasahiku terasa hangat ketika menyentuh kulit.
"Sanji? Kau sudah sadar?" samar-samar pendengaranku menangkap suara berat seseorang.
Siapa yang berbicara itu?
"Buka bajumu,"
"Siapa?" tanyaku dalam hati berulang kali pada sosok yang kini berada di atasku yang sedang terkulai lemas dengan posisi terduduk.
"Cih! Jangan salah paham! Aku hanya membantumu membersihkan muntahan yang sudah mengotori pakaianmu dan pakaianku saja. Tidak lebih!" rutukan panjang itu rasanya kukenal.
Kurasakan jemari hangat menyentuh permukaan kulitku dan dengan lembut membukakan pakaianku yang basah dengan bau yang aneh. Kini jemari itu membuka belt celana panjangku dan melepaskan apa yang masih melekat pada tubuhku.
Dinginnya lantai keramik membuatku menggigil. Tanpa sadar tanganku menggapai sesosok tangan kekar dan menariknya kedalam pelukanku.
"Dingin," bisikku pelan.
"He-hei lepaskan aku," gagapnya sambil mendorong dan melepaskan pelukanku.
"Dingin," hanya itu yang keluar dari bibirku yang kini bergetar. Hangatnya air panas yang menyirami tak berpengaruh pada tubuhku yang kini menggigil.
"Sebentar, aku bersihkan dulu badanmu. Badanmu bau muntahan."
Sosok itu kembali menyentuh kulitku dengan tangannya yang sedikit licin dan wangi. Benda wangi itu diusapkannya ke wajah, leher dan dadaku sambil digosoknya perlahan sebelum licinnya menghilang terbawa arus air yang mengalir di atas kepala kami.
Tangan itu menggapai sesuatu tak jauh di atas kepalaku dan airpun berhenti membasahi kami. Tak lama kurasakan tubuhku terangkat dari lantai yang basah dan dingin berganti keatas benda empuk dan hangat. Tubuh basahku perlahan dilap hingga kering menggunakan sebuah kain lembut.
"Bajumu dimana?" tanyanya padaku yang masih setengah tersadar.
Sedikit suara gaduh sampai di pendengaranku. Tampaknya sosok itu berusaha mencari sesuatu dalam lemari pakaianku.
"Ketemu!" ucapnya dengan nada riang.
Kemudian lengan itu menuntunku mengenakan pakaian lengkap. Aku yang masih setengah sadar hanya bisa patuh dan tak bisa melawan. Tubuhku terasa lemas, kepalaku pusing, perutku mual, mataku berat.
.
。。。Zo-San。。。
.
"Kau sudah sadar?" suara berat itu kembali sayup terdengar di pendengaranku. Aku hanya bisa mengerang tertahan sambil memegang kepalaku yang masih berdenyut.
"Kepalamu masih sakit?" tanyanya lagi.
"Sedikit," erangku pelan.
"Kalau begitu isi perutmu dulu. Ini, aku bawakan bubur," dia menyodorkan semangkuk bubur hangat ke dalam genggaman tanganku.
Apa orang ini bodoh? Jelas-jelas aku belum sadar sepenuhnya, tapi dia malah membuatku harus memegang mangkuk panas berisi bubur. Alhasil, mangkuk itu terlempar karena tanganku kaget akibat kepanasan dan dengan mulusnya mendarat di puncak kepala pemuda marimo di depanku.
Kesadaranku kembali seketika. Aku langsung membeku, bersiap menerima amukan pemuda yang kini kepalanya dipenuhi lelehan bubur panas. Tapi, tak terjadi apa-apa.
"Ma-maafkan aku," ucapku ketakutan.
Pemuda itu hanya terdiam sambil mengelap wajahnya yang terkena bubur dengan lengannya.
"Sudahlah, aku juga salah karena menyerahkan mangkuk panas itu ke tanganmu," pemuda marimo itu langsung memungut mangkuk bubur yang terjatuh di lantai dan membawanya keluar dari kamarku.
Aku yang masih membeku semakin terperangah dengan sikapnya. Dia tidak marah? Dia kesurupan setan apa sih sampai bersikap seperti itu?
Perlahan aku paksakan tubuhku untuk bangkit dari duduk dan melangah menuju pintu kamar. Tapi, ternyata aku malah oleng dan nyaris menghantam lantai jika lengan kekar itu tidak menahan jatuhnya tubuhku.
"Kau mau kemana dengan kondisi seperti itu?" tanya suara berat itu.
"A-aku—,"
Dengan gampangnya orang itu mengangkat tubuhku ke atas pundaknya dan menurunkannya diatas kasur kemudian menyerahkan semangkuk bubur hangat baru yang dari tadi dipegangnya kehadapanku.
"Jangan di tumpahkan lagi, atau ayahmu akan menangis di bawah sana," ucapnya datar.
"Ma-maaf," ucapku sambil perlahan memakan semangkuk bubur yang kini sudah di tanganku.
"Ayahmu belum bisa melihatmu kemari karena pelanggan sedang banyak. Tapi, beliau sudah memanggilkan dokter," lanjutnya.
Aku hanya mengangguk pelan sambil mengunyah bubur yang sudah memenuhi rongga mulutku.
"…"
"…"
Keheningan apa ini?
Entah mengapa aku merasa sesak dengan keheningan yang mendadak terjadi sekarang. Dengan dia yang diam memandangku yang sedang menghabiskan makanan dan aku yang mulai salah tingkah karena caranya memandangku. Aku berusaha tetap menunduk dan memfokuskan mataku pada makanan di hadapanku, berusaha tidak memperlihatkan reaksi aneh.
"Kalau begitu aku pulang dulu," ucapannya yang tiba-tiba itu membuatku reflek mengangkat kepalaku dan menatapnya.
"Eh?"
Kini dia kembali terdiam memandangku.
"Kondisimu sepertinya sudah lebih baik. Lagipula sepertinya kaupun tak suka aku berlama-lama disini,"
Bukan, aku bukannya tidak suka. Tapi kalimat itu tak kunjung keluar dari mulutku.
Pemuda marimo itu langsung memungut pedang kendonya yang tergeletak di samping kasurku dan melangkah menuju pintu kamarku.
"Tunggu!"
Aku sendiri kaget dengan kata-kata yang baru saja kuteriakkan. Tapi, cukup efektif membuatnya berhenti melangkah dan membalikkan badannya.
"Apa?"
Ayo Sanji, katakan! Katakan sekarang!
"Te-terima kasih kau sudah membawaku pulang," ucapku berbisik sambil mengalihkan pandanganku agar tak menatap mata gelapnya.
Dia hanya menjawab dengan gumaman tak jelas dan kembali melangkah. Tapi, langkahnya lagi-lagi terhenti.
"Ah, aku juga mengucapkan terima kasih karena kau sudah mencucikan jaket olahragaku," ucapnya sambil menarik sedikit jaket olahraga yang sedang dikenakannya.
Tanpa menunggu jawaban dariku, dia dengan cepat membalikkan tubuh dan memutar kenop pintu.
"Zoro!"
Ah! Apa yang baru saja kulakukan? Aku meneriakkan namanya. Parasku tiba-tiba memanas, detak jantungku kembali tak terkontrol. Pemuda di hadapanku kinihanya menatapku dengan tatapan yang tak bisa kutafsirkan. Oh tuhan, kenapa kau tak memberikanku indra keenam atau kemampuan telepati agar aku bias membaca pikiran pemuda bodoh dihadapanku ini. Aku jadi semakin salah tingkah kalau dipandangi seperti itu.
Tiba-tiba dia melangkah mendekatiku dan mengulurkan tangannya kearah wajahku. Aku yang tiba-tiba diperlakukan begitu rupa hanya bisa menutup erat mataku sambil menunggu apa yang dilakukannya. Dengan detak jantung yang semakin cepat dan membuatku kesulitan bernafas aku menanti apa yang akan terjadi.
Sebuah lengan hangat menyentuh permukaan dahiku.
"Sepertinya panasmu naik lagi. Sebaiknya kau segera kembali berbaring setelah selesai makan," ucapnya dan melepaskan tangannya dari dahiku.
Mataku terbelalak dan hanya bias terbengong tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. Dengan wajah yang sama datarnya, tanpa ekspresi, dan dengan tenangnya dia kembali melangkah dan kali ini benar-benar keluar dari kamarku meninggalkanku yang kembali memerah seperti kepiting rebus.
Beberapa detik kemudian telingaku mendapatkan suara gaduh di luar kamarku dibarengi suara hantaman keras. Sepertinya ada yang terjatuh di tangga depan lorong kamarku. Kupaksakan tubuhku berdiri dan melongokkan kepala keluar kamar untuk melihat apa yang baru saja terjadi. Betapa kagetnya diriku ketika menemukan sosok pemuda berkepala lumut itu tergeletak jatuh dengan tidak elitnya dengan kepala dibawah dan kaki lunglai mencuat keatas dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
Aku tertawa kecil, sambil berfikir manis sekali wajahnya kalau memerah seperti itu.
"A-apa yang kau tertawakan!" rutuknya sambil mencoba bangkit dan kembali berusaha menyembunyikan ekspresinya.
"Marimo, pintunya di sebelah sana lho," ucapku sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan langkah pemuda marimo itu.
Pemuda berkepala hjau itu tiba-tiba berjengit dengan kuping memerah dan melangkah ke arah yang kutunjuk dan melangkah kaku keluar ruangan.
Nyut!
Argh, kepalaku kembali berdenyut, sepertinya aku benar-benar harus istirahat total.
Dengan perlahan aku melangkahkan kakiku kembali menuju kasur ketika kusadari aku sudah mengenakan piyama. Aku berusaha mengingat-ingat kapan aku mengganti pakaianku. Kenapa aku bisa berada dirumah? Seingatku, saat bertemu si marimo bodoh itu saat perjalanan pulang, perutku mendadak mual dan ingin muntah. Kemudian…
Aku menggaruk-garuk kepala pirangku sambil tetap mengingat-ingat.
Basah.
Dingin.
Sentuhan hangat.
Suara yang tadi menggema di telingaku itu sepertinya kukenali.
"Cih! Jangan salah paham! Aku hanya membantumu membersihkan muntahan yang sudah mengotori pakaianmu dan pakaianku saja. Tidak lebih!"
Nafasku kembali tercekat ketika wajahku memanas dan jantungku seperti ingin melompat keluar dari rongga dadaku ketika kusadari yang terjadi.
"Ibu, dia memandikanku. Dia… Dia sudah melihatku tanpa pakaian," regekku sambil menyembunyikan wajahku dibalik selimut.
Malam itu, panas tubuhku mencapai 40 derajat dan mengharuskanku beristirahat selama 3 hari.
.
。。。Zo-San。。。
.
"Sanji-senpai! Sanji-senpai! Aku mau makan!"
"Kau rebut sekali Luffy! Kau tadi sudah berjanji padaku kalau tidak akan meminta Sanji memasakkan makanan untukmu kan?"
"Tapi, Ace…" pemuda berkaos merah dengan bekas luka di bawah mata kirinya itu merengut sambil memeluk lenganku erat.
"Kau kan sudah berjanji padaku," Ace menatap marah kekasihnya yan masih bergelayutan di tanganku.
Hari ini, Ace dan Luffy berkunjung kerumahku sepulang sekolah. Ace bilang, Luffy kangen masakanku dan memaksa Ace menjengukku. Walaupun Ace melarang Luffy, tapi kalau aku diberondongi pandangan memelas seperti itu, mau tak mau aku luluh juga.
"Baiklah. Sebentar aku masakkan sesuatu," ucapku sambil berdiri dari duduk.
"Yeeeeey!" Luffy berteriak kegirangan.
"Hei, Sanji. Kau kan baru saja sembuh," tahan Ace.
Luffy kembali memajukan bibir bawahnya.
"Tidak apa-apa, Ace. Lagi pula kaupun pasti tak sanggup menahan terjangan puppy eyes-nya, kan?" ringisku.
Ace hanya bisa minta maaf padaku yang kini berjalan menuju dapur meninggalkan mereka berdua yang mulai ribut saling menyalahkan.
.
。。。Zo-San。。。
.
"ITTADAKIMASU!" teriak Luffy ketika dihadapannya sudah terdapat sepiring besar pancake dengan baluran saos caramel.
Tiba-tiba,
BRAK!
Kami yang berada di ruang makan langsung menatap kea rah datangnya suara. Disana berdiri sesosok pemuda yang memanggul futon yang tergulung di salah satu pundaknya, dan sebuah tas besar di lengan yang lain. Sedangkan bunyi ketas tadi ternyata berasal dari tendangan kakinya yang berusaha untuk membuka pintu.
"Ah! Maafkan aku, Senpai. Tanganku penuh jadi pintu itu terpaksa kutendang," ucapnya santai.
"Zoro?" kedua tamuku terkejut melihat sosok yang baru masuk itu.
"Selamat siang, Ace-senpai," ucapnya sambil membungkuk sopan pada Ace.
Cih, kenapa dia tak pernah bersikap sopan padaku?
"Kau sedang apa disini? Lalu, kenapa kau membawa futon?" tanya Luffy.
Pemuda marimo itu menatapku, "Kau tak menceritakan pada mereka?"
"Cerita apa, Sanji?" Ace keheranan.
"Mulai hari ini aku akan tinggal disini," ucap pemuda Marimo itu datar.
"EEEEEHHHH!" kami bertiga berteriak kaget.
.
TBC
.
Sanji: Udah berapa bulan gw demam neh!
Arale: Maaf…
Zoro: Berapa bulan gw kebasahan ain pancuran?
Sanji: Shower… (membetulkan)
Arale: Maaf…
Luffy: Berapa bulan gw ga makan masakan Sanji?
Arale: (makin terpuruk) Maaf….
Ace: Berapa bulan gw gak lemonan ama Luffy?
All: ACE! ITU GAK TERMASUK!
Sanji: Berikan alasan!
Arale: Sa-saya lagi jadwal praktek ngajar…
Zoro: Praktek ngajar atau hunting Sho-ai murid-muridmu?
Arale: Ke-keduanya.
(Dijitak rame-rame)
.
Minna-san, Maafkan saya karena terlalu lama meng-UPDATE fanfict ini. Tapi, saya benar-benar sibuk belakangan ini. Apa lagi desakan dari ortu ang terus nanyain masalah perkembangan skripsi. *pundung di pojokan*
.
Terimakasih kepada para reader yang sudah meninggalkan sebaris kata UPDATE sebagai review.
Me
Kanata
Honeyf
Annakaz
Hatakari Hitaraku
Erochimaru
R.Z Raissa Cihuy
Chary Ai TemeDobe
Sh-Summers
Michon
Yamada Mita-chan
Maaf baru sempat UPDATE sekarang m(_ _)m
