Disclamer: Vocaloid belongs to Yamaha and Crypton Future Media
Warning: AU, OOC, Shoujo-ai
Distorted Princess
Miku masih saja terdiam, meski sosok Luka sudah menghilang dari pandangannya. Ia ingin waktu bisa berputar kembali ke lima menit lalu, ketika Luka masih ada di sampingnya dan menanyakan hal mengenai "kejujuran" itu.
'Sadarlah, Miku.' batin Miku sambil menyentuh kedua pipinya sendiri.
Ia berpikir tidak ada gunanya ia menyadari perasaannya. Akhirnya Luka juga pergi meninggalkannya. Apa Luka marah atas tindakan Miku? Kalau iya, Miku ingin minta maaf secepatnya.
Karena terdengar bel masuk, Miku langsung saja menuju kelas dan bersiap untuk belajar. Hal itu juga berlaku bagi murid yang lainnya. Tapi pikiran Miku tidak bisa fokus dengan pelajaran yang dijelaskan.
Pikirannya tidak bisa lepas dari sosok Luka. Selama pelajaran, Miku memandang sosok Luka yang duduk dua bangku darinya. Sosok Luka yang serius memperhatikan pelajaran terlihat manis bagi Miku.
'Apa yang aku pikirkan?' batin Miku kesal.
Akhirnya waktu pulang sekolah tiba, semua murid bergegas pulang ke rumah masing-masing. Demikian juga Miku, dia tidak ingin berlama-lama di sekolah. Hanya membuat kepalanya pusing dengan memikirkan sosok Luka.
'Kenapa aku terus memikirkannya?' batin Miku.
Setelah perkataannya pada Luka tadi siang, mungkin Miku harus minta maaf. Tapi, Miku tidak ingin. Menurutnya bukan ia yang salah, Luka terlalu sering mengganggunya dengan perkataan yang aneh.
Miku selesai memasukkan bukunya ke dalam tas, ia melihat bangku Luka sudah kosong. Ia menghela nafas lega, berarti ia tidak akan bertemu Luka di perjalanan pulang sekolah. Miku langsung bergegas keluar kelas.
Tapi, pandangan matanya melihat sosok seseorang yang tidak asing lagi. Sosok gadis yang mulai menghantui pikiran Miku daritadi, siapa lagi kalau bukan Luka. Ia melihat Luka sedang berbicara berdua dengan seorang gadis berambut coklat.
"Luka?" gumam Miku pelan.
Entah kenapa muncul perasaan kesal di hatinya, ia langsung saja pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa. Derap langkahnya yang kencang itu tentu terdengar oleh Luka, karena jarak mereka tidak terlalu jauh. Luka memperhatikan sosok Miku yang telah pergi.
"Jadi? Kamu mau, Luka-san?" tanya gadis berambut pendek coklat itu.
"Akan aku pikirkan, Meiko-senpai." jawab Luka.
.
.
.
Miku merasa sudah jauh dari tempat tadi. Ia bingung kenapa Luka bisa bersama dengan orang itu? Miku hanya terdiam di dekat gerbang sekolah, sama sekali tidak berniat untuk melangkahkan kakinya meninggalkan gedung sekolah.
"Miku..." ujar Luka sambil menepuk bahu Miku.
"Ah!" Miku kaget karena bahunya ditepuk oleh Luka. "Kenapa kau disini?"
"Aku melihatmu dan..."
"Urusi saja urusanmu! Jangan ikuti aku!"
Miku langsung saja berlari meninggalkan Luka sendiri, entah kenapa ada satu sisi di hatinya yang benci melihat Luka berdekatan dengan gadis cantik tadi. Miku terus berlari dan ia terhenti di dekat jembatan.
Ia memandang langit yang nampak kemerahan karena matahari akan terbenam. Ia menyentuh sisi jembatan dan tiba-tiba saja air mata perlahan turun dari wajah cantiknya.
"Luka, kau benar-benar bodoh!" teriak Miku kencang dan semua orang hampir memperhatikannya.
Miku tidak peduli, yang penting ia bisa melapaskan beban yang ia rasakan. Tapi, meski sudah berteriak kencang seperti itu tetap saja hatinya merasa tidak nyaman. Apalagi ia mendapat tatapan heran dari banyak orang, Miku memilih untuk pulang ke rumahnya dan menenangkan pikirannya.
Pagi hari sudah tiba, hari ini Miku berusaha untuk bersikap lebih tenang. Tentu saja, tidak mungkin ia terlihat emosian di hadapan teman-temannya dan Luka. Yang ada Luka akan terus mendekatinya dan menanyakan apa yang terjadi.
Miku bersyukur tidak ada sosok Luka di dekatnya, beberapa teman yang ditemui Miku juga menyapanya seperti biasa. Miku berharap hari ini akan terus tenang seperti ini. Ia berada di depan lokernya dan berniat mengganti sepatunya dengan sepatu yang sudah disediakan.
"Pagi, Miku-chan..." sapa Gumi.
"Ah, Gumi-chan. Pagi..." balas Miku.
"Hari ini kau terlihat bahagia. Apa ada sesuatu?"
"Ah, tidak..."
"Oh ya, kamu ke kelas duluan ya? Aku baru ingat ada rapat mendadak untuk OSIS."
"Baiklah..."
Gumi langsung meninggalkan Miku untuk rapat, jabatan Gumi sebagai seketaris itu terkadang cukup merepotkan baginya. Terkadang Gumi meminta bantuan Miku, tapi Miku hanya bisa membantu sedikit saja.
Begitu Gumi pergi, Miku langsung saja berjalan menuju kelasnya. Ia memperhatikan sekelilingnya, rasanya damai. Tapi, kedamaiannya terusik karena melihat sosok Luka dan gadis itu lagi.
'Siapa gadis itu?' batin Miku.
Miku menghentikan langkahnya dan melihat Luka berbicara dengan gadis berambut coklat pendek kemarin. Mereka berdua terlihat sangat akrab, padahal setahu Miku bahwa Luka tidak pernah bicara dengan gadis itu.
Dengan jarak yang cukup dekat, Miku bisa mendengar isi pembicaraan mereka. Bukan bermaksud untuk menguping, tapi ucapan mereka memang terdengar. Apalagi Miku sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
"Nah, Luka-san... Kenapa kau tidak tertarik dengan tawaranku?" tanya gadis itu.
"Kenapa ya? Aku takut tidak bisa melakukannya." jawab Luka.
"Kau pasti bisa. Kau itu cantik."
"Ah, Meiko-senpai bisa saja..."
Miku terus memperhatikan mereka berdua, lagi-lagi ia merasakan sakit di dadanya. Entah kenapa Miku merasa kesal melihat Luka bersama dengan gadis berambut coklat itu. Karena Miku tidak bergerak dari tempatnya sama sekali, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Karena Miku tidak menutup tasnya dengan rapat, beberapa buku Miku jatuh.
"Aduh..." ujar Miku cukup kencang.
"Maaf, kau tidak apa-apa?" tanya orang itu.
Miku memperhatikan siapa orang yang menabraknya itu, ternyata ia adalah Kamui Gakupo. Gakupo langsung saja mengulurkan tangannya untuk membantu Miku berdiri, Miku menyambutnya dan berdiri kembali.
"Terima kasih. Aku baik-baik saja." ujar Miku.
"Maaf, Miku-san. Aku menabrakmu, lagipula kau tidak berjalan dari tempatmu." ujar Gakupo.
"Aku memikirkan sesuatu..."
"Oh ya? Apa itu?"
Miku terdiam, ia tidak membalas pertanyaan Gakupo. Mana mungkin ia jujur di hadapan fans berat Luka ini? Memangnya ia mau menambah saingan? Tapi, kalau Miku perhatikan lagi sosok Gakupo yang baik pasti sangat cocok untuk Luka.
Miku sedikit berjongkok untuk mengambil bukunya yang jatuh. Melihat hal itu, Gakupo juga menolongnya. Tentu saja, Gakupo sedikit merasa bersalah menabrak Miku. Apalagi tubuh Miku kecil, pasti sakit jika ditabrak olehnya.
"Ada barang yang ketinggalan." ujar Miku datar.
"Oh ya? Buku teks? Bekal?" tanya Gakupo.
"Entah..."
"Kok entah?"
Miku masih memasukkan beberapa bukunya dan berterima kasih karena Gakupo menolongnya. Gakupo langsung berdiri dan melihat sosok Luka yang sedang menatap ke arahnya, lebih tepat ke arah Miku.
"Luka-sama dan Sakine-senpai? Pagi..." sapa Gakupo pada Luka.
"Ah, pagi..." jawab Luka.
"Pagi juga..." ujar Meiko.
Miku langsung berdiri setelah selesai membereskan bukunya yang jatuh itu. Ia menatap bingung ke arah Gakupo yang tampaknya mengenal gadis yang ada di sebelah Luka itu. Karena tidak sengaja Miku bertatapan dengan Luka, Miku langsung saja pergi. Gakupo bingung melihat kepergian Miku itu, ia memutuskan untuk mengejarnya.
Sedangkan Luka, ia merasa kesal melihat Miku terlihat akrab dengan Gakupo. Tidak biasanya Miku berbicara seakrab itu dengan Gakupo. Padahal Gakupo hanya menolong Miku yang jatuh, tapi ia merasa kesal.
'Kenapa aku tidak bisa menolongnya?' batin Luka.
"Luka-san?" panggil Meiko.
"Iya?"
"Tolong pikir ulang tawaranku itu."
"Hmm... Baiklah..."
.
.
.
"Kau kenal gadis itu?" tanya Miku. Sekarang ia dan Gakupo berjalan bersama menuju kelas mereka.
"Iya. Dia Sakine Meiko, murid kelas 3-1 yang juga seorang model," jawab Gakupo. "Gadis yang cantik..."
Miku hanya terdiam saja mendengar ucapan Gakupo itu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah kenapa Luka bisa mengenal Meiko? Gadis cantik yang seorang model dan kebetulan senpai mereka?
"Bukannya kau menyukai Luka?" tanya Miku datar.
"Ah... Haha... Bahkan Miku-san saja tahu." ujar Gakupo sambil tertawa.
Miku terdiam mendengarnya. Sakit hati? Iya. Ternyata banyak orang yang menyukai Luka, seorang gadis yang cantik, pintar dan populer. Tapi, kenapa Luka malah memilih dirinya yang jelas-jelas membencinya?
"Tapi..." gumam Gakupo.
"Iya?" tanya Miku.
"Luka-san... Dia selalu membicarakan tentangmu, Miku-san."
"Eh?"
"Dia selalu meminta nasihatku bagaimana caranya agar dia bisa minta maaf padamu. Dia merasa gagal kalau ingin minta maaf padamu, makanya kau selalu marah padanya. Luka-san sangat perhatian padamu."
Miku terkejut mendengar ucapan Gakupo. Ia tidak menyangka Luka selalu meminta nasihat Gakupo agar Luka bisa minta maaf pada Miku. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Luka selalu memikirkan tentang dirinya. Wajahnya sedikit memerah.
"Wajahmu merah. Kau sakit?" tanya Gakupo.
"Tidak..." gumam Miku pelan.
Waktu istirahat tiba, Miku dan Gumi makan bekal bersama. Kebetulan Gakupo melihat mereka dan segera menghampiri mereka berdua.
"Ternyata Miku-san membawa bekal." ujar Gakupo.
"Iya... Aku bawa kok." jawab Miku.
"Lalu barang yang ketinggalan yang kamu bilang tadi pagi itu apa?"
"Bukan sesuatu yang penting kok."
"Begitu... Baiklah..."
Gakupo pergi meninggalkan mereka. Gumi merasa heran melihat Gakupo yang terlihat akrab dengan Miku. Gakupo memang akrab dengan siapa saja, hanya saja dia tidak terlalu dekat dengan Miku.
"Wah... Ada apa diantara kalian berdua?" tanya Gumi.
"Apa?" tanya Miku balik.
"Kau dan Kamui-san? Apa jangan-jangan kalian itu sepasang kekasih?"
Gumi mengucapkan hal itu cukup keras, hingga terdengar ke arah Luka yang sedang membereskan bukunya. Luka yang mendengar hal itu menjadi kesal, terlihat sekali dari raut wajahnya. Luka langsung saja menghampiri Miku dan Gumi yang sedang asyik mengobrol.
"Miku..." panggil Luka.
"Ah, kau? Ada apa?" tanya Miku dengan wajah datarnya.
"Ikut aku sekarang!" Luka langsung menarik tangan Miku.
Miku mau tidak mau terseret oleh Luka. Ia tidak bisa melepaskan tangannya karena Luka menggengamnya dengan sangat erat. Luka membawa Miku ke atap sekolah, di jam istirahat atap sekolah menjadi sepi. Tentu saja, lebih banyak murid yang menghabiskan waktu di kelas atau kantin.
"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Miku.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." ujar Luka.
"Apa?"
"Apa kau benar menjadi pacar Gakupo?"
"Ha? Darimana kau dengar? Jangan bilang kau percaya kata-kata Gumi-chan."
"Eh?"
"Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai siapapun."
Luka memandang wajah Miku dengan tatapan yang dalam, Luka tahu tidak ada kebohongan dari sorot mata Miku. Wajah Luka langsung saja memerah, ia tidak menyangka akan menjadi posesif terhadap Miku. Padahal Miku belum menjadi pacarnya.
"Kukira kau... dengannya." ujar Luka.
"Huh... Lebih baik kau urusi saja urusanmu itu, Luka." ujar Miku sinis.
"Maksudmu?"
"Antara kau dan Sakine Meiko itu. Kalian selalu membicarakan mengenai hal mengenai menerima tawaran. Apa dia memintamu menjadi pacarnya?"
"Eh? Tunggu, Miku..."
"Kau tidak tahu betapa sakitnya aku!"
"Miku-"
"Apa yang kau lihat dari gadis itu? Cantik? Manis? Kau seperti orang bodoh saja, Luka. Kau bilang kau menyukaiku, tapi kau memilih orang lain. Baka! Aku menyesal telah menyukaimu juga!"
Luka sedikit terkejut mendengar ucapan Miku. Tampaknya ucapan itu adalah kejujuran Miku yang dipendamnya selama ini. Luka memperhatikan wajah Miku dan tersenyum, Miku merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat melihat senyum Luka.
"Akhirnya kau jujur, Miku." ujar Luka.
"A...Apanya?" ujar Miku gugup.
"Kau mengatakannya tadi, Miku. Kau menyukaiku."
"Apa? Tidak mungkin..."
Wajah Miku sudah sangat memerah, ia tidak sadar telah mengucapkan kalimat itu. Betapa malunya dia sekarang. Dia berharap Luka tidak mendekat ke arahnya, pasti detak jantung Miku yang sangat keras bisa terdengar oleh Luka.
Tapi harapan Miku tidak terwujud, Luka semakin mendekat ke arah Miku hingga mereka benar-benar berhadapan sekarang. Luka melihat wajah Miku yang masih memerah itu, terlihat sangat manis.
"Aku senang kalau kau akhirnya jujur padaku." ujar Luka sambil menggengam tangan Miku.
Miku terdiam, lagi-lagi jantungnya terus berdetak kencang. Tangan Luka yang menggengam tangannya dengan lembut terasa hangat. Miku tidak bisa menolak perasaan ini. Semakin ia menyangkal perasaannya pada Luka, semakin kuat pula perasaan itu.
"Aku mencintaimu, Miku. Selalu..." gumam Luka.
Miku hanya terdiam, baginya cukup memalukan menyatakan perasaannya pada Luka. Jantungnya serasa akan berhenti berdetak saking malunya. Tapi, ia senang Luka masih bisa menerimanya.
"Terserah kau saja." ujar Miku datar.
Padahal Miku tidak ingin mengatakan hal itu, dia juga ingin membalas ucapan Luka. Tapi, entah kenapa mulutnya malah mengucapakan kata-kata itu. Mungkin Miku belum sepenuhnya bisa menerima bahwa ia mengakui cintanya pada Luka.
Luka memperhatikan wajah Miku yang daritadi hanya menunduk saja. Ia mendekatkan wajahnya pada Miku dan kembali mencium gadis itu, ciuman kedua. Tapi, ciuman ini pertanda mereka telah bersama.
Miku juga tidak menolak ciuman Luka. Ia membiarkan Luka menciumnya, berbagi kehangatan dengannya. Miku hanya memejamkan matanya dan jantungnya terus berdetak kencang. Dia sangat senang. Akhirnya Luka melepaskan ciumannya dan menatap ke arah Miku.
"Kau akan selalu bersamaku kan, Miku?" tanya Luka.
"Asal kau tidak memperhatikan gadis lain." ujar Miku dengan wajah yang memerah.
"Iya... Tentu saja, Miku. Kau satu-satunya untukku."
Miku langsung saja memeluk Luka, air mata sedikit mengalir dari pipinya. Luka sedikit terkejut melihat Miku yang tiba-tiba memeluknya. Ia merasa senang, ia hanya mengelus rambut Miku dengan lembut.
"Aku... menyukai tiap kali kau tersenyum padaku," ujar Miku. "Bisakah... senyummu hanya untukku?"
"Tentu saja, Miku. Demi kamu, apapun akan aku lakukan..." ujar Luka sambil tersenyum manis ke arah Luka.
Miku memperhatikan senyum Luka, Luka terlihat sangat manis. Kali ini Miku akui bahwa Luka memang gadis yang cantik dan manis, dan ia jatuh cinta pada gadis ini. Miku tidak peduli apa pandangan orang lain, asal dia bersama dengan Luka semuanya akan baik-baik saja.
Keesokan paginya ada pemandangan yang tidak biasa bagi murid-murid kelas 2-1, Luka dan Miku kelihatan lebih akrab. Mereka hampir heran melihat sosok Miku dan Luka berjalan bersama tanpa saling berselisih.
"Wah... Miku-san dan Luka-san, kalian sudah berbaikan ya?" tanya Gakupo.
"Iya..." ujar Miku sambil tersenyum.
"Tentu saja, Gakupo," ujar Luka yang langsung merangkul Miku. "Jadi, kau tidak bisa mendekatiku atau mendekatinya lagi. Karena aku ingin bersamanya."
Wajah Miku mendadak memerah mendengar ucapan Luka. Dia tidak ingin hubungannya dengan Lukadiketahui banyak orang, tentu saja hal seperti ini rasanya masih tabu menurut Miku. Miku langsung saja mendorong Luka.
"Jangan peluk-peluk aku! Memangnya aku guling?" ujar Miku sedikit marah.
"Ah, Miku... Kamu makin manis kalau marah." ujar Luka sambil mengelus rambut Miku.
Miku hanya terdiam saja, tentu saja wajahnya masih memerah. Ia membiarkan Luka mengelus rambutnya, Luka hanya menatap tajam ke arah Gakupo seolah bermaksud mengusirnya. Mengetahui hal itu Gakupo langsung pergi.
"Nah Miku, sekarang kita ke kelas Meiko-senpai." ajak Luka.
Wajah Miku langsung berubah drastis, sama seperti Miku yang biasa ketika marah dengan Luka. Luka terdiam saja, tampaknya agak sulit mengajak Miku menemui Meiko. Karena Miku sempat cemburu padanya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Makanya kau harus ikut." Luka segera menarik tangan Miku dan mengajaknya ke kelas 3-1.
.
.
.
"Wah... Luka-san, kau datang kemari untuk menerima tawaranku?" tanya Meiko.
"Tidak. Maaf, Meiko-senpai. Tampaknya aku tidak bisa menerima tawaranmu menjadi model." ujar Luka.
"Kenapa? Kau kan cantik." Meiko kurang mengerti kenapa Luka menolak tawaran bagusnya.
"Tapi... Nanti ada yang marah..." ujar Luka sambil menggengam tangan Miku.
Meiko memperhatikan wajah Miku, dia ingat sesuatu. Miku adalah gadis yang bersama dengan Gakupo. Tapi, sekarang dia bersama dengan Luka. Meiko hanya tersenyum saja, tampaknya dia menyadari satu hal.
"Iya. Kau tidak ingin membuat pacarmu marah kan? Tidak apa..." ujar Meiko.
"Benarkah? Terima kasih, senpai."
Meiko kembali ke kelasnya dan meninggalkan Luka juga Miku di depan kelasnya. Luka langsung mengajak Miku kembali ke kelasnya. Mereka berdua hanya terdiam saja, tampaknya Miku masih belum terlalu mengerti situasi yang terjadi.
"Aku sudah menolak tawaran Meiko-senpai, otomatis aku tidak akan menemuinya lagi, Miku." ujar Luka.
"Apa peduliku kau mau bertemu dengannya atau tidak?" ujar Miku sedikit kesal.
Luka hanya tersenyum saja, tampaknya sifat tsundere Miku belum sepenuhnya hilang. Luka langsung saja memeluk Miku dan membuat teman-teman yang lain memperhatikan mereka. Wajah Miku tambah memerah.
"Lepaskan, Luka!" seru Miku.
"Kenapa? Kau terlalu manis..." gumam Luka yang masih memeluk Miku.
"Baka!"
Miku langsung saja berlari meninggalkan Luka sendiri. Sedangkan Luka hanya tersenyum saja, dia memang harus sabar menghadapi sifat Miku yang satu ini. Tapi, hal itu tidak akan mengurangi perasaannya pada Miku. Iya, dia sangat mencintai Miku.
The End
A/N: Akhirnya bisa update juga...^^
Ditunggu sarannya lewat review...
