A.N : Dramione. Timeline antara buku kelima dan keenam.
Disclaimer : Harry Potter © J.K. Rowling
INGATAN
CHAPTER II
"Draco Malfoy!" jerit Hermione tidak percaya.
Pemuda tersebut segera bangkit, lalu berdiri sempoyongan. Ia masih belum pulih sama sekali, pandangannya sendu, terlebih dengan lingkaran biru lebam yang menghiasi sebelah matanya. Tanpa menunggu aba-aba, ia berjalan menjauhi Hermione dan berlari tertatih-tatih tanpa melihat lagi kebelakang.
Hermione awalnya hanya terdiam tak percaya, namun entah daya kekuatan apa dari dalam dirinya memerintahkannya secara spontan untuk berlari mengejar pemuda itu setelah terpana beberapa saat. Ia segera berlari secepat yang ia bisa untuk menjangkau pemuda yang berlari tertatih-tatih itu. Tidak jelas apa tujuannya, ia sendiri tidak tahu.
"Tunggu!" teriak Hermione yang terengah-engah.
Pemuda itu tidak menghiraukannya, ia tetap mempertahankan kecepatannya dan berlari menuju kerumuman turis yang tengah menyaksikan atraksi pesawat terbang di Timur si jangkung Eiffel. Tapi si gadis tak kalah gigihnya, terus membuntuti dalam jarak beberapa meter di belakang dan semakin mendekat.
Tapi kerumunan itu terlalu padat, terlalu berbahaya baginya menerobos dengan kondisi badan yang penuh luka disana-sini, itu hanya akan menghentikan langkahnya dan membuatnya Hermione dapat mengejarnya. Karena itulah ia berbelok beberapa meter sebelum menabrak kerumunan, dan berlari ke arah jalan. Hal itu dimanfaatkan Hermione sebaik mungkin untuk memperkecil jarak dengan Draco dengan cara berlari langsung ke arah jalan.
Mereka hanya terpisah lima meter saat Draco- yang tanpa melirik ke kanan maupun kiri, berlari menyebrang meninggalkan Hermione yang terhenti karena tepat setelah Draco sampai di seberang jalan, sebuah minibus melintas pelan dan menutup jalan bagi Hermione. Tepat setelah minibus itu berlalu, jarak mereka sudah kembali menjauh. Namun itu tidak menghentikan Hermione untuk tetap menyebrang jalan dan kembali mengejar Draco yang terus berlari menyusuri trotoar jalanan yang penuh dengan meja-meja kafe dan orang yang lalu lalang.
Dalam jeda minibus tadi, Hermione sempat berpikir sejenak apa yang membuatnya mengejar salah satu orang yang paling dibencinya selama di Hogwarts. Bukan karena ia ingin mengobati luka di tubuh Draco, bukan juga karena ia khawatir dengan keadaan Draco- well, ia tidak peduli sama sekali. Tapi semua itu akibat dari rasa penasaran berikut ratusan pertanyaan yang meledak-ledak di benaknya ketika ia melihat sesosok wajah angkuh pewaris tahta keluarga Malfoy, yang tiba-tiba muncul dalam liburannya yang tenang ini.
Ini semua sangat aneh, apa yang dilakukannya disini? Pikir Hermione dalam hati.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada cukup jauh dari kawasan kafe yang penuh orang lalu lalang tadi. Mereka berdua sudah tidak kuat berlari lagi, dan kecepatan keduanya menurun perlahan. Tiba-tiba Draco memutuskan untuk berbelok ke sebuah lorong sempit diantara dua kafe, mencoba mengantisipasi kelelahannya dengan mencari jalan alternatif yang mungkin tidak akan dimasuki Hermione.
Semula Hermione juga hendak mengikutinya hingga ke dalam lorong tersebut. Lebar lorong itu hanya satu meter, gelap, becek, dengan banyak kotak yang mungkin berisi barang rongsokan ataupun sampah. Juga mungkin banyak binatang kecil seperti tikus, kecoak dan serangga menjijikkan lainnya disana yang bersembunyi dan tiba-tiba akan menyeruak keluar begitu kau melangkah mendekati mereka.
Namun tentunya hal-hal seperti itu tidak akan membuat Hermione gentar. Ia pernah melalui tempat yang lebih buruk, yang lebih menjijikkan dan menyeramkan dibandingkan lorong manapun di dunia mugle. Tapi ketika ia hendak melangkah masuk, ia diperingatkan oleh deru napasnya dan degup jantungnya yang sudah seperti hendak meledak. Ia sudah terlalu lelah dan tidak sanggup lagi berlari. Akhirnya ia memutuskan untuk hanya melihat pemuda yang dikejarnya tadi menjauh dan menghilang dari pandangannya.
"Sial!" umpat Hermione sambil menopangkan tangannya ke tembok di pinggir lorong itu untuk mencegahnya terjatuh karena kelelahan.
"Apa kau yakin itu betul-betul dirinya?" tanya sebuah suara di seberang telepon dengan penuh keraguan.
Hermione naik tensi, "Aku yakin Harry! Berapa kali harus kuulangi kalau itu benar-benar dirinya," ucap Hermione dengan nada meninggi, "aku tahu persis wajah yang pernah kutampar beberapa tahun silam. Dan ekspresi ketakutannya tadi, sama sekali tidak berubah!"
Lawan bicaranya hanya menggaruk-garuk kepala, antara percaya tidak percaya. Ia tahu Hermione tidak pernah bercanda untuk hal-hal seperti ini, dan ia juga sangat tahu kalau ia tidak bisa meragukan kemampuan Hermione mengingat sesuatu. "Hermione, Paris itu terlalu ramai, ia kan tidak suka keramaian. Apalagi disana banyak muggle, bisa-bisa Si-Tuan-Anti-Muggle itu kena alergi dan tubuhnya gatal-gatal sepanjang hari!" Harry terkekeh mencoba mencairkan ketegangan Hermione.
Hermione hanya merengut diam dan tak membalas sepatah katapun.
Harry segera menyadari kalau leluconnya tidak tepat untuk didengar Hermione di saat seperti ini, "Oke maaf lelucon itu memang tidak lucu," koreksinya dengan nada sedikit menyesal, "Tapi seorang Draco Malfoy berada di Paris di musim panas ini, itu sulit dipercaya. Lagipula apa yang dilakukannya disana?"
Hermione menghela napas, "Entahlah, aku pun masih penasaran apa yang dilakukannya disini. Karena itulah tadi aku mengejarnya," ia menghela napas lagi, "Semoga keberadaannya di Paris ini bukan untuk sesuatu yang buruk." Lalu mereka berdua diam sejenak.
"Omong-omong, aku punya kabar bagus untukmu," perkataan Harry tersebut menarik perhatian Hermione, "Ron mengirimiku surat yang mengatakan kalau ia dan keluarganya akan pulang dalam dua atau tiga hari kedepan. Tandanya kita bisa menghabiskan sisa liburan musim panas di The Burrow!" lanjut Harry dengan semangat.
Tiba-tiba Hermione tersenyum simpul, di benaknya muncul suatu ide, "Tidak, kita tidak akan ke kediaman Weasley. Kalian berdualah yang akan menghabiskan waktu di Paris, karena kita akan menyelidiki apa yang dilakukan si Malfoy disini."
"Ta-tapi..."
"Aku akan menghubungimu lagi nanti Harry, orang tuaku sudah menunggu, bye!" sela Hermione sebelum Harry menyelesaikan omongannya, "Ohya, satu lagi. Tolong sampaikan pada pamanmu tercinta, sekali lagi ia mempersulitku menghubungimu, aku akan menyihir hidungnya menjadi wortel dan menyihir sepupumu tercinta menjadi kelinci raksasa."
Klik.
Akhirnya update juga setelah sekian tahun. Semoga saya ga males ngetik lagi -.-
Review?
